cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 3 (2021)" : 20 Documents clear
Efektifitas minuman jahe (zingiber officinale) dan sari kurma (phoenix dactylifera) untuk mengurangi hiperemesis gravidarum Sri Ayu Arianti; Meda Yuliani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5534

Abstract

The effectiveness of ginger (zingiber offcinale) and date palm  (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum Background: Hyperemesis gravidarum is excessive nausea and vomiting that occurs in pregnant women, usually occurs in the morning called morning sickness. Of the 90% of pregnant women who experience nausea and vomiting occur at less than 20 weeks of gestation and 2-5% can cause bad dehydration. Therefore, it is important to make efforts to reduce the problem early on. Treatment of hyperemesis is usually by medical therapy with drugs and rarely by complementary or alternative therapies using herbs.Purpose: To evaluate the effectiveness of ginger (zingiber offcinale) and date palm  (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum.Method: An analytical Quasi-experiment with a one group pretest-posttest design with the population of all pregnant women in the Cinunuk Health Center area. The samples were 30 pregnant women in the first trimester who experienced nausea and vomiting over three times a day. The sampling technique used was quota sampling. All samples took warm water 250 ml containing 25 grams of ginger and 25 grams of date palm twice a day for 14 days. Data analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test statistical test.Results: Finding the effectiveness of ginger (zingiber offcinale) and date palm (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum, obtained p-value 0.000.Conclusion: There is the effectiveness of ginger (zingiber officinale) and dates palm (phoenix dactylifera) to reduce hyperemesis gravidarum. Suggest the need for promotion of these medicinal supplements. Keywords : Hyperemesis gravidarum;  Ginger (zingiber offcinale); Date palm (phoenix dactylifera).Pendahuluan: Hiperemesis gravidarum merupakan mual muntah yang berlebihan yang terjadi pada wanita hamil, biasanya terjadi pada pagi hari yang disebut dengan morning sickness. Dari 90% ibu hamil yang mengalami mual muntah terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan 2-5% bisa berakibat buruk mengalami dehidrasi.  Oleh karena itu, penting dilakukan upaya mengurangi masalah sejak dini. Penanganan hiperemesis ini dapat diberikan terapi medis dengan obat-obatan dan terapi komplementer atau alternatif dengan menggunakan herbal.Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas jahe (zingiber offcinale) dan kurma (phoenix dactylifera) untuk mengurangi hiperemesis gravidarum.Metode: Penelitian quasi   experiment  dengan One group pretest- posttest design. Populasi semua ibu hamil yang berada di wilayah Puskesmas Cinunuk, sampelnya  sebanyak 30 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah lebih dari 3 x sehari, dengan kriteria inklusi tidak memiliki riwayat penyakit gastritis dan tidak diberikan terapi anti emetik.  Teknik  pengambilan sampel dengan menggunakan quota sampling. Seluruh sample diberikan minuman rebusan jahe 25 gram ditambah dengan 25 gram  sari kurma yang dikemas dalam botol  250 ml diberikan 2 kali sehari selama 14 hari. Data dianalisa dengan Uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test .Hasil: Didapatkan nilai p-value 0,000 < dari nilai alpha (0.05) dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan sebelum pemberian minuman jahe (Zingiber Officinale) dan sari kurma dan setelah pemberian minuman jahe (Zingiber Officinale) dan sari kurma.Simpulan: Minuman jahe (Zingiber Officinale) dan sari kurma efektif mengurangi hiperemesis gravidarum. Disarankan supaya dipromosikan untuk dianjurkan pada ibu hamil yang tidak ada kontra indikasi dapat memanfaatkan obat herbal tersebut.
Hubungan waiting time dengan kepuasan pasien pada pasien rawat jalan di Puskesmas Triyoso Triyoso; Ahmad Muammar Khoddafi; Umi Romayati Keswara
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.2545

