cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
dewaruci@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Nomor 19, Kentingan, Jebres, Surakarta 57126, Indonesia.
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Abdi Seni
ISSN : 20871759     EISSN : 27232468     DOI : 10.33153
urnal Abdi Seni memiliki fokus pada hasil pengabdian dan pemberdayaan kepada masyarakat, baik itu pengabdian dosen maupun KKN yang dilakukan oleh mahasiswa dalam bidang seni. Cakupan jurnal Abdi Seni memiliki ranah keilmuan di bidang seni rupa dan desain ataupun seni pertunjukan (Tari, Karawitan, Pedalangan, Teater, Etnomusikologi, dll), yang mampu memberikan banyak manfaat untuk masyarakat serta menambah literasi dalam berkesenian.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2019)" : 6 Documents clear
Optimalisasi Produk Batik Perajin Batik Plengkung Dusun Dalangan Desa Campursari Kabupaten Temanggung Jawa Tengah Sri Wuryani
Abdi Seni Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2680.519 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v10i2.3041

Abstract

AbstrakDesa Campursari salah satu desa di Kecamatan Bulu, Temanggung  Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Desa Campursari terletak di kaki gunung Sumbing pada ketinggian 1.040 m dpl, berjarak 1 km dari ibukota Kecamatan Bulu dan 9 km dari Ibukota Kabupaten. Desa Campursari terbagi atas lahan sawah dan bukan sawah.Lahan sawah dipergunakan ladang/tegalan/huma, perkebunan rakyat dan lain-lain.Letak desa sedemikian memberikan sumber daya alam yang berlimpah.Hasil perkebunan merupakan  penunjang  ekonomi  warga,  diantaranya  perkebunan  tembakau  yang  menjadi primadona.Kesibukan warga pada masa panen tembakau, antara bulan Juli, Agustus dan September.Diluar bulan-bulan tersebut banyak waktu luang, terutama bagi ibu-ibu. Mengisi waktu luang inilah mereka ingin mengisi dengan  menambah pengetahuan tentang batik yang selama ini sudah dirintis di dusun Dalangan Desa Campursari,  Kegiatan tersebut diwadahi dalam kelompok yang diberi nama Batik Plengkung. Permasalahan kelompok batik plengkung kualitas  kain batik yang kurang baik warna tidak rata dan proses pewarnaan yang kurang praktis. Tujuan pelatihan menambah ketrampilan dan wawasan tentang batik, memberikan motivasi untuk lebih mencintai batik kepada warga desa Campursari, terutama peserta pelatihan. Hasil pelatihan diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi dan kualitasnya, memunculkan perajin-peraji baru sebagai pencipta lapangan pekerjaan, dan  kesejahteraan warga meningkat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan dan pendampingan tentang teknik mewarna dengan bahan warna sintetis. Hasil pelatihan, peserta akanbertambah pengetahuannya tentang jenis bahan pewarna sintetis dan teknik penggunaannya, karya hasil pelatihan.Kata kunci: pelatihan, batik plengkung, warna sintetis. AbstractCampursari  is  one  of  the  villages  in  Bulu  District,  Temanggung,  Central  Java  Province. Geographically, Campursari Village is located at the foot of Mountain Sumbing at an altitude of 1,040 m above sea level, located 1 km from the capital of Bulu District and 9 km from the Capital District. Campursari village is composed  into paddy fields and not paddy fields. Paddy fields are used as fields / dry fields / huma, community plantations and others. The location of such villages provides abundant natural resources. The results of plantations are economic support for residents, including  tobacco  plantations  that  are  excellent.  Residents  are  busy  at  the  time  of  the  tobacco harvest,  between  July, August  and  September.  Outside these  months  there  is  plenty of  free  time, especially for mothers. This free time they want to fill by adding knowledge about batik that had been pioneered in the Dalangan hamlet in Campursari village, the activity was accommodated in a group named Batik Plengkung. The problem with the Plengkung batik group is that the quality of batik cloth is not good, the colors are uneven and the coloring process is not practical. The aim of the training is to add skills and insights about batik, to provide motivation to love batik more to Campursari villagers, especially the trainees. The results of the training are expected to increase the amount of production and quality, bring new craftsmen as job creators, and improve the welfare of citizens. The method used in this activity is training and mentoring on coloring techniques with synthetic  color materials.  The  results  of the  training,  participants  will increase  their  knowledge about the types of synthetic dyes and their use techniques, the results of the training.Keywords: training, batik Plengkung, synthetic colors.
Inovasi Kuda Lumping di Desa Tegalrejo Kabupaten Temanggung Dewi Nurnani
Abdi Seni Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.738 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v10i2.3037

