cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 2 (2022): April 2022" : 24 Documents clear
Alam Adalah Keluarga: Internalisasi Nilai-Nilai Ekologis Dalam Ritual Nahunan Suku Dayak Ngaju Tahan Mentria Cambah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.210-218

Abstract

Krisis ekologi sudah sangat mengancam kehidupan. Berbagai bencana dan penderitaan melanda dunia. Namun, krisis ekologi masih terjadi. Oleh sebab itu, krisis ekologi mesti diatasi dengan berbagai cara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggali berbagai potensi kearifan lokal yang ada di wilayah setempat. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa dalam ritual nahunan yang biasanya dilakukan oleh suku Dayak Ngaju tidak hanya sekedar upacara rutin, tetapi terdapat nilai-nilai ekologis yang dapat menyadarkan masyarakat, khususnya orang Dayak Ngaju bahwa mereka harus ikut terlibat dalam mengatasi krisis ekologis yang sedang terjadi. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif kepustakaan yakni menggali berbagai sumber yang relevan untuk membahas topik dan mendapatkan data yang dibutuhkan, kemudian akan digali internalisasi nilai yang terdapat dalam ritual nahunan tersebut. Dalam ritual nahunan ditemukan nilai-nilai ekologis yang menunjukkan bahwa terdapat internalisasi konsep bahwa alam adalah keluarga. Konsep tersebut dapat mendukung pemeliharaan lingkungan hidup melalui ritual nahunan Suku Dayak Ngaju. Konsep tersebut dapat dikembangkan untuk mendorong kepedulian masyarakat dalam memelihara lingkungan hidup. Konsep tersebut adalah berupa nilai-nilai yang menganggap alam sebagai keluarga bagi manusia.ABSTRACTThe ecological crisis is already very life-threatening. Various disasters and suffering have hit the world. However, the ecological crisis is still occurring. Therefore, the ecological crisis must be overcome in various ways. One way that can be done is to explore the potential of local wisdom in the local area. This paper aims to show that the nahunan ritual, which is usually carried out by the Ngaju Dayak tribe, is not just a routine ceremony. However, ecological values can make people aware, especially the Ngaju Dayak people, that they must be involved in overcoming the ecological crisis. This paper uses a qualitative literature method to explore various relevant sources to discuss the topic and obtain the data needed. Then, the internalization of the values contained in the nahunan ritual will be explored. In the nahunan ritual, ecological values are found, which indicate an internalization of the concept of nature as family and can be encouraged through environmental preservation in the nahunan ritual of the Ngaju Dayak Tribe. This concept can be developed to encourage public awareness of preserving the environment. The concept is expressed in the form of values that involve nature as a family for humans.
Determinan Keberlanjutan Usahatani Padi Sawah Tadah Hujan: Kasus Desa Pesisir Kalimantan Barat Ari Natul Hidayah; Jajat Sudrajat; Wanti Fitrianti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.382-395

Abstract

Usahatani padi di perdesaan Kalimantan Barat sedang menghadapi tekanan dari segi persaingan penggunaan lahan. Masalah ini bisa semakin meminggirkan kelompok rentan di perdesaan, ketidakamanan pangan, dan memperlebar kesenjangan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator penentu keberlanjutan usahatani padi sawah tadah hujan di Desa Telaga Arum; sebuah desa pesisir yang berada dalam administrasi Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Studi ini menerapkan metode MICMAC (Matrix of Cross Impact Multiplications Applied to a Classification) sebagai alat analisisnya. Hasil studi menunjukkan bahwa keberlanjutan usahatani padi sangat dipengaruhi oleh indikator kehadiran komoditas kelapa sawit, indikator iklim, dan kesuburan tanah. Ketiga indikator tersebut dapat menyebabkan gangguan terhadap sistem usahatani padi dalam jangka pendek dan jangka panjang.  Ekspansi kebun kelapa sawit yang mencapai luasan rata-rata kurang lebih 1300 hektar per tahun, telah menjadi ancaman nyata terhadap areal persawahan terutama dalam lima tahun terakhir di Kabupaten Kayong Utara. Studi ini juga menemukan bahwa motivasi petani adalah aspek yang paling terpengaruh dalam perspektif jangka panjang dan cenderung mengalami kemunduran, karena motivasi usahatani padi hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan subsisten.ABSTRACTRice farming in rural West Kalimantan is facing pressure in terms of land-use competition. This problem can further marginalize the vulnerable groups in rural areas, food insecurity, and widen social inequality. This study aimed to analyze the determinants of the sustainability of rainfed rice farming in the village of Telaga Arum; a coastal village located in the subdistrict of Seponti, Kayong Utara regency, West Kalimantan. This study applies the MICMAC (Matrix of Cross Impact Multiplications Applied to a Classification) method as an analytical tool. The results of the study show that the sustainability of rice farming is strongly influenced by indicators of the presence of oil palm commodities, climate indicators, and soil fertility. These three indicators can cause disturbances to the rice farming system in the short and long term. The oil palm expansions which reach an average area of roughly 1300 hectares per year has become a real threat to the rice fields especially in the last five years in Kayong Utara regency. This study also found the farmer’s motivation is an aspect that is the most affected in the long term perspective and tends to decline because the rice farming motivation is only to fulfill subsistence needs.
Eco-efficiency Modeling in the Production of Alcohol Based on Data Envelopment Analysis Danastri Ratna Nursinta Dewi; Singgih Saptadi; Heru Prastawa
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.325-334