Abstract

The association between waiting time and patient satisfaction in outpatient at public health centerBackground: Patient satisfaction is one of the indicators to measure health service quality. A prolonged waiting time influences the satisfaction of a patient toward health service quality. According to the data from the health agency of pesisir barat regency in 2016, the utilization of health centers was low, it is 26.7%. the utilization was lower than the Lampang Province utilization, 32.6%.Purpose: To identify the association between waiting time and patient satisfaction in outpatient at the public health centerMethod: A quantitative method with a cross-sectional approach. The population involved 134 patients registered at Bengkunat Belimbing Health Center. The data collection was through questionnaires. The data analysis by chi square test.Results: Finding the respondents average age was 40.80 years old with a standard deviation is 8,765, the range is 19-59 years, the most of male 58 (66%), the junior secondary education  53 (60%). ), farmer occupation 56 (64%), the type of for follow up 68(77%), the variable time between waiting and registration 20 minutes 50 (57%), waiting time for registration with consultation 20 minutes 44 (50%), waiting time for consultation 20 minutes 25 (54%), overall waiting time 60 minutes 29 (63%).Conclusion: There is no significant relationship between waiting time and patient satisfaction in outpatient at the public health centerKeywords: Waiting time; Patient; Satisfaction; Outpatient; Public health centerPendahuluan: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator untuk mengukur kualitas layanan kesehatan. Waktu tunggu pasien lama akan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2016, pemanfaatan fasilitas kesehatan di Puskesmas masih rendah, yaitu 26,7% masih rendah dibandingkan  pemanfaatan fasilitas kesehatan puskesmas  di Provinsi Lampung yaitu 32,6%.Tujuan: Diketahui hubungan waiting time dengan kepuasan pasien di Puskesmas Bengkunat Belimbing Kab. Pesisir Barat.Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan secara cross sectional, dengan populasi seluruh pasien yang berkunjung di Puskesmas Belimbing Kab. Pesisir Barat  yang berjumlah 421 responden. Tehnik pengambilan sampel dengan accidental sampling dengan jumlah sampel 134 responden. Analisa data menggunakan uji Chi Square.Hasil: Didapatkan tingkat kepuasan kategori puas berusia rata-rata 40.80 tahun dengan standar devisiasi 8.765, rentang 19-59 tahun, berjenis kelamin laki laki 58 (66%), berpendidikan SMP 53 (60%), pekerjaan petani 56 (64%), tipe kunjungan ulang 68(77%), waktu antara menunggu dengan registrasi ≥20 menit 50 (57%), waktu menunggu registrasi dengan konsultasi ≥ 20 menit 44 (50%), waktu menunggu konsultasi ≥ 20 menit 25 (54%), waktu menunggu keseluruhan ≥ 60 menit 29 (63%).Simpulan: Tidak didapatkan hubungan antara waiting time dengan kepuasan pasien (p-value >0.05)
Pengaruh simulasi pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) terhadap pengetahuan dan motivasi siswa tentang penanganan kejadian kecelakaan lalu lintas Made Novita Sari; Eka Yudha Chrisanto; Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.4754

