cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2025): April" : 26 Documents clear
The politics of hero myth in President Jokowi's biopic film (2013) Muhammad Dzaky Abdullah; Ari J. Adipurwawidjana; Muhamad Adji
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.34373

Abstract

Among the prominent Indonesian biographical films concerning "national heroes" that emerged in the 2010s is "Jokowi" (2013). This film narrates the life of Joko Widodo (Jokowi), who was then serving as the Governor of Jakarta and was released a month prior to the announcement of his presidential candidacy in the 2014 elections. The film predominantly focuses on Jokowi's personal life, including his romantic experiences, rather than his political career. This emphasis underscores the significance of personal character construction in creating a leader's myth in Indonesia. Employing the methodologies of film narratology and mythological semiotics, this article examines how the film, through its scenes, plot, and characterization, constructs a myth of Jokowi that bolsters his image as a political leader. The depiction of Jokowi as a masculine, family oriented, and decisive leader presents him as an "ideal" character. This article posits that such portrayal endeavors to integrate the character into the cultural mythology as a "hero." The film's narrative, which follows a heroic pattern and aligns the character with Javanese wayang heroes, positions Jokowi as a classical hero. The marketing of the biopic as a "true story" carries political implications, specifically for the 2014 election and Jokowi's image, and more broadly for the ideological discourse of the state, particularly Bapakism and the paternal function of the state.   Di antara film arus utama Indonesia bergenre biopik mengenai “pahlawan nasional” yang muncul pada dekade 2010, terdapat film Jokowi (2013). Film ini mengangkat kisah hidup Joko Widodo (Jokowi), yang pada waktu itu adalah Gubernur DKI Jakarta, dan dirilis sebulan sebelum pengumuman pencalonannya sebagai presiden pada pemilu 2014. Film ini berfokus pada kisah kehidupan pribadi Jokowi seperti pada aspek romansanya dan bukan pada perjalanan politiknya. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi pribadi tokoh merupakan bagian penting dalam penciptaan mitos seorang pemimpin di Indonesia. Menggunakan pendekatan naratologi film dan semiotika mitologi, artikel ini menelusuri cara film melalui adegan-adegan, plot, dan karakterisasi melakukan pembangunan mitos pada tokoh Jokowi yang mendukung Jokowi sebagai tokoh politik. Penggambaran tokoh Jokowi dalam film sebagai laki-laki maskulin, family man, dan pemimpin tegas mempresentasikan tokoh sebagai “ideal”. Artikel ini berargumen bahwa hal tersebut merupakan usaha untuk menyuntikkan tokoh pada kumpulan mitologi kultural sebagai seorang “hero”. Naratif film yang memiliki pola heroik dan penyandingan tokoh dengan pahlawan wayang Jawa mengonstruksi Jokowi sebagai seorang hero klasik. Pemasaran biopik sebagai “kisah nyata” memiliki implikasi politis: untuk kepentingan pemilihan umum 2014 dan citra Jokowi secara spesifik,  dan untuk wacana ideologis negara, yakni Bapakisme dan fungsi paternal negara, secara umum.
The challenge of local culture representation in the movie "Welcome to Jogja" Khozinatul Asror; Vani Dias Adiprabowo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.34673