Abstract

Economic growth can be assessed through industrial development. However, problems arise regarding the discharge of waste into lakes or rivers, leading to biodiversity loss and endangering human health. A study conducted in the UK stated that small and medium enterprises (SMEs) were the largest contributor to waste and pollution. This was because they ignored the regulations governing environmental management. As happened in the Bekonang alcohol industry center, the waste from the alcohol production process polluted the Bengawan Solo tributary as the Water Supply Corporation (WSC). In order to overcome these problems, we need a measurement that can increase production efficiency. Eco-efficiency is a concept that combines efficiency and economy based on efficiency principles. The different models are proposed to measure the eco-efficiency of production, namely with a weighting system that aggregates environmental results. The Data Envelopment Analysis (DEA) enables aggregation without the need for subjective or normative judgments about weights. Although DEA does not require subjective or normative judgments, weight restrictions can be incorporated into the framework. The purpose of this study was to determine the eco-efficiency of the Bekonang alcohol production process using the economic results of the production process and the environmental impact assessed through a life cycle assessment (LCA). There were three products, namely 30% alcohol for consumption, 90% alcohol for medical purposes, and hand sanitizer. The environmental impact was assessed from a life cycle assessment, while the economic assessment was determined by calculating the net profit for each product at a capacity of 100 liters/day. Economic assessment can be divided into two perspectives, namely the Social Perspective (SP) and Company Perspective (CP). From the modeling results, the most eco-efficient production process was hand sanitizer with an eco-efficiency value of 1.ABSTRAKPertumbuhan ekonomi dapat dinilai melalui perkembangan industri, tetapi masalah muncul terkait pembuangan limbah ke danau atau sungai yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati yang membahayakan kesehatan manusia. Penelitian yang dilakukan di Inggris menyatakan, jika penyumbang limbah dan polusi terbesar adalah dari usaha kecil menengah (UKM), karena mereka mengabaikan peraturan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan. Seperti yang terjadi di sentra industri alkohol Bekonang, limbah hasil proses produksi alkohol mencemari anak sungai Bengawan Solo sebagai suplai air PDAM. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu pengukuran yang dapat meningkatkan efisiensi produksi. Eko-efisiensi merupakan konsep yang menggabungkan efisiensi dan ekonomi berdasarkan prinsip efisiensi. Model yang berbeda diusulkan untuk mengukur eko-efisiensi pada suatu produksi, yaitu dengan sistem pembobotan yang mengagregasi hasil lingkungan. Analisis data envelopment analysis (DEA) memungkinkan agregasi tanpa membutuhkan penilaian subjektif atau normatif pada bobot. Meskipun DEA tidak memerlukan penilaian subjektif atau normatif, pembatasan bobot dapat dimasukkan ke dalam kerangka kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai eko-efisiensi proses produksi alkohol Bekonang, menggunakan hasil ekonomi dari proses produksi dan dampak lingkungan, yang dinilai melalui life cycle assessment (LCA).Terdapat tiga produk yang dianalisi, alkohol 30% untuk konsumsi; alkohol 90% untuk keperluan medis; dan hand sanitizer. Dari hasil pemodelan yang telah dilakukan, proses produksi yang paling eko-efisien adalah hand sanitizer dengan nilai eko-efisiensi adalah 1.
Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Pertambangan Pasir di Desa Luragung Landeuh Kuningan, Jawa Barat Wina Waniatri; Muslihudin Muslihudin; Sri Lestari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.279-290