Abstract

The effect of basic life support training simulation on knowledge and motivation of first aid in road traffic accidents among high school students Background: Basic Life Support is the main foundation used to save someone who is  experiencing cardiac arrest. Accidents are events that can cause injury or even cause  death. Based on a survey at the South Lampung Police, there were 295 accident data in  2020. Purpose: To know the effect of basic life support training simulation on knowledge and motivation of first aid in road traffic accidents among high school studentsMethod: A quantitative, using a quasi-experimental design, and two-group (intervention group and control group) pretest-posttest design was carried out at Yadika Natar High School, Lampung on 08 May 2021 - 09 June 2021. The population of all students with a sample of 32 participants. Collecting data using a questionnaire distributed to participants. Data analysis by univariate (frequency distribution) and bivariate (Wilcoxson test).Results: Finding that most of the participants' knowledge and motivation before the simulation was 6 (37.5%) for knowledge and motivation less than 8 (50.0%). After a  simulation of the knowledge level of 16 (100%) participants with 16 (100%) participants having prime motivation. There is a relationship between the basic life support training simulation on increasing knowledge and motivation about handling traffic accidents with a P-value of 0.001 for knowledge and a P-value of 0.000 for participants' motivation.Conclusion: There is a relationship between the basic life support training simulation with increasing students' knowledge and motivation about handling traffic accidents at Yadika  Natar High School South Lampung in 2021 with an M±SD value before the simulation of  5.56±1.711 for participant knowledge and 47.06±9.657 for participant motivation. Meanwhile, after the simulation, the M±SD value was 7.88±1.408 for participant knowledge and 67.94±3.586 for participant motivation. The researcher hopes that the school can cooperate with the trainers to provide health education and counseling regularly to students about first aid measures in the event of a traffic accident.Keywords: Basic life support training;  Simulation; Knowledge; Motivation; First aid; Road traffic accidents; High school studentsPendahuluan: Bantuan hidup dasar merupakan pondasi utama yang digunakan untuk  menyelamatkan seseorang yang sedang mengalami serangan jantung. Kecelakaan adalah  suatu kejadian yang dapat menyebabkan cedera atau bahkan menyebabkan  kematian. Berdasarkan survei di Polres Lampung Selatan, terdapat 295 data kecelakaan  pada tahun 2020. Tujuan: Pengaruh simulasi pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) terhadap pengetahuan dan motivasi siswa tentang penanganan kejadian kecelakaan lalu lintasMetode: Penelitian kuantitatif, menggunakan desain quasi-experimental, dan  rancangan two group pretest-posttest, dilakukan di SMA Yadika Natar Lampung  Selatan bulan 08 mei 2021 - 09 juni 2021. Partisipannya sebanyak 32 yang di bagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan masing- masing kelompok sebanyak 16 partisipan. Pengambilan  sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 32 partisipan. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang dibagikan  ke partisipan. Analisis data secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (uji  wilcoxon). Hasil: Diketahui pada kelompok intervensi sebagian besar pengetahuan dan motivasi partisipan sebelum simulasi  adalah 6 (37.5%) untuk pengetahuan dan motivasi kurang dari 8 (50.0%). Setelah  dilakukan simulasi tingkat pengetahuan baik sebanyak 16 (100%) partisipan dengan 16  (100%) partisipan memiliki motivasi tinggi. Ada hubungan antara simulasi pelatihan  bantuan hidup dasar terhadap peningkatan pengetahuan dan motivasi siswa tentang  penanganan kecelakaan lalu lintas dengan nilai P value sebesar 0.001 untuk pengetahuan  dan nilai P value sebesar 0.000 untuk motivasi partisipan. Simpulan: Ada hubungan antara simulasi pelatihan bantuan hidup dasar dengan  peningkatan pengetahuan dan motivasi siswa tentang penanganan kecelakaan lalu lintas  di SMA Yadika Natar Lampung Selatan tahun 2021 dengan nilai M±SD sebelum  simulasi sebesar 5.56±1.711 untuk pengetahuan partisipan dan 47.06±9.657 untuk  motivasi partisipan. Sedangkan setelah dilakukan simulasi didapatkan nilai M±SD  sebesar 7.88±1.408 untuk pengetahuan partisipan dan 67.94±3.586 untuk motivasi  partisipan. Peneliti berharap pihak sekolah dapat bekerjasama dengan para pelatih untuk  memberikan penyuluhan dan pendidikan kesehatan secara berkala kepada siswa tentang  tindakan pertolongan pertama pada saat terjadi kecelakaan lalu lintas.  
Stunting dan faktor determinannya pada balita usia 6–59 bulan di Kabupaten Lampung Tengah Veronica Ela Rimawati; Dhiny Easter Yanti; Nurul Aryastuti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5613

Abstract

Stunting and its determinant factors among children aged 6–59 months in Central Lampung RegencyBackground: Stunting is a chronic malnutrition problem caused by insufficient nutritional intake for a long time because of poor nutritional needs. In (2018) data at the level of Lampang Province was above the national average, of 42.64% of most cases of stunting in Central Lampung Regency with a prevalence of 52.8%, then West Lampung with a prevalence of 37.3%, and Pesawaran 35.1.%.Purpose: To know the relationship stunting and its determinant factors among children aged 6–59 months in Central Lampung RegencyMethod: Quantitative research with a case-control approach. The population in this study were all toddlers aged 6-59 months, a sample of 144. Data collection used a questionnaire, univariate data analysis (frequency distribution), bivariate (chi-square), and multivariate (logistic regression).Results: There was no relationship between weight (p-value 1,000 OR 1.057), consumption of iodized salt (p-value 0.404 OR 1.398), education (p-value 0.732 OR 1.193), history of infectious disease (p-value 0.243 OR 639). There is a relationship between exclusive breastfeeding (p-value 0.025 OR 2.326), nutritional status of pregnant women (p-value 0.000 OR 16.771), taking vitamin A capsules (p-value 0.033 OR 2.311), various foods (p-value 0.000 OR 4.333), and economic status (p-value 0.000 OR 10.771) with the incidence of stunting. Conclusion: Nutritional status during pregnancy is the dominant factor with the highest OR value of 16,207.Conclusion: Nutritional status during pregnancy is the dominant factor with the highest OR value of 16,207. Keywords: Toddler; Nutrition; StuntingPendahuluan: Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) diyakini menjadi kunci untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Stunting telah menjadi salah satu masalah gizi yang dialami penduduk Indonesia. Banyak cara untuk mengurangi prevalensinya, salah satunya adalah dengan mengonsumsi singkong.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan Stunting dan faktor determinannya pada balita usia 6–59 bulan di Kabupaten Lampung TengahMetode: Pendekatan case control, populasi dalam penelitian adalah seluruh balita usia 6-59 bulan, sampel berjumlah 144. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, analisis data secara univariat (distibusi frekuensi), bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil: Tidak ada hubungan menimbang berat badan (p-value 1,000 OR 1,057), mengonsumsi garam beryodium (p-value 0,404 OR 1,398), pendidikan (p-value 0,732 OR 1,193), riwayat penyakit infeksi (p-value 0,243 OR 639). Ada hubungan ASI eksklusif .(p-value 0,025 OR 2,326), status gizi ibu hamil .(p-value 0,000 OR 16,771), mengonsumsi kapsul vitamin A (p-value 0,033 OR 2,311), makanan beraneka ragam (p-value 0,000 OR 4,333), dan status ekonomi (p-value 0,000 OR 10,771) dengan kejadian stunting.Simpulan: Status gizi saat ibu hamil merupakan faktor dominan nilai OR tertinggi yaitu sebesar 16,207.
Latihan fisik pada anak penderita asma: Studi literatur Siti Rahmawati; Iwan Shalahuddin; Gusgus Ghraha Ramdhanie
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.4663

