cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)" : 10 Documents clear
KEUNGGULAN SUB SEKTOR PERIKANAN DAN PARIWISATA BAHARI DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH PULAU-PULAU KECIL Mira Mira
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2312.884 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5668

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana kinerja sub sektor perikanan dan sub sektor pariwisata bahari di wilayah yang karakteristiknya pulau-pulau kecil seperti di Kepulauan Seribu. Kinerja tersebut meliputi apakah sub sektor pariwisata bahari dan perikanan menjadi sektor unggulan/terbelakang/potensial/berkembang, apakah dua sub sektor tersebut menjadi sub sektor yang prospektif dan sub sektor yang memiliki keunggulan komparatif. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2011 di Kepulauan Seribu. Metode analisis pergeseran struktur perekonomian digunakan dalam penelitian ini.  Hasil analisis pada komponen pertumbuhan pangsa wilayah, hanya sub sektor perikanan yang memiliki  keunggulan komparatif yang berarti bahwa hanya sub sektor ini yang mampu bersaing. Pada sektor wisata bahari, pertambangan dan penggalian, industri, transportasi dan komunikasi, dan kontruksi di Kepulauan Seribu tidak memiliki keunggulan komparatif, karena masih banyaknya komponen input yang diimpor dari sektor tersebut. Selanjutnya, hasil analisis profil pertumbuhan mengindikasikan bahwa hanya sub sektor perikanan yang masuk pada kuadran pertama yang artinya sektor-sektor unggulan pada wilayah Kepulauan Seribu. Sektor pariwisata bahari dari hasil analisis profil pertumbuhan termasuk pada kuadran ketiga, dimana merupakan sub sektor yang potensial yang dikembangkan di Kepulauan Seribu. Kategori sektor potensial mengandung pengertian bahwa sektor tersebut relatif lambat pertumbuhannya, oleh karena itu masih diperlukan dorongan dari pemerintah agar`dapat menjadi sektor unggulan. Dorongan tersebut dapat berupa kebijakan dari pemerintah dan penguatan penguasaan teknologi tepat guna.Title: Performance of Fisheries and Tourism Sub Sectors in Economic Structure of Small Islands AreaThe purpose of this study was to analyze how the performance of fisheries and marine tourism sub sectors in the area characterised by small islands as in the Seribu Islands. The particular performances were included whether the marine tourism and fisheries sub sectors into leading sectors / backward/ potential / developing, whether the two sub-sectors into sub-sectors prospective and sub-sectors comparative advantages. The research was conducted in 2011 in the Seribu Islands. A shift classic  analysis method was used in this study. Results of the region share growth component analysis showed that only the fisheries sub-sector has a comparative advantage, which means the only sub-sector to compete. In the marine tourism subsector, mining and quarrying, industry, transport and communications, and construction in the Seribu Island do not have a comparative advantage, because there are many imported components inputs from that particular sectors. From the growth profile analysis results indicate that only the fisheries sub-sector was in the first quadrant, indicating that this sector was considered a superior sector in the region. Meanwhile, marine tourism sub sector was in the third quadrant, indicating that this sector was considered a potential sector to be developed in this region. In terms of growth the potential sectors indicated a relatively low growth in the region; therefore, government should push this particular sector to be a superior sector. Value added of superior sector should be improved through strengthening the locally appropriated technology.
KAJIAN SOSIAL EKONOMI PELELANGAN BANDENG DI KABUPATEN PANGKAJENE KEPULAUAN Riesti Triyanti; Hikmah Hikmah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.624 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5674