Abstract

Permasalahan dan isu strategis daerah pada bidang energi dan sumber daya mineral yang mempengaruhi kerusakan lingkungan hidup berdasarkan pada Rancangan Primer RPJMD 2018-2028 Kabupaten Kuningan  yaitu kegiatan penambangan pasir ilegal dan perubahan lahan. Salah satu lokasi pertambangan di Kabupaten Kuningan berada di Desa Luragung Landeuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses  kegiatan  pertambangan pasir;  serta mengetahui dampak negatif pertambangan pasir terhadap kualitas lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Kesimpulan penelitian ini adalah proses  kegiatan  pertambangan  pasir PT. Anggun Jaya Mandiri di  Desa  Lurangung  Landeuh Kecamatan Luragung Kabupaten Kuningan terdiri dari tahap pra-kontruksi, kontruksi, operasi, produksi, dan rencana pasca tambang. Dampak negatif kegiatan pertambangan pasir terhadap lingkungan adalah kebisingan, debu yang bertebaran, kerusakan infrastruktur jalan; Dampak positif kegiatan pertambangan pasir PT.AJM memberikan peningkatan peluang kerja, memperbaiki fasilitas desa, serta meningkatkan kas Desa Luragung Landeuh. Pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 telah mempengaruhi dalam penyelesaian konflik antara masyarakat dan pihak perusahaan pertambangan.ABSTRACTRegional strategic problems and issues in the field of energy and mineral resources that affect environmental damage based on the Primary Draft RPJMD 2018-2028 Kuningan Regency, namely illegal sand mining activities and land changes. One of the mining locations in Kuningan Regency is in Luragung Landeuh Village. This research was conducted to determine the process of sand mining activities; as well as knowing the negative impact of sand mining on environmental quality. This study uses a qualitative descriptive analysis method. The conclusions of this study are: (1) The process of sand mining activities of PT. Anggun Jaya Mandiri in Lurangung Landeuh Village, Luragung District, Kuningan Regency consists of pre-construction, construction, operation, production, and post-mining planning stages. The negative impacts of sand mining activities on the environment are noise, scattered dust, damage to road infrastructure; (2) The positive impact of PT.AJM's sand mining activities provides increased job opportunities, improves village facilities, and increases the cash flow of Luragung Landeuh Village. The Covid-19 pandemic at the beginning of 2020 has affected the resolution of conflicts between the community and the mining company.
Uji Spesifikasi Pengukuran PM10 Dengan EPAM5000 dan BAM 1020 Terhadap Kelembaban Udara Andi Sulistiyono; Rendi Septa Davi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.242-251