Abstract

AbstrakTulisan tentang Program Pengabdian Pada Masyarakat ini membahas tentang Inovasi Kuda Lumping Di Desa Tegalrejo Kabupaten Temanggung. Program ini bertujuan untuk mendorong dan memotivasi masyarakat pedesaan untuk menjaga dan melestarikan seni tradisional yang mereka miliki dengan cara inovasi kesenian Kuda Lumping yang sudah ada sehingga kedepan dapat memperbaiki ekonomi mereka. Target program pengabdian ini adalah kelompok Kuda Lumping Turonggo Setyo Budi yang dimiliki oleh masyarakat Desa Tegalrejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.kelompok kesenian tersebut masih eksis meskipun perkembangannya kurang baik. Program ini diharapkan dapat membangkitkan aktifitas anggota kelompok dengan harapan mereka akan lebih mencintai dan mau mengembangkan kesenian tersebut dengan cara mengadakan inovasi sehingga tetap berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah pelatihan dan pembimbingan masyarakat serta sosialisasi program inovasi yang meliputi iringan musik, gaya tabuhan, tari, dokumentasi dan identitas kelompok kesenian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota kelompok tersebut menjadi terdorong dan termotivasi untuk mengikuti setiap pelatihan dan pembimbingan. Inovasi yang mereka hasilkan dapat dilihat dalam pertunjukan di akhir program pengabdian tersebut.Kata kunci: Kuda Lumping, inovasi, tari, iringan musik. AbstractThe  Community  Service  Program  is  about  Innovation  of  Kuda  Lumping  in  Tegalrejo  Village, Temanggung Regency. This program aims to encourage and motivate the village people to maintain the traditional arts they have by innovation of kuda lumping that can later improve their economy. The target of this service program is a group of kuda lumping Turonggo Setyo Budi owned by the people of Tegalrejo village, Bulu district, Temanggung district, Central Java. The art group still exists even though its development is not so good. This program is expected to be able to arouse the activities of the group members to be more loving and to develop the arts they have by innovating so that the arts are sustainable. This program uses an approach through training and mentoring the community and socialization of innovation programs which include musical accompaniment, gaya tabuhan,  dance,  documentation  and  identity  of  the  arts  group.  The  result  shows  that  the  group members  become  encouraged  and  motivated  in  following  the  training  and  mentoring.  The innovations can be seen in their performance at the end of the program.Keywords: kuda lumping, innovation, dance, accompaniment music.
Pengembangan Kerajinan Sangkar Burung Kelurahan Kadipiro, Surakarta, Jawa Tengah Aan Sudarwanto; Rahayu Adi Prabowo; Ari Supriyanto
Abdi Seni Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4470.125 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v10i2.3042

