cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015" : 7 Documents clear
Peningkatan sintasan dan pertumbuhan benih ikan tengadak, Barbonymus schwanenfeldii (Bleeker, 1854) melalui pengaturan suhu dan magnesium Novi Susianti; Kukuh Nirmala; Ani Widiyati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.71

Abstract

This study aimed to determine the optimal temperature and magnesium levels in rearing media to increase the growth of tinfoil barb larvae (Barbonymus schwanenfeldii). The experimental design was arranged in factorial completely randomized design with three replications. The treatment included three temperature viz. 26°C, 28°C, dan 30°C and four additional magnesium viz. 0, 10, 20, 30 mg L-1. Fish stocking density was 1 ind. L-1 with an average length of 2.00±0.03 cm and an average initial weight of 0.33±0.01 g. The result showed that the combination of temperature 28°C with addition magnesium 20 mg L-1 was the best rearing media to increase the growth of tinfoil barb larvae ie. the daily average growth rate was 8.93±0.23% and growth of absolute length was 1.78±0.02 cm. The highest of survival rate (95.24%) also achieved in the treatment of temperature 28°C. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan magnesium yang optimal pada pemeliharaan benih ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) agar dapat meningkatkan sintasan dan pertumbuhan. Rancangan percobaan yang diguna-kan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan suhu 26°C, 28°C dan 30°C, perla-kuan magnesium 0, 10, 20 dan 30 mg L-1. Padat tebar ikan adalah 1 ekor L-1 dengan rata-rata panjang total 2,00±0,03 cm dan bobot rata-rata awal 0,33±0,01 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan benih tengadak ter-baik dicapai pada suhu 28°C dan penambahan magnesium 20 mg L"1 dengan pertumbuhan bobot spesifik 8,93±0,23% dan pertumbuhan panjang mutlak 1,78±0,02 cm. Sintasan tertinggi 95,24% juga diperoleh pada perlakuan suhu 28°C.
Dinamika populasi ikan belanak, Chelon subviridis (Valenciennes, 1836) di muara Sungai Opak - Yogyakarta Djumanto Djumanto; Mike Gustiana; Eko Setyobudi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.72

Abstract

reenback mullet (Chelon subviridis) is the main species of fish catches in the estuary of Opak River Yogyakarta. The study of the population dynamics becomes important as a basis for fisheries management tools, so that mullet fish stocks can be utilized in a sustainable manner. The purpose of this study was to assess the population parameter of mullet in the area. Fish sampling was done biweekly from the middle of July 2012 to May 2013. Fish catching was done using gillnets wi-th various mesh size. All samples of mullet were collected and sexed, total length was measured using a metal ruler and weighted using digital scales. Length frequency data were analyzed using the software of FiSAT II to estimate the parameters of growth, mortality and recruitment. The results showed that, for the male mullet, VBGF growth parameters, namely L®, K, and to was 29.93 cm, 0.23 and -0.22, respectively. The total mortality, natural mortality and fishing mortality was 1.21, 0.69, and 0.52 per year, respectively, and the exploitation rate was 0.42. In the female, the VBGF growth parameters L ®, K, and to was 37.28 cm, 0.34 and -0.35, respectively. The total mortality, natural mortality and fishing mortality was 1.56, 0.84 and 0.72 per year, respectively, while the exploitation rate was 0.46. Recruitment patterns occur each year with peak spawning was estimated at the beginning and ending of the dry season. Abstrak Ikan belanak (Chelon subviridis) merupakan salah satu jenis ikan tangkapan utama di muara Sungai Opak, Yogyakarta. Kajian dinamika populasi menjadi penting sebagai dasar pengelolaan perikanan agar stok ikan belanak dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji parameter populasi ikan belanak di muara sungai tersebut. Pengambilan contoh ikan dilakukan setiap pertengahan bulan dari Juli 2012 hingga Mei 2013. Penangkapan ikan menggunakan jaring insang berbagai bukaan mata jaring. Semua contoh ikan belanak yang tertangkap diidentifikasi jenis kelaminnya melalui pembedahan, diukur panjang total menggunakan mistar logam dan berat individu menggu-nakan timbangan digital. Data frekuensi panjang dianalisis menggunakan perangkat lunak FiSAT II untuk menduga parameter pertumbuhan, mortalitas dan rekrutmen. Hasil penelitian pada belanak jantan menunjukkan parameter pertum-buhan VBGF L®, K, dan to adalah 29,93 cm, 0,23 dan -0,22; mortalitas total 1,21 per tahun, mortalitas alami 0,69 dan mortalitas penangkapan 0,52 per tahun serta tingkat eksploitasi sebesar 0,42. Pada belanak betina diperoleh parameter pertumbuhan VBGF L®, K, dan to adalah 37,28 cm, 0,34 dan -0,35; mortalitas total 1,56 per tahun, mortalitas alami 0,84 dan mortalitas penangkapan 0,72 per tahun serta tingkat eksploitasi sebesar 0,46. Pola rekrutmen terjadi setiap tahun dengan puncak pemijahan diperkirakan pada awal dan akhir musim kemarau.
Fauna ikan di Sungai Cikawung Kabupaten Cilacap Jawa Tengah Agus Nuryanto; Dian Bhagawati; M. Nadjmi Abulias; Indarmawan Indarmawan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.73