Abstract

PM10 merupakan salah satu aerosol yang merupakan bagian dari partikel pencemar. Keberadaannya menempati  volume ruang di atmosfer dengan konsentrasi yang selalu tergabung dengan materi lainnya dan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer setempat. Pengukuran PM10 pada periode waktu siang dan malam dengan menggunakan EPAM5000 dan BAM1020 telah dilakukan untuk mengetahui specifikasi alat terhadap hasil pengukuran pada responnya terhadap unsur cuaca (kelembaban). Data hasil pengukuran dan analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada hasil ukur konsentrasi PM10 pada periode malam pada EPAM5000 dan BAM1020 yang disebabkan oleh perbedaan pendukung instrument pada aliran udara masuk.  Adanya smart heather pada BAM1020 berfungsi untuk mengontrol kadar uap air dari aliran udara yang dihisap sedangan pada EPAM5000 udara yang dihisap langsung diukur kosentrasinya sehingga hasil ukur konsentrasi PM10 pada EPAM5000 lebih tinggi karena masih mengandung banyak uap air (aerosol hidroskopis). Adanya menu Manual Zero atau Auto Zero pada EPAM5000 untuk membersihkan optic sensor dan mereset menjadi 0 mg/m3. Pada periode malam, partikulat PM10 akan bergabung dengan uap air menyebabkan konsentrsi yang terukur pada EPAM5000 tinggi. Hal ini diperkuat oleh hasil korelasi menunjukkan bahwa nilai PM10 berkorelasi kuat terhadap kelembaban data pengukuran EPAM5000. Untuk ini perlu adanya metode untuk memisahkan PM10 dan materi lainnya (uap air) agar didapatkan nilai konsentarsi yang sebenarnya untuk menentukan kebijakan terkait kondisi udara yang terjadi.ABSTRACTPM10 is one of the aerosols which is part of polluting particles. Its existence occupies a volume of space in the atmosphere with a concentration that is always combined with other materials and is influenced by local atmospheric conditions. Measurement of PM10 in the time period of day and night using EPAM5000 and BAM1020 has been carried out to determine the specifications of the instrument on the measurement results in response to weather elements (humidity). Measurement data and correlation analysis indicate that there are differences in the results of measuring PM10 concentrations in the night period on EPAM5000 and BAM1020 due to differences in instrument support in the intake air flow. The presence of a smart heather on the BAM1020 functions to control the water vapor content of the sucked air stream, while on the EPAM5000 the air that is sucked is directly measured so that the concentration of PM10 on EPAM5000 is higher because it still contains a lot of water vapor (hydroscopic aerosol). There is a Manual Zero or Auto Zero menu on the EPAM5000 to clean the optical sensor and reset it to 0 mg/m3. During the night period, PM10 particulates will combine with water vapor causing concentrations measured at high EPAM5000. This is confirmed by the correlation results showing that the PM10 value has a strong correlation to the humidity of the EPAM5000 measurement data. For this, it is necessary to have a method for separating PM10 and other materials (water vapor) in order to obtain the actual concentration value to determine policies related to air conditions that occur.
Runoff Coefficient Analysis After Regional Development in Tambakbayan Watershed, Yogyakarta, Indonesia Slamet Suprayogi; M Widyastuti; M Pramono Hadi; Nugroho Christanto; Tommy Andryan Tivianton; Gita Oktaviani Fadhilah; Laelina Rahmawati; Lintang Nur Fadlillah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.396-405

Abstract

The Tambakbayan Watershed has experienced changes in its land utilization. Based on land-use data from 2006 and 2017, built-up land was found to have encroached on vegetated areas and showed a substantial increase in area. Such conversion can alter and modify runoff coefficients, as a measure of watershed response. This research aimed to evaluate land-use change in the watershed from 2006 through 2017 and its effects on runoff coefficients. It used descriptive quantitative methods combining literature study and data calculation. The secondary data were obtained from digital land-use maps (RBI) in 2006 and 2017, SRTM images, soil types, and the drainage network of the watershed. Runoff coefficient analysis confirmed that the land-use change between 2006 and 2017 caused by regional development increased the runoff coefficients of the watershed observed.ABSTRAKDaerah Aliran Sungai Tambakbayan telah terjadi perubahan, berdasarkan data penggunaan lahan tahun 2006 dan tahun 2017. Perubahan yang terjadi berupa meningkatnya lahan terbangun dan berkurangnya lahan bervegetasi. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi dapat mengakibatkan perubahan respon DAS yang dikuantifikasikan dalam bentuk koefisien aliran. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi perubahan penggunaan lahan daerah penelitian dari tahun 2006 dan 2017, kaitannya dengan koefisien aliran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif berdasarkan studi pustaka dan perhitungan. Data sekunder yang digunakan adalah Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Tahun 2006 dan 2017, Citra SRTM DAS Tambakbayan, Jenis Tanah DAS Tambakbayan, dan Jaringan Drainase DAS Tambakbayan. Perubahan penggunaan lahan akibat perkembangan wilayah, mengakibatkan peningkatan koefisien aliran pada tahun 2017 apabila dibandingkan dengan koefisien aliran pada tahun 2006.
Pengaruh Remediasi Biochar dan Bioslurry Tanah Tercemar Terhadap Kadar Timbal Terlarut dan Bioavailabilitasnya pada Sawi Hijau (Brassica rapa) Himawan Himawan; Darwanta Darwanta
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.335-343