Abstract

Pelelangan bandeng di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) dilakukan oleh beberapa pihak diantaranya pembudidaya, pungawa, pacatto, pagandeng, dan penagih retribusi dengan aturan main yang telah disepakati. Bandeng hasil pelelangan dipasarkan ke  beberapa kabupaten di sekitar Pangkajene dan Kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pelelangan bandeng dan rantai pemasaran bandeng, serta menganalisis kinerja pemasaran bandeng. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap pelaku usaha perikanan. Analisis data  menggunakan metode statistik deskriptif dan cost-margin analysis. Hasil analisis menunjukkan rantai pemasaran bandeng di pelelangan terdiri dari 2 rantai diantaranya Pembudidaya-Pungawa-PacattoKonsumen (R1) dan Pembudidaya-Pungawa-Pacatto-Pagandeng-Konsumen (R2). Rantai pemasaran R1 memiliki nilai biaya pemasaran lebih kecil, keuntungan lebih besar, margin pemasaran lebih kecil, farmer’s share lebih besar dan memiliki nilai indeks efisiensi lebih kecil dibandingkan rantai pemasaran  R2. Realisasi penerimaan retribusi pelelangan bandeng di Pangkep terhadap target hampir tercapai  sedangkan terhadap Pendapatan Asli  Daerah (PAD) sangat kecil (< 1 %). Peningkatan pendapatan perkapita masyarakat di Kabupaten Pangkep khususnya pembudidaya bandeng dapat dilakukan dengan pembentukan kelembagaan pelelangan, penambahan fasilitas pelelangan, dan peningkatan koordinasi serta pengawasan data maupun jumlah retribusi pelelangan antara Dinas Kelautan dan Perikanan  dan Dinas Pendapatan Daerah. Title: Social and Economic Study of Milkfish Auction in the  Pangkajene Kepulauan DistrictThe milkfish auctions in Pangkep District have been being practicy by several parties including farmers, pungawa, pacatto, pagandeng, and levy collectors with agreed rules. Milkfish from the auction were marketed to several districts near by the Pangkep district. This study aimed to identify the characteristics of the milkfish auction, milkfish marketing chain, and analyze the performance ofmilkfish marketing efficiency. Data collected using indept interview techniques to fish farm respondents. Data were analyzed using descriptive statistical methods and cost-margin analysis. Results showed that milkfish marketing chain in auction consists of 2 chains including fish farmers-Pungawa-Pacatto Consumer (R1) and Fish farmers-Pungawa-Pacatto-Pagandeng-Consumer (R2). Marketing chain R1 has lower marketing costs, greater profits, lower marketing margins, larger farmer’s share and has a efficiency index value is smaller than R2 marketing chain. Levy revenue realization milkfish auctions in Pangkep against almost achieved the target while contributing to the auction levy revenue (PAD) is very small (<1%). Increased incomes in particular Pangkep milkfish farmers can do with the establishment of the institutional tender, the addition of auction facilities, and improved coordination and monitoring of data and the amount of levy auction between the Local Autority in Marine and Fisheries Sector and Local Autority in Revenue.
TINJAUAN DIMENSI EKONOMI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BUDIDAYA LAUT DI TELUK SALEH KABUPATEN SUMBAWA Muhammad Marzuki; I Wayan Nurjaya; Ari Purbayanto; Sugeng Budiharso; Eddi Supriyono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2098.568 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5670

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status keberlanjutan pada dimensi ekonomi dan memberikan rekomendasi kebijakan pengelolaan budidaya di Teluk Saleh Kabupaten Sumbawa. Analisis keberlanjutan budidaya laut untuk komoditi rumput laut dan ikan kerapu sistem KJA dilakukan dengan metode Rap-Insus-Seaweed (Rapid Appraisal –Indeks Sustainability of Seaweed) dan Rap-Insus-Grouper (Rapid Appraisal –Indeks Sustainability of Grouper) telah dimodifikasi dari program RAPFISH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi budidaya rumput laut sebesar “39,74” dan untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA sebesar “31,23”. Nilai tersebut terletak antara 25,00 - 49,9 berarti “Kurang Berkelanjutan”. Nilai indeks dan status keberlanjutan saat ini menunjukkan kondisi ekonomi wilayah perairan tersebut kurang mendukung pengelolaan budidaya laut, sehingga diperlukan intervensi kebijakan melalui pemberian bantuan mudal usaha, pelatihan teknis budidaya dan pengolahan, dan peningkatan kapasitas kelembagaan pemasaran untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan dimensi ekonomi.Title: Sustainability Analysis of Mariculture Management in Saleh Bay of Sumbawa DistrictThis study aimed at determiny value of the index and the sustainability status in terms of economic dimension and provide recommendations for policies on marine aquaculture management in the Saleh Bay. Rap-Insus-Seaweed (Rapid Appraisal of Sustainability-Index Seaweed) and Rap-Insus-Grouper (Rapid Appraisal of Sustainability-Index Grouper) modified from Rapfish program were use in this study. Results showed that the index level of sustainability in terms of economic dimension were “39.74” and “31.23” for seaweed grouper  espectively. This value laid between 25.00 and 49.9 indicating that both management status were “Less Sustainable”. These values indicate that the economic conditions of that particular site was not support sustainable management of the marine aquaculture. Hence, government policing intervention through increased capital, technical training in aquaculture and processing as well as improvement in market institution are required.
MODAL SOSIAL KELOMPOK NELAYAN DI WADUK GAJAH MUNGKUR (Studi Kasus Kelompok Mina Tirta, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri) Rizky Muhartono; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.437 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5675

