cover
Contact Name
Adnan Engelen
Contact Email
adnanengelen@poligon.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jasc@poligon.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Journal Of Agritech Science (JASc)
Published by Politeknik Gorontalo
ISSN : 25492241     EISSN : 2614042x     DOI : -
Journal of Agritech Science (JASc) adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang rekayasa dan teknologi pengolahan hasil pertanian, peternakan dan perikanan. Terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November" : 8 Documents clear
Arahan Pengelolaan Optimasi Faktor Produksi Pada Agribisnis Buah Naga Di Desa Banuroja Dewa Oka Suparwata; Ramlan Pomolango
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.352

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Arahan Pengelolaan Optimasi Faktor Produksi Pada Agribisnis Buah Naga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, pada Bulan April sampai Juli 2019. Penelitian ini didesain dengan metode survei. Populasi petani buah naga di desa banuroja sebanyak 160 orang. Sampel ditentukan sebesar 30% dari populasi, sehingga diperoleh 48 responden. Penentuan sampel dilakukan secara acak sederhana. Untuk optimalisasi faktor produksi optimal maka digunakan analisis Linear Programming (LP), dengan bantuan software Lindo 6.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: optimasi faktor produksi dalam pengelolaan agribisnis buah naga berdasarkan analisis LP yang direkomendasikan ialah lahan 1,12 Ha, bibit 670 batang, pupuk kandang 2756,1 Kg, tenag kerja 16,1 HOK, pestisida 2,66 Liter, POC 2,66 Liter, pupuk urea 81,6 Kg, dan pupuk ponska 133,29 Kg. Hal ini menjadi dasar pertimbangan pada pengelolaan agribisnis buah naga di pekarangan pada masyarakat desa banuroja, sehingga petani dapat mempertimbangkan antara pengeluaran biaya usahatani dengan hasil produksi yang diterimanya.
Pertumbuhan Dan Produksi Padi Lokal Di Gorontalo M. Darmawan; Asmuliani R; Irmawati Irmawati
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.383

Abstract

Penelitian ini bertujuan unutk mengetahui pertumbuhan dan hasil produksi dari beberapa varietas padi lokal yang ada di gorontalo, Penelitian ini disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan 5 kultivar padi lokal yaitu : Panelo, Maraya, Bokungo, Buruna, dan Ponda. Adapun perlakuan adalah Panelo (V1), Maraya (V2), Bokungo (V3), Buruna (V4), dan Ponda (V5). Parameter pengamatan yang dilakukan adalah Tinggi tanaman (cm), dimana pengukuran dilakukan pada umur 28, 42, 70 dan 84 HST, dan Jumlah anakan, dimana perhitungan dilakukan pada umur 28, 42, 70 dan 84 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komponen pertumbuhan dan produksi beberapa padi lokal di gorontalo. Kultivar Ponda menunjukan respon pertumbuhan dan produksi terbaik pada parameter tinggi tanaman dan jumlah anakan.
PENGARUH LAPISAN EDIBLE COATING KITOSAN PADA CABAI KERITING (Capsicum annum L) DENGAN PENYIMPANAN SUHU RENDAH Ria Megasari; A. Khairun Mutia
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.389

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kitosan yang tepat untuk melapisi cabai keriting selama penyimpanan suhu rendah yang dapat memperpanjang umur simpan cabai keriting (Capsicum annum L) dan mengetahui kualitas dari cabai keriting (Capsicum annum L) setelah diberikan perlakuan edible coating kitosan. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dari penelitian ini adalah E0 = Kontrol, E1 = Kitosan 1%, E2 = Kitosan 2%, E3 = Kitosan 3%. Pengamatan yang dilakukan adalah pengukuran susut bobot, Kadar vitamin C, Pengukuran warna, Kecerahan (nilai L), dan kerusan Cabai Keriting. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik dalam aplikasi edible coating berbahan dasar Kitosan yaitu pada perlakuan E3. Dimana hasil analisis setelah 12 HSP pada parameter susut bobot yaitu 7.23, warna 45.30, kecerahan 28.23, kadar vitamin C 2.33, dan kerusakan 8.67.
PENGAPLIKASIAN MOL REBUNG BAMBU TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN CABAI MERAH DI KECAMATAN TILAMUTA KABUPATEN BOALEMO Andi Lelanovita Sardianti; Irmawati Irmawati
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.394