Abstract

Cikawung River is a second order river in Citanduy Watershed. The river is located in the western part of Cilacap Regency, Central Java. Like other rivers in the world, Cikawung River runs through various ecosystems, e.g. Pinus mercusii and Tectona grandis forests, cultivation, and settlement areas. Therefore it is predicted that physico-chemical properties of the river will change from the upstream to the downstream and suggested to impact upon the diversity of fish species inhabiting the river. The objective of this study was to obtain data on fish species and its longitudinal distribution along the Cikawung River. A survey method and cluster random sampling technique was performed according to upper, middle, and lower parts of the river. The observed variables were the number of species and its distribution. During the survey, a total number of 499 fish individuals comprising of 19 species from nine families, were collected. Among these nine families, Cyprinidae had the highest number of species with eight and followed by Bagridae with three species. The most abundant species was Mystus gulio and followed by Osteochilus vittatus. High number of species and families proved that the Cikawung River has high fish diversity. The result also proved that the complex pattern of longitudinal distribution was observed. This different distribution pattern among species could be due to the different physico-chemical characters from upper to lower parts of the river, especially on its dissolved oxygen and carbon dioxide level, acidity (pH), and substrates. Abstrak Sungai Cikawung merupakan sungai ordo dua di daerah aliran Sungai Citanduy. Sungai ini terletak di bagian barat Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Seperti halnya sungai pada umumnya, Sungai Cikawung mengalir melintasi berbagai tipe ekosistem tepian sungai seperti hutan pinus (Pinus mercusii), hutan jati (Tectona grandis), areal pertanian, dan perumahan. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa kondisi fisik-kimiawi Sungai Cikawung akan mengalami perubahan dari hulu ke hilir dan perubahan karakter lingkungan tersebut memengaruhi keanekaragaman spesies ikan yang menghuni sungai ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai diversitas spesies ikan (daftar uji) dan persebaran longitudinal ikan sepanjang Sungai Cikawung. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel berdasarkan lokasi daerah hulu, tengah, dan hilir. Variabel yang diamati meliputi jumlah spesies dan persebarannya. Selama penelitian ditemukan ikan sebanvak 499 individu yang termasuk dalam 19 spesies dan sembilan famili. Di antara sembilan famili tersebut, famili Cyprinidae memiliki jumlah spesies paling banyak yaitu delapan spesies diikuti oleh famili Bagridae dengan tiga spesies. Spesies yang cukup melimpah adalah Mystus gulio dan Osteochilus vittatus. Tingginya jumlah spesies dan famili yang ditemukan membuktikan bahwa keanekaragaman ikan di Sungai Cikawung masih tinggi. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa telah terjadi pola persebaran longitudinal spesies yang kompleks. Perbedaan pola persebaran antar spesies diduga terjadi karena perubahan kondisi fisik-kimiawi dari hulu ke hilir Sungai Cikawung terutama pada oksigen terlarut, karbon dioksida bebas, tingkat keasaman (pH), dan substrat.
Ekspresi gen aromatase pada pengarahan diferensiasi kelamin ikan nila (Oreochromis niloticus Linnaeus 1758) menggunakan madu Eny Heriyati; Alimuddin Alimuddin; Harton Arfah; Agus Oman Sudrajat
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.74