Abstract

The Special Region of Yogyakarta is renowned for its rich cultural heritage and historical significance in Indonesia. It is also a source of inspiration for numerous cinematic works. Despite the abundance of films depicting Yogyakarta, previous studies have not thoroughly elucidated its cultural significance. This research employs a qualitative methodology to examine the cultural elements of Yogyakarta as portrayed in the film "Welcome to Jogja." The objective of this study is to explore the cultural values of Yogyakarta as implied in the film. The data collection methods included observation, documentation, and a literature review of prior research. This study identifies and analyzes the representation of Yogyakarta's cultural values as reflected in the film "Welcome to Jogja." The findings indicate that the film offers a comprehensive depiction of Mataraman Javanese culture through visual and symbolic elements such as lurik clothing, dance, jemparingan, Labuhan Parangkusumo rituals, karawitan, and batik. These cultural icons are presented through props and courtyard designs. The film not only showcases the aesthetic beauty of Javanese culture but also invites the audience to comprehend the profound meanings underlying it all. Consequently, this research contributes to the understanding and appreciation of Yogyakarta's cultural richness and promotes regional cultural heritage in the film industry context.   Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan budaya dan sejarahnya. Yogyakarta juga diketahui sebagai kota yang menjadi sumber inspirasi berbagai karya film. Oleh karena banyaknya film mengenai Yogyakarta pada beberapa kajian sebelumnya tidak secara kompherensif menjelaskan budaya Yogyakarta. Melalui pendekatan kulaitatif, penelitian ini akan menguraikan mengenai beberapa budaya di Yogyakarta yang ada pada Film “Welcome to Jogja”. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai budaya Yogyakarta yang tersirat dalam film tersebut. Dengan pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan studi literatur berdasar penelitian terdahulu, penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis representasi nilai budaya Yogyakarta yang tercermin dalam film "Welcome to Jogja". Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menghadirkan representasi budaya Jawa Mataraman yang kaya melalui elemen visual dan simbolis seperti baju lurik, tari, jemparingan dan ritual Labuhan Parangkusumo, karawitan, membatik. Ikon visual tersebut muncul dalam bentuk properti dan desain pelatarannya. Film ini tidak hanya memperlihatkan keindahan budaya Jawa, tetapi juga mengajak penonton untuk memahami makna mendalam di baliknya. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dan menghargai kekayaan budaya Yogyakarta, serta mempromosikan warisan budaya daerah dalam konteks industri perfilman.
Practices of interfaith moderation on Punjungan tradition in Kecis Village Elsha Pipit Nathalia; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.36643

Abstract

The residents of Kecis Village demonstrate their commitment to both Christianity and Islam by fostering interfaith tolerance. The practice of the punjungan tradition, observed during Christmas and Eid, facilitates moderation in the interfaith community. Punjungan represents an expression of goodwill towards individuals of different faiths, marked by the sharing of food to commemorate religious holidays. This study examines the model of interfaith moderation cultivated through the punjungan tradition within the framework of religious moderation and Bourdieu's social practice theory. Employing a qualitative research methodology, this study focuses on ethnographic analysis through interviews, observations, and a literature review. The findings indicate that punjungan, as a symbol of communal affection, effectively rationalizes the practice of the punjungan tradition, thereby promoting tolerance and harmony among interfaith communities in Yogyakarta. The significance and rationalization of the punjungan tradition serve as mechanisms for establishing habitual moderation through the process of interfaith community habituation. The integration of religious moderation concepts within the punjungan tradition is conducted systematically, offering a model to mitigate the risk of disintegration within interfaith communities.   Masyarakat Desa Kecis menganut agama Kristen dan Islam dengan menjaga toleransi antar lintas agama. Hadirnya praktik tradisi punjungan yang dilakukan pada Natal dan Idulfitri menciptakan moderasi masyarakat lintas agama. Punjungan adalah bentuk tali kasih kepada sesama berbeda keyakinan untuk mengabarkan hari besar agama dengan memberikan makanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis model praktik moderasi lintas agama yang terhabituasi tradisi punjungan dalam konsep moderasi beragama dan teori praktik sosial Bourdieu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, berfokus pada studi etnografi melalui wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan, punjungan sebagai bentuk tali kasih mampu menciptakan rasionalisasi praktik tradisi punjungan,  toleransi dan harmonisasi masyarakat lintas agama. Melalui pemaknaan dan rasionalisasi praktik tradisi punjungan menjadi alat untuk menciptakan moderasi yang terhabituasi melalui proses habituasi masyarakat lintas agama. Proses habituasi konsep moderasi beragama dilakukan secara terintegrasi dalam proses praktik tradisi punjungan, sehingga dapat menjadi model untuk mencegah ancaman disintegrasi masyarakat lintas agama.
Nyabis tradition in Madura: A meta-ethnographic study Arina Mufrihah; Ilfiandra Ilfiandra; Nandang Budiman
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.36966

