cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ornamen@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ornamen Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya
ISSN : 16937724     EISSN : 2685614X     DOI : 10.33153
Core Subject : Humanities, Art,
Art craft journal contains scientific articles on the results of research on the art of craft and the creation of craft art within the scope of Indonesian culture. The substance presented is in the form of a mission to preserve the cultural values of the archipelago as well as the development of concepts and aesthetics, along with the development of the complexity and dynamics of people's lives. The critical approach method in an interdisciplinary scientific perspective can open the widest possible opportunity for scholars, researchers, and stakeholders to work together in advancing a dignified national culture in the midst of global competition. ORNAMENTS art craft journals are published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2020)" : 6 Documents clear
MOTIF BATIK MAGELANG: PERPEKTIF PENGGABUNGAN MOTIF BATIK TRADISI DENGAN MOTIF KREASI BARU Anggia Adriadna Miranda; Felix Ari Dartono; Setyawan Setyawan
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3695

Abstract

Tujuan dari penelitian berjudul ‘Kajian Batik Magelang’ adalah untuk mengetahui latar belakang munculnya batik di Kota Magelang dan motif Batik Magelang. Melalui teori pendekatan desain oleh John. A. Walker untuk memahami latar belakang munculnya batik di Kota Magelang berdasarkan kaitannya dengan bentuk motif batiknya, konsep pengembangan batik di Kota Magelang, dan pengaruh latar belakang individu pengrajin. Metode Penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel berupa produk kain batik Motif  Panen Raya, Motif Organik, Motif Mawar dan Melati, Motif Sejuta Bunga, Motif Cempaka, dan Motif Sekar Jagad Magelangan. Adapun data tertulis maupun visual dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Latar belakang budaya mempengaruhi munculnya batik di Kota Magelang, 2) Keterkaitan antar aspek artefak, konsep, manusia, dan lingkungan dapat terlihat dalam berkembangnya batik Magelang.
KARAKTERISTIK BATIK TULIS SUMBERSARI MAESAN BONDOWOSO Rini Istiqfarina
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3693

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengambil subyek tentang perusahaan batik tulis Sumbersari, yang berlokasi di Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan batik tulis Sumbersari merupakan salah satu perusahaan batik tulis yang awal berdiri di Kabupaten Bondowoso, perusahaan tersebut didirikan oleh Lilik Soewondo (alm) pada tahun 1985. Proses pembuatan batik Sumbersari pada dasarnya secara teknis sama dengan pembuatan batik pada umumnya. Namun demikian terdapat beberapa perbedaan diantaranya adalah alat-alat pendukung yang digunakan seperti tidak digunakannya canting tembokan dan gawangan. Ciri khas batik tulis Sumbersari terdapat pada motif dan warna yang digunakan, yaitu berupa motif daun singkong dan daun tembakau sebagai unsur utama motif. Warna yang digunakan didominasi oleh warna kontras, yaitu perpaduan antara warna panas dan warna dingin. Warna panas diwakili warna merah, kuning dan orange, sedangkan warna dingin diwakili oleh warna hijau, dan biru. Kata kunci: Kain Batik Tulis Sumbersari, Motif dan warna Batik Tulis Sumbersari.                                              Abstract                This study takes the subject of the Sumbersari batik company, which is located in Sumbersari Village, Maesan District, Bondowoso Regency. This research is a qualitative descriptive study. The results showed that the Sumbersari batik company was one of the batik companies that was originally established in Bondowoso Regency, the company was founded by Lilik Soewondo (late) in 1985. The process of making Sumbersari batik is technically the same as making batik in general. However, there are some differences, including the supporting tools used, such as not using canting walls and barriers. The characteristic of Sumbersari batik is found in the motifs and colors used, namely in the form of cassava leaves and tobacco leaves as the main elements of the motif. The colors used are dominated by contrasting colors, which are a mix of hot and cold colors. Hot colors are represented by red, yellow and orange, while cool colors are represented by green and blue. Keywords: Sumbersari Batik Fabrics, Motifs and Colors of Sumbersari Batik Tulis  
KOMBINASI TEKNIK IKAT CELUP DAN TRAPUNTO UNTUK PARTISI Rohmah Purwanti
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3257

