cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 1 (2017)" : 6 Documents clear
Ragam Hias dan Inskripsi Makam di Situs Dea Daeng Lita Kabupaten Bulukumba. Makmur Makmur
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.88

Abstract

Ragam hias makam di Nusantara memperlihatkan percampuran, kaligrafi yang dibawah Islam dengan unsur budaya lokal pada pemberian gunungan (meru) dan ragam hias floralistik di makam. Penelitian ini, bertujuan mengungkap kebudayaan Islam pada masa lampau melalui ragam hias dan inskripsi makam. Agar dapat memberikan gambaran, bagaimana kebudayaan dan ajaran Islam terintegrasi dan menyatu kedalam budaya lokal masyarakat. Dalam pencapaiannya digunakan teknik observasi dan analisis dari segi keanekaragaman bentuk, fungsi serta makna ragam hias dan inskripsi. Di kompleks Makam Dea Daeng Lita memperlihatkan paduan jirat gunungan yang terbentuk dari ragam hias sulur-sulur dengan nisan menhir serta inskripsi lafadz zikir dan ketahuidan sebagai refleksi ajaran tasawuf mengambarkan harmonisasi ajaran Islam dengan kebudayaan lokal dalam membentuk peradaban di Kabupaten Bulukumba.Kata kunci : Ragam hias, inskripsi, jirat, nisan.
Ragam Hias pada Makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros Sulawesi Selatan. Yadi Mulyadi; Muhammad Nur
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.222

Abstract

Ragam hias merupakan salah satu atribut pada makam Islam yang memiliki makna budaya dan menjadi objek kajian arkeologi Islam. Keberadaan ragam hias ditemukan juga pada makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros. Mesjid Turikale ini merupakan mesjid kuno dengan tipe mesjid makam, dimana arsitektur mesjid dengan arsitektur makam merupakan satu rangkaian bangunan secara utuh. Semua artefak kaligrafi pada makam di Komplek Mesjid Makam Turikale dapat digolongkan ke dalam aliran Tsulus atau Khat Tsulus. Tidak ada kaligrafi di komplek makam ini yang meniru atau memanipulasi bentuk makhluk hidup apalagi anthropomorphic. Gejala ini berbeda dengan beberapa komplek makam di Sulawesi Selatan. Adapun ragam hias pada bangunan makam, menganut paham representative art dan menghindari aktivitas pengkultusan pada sosok selain Allah. Sulur-suluran dan bunga ditampakkan sangat vulgar dengan kelopak bunga yang menengadah, yang dalam falsafah Bugis-Makassar, menyimbolkan pandangan hidup yang terbuka dan progressif. Abstract. Ornament is one of the attributes in the Islamic cemetery that has cultural significance and become the object of Islamic archaeological study. The existence of ornament were also found in the tomb at the Tomb Mosque Complex in Turikale in Maros. Mosque of Turikale is an ancient mosque by mosque-type tombs, where the architecture of the mosque with the tomb architecture is a series of buildings in their entirety. All artifacts calligraphy on a tomb in the Tomb Mosque Complex in Turikale can be classified into Khat Tsulus. No calligraphy in this tomb complex that mimics or manipulate living things especially anthropomorphic form. These symptoms differ with some graveyard in South Sulawesi. The ornaments on the tomb building, adopts representative art and avoid the cult activity on the figure besides Allah. Tendrils and flowers revealed a very vulgar with upturned petals, which in philosophy Bugis-Makassar, symbolizes a view of life that is open and progressive.
Signifikansi tembikar tera-tali dari situs Ceruk Landai (Merangin, Jambi) dalam rekonstruksi ekspansi neolitik di bagian barat Indonesia Mohammad Ruly Fauzi
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.229

Abstract

AbstrakEkskavasi situs Ceruk Landai (Kabupaten Merangin, Jambi) berhasil mengungkap adanya dua fase hunian neolitik yang berbeda melalui kajian artefaktual dan kontekstual pada temuan-temuannya. Data menarik diperoleh dari analisis ragam hias tera-tali atau cord-marked, jala, dan belah ketupat yang dihasilkan oleh alat tatap (paddle) yang digunakan (i.e. teknik paddle impressed). Tembikar bermotif hias cord-marked pada lapisan US c di Ceruk Landai membuktikan adanya hubungan antara masyarakat neolitik di Sumatra dengan kompleks tembikar Bau-Malay di Asia Tenggara Daratan. Hal tersebut menjadi bukti adanya kemungkinan ekspansi budaya neolitik dari arah barat melalui Semenanjung Malaya yang kemudian masuk ke Sumatra setidaknya sejak 3000 tahun yang lalu.Kata kunci: tera-tali, tembikar, ragam-hias, neolitikAbstractArchaeological excavation at Landai Rockshelter (Merangin District, Jambi) successfully unearthed two different phases of neolithic habitation through artifactual and contextual analysis on its remains. Interesting result came from the analysis on cord-marked, nets, and rhombus motif appeared on pottery fragments which are made by paddle-impressed technique. Cord-marked pottery from US c layer in Landai Rockshelter established a possible link between neolithic pottery traditions in Sumatra with the Bau-Malay pottery complex in the mainland of Southeast Asia. It became the evidence of a possible expansion of neolithic culture from the west through the Malay Peninsula then move southward into Sumatra at least 3000 years ago.Keywords: cord-marked, pottery, decoration, neolithic
Penggunaan Ubin-ubin Enkaustik di Nusantara pada Abad Ke-19-20 Sarjiyanto Sarjiyanto
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.234

Abstract

AbstractTiles are an essential element of a design or architecture. As part of the work of architecture, the floor can be compacted soil, marble rocks, organic types such as wood, bamboo etc. Encaustic tiles is one of the products which are the elements to meet the needs and desires of man both in terms of technical, artistic or symbolic. This tile was first introduced in Europe in the 1800s. In fact there are several archaeological sites in Indonesia there are tiles of this type. How these tiles can get to the archipelago and how the use and function. The method used in this research is descriptive qualitative research method. It is by doing a search of facts with proper interpretation, by studying the problems of society in a particular situation or period including the relationships, attitudes and ongoing process and its influence on the phenomenon. The purpose of writing this article to give an overview on some of the facts about the existence of the tiles from Europe and its use in the archipelago. The results obtained showed enkaustik tiles are spread evenly from the eastern region to the western region of the archipelago and placed in various types of buildings and parts of architectural space. Keywords: tile, encaustic, architecture, decorative arts, symbol, identity AbstrakUbin merupakan elemen penting dari sebuah rancang bangun atau arsitektur. Sebagai bagian karya arsitektur lantai dapat berupa tanah yang dipadatkan, batuan marmer, jenis organik seperti kayu, bambu dan sebagainya. Ubin encaustic (enkaustik) merupakan salah satu produk yang merupakan elemen untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat manusia baik dalam hal teknis, seni maupun simbolik. Ubin ini dikenalkan pertama kali di Eropa tahun 1800an. Faktanya ada beberapa situs arkeologi di Indonesia terdapat ubin-ubin jenis ini.  Bagaimana ubin ini dapat sampai ke Nusantara dan bagaimana penggunaan dan fungsinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Ini dengan melakukan pencarian fakta-fakta dengan interpretasi yang tepat, dengan mempelajari masalah masyarakat dalam situasi atau masa tertentu termasuk dengan hubungan, sikap dan proses yang sedang berlangsung dan pengaruhnya terhadap suatu fenomena. Tujuan penulisan artikel ini untuk memberikan gambaran atas beberapa fakta tentang keberadaan ubin-ubin yang berasal dari Eropa ini dan penggunaannya di Nusantara. Hasil yang diperoleh menunjukkan ubin-ubin enkaustik ini tersebar secara merata dari wilayah timur hingga wilayah barat Nusantara dan di tempatkan di berbagai jenis bangunan dan bagian ruang sebuah bangunan arsitektur. Kata kunci: ubin, encaustik, arsitektur, seni hias, simbol, identitas
Perkembangan Ragam Hias Pada Batu Nisan Tipe Malik As-Shaleh Abad 13 - 17. libra hari inagurasi
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.259

Abstract

Decorative variety is a decorative element, its main function as a decoration to beautify the appearance of an object so that it becomes a work of art. The function of the decoration is shown through the integrated forms, textures, materials, and art elements. An object decorated with decorative or decorative elements is a tombstone made of stone. Decorative on the gravestone is formed by sculpting then produce certain forms adorn the headstone so it looks not plain. The development of tombstones of this type and their decorations include the dimensions of time and space. The Malik As-Shaleh type headstone originally evolved from the gravestone on the tomb of Sultan Malik As-shaleh in the 13th century. The tombs spread eastwards to Sumatra, Banten, Lombok, and Gowa in South Sulawesi in the 17th century. The variety of decoration on the gravestone Malik As-Shaleh type in its development is distinguished two groups namely the first group of ornamental fashions whose existence always persists from the beginning to the end of its development and the two groups of decoration whose existence is lost or replaced with other types of decorations. The standard Malik As-Shalh standard headstone is in the tomb of Sultan Malik As-Shaleh. All kinds of decorative elements are on the tombstone so it looks beautiful or highway. The similar type of grave on another tomb has a simple ornamental variety. AbstrakRagam hias merupakan elemen dekoratif, fungsi utamanya sebagai hiasan untuk memperindah penampilan suatu obyek sehingga menjadi sebuah karya seni. Fungsi ragam hias tersebut ditunjukkan melalui bentuk, tekstur, bahan, serta unsur seni yang terpadu. Suatu obyek yang diberi elemen ragam hias atau dekoratif ialah nisan yang dibuat dari bahan batu. Ragam hias pada nisan dibentuk dengan cara dipahat selanjutnya menghasilkan bentuk-bentuk tertentu menghiasi nisan sehingga terlihat tidak polos. Perkembangan batu nisan tipe tersebut beserta ragam hiasnya mencakup dimensi waktu dan ruang. Nisan tipe Malik As-Shaleh pada awalnya berkembang dari nisan pada makam Sultan Malik As-shaleh pada abad ke-13. Selanjunya nisan  menyebar ke arah timur ke Sumatra, Banten, Lombok, dan Gowa di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Ragam hias pada nisan tipe Malik As-Shaleh dalam perkembangannya dibedakan dua kelompok yakni pertama kelompok ragam hias yang keberadaannya selalu tetap ada dari awal hingga akhir perkembangannya dan kedua kelompok ragam hias yang keberadaannya hilang atau diganti dengan ragam hias jenis lainnya. Nisan tipe Malik As-Shaleh yang standar terdapat  pada makam Sultan Malik As-Shaleh. Semu jenis elemen dekoratif terdapat pada nisan tersebut sehingga terlihat indah atau raya. Adapun nisan tipe sejenis pada makam lainnya memiliki ragam hias yang sederhana.
Preface Kalpataru Volume 26, nomor 1, tahun 2017 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.309

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 6