Abstract

Children with asthma and physical exercise: A literature StudyBackground: Physical exercise in children with asthma is very important, but the negative perception that there will be a recurrence of asthma attacks after physical exercise makes them reluctant to do physical exercise. This has a negative impact on fitness which will cause the rate of recurrence of asthma to increase so there will be an increase in the number of emergency management and hospitalizations, followed by poorly attended rates in school, and decreased productivity.Purpose: To synthesize existing research on various physical exercises in children with asthma.Method: This literature design uses a narrative review method. Search for articles specified in Indonesian, namely "Latihan Fisik" AND "Anak" AND "Asma". And for the English article, namely "Physical Exercise" AND "Children" AND "Asthma".Results: Finding 10 articles that were identified and relevant to the purpose of the study. The result of the literature study illustrated that there were several physical exercises that were applied by children with asthma as non-pharmacological therapy, including physical exercise swimming, active play, cycling/static cycling, HIIT aerobic physical exercise, treadmill, and indoor physical exercise (low intensity: walking, flexibility, coordination/relaxation High intensity: running, weight training with companion/sports team).Conclusion: All articles showed that physical exercise could maintain body fitness, could improve asthma control, and could improve the quality of life of children with asthma. This literature study is to be used as an information and educational content in nursing interventions on asthma management in children.Keywords: Asthma; Children; Physical exercisePendahuluan: Latihan fisik pada anak penderita asma sangat penting, namun adanya persepsi negatif akan adanya kekambuhan serangan asma setelah latihan fisik membuat enggan melakukan latihan fisik. Hal tersebut berdampak negatif pada kebugaran tubuh yang akan menyebabkan angka kekambuhan asma meningkat sehingga akan terjadi peningkatan angka penanganan gawat darurat dan rawat inap, angka absensi anak disekolah meningkat dan menurunkan produktivitas.Tujuan: Untuk mensintesis penelitian yang telah ada mengenai berbagai latihan fisik pada anak penderita asma. Metode:  Desain literatur ini menggunakan metode narrative review. Pencarian artikel  yang ditentukan dalam Bahasa Indonesia yaitu “Latihan Fisik” DAN “Anak” DAN “Asma”. Dan untuk artikel Bahasa Inggris yaitu “Physical Exercise” AND “Children” AND “Asthma”.Hasil: Didapatkan 10 artikel yang teridentifikasi dan relevan dengan tujuan penelitian. Hasil studi literatur menggambarkan terdapat beberapa latihan fisik yang bisa dilakukan oleh anak penderita asma sebagai terapi nonfarmakologis, diantaranya ada latihan fisik berenang, bermain aktif, bersepeda/bersepeda statis, latihan fisik aerobic HIIT, treadmill dan latihan fisik didalam ruangan (intensitas rendah: berjalan, fleksibilitas, koordinasi/relaksasi. Intensitas tinggi : berlari, latihan beban dengan pendamping/olahraga tim).Simpulan: Dari semua artikel menunjukkan bahwa dengan latihan fisik dapat menjaga kebugaran tubuh, dapat meningkatkan kontrol asma serta dapat meningkatkan kualitas hidup anak penderita asma. Studi literatur ini diharapkan dapat dijadikan informasi dan muatan edukasi dalam intervensi keperawatan pada manajemen asma pada anak. 
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok di kalangan remaja Desmon Wirawati; Sudrajat Sudrajat
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5349