Abstract

Modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal, seperti rasa saling percaya, saling pengertian, kesamaan nilai dan perilaku, yang membentuk struktur masyarakat dan menjadi perekat antar anggota kelompok yang berguna untuk koordinasi dan kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Makalah ini mengulas modal sosial yang terbentuk pada kelompok nelayan di perairan waduk Gajah Mungkur, khususnya di Kecamatan Wuryantoro, kabupaten Wonogiri. Metoda studi kasus dengan menggunakan data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data primer dilakukan pada bulan Juni 2012-Januari 2013 dengan melakukan wawancara mendalam pada informan kunci yang terdiri dari unsur nelayan, koperasi, pengurus kelompok dan dinas. Data sekunder diperoleh dari laporan tahunan, statistik perikanan serta referensi sesuai dengan topik kajian. Analisa deskriptif kualitatif digunakan untuk menjelaskan modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwakelompok Mina Tirta memiliki modal sosial yang baik dari unsur pengikat (bonding), penghubung (bridging), dan pengkait (linking). Modal sosial yang baik dalam kelompok nelayan dapat mendukung pengelolaan perikanan Waduk yang lestari. Title: Social Capital of Fisher’s Group at the Gajah Mungkur Reservoir (Case Study at Tirta Mina Group, Sub District Wuryantoro, Wonogiri District)Social capital is a set of values or informal norms, such as mutual trust, mutual understanding, in common values and behaviors , which form the structure of society and be the glue between group members that are useful for coordination and cooperation in achieving a common goal. The paper reviews the social capital formed in groups of fisher in Gajah Mungkur reservoir, in Wuryantoro Sub district, Wonogiri district. Primary and secondary data were used in this study. Primary data were collected in June 2012- January 2013 by conducting in-depth interviews to key informants, which consist of fisher, koperasi, groups of administrators and officials of fisheries agencies. Secondary data were obtained from annual reports, fisheries statistics and references according to the study topic. Qualitative descriptive analysis is used to explain social capital. The results showed that the Mina Tirta group have good social capital of elements- bonding, connecting/ bridging, and linking. Good social capital in the fisher’s group can support the sustainable management of reservoir fisheries.
TENDENSI PROSES KONVERGENSI DAN PENENTU PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH PULAU UTAMA DI INDONESIA, 1985-2010 Tajerin Tajerin; Akhmad Fauzi; Bambang Juanda; Luky Adrianto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.911 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5671

