cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink)
ISSN : 02169541     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Enerlink adalah jurnal yang diterbitkan 2 kali setahun oleh Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BPPT di bidang energi dan lingkungan. Enerlink is a scientific journal that publishes twice annually by Centre of Energy Technology and Chemical Industry of BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 2 (2017)" : 7 Documents clear
PENGARUH SUHU TERHADAP PROSES PRODUKSI BIOHIDROGEN DARI HASIL FERMENTASI PALM OIL MILL EFFLUENT (POME) Novio Valentino; Zulaicha Dwi Hastuti; Agung Wibowo
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4263

Abstract

Hidrogen dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembakaran langsung pada mesin atausebagai bahan bakar fuel cell yang menghasilkan hampir tidak ada emisi gas rumah kaca ketikadibakar dengan oksigen. Hidrogen dapat ditambahkan ke Compressed Natural Gas (CNG) untukmeningkatkan kinerja dan mengurangi polusi. Hidrogen diproduksi dari bahan yang kaya karbohidratdari limbah industri dengan proses fermentasi gelap. POME dengan kandungan bahan organik cukuptinggi sekitar 25.000 – 70.000 mg/L dapat diolah menjadi gas biohidrogen melalui proses fermentasigelap dengan melibatkan mikroba. Pengaruh suhu proses fermentasi dipelajari dalam penelitian ini.Uji preculture dilakukan pada kondisi suhu 37oC dan 55oC. Sludge dan POME diperoleh dari pabrukkelapa sawit di Bogor. Sludge dilakukan treatment dengan memanaskan apda suhu 90-95oC, selama90 menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa suhu 55oC meghasilkan gas yang lebih tinggidibandingkan dengan suhu 37oC, masing-masing sebesar 95 ml dan 53 ml. Kecepatan produksi gastertinggi terdapat pada waktu inkubasi 24 jam yang kemudian mengalami perlambatan produksi gasketika waktu inkubasi 48 jam.Kata Kunci : POME,hidrogen, fermentasi gelap, preculture
ANALISA BIAYA PEMBANGKITAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI SKALA KECIL Akim Windaru; Abdul Hamid Budiman
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4264

Abstract

Potensi panas bumi di Indonesia sangat besar. Namun demikian pengembangan panas bumi diIndonesia masih rendah. Salah satu kendala yang banyak dihadapi dalam pengembangan energipanas bumi saat ini adalah letaknya yang terisolir jauh dari beban, sehingga menyebabkan tingkatkeekonomianya kurang menarik. Tulisan ini menjelaskan biaya pembangkitan dari Pembangkit ListrikTenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil menggunakan tiga skenario yaitu Business as Usual (BAU),Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan Clean Development Mechanism (CDM). Hasil studimenunjukkan biaya pembangkitan rata-rata untuk PLTP skala kecil adalah 15,5 cent $/kWh untukskenario BAU, 14,36 cent $/kWh untuk skenario TKDN, 14,65 cent $/kWh untuk skenario CDM dan13,51 cent $/kWh untuk skenario gabungan. Dibanding dengan Pembangkit Listrik Tenaga Disel(PLTD), PLTP skala kecil masih lebih kompetitif, dimana biaya pembangkitan PLTD skala kecil adalah17,20 cent $/kWh.Kata Kunci : PLTP skala kecil, biaya pembangkitan, BAU, TKDN, CDM
PENGGUNAAN SURFAKTAN UNTUK MENGURANGI KANDUNGAN AIR DALAM EMULSI MINYAK Ade Syafrinaldi
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4265