Abstract

Remediasi tanah dengan metode amobilisasi dapat dilakukan untuk mengaktifkan lahan pertanian tercemar timbal secara efektif dengan biaya rendah. Pada penelitian ini biochar dan bioslurry digunakan untuk amandemen tanah tercemar dan diuji keefektifannya mengurangi kadar Pb terlarut dan Pb yang diserap tanaman sawi hijau (B. rapa) di rumah kaca. Selanjutnya budidaya sawi di lapangan dilakukan untuk mengetahui dampak amandemen terhadap pertumbuhan dan kadar Pb-sawi serta kemungkinan kontaminasi Pb pada tanah sekitar. Sampel tanah tercemar diambil dari Desa Cinangka, Bogor sedangkanbioslurry dan sisa kegiatan pertanian/peternakan diperoleh dari Desa Jeruk Sawit di sekitar Kota Surakarta. Amandemen tanah ber-Pb 4.296 ppm dengan kombinasi biochar dan bioslurry (0; 2,5; 5,0; 10%) mampu mengurangi kelarutan Pb s.d 87,7% sekaligus mengurangi risiko ekologisnya dari tingkat moderat ke tingkat rendah. Pada uji rumah kaca, kombinasi biochar dan bioslurry menurunkan kadar Pb-daun sawi mencapai maksimal 63,11% dari 44,00 menjadi 16,23 ppm. Pertumbuhan tanaman sawi meningkat pada penambahan bioslurry tetapi penambahan biochar pada kadar 5 dan 10% menekan pertumbuhan yang kemungkinan karena pH yang terlalu tinggi untuk sawi. Uji lapangan selama satu kali masa tanam dengan kadar biochar dan bioslurry (5%/5%) mengakibatkan pertumbuhan sawi yang 20x lebih baik dibanding hasil budidaya rumah kaca, menurunkan Pb-daun dari 34,92 menjadi 21,71 ppm, serta mampu mencegah migrasi Pb ke sekitar media tanam.ABSTRAKImmobilization method of soil remediation can be conducted to activate lead contaminated agricultural land effectively at low cost. In this study, biochar and bioslurry were used to amend polluted soil and tested their effectiveness in reducing the levels of dissolved Pb and Pb absorbed by the green mustard (B. rapa) in the greenhouse. Furthermore, mustard cultivation in the field was carried out to determine the impact of the amendment on the growth and Pb levels of green mustard and the possibility of Pb contamination in the surrounding soil. Polluted soil samples were taken from Cinangka Village, Bogor, while bioslurry and the byproduct of agricultural/animal husbandry were obtained from Jeruk Sawit Village around Surakarta City. Polluted soil containing 4296 ppm Pb amended with a combination of biochar and bioslurry (0; 2.5; 5.0; 10%) were able to reduce Pb solubility up to 87.7% while reducing the ecological risk from moderate to low level. In the greenhouse test, the combination of biochar and bioslurry reduced the Pb level in mustard leaves to a maximum of 63.11% from 44.00 to 16.23 ppm. The growth of mustard plants increased with the addition of bioslurry but the addition of biochar at levels of 5 and 10% suppressed growth which was probably due to the pH being too high for green mustard. Field trial during one planting period with biochar and bioslurry level (5%/5%) resulted in 20x better growth of green mustard than greenhouse cultivation, reduced leaf-Pb from 34.92 to 21.71 ppm, and was able to prevent Pb migration around the planting medium.
Uji Model AERMOD Terhadap Sebaran Particulate Matter 10 µm (PM10) di Sekitar Kawasan PT Semen Padang Dharma Wangsa; Vera Surtia Bachtiar; Slamet Raharjo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.291-301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji model AERMOD dalam memprediksi sebaran PM10 di udara ambien kawasan PT Semen Padang. Lokasi penelitian sebanyak 32 titik berdasarkan 8 arah mata angin dengan jarak 0,5 km, 1 km, 1,5 km dan 2 km dari PT Semen Padang. Pengukuran PM10 menggunakan EPAM 5000 Real Time Particulate Air Monitor dilanjutkan pemetaan dengan software Surfer 11. Waktu pengukuran dibagi menjadi 4 shift, yaitu shift 1 (00.00 – 05.59 WIB), shift 2 (06.00 – 11.59 WIB), shift 3 (12.00 – 17.59 WIB) dan shift 4 (18.00 – 23.59 WIB). Pengambilan data meteorologi (temperatur udara, tekanan udara, kelembapan, kecepatan angin dan arah angin) menggunakan alat Meteorological Station PCE-FWS-20 untuk input data pada AERMET, dilanjutkan prediksi sebaran PM10 menggunakan software AERMOD View 8.9.0. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi PM10 dengan EPAM 5000 berkisar antara 21,0 – 79,0 µg/m3 dengan rata-rata 24 jam sebesar 41,7 µg/m3. Konsentrasi PM10 dengan AERMOD berkisar antara 3,5 sampai 68,0 µg/m3 dengan rata-rata 24 jam sebesar 10,6 µg/m3. Jika dibandingkan dengan baku mutu untuk Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, lokasi 11 dengan koordinat S 0°56'52.46" dan E 100°27'41.88"  pada  jarak 1 km kawasan Barat PT Semen Padang tidak memenuhi baku mutu. Model mendekati ideal atau dikatakan sempurna yaitu lokasi arah Timur dan Timur Laut karena elevasi yang lebih tinggi dari sumber emisi dan merupakan arah angin dominan pada siang hari.ABSTRACTThis study aims to test the AERMOD model in predicting the distribution of PM10 in the ambient air of the PT Semen Padang area. The research locations were 32 points based on eight cardinal directions with a radius of 0.5 km, 1 km, 1.5 km, and 2 km from PT Semen Padang. PM10 measurement using EPAM 5000 Real-Time Particulate Air Monitor followed by mapping with Surfer 11 software. The measurement time is divided into four shifts, namely shift 1 (00.00 – 05.59 WIB), shift 2 (06.00 – 11.59 WIB), shift 3 (12.00 – 17.59 WIB), and shift 4 (18.00 – 23.59 WIB). Meteorological data retrieval (air temperature, air pressure, humidity, wind speed and wind direction) using the Meteorological Station PCE-FWS-20 for data input to AERMET, followed by prediction of PM10 distribution using AERMOD View 8.9.0 software. The results showed that the concentration of PM10 with EPAM 5000 ranged from 21.0 – 79.0 g/m3 with a 24-hour average of 41.7 g/m3. The concentration of PM10 with AERMOD ranged from 3.5 - 68.0 g/m3 with a 24-hour average of 10.6 g/m3. When compared with the quality standard for Government Regulation no. 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management, location 11 with coordinates S 0°56'52.46" and E 100°27'41.88" at a distance of 1 km west of PT Semen Padang does not meet the quality standards. The model is close to ideal or is said to be perfect, namely the location of the East and Northeast directions because of the higher elevation of the emission source and the dominant wind direction during the day.
Quality Indeks dan Konsentrasi Logam Berat dalam Perairan dan Sedimen di Perairan Kota Makassar Funty Septiyawati Polapa; Rahmawati Nur Annisa; Dewi Yanuarita; Suharto M Ali
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.271-278