Abstract

Ketimpangan ekonomi antar wilayah pulau utama di Indonesia merupakan sesuatu yang secara alamiah akan terjadi. Hal ini karena, sebagai negara  epulauan, Indonesia memiliki enam wilayah pulau utama dengan karakteristik yang berbeda, yang tentunya akan menyebabkan pola pembangunan dan tingkat kemampuan tumbuh yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan: (1) Menganalisis tendensi proses konvergensi ekonomi antar wilayah pulau utama, dan; (2) Menduga faktor penentu pertumbuhan ekonomi wilayah pulau utama dan konrtibusinya terhadap tendensi konvergensi. Penelitian dilakukan menggunakan unit analisis wilayah pulau utama dan data sekunder periode 1985-2010 yang dianalisis dengan pendekatan ekonometrika model data panel. Hasil penelitian mununjukkan bahwa tendensi proses konvergensi ekonomi wilayah pulau utama di Indonesia selama periode analisis telah terjadi namun berlangsung lambat dengan kecepatan konvergensi ekonomi sebesar 3,22-8,50% per tahun (secara kondisional). Berdasarkan model fixed-effect, peubah modal fisik dan modal manusia berpengaruh positif terhadap tingkat pertumbuhan PDRB per kapita kondisi mapan. Sementara peubah resultan dari pertumbuhan penduduk dan penyusutan modal berpengaruh negatif terhadap tingkat pertumbuhan PDRB per kapita kondisi mapan. Dengan mengontrol peubah-peubah penentu pertumbuhan ekonomi, mampu mendorong kecepatan tendensi proses konvergensi meningkat sebesar 1,56-4,75% per tahun dengan half-life time 10,34-31,76 tahun. Hal ini berarti bahwa untuk mempercepat konvergensi ekonomi antar wilayah utama Indonesia dibutuhkan peningkatan modal fisik dan modal manusia yang terdistribusi secara lebih merata, dan diikuti pengendalian pertumbuhan penduduk dan penyusutan modal. Mengingat bahwa wilayah pulau utama di Indonesia memiliki sumberdaya kelautan yang besar, maka kebijakan untuk mempercepat konvergensi tersebut perlu diimplementasikan dengan mempertimbangkan peran kelautan yang disinergikan dengan upaya meningkatkan interrelasi (konektivitas) sektoral dan spasial antar wilayah di Indonesia. Title: Tendency of Convergence Process and Determinant of Economic Growth of Main Island Regions in Indonesia, 1985-2010The economic disparity among the main island regions in Indonesia is a natural occurrence. Due to the fact that, as an archipelago, Indonesia is consisted of six main island regions, each with its own indigenous characteristic, thus generating different development patterns and different developing abilities. Therefore, a research has been done to: (1) Analyze the tendency of economic convergenceprocess among the main island regions; and (2) Estimate the determinant factors of economic growth within the main island regions, as well as their contributions toward the convergence tendency. The research was conducted with the main island regions as the analysis unit, and secondary data covering a 25 years period, spanning from 1985 to 2010. The data acquired were analyzed using a data panel  econometric model. The analysis resulted in a finding that there has been a convergence tendency among the main island regions in Indonesia during the period analyzed. The economic convergence rate found was considered low with an estimated rateper annum of 3,22%-8,5% (Conditionally). Based  on the fixed effect model, both physical and human capitals were the variables which positively affecting the growth of the steady state per capita Regional Gross Domestic Product. While population growth and capital depreciation were the variables which negatively affecting the growth of the steady state per capita Regional Gross Domestic Product. The simulation done using the model developed showed that by controling the previously mentioned economic growth determinant factors, it was possible to induce faster convergence process tendency per annum rate to 1,56%-4,75%, with reduced half-life time to 10,24-31,76 years. Therefore, a faster regional economic convergence would require more physical and human capital to be distributed evenly among the main island regions, while constraining population growth and capital depreciation. Considering that each main island region owns a relatively abundant marine resource, therefore the convergence rate inducing policy should be implemented by pushing the role of marine sectors, while strengthening the sectoral and spatial connectivity among regions in Indonesia.
DINAMIKA PENDAPATAN PENDUDUK DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR Ngadi Ngadi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.4 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5666

Abstract

Paper ini ditujukan untuk membahas dinamika pendapatan penduduk di wilayah pesisir Kabupaten Kepulauan Selayar. Penelitian dilakukan di dua desa kawasan pesisir yaitu desa Buki dan Bungaiya. Data yang digunakan untuk analisis adalah data survai sosial ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Kepulauan Selayar yang dilakukan pada tiga titik waktu yaitu : tahun 2006, 2008dan 2011. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik survai, wawancara terbuka dan penelusuran data sekunder. Responden untuk survai pada tiga titik waktu tersebut adalah responden yang sama,  kecuali jika responden tersebut telah meninggal dunia atau bermigrasi ke daerah lain maka digantikan dengan anggota keluarga atau tetangga terdekat. Analisis data dilakukan dengan analisis diskriptif baik dengan tabel sederhana, tabel silang antar variabel dan diagram/grafik. Hasil analisis menunjukkan terjadi peningkatan pendapatan rumah tangga mulai dari tahun 2006-2011 yaitu sebesar 5,99 persen per tahun. Pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan bersifat fluktuatif karena dipengaruhi oleh kondisi gelombang. Pada waktu musim gelombang kuat, sebagian besar nelayan tidak melaut sehingga tidak memperoleh pendapatan dari perikanan. Pada waktu musim gelombang lemah, hampir seluruh nelayan dapat melaut. Hasil tangkapan ikan sangat besar, tetapi harga jualnya murah.Title: A Dynamic Income of Population in The Coastal Area of The Selayar Islands DistrictThis paper aimed to discuss dynamic income of population in the coastal area of the Selayar Islands District. The study was conducted in two coastal villages, i.e., Bungaiya and Buki. Data were collected through a socio-economic survey in coastal communities conducted at three time points from 2006, 2008 and 2011. Respondents to the survey at three time points were the same respondents, unless respondents have either died or move to other areas then it replaced by a family member or neighbour nearby. Data analysis was done descriptively in terms of a simple table, cross table between variables and charts/graphs. Results showed that an increase in household income from the year 2006-2011 was accounted to 5.99 percent/ year. Household income from fishing activity was influenced by season dynamics. At the strong waves season, most of fishers do not go fishing so that they do not have an income from fishing activities. At the weak waves season, most of fishers go fishing. At this season, fisher’s fish caught was a huge, but it‘s price was low.
LUBUK LARANGAN: BENTUK PERILAKU EKOLOGIS MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN PERAIRAN UMUM DARATAN (TIPOLOGI SUNGAI) Nendah Kurniasari; Maharani Yulisti; Christina Yuliaty
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.957 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5676