Abstract

Nyabis is one of the pesantren (Islamic boarding school) traditions in Madura which depicts the essence of the relationship between students and teachers. Unfortunately, there are no previous articles that discuss the meaning and concept of nyabis comprehensively. This article aims to synthesize previous literature on nyabis with interpretive methods and critical examination to construct an integrate concept of nyabis in Madura through meta-ethnographic methods. The meta-ethnographic method with seven stages of meta-synthesis produces the concept of nyabis which consists of the definition, purpose, and context of nyabis; the values and figures in; the scope and the orientation of nyabis. Nyabis is a tradition of visiting Kiai (ulama) in Islamic boarding schools carried out by students and the community to fulfill short-term goals, namely problem solving and decision making; and the long-term goal, namely gaining religious knowledge as a foundation for a blessed life in this world and the hereafter. Kiai have various roles including educators, mentors and spiritual teachers to meet the needs of people's lives in the scope or personal, social, educational, economic and spiritual aspects.   Nyabis merupakan salah satu tradisi pesantren di Madura yang menggambarkan tentang kelestarian esensi hubungan antara murid dan guru. Sayangnya, belum ada artikel terdahulu yang membahas makna dan konsepnya secara utuh. Artikel ini bertujuan mensintesis literatur terdahulu tentang nyabis dengan metode interpretatif dan pemeriksaan kritis untuk mengonstruk konsep utuh nyabis di Madura melalui metode meta-etnografi. Metode meta-etnografi dengan tujuh tahapan meta-sintesis menghasilkan konsep utuh tentang nyabis. Nyabis adalah tradisi silaturahmi kepada Kiai (ulama) di pondok pesantren yang dilakukan oleh santri maupun masyarakat untuk memenuhi tujuan jangka pendek, yaitu pemecahan masalah dan pengambilan keputusan; dan tujuan jangka panjang, yaitu memperoleh ilmu agama sebagai landasan bagi kehidupan yang berkah di dunia dan akhirat. Kiai memiliki peran beragam meliputi pendidik, pembimbing, dan guru spiritual untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dalam ruang lingkup atau aspek personal, sosial, pendidikan, ekonomi, dan spiritual.
Generation Z's prokem in social media: Language transformation and social identity of Makassar Adolescents Musyarrafah S; Anang Santoso; Gatut Susanto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.37487