Abstract

In tilapia aquaculture, all male populations are preferred because they achieve higher growth rates and prevent uncontrolled reproduction. Sex reversal techniques are largely used for the control of sex in fish farming and in fundamental studies on sex determinism mechanisms. The study was conducted to determine the effect of immersion Nile tilapia larvae in water containing different honey source on male percentage and aromatase gene expression. In experiment I, a total of 30 tilapia larvae at 12 days post hatch were immersed in water containing honey derived from the forest, cultured and mangrove bees, at a dose of 10 ml L-1 for 10 hours. Fish were maintained in the same condition for two months. The results showed that percentage of male fish was similar among honey treatments (p>0.05), and they were significantly different with the control (p<0.05). In experiment II, fish were immersed in two bioactive compounds of honey, namely chrysin and potassium solution in a dose of 20 mg L-1 and 0.026 g L-1, respectively, to verify the bioactive affects sex differentiation. Aroma-g expression was analyzed by RT-PCR method. Tissue was collected at 1, 6, 12, 24 and 48 hours after immersion, and 2-month-old fish. Size fragment DNA aroma-g of female 200 bp. Chrysin and potassium immersion increased male percentage (p<0.1), this indicated that both materials were involved in Nile tilapia sex differentiation. RT-PCR analysis showed that honey, chrysin and potassium down-regulated aroma-g expression at 12 hours post immersion. Thus, honey can be used for sex reverse of Nile tilapia, and the mechanism is most likely as aromatase inhibitors. Abstrak Budi daya ikan nila dengan populasi jantan semua (monoseks) lebih memberikan keuntungan karena laju pertumbuhan-nya lebih cepat dan dapat mencegah pemijahan liar.Teknik pengarahan diferensiasi kelamin(sex reversal) digunakan untuk mengarahkan pembentukan jenis kelamin pada budi daya ikan.Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pe-ngaruh perendaman larva ikan nila menggunakan tiga sumber madu berbeda terhadap persentase ikan jantan dan ekspresi gen aromatase. Pada percobaan satu, 30 larva ikan nila berumur 12 hari setelah menetas direndam menggunakan madu hutan, madu ternak dan madu bakau, dengan dosis 10 ml L-1 air selama 10 jam. Ikan dipelihara dalam kondisi yang sama selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ikan jantan tidak berbeda nyata antar perlakuan madu (p>0,05), tetapi semuanya berbeda nyata dengan kontrol (p<0,05). Pada percobaan kedua, larva ikan nila direndam dalam air mengandung dua bahan bioaktif madu, yakni chrysin dan kalium dengan dosis masing-masing 20 mg L-1 dan 0,026 g L-1. Ekspresi gen aromatase tipe gonad (aroma-g) dan tipe otak (aroma-o) dianalisis menggunakan metode RT-PCR. Sampel jaringan diambil pada waktu 1, 6, 12, 24, dan 48 jam pascaperlakuan madu, chrysin, dan kalium, serta setelah ikan berumur dua bulan.Ukuran fragmen DNA aromatase pada gonad betina sekitar 200 bp. Perendaman chrysin dan kalium meningkatkan persentase ikan jantan (p<0,1). Analisis RT-PCR menunjukkan bahwa madu, chrysin, dan kalium dapat menekan ekspresi gen aroma-g pada jam ke-12 pascaperendaman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa madu, chrysin dan kalium dapat digunakan untuk pengarahan diferensiasi ikan nila, dan mekanis-menya seperti penghambat aromatase.
Pemberian hormon pertumbuhan rekombinan secara “putus dan sambung” pada tiga kelompok ukuran benih ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis (Valenciennes 1828) Suci Antoro; Alimuddin Alimuddin; Muhammad Agus Suprayudi; Irvan Faizal; Muhammad Zairin Junior
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.75