Abstract

Kota Makassar merupakan pusat kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki aktifitas wilayah pesisir, seperti pemanfataan industri, pariwisata, transportasi laut serta memiliki dua sungai besar yang muara di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasilogam berat dalam air dan sedimen serta menentukan status mutunya. Pengamatan dilakukan pada 10 lokasi strategis sumber pencemar seperti pabrik, hotel, muara sungai serta pelabuhan dengan mengambil sampel air dan sedimen dan selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk logam berat Cd, Cr, Hg, Zn, Cu dan Pb. Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang ada. Metode Indeks Pencemar dan Storet (Storage and Retrieval) digunakan untuk menentukan status mutu air dan sedimen dari logam berat untuk biota laut. Hasil penelitian ini menunjukkan perairan Kota Makassar tergolong dalam kategori “Cemar Ringan” berdasarkan hasil perhitungan indeks Pencemar sedangkan status mutu perairan tergolong “Cemar Berat”. Parameter logam berat di kolom perairan yang melampaui baku mutu adalah Krom (0,016±0,005) dan Tembaga (0,112±0,035). Sedangkan untuk parameter logam berat sedimen secara keseluruhan masih berada dalam ambang batas baku mutu yang telah ditentukan. Kondisi tercemar berasal dari aktifitas reklamasi pantai serta sumber alami dan limbah domestik dari aktifitas masyarakat cukup tinggi.ABSTRACTMakassar City is the city center in South Sulawesi Province which has coastal area activities, such as the use of industry, tourism, sea transportation and has two large rivers that estuary into the waters. This study aims to determine the concentration of heavy metals in water and sediment and determine their quality status. Observations were made at 10 strategic locations of pollutant sources such as factories, hotels, river mouths, and ports by taking water and sediment samples and then analyzed in the laboratory for heavy metals Cd, Cr, Hg, Zn, Cu, and Pb. Descriptive statistics are used to analyze the existing data. The Pollutant Index and Storet (Storage and Retrieval) method is used to determine the status of water and sediment quality of heavy metals for marine biota. The results of this study indicate that the waters of Makassar City are classified as "Lightly Polluted" based on the results of the calculation of the Pollutant index while the status of the water quality is classified as "Heavy Polluted". Parameters of heavy metals in the water column that exceed the quality standard are chromium (0,016±0,005) and copper (0,112±0,035). Meanwhile, the parameters of the sediment heavy metals as a whole are still within the specified quality standard. Polluted conditions derived from coastal reclamation activities as well as natural sources and domestic waste from community activities are quite high.
Evaluation of the Implementation of Waste Bank Activities Irdam Ahmad
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.414-426