Abstract

Emulsified oil is considered as rarely acceptable waste oil to be reused or even recycled. Efforts thathave been made in the last 40 years for the development of reliable and efficient demulsificationtechniques, cannot avoid the hard fact that it is not an easy task to break the most emulsified oil in shorttimes. For economic and operational reasons, it is necessary to separate the water from the emulsifiedoil to an acceptable level before it fed into the reclaimed fuel oil plant. One of the most widely usedmethods in treating water-in-oil emulsions is using surfactant to accelerate the emulsion breakingprocess. Three commonly used surfactants with high HLB value (Nonyl Phenol Ethoxylate NP-9,Tween 80 and Sodium Dodecyl Sulphate SDS), dissolved in toluene to form 25% solution, wereapplied into 100 ml emulsified waste lubricants originated from collectors in Balikpapan suburb. Thedemulsifying effects of all three surfactants were then examined, including the heat effect by warmingup the whole system. All experiments were carried out in different concentrations of each solution, 500ppm, 700 ppm, 900 ppm and 1100 ppm. The performance level was determined by the amount of waterseparated. The experiments continued using best performed surfactants and centrifugal separators tomeet the targetted water content in the waste lubricants by 5% and sediment content by 3% before itfed into the reclaimed fuel oil plant. Result showed that surfactants with the best demulsifying effectwere NP-9 and SDS. Both worked at the optimum concentration of 700 ppm. The targetted watercontent was successfully exceeded. Water content in the waste lubricants was reduced from 34% to0.08% with NP-9 and to 0.8% with SDS. Sediment content was however not as successful. Sedimentcontent in waste oil was reduced from 12.30% to only 6.56% with NP-9 and to only 5.11% with SDS.The removed water from the process needs further treatment before disposal. The concentration ofBOD 5, COD, oil and fat, and ammonia are beyond the quality standard of waste water. The wastewater passed only in pH, Dissolved Sulfide and Total Phenol.Keywords : surfactant, emulsion, demulsification effect, demulsifier solution, hydrophilic lipophilicbalance
APLIKASI FUEL CELL SEBAGAI BACKUP POWER PADA SEKTOR TELEKOMUNIKASI Abdul Hamid Budiman
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4266

Abstract

Penggunaan telekomunikasi yang semakin meningkat, mendorong perlunya peningkatan layanandalam menunjang kualitas koneksi dan sinyal telekomunikasi. Selama ini provider telekomunikasimenggunakan listrik PLN sebagai sumber utama daya listriknya. Namun di beberapa lokasi, masihterkendala suplai listriknya sehingga dibutuhkan sumber energi cadangan. Diesel generator banyakdigunakan sebagai backup power dalam pengoperasian base transceiver station (BTS). Hal ini akanmeningkatkan konsumsi diesel dalam penggunaan bahan bakar minyak berupa solar dan dilain pihakdapat merusak lingkungan karena gas buang yang dihasilkan. Untuk itu diperlukan sumber energialternatif pengganti diesel generator sebagai backup power. Fuel cell sebagai perangkat penghasillistrik yang ramah lingkungan dapat digunakan sebagai sumber energi. Dengan kelebihan yangdimilikinya, yaitu efisiensi yang tinggi, handal, mudah dan cepat pengoperasiannya serta tidak bisingmenjadikan fuel cell pilihan yang menjanjikan sebagai backup power pada sektor telekomunikasiKata Kunci : fuel cell, telekomunikasi, base transceiver station, backup power, energi alternatif, ramahlingkungan
POTENTIAL GREEN HOUSE GAS REDUCTION IN SODA CAUSTIC INDUSTRY Irhan Febijanto
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4267

Abstract

Indonesia memiliki kapasitas industri kaustik soda yang besar di Asia Tenggara. Untuk mengetahuipotensi pengurangan Gas Rumah kaca (GRK) pada industri kasutik soda di Indonesia. Pada makalahini dengan menggunakan metodologi SA_AM001 tentang Pengenalan Efisiensi Tinggi Elektroli diPabrik Pengolahan Soda kaustik, dihitung potensi pengurangan emisi gas rumah kaca dari konsumsienergi elektrolizer. Metodologi ini telah diterapkan di Kerajaan Arab Saudi, dan dengan menggunakanbeberapa asumsi diimplementasikan di Republik Indonesia.Kata kunci : pengurangan emisi, kaustik soda industri, skema jcm, metodologi
FORMULASI KATALIS BIFUNGSIONAL SINTESA DME SATU TAHAP Ade Syafrinaldy; Zulaicha Dwi Hastuti
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4268