Abstract

Factors influencing smoking behavior among adolescentsBackground:  Base on research that the overall smoking prevalence among Indonesian adolescents is 7.2%. The prevalence is substantially higher among males compared to females. Smoking behavior started with curiosity and peer influence and also occurs because of the influence of the social environment.Purpose : To know the factors influencing smoking behavior among adolescentsMethod: A quantitative approach, the population is teenagers as student status at government Junior High School Kelapa Dua, Tangerang Banten and the sample is 659 respondents using a total sampling technique. The questionnaire had tested for validity and reliability before being used.The instrument used to measure the level of knowledge is a knowledge questionnaire using a true and false linker scale and analyzed using the chi-square test.Results:  The finding that adolescents' knowledge was in a good category 59.51% regarding of health effects of cigarette smoking. The biggest risk factor for adolescents to smoke is family members who smoke at the home of 69.33%.Conclusion : Knowledge among adolescents about the impact of smoking on health is still relatively good but has a smoking risk factor, namely the presence of family members who smoke. The recommendation for the management of the public health center, keep always promote the impact of smoking on health in every family towards a physically and mentally healthy family.Keywords: Influencing; Smoking; AdolescentsPendahuluan: Prevalensi merokok secara keseluruhan di kalangan remaja Indonesia adalah 7,2%, Prevalensi secara substansial lebih tinggi di antara laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Perilaku  merokok  diawali oleh rasa ingin tahu dan pengaruh teman sebaya. Remaja mulai merokok terjadi akibat pengaruh lingkungan sosial.Tujuan: Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok di kalangan remajaMetode: Pendekatan kuantitatif, populasinya adalah remaja berstatus pelajar SMP Negeri Kelapa Dua Tangerang Banten dan sampel sebanyak 659 responden dengan teknik total sampling. Kuesioner telah diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan adalah angket pengetahuan menggunakan skala linker benar dan salah dan dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Pengetahuan remaja dalam kategori baik 59,51% tentang dampak merokok terhadap kesehatan. Faktor risiko terbesar remaja untuk merokok adalah anggota keluarga yang merokok di rumah sebesar 69,33%.Simpulan: Pengetahuan di kalangan remaja tentang dampak rokok bagi kesehatan masih tergolong baik namun memiliki faktor risiko merokok yaitu adanya anggota keluarga yang merokok. Saran bagi pengelola Puskesmas, tetap selalu mensosialisasikan dampak rokok terhadap kesehatan pada setiap keluarga menuju keluarga yang sehat jasmani dan rohani.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan mengikuti pedoman perawatan Bundle Ventilator Associated Pneumonia (VAP) Solikin Solikin; Mateus Sakundarno Adi; Septo Pawelas Arso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.4676