Abstract

ABSTRAKKurangnya inovasi dan pengembangan desain dan produk dari teknik ikat celup mengakibatkan menurunnya minat dan daya jual terhadap produk ikat celup dipasaran. Desain dengan bentuk biasa serta produk ikat celup yang hanya dijadikan produk fesyen  tanpa inovasi dan pengembangan menciptakan kesan monoton bagi konsumen. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para desainer (pengrajin) untuk menciptakan produk yang berbeda dan memiliki karakter tersendiri untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Penulis mencoba mengembangkan teknik ikat celup dengan kombinasi trapunto dengan tema Alur Kehidupan  pada Tugas Akhir ini. Trapunto berasal dari bahasa Italia yang artinya menjahit kain perca. Trapunto merupakan salah satu keterampilan seni menjahit, dimana beberapa bagian desainnya dihiasi dengan gambar yang berisi gumpalan kapas, wol atau benang, sehingga akan membentuk gambar yang timbul pada permukaan kain. Perancangan  yang dilakukan menghasilkan delapan desain unik dan menarik, dengan teknik tritik, jumput dan smockdengan kombinasi trapunto yang diaplikasikan untuk produk interior yaitu partisi. Diharapkan dengan dilakukannya Pengembangan Teknik Ikat Celup dan Trapunto untuk Partisi dapat menambah variasi pada produk ikat celup.Kata Kunci : Ikat Celup, Trapunto, PartisiABSTRACTThe lack of innovation as well as the lack of development in designs and products of tie-dye techniques has led to a decrease in interest and marketability for tie-dye products in the market. Designs with common forms along with the tie-dye products that are only used as fashion products without innovation and development create a monotonous impression for consumers. This is a challenge for designers (craftsmen) to create different products and have their own character to meet the needs of the consumers. The author tries to develop a tie-dye technique with a combination of trapunto with the theme of Life Flow in this Final Project. The term Trapunto comes from Italian word which means to sew patchwork. Trapunto is one of the sewing art skills, where some parts of the design are decorated with images that contain lumps of cotton, wool or yarn, so that they will form images that arise on the surface of the fabric. The design that was carried out resulted in eight unique and attractive designs, with the technique of tritik, jumput and smock with a combination of trapunto which was applied to interior products namely partitions. It is expected that the Development of the Tie-Dye and Trapunto Technique for Partitions can add variety to the tie-dye products. Keywords : Tie-Dye, Trapunto, Partitions
PENCIPTAAN KUJANG WAYANG PANDAWA Dika Ekwan Widayat
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3260

Abstract

AbstrakWayang merupakan hasil karya seni dan kebudayaan yang paling tinggi nilainya. Salah satu jenis yang populer bagi di masyarakat Jawa adalah wayang purwa ( wayang kulit). Mereka beranggapan bahwa kisah wayang berisi pedoman dan ajaran kehidupan yang patut dijadikan pedoman hidup. Dalam cerita wayang ada beberapa tokoh yang cukup terkenal salah-satunya adalah tokoh pandhawa. Pandhawa merupakan penggambaran kebaikan dalam berkehidupan, karena sifat yang dimilikinya. Oleh karena maka penulis tertarik terhadap tokoh pandhawa terutama bentuk wajahnya untuk dijadikan sebagai sumber ide dasar penciptaan kujang. Kujang merupakan puncak seni tempa logam yang kelahirannya dari sarana peralatan mahuma (petani/peladang) dalam menginterprestasikan rasa syukur mereka atas rezeki yang berlimpah dan pramarta (rasa welas asih serta pengasih) yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Kujang memiliki berbagai macam bentuk dan karakter, yang memilki konsep dasar dari alam flora maupun fauna. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk menghasilkan karya kujang yang memiliki karakter bentuk yang berbeda dari bentuk kujang yang sudah ada. Metode penciptaan yang diterapkan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, perwujudan. analisis pada penciptakan ini menggunakan pendekatan estetika yang mengacu pada konsep tosan aji yang digagas Panembahan hadiwijaya, yaitu Greget, Guwoyo dan Wangun. Hasil dari penciptaan ini berjumlah lima yakni kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula dan Kujang Sadewa. Kata Kunci: Wayang, pandawa, kujang. Abstract Puppet is a work of art and culture of the highest value. One type that is popular in Javanese society is Puppet purwa (Puppet kulit). They think that the Puppet story contains guidelines and teachings of life that should be used as a guide for life. In the Puppet story, there are several characters who are quite famous, one of which is the pandhawa character. Pandhawa is a depiction of goodness in life, because of its characteristics. Therefore, the author is interested in the Pandhawa character, especially the shape of his face to serve as a source of basic ideas for the creation of a cleaver. Kujang is the pinnacle of the art of metal forging which was born from the means of mahuma (farmers /cultivators) tools in interpreting their gratitude for the abundant sustenance and pramarta (compassion and compassion) given by God Almighty. Cleaver has various forms and characters, which have the basic concept of flora and fauna. The purpose of this creation is to produce a cleaver that has a different character from the existing cleaver. The creation method applied includes the exploration, design, and embodiment stages. The analysis on this creator uses an aesthetic approach which refers to the concept of tosan aji which was initiated by Panembahan Hadiwijaya, namely Greget, Guwoyo and Wangun. The results of this creation amounted to five, namely the Kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula and Kujang Sadewa.  Keywords: Puppet, pandawa, kujang.
BATIK TULIS KHAS SRAGEN DENGAN SUMBER IDE MOTIF GAJAH PURBA Duwi Wahyu Hidayat
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3664