Abstract

The prokem utilized by Generation Z adolescents in Makassar represents a linguistic innovation influenced by the regional language of Makassar. This study seeks to identify and analyze the diverse forms of prokem employed by Generation Z adolescents in Makassar City, particularly on social media platforms. With the rapid advancement of information and communication technology, social media has emerged as a primary venue for adolescent social interaction, significantly impacting their language development. This research addresses the evolution of prokem, often perceived as an informal linguistic variation embodying elements of group identity, within a digital context, especially on platforms such as WhatsApp, Instagram and TikTok. The methodology employed in this research is discourse analysis, which utilizes a qualitative approach. Data were gathered through the observation and documentation of language posts or interactions by Generation Z adolescents in Makassar on social media. The analysis involved identifying the forms and patterns of prokem use and the social factors influencing its utilization and dissemination. The findings of this study reveal, first, that the forms of prokem used by Makassar adolescents include words, phrases, abbreviations, acronyms, interrogative words, and auxiliary words. Second, a comparison is drawn between the prokem of Makassar City adolescents and those from other regions. Third, the factors influencing the use of prokem among Generation Z adolescents on social media encompass interlocutors, conversation topics, kinship, social media platforms, emotional contexts, social groups, and prevailing trends. The prokem variety of Generation Z adolescents reflects a transformation in youth communication, characterized by openness to linguistic variations and adaptable social symbols. This research aims to contribute to the study of prokem in the contemporary context, particularly by exploring the interplay between language, social identity, and the evolution of communication technology among Indonesian adolescents.   Bahasa prokem remaja generasi Z Kota Makassar merupakan inovasi berbahasa yang dipengaruhi oleh bahasa daerah Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ragam bahasa prokem yang digunakan oleh remaja Generasi Z di Kota Makassar melalui media sosial. Seiiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, media sosial menjadi salah satu ruang utama bagi interaksi sosial remaja, yang turut mempengaruhi perkembangan bahasa. Penelitian ini mengangkat persoalan tentang bagaimana bahasa prokem, yang seringkali dipandang sebagai bentuk variasi bahasa yang informal dan cenderung mengandung elemen identitas kelompok, berkembang dalam konteks digital, khususnya di platform media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi terhadap unggahan atau interaksi bahasa yang dilakukan oleh remaja Generasi Z Kota Makassar di media sosial. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk, pola penggunaan bahasa prokem, dan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi penggunaan dan penyebarannya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, pertama, bentuk bahasa prokem yang digunakan remaja Makassar berupa kata, frasa, singkatan, akronim, kata tanya, dan kata bantu. Kedua, ditemukan perbandingan antara bahasa prokem remaja Kota Makassar dengan remaja daerah lainnya. Ketiga, faktor yang memengaruhi penggunaan bahasa prokem remaja generasi Z di media sosial yang meliputi lawan bicara, topik pembicaraan, kekerabatan, platform media sosial, situasi emosional, kelompok sosial, dan tren. Ragam bahasa prokem remaja Generasi Z mencerminkan adanya pergeseran dalam cara berkomunikasi generasi muda yang lebih terbuka terhadap variasi bahasa dan simbol sosial yang bersifat fleksibel. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian bahasa prokem dalam konteks kekinian, khususnya dalam menggali hubungan antara bahasa, identitas sosial, dan perkembangan teknologi komunikasi di kalangan remaja di Indonesia.
The impact of the Paramisi phenomenon in Torajan culture on the weakening of the religiosity and economic life of Catholics in Simbuang-Mammpak Patrio Tandiangga; I Made Markus Suma; Frans Fandy Palinoan; Arwin Dama; Riwandi Riwandi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.37640

Abstract

The funeral rituals of the Toraja people frequently include a practice known as paramisi, commonly referred to as cockfighting. This study examines the impact of the paramisi phenomenon within Toraja culture on the religious lives of its adherents. Furthermore, this research aims to assess the contemporary relevance of maintaining paramisi tradition in daily life. A qualitative research methodology was employed, which is suitable for investigating the conditions of natural objects. Data were collected through interviews with 10 informants, including community leaders, government officials, religious leaders, individuals actively engaged in cockfighting, those who had ceased participation, and family members of the congregation or cockfighting participants. The findings of this study reveal that cockfighting exerts a negative influence on community life, particularly concerning the economic aspects and spiritual well-being of the congregation (religiosity). It is anticipated that this study will contribute to the discourse among congregational and pastoral practitioners by fostering awareness of the adverse effects associated with cockfighting.   Dalam proses pemakaman orang Toraja kerap dilaksanakan apa yang disebut dengan paramisi. Paramisi lebih sering dikenal secara umum dengan istilah sabung ayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari fenomena Paramisi dalam budaya Toraja terhadap kehidupan religiusitas umat beragama. Selain itu penelitian ini juga ingin melihat sejauh mana tradisi paramisi masih relevan untuk dipertahankan dalam kehidupan seghari-hari. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara kepada 10 orang narasumber. Narasumber terdisi dari tokoh masyarakat, pemerintah, tokoh agama, masyarakat yang aktif melakukan sabung ayam, masyarakat yang sudah tidak aktif sabung ayam, dan anggota keluarga dari umat atau pelaku sabung ayam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sabung ayam memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan masyarakat khususnya dalam asepk ekonomi maupun aspek kehidupan rohani umat (religiusitas). Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbang pemikiriran bagi para umat dan pelaku pastoral, agar segera memiliki kesadaran akan dampak negatif dari sabung ayam.
Uncovering cultural values at the Wiraraja monument as a reflection of the Mojokerto community's character Virda Oktafianti Maqviro; Sony Sukmawan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.37691