Abstract

Bank Sampah (BS) pertama kali didirikan tahun 2008 oleh penduduk desa di Kab. Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. BS menerapkan system 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), yang dimulai dari memilah sampah organik dan anorganik di rumah, dan disetorkan secara terpisah ke BS. Sampah organik diolah menjadi kompos (reduce), sedangkan sampah anorganik digunakan kembali (reuse) atau didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat (recycle) atau disimpan sebagai tabungan yang dikonversi dalam rupiah oleh BS. Karena itu, motto BS adalah “From Trash to Cash”. Kelahiran BS telah menginspirasi lahirnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) Nomor 13 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan 3R melalui BS. Disatu sisi, Permen LH ini merupakan pengakuan resmi pemerintah terhadap BS, tetapi disisi lain dukungan pemerintah untuk mengembangkan BS belum sesuai dengan yang diharapkan, dan inilah rumusan masalah pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan BS di Propinsi DKI Jakarta dan untuk mengetahui kontribusi pemerintah dalam mengembangkan BS. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif terhadap 4 BS sampel. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengurus BS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat masalah yang menjadi kendala dalam melaksanakan kegiatan BS, pertama, masalah keuangan, kedua, rendahnya partisipasi warga menjadi nasabah BS, ketiga, kesulitan memasarkan hasil produksi BS, dan keempat, masalah kepemilikan lahan lokasi BS. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melibatkan Perguruan Tinggi (PT) sebagai pendamping BS. Bagi PT, kegiatan sebagai pendamping BS adalah bagian dari pengabdian masyarakat, sebagai salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang banyak (dosen dan mahasiswa), dan mempunyai kompetensi dalam berbagai bidang, PT diharapkan bisa mengembangkan BS menjadi sebuah unit usaha yang professional, menciptakan lapangan kerja, bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi BS.ABSTRACTThe Waste Bank (WB) was first established in 2008 by a village community in Bantul Regency, DI Yogyakarta Province. The WB implemented 3R (Reduce, Reuse and Recycle), starting from sorting organic and inorganic waste in households, and depositing at the WB. Organic waste was processed into compost (reduce), while good inorganic waste was reused or recycled into useful and economical handicrafts or stored as customer savings which were converted into rupiah values. Therefore, the motto of the WB was "From Trash to Cash". The WB has inspired the issuance of Minister of Environment Regulation No. 13 of 2012 concerning Guidelines for Implementing 3R through WB. On the one hand, this regulation is the government's acknowledgment of WB, but on the other hand the government's support for developing WB has not been as expected, and this is the problem in this research. This study aims to evaluate the activities of WB in Jakarta and to find out the government's contribution in developing WB. Qualitative research was employed in this research while data was collected through indepth interview with management of the four samples of WB. The results showed that there are four main problems that became obstacles in carrying out the activities of the WB were, firstly, financial problems, secondly, the low participation of citizens to become customers of the WB, third, difficulty in marketing the products of WB, and fourth, ownership of land occupied by WB. One alternative to solve these problems is to involve a university as a companion to the WB. For the university, the WB assistance activities are part of community service which is one of the Tri Dharma of University. With adequate Human Resources (lecturers and students), universities are expected to be able to develop WB into professional business units, create many jobs, benefit the government and the people living around the WB

Page 1 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2022 2022