Abstract

ABSTRAK Duwi Wahyu Hidayat. C0913017. 2019. Batik Tulis khas  Sragen dengan Sumber Ide Gajah Purba. Tugas Akhir : Program Studi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret Surakarta.Proyek penciptaan desain motif ini dilatarbelakangi oleh peluang untuk membuat produk baru yang berfokus pada pengolahan visual (motif). Ide visual yang ditawarkan adalah potensi museum purbakala  Kabupaten Sragen yaitu gajah purba yang memiliki keunikan dan karakternya sendiri.Tujuan pengembangan desain ini adalah mengembangkan desain Batik Sragen yang berfokus pada pengolahan visual (motif) gajah pruba.Metode yang dipakai dalam pengembangan desain batik ini adalah metode desain berbasis riset. Metode desain yang dipakai melewati tiga proses pokok yakni metode perancangan, konsep perancangan, dan visualisasi. Untuk metode perancangan melewati tahap analisis permasalahan yang ada di Kabupaten Sragen, strategi pemecahan masalah, pengumpulan data tentang kekhasan daerah Sragen, uji coba teknik dan visual, dan bagan alur perancangan. Konsep perancangan meliputi landasan pemikiran untuk perancangan desain. Visualisasi yakni tahap memvisualkan 8 desain sesuai dengan konsep rencana perancangan yang sudah ditulis dalam proses perancangan.Hasil dari perancangan desain sebagai berikut: (1) unsur-unsur visual dari hasil gajah purba yang diolah dengan penggayaan stilasi dan dekoratif yang sederhana dengan mempertimbangkan unsur estetis agar tetap mempertahankan karakter gajah purba. (2) Pembuatan batik tulis dengan motif hasil gajah purba ini diaplikasian kedalam kain batik. Kata Kunci : Pengembangan, Batik Sragen, gajah purba museum purbakala Sragen ABSTRACT               Duwi Wahyu Hidayat. C0913017. 2019. Typical Batik Sragen with Ancient Elephant Ideas Source. Final Project: Textile Craft Study Program, Faculty of Arts and Design, Sebelas Maret University, Surakarta.              The motive design project is motivated by the opportunity to create new products that focus on visual processing (motifs). The visual idea offered is the potential of an ancient museum in Sragen Regency in the form of an ancient elephant which has its own uniqueness and character.              The purpose of developing this design is to develop a Sragen Batik design which focuses on the visual processing (motif) of pruba elephants.              The method used in the development of this batik design is a research-based design method. The design method used goes through three main processes, namely the design method, design concept, and visualization. The design method is through problem analysis in Sragen Regency, problem solving strategies, data collection about the uniqueness of the Sragen area, technical and visual trials, and design flow diagrams. The design concept includes the rationale for design design. Visualization is the stage of visualizing 8 designs according to the design plan concept that has been written in the design process.              The results of the design are as follows: (1) Visual elements of ancient elephants were processed in a stylized style and simple decorations by paying attention to aesthetic elements in order to maintain the character of ancient elephants. (2) Making written batik with an ancient elephant motif is applied to the batik cloth. Keywords: Development, Batik Sragen, the ancient elephant of the ancient museum of Sragen
PERANCANGAN MOTIF PINSTRIPE DENGAN TEKNIK BATIK TULIS UNTUK ROMPI LADY BIKERS MOTOR KUSTOM Putri Rahmawati
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3690

Abstract

ABSTRAKPerancangan ini dilakukan sebagai sebuah reaksi terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut yaitu keberadaan kustom kulture sebagai suatu budaya dari luar negeri yang berkembang di Indonesia. Kustom kulture adalah subkultur gerakan kustomisasi kendaraan/ angkutan pribadi bermotor yaitu mobil dan sepeda motor.Batik dan kustom kulture pun mengalami persinggungan, salah satu bentuk persinggungan tersebut yakni motif batik dijadikan sumber ide untuk kostumisasi kendaraaan misalnya pada motor kustom bernama Kyai Perkoso milik Lulut Wahyudi.Perancangan ini hadir untuk mewarnai interaksi-interaksi serupa. Arahan produk sebagai rompi adalah sebuah stimulus untuk menarik atensi lebih banyak antara kustom kulture terhadap batik terutama sebagai busana. Bahan yang digunakan adalah baby canvas. Desain panel pola diterapkan sebagai teknis penyusunan motif untuk mendukung karakteristik pinstripe. Kata Kunci : pinstripe, kustom kulture, batik, rompi lady bikers  ABSTRACTPutri Rahmawati. C0914034. 2019. Pinstripe Art as an Inspiration in Making Batik Pattern for Lady Bikers Vest.The design is carried out as a reaction to the social phenomenon that occurs in society. The phenomenon of kustomkulture existence as a subcultures that roots from abroad and its interaction with batik. Kustomkulture is a subcultures which is refers to customization of private motorized vehicle. The dynamic of its movement in Indonesia has recognized by the government as a product of creative industry sector.Kustomkulture community has interaction experienced on batik. Batik as a pattern has been seen as one of their ideas for customizing a motorcycle named Kyai Perkoso by LulutWahyudi.The design is presented to colourize similar interactions between batik and kustomkulture. By taking a form of vest, the product is a expected to become a stimulant in attracting more attention of people to kustomkulture towards batik as a fashion. Baby canvas fabric is used. Panel pattern design also used for support pinstripe characteristics. Keywords : pinstripe, kustom kulture, batik, lady bikers vest

Page 1 of 1 | Total Record : 6