Abstract

The Wiraraja monument holds significant historical and symbolic value, representing the character of the local community. This research aims to elucidate the cultural value embodied in the Wiraraja monument located in The town square Kota Mojokerto to understand the character of the Mojokerto people as symbolised by the monument. This study employed a qualitative methodology with an interpretative approach to the surrounding environment. Data were collected through interviews, observations, and visual documentation. The interviews were conducted in depth. The exploration of cultural values is grounded in C. Kluckhohn's theory, which categorizes fundamental cultural values into two main categories. Kluckhohn further divides these basic life values into five components: 1) Human nature, 2) Human work, 3) Human interaction with space and time, 4) Human interaction with the surrounding nature, and 5) Human interaction with neighbors. The findings of this study identified several architectural elements that reflect cultural values, including building concepts, lotus elements, monument bodies, allegorical reliefs, and systematic dimensions. Additionally, the research delineates the character of the Mojokerto community (within the Surabaya sub-ethnic group), which reflects the local cultural heritage, particularly the traits of being religious, hardworking, fair and balanced, respectful of ancestors, environmentally conscious, and respectful of leaders. This study is anticipated to serve as a reference for planning public spaces with consideration of local cultural identity.   Tugu Wiraraja merupakan monumen yang memiliki nilai historis dan simbolik dalam merepresentasikan karakter masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan  mendeskripsikan nilai budaya dalam bangunan tugu Wiraraja yang terletak di Alun alun Kota Mojokerto, untuk mengetahui karakter masyarakat Mojokerto dalam simbolisasi Tugu Wiraraja. Penelitian uini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif terhadap lingkungan sekitar Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi visual. Wawancara dilakukan secara mendalam (in-depth interview). Sedangkan penelusuran nilai nilai budaya didasarkan pada teori C. Kluckhohn yang membagi pokok nilai dasar dalam kehidupan menjadi lima bagian, yakni: 1) Hakikat manusia, 2) Karya manusia, 3) Manusia dengan ruang dan waktu, 4) Manusia dengan alam sekitar, 5) Manusia dengan sesamanya. Hasil penelitian ini mengidentifikasi beberapa unsur bangunan yang mencerminkan nilai-nilai budaya, termasuk konsep bangunan, elemen teratai, badan tugu, relief alegoris, dan sistematika ukuran bangunan. Penelitian ini juga menggambarkan karakter masyarakat Mojokerto (dalam sub-etnik Surabaya) yang mencerminkan warisan budaya lokal, terutama sikap religius, pekerja keras, berlaku adil dan seimbang, menghormati leluhur, peduli terhadap lingkungan, serta menghormati pemimpin. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai acuan dalam perencanaan ruang publik dengan memperhatikan identitas budaya lokal.
The phenomenon of social isolation: The role of social media in the self-isolation tendencies of adolescents in Bengkulu Province Muhammad Oktarianto; Rasianna BR Saragih; Neneng Cucu Marlina
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.37692

Abstract

The use of social media has been associated with an increased propensity for social isolation among adolescents. This study sought to examine the relationship between social media usage and social isolation among adolescents in Bengkulu Province by investigating the phenomenon of adolescent social isolation and the factors prompting individuals to withdraw from their social environments, utilising Marshall McLuhan's Media Ecology Theory as the theoretical framework. Employing a qualitative methodology with a phenomenological approach, this study delves into the subjective experiences of adolescents who engage in social isolation. Primary data were collected through interviews, observations, and documentation, whereas secondary data were sourced from literature reviews. Data analysis employed descriptive-analytical techniques, including data reduction, presentation, and verification. The findings indicate that external factors, such as negative behaviours in the social environment—(1) betrayal by trusted individuals, (2) experiences of sexual harassment, and (3) exposure to negative comments—are primary contributors to social isolation. Internal factors, including individual perceptions, psychological conditions, and social media, serve as supportive factors. Adolescents engaging in social isolation are particularly susceptible to mental health issues such as loneliness, stress, and depression. However, social media, in certain contexts, can function as a recreational tool and source of psychological support, helping adolescents cope with feelings of loneliness. Therefore, it can be concluded that social media can act as a supporting factor contributing to adolescents' social isolation, yet under certain conditions it also plays a role in assisting adolescents in overcoming social isolation.   Penggunaan media sosial berkontribusi terhadap kecenderungan isolasi sosial pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara penggunaan media sosial dan isolasi sosial pada remaja di Provinsi Bengkulu, dengan mendeskripsikan kondisi dari fenomena isolasi sosial remaja dan fokus pada faktor-faktor yang mendorong individu menutup diri dari lingkungan sosial dengan menggunakan teori Ekologi Media dari Marshall Mcluhan. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mencari tahu secara mendalam terkait pengalaman subjektif remaja yang melakukan tindakan isolasi sosial. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi sedangkan data sekunder melalui studi literatur. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitik yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor eksternal yang berupa perilaku negatif yang diperoleh dari lingkungan sosial seperti (1). Dikhianati seseorang yang dipercaya (2). Pelecehan seksual (3). Komentar buruk, merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan isolasi sosial. Sedangkan faktor internal yang berupa perpektif individu, kondisi psikologis, dan kontribusi media sosial menjadi faktor pendukung tindakan isolasi sosial pada remaja. Remaja yang melakukan tindakan isolasi sosial akan rentan mengalami masalah mental seperti kesepian, stress dan depresi, sehingga pada kondisi seperti ini media sosial juga mampu berperan sebagai sarana rekreasi dan sumber dukungan psikologis yang membantu remaja melalui rasa kesepian. Maka dapat disimpulkan bahwasannya media sosial mampu menjadi faktor pendukung yang menyebabkan remaja melakukan tindakan isolasi sosial, namun dalam kondisi tertentu media sosial juga berperan sebagai sarana yang membantu remaja yang melakukan tindakan isolasi sosial.
The initiatives of the education center for women and children in mitigating child sexual violence in Bengkulu City Frisca Meydaryani; Hajar Gelis Pramudyasmono; Diyas Widiyarti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.37781

Abstract

In Indonesia, including Bengkulu City, sexual violence against children should receive greater attention. Many people do not understand the symptoms of child sexual abuse, its effects, or how to prevent it. This phenomenon can impact a child's social and emotional development in the long term. One of the reasons why child sexual abuse continues to occur despite various preventive efforts is the lack of awareness among the public and educators about the importance of protecting children. The purpose of this research is to analyse the efforts made by the Non-Governmental Organisation (NGO) Pusat Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak (PUPA) in Bengkulu City to prevent child sexual abuse. This study uses a qualitative approach and data collection techniques to conduct observations, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the types of sexual violence against children will experience dynamics from 2022 to 2023. Since 2023, the number of cases of sexual violence against children has increased. In Bengkulu, PUPA made various preventive efforts, such as forming change agents, conducting educational campaigns in schools, and building the Anti-Violence Movement. With several efforts made by the Education Center for Women and Children, the number of sexual violence incidents that continue to occur every year can be reduced.   Di Indonesia, termasuk di Kota Bengkulu, kekerasan seksual terhadap anak harus mendapatkan perhatian yang lebih besar. Banyak masyarakat yang tidak memahami gejala kekerasan seksual pada anak, efeknya, dan cara mencegahnya. Fenomena ini dapat berdampak pada perkembangan sosial dan emosi anak dalam jangka panjang. Salah satu alasan mengapa kekerasan seksual pada anak terus terjadi meskipun telah dilakukan berbagai upaya pencegahan adalah kurangnya kesadaran masyarakat dan pendidik tentang pentingnya melindungi anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis upaya yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Kota Bengkulu untuk mencegah kekerasan seksual pada anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik pengumpulan data yang dilakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini jenis kekerasan seksual pada anak mengalami dinamika dari tahun 2022 hingga 2023. Berdasarkan pada tahun 2023, jumlah jenis kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat. Di Bengkulu, PUPA melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti membentuk agen perubahan, melakukan kampanye edukasi di sekolah, dan membangun Gerakan Anti Kekerasan (GAK). Dengan adanya beberapa upaya yang dilakukan oleh Pusat Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak (PUPA) dapat mengurangi angka kekerasan seksual yang terus terjadi di setiap tahunnya.
The symbolic meaning of the Wura Bungi Monca dance movements in Maria Village, Bima Regency Ani Nur Auliyatun Latifah; Lesa Paranti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.37888