Abstract

Analysis of the factors that influence compliance to follow guideline-based care of Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) Bundle among nursesBackground: The base of the Infection Prevention and Control Team's assessment showed that the compliance with the VAP bundle implementation carried out by the nurses in the Intensive Care Unit/ICU) ward Dr. Kariadi Hospital is still low. Based on the results of the preliminary study, shows that several variables that are thought to have an influence on nurses' compliance in implementing the VAP bundle include motivation, availability of facilities, supervision, and nurse stress.Purpose: To analysis of the factors that influence compliance to follow guideline-based care of Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) Bundle among nurses.Method: The research design used in this research is descriptive correlational analytic with a cross-sectional research design. The study population was all nurses in the Intensive Care Unit/ICU) ward Dr. Kariadi Hospital. Data was collected using a questionnaire and observation sheet. Processing and data analysis using multiple logistic regression analysis.Results: Finding that: 1) The nurse motivation variable did not have a simultaneous correlation with the compliance with implementing the VAP bundle, 2) The facility availability variable had a coefficient on the compliance with implementing the VAP bundle, 3) the supervision variable of the head of the room had the greatest influence on the compliance with implementing the VAP bundle (OR = 44.4), 4) The nurse work stress variable has no effect on compliance with implementing the VAP bundle, 5) The variable availability of facilities and supervision of the head of the room simultaneously or jointly has an influence on nurse compliance in implementing the VAP bundle to reduce the Associated Ventilator Pneumonia (VAP) in the Intensive Care Unit/ICU) ward Dr. Kariadi HospitalConclusion: There is an effect of the availability of facilities and supervision to simultaneously on compliance with implementing the VAP bundle by nurses to reduce Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) in the Intensive Care Unit/ICU) ward Dr. Kariadi Hospital.Keywords: Analysis; Compliance; Guideline-based care; Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) Bundle; NursesPendahuluan: Hasil penilaian Tim PPI menunjukkan bahwa kepatuhan pelaksanaan bundle VAP yang dilakukan oleh para perawat di Ruang IRIN RSUP Dr. Kariadi Semarang masih rendah. Berdasarkan hasil studi awal menunjukkan bahwa beberapa variabel yang diduga memiliki pengaruh terkait kepatuhan para perawat dalam pelaksanaan bundle VAP diantaranya adalah motivasi, ketersediaan fasilitas, supervisi kepala ruang, dan stress perawat. Tujuan: Menganalisis pengaruh motivasi, ketersediaan fasilitas, supervisi kepala ruang, dan stress kerja perawat secara bersama-sama terhadap kepatuhan perawat dalam pelaksanaan bundle Ventilator Associated Pneumonia di Ruang IRIN RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik korelasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian semua perawat di Ruang IRIN RSUP Dr. Kariadi Semarang. Subjek penelitian merupakan semua perawat di Ruang IRIN RSUP Dr. Kariadi Semarang yang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Pengolahan dan analisis data menggunakan analisis regresi logistik berganda. Hasil: Menunjukkan: 1) Variabel motivasi perawat tidak memiliki korelasi secara simultan terhadap kepatuhan pelaksanaan bundle VAP, 2) Variabel ketersediaan fasilitas mempunyai koefisien terhadap kepatuhan pelaksanaan bundle VAP, 3) Variabel supervisi kepala ruang memiliki pengaruh paling besar terhadap kepatuhan pelaksanaan bundle VAP (OR = 44,4), 4) Variabel stress kerja perawat tidak memiliki pengaruh terhadap kepatuhan pelaksanaan bundle VAP, 5) Variabel ketersediaan fasilitas dan supervisi kepala ruang secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap kepatuhan perawat dalam pelaksanaan bundle VAP dalam upaya penurunan Ventilator Associated Pneumonia (VAP) di Ruang IRIN RSUP Dr. Kariadi Semarang. Simpulan: Ada pengaruh ketersediaan fasilitas dan supervisi kepala ruang secara simultan terhadap kepatuhan pelaksanaan bundle VAP oleh perawat dalam upaya penurunan Ventilator Associated Pneumonia (VAP) di Ruang IRIN RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Efektivitas pijat kaki dan aromaterapi lavender mengurangi gangguan insomnia pada lansia Clara Santa Maria Yanti Tumanggor; Rika Yulenda Sari; Djunizar Djamaludin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.4152

Abstract

The effectiveness of foot massage and lavender aromaterapy towards the treatment of insomnia in elderlyBackground : Elderly people with insomnia tend to be easily stressed and depressed. When other people are asleep, they are not sleepy, their eyes cannot be closed all night, and sometimes they can make frustrations to force themselves to sleep. Causing various things that interfere with the activity of the next day, such as difficulty concentrating, loss of mood, lack of enthusiasm, and the occurrence of emotional disturbances that are difficult to control.Purpose: To find out alternative therapies using the method (foot massage and lavender essential oil) in the treaty of insomnia in the elderlyMethod: A quasi pre and post-experimental design with intervention and control groups. The samples were taken using purposive sampling with 48 participants. The research instrument used SOP massage and aromatherapy and insomnia IRS questionnaire.Results: The effectiveness of foot massage and lavender aromatherapy on reducing insomnia in the elderly at Tresna Werdha nursing home, Natar with p-value = 0.060.Conclusion : The evidence in effectiveness of alternative therapies using the method (foot massage and lavender essential oil) in the treaty of insomnia in the elderly. I recommend it for caring in the elderly at nursing homes, which is to improve sleep quality in the elderly by providing foot massage therapy and lavender aromatherapy.Keywords : Foot massage; Essential oil lavender; Aromatherapy, InsomniaPendahuluan : Lansia dengan insomnia cenderung mudah stress  dan depresi. Pada saat orang lain sudah tidur, merekatidak mengantuk, mata tidak dapat terpejam sepanjang malam, dan terkadang dapat membuat frustasi untuk memaksakan diri untuk tidur.Sehingga menyebabkan berbagai hal yangmenganggu aktivitas esok harinya, seperti sulit untuk berkonsentrasi, hilang mood, kurang bersemangat,dan terjadinya gangguan emosi yang sulitdikendalikan.Tujuan :Diketahui Perbedaan Efektifitas Pijat Kaki Dan Aromaterapi LavenderMetode :Design penelitian menggunakan desain quasi ekperimen pre dan post dengan kelompok intervensi yang berbeda. Sampel diambil menggunakan purposive sampling dengan jumlah 48 partisipan. Yang dibagi 2 kelompok masing-masing 24 pada kelompok terapi pijat kaki dan aromaterapi lavender. Sebelum diberikan IRS dilakukan pemeriksaaan MMSE. Untuk mengetahui gangguan kesehatan mental dan dijadikan partisipan. Instrument penelitian ini  ada 11 pertanyaan IRS menggunakan SOP pijat dan aromaterapi lavender.Hasil :Terdapat perbedaan efektifitas pijat kaki dan aromaterapi lavender terhadap penurunan insomnia pada lansia di Panti TresnaWerdha Daerah Natar Tahun 2019 dengan (p value = 0.060).Simpulan :Disarankan bagi pelayanan di posyandu lansia dan panti jompo, yaitu untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia dengan memberikan terapi pijat kaki dan aromaterapi lavender.
Analisis determinan infeksi menular seksual ibu rumah tangga Silvia Ari Agustina; Liberty Barokah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.2328

