cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Acarya Pustaka
ISSN : 24424366     EISSN : 24430293     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Acarya Pustaka menerbitkan tulisan ilmiah di bidang perpustakaan, informasi, kearsipan, dan manajemen pengetahuan. Terbit 2 kali setahun di bulan Juni dan Desember
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2018)" : 5 Documents clear
DESA TRUNYAN: MASYARAKAT DAN KEBUDAYAANNYA PramithaYasa, febby; wardana, putra yana
ACARYA PUSTAKA Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.299 KB) | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20886

Abstract

DESA TRUNYAN: MASYARAKAT DAN KEBUDAYAANNYAolehI Gede Febby Pramitha Yasa dan I Putu Putrayana WardanaFeby_guanteng@gmail.com , putra.yana@undiksha.ac.idPendahuluanBali merupakan sebuah pulau yang berada di wilayah Indonesia. Bali merupakandestinasi wisata terbaik yang berada di Indonesia. Selain keindahan alamnya yangmempesona bali juga terkenal dengan budayanya serta tradisinya yang khas dan tidakdimiliki oleh daerah lainnya.Salah satu tradisi yang sekaligus menjadi destinasi wisata terbaik yang berada diBali adalah desa Trunyan. Desa yang berada di kecamatan Kintamani ini mampu memikatwisatawan domestik maupun internasional dengan keunikan budayanya dan tradisinya.
Mengenal Sejarah dan Perkembangan Topeng Sidakarya candra, putu melani; wardana, putra yana
ACARYA PUSTAKA Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.312 KB) | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20788

Abstract

Mengenal Sejarah dan Perkembangan Topeng SidakaryaOleh:Putu Melani Chandra Dewi (1704071005), I Putu Putrayana WardanaPutu_melani18@gmail.com , putra.yana@undiksha.ac.id PendahuluanPulau Bali yang dikenal dengan sebutan Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura dan Bali Dwipa. Bali yang sangat terkenal di seluruh Indonesia dan bahkan terkenal di seluruh dunia akan keindahan alam dan dengan seni dan kebudayaannya yang unik tentunya menjadi destinasi wisata manca negara.  Dari kesenian dan kebudayaan yang ada di Bali menjadikan Bali mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat wisatawan datang ke Bali.Masyarakat bali memiliki bentuk seni pertunjukan berupa Tari Topeng yang dapat menarik perhatian para wisatawan Tari Topeng tidak sekedar berfungsi sebagai hiburan, namun sebagian di antaranya menjadi pelengkap dalam sebuah ritual keagamaan biasnya di tarikan pada saat upacaya ?yadnya? nanum Tari Topeng tidak hanya hadir dalam prosesi keagamaan di halaman utama Pura namun juga berfungsi dalam upacara perkawinan, potong gigi, hingga upcara ngaben. Tarian Topeng ada sejak abad ke-17, Tari Topeng merupakan suatu bentuk Tari dan juga berisi drama dimana penarinya menggunakan Topeng dan menampilkan cerita-cerita lama, yang biasanya berkisah tentang Raja dan Rahlawan pada jaman dahulu, Tarian Topeng dengan puncak penampilan figur Topeng berkarakter angker yang disebut tupeng sidakarya.Dalam Tari Topeng, setiap penari tampil dengan busana khusus serta mengenakan topeng, dari topeng yang dikenakan oleh seorang penari tersebut akan menunjukkan tokoh yang diperankannya. Adapun jenis-jenis topeng antara lain Topeng keras (sosok petarung), Topeng tua (sosok sesepuh), Topeng bondres (rakyat biasa), dan Topeg ratu (khalangan bangsawan).Tulisan ini akan membahas tentang Mengenal Sejarah Topeng Sidakarya. Adapun yang di bahas dalam tulisan ini antara lain: (1). mengetahui cerita sejarah Topeng Sidakarya di Bali. (2). perkembangan topeng Sidakarya.
MENGHILANGKAN BUDAYA MALU MENJADI PUSTAKAWAN artana, ketut; wardana, putra yana
ACARYA PUSTAKA Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.937 KB) | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20781

Abstract

MENGHILANGKAN BUDAYA MALU MENJADI PUSTAKAWAN Oleh I Ketut Artana, I Putu Putrayana Wardana(Pustakawan Ahli Madya/Bagasartana7@gmail.com), putra.yana@undiksha.ac.id    Abstrak Pustakawan merupakan profesi di bidang perpustakaan. Pejabat fungsional pustakawan masih beranggapan bahwa profesinya merupakan profesi alternatif bukan profesi pilihan, profesi yang tidak memiliki masa depan yang cerah. Pustakawan tidak merasa bangga dengan profesi yang disandangnya, bahkan cenderung merasa malu, minder serta menyembunyikan predikatnya sebagai pustakawan. Kondisi seperti ini dapat menghambat upaya pengembangan pengelolaan dan peningkatan pelayanan perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari pustakawan itu sendiri dan berbagai pihak yang terkait agar pustakawan tidak merasa malu, minder sebagai pustakawan. Upaya itu antara lain membagun citra positif pada diri pustakawan, meningkatkan kompetensi pustakawan, dan peran Ikatan Putakawan Indonesia (IPI) untuk membina dan mengembangkan jati diri pustakawan melalui berbagai program kerjanya. Melalui upaya-upaya tersebut, pustakawan pada akhirnya tidak merasa malu menjadi pustakawan. Ke depan, seorang pustakawan akan merasa bangga menyebut dirinya seorang pustakawan. Kata kunci : budaya malu, pustakawan, upaya menghilangkan
STANDAR LAYANAN PERPUSTAKAAN viga, ade; dewi, ketut warsita
ACARYA PUSTAKA Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.761 KB) | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20791

