cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)" : 10 Documents clear
RESILIENSI KOMUNITAS DALAM MERESPON PERUBAHAN IKLIM MELALUI STRATEGI NAFKAH (Studi Kasus Desa Nelayan di Pulau Ambon Maluku) Subair Subair; Lala M. Kolopaking; Soeryo Adiwibowo; M. Bambang Pranowo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.115 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1186

Abstract

ABSTRAKStudi ini dilakukan dengan dua tujuan:(1)mengidentifikasi dan menganalisis pemanfaatan modalmodal dalam praktek strategi nafkah nelayan, dan (2) menganalisis dan menilai resiliensi komunitas nelayan dalam merespon perubahan iklim. Penelitian dilakukan pada komunitas nelayan perikanan tangkap di desa Asilulu, Pulau Ambon Maluku. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan berperan serta, focus group discussion, wawancara mendalam dan didukung oleh studi pustaka. Analisisdata menggunakan metode analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat nelayan di Asilulu Pulau Ambon Maluku sudah mengoptimalkan penggunaan modal (modal alami,modal fisik, modal manusia, modal keuangan dan modal sosial) dan aktivitas (ditengahi oleh hubungan sosial dan institusi) dalam membangun sistem nafkah yang diperlukan untuk hidup. Mereka juga telah memodifikasi modal-modal tersebut untuk mereduksi kerentanan dan meningkatkan resiliensi sosialnya. Hasilnya, sistem nafkah yang ada pada satu konteks kekinian, berkelanjutan dan oleh karenanya resilien tetapi dalam konteks ancaman dampak perubahan iklim, resiliensi yang ada adalah resiliensi yang terbatas (limited resilience). Pada skenario iklim yang sangat ekstrim, resiliensi yang berdasar kepada sistem nafkah yang tertekan terus menerus dan masih bergantung kepada sumber daya alam rapuh danmemiliki ambang batas.
KAJIAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR BERBASIS PENGELOLAAN BERKELANJUTAN PADA BUDIDAYA BANDENG DI PESISIR KABUPATEN KARAWANG Dicky Rachmanzah; Bambang Widigdo; Yusli Wardiatno
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.144 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menilai kesesuaian pelaksanaan dan capaian tujuan program penberdayaan melalui penilaian Indeks Pelaksanaan Program dan Indeks Pencapaian Tujuan;  (2) mengidentifikasi  pengaruh  variabel  pelaksanaan  sebagaimana  disebutkan  dalam  pedoman pemberdayaan terhadap tujuan program pemberdayaan dalam dimensi ekologis, ekonomi, dan  sosial, serta; (3) merumuskan strategi perbaikan yang perlu dilakukan sehingga pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pesisir dapat terlaksana dan berlanjut secara efektif. Metode penelitian  yang digunakan adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Indeks Pelaksanaan Program adalah sebesar 2,39 dengan kategori ‘Baik’. Indikator yang memerlukan upaya perbaikan  yaitu indikator ketepatan waktu penyaluran bantuan; (2) Indeks Pencapaian Tujuan sebesar 2,11 dengan kategori Cukup. Indikator capaian tujuan peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan kelembagaan kelompok memerlukan upaya perbaikan guna pencapaian kategori yang lebih baik; (3) Terhadap pencapaian tujuan dalam dimensi ekonomi berupa peningkatan produksi budidaya, variabel ketepatan waktu penyaluran, kecukupan jumlah bantuan, dan aktivitas pendampingan berpengaruh positif, sedangkan variabel kejadian kekeringan berpengaruh negatif; (4) Untuk pencapaian tujuan dalam  dimensi  sosial,  hanya  variabel  aktivitas  pendampingan  yang  berpengaruh  signifikan  terhadap peningkatan kelembagaan kelompok, dan; (5) Keseluruhan variabel pelaksanaan tidak berpengaruh terhadap capaian tujuan dalam dimensi ekologis berupa peningkatan kualitas lingkungan. Dengan memperhatikan hasil analisis, beberapa opsi kebijakan yang perlu dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu: (1) penyesuaian waktu penyaluran bantuan dengan musim tanam untuk meningkatkan efektifitas capaian tujuan dalam dimensi ekonomi; (2) peningkatan dukungan terhadap aktivitas pendampingan oleh tenaga penyuluh, untuk meningkatkan capaian tujuan dalam dimensi sosial, dan; (3) peningkatkan capaian tujuan dalam dimensi ekologis, berupa peningkatan kualitas lingkungan melalui pemberian intensif bagi pembudidaya yang memiliki sertifikat cara budidaya ikan yang baik (CBIB)(Title: Implementation Study of The Coastal Communities Empowerment Program Based on Sustainable Management of Milkfish Cultured In The Coastal Regency of Karawang)This study aimed to: (1) assess the suitability of the empowerment program implementation and  goals through the introduction of programs implementation Indexes and achievement of goals indexes;  (2) identify influences of enforcement variable mentioned in empowerment guidelines against goals of empowerment programs, the objectives in the form of economic, social, and ecology dimensions, and; (3) formulate strategy that needs to be done so the program can continue and be implemented effectively  in achieving its goal. Survey was used as the research method. The result of studies have shown that:  (1) Program Implementation Index that states performance level of coastal community empowerment program is worth 2.39 with the Good category. Performance indicators that require improvement efforts in order to achieve a better category , i.e. punctuality indicators of aid distribution; (2) Achievement Index that states the level of achievement goals of empowerment program is worth 2.11 with moderate 14 categories. The whole purpose of indicators that include increased production, increased institutional  farmer group, and improving the quality of the environment in the category of quite and require attention  and improvement efforts in order to achieve a better category; (3) against the objectives in the form of economic, variable aid delivery timeliness,adequacy of the amount of aid, and mentoring activity has a positive effect, while the incidence of drought has negative impact; (4) against the objectives in the form of social, only mentoring activities has a positive effect, and; (5) all of implementation variable hasn’t  effect against the objectives in the form of ecology. By considering the results of the analysis, some policy options that need to be done by Ministry of Marine Affairs and Fisheries are: 1) timing adjustment aid to the fish cultivation to increase the effectiveness of objectives in the form of economic; (2) Improved support for mentoring activities, to increase the objectives in the form of social; (3) and improvement of objectives in the form of ecology objectives through the rovision of intensive to the farmers who are  certified best aquaculture practiced
ANALISIS KEBERLANJUTAN LILIFUK: TINJAUAN PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL Maharani Yulisti; Nendah Kurniasari; Christina Yuliaty
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.605 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1187