Abstract

Determinant analysis of sexually transmitted infections in married womenBackground: Sexual health issues are increasingly becoming a worldwide concern, among others related to sexual behavior that affects the transmission of sexually transmitted infections (STIs). The rate of increase in Sexually Transmitted Infections sufferers in Indonesia is quite high compared to the scale of the population.Purpose: To analyze risk factors for sexually transmitted infections in married womenMethod: The subjects of this study were married women, with a total sample of 101, including a deep interview with 2 couples ( wives, and Husbands), Community Health Center staff serving sexually transmitted infections, and 1 Non-Governmental Organization. The sampling technique uses quota sampling. This type of research is a mixed-method with a sequential explanatory strategy and uses a cross-sectional study approach. Quantitative data collection techniques using closed questionnaires and for qualitative data with in-depth interviews. Analysis was used to determine risk factors for sexually transmitted infections using binomial logistic regression. The validity and reliability of qualitative data using triangulation of sources and methods.Results: There is a positive relationship between the incidence of STIs with the husband's work (OR: 10.07; 95% CI: 0.02-0.25; p: 0.000), family income (OR: 0.14; 95% CI: 0.04 -0.47; p: 0.001), condom use (OR: 3.25; 95% CI: 0.90-11.71; p: 0.001), and genital hygiene (OR: 8.25; 95% CI: 1,55-43,91; p: 0,013). Women as victims of unsafe husband's sexual behavior cause STI cases in married women to be high.Conclusion: Almost all IMS risk factors are positively related to IMS incidents, and husband employment has the greatest impact on IMS incidents in married women.Keywords: Sexually Transmitted Infections (STIs); behavior; risk factors; Married womenPendahuluan: Isu kesehatan seksual semakin menjadi perhatian dunia, antara lain terkait dengan perilaku seksual yang berdampak pada penularan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Angka peningkatan penderita Infeksi Menular Seksual di Indonesia cukup tinggi dibandingkan dengan skala penduduk.Tujuan: Menganalisis faktor risiko Infeksi Menular Seksual pada Ibu Rumah TanggaMetode: Subyek penelitian ini adalah Ibu Rumah Tangga, dengan total sampel 101, termasuk 2 Ibu Rumah Tangga, 2 Suami, petugas Puskesmas yang melayani penapisan Infeksi Menular Seksual dan 1 Lembaga Swadaya Masyarakat. Teknik sampling menggunakan quota sampling. Jenis penelitian ini mixed methodology dengan strategieksplanatoris sekuensialdan menggunakan pendekatan cross sectional study.Teknik pengambilan data kuantitatif dengan menggunaan kuesioner tertutup dan untuk data kualitatif dengan wawancara mendalam. Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor risiko IMS dengan menggunakan regresi logistik binomial. Validitas dan reliabilitas data kualitatif menggunakan triangulasi sumber dan metode.Hasil: Terdapat hubungan yang positif antara kejadian IMS dengan pekerjaan suami (OR:10,07; CI 95%:0,02-0,25; p:0,000), pendapatan keluarga (OR:0,14; CI 95%:0,04-0,47; p:0,001), penggunaan kondom (OR:3,25;  CI  95%:0,90-11,71;  p:0,001),  dan  higiene  genital  (OR:8,25;  CI  95%:1,55-43,91;  p:0,013).Perempuan sebagai korban dari perilaku seksual suami yang tidak aman menyebabkan kasus IMS pada ibu Rumah Tangga tinggi.Simpulan: Hampir semua faktor risiko IMS berhubungan positif dengan kejadian IMS, dan pekerjaan suami yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap kejadian IMS pada Ibu Rumah Tangga 
Pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan protokol kesehatan 5 M di masa Pandemi Covid-19 Muhammad Ricko Gunawan; Rilyani Rilyani; Triyono Triyono
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5407