Abstract

Perilaku ekologis masyarakat di sekitar sungai merupakan sebuah modal mendasar bagi keberlangsungan sumberdaya ikan di kawasan sungai tersebut. Oleh karenanya, makalah ini bertujuan untuk menganalisis perilaku ekologis masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumberdaya sungai. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 pada masyarakat Nagari Manggilang Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat yang menetap di daetah aliran sungai Batang Talagiri dan Batang Manggilang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang menginterpretasikan secara logic hubungan antara faktor-faktor pendorong, implementasi serta implikasi perilaku ekologis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku ekologis masyarakat Nagari Manggilang dalam memperlakukan sungai didukung oleh beberapa hal yaitu kondisi geografis, pola kepemimpinan, hukum adat, dan sistem mata pencaharian masyarat. Keempat unsur ini turut andil dalam melestarikan perilaku ekologis tersebut. Perilaku ekologis masyakat Manggilang yang terwujud dalam lubuk larangan tidak hanya berimplikasi terhadap perilaku ekologi masyarakat secara kolektif, juga merubah perilaku sosial ekonomi masyarakat ke arah yang lebih produktif dan memiliki nilai moral yang tinggi. Title: Lubuk Larangan: Form of Ecological Behavior of Local Community in The Inland Fisheries Resource Management (River Tipology)Ecological behavior is a potential capital of sustainable resources. This paper aims to study the ecological behavior of local communities in the use of river resources. This study was conducted in 2012 at Nagari Manggilang, Pangkalan Koto Baru, Lima Puluh Kota District, West Sumatera with the objects are the community who settled in the watershed of the Batang Talagiri river and Batang Manggilang river. Data analysed by using descriptive qualitative that interpreted logically the relation among the supportive factors, implementation factors, and the implication of the ecological behavior. The results  showed that the ecological behavior of Nagari Manggilang’ residents in treating the river suppoerted by several elements: geography, leadership patterns, customary laws, and livelihood systems. All of these elements contributed to preserve the ecological behavior. This ecological behavior at Nagari Manggilang’ residents that materialized as “Lubuk Larangan” was not only implicated to the ecological behavior of the society, but also changed the social behavior as well as economic behavior towards a more productive society and higher morale values
PELUANG EKSPOR PRODUK PERIKANAN INDONESIA DI PASAR EFTA Aziza Rahmaniar Salam; Immanuel Lingga
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.454 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5672