Abstract

ABSTRAKPeran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan dalam bentuk kearifan lokal merupakan wujud tanggung jawab mereka dalam melestarikan sumber daya sehingga dapat memberikanmanfaat berkelanjutan.Kearifan lokal tersebut bernama Lilifuk, yaitu kawasan di laut berbentuk kolam yang tergenang saat surut sehingga ikan terperangkap di dalamnya.Tulisan ini mengkaji persepsimasyarakat mengenai keberlanjutan Lilifuk di Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan di Desa Bolok dan Desa Kuanheum, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang pada Oktober 2012 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode studi kasus dan triangulasi digunakan dalam penelitian ini. Wawancara mendalam dilakukan terhadaptetua adat, kepala desa, dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat.Data persepsi masyarakat dikumpulkan dari 30 responden. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis persepsi menunjukkan bahwa sebesar 93,3% masyarakat mengetahui tentang keberadaan Lilifuk, 60% tahu sejarahnya, 93,3% tahu lokasinya dan 26,7% tahu batas-batasnya. Sebanyak 44% masyarakat menyatakan otoritas pengambilan keputusan pengelolaan Lilifuk adalah pemiliknya.Keterlibatan Masyarakat dalam Lilifuk hanya sebagai pemanfaat saat Lilifuk dibuka (63%). Manfaat Lilifukdapat diidentifikasikan sebagai berikut: menambah penghasilan, menjalin hubungan sosial, rekreasi, menjaga sumber daya ikan, menjaga lingkungan dan menjaga tradisi. Faktor-faktor yang mengancam keberlanjutan Lilifuk adalahlahan yang sempit, penurunan produksi ikan, pencemaran perairan dan tidak adanya penjagaan. Prioritas utama dalam menjaga keberlanjutan Lilifuk adalah (1) Menjaga dan melindungi serta memperbaiki kelestarian lingkungan; (2) Dukungan dan pengawasan pemerintah; (3) Menerapkan aturan dan sanksi hukum; (4) Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kelestarian, dan; (5) Menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
ANALISIS PERAN KELEMBAGAAN PENYEDIA INPUT PRODUKSI DAN TENAGA KERJA DALAM USAHA TAMBAK GARAM Rizki Aprilian Wijaya; Rikrik Rahadian; Tenny Apriliani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.236 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.32

