cover
Contact Name
Zahri Nasution
Contact Email
kebijakan.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kebijakan.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20896980     EISSN : 25273280     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017" : 7 Documents clear
PERBANDINGAN POLA BAGI HASIL DALAM USAHA GARAM RAKYAT DI KABUPATEN PAMEKASAN, JAWA TIMUR Campina Illa Prihantini; Yusman Syaukat; Anna Fariyanti
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.643 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.4997

Abstract

Usaha garam rakyat pada umumnya dijalankan dengan sistem bagi hasil di KabupatenPamekasan. Pola bagi hasil yang umum dilakukan adalah pola bagi dua (merdua) dan pola bagi tiga(mertelu). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan membandingkan perbedaanpelaksanaan dua pola bagi hasil usaha garam rakyat di Kabupaten Pamekasan. Beberapa indikator yangdigunakan dalam menganalisis perbedaan kedua pola bagi hasil ini dijelaskan dengan menggunakananalisis deskriptif. Kesimpulan pertama menunjukkan bahwa perbedaan paling dasar antara dua polabagi hasil adalah karakteristik lahan garam yang digarap oleh petani penggarap. Selain itu, penelitianini juga menjabarkan beberapa hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat dalam sistembagi hasil. Kesimpulan lainnya adalah terdapat perbedaan hak dan kewajiban antara pemilik lahan danpetani penggarap. Salah satu kelemahan sistem bagi hasil dalam usaha garam rakyat adalah dominasiperan pemilik lahan. Pemerintah diharapkan dapat berperan dalam pembatasan kepemilikan lahan. Halini bertujuan agar pemilik lahan tidak terlalu dominan dalam usaha garam rakyat, terlebih di KabupatenPamekasan.Title: Comparison of Sharecropping System Salt Production Busineessin Pamekasan Regency, East JavaSalt production business generally used sharecropping system in Pamekasan regency.This system has two type, 1:1 sharecropping system (it is called merdua) and 1:2 sharecropping system(it is called mertelu). The main objective of this research is to identify and to compare the differencesof two types in salt production business with sharecropping system in Pamekasan regency. Someindicators are used to analyze the differences using descriptive analysis. The first conclusion showed themain difference of those types of sharecropping system is the salt-land characteristic. Besides that, thisresearch also explain the rights and the obligations each participant in sharecropping system. The otherconclusion is there is a difference right and obligation between the landlord and the sharecropper. Oneof sharecropping weakness is the landlord’s domination. The government should make regulation aboutrestrictions on tenure rights. It aims to minimize the landlord’s domination in salt production business,especially in Pamekasan regency.
KINERJA PROGRAM PENYALURAN BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) PENGEMBANGAN USAHA MINA PEDESAAN (PUMP) PERIKANAN BUDIDAYA Hikmah Hikmah; Maulana Firdaus
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.223 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5924

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi kinerja program penyaluran bantuan langsung tunai kepada masayarakat melalui program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan-Perikanan Budidaya (PUMP-PB) dengan fasilitasi bantuan pengembangan usaha bagi pembudidaya ikan dalam wadah Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN). Metode penelitian menggunakan metode survei pada 12 lokasi penelitian. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa capaian kinerja input, proses dan output pelaksanaan program penyaluran bantuan langsung masyarakat melalui PUMP-Perikanan Budidaya di 12 Kabupaten/Kota secara administrasi telah sesuai dengan petunjuk teknis dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Hal ini ditunjukkan oleh jawaban responden terhadap empat isian terkait kegiatan tersebut yaitu 100% responden menyatakan sudah sesuai dengan prosedur. Dalam pelaksanaannya, pada masih terdapat permasalahan dan tantangan yang dihadapi antara lain adanya kelompok aspirasi, kurangnya tenaga pendamping, pencairan BLM tidak tepat waktu dan  penerima BLM kurang tepat sasaran.Title: Performance Analysis Of Distribution Program Live Aid Society (BLM) Small Aquaculture Business Program (PUMP)This study aims to identify and evaluate the performance of direct cash transfer programs to the community through the small aquaculture business program  (PUMP-PB) with the facilitation of business development assistance for fish farmers in the container Fish Farmers Group (Pokdakan). The research method used survey methods at 12 study sites. Methods of data analysis using qualitative descriptive analysis. The results showed that the gains of the input, process and output of the implementation of the distribution of community grants program through PUMP-Aquaculture in 12 districts / cities in administration in accordance with the technical guidance of the Directorate General of Aquaculture. This is indicated by the respondents to the four fields related to these activities is 100% of the respondents are in accordance with the procedure. In practice, the there are still problems and challenges faced by, among others, the existence of groups of aspiration, lack of assistants, not timely disbursement of BLM and less targeted recipients.
KINERJA EKSPOR TUNA INDONESIA : SUATU PENDEKATAN ANALISIS BAYESIAN Risna Yusuf; Freshty Yulia Arthatiani; Hertria Maharani
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.463 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5746