Abstract

Larutan MOL rebung bambu mempunyai kandungan C organic dan giberelin yang tinggi sehingga mampu merangsang pertumbuhan tanaman karena bahan utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber mikroorganisme, Sehingga dalam penerapannya memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan pengaplikasian MOL rebung mampu dapat meningkatkan produksi dan pendapatan cabai merah. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Cangkul, polybag dengan ukuran 40 x 60 cm, penggaris, alat tulis menulis, kertas label, kamera, sekop, gelas ukur, blender, parang, ember, pisau, cobek, timbangan, jerigen dan bahan yang digunakan yaitu tanah sebagai media tumbuh tanaman, bibit cabai merah, kotoran ayam, air cucian beras, gula merah, rebung bambu, air kelapa, dan ragi. Prosedur penelitian adalah Persiapan benih, Persiapan media tanam, Penanaman, Penyemprotan MOL, Penyulaman, Penyiangan, Pembubunan, Penyiraman, Pemasangan Ajir, Pengendalian Hama dan Penyakit, Panen, Produksi dan Pendapatan. Adapun variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah Tinggi Tanaman (cm), Jumlah Daun (Helai), Jumlah Cabang (Cabang), Produksi dan Pendapatan Hasil Penelitian menunjukkan produksi dan analisa pendapatan dapat dilihat bahwa tingkat produksi dan pendapatan bervariasi dan sangat ditentukan dari jumlah korbanan yang dikeluarkan dari tiap perlakuan. Dari penelitian ini yang terendah berada pada P0 (tanpa perlakuan) dengan jumlah produksi 2.100 gram dan pendapatan yang didapatkan Rp. 80.000. sementara itu jumlah produksi dan pendapatan yang tertinggi berada pada P3 (Dosis 150 ml) dengan jumlah produksi 3.000 gram dan pendapatan yang didapatkan Rp. 109.000. Sehingga dari penelitian ini untuk meningkatkan pendapatan petani maka menjadi acuan untuk mengaplikaskan MOL rebung bambu dengan dosis 150 ml (P3) karena sangat berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan yang di dapatkan
Karakteristik Mutu Kadar air , kadar abu dan Organoleptik pada Penyedap Rasa instan Rosdiani Azis; Ingka Rizkyani Akolo
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.396

Abstract

Flavoring is a product that is absolutely needed in people's lives today. The fact is that there are now many foods that contain unhealthy flavoring, especially MSG, Nike and anchovy have high levels of glutamate acid, so Nike and anchovy can be used as raw materials for natural flavoring. The purpose of this study is to determine the factors that provide optimal results on the quality of instant flavorings produced and determine the effect of drying time, drying temperature and type of fish used on water content, ash content of organoleptic properties of instant flavoring. This study uses the Taguchi method design with 3 factors and mixed levels (2 and 4 levels) to optimize product and process design so that an optimal response is produced. The factors used are Drying Time (A), Drying Temperature (B), and Fish Type (C). The drying time used is 7 hours (A1); 8 hours (A2); 9 hours (A3) and 10 hours (A4). Drying temperatures used are: 500 (B1) and 600 (B2), while the types of fish used are wet anchovies (C1) and nike fish (C2). While the response variables used to determine the quality of instant flavorings are water content, ash content and organoleptic properties. Organoleptic quality response and shelf life will be determined by the optimization objectives in the Minitab program 16. The results of the research produced the best flavoring seen from water content is flavoring from Nike fish with a drying time of 10 hours and drying temperature of 800C, whereas if viewed from ash content, then the best flavoring is the flavoring of nike fish with a drying temperature of 800C and a long drying time of 8 hours
PENGARUH UMUR PANEN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA TEPUNG JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) Fredy Irawan
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.399