Abstract

Wura Bongi Monca is a traditional welcoming dance of the Bima community that has undergone a transformation from the royal court dance of the Mbojo Sultanate into a contemporary creative dance performed in various cultural institutions, including Sanggar La Diha in Maria Village, Bima Regency. Despite its evolution, the symbolic representations and cultural meanings embedded within its choreographic structure remain underexplored within the sociocultural context of the local community. This study aims to examine the semiotic dimensions of the Wura Bongi Monca dance movements as performed in Sanggar La Diha elucidating their symbolic and cultural significance in the collective identity of the Maria Village community. Employing a qualitative research methodology with a semiotic approach. Semiotics is used in this research to explore and interpret symbols and meanings in the Wura Bongi Monca dance movements. This study integrates data collected through participant observation, in-depth interviews, and documentary analysis. The research informants include choreographers from the Mbojo Sultanate and Sanggar La Diha, historians, cultural experts, traditional leaders, dancers, and community members. The findings indicate that Wura Bongi Monca plays a pivotal role in the sociocultural fabric of Maria Village. This dance serving both ceremonial and entertainment functions. The choreographic consists of distinct symbolic movements, including paleo, palika, lele, foka, horma, and mangko, which are emblematic of Bima’s traditional dance heritage. The semiotic analysis reveals that these movements convey profound meanings: rai lu’u symbolizes the reception of blessings, lele represents resilience, sangge’de mangko signifies strength, paleo reflects consciousness, foka denotes openness, horma expresses supplication, wura bongi and kakiri kamai signify hospitality, kidi boko embodies power, and lampa palika-losa represents courtesy.   Tari Wura Bongi Monca merupakan tari penyambutan tamu khas masyarakat Bima yang mengalami transformasi dari Tari Istana Kesultanan Mbojo menjadi tari kreasi baru yang berkembang di berbagai sanggar, termasuk Sanggar La Diha di Desa Maria, Kabupaten Bima. Meski telah mengalami modifikasi, simbol dan makna yang terkandung dalam gerak tari ini belum banyak dikaji secara mendalam dalam konteks budaya masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis gerak Tari Wura Bongi Monca di Sanggar La Diha yang sarat akan simbol dan makna kehidupan masyarakat Desa Maria. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Semiotika digunakan dalam penelitian ini untuk menelusuri dan menginterpretasikan simbol serta makna pada gerak Tari Wura Bongi Monca. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Narasumber penelitian ini adalah koreografer dari Kesultanan Mbojo dan Sanggar La Diha, sejarawan, budayawan, pemangku adat, penari, serta masyarakat Desa Maria. Hasil penelitian menunjukkan Tari Wura Bongi Monca berperan penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Mari. Tarian ini digelar untuk penyambutan tamu dan hiburan masyarakat Desa Maria. Simbol gerak Tari Wura Bongi Monca yaitu, paleo, palika, lele, foka, horma, dan mangko. Gerak tersebut yang menjadi ciri khas gerak tari di tanah Bima. Makna gerak Tari Wura Bongi Monca yaitu, rai lu’u bermakna menjemput berkah, lele bermakna ketegaran, sangge’de mangko bermakna kekuatan, paleo bermakna kesadaran, foka bermakna keterbukaan, horma bermakna permohonan, wura bongi dan kakiri kamai bermakna selamat datang, kidi boko bermakna kekuatan, dan lampa palika-losa bermakna kesopanan.

Page 1 of 3 | Total Record : 26