Abstract

This research is aiming to formulate the most appropriate catalyst which is expected to be able to directthe reaction to form Dimethyl Ether (DME) in direct synthesis process using dual catalyst. It iscommonly known that DME can be formulated from synthetic gasses reaction, H2 and CO. Theprocess might be gone through indirect synthesis, methanol synthesis and dehydration, or directsynthesis in which both rections take place in one reactor. Both processes, indirect or direct synthesis,each would be needed the right catalyst. Dual catalyst is prepared by mixing physically methanolsynthesis catalyst and methanol dehydration to form DME.As methanol dehydration catalyst, we makeuse of HZSM-5 with Si/Al ratio of 25 and 90. This HZSM-5 is firstly calcined for 6 hours at 500°C. Thetemperature is raised to 500°C from ambient with pace of 5°C/min. The methanol synthesis catalyst isbased on CuZnAl, made by copresipitation method from Cu(NO3)2.3H2O; Zn(NO3)2.4H2O andAl(NO3)2.9H2O. The catalyst was then calcined at 350 ° C for 6 hours, then reduced by hydrogen 10 ml /minute and nitrogen 90 ml / min at 240 ° C, atmospheric pressure for 10 hours to remove the Ocomponent in the catalyst. The catalyst that has been prepared is CuZnAl with a ratio of 4: 3: 1; 5: 3: 1and 6: 3: 1. The ratio of the two catalysts is 2: 1 for Cu / Zn / Al2O3: HZSM-5. The catalytic activity test iscarried out using a continuous tubular fixed-bed microactivity reactor. The reaction is carried out at apressure between 3 - 4 MPa and a temperature in the range of 200 - 300 ° C. T The flow rate of thereactant gas is controlled by a mass flow controller, with a mass of 1 g of catalyst. Through the catalyticactivity test, the best methanol synthesis was given by CuZnAl catalyst with a 5: 3: 1 molar ratio, whichresulted in a CO conversion of 19.66% greater than the commercial catalyst of CZA-Sudchemie of15.62%. As for dehydration of methanol, the best result was given by Sudchemie-ZSM-5 catalyst withSi /Al 25 ratio resulting in higher DME concentration (0.90%) than Si /Al 90 ratio (0.45%).Keywords : direct synthesis, methanol synthesis, methanol dehydration, dual catalyst, CO conversion
ANALISIS BIAYA MANFAAT BERBAGAI TEKNIK REMEDIASI AIR TERPRODUKSI DARI KEGIATAN INDUSTRI MINYAK DAN GAS BUMI Nugroho Adi Sasongko; Rani Agustiani; Khusnul Khotimah
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v13i2.4269

Abstract

Industri minyak dan gas memainkan peran penting dalam menghasilkan keuntungan bagi devisa danpembangunan ekonomi Indonesia. Kegiatan eksplorasi dan produksi memberikan dampak negatifterhadap lingkungan, contohnya adalah air terproduksi.Untuk mengatasi kondisi lingkungan yangterkontaminasi minyak dan gas bumi dapat dilakukan dengan bioremediasi. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk membandingkan dan menganalisis efisiensi setiap teknik bioremediasi mengenai biayadan manfaat kualitatif dan kuantitatif yang digunakan untuk penanganan industri limbah minyak dangas bumi. Manfaat lain yang dapat didapat yaitu untuk mendukung rasionalisasi Undang-UndangPerlindungan dan Pengelolaan Lingkungan (PPLH) no. 128 pada tahun 2003, antara lain denganmenggunakan bioremediasi sebagai teknik pemulihan lingkungan yang terkena kontaminasi danmembantu industri minyak dan gas dalam pengelolaan limbah. Hasil penelitian ini menemukan bahwateknik bioremediasi yang dapat digunakan meliputi: (1) pengolahan landfarming; (2) pengolahan biocell; (3)pengolahan composite; (4) pengolahan bio-venting; (5) Pengolahan bio-slurry; (6) pengolahanphytoremediation. Teknik bioremediasi terbaik adalah landfarming dan fitoremediasi. Landfarmingmenghabiskan biaya sebesar USD 30 – USD 70 /m3. Proses pengolahan ini dapat mengurangi TPH91,15% selama empat minggu masa pemulihan. Fitoremediasi memakan biaya USD 21,53 - USD75,35/m3. Proses pengolahan ini dapat mengurangi TPH 36% selama satu setengah minggu masapemulihan. Metode ini menyumbang antara 1-10% dengan biaya produksi minyak mentah dari ladangminyak dan gas.Kata kunci: biodegradasi, bioremediasi, analisis biaya-manfaat, perlindungan lingkungan,industri air minum, minyak dan gas.

Page 1 of 1 | Total Record : 7