Abstract

Jagung merupakan pangan lokal unggulan di daerah Gorontalo yang dapat menjadi pangan alternatif. Komposisi yang ada pada jagung bervariasi tergantung umur dan varietasnya. Jagung manis yang dipanen dalam waktu lama dapat menurunkan kualitas produksi. Pemanfaatan jagung sebagai produk olahan hasil pangan lokal mampu meningkatkan nilai tambah jagung secara optimal, salah satunya dengan pengolahan tepung jagung. Pengolahan jagung menjadi bentuk tepung lebih dianjurkan, karena lebih tahan disimpan dan mudah digunakan untuk proses pengolahan lanjutan. Penelitian ini bertujuan menentukan umur panen jagung manis yang dapat diolah menjadi tepung dan karakteristik kimia tepung jagung manis pada umur panen 70, 80 dan 90 hari setelah tanam. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan umur panen jagung manis 70, 80 dan 90 hari setelah panen dengan 4 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu karakteristik kimia tepung jagung manis yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan tepung jagung manis memiliki rata-rata amilosa berkisar 8,88 – 20,94%, kadar air biji berkisar 56,70 – 77,10%, kadar air tepung jagung berkisar 3,61 – 5,59%, kadar abu berkisar 2,33 – 3,00%, lemak berkisar 6,52 – 17,50% pada tepung jagung manis. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jagung manis pada umur panen 90 HST dapat diolah menjadi tepung.
NUTRIFIKASI DAUN KELOR (Moringa oleifera) DENGAN VARIETAS UMUR DAUN BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU NORI RUMPUT LAUT (Gracilaria spp) Satria Wati Pade; Nur Fitriyanti Bulotio
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.406

Abstract

Indonesia adalah Negara yang memiliki iklim tropis. Berbagai tanaman mudah tumbuh subur di Indonesia khususnya di Sulawesi salah satu contoh adalah tanaman kelor. Daun kelor memiliki kandungan antikosidan yang tinggi dan kandungan vitamin A dan vitamin C. Di Gorontalo, daun kelor biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Masyarakat tidak begitu menyukai daun kelor bila diolah menjadi sayuran. Oleh karena itu perlu dilakukan paya diversifikasi produk pangan untuk meningkatkan nilai tambah daun kelor, memperpanjang daya simpan produk daun kelor dan untuk menarik peminat dari berbagai kalangan usia, antara lain diolah menjadi nori. Nori biasanya terbuat dari rumput laut. Gorontalo Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo yang potensial untuk pengembangan rumput laut. Rumput laut mengandung serat kasar yang tidak begitu banyak yaitu sebesar 4,15% jika dibandingkan dengan serat kasar daun kelor sebesar 7,92%, sehingga diharapkan dengan kombinasi antara rumput laut dan daun kelor dengan variasi umur daun yang berbeda dalam pembuatan nori rumput laut bisa menjadi salah satu olahan jenis pangan fungsional sebagai sumber vitamin C dan serat kasar. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan variasi umur daun kelor, yaitu perlakuan P1= Daun kelor tua 100% , P2= Daun kelor muda 100%, P3= Daun kelor tua 50% : Daun kelor muda 50%%, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati yaitu meliputi: kadar air, vitamin C dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan kadar air nori berkisar antara 11,5% – 12,3%, Vitamin C 2,6 s/d 3,1 mg/100g dan kadar serat kasar 4,6% s/d 5,1 %.
ANALISIS FAKTOR KENDALA INOVASI IKAN TERBANG ASAP (Hirundichthys oxycephalus) PADA UKM DI KABUPATEN MAJENE Indrastuti Indrastuti; Dahniar Dahniar
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.410

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis elemen kendala inovasi ikan terbang asap pada UKM di Kabupaten Majene, kemudian menentukan faktor kunci atau elemen kunci dari kendala yang dihadapi dalam masalah inovasi ikan terbang asap , penelitian ini dilakukan pada UKM yang memproduksi ikan terbang asap dengan sampel sejumlah UKM, pemerintah, dan pakar akademisi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah; kuisioner; wawancara dengan responden UKM; dan wawancara mendalam dengan pakar yaitu pemerintah dan akademisi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menerapkan ISM (Interpretative Structural Modelling). Hasil penelitian menunjukkan 12 faktor kendala inovasi ikan terbang asap yaitu kurangnya kompetensi SDM (7), dan kurangnya pemahaman manajemen usaha (10), adanya sistem nilai dan budaya (P8), Teknologi yang dianut oleh pelaku UKM (P5) merupakan faktor kunci dalam elemen kendala berada pada sektor IV (Independent).

Page 1 of 1 | Total Record : 8