Abstract

Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui strategi penetrasi pasar tuna di pasar tujuan ekspor utama Indonesia. Penelitian berlangsung pada bulan March – Juli 2014 dengan metode pengumpulan data berupa studi literatur, survey dan wawancara ke informan kunci. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan bayesian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar tuna Indonesia dominan ke pasar Jepang sebesar 54%, diikuti pasar USA 24% dan pasar UE 23%. Selanjutnya komoditas dominan yang diperdagangkan adalah Tuna Kaleng dengan probabilitas sebesar 54%, yang diikuti Tuna Segar sebesar 26% dan Tuna beku sebesar 24%. Untuk daerah ekspor, lokasi ekspor dengan probabilitas tertinggi berasal dari Jakarta yaitu sebesar 49%, diikuti Surabaya sebesar 36% dan Bitung sebesar 15%. Sedangkan lokasi ekspor tersebut mendapat pasokan dari berbagai daerah. Ketiga lokasi ekspor berasal dari enam daerah dengan probabilitas Jakarta (14%), Sukabumi (21%), Jawa Timur (4%), Bitung (19%), Maluku (14%) dan Bali (26%). Pada level ini armada penangkapan yang dominan digunakan untuk ekspor tuna terdiri dari armada motor tempel (22%), dengan menggunakan jenis alat tangkap tuna handline (31% ) sebagai alat tangkap yang dominan. Oleh karena itu, untuk menjaga dan mempertahankan konsistensi kinerja tuna Indonesia, diperlukan suatu strategi pemasaran yang tepat yaitu strategi penetrasi pasar dimana pada strategi ini diperlukan berbagai  upaya yang tepat agar market share perikanan tuna Indonesia terus meningkat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan aspek penelusuran bahan baku tuna dengan memperhatikan daerah baik daerah yang mengekspor maupun daerah asal ikan tersebut ditangkap dan jumlah armada serta alat tangkap yang digunakan dalam proses penangkapan tuna Indonesia disamping upaya-upaya lain dari sisi hulu sampai hilir. Title: Performance of export tuna indonesia: A bayesian analysis approachThe purpose of this study was to determine the opportunity of Indonesian tuna in the main export markets. The study held in March -July 2014, with data collection methods such as desk study, surveys and interviews with key informants. Data collected consist primary and secondary data. Secondary data obtained from various government agencies and local institutions that related to the field fisheries are statistical data commodity export volume tuna, the policy related to tuna commodities data. Data analysis done by using bayesian approach. Results of the study showed that dominant Indonesia tuna market are Japan (54 %), followed by the USA (24 %) and the EU (23 %). The major trading are Tuna Cans with probability of 54 %, which followed Fresh Tuna 26% and Tuna canning 24 %. For the region exports, location exports with highest probability came from Jakarta that is equal to 49 %,  followed by Surabaya 36% and Bitung  15 %. This location export was getting supply from various areas. The three location exports came from six districts with probability from Jakarta (14 %), Sukabumi (21 %), East Java (4 %), Bitung (19 %), Maluku (14 %) and Bali (26 %).  In this level, a dominant fishing vehicle used for the export tuna consists of fleet outboard motors (22%), using fishing equipment type of tuna handline (31% ) as fishing equipment dominant. Therefore, to maintain the consistency of Indonesia's tuna performance, an appropriate marketing strategy is needed, which is a market penetration strategy in which this strategy is required to make appropriate efforts to increase the market share of Indonesia’s tuna. One of the efforts is by doing traceability  aspect of tuna raw material by paying attention to the area of both exporting area and the origin of area, the number of vehicle  and fishing gear used in order to catch tuna. 
ANALISIS PENENTUAN INDIKATOR KUNCI DALAM PENGHITUNGAN INDEKS KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELAUTAN DAN PERIKANAN Subhechanis Saptanto; Tikkyrino Kurniawan; Hertria Maharani Putri; Tajerin Tajerin
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.551 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5748

Abstract

Indeks kesejahteraan masyarakat kelautan perikanan merupakan salah satu indeks yang secara cepat dapat mengukur tingkat kesejahteraan yang bergerak di sektor kelautan dan perikanan. Di dalam indeks kesejahteraan terdapat indikator-indikator kunci yang menjadi penentu kesejahteraan masyarakat kp. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menganalisis indikator-indikator kunci dalam penghitungan indeks kesejahteraan masyarakat kp sehingga dapat dihasilkan suatu strategi baik yang bersifat pemeliharaan maupun perbaikan pada provinsi-provinsi di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari instansi di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Februari 2017 hingga April 2017. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur dan mendatangi langsung instansi yang terkait dengan data. Metode analisis data digunakan metode data panel kausalitas Granger. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisis indikator-indikator yang menjadi kunci untuk dilakukan perbaikan dan perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kunci di bidang sosial antara lain XS1 (kelembagaan usaha KUB Tangkap), XS4 (Kelembagaan usaha Garam Rakyat), XS5 (kelembagaan Pokmaswas) , XS7 (masyarakat adat, tradisional dan lokal yang direvitalisasi) dan XS9 (pelaku usaha mikro yang manidir di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil) dan indikator di bidang ekonomi yaitu XE1 (Nilai Tukar Nelayan), XE8 (Rata-rata pendapatan petambak garam/bulan) dan XE11 (struktur ongkos usaha perikanan).  Title: Analysis Of The Key Indicators Determination In The Calculation Of Community Marine And Fisheries Welfare IndexThe marine fisheries community welfare index is one of the indices that can rapidly measure the level of welfare moving in the marine and fisheries sector. In the index of welfare, there are key indicators that determine the welfare of the fisheries and marines community. The purpose of writing this paper is to analyze the key indicators in calculating the community welfare index fisheries and marines so that it can produce a good strategy that is maintenance and improvement in the provinces in Indonesia. The data used in this study is secondary data sourced from agencies in the scope of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries. The study was conducted from February 2017 to April 2017. The data collection method was done by literature study and went directly to the related institution with the data. Data analysis method used Granger causality data panel method. This method can be used to analyze the key indicators for improvement and maintenance. The results of the study indicate that key social indicators include XS1 (KUB Capture Business Institution), XS4 (People's Salt Business Institution), XS5 (institutional Pokmaswas), XS7 (indigenous, traditional and local community revitalized) and XS9 (micro business actors (XE1 (Fisherman Exchange Rate), XE8 (Average salt farm income / month) and XE11 (fishery cost structure).
DINAMIKA KEBIJAKAN PENGELOLAAN DAN KEWIBAWAAN KELEMBAGAAN ADAT (Studi Kasus Pada Masyarakat Adat Liya di Wakatobi Sulawesi Tenggara) Nendah Kurniasari; Andrian Ramadhan; Lindawati Lindawati
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.228 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5747