Abstract

Indonesia-European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) dibentuk dengan tujuan agar terjadi peningkatan akses ekspor ke pasar EFTA  dan peningkatan investasi EFTA di Indonesia. Paper ini bertujuan untuk mengetahui peluang ekspor produk perikanan Indonesia di pasar EFTA dalam rangka kerjasama perdagangan IE-CEPA. Melalui metode indicative potential trade, diperoleh hasil bahwa untuk produk fish and marine product, dari 130 pos tarif HS 6 digit dalam (kelompok produk udang kecil dan udang biasa, produk filet ikan beku untuk jenis ikan selain Swordfish dan Toothfish, Pasta Udang, Tuna olahan, produk ikan segar termasuk cumi segar), terdapat 20 pos tarif yang sangat berpotensi untuk masuk ke pasar EFTA. Namun terdapat hambatan yaitu masih adanya tarif bea masuk yang masih tinggi di negara anggota EFTA untuk 20 pos tarif produk perikanan tersebut. Hambatan non tarif terkait dengan kepentingan pemerintah negara anggota EFTA untuk melindungi rakyatnya dari kemungkinan masuknya makanan-makanan yang tercemar dan dapat membahayakan kesehatan selain juga memproteksi industri dalam negerinya. Kendala yang sering dihadapi atas ekspor produk ikan Indonesia adalah tingginya kandungan logam berat (Timbal, Kadmium dan Nikel) pada produk ikan yang diekspor. Dalam kerjasama bilateral Indonesia dan EFTA, Indonesia harus dapat memperjuangkan penurunan/penghapusan hambatan tarif maupun non tarif di pasar EFTA dan pemerintah harus mendorong pelaku usaha untuk mulai melakukan penetrasi pasar ke EFTA dan diversifikasi produknya khususnya untuk ikan dan produk perikanan.Title: Indonesia Fishery Product’s Export Opportunities in the EFTA MarketIndonesia-European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA) was formed with the aim to increase market access to EFTA and support EFTA’s investment in Indonesia. This paper aims to determine Indonesian fishery product export opportunities in EFTA markets in the framework of the IE-CEPA. With indicative potential trade method, showed for fish products and marine products, from 130 tariff lines in the HS 6 digit (shrimps and prawns, frozen fish fillet products for fish species other than Swordfish and Toothfish, Shrimp Pasta, processed tuna, fresh fish products including fresh calamari), there are 20 tariff are potential to enter the EFTA market. However, there are still barriers where tariffs are still high in EFTA member states for 20 tariff lines of fishery products, and non-tariff barriers related to the interests of EFTA member governments to protect people from the possible entry of contaminated foods and can be dangerous health as well as protecting domestic industries. Obstacles often were faced by Indonesia on export of fish products are the high content of heavy metals such as Lead, Cadmium and Nickel on exported fish products. In the bilateral cooperation between Indonesia and EFTA, Indonesia should be able to fight for reduction / elimination of tariff and non-tariff barriers in the market EFTA and the government should encourage businesses to begin to penetrate the EFTA market and the diversification of its product especially for fish and marine product.
ANALISIS PERANAN SEKTOR PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM MINAPOLITAN DI PROVINSI GORONTALO: MODEL INPUT-OUTPUT Taslim Arifin; Siti Hajar Suryawati
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.406 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5667

Abstract

Integrasi ekonomi yang menyeluruh dan berkesinambungan di antar semua sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi. Data sekunder berupa tabel inputoutput Propinsi Gorontalo tahun 2011digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis peran sektor perikanan dan keterkaitan kedepan serta kebelakang (forward and backward linkage) dalam perekonomian wilayah; dan (2) Mengetahui indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan pada kegiatan sektor perikanan. Metode analisis deskriptif, analisis keterkaitan, dan analisis daya penyebaran serta derajat kepekaan digunakan dalam penelitian ini. Hasil kajian menggambarkan bahwa sektor perikanan budidaya penyebarannya hampir merata, dengan jumlah permintaan seluruhnya mencapai Rp. 0,373 trilyun. Dari sisi penawaran menunjukkan bahwa wilayah pesisir Provinsi Gorontalo mampu berperan menyediakan produksi perikanan sebesar Rp. 0,280 trilyun (75,03%) dari seluruh penawaran/penyediaan produk, kekurangannya yakni sebesar Rp. 36.061 juta (9,65%) harus dipasok dari luar Provinsi Gorontalo. Permintaan akhir sektor perikanan paling banyak digunakan untuk konsumsi rumahtangga dan ekspor yaitu masing-masing sebesar 58,49%, dan 5,95%. Kontribusi sektor perikanan memberikan nilai input primer yang relatif kecil, yaitu sebesar Rp. 0,280 trilyun (6,61%) di bawah rata-rata per sektor Rp. 0,424 trilyun. Sektor perikanan dapat dikategorikan efisien (tingkat efisiensi 75,03%), paling efisien dibandingkan semua sektor maupun rata-rata totalefisiensi sektor kegiatan di Provinsi Gorontalo yang besarnya 53,66%. Koefisien keterkaitan langsung kebelakang sektor perikanan budidaya adalah 0,153159, nilai keterkaitan langsung ke depan adalah 0,107750, sedangkan nilai indeks daya penyebaran sebesar 0,8742 dan nilai indeks derajat kepekaan sebesar 0,8249. Melalui pengembangan sentra perikanan terpadu, keterkaitan antar sektor dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut dapat dilaksanakan melalui program “Minapolitan Berbasis Perikanan Budidaya”.Title: Analysis of Fisheries Sector’s Role in Supporting Minapolitan Program in Gorontalo Province: Input-Output ModelComprehensive economic integration and sustainable between production sectors is one key to successful economic development. Secondary data which used in this research were 2011 Gorontalo Province Input-Output Table Model. This research aimed to: (1) analyze the role of fisheries sector and forward and backward linkage in the economic region; and (2) knowing the distribution index and the degree of sensitivity index of fisheries sector activity in Gorontalo Province. Methods of descriptive analysis, linkage analysis, and analysis of power distribution and the degree of sensitivity used in this research. The results showed that the aquaculture sector is almost evenly spread, with the number of requests totaled Rp. 0.373 trillion. From the supply side shows that the area of the coastal province  of Gorontalo able role in providing fisheries production amounted to Rp. 0.280 trillion (75.03%) of the  entire supply / provision of products, shortcomings which amounted to Rp. 36,061 million (9.65%) to be supplied from outside the province of Gorontalo. Fisheries sector final demand mostly used for domestic  consumption and exports are respectively 58.49% and 5.95%. The contribution of the fisheries provide the primary input values are relatively small, amounting to Rp. 0.280 trillion (6.61%) below the average per sector Rp. 0.424 trillion. The fisheries sector can be categorized as efficient with an efficiency of 75.03%, the most efficient compared to all sectors and the average total efficiency of the sector of activity in Gorontalo Province which amount 53.66%. The coefficient of linkage directly to the back of aquaculture sector is 0.153159, the value of direct relevance to the future is 0.107750, while the index value of 0.8742 and the power spread degree of sensitivity index values of 0.8249. Connectivity between sectors can be exploited optimally and sustainable by program which called “Minapolitan Based on Aquaculture Fisheries”.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN AREAL PERLINDUNGAN LAUT – BERBASIS MASYARAKAT DI KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Erwiantono Erwiantono; Siti Amanah; Pang S. Asngari; Rilus A. Kinseng
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.334 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5673