Abstract

The objective of this study was to compare the growth response of 3 different sizes of humpback grouper juveniles, which were come from the same brood stock group and spawning season after “stop and go” experiment of recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH); that are with, without and retreated with rElGH for 42 days respectively. Each size group was divided into two treatment groups. The first group was treated with 50 mg crude rElGH kg-1 in commercial diet (pC) and a second group as a control. Weight gain of pC compares to control for small size group, medium size group and large size groups of juveniles subsequently for first stage were 85.89%, 39.66% and 16.34%; second stage were -34.57%, -14.76%, and -5.27%; and third stage were 56.16%, 50.24% and 59.14%. Specific growth rate differences of small, medium and large size of pC compared to control in first stage were 41.6%, 19.06% and 7.52%; second stage were -44.81%, -27.23% and -14.66%; and third stage were 55.9%, 40.62% and 48.42%. No significant difference of condition factor among all sizes of pC and control fish. Protein content and retention, and liver glycogen content from pooled sample of all size fish groups pC treatment in the second stage were decreasing compared to the first stage, respectively, 11.49%, 35.14% and 84.73%. It can be concluded that rElGH treatment improved growth performance of all size fish groups, however small juveniles have highest growth response compared to medium and large juvenile groups. The ceasing of rElGH treatment on second experiment stage is most likely causing the loss of accelerating growth factor then decreasing growth performance, protein content and retention, and liver glycogen content. Abstrak Penelitian bertujuan membandingkan respons pertumbuhan tiga kelompok ukuran benih ikan kerapu bebek dari kelompok induk dan periode pemijahan yang sama terhadap hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang Epine-phelus lanceolatus (rElGH); melalui eksperimen “putus dan sambung” yaitu dengan, tanpa, dan perlakuan kembali rElGH masing-masing selama 42 hari. Setiap kelompok ukuran dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, kelompok pertama diberi perlakuan rElGH dengan dosis 50 mg rElGH-HP55 kg-1 pakan (pC) sedangkan kelompok kedua sebagai kontrol. Pertambahan bobot badan kelompok pC dibandingkan dengan kontrol pada benih berukuran kecil, sedang dan besar berturut-turut pada eksperimen tahap pertama 85,89%, 39,66% dan 16,34%; tahap kedua -34,57%, -14,76%, dan -5,27%, dan tahap ketiga 56,16%, 50,24% dan 59,14%. Perbedaan laju pertumbuhan spesifik benih berukuran kecil, se-dang dan besar perlakuan pC terhadap kontrol pada eksperimen tahap pertama 41,6%, 19,06% dan 7,52%; tahap kedua -44,81%, -27,23% dan -14,66%; dan tahap ketiga 55,9%, 40,62% dan 48,42%. Faktor kondisi pC dan kontrol pada se-mua kelompok ukuran tidak berbeda nyata. Kandungan dan retensi protein, dan kandungan glikogen hati gabungan sampel dari semua kelompok ukuran ikan perlakuan pC pada eksperimen tahap kedua menurun dibandingkan eksperi-men tahap pertama, masing-masing sebesar 11,49%, 35,14% dan 84,73%. Dapat disimpulkan pemberian rElGH mema-cu pertumbuhan semua kelompok ukuran benih ikan, namun benih berukuran kecil mempunyai respons pertumbuhan lebih tinggi daripada kelompok benih berukuran sedang dan besar. Penghentian pemberian rElGH menyebabkan ber-hentinya faktor pemacu pertumbuhan, sehingga performa pertumbuhan, kandungan dan retensi protein, dan kandungan glikogen hati menurun.
Pengaruh stunting terhadap kondisi fisiologis benih ikan sidat, Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844 Latifa Fekri; Ridwan Affandi; Tatag Budiardi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.76