Abstract

The knowledge, attitude, and compliance: Implementation of health protocol policy in Covid-19 prevention Background: The World Health Organization as Public Health Emergency of International Concern, PHEIC) has designated coronavirus Disease–19. The ways to transmit Covid-19 is through hand contact and hand hygiene, the most effective way to prevent nosocomial infections by attitude and knowledge of nurses play an important role in implementing the implementation of hand hygiene in a health facility environment. Since the pandemic the behavior of nurses has changed significantly, nurses' knowledge of the chain of transmission of the Covid-19 disease has increased, one of which is through hand contact.Purpose: To identify the relationship of knowledge, attitude, and compliance: Implementation of health protocol policy in Covid-19 preventionMethod: A quantitative with observation and questioners and uses a Cross-Sectional approach. The design of this study uses a survey and the population in this study were all visitors and employees as many as 120 respondents at the Kemiling Health Center, with total sampling.Results: Based on the results, the average age of the respondents was 41 years with a value (mean) of 34.9±6.28 with 78 (65%) female gender and high school education (58 (48.3%) patient and family respondents 42 (35%). Civil service respondents' occupations 44 (36.7%) information got from television 61 (50.8%) the length of information got by respondents was 15 months with a value (mean) of 13.82±2.52. Respondents' knowledge was poor 73 (60.8%) attitude of respondents did not support 78 (65.0% It concluded that there is a relationship between demographic data and Implementation of health protocol policy in Covid-19 prevention with the Chi-Square statistical test with a p-value = 0.000≤ 0.05. The attitude of respondents at risk is 10,681 times greater for compliance with the 5M Health protocol at Kemiling Health Center Bandar Lampung.Conclusion: There is a significant relationship of knowledge, attitude, and compliance: Implementation of health protocol policy in Covid-19 prevention. Recommendation for Health Center management to do health promotion and straightly health protocols.Keywords: The knowledge; Attitude; Compliance; Implementation; Health protocol policy; Covid-19 prevention.Pendahuluan: Corona Virus Disease – 19  telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) atau Badan Kesehatan Dunia sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KMMD).  Penularan Covid-19 salah satunya adalah melalui kontak tangan dan hand hygiene merupakan cara yang paling efektif dalammencegah terjadinya infeksi nosokomial,namun pelaksanaan handhygienebelum mendapatkan respon yang maksimal dari petugas kesehatan. Sikap dan pengetahuan perawat menjadi peran penting dalam menerapkan pelaksanaan hand hygiene di lingkungan fasilitas kesehatan. Sejak pandemi perilaku perawat mengalami perubahan dengan signifikan,  meningkatnya pengetahuan perawat akan rantai penularan penyakit Covid-19 yang salah satunya melalui kontak tangan.Tujuan : Mengetahui adanya hubungan yang mempengaruhi sikap dan pengetahuan terhadap kepatuhan protokol Kesehatan 5M  selama masa pandemi Covid-19 di Puskesmas Rawat Inap tahun 2021.Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode observasi analitik dan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Rancangan penelitian ini menggunakan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung dan pegawai sebanyak 120 responden di Puskesmas Kemiling menggunakan total sampel.Hasil : Didapatkan bahwa rata-rata usia  responden 41 tahun dengan nilai (mean) 34.9±6.28 dengan jenis kelamin perempuan sebanyak  78 (65%) dan Pendidikan SMA (58 (48.3%) responden pasien dan keluarga 42 (35%). Pekerjaan responden PNS 44 (36.7%) informasi yang didapat dari televisi 61(50.8%) lama informasi yang didapat responden 15 bulan dengan nilai (mean) 13.82±2.52. Pengetahuan responden buruk 73 (60.8%) sikap responden tidak mendukung 78 (65.0%). Dapat disimpulkan ada hubungan antara data demografi dengan kepatuhan protocol Kesehatan 5M dengan uji statistik Chi-Square dengan nilai p-value = 0,000≤ α 0,05  sikap responden beresiko 10.681 kali lebih besar terhadap kepatuhan protocol Kesehatan 5M di Puskesmas Kemiling Bandar Lampung.Simpulan :Ada hubungan yang bermakna antara sikap dan pengetahuan dengan kepatuhan terhadap protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19 di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Tahun  2021. Disarankan bagi Puskesmas Rawat Inap Kemiling mengutamakan  program In House Training atau Pelatihan PPI Dasar bagi petugas Kesehatan dan memperketat protocol kesehatan. 

Page 2 of 2 | Total Record : 20