Abstract

Pasang surut kewenangan lembaga adat dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan di Wakatobi, turut berpengaruh terhadap kondisi sumberdaya alam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana peran kelembagaan adat dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan. Penelitian pada masyarakat adat liya di Kabupaten Wakatobi pada Tahun 2015 dengan menggunakan metode kualitatif yang mengandalkan data sekunder dan data primer dari berbagai informan kunci.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelembagaan adat di wakatobi meskipun eksistensinya sudah menurun namun kewibawaannya relatif masih kuat sehingga berpotensi sebagai lembaga yang efektif untuk mengatur perilaku masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan secara arif. Hal ini berpengaruh terhadap keberlanjutan nilai sosial dari sumberdaya. Oleh karenanya, revitalisasi lembaga adat merupakan langkah yang harus segera dilaksanakan oleh pemerintah guna menjaga sumberdaya kelautanan dan perikanan secara berkelanjutan.Title: Exoticism of Wakatobi and institutional initiative Citizen using Case study on Indigenous peoples in Wakatobi Sulawesi TenggaraThe dynamics of the authority of traditional institutions in the management of marine resources and fisheries in the Wakatobi, also affect the condition of the natural resources. This study aims to describe how the role of traditional institutions in the management of marine resources and fisheries. The study was conducted in Wanci and Kaledupa in 2015 using qualitative methods that rely on secondary data and primary data from a variety of key informants. The results showed that the traditional institutions in wakatobi although its existence has been declining but still relatively strong authority, thereby potentially as effective institutions to regulate people's behavior in the use of marine and fishery resources wisely. Therefore, the revitalization of traditional institutions is a step that should be undertaken by the government to safeguard marine and fisheries resources in a sustainable manner.
GAMBARAN, KARAKTERISTIK PENGGUNA DAN PERSEPSI NELAYAN TERHADAP KEMANFAATAN SISTEM APLIKASI NELAYAN PINTAR (SINP) DI PELABUHAN PERIKANAN INDONESIA Umi Muawanah; Penny Diah Kusumaningrum; Hadhi Nugroho; Donald Daniel
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2186.693 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.6460

Abstract

Sistem Informasi Nelayan Pintar (SINP) adalah sebuah aplikasi android yang menampikaninformasi-informasi penting untuk para nelayan dalam melaut. Informasi SINP terdiri dari informasidaerah penangkapan ikan, cuaca, harga ikan, dan dinamika laut. Makalah ini bertujuan mengulasbeberapa hal tentang sistem Nelayan Pintar di Indonesia yaitu: (1) deskripsi sistem kerja sisten SINP,(2) gambaran demografi nelayan calon pengguna NISP dan (3) persepsi nelayan terhadap kemanfaatanbeberapa informasi yang ditampilkan dalam perangkat SIN. Penelitian ini menemukan bahwa menurutnelayan, informasi yang dirasa sangat bermanfaat adalah peta DPI dan prakiraan cuaca sebelummelaut. Prakiraan cuaca ini penting untuk keselamatan nelayan. Dalam pertanyaan lanjutan tentangmanfaat informasi Daerah Penangkapan Ikan ini, responden 84,1 % menyatakan bawah informasi ataupeta DPI meningkatkan hasil tangkapan dibanding tidak membaca peta DPI. Peta DPI dapat diperoleholeh nelayan di setiap pelabuhan perikanan seluruh Indonesia. Para nelayan juga merasa bahwa sistemSINP cukup mudah untuk dioperasikan.Title: Overview, Characteristics of Users and Fisher Perception for Usefulness of Smart Fisher Application System (SINP) in Indonesia Fishing PortSmart Fishers Information system (called SINP in Bahasa) is an android based applicationdisplaying important information for fishers to go fishing. The system has information on fishing groundlocation and coordinates, weather, fish price, and ocean dynamics. This paper elaborates the SINPsystem, some demographic characteristics of its users and fisher’s perception on SINP. According to theusers, the most important information is the fishing ground location and their coordinates. Almost 84.1% respondents claim that the fishing ground location does help increase the catch. The map of fishingground can be obtained from the office of provincial or district fishing port. The fishers feel that the SINPis user friendly and easy to operates.
PENGARUH KEBIJAKAN PERUBAHAN TARIF IMPOR TERHADAP KINERJA SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN Mira Mira; subhechanis Saptanto
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.046 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5745