Abstract

Eel is an economically important fish species and the demand for this species is increasing every year. However, stock availability not sustainable because the eel culture totally depends on the wild catches of glass eel (elver). The aim of this study was to examine the effect of stunting to the physiological condition of eel seeds with 1-2 g body weight and 8-12 mm body length. The research was conducted from September 2013 to February 2014 at the Aquatic Animal Physiology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, Bogor Agricultural University. The experiment was arranged in a completely randomized design with three treatments of stunting (i.e. 30, 60, and 90 days) and three replications. Eel seeds were reared in aquarium 60 x 40 x 30 cm3 with a density of 30 fish in each aquarium and fed with commercial pellets of 1.5 mm in size with 46 % protein content. The diets were fed to the fish at a daily rate of 3.3% of the total biomass. Fish were fed twice a day continuously for 30, 60 and 90 days of rearing process. The weight, proximate test and blood analysis of each specimen were checked at the beginning of the experiment and in every 30 days. The results showed that the stunting for one month was the best treatment. In this treatment, the lowest specific growth rate was approaching 0 % (0.1%), coefficient of variation in body weight was < 20 % (19.90%), physiological conditions was normal (not different with control) and survival rate was above 96 %. The treatment of stunting for two and three months showed that the specific growth rate was 0.2 %, coefficient of variation in body weight was > 25% (27.96 % and 30.37 %), physiological conditions was over than the limit for normal conditions, and survival rate was 89% for both treatments. Abstrak Sidat adalah ikan ekonomis penting yang memiliki permintaan pasar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, ketersediaan stok ikan sidat tidak berkelanjutan karena budi daya ikan ini masih bergantung kepada benih hasil tangka-pan dari alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh stunting (penahanan pertumbuhan) terhadap kondisi fisiologis benih ikan sidat ukuran 1-2 g dengan panjang tubuh 8-12 cm. Penelitian dilakukan dari bulan September 2013 hingga Februari 2014 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, FPIK IPB. Penelitian menggunakan rancangan acak leng-kap dengan tiga perlakuan lama stunting (30, 60 dan 90 hari) dan masing-masing dengan tiga ulangan. Ikan dipelihara dalam akuarium ukuran 60 x 40 x 30 cm3 dengan padat tebar 30 ekor per akuarium dan diberi pakan komersial berupa pellet ukuran 1,5 mm dengan kadar protein 46%. Jumlah pakan yang diberi setiap hari sebanyak 3,3 % dari total bio-massa ikan. Ikan diberi pakan dua kali sehari secara kontinu selama 30, 60 dan 90 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunting selama satu bulan merupakan perlakuan yang terbaik yang ditunjukkan dengan dengan laju pertumbuhan spesifik benih ikan mendekati nol (0,1%), nilai koefisien keragaman bobot <20% (19,90%) dan kondisi fisiologis mendekati normal (tidak berbeda jauh dengan kontrol), serta kelangsungan hidup 96%. Perlakuan lama stunting dua dan tiga bulan menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,2%, nilai koefisien keragaman bobot >25% (27,96% dan 30,37%) dan kondisi fisiologisnya jauh di atas batas normal benih ikan sidat, serta kelangsung-an hidup sebesar 89%.
Pertumbuhan dan faktor kondisi ikan siro, Sardinella atricauda, Gunther 1868 (Pisces: Clupeidae) di Perairan Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara Asriyana Asriyana
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i1.77

Abstract

The growth and condition factor of Bleeker’s blacktip sardinella (Sardinella atricauda) was studied in Kendari Bay, Southeast Sulawesi from October 2012 to March 2013. Fish samples were collected using experimental gill nets of %, 1, 1%, and 1% inch mesh size. Growth parameters were analyzed following von Bertalanffy formula using ELEFAN I software of package program of FiSAT II. A total of 3,027 fish individuals was caught with ranged from 75-216 mm in the total length and 3.8-41.4 g in weight. The length-weight relationship of male, female and combined sexes were negative allometric. The von Bertalanffy growth models for male, female, and combined sexes, were Lt = 223.13 {1 - e 0,27(t'0 36)}; Lt = 223.13 {1 - e 033(t-0 29)}; Lt = 223.13 {1 - e 035(t-0 27)}, respectively. The relative condition factors of fish varied from 0.42 to 2.47. The male has relative condition factors as similar as the female during this research. Abstrak Pertumbuhan dan faktor kondisi ikan siro (Sardinella atricauda) di perairan Teluk Kendari Sulawesi Tenggara telah di-teliti dari Oktober 2012 sampai Maret 2013. Koleksi ikan contoh dilakukan dengan menggunakan jaring insang eksperi-mental dengan ukuran mata jaring %, 1, 1 %, dan 1 % inci. Parameter pertumbuhan ikan siro dianalisis dengan persama-an von Bertalanffy dengan bantuan program ELEFAN I dalam paket program FiSAT II. Total ikan yang tertangkap se-lama penelitian sebanyak 3027 ekor dengan kisaran panjang 75-216 mm dan bobot 3,8-41,4 g. Hubungan panjang-bobot ikan siro jantan, betina dan gabungan keduanya menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif. Persamaan pertumbuhan von Bertalanffy untuk ikan jantan, ikan betina dan gabungan keduanya berturut-turut adalah Lt = 223,13 {1 - e 0,27(t-0,36)}; Lt = 223,13 {1 - e 033(t-0,29)}; Lt = 223,13 {1 - e 035(t-0,27)}. Faktor kondisi relatif beragam dari 0,42 sampai 2,47. Ikan jantan dan betina mempunyai faktor kondisi relatif yang sama selama penelitian.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue