cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 25 No. 2 (2016)" : 7 Documents clear
Preface Kalpataru Volume 25, nomor 2, tahun 2016 Kalpataru Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peninggalan Megalitik di Wilayah Perbatasan Kalimantan: Kontak Budaya Antara Kepulauan Indonesia dan Serawak Bagyo Prasetyo
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.98

Abstract

Abstract. As a region in borderline, North Kalimantan is rich of cultures, especially megalithic remains. The lack of facilities and infrastructures resulted in minimum access to these sites, so that explorations can’t be done completely. The problem that appears is that the length of cultural contact between borders is still unknown. The purpose of this study is to explain the connection of megalithic cultures of North Kalimantan (Indonesia), Serawak (Malaysia), and also other megalithic cultures in Indonesia. The method used in this study is cultural diffusion approach through literature studies about megalithic in the border region of North Borneo and Sarawak as well as Indonesia in general. The results shows that the distribution of stone jars in the borderline regions indicated a cultural connection between Sarawak in Malaysia and several places in Indonesia (Central Sulawesi, Samosir, Toraja, and Bima). Abstrak. Sebagai wilayah perbatasan, Kalimantan Utara mengandung kekayaan budaya terkait dengan peninggalan megalitik. Kurangnya sarana dan prasarana mengakibatkan akses ke situssitus tersebut sangat sulit untuk dicapai, sehingga eksplorasi yang telah dilakukan dari beberapa kegiatan belum bisa menjangkau keseluruhan. Permasalahan yang muncul dengan keterbatasan itu adalah belum diketahui secara jelas sejauh mana kontak budaya antara megalitik wilayah perbatasan Kalimantan Utara dengan megalitik yang ada ditempat lain. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran hubungan antara megalitik di perbatasan Kalimantan Utara dengan megalitik di Serawak serta megalitik di Indonesia. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan difusi budaya melalui studi literatur hasil-hasil penelitian terhadap megalitik di wilayah perbatasan Kalimantan Utara dan megalitik yang ada di Serawak dan di Indonesia secara umum. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa didasarkan atas persebaran bentuk-bentuk tempayan batu di wilayah perbatasan menunjukkan adanya koneksitas budaya dengan tempayantempayan batu di Serawak dan beberapa tempat lain di Indonesia (Sulawesi Tengah, Samosir, Toraja, dan Bima). 
Prospek Sumber Daya Arkeologi Prasejarah Pulau Rote Ndao dalam Konteks Pengembangan Kawasan Perbatasan Nasruddin Nasruddin
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.101

Abstract

Abstract. The potential of cultural heritage especially prehistoric sites along the karst hills on Rote island has significant value in the context of understanding and knowledge about archeology in East Nusa Tenggara. Cave sites in Rote island were started to be inhabited since the late Pleistocene and early Holocene, based on the presence of human settlement traces found in the caves and niches. Another historical evidence was a bronze axe which showed that Rote Island was a strategic region on Paleometalic era. The fragments of potteries, flakes, animal bones, dan mollusc shells found in the area sprang some questions if this area was used only as a settlement or had any other purposes. The aim of this research is to reveal the archaeological resources owned by the island, along with its geological condition. The method applied in this study is using field observation (survey) followed by excavation on prehistory sites that represent Rote Ndao human settlements. Numerous lithic artifacts were gathered for reasearch data, such as flakes, pottery, and mollusc shell and bone deposits. These data about prehistoric karst in Rote Ndao island have important value to reveal the migration path, particularly its geographic position as the foremost island and borderline region between East Timor and Australia. Abstrak. Potensi warisan budaya terutama situs-situs prasejarah di sepanjang bukit-bukit karst di Pulau Rote memiliki nilai penting dalam konteks pemahaman dan pengetahuan arkeologi Nusa Tenggara Timur. Situs-situs gua karst di Pulau Rote, dimulai pada masa akhir Pleistosen dan awal Holosen dengan adanya jejak-jejak hunian manusia di gua dan ceruk. Bukti historis lainnya adanya temuan kapak perunggu yang menunjukkan bahwa Pulau Rote merupakan wilayah yang strategis pada era paleometalik. Ditemukannya berbagai jenis pecahan tembikar, serpih dan fragmen tulang fauna, sisa-sisa makanan moluska menimbulkan beberapa pertanyaan terhadap lokasi ini di masa lalu, apakah situs ini memiliki fungsi hunian semata, ataukah mempunyai fungsi lain. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap sumberdaya arkeologi beserta kondisi geologi yang dimiliki Pulau Rote. Metode yang digunakan yaitu melakukan observasi lapangan (survei) dan dilanjutkan dengan ekskavasi terhadap situs yang memiliki indikasi kuat sebagai hunian prasejarah Rote dan dianggap mewakili situs hunian prasejarah Rote Ndao. Dari penelitian ini diperoleh sejumlah data artefak litik berupa alat-alat serpih, tembikar dan deposit cangkang moluska dan tulang. Potensi data arkeologi (prasejarah karst) Pulau Rote Ndao memiliki nilai penting untuk mengungkap jalur migrasi, terutama posisi geografinya sebagai pulau terdepan dan wilayah perbatasan antara Timor Leste dan Australia.
Potensi Arkeologi di Pulau Alor I Nyoman Rema; Hedwi Prihatmoko
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.109

Abstract

Abstract. Alor is one of the outer islands in Indonesia bordered with Democratic Republic of Timor Leste which has numerous significant cultural heritages from the past, from megalithic tradition to the development of major religions in Indonesia. This article is written to share about archaeological potentials in Alor island which can be developed to strengthen national identity, patriotism, and improve the prosperity of Alor community. The data of this research was collected through literature reviews. The completed data was then managed using descriptive-qualitative method by defining the archaeological remains, the function, and the meaning based on the result of the research, then to sum it up, a conclusion. Some archaeological potentials in this island are misba, traditional houses, moko, bulding structures, old Quran, burial urns, and mystical-growing pots. Those archaeological potentials prove that Alor community still upholds their high cultural values and also become a communication media that establishes a harmony with God, humans, and environment.Abstrak. Alor merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste dan memiliki berbagai tinggalan budaya penting dari masa lampau, berupa tradisi megalitik hingga berkembangnya agama-agama besar di Nusantara. Tulisan ini bertujuan mengetahui potensi arkeologi di Pulau Alor, yang kemudian perlu dikembangkan untuk memperkuat karakter dan jati diri, cinta tanah air, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Alor. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka. Setelah data terkumpul, pengolahan dilakukan secara descriptif-kualitatif dengan mendeskripsikan tinggalan arkeologi, fungsi dan maknanya berdasarkan hasil penelitian yang kemudian diakhiri dengan penyimpulan. Potensi tinggalan arkeologi di pulau ini berupa misba, rumah adat, moko, struktur bangunan, Al Quran kuno, kubur tempayan, kubur ceruk, dan periuk tumbuh. Berbagai potensi arkeologi tersebut membuktikan tingginya nilai peradaban masyarakat Alor, sekaligus sebagai media komunikasi dalam membangun hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungannya.
Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia –Papua Nugini Klementin Fairyo
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.113

Abstract

Abstract. The existence of rock art in Keerom area is very interesting to study because located in the border area between Indonesia and Papua New Guinea. The Purpose of this Papua is to determine the different forms of rock art in Keerom area regarding to the function and its meaning in the past and also in order to build. An understanding of the culture in the border region. The method used in this study consist of literature studies field observations and interview and use morphological and piktoral in the analysis processed. The result showed about the form of figurative and non figurative painting on cave walls, especially in the Web and Kibay sites. The meaning of the rock art associated with a symbol of religy and as a symbol of social comunications. The role of the rock arts shows about identify and also has and important meaning in an attempt to preserve the indigenous territories.Abstrak. Penelitian  tentang lukisan dinding gua di Keerom yang berbatasan dengan Papua Niugini menarik untuk dikaji. Informasi dari masyarakat menyebutkan bahwa di wilayah perbatasan banyak lukisan dinding gua yang belum diteliti secara mendalam. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui ragam bentuk lukisan dinding gua di Keerom, fungsi dan makna lukisan dining gua tersebut bagi masyarakat pendukungnya serta peran lukisan dinding gua dalam mempertahankan wilayah perbatasan Indonesia. Metode penelitian yag digunakan yaitu pengumpulan data berupa studi kepustakaan, observasi lapangan dan wawancara. Pengolahan data meliputi analisis morfologi, analisis teknologi dan cara perekaman piktorial. Hasil penelitian menunjukkan bentuk lukisan dinding gua di Web dan Kibay yaitu lukisan figuratif dan non figuratif. Hasil karya seni tersebut merupakan himpunan simbol-simbol atau lambang-lambang yang mengandung nilai kehidupan. Makna lukisan adalah makna religi, komunikasi dan sosial. Peran lukisan dinding gua adalah sebagai tradisi berlanjut, jati diri dan mempertahankan wilayah adat. 
Eksplorasi Geoarkeologi Pulau Sabu: Salah Satu Pulau Terdepan di Nusa Tenggara Timur M. Fadhlan S. Intan
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.116

Abstract

Abstract. Savu island with its cluster islands including Sabu Raijua Regency is located in the south of Republic of Indonesia. Researches conducted in East Nusa Tenggara began in 1950s by Th. Verhoeven in Flores and Timor islands. Next research was by National Research Center of Archaeology in Flores, Timor and Sumba (1970), in Atambua and Savu (1980), and in Savu (2010). The researches in Savu so far were focused more on archeology and ethnography, while geological aspect has not been done yet. This article will try to explain about geological condition in Savu island in general.The purpose and goal of the research is to determine the geological condition Savu in detail, including landscape, rock composition, and geological structure. The method used, is the survey. The results shows that Savu consists of plain morphological unit and feeble wave morphological unit with altitude 0-350 meters above sea level. Rock composition consists of marl, tufa, limestone, alluvial, and passed by normal fault. Archaeological data in Savu island are in form of paleolithic, megalithic, indigenous villages, and caves. Abstrak. Pulau Sabu dengan gugusan pulaunya termasuk Kabupaten  Sabu Raijua, terletak di selatan Negara Republik Indonesia. Penelitian di Nusa Tenggara Timur berawal oleh Th. Verhoeven tahun 1950an di Pulau Flores dan Timor. Selanjutnya Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1970 di Flores, Timor, dan Sumba, tahun 1980 di Atambua dan Pulau Sabu, serta tahun 2010 di Pulau Sabu. Penelitian yang telah dilaksanakan di Pulau Sabu selama ini, lebih banyak terfokus pada arkeologi, dan etnografi, sedangkan penelitian yang bersifat geologi belum pernah dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan penelitian di Pulau Sabu adalah bagaimana kondisi geologi di daerah tersebut, terkait dengan keberadaan situs arkeologi. Maksud dan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi Pulau Sabu secara detil yang meliputi bentang alam, batuan penyusun, dan struktur geologi. Metode yang digunakan, adalah  survei. Hasil penelitian di Pulau Sabu terdiri dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah, dengan ketinggian adalah 0-350 meter diatas permukaan air laut. Batuan penyusun adalah napal, tufa, batugamping, dan aluvial, serta dilalui Sesar Normal. Kepurbakalaan di Pulau Sabu berupa paleolitik, megalitik, perkampungan adat, dan gua.
Appendix Kalpataru Volume 25, nomor 2, tahun 2016 Kalpataru Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7