Abstract

Pada dua dekade terakhir, kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu telah menunjukkan degradasi yang mengkawatirkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mulai tahun 2004 Pemda Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu bersama masyarakat menerapkan program Areal Perlindungan Laut–Berbasis Masyarakat (APL–BM) di lima kelurahan. Tujuan penelitian  adalah : (1) menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan APL–BM, dan; (2) menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat. Pengumpulan data dilakukan selama periode Juni 2011–Mei 2012 dengan menggunakan kuesioner, pengamatan dan kajian pustaka. Populasi pada penelitian ini adalah individu pemanfaat utama sumberdaya alam berbasis ekosistem terumbu karang secara langsung. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah acak berproporsi sehingga terpilih 202 responden. Data dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptifdan inferensia dengan model persamaan struktural (SEM). Hasil penelitian menunjukkan : (1) tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan APL–BM pada keseluruhan tahapan kegiatan adalah rendah dan (2) faktor – faktor yang berpengaruh terhadap tingkat partisipasi masyarakat adalah kemampuan organisasi dan motivasi masyarakat. Kedua faktor tersebut dipengaruhi oleh indikator pendekatan komunikasi, kesesuaian konsepsi program dan intensitas peran penyuluhan. Title: Community’s Participation in Managing Community Based – Marine Protected Area in Kepulauan Seribu District, DKI JakartaIn the last two decades, the coral reef ecosystem in Kepulauan Seribu has shown a significant degradation. Considered this, in 2004 the government of Kepulauan Seribu District initiated collaborative program in five villages and the program called as community based–marine protected area. The researchobjectives were: (1) to analyze community’s participation level in managing marine protected area in Kepulauan Seribu District and (2) to analyze the determinant factors that influence the community’s participation. The data were collected from June 2011 – May 2012 by using questionnare, observation and reviewing existing documents. Units of analizing were 202 respondents of primary stakeholders that utilize fisheries–marine resources directly. The data were analyzed using descriptive and inferential statistics based on structural equation modelling (SEM). The conclusions of the study are: (1) the levelof community’s participation in managing marine protected is low and (2) this condition is influenced by community organisation’s ability and community’s motivation. Community organisation’s ability and motivation are in low level. The factors which influence community organisation’s’ ability and community’s motivation are communication approaches, the compatibility of program conception and intensity of extention agents roles.

Page 1 of 1 | Total Record : 10