Abstract

Tulisan ini bertujuan untukmenganalisis peran kelembagaan penyediaan sarana input produksi dan tenaga kerja pada usaha tambak garam skala tradisional di Kabupaten Sumenep dan Jeneponto. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode survei melalui wawancara kepada 80 orang petambak garam dan wawancara mendalam (in-depth interview)kepada delapan orang informan kunci.Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabulasi silang. Hasil kajian menunjukan kelembagaan penyedia input produksi lebih berperan dalam penyediaan akses permodalan dan kelembagaan tenaga kerja berperan dalam proses rekruitmen tenaga kerja.(Title: Analysis of Institutional Roles in the Input Production Providers and Labours in Salt Business)The objectives of this paper is analyzing institutional role of production input and labour institution in the traditional scale of salt pond business at Sumenep and Jeneponto Regencies. This study used a qualitative method. Survey method was used to collect data by interviewing 80 respondents and compounded by an in-depth interview to eight key informants. Data analyzing used descriptive  echnique and presented in cross-tabulation. Results show that production input institution has a role in providing capital access, while labour institution has a role in labour recruitment process.
ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLA TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU Hariyani Sambali; Fredinan Yulianda; Dietriech G. Bengen; M. Mukhlis Kamal
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.031 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1188

Abstract

ABSTRAKPermasalahan kewenangan secara kelembagaan dalam pengelolaan kawasan konservasikhususnya Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) masih terus mengemuka, halini dapat berpotensi konflik kewenangan yang berdampak terhadap keberlanjutan pengelolaan. Penelitian ditujukan untuk mengetahui kelembagaan yang paling berwenang dalam pengelolaan TNKpS dan dampak penambangan karang terhadap sumber daya terumbu barang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengisian kuisioner. Analisis data menggunakan metode ISM (Interpretative Structural Modelling) dan data lapangan menggunakan metode Line Intercept Transects (LIT). Hasil penelitian menunjukkan Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Daerah adalah kelembagaan yang mempunyai pengaruh kuat terhadap keberlangsungan pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Agar pengelolaan sumber daya Taman Nasional Kepulauan Seribu dapat berkelanjutan, makaelemen Tujuan Program yang dapat dirujuk sebagai kebijakan pengelolaan bersama kedua kelembagaan tersebut adalah Kelestarian Sumber daya Taman Nasional.
PENGEMBANGAN SEKTOR PEMASARAN SEBAGAI DUKUNGAN TERHADAP PROGRAM INDUSTRIALISASI PERIKANAN (Studi Kasus: Komoditas Nila di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan) Hertria Maharani; Rani Hafsaridewi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.279 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.33

Abstract

Industrialisasi perikanan yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bertujuan untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan yang berdaya saing tinggi. Peningkatan produksi yang tanpa disertai oleh upaya meningkatkan pemasaran akan berdampak pada kurang berhasilnya program tersebut. Penelitian ini mengkaji usaha budidaya, pasar, saluran pemasaran dan perdagangan ikan nila yang berasal dari Kabupaten Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan. Studi lapangan dilakukan pada Bulan Maret-Juni 2012. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan bantuan kuesioner dan wawancara mendalam dengan informan kunci. Responden terdiri dari pembudidaya, pengumpul, pedagang serta penentu kebijakan yang terkait dengan komoditas ikan nila. Metode analisis dilakukan secara analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan produksi budidaya ikan nila, namun pemasaran ikan terbatas pada pasar lokal. Pihak pembudidaya masih menjadi pihak price takeryang artinya tidak dapat meningkatkan posisi tawarnya. Struktur pasar pembudidaya bersifat persaingan sempurna, pada sisi lain dengan struktur pedagang bersifat oligopsoni sehingga harga di tingkat pembudidaya berada dibawah pengendalian pedagang. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani budidaya, dibutuhkan upaya menghilangkan pola patron-clientdalam pembiayaan usaha dan pengembangan jalur pemasaran baru perlu dilakukan seperti dengan mencari pelanggan untuk keperluan restoran ataupun melakukan pemasaran ikan nila hingga ke daerah lain(Title: Marketing Sector Development As A Support For Fisheries Industrialization Program (Case Study: Tilapia Fish in the Musi Rawas Regency, South Sumatera))Fisheries industrialization were announced by the Ministry of Marineand FisheriesAffairs aims to increase production, productivity and value-added of fishery products. But of course, increased production without increasing marketing efforts will makeless successful impact for the program. This research will examine aquaculture bussiness, market, marketing channel and trading of tilapia from Musi Rawas Regency, South Sumatra Province. Field studies conducted in March until June 2012 .The main instrument of this study using a survey method with questionnaires and in-depth interviews with key informants. Respondents were consist of farmers, fish collectors, traders and policy makers related tilapia. Methods of analysis conducted with descriptive analysis. Results study showed that despite an increase in production experienced by farmers, but commodities marketed limited to the local market. Fish farmer is still as price takers meaning it cannot increasing their bargaining power. The structure of farmers markets are perfectly competitive, on the other hand the structure of merchanct is oligopsonistic. So the prices at the farmers level are controlled by merchants. To improve the welfare of fish farmers, it should diminish patron client relationship and develop a new marketing channels, such as searching customer for restaurant or marketing tilapia to another region.
LUBUK LARANGAN: DINAMIKA PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN PERAIRAN SUNGAI DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Christina Yuliaty; Fatriyandi Nur Priyatna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.769 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1189