Abstract

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh kebijakan perubahan tarif impor terhadap kinerja sektor kelautan dan perikanan. Data dari tabel Input dan Output dianalisis dengan menggunakan computable general equilibrium mode (CGE).  Simulasi dilakukan dengan Focus Group Discussion, pertama menggunakan tarif impor yang berlaku saat ini untuk produk perikanan yaitu sebesar 5%, kedua menggunakan tarif impor 10 persen jika tarjadi peningkatan tarif, dan ketiga menggunakan tarif 0 % dimana terjadi penurunan tarif impor karena kesepakatan kerjasama regional (Masyarakat Ekonomi Asean). Akibat pemberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (kebijakan penurunan tarif impor) terhadap kinerja makro sektor kelautan dan perikanan meningkatkan pendapatan pemerintah (GDP) sebesar 0.009%, dan peningkatan ekspor 0.040%. Kebijakan penurunan tarif impor akibat pemberlakukan MEA hanya berpengaruh negatif pada indikator neraca pembayaran, dimana penurunan tarif impor menyebabkan penurunan neraca pembayaran 0.070%. Kebijakan penurunan tarif impor  meningkatkan nilai tambah  produk TTC, patin, kerapu, dan garam, masing-masing sebesar 0.047%, 0.004%, 0.003%, dan 0.039%. Selain itu, kebijakan penurunan tarif impor akibat pemberlakukan MEA menyebabkan ekspor TTC naik sebesar 3.367%., sedangkan impor perikanan ikan kering dan ikan olahan naik secara signifikan menjadi 11.498% dan 11.010%.  Sebaliknya kebijakan peningkatan tarif impor (dalam hal ini menjadi sebesar 10%) maka membuat penurunan pada output ikan kering dan ikan olahan  impor masing-masing turun adalah sebesar 18.502% dan -17.873%. Kebijakan peningkatan tarif impor malah menyebakan peningkatan input produksi untuk ikan olahan dan ikan kering dimana masing-masing sebesar 32% dan 34,5%. Dampak kebijakan peningkatan tarif impor terhadap input produk olahan selaras dengan tujuan kebijakan pengenaan tarif impor untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, maka diharapkan pemerintah masih mengenakan tarif impor terutama untuk komoditas yang memiliki daya saing.Title: Effect of Import Tariff Change Policy On Marine and Fisheries Sector PerformanceThis research was aimed to analyze the effect of import tariff change policy on marine and fisheries sector performance. Data was collected from Input and Output tables anddata analyzed using Computable General Equilibrium method (CGE). The simulation was conducted by Focus Group Discussion approach method, first simulation using current import tariff for fisheries product 5%, secondly using import tariff of 10% if there is increase ofimport tariff, and third using tariff 0% where there is decrease of import tariff because agreement of regional cooperation ASEAN Economic Community. As a result of the implementation of the ASEAN Economic Community (import tariff reduction policy) on the macro performance of marine and fisheries sector increased government revenue (GDP) by 0.009%, and 0.040% export increase. The import tariff reduction policy due to the imposition of the MEA only negatively affects the balance of payments indicator, where the decline in import tariffs leads to a 0.070% decrease in the balance of payments. The import tariff reduction policy increases the added value of TTC (tuna alike), catfish, grouper and salt products by 0.047%, 0.004%, 0.003% and 0.039% respectively. In addition, the import tariff reduction policy due to the introduction of the MEA caused TTC exports to increase by 3.367%, while dry fish and fish processing imports increased significantly to 11.498% and 11.010%. On the contrary, the policy to increase import tariff (in this case become 10%), the decrease of dried fish and imported fishes decreased by 18.502% and -17,873% respectively. The policy to increase import tariffs led to increased production inputs for processed fish and dried fish which were 32% and 34.5%, respectively. The impact of the policy on increasing import tariffs on refined product inputs is in line with the objective of import tariff policy to increase commodity-added value, it is expected that the government still impose import tariffs, especially for competitively priced commodities.

Page 1 of 1 | Total Record : 7