Abstract

AbstrakKriya mempunyai cakupan yang sangat luas salah satunya adalah   kriya kayu, dimana   konsentrasi penggunaan bahan baku utamanya   didominasi   bahan baku kayu. Diantara keragaman produk kriya kayu adalah produk kerajian sangkar burung. Dari data yang ada diketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir telah mengalami booming. Hal ini karena banyaknya muncul peternak burung sebagai komoditi perdagangan maupun banyaknya komunitas-komunitas pecinta burung baik dari kalangan masyarakat ekonomi lemah hingga masyarakat menengah dan atas. Kebutuhan sangkar burung meningkat dengan pesat hampir merata di setiap daerah dan berdampak pula muncul sentra kerajinan sangkar burung sebagai kantong penghasil sangkar burung. Salah satunya sentra kerajinan sangkar burung di kalurahan Kadipiro, Banjarsari, Surakarta. Terdapat  beberapa permasalahan  yang  menjadikendala di sentra kerajinan sangkar burung di kalurahan Kadipiro Surakarta, diantaranya adalah; Tidak mampu memproduksi dalam waktu yang singkat, tidak adanya standarisasi produk fungsional, kurangnya tenaga kerja trampil dalam mengembangkan produk. Tidak ada produk dengan branded tertentu sehingga mudah ditiru. Berpijak dari permasalahan dan kondisi di sentra kerajinan sangkar burung Kadipiro  maka  dilakukan kegiatan peningkatan pengembangan produk sangkar burung melalui program PPM, dengan target pengusaha bernama Yudi Haryadi yang saat ini sedang merintis kerajinan sangkar burung bernama “Carisa Sangkar” . Fokus dari kegiatan PPM ini lebih diarahkan pada pada aspek peningkatan kualitas produk karya kriya kayu khususnya sangkar burung dengan pembuatan desain yang baik sampai  menjadi  prototype.  Kemudian  dilakukan  penguatan sumber  daya  manusia, melalui pendampingan lapangan, yang diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan sekaligus secara tidak langsung dapat meningkatan kesejahteraan masyarakat.Kata kunci : Kriya,  kreativitas, sangkar burung, sistem produksi AbstractCraft has a very broad scope one of which is wood craft, where the concentration of the use of raw materials  is mainly  dominated by  wood raw  materials. Among the  wood craft  products are  bird cage. It is known that in the last 10 years becoming the peak season. This is due to the large number of bird breeders emerging as trade commodities as well as the many bird-loving communities from among the economically weak to the middle and upper classes. The need for bird cages is rapidly increasing almost evenly in every area and the impact is also emerging centers of bird cage crafts as bird cage producers. One  is a bird cage craft center in Kadipiro , Banjarsari, Surakarta. There are a number of problems that have become obstacles in the bird cage handicraft center in Kadipiro Surakarta, including not able to produce in a short time, there is no standardization of functional products, lack of skilled workforce in developing products. There is no specific branded product so it is easy to imitate. Based on the problems and conditions in the Kadipiro bird cage craft, activities to improve the development of bird cage products through the community service , with the target of a businessman named Yudi Haryadi who is currently pioneering a bird cage craft called “Carisa Cage”. Improving the quality of wood craft products, especially birdcages by making good designs to become prototypes. Then do strengthening human resources, through field assistance, which is expected to increase sales and at the same time indirectly improve community welfare.Keywords: crafts, creativity, bird cage, production system
Menghidupkan Kesenian Ketoprak di Desa Sanggrahan Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah YB. Rahno Triyogo
Abdi Seni Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.346 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v10i2.3038