Abstract

Tulisan ini menggambarkan bagaimana masyarakat lokal memiliki pengetahuan dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan sungai. Pengetahuan ini berwujud nilai kearifan lokal, falsafah hidup, religi dan norma-norma hukum lokal yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 pada masyarakat Minang Nagari Sialang Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat yang menetap di daerah aliran sungai Batang Kapur. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan melalui pendekatan studi kasus terkait dengan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya perikanan perairan sungai secara lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lubuk larangan tidak hanya sebuah praktek pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya ikan tetapi didalamnya terdapat aturan, mekanisme distribusi hak dan organisasi adat. Sesuai dengan sifatnya yang dinamis, maka pengetahuan pengelolaan lubuk larangan pun mengalami perubahan. Nilai Islam dan politik pemerintahan menjadi pendorong terjadinya perubahan dalam pengelolaan Lubuk Larangan.
ANALISIS POLA HUBUNGAN KERJA PONGGAWA SAWI PADA USAHA PERIKANAN TERIPANG DITINJAU DARI FUNGSI EKONOMI Naharuddin Sri; Yusufi Kamlas
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.075 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.29

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis pola hubungan kerja ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang ditinjau dari fungsi ekonomitelah dilaksanakan pada Bulan April sampai Juni 2011 di Pulau Barrang Lompo, Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan mewawancarai 8 orang ponggawa dan 45 orang sawi. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Random Sampling. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis pola hubungan kerja ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang dan analisis kuantitatif untuk menganalisis pendapatan ponggawa dan sawi.Hasil penelitian menunjukkan adanya dua (2) pola hubungan kerja ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang, yaitu berdasarkan suku dan kontrak kerja. Sistem bagi hasil ponggawa sawi pada usaha perikanan teripang ada dua (2) pola. Padapola pertamaponggawa mendapat bagian 25 persen dari hasil dan 75 persen dibagikan kepada sawi; sedangkan pada pola ke duaponggawamendapat bagian 50 persen dari hasil dan 50 persen sisanya dibagikan kepada sawi. Pendapatan rata-rata per bulanponggawa pada sistem bagi hasil 25 : 75 berkisar Rp. 3.300.000 sampai Rp. 4.500.000sedangkan sawiberkisar Rp. 750.000 sampai Rp. 1.375.000.Pada sistem bagi hasil 50 : 50, pendapatan ratarata per bulanponggawa berkisar Rp. 2.100.000,- sampai Rp. 2.980.000 dan sawi berkisar Rp. 480.000 sampai Rp. 1.650.000(Title: An Analysis of Work Relationship Pattern of Ponggawa Sawi in The Sea Cucumber Business In Terms of Economic Function)The study aimed to to analyze the ponggawa sawi workrelationship patternin the sea cucumberbusiness in terms of economic function was conducted April to June 2011 in Barrang Lompo Island, Makassar City. This was a case study involving 8 ponggawa and 45 sawi.Respondents were selected by purposive sampling. Qualitative analysis was used to analyse the work relationship patternof ponggawa sawi and quantitative analysis was used to analyzed ponggawa and sawi income.The study disclosed that there were two patterns of the work relationship in the sea cucumber business management: one was based on tribe and the other was based on work contract. There were two types of a profit shaing system. In type I, ponggawa had 25 percent of the share and sawi had 75 percent, while in type II, ponggawa has 50 percent and sawi had 50 percent. The average monthly incomes of ponggawa in the first system (25:75), respectively,was from IDR 750,000 to IDR 1,375,000 and sawi from IDR 3,300,000 to IDR 4,500,000. In the second system (50:50), the average monthly income of ponggawa and sawi respectively was IDR 2,100,000 to IDR 2,980,000 and IDR 480,000 to IDR 1,650,000
ETOS KERJA PEREMPUAN DI SEKTOR PERIKANAN PADA KAWASAN MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI) DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN DAN PENGEMBANGAN EKONOMI (Studi Kasus Perempuan Pembudidaya Rumput Laut di Nusa Penida, Bali) Nurlaili Nurlaili; Fatriyandi Nur Priyatna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.889 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1184