Abstract

STANDAR LAYANAN PERPUSTAKAANOLEHADE VIGA WIDYANTI UTAMI, KETUT WARSITA PURNAMA DEWI Ade_viga2015@gmail.com , warsita_dewi@gmail.com PENDAHULUANPelayanan perpustakaan merupakan kegiatan perpustakaan yang memberikan jasa informasi kepada masyarakat yang memerlukan,baik pelayananteknis maupun pelayanan pemustaka. Apabila dilihat dari dasar pelayanan, maka perpustakaan merupakan pelayanan yang berbasis pada benda yang maujud/tangible goods. Apabila ditinjau dari tujuan/goal, maka layanan perpustakaan tidak berorientasi untuk memaksimalkan keuntungan. Pelayanan perpustakaan yang baik adalah layanan yang sesuai standar, sesuai yang dijanjikan, sesuai yang diharapkan, atau sesuai permintaan. Sedangkan untuk mendapakan kualitas pelayanan perpustakan, maka perlu adanya sikap dan pandangan sebagai berikut: 1) pemustaka merasa puas setelah meninggalkan meja layanan; 2) memberikan pelayanan dengan tepat, ramah, cepat, penuh kemitraan; 3) petugas harus bisa memberikan solusi atas informasi yang diminta pemustaka; 4) berperilaku profesional.Standar adalah ketentuan minimal yang merupakan acuan baku tentang ketentuan minimum kualitas yang dipersyaratkan dalam suatu produk atau jasa. Jadi standar layanan perpustakaan merupakan suatu ketentuan minimal yang menjadi acuan baku tentang ketentuan minimum kualitas dari layanan perpustakaan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang ada.
Perkembangan Busana Adat Kepura Masyarakat Hindu Bali Dalam Era Globalisasi merlina, dewi; wardana, putra yana
ACARYA PUSTAKA Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.447 KB) | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20784

Abstract

Perkembangan Busana Adat Kepura Masyarakat  Hindu Bali Dalam Era Globalisasi Oleh Ni Made Merlina Dwi Heriani (1704071013), I Putu Putrayana WardanaMerlina_dewi205@gmail.com , putra.yana@undiksha.ac.id  PENDAHULUANDewasa ini globalisasi sangat mempengaruhi zaman. Segala aspek menjadi berubah akibat dari arus globalisasi. Termasuk gaya hidup yang suka kebarat-baratan, mulai dari sikap, bicara, maupun dalam berbusana. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah soal penampilan (gaya pakaian). Gaya pakaian menjadi salah satu hal yang sangat mempengaruhi kepribadian seseorang di era globalisasi saat ini.Tekanan globalisasi dewasa ini memang membawa dampak terjadinya pergeseran etika dalam  berbusana adat ke Pura oleh masyarakat Hindu di Bali. Banyak masyarakat Bali yang  kurang memahami dan juga ada yang tidak mau memahami tentang etika dalam berpakaian ke Pura. Banyak dari meraka terutama kaum perempuan yang memakai model baju kebaya (baju atasan yang sering dikenakan para wanita dalam persembahyangan ke Pura) yang kurang sesuai. Pada dasarnya berbusana tentu akan lebih baik jika disesuaikan dengan aktifitas / kegiatan yang akan dilakukan. Wanita sering kita jumpai mengenakan kebaya dengan bahan transparan dengan kain bawahan (kamen) bagian depan hanya beberapa cm dibawah lutut untuk melakukan persembahyangan. Kita seharusnya mengetahui bahwa pikiran setiap manusia tentu tidak sama, ada yang berpikir positif bahwa itulah trend mode masa kini. Tapi ada yang berpikiran negatif tentu tidak sedikit, inilah permasalahanya bagi orang yang mempunyai  pikiran negatif, paling tidak busana terbuka akan mempengaruhi kesucian pikiran umat lain yang melihatnya.Hal ini bisa terjadi karena pola pikir masyarakat. Mereka tidak mengerti akan makna dari busana adat Bali tersebut. Untuk itu agar tidak terus-menerus keliru, perlu adanya pemberitahuan kepada masyarakat secara umum tentang tatwa dalam berbusana adat Bali. Sehingga masyarakat menjadi lebih paham dang mengerti makna-makna yang terkandung dalam busana adat kepura. Jadi berpakaian ke pura itu di harapkan pakaian yang bisa menumbuhkan rasa nyaman baik yang memakai maupun yang melihat, menumbuhkan rasa kesucian, dan mengandung kesederhanaan. Warnanya pun akan lebih baik yang berwarna tidak ngejreng, karena pakaian bisa menumbuhkan kesucian pikiran.Sebagai masyarakat Hindu Bali sepatutnya mempelajari, memahami dan juga melakasakan etika dalam  berpakaian untuk persembahyangan ke Pura. Pikiranlah yang utama  mengantarkan bhakti kita kehadapan Ida Shang Hyang Widhi Wasa. Dan apabila hanya ingin mengikuti trend dan mode pakaian yang dikenakan bisa menggagu konsentrasi, tentu saja itu akan membuat terganggunya situasi persembahyangan yang khusyuk.

Page 1 of 1 | Total Record : 5