Abstract

AbstractJudul  artikel  PPM  Tematik  ini adalah  Menghidupkan  Kesenian  Ketoprak  Di  Desa  Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah yang memusatkan perhatiannya pada usaha menghidupkan kembali kesenian ketoprak yang pernah ada sebelumnya.  Berpijak pada judul artikel di  atas  dengan  mudah  dapat  ditangkap  bahwa  yang  menjadi  tujuan  penulisan  artikel  ini  adalah mendiskripsikan usaha-usaha untuk menghidupkan kembali kesenian ketoprak yang pernah ada dan kini dalam keadaan mati suri. Adapun langkah yang ditempuh adalah mengadakan pelatihan untuk para pemain dan pengrawit, serta pembinaan dalam bidang cara-cara berorganisasi.  Pelatihan dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas dan kuantitas pemain maupun pengrawit, naskah lakon, pelatih, dan waktu atau jaduwal latihan. Adapun materi latihan meliputi membaca naskah lakon, dialog (penguasaan vokabuler bahasa Jawa dan unggah-ungguh), bloking, actions, perang kombat, perang masal, dan make-up. Latihan dilakukan secara maraton, dan menghasilkan sebuah pertunjukan ketoprak  dengan  durasi waktu 2 jam dengan lakon  Manunggal. Lakon disusun oleh Ki Legowo Cipto Karsono, Agus Joko Susilo, dan Rekryandrie Prabaningmas. Sesuai dengan keinginan masyarakat pendukungnya bahwa hasil latihan dipentaskan dalam acara perpisahan mahasiswa KKN dengan warga desa Sanggrahan yang diselenggarakan pada tanggal 27 Agustus 2018.Kata kunci: eksistensi, ketoprak, Sanggrahan Temanggung. AbstractThe title of this Thematic dedication to community  article is Reviving Ketoprak Art in Sanggrahan, Kranggan, Temanggung,  Central Java, which  focuses its attention  on reviving ketoprak  art that had existed before. Based on the title of the article above it can be easily captured that the purpose of writing this article is to describe efforts to revive the art of ketoprak that once existed. The steps taken are conducting training for players and players, as well as coaching in the field of ways to organize. The training is carried out by considering the quality and quantity of players as well as players, script manuscripts, coaches, and time or time of training. The training material includes reading script, dialogue (mastering Javanese vocabulary and uploading), blocking, actions, kombat war,  mass  warfare,  and  make-up.  The  training  was  conducted  in  a  marathon,  and  resulted  in  a ketoprak show with a duration of 2 hours with the Manunggal play. The play was composed by Ki Legowo Cipto Karsono, Agus Joko Susilo, and Rekryandrie Prabaningmas. In accordance with the wishes  of  the  supporting  community  that  the  results  of  the  exercise  were staged  in  the  farewell program of Community Service Program (KKN) students and residents of Sanggrahan which was held on August 27, 2018.Keywords: existence, ketoprak, Sanggrahan Temanggung.
Inovasi Dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kesenian Di Desa Kedu Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung Supriyanto Supriyanto
Abdi Seni Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.7 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v10i2.3039