Abstract

ABSTRAKTulisan ini bertujuan untuk menggambarkan etos kerja perempuan pembudidaya rumput laut di Nusa Penida dan dikaitkan dengan strategi pemberdayaan dan pengembangan ekonomi dalam konsep Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Penelitian dilakukan pada tahun 2013 dengan fokus pada kawasan minapolitan Nusa Penida di 3 (tiga) gugusan pulau: Nusa Besar atau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam (depth interview) dan pengamatan (observasi). Analisis data menggunakan deskriptif eksplanatoris dimana data-data yang dikumpulkan digambarkan secara rinci kemudian digunakan untuk menjelaskan strategi pemberdayaan dan pengembangan ekonomi yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan pembudidaya rumput laut di Nusa Penida memiliki etos kerja yang tinggi, rajin, memiliki kesungguhan serta kemauan bekerja keras membantu suami dalam mencari nafkah. Pandangan perempuan pembudidaya rumput laut di Nusa Penida tentang pekerjaan yaitu bahwa tidak ada pekerjaan yang berat, sudah ada pembagian kerja dan saling membantu antara laki-laki dengan perempuan sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. Strategi pemberdayaan dan pengembangan perempuan pembudidaya rumput laut dalam mendukung percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi yaitu dengan membuat kebijakanyang memihak melalui pengakuan peran dan partisipasi mereka serta melakukan pendampingan dan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
ANALISIS NILAI TUKAR NELAYAN (NTN) PELAGIS BESAR TRADISIONAL Andrian Ramadhan; Maulana firdaus; Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.487 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.30

Abstract

Pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap pelagis besar tidak hanya dilakukan oleh kapalkapal besar berskala industri akan tetapi juga oleh kapal-kapal berskala kecil atau tradisional. Tulisan ini bertujuan untuk memahami dinamika usaha perikanan tangkap berskala trasional tersebut dan kaitannya dengan ekonomi rumah tangga nelayan dalam suatu ukuran bernama Nilai Tukar Nelayan (NTN). Metode survei digunakan dengan bantuan kuesioner untuk monitoring usaha, pendapatan dan harga bulanan input-ouput Analisis penelitian menunjukkan bahwa usaha ini memiliki karakteristik usaha yang dinamis. Hal ini mempengaruhi indeks yang diterima oleh nelayan dimana berfluktuasi cukup tinggi antar bulannya. Pada awal tahun NTN mengalami tekanan karena merupakan musim barat yang sulit melakukan penangkapan ikan. Tren positif penangkapan terjadi pada awal pertengahan tahun dimana NTN secara general berada diatas 100. Pada sisi pengeluaran terjadi pula peningkatan pada pertengahan tahun karena terjadi inflasi umum akibat kenaikan harga BBM. Kenaikan komponen yang diterima dan dibayar pada waktu yang sama membuat NTN relatif stabil meski terdapat tendensi penurunan dari waktu ke waktu(Title: Term of Trade Analysis of Traditional Fishers of Big Pelagic)Large pelagic fisheries is not merely captured by large industrial ships but also by small boats or traditional scale. This paper was aimed to understand the dynamics of fishing condition of traditional scale regarding fishers’ household economy by measuring Fishers Trade Index (NTN). The results indicated that the fishing activity was very dynamic and affected the fishers’ revenue index and also the payment index which was highly varied for each months. In the beginning of the year, NTN was low due to “west season” where fishing activities were hardly being carried out. Positive trend of fisheries activities happened in the mid-year where NTN in general was above 100. However, there was also increasing in the expenditure in mid-year because of general inflation which was triggered by fuel price upturned. The increasing in both revenue and expenditure components in the same periods made NTN relatively steady in spite of decreasing trend over time.

Page 1 of 1 | Total Record : 10