Abstract

AbstrakPemberdayaan Masyarakat Melalui  Kesenian  Di Desa Kedu Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa melalui progran Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan itu merupakan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama  pengabdian  ilmu  kepada  masyarakat.  Pemberdayaan  masyarakat  melalui  kesenian  akan menumbuhkan  masyarakat merasa memiliki terhadap kesenian tradisionalnya.  Dengan diterjunkannya mahasiswa ISI Surakarta ke lapangan KKN yang didampingi oleh dosen maka mahasiswa dapat  mengamati, menganalisis dan dapat menemukan solusi agar  masyarakat dapat melestarikan dan mengembangkan potensi kesenian yang dimiliki. Untuk dapat menumbuhkan masyarakat memiliki kepedulian  terhadap keseniaannya diperlukan beberapa metode dan langkah-langkah yaitu  metode pendekatan, sosialisasi dan koordinasi. Perubahan kehidupan masyarakat sangat berpengaruh pada perubahan sosial, tata nilai, yang akan mempengaruhi  perubahan dan perkembangan kesenian.  Perubahan nilai kesenian akan ditentukan oleh perubahan masyarakat pendukungya. masyarakat berpengaruh pada kreativitas seni, sehingga  seni tradisional selalu berkembang,  berubah,  sesuai dengan perubahan masyarakat penggunanya. Seni  tradisional  akan  menjadi  bagian  dari  kehidupan  masyarakatnya.  Hasil pelaksanaan  kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa  memberikan andil yang sangat besar bagi masyarakat di Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Masyarakat menjadikan kesenian sangat penting bagi kehidupan. Dengan adanya mahasiswa KKN di wilayah Kedu ini dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kesenian yang dimilikinya. Kesenian akan tetap lestari dengan perubahan dan perkembangannya.Kata kunci:  Pemberdayaan, Masyarakat,  Kesenian,  Kedu. AbstractCommunity  Empowerment  through  Art  in  Kedu  Village,  Kedu  Subdistrict,  Temanggung  ,  is  a community service carried out by lecturers and students through the Community Service Program (KKN) program. The activity is one of the Tri Dharma of Higher Education, especially community service.  Community  empowerment  through  arts  will  foster  community  ownership  of  traditional arts. By sending ISI Surakarta students to the Community Service Program (KKN ) field accompanied by lecturers, students can observe, analyze and find solutions so that the community can preserve and develop their artistic potential. To be able to grow the community has a concern for kesenianya required several methods and steps namely the method of approach, socialization and coordination. Changes in people’s lives greatly affect social change, values, which will affect changes and the development of art. Changes in the value of art will be determined by changes in supporting society. society influences the creativity of art, so that traditional art always develops, changes, in accordance with  changes  in  the  user  community.  Traditional  art  will  become  a  part  of  people’s  lives.   The results of the implementation of community service activities, students give a very large contribution to  the community  in  Kedu Village,  Kedu  District,  Temanggung Regency.  Society  makes art  very important for life. With the existence of Community Service Program  (KKN ) students in the Kedu region, it can foster community love for their art. Art will remain sustainable with its changes and developments.Keywords. Empowerment,  Community, Arts,  Kedu.
Pelatihan Dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Muncar Di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah Melalui Kegiatan Lokal Kesenian Sebagai Penguatan Profil Potensi Rintisan Desa Wisata Widhi Nugroho
Abdi Seni Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.071 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v10i2.3040

Abstract

AbstrakPembangunan desa sebagai bagian dari pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat dalam rangka perwujudan tujuan desa, daerah dan tujuan nasional. Salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan terwujudnya otonomi desa adalah keberhasilan pembangunan desa. Oleh karenanya dalam pembangunan desa dibutuhkan perencanaan yang sistematik, terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan. Sebagai penunjang pembangunan Desa Muncar perlu adanya pengenalan dan pemahaman kondisi wilayah desa secara umum. Dari pengenalan dan pemahaman kondisi desa ini, maka dapat dilakukan pemetaan potensi desa sebagai rintisan desa wisata pada kemudian hari. Saat ini, belum ada kesadaran dalam penyusunan profil desa berbasis sumber daya desa terutama pada potensi kesenian yang dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai arsip dan media promosi melalui website desa. Solusi yang ditawarkan lebih pada pendampingan, peyusunan dan pengembangan kegiatan lokal kesenian serta kegiatan pengarsipan/pendokumentasian.Kata kunci: Desa Muncar, profil desa, potensi lokal kesenian, rintisan desa wisata. AbstractVillage development as part of national development is a series of sustainable development efforts covering  all  aspects  of  community  life  in  the  context  of  the  realization  of  the  objectives  of  the village, region and national goals. One important aspect in implementing village governance and the  realization  of  village  autonomy  is  the  success  of  village  development.  Therefore,  in  village development a systematic, directed, integrated, comprehensive and responsive plan for change is needed. As a support for the development of the Muncar Village there needs to be an introduction and  understanding  of  the  conditions  of  the  village  area  in  general.  From  the  introduction  and understanding of the condition of this village, it is possible to map the potential of the village as a pilot  village for  tourism  in the  future. At present,  there  is no  awareness  in village  profile-based village resource development, especially in the potential of art that can be utilized optimally as an archive  and  media  promotion  through  the  village  website.  The  solutions  offered  are  more  on assistance,  preparation  and  development  of  local  arts  activities  and  archiving  /  documentation activities.Keywords : Muncar Village, profile, local arts, tourism village.

Page 1 of 1 | Total Record : 6