cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2025): October" : 31 Documents clear
Adat Bak Poteu Meureuhom and Hukom Bak Syiah Kuala: Symbolic power and Islamic governance in Aceh history Joko Hariadi; Katimin Katimin; Hasrat Effendi Samosir; Nur Amelia; Tanita Liasna; Indah Fajarini
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40952

Abstract

The philosophies of Adat Bak Poteu Meureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala reflect a unique symbiosis between Islamic political communication and local cultural practices in Aceh’s history. These philosophies articulate a balance between customary authority held by the sultan and the religious legal authority exercised by the eminent scholar Syiah Kuala, while simultaneously shaping collective identity and social control within Acehnese society. This study employs a qualitative hermeneutic-historical approach with discourse analysis of historical literature, archives, and local texts to examine symbolic interactions, political narratives, and cultural practices that reinforce legitimacy of power. Findings indicate that, in contemporary contexts, these philosophies are applied in local officials’ speeches, educational curricula, and community rituals, although their meanings have adapted in response to globalization and the special autonomy of Aceh. The symbiosis between adat and sharia emerges as a form of Hybrid Governance, functioning as social capital to build culturally and religiously grounded political legitimacy. This research underscores the relevance of these philosophies as instruments of symbolic communication for preserving local values while navigating modern challenges, contributing to global studies on symbolic power, cultural legitimacy, and Islamic political governance in postcolonial regions.   Falsafah Adat Bak Poteu Meureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala mencerminkan simbiosis unik antara komunikasi politik Islam dan praktik budaya lokal dalam sejarah Aceh. Falsafah ini menegaskan keseimbangan antara kekuasaan adat yang dipegang oleh raja dan otoritas hukum agama yang dijalankan oleh ulama besar Syiah Kuala, sekaligus membentuk identitas kolektif dan kontrol sosial masyarakat Aceh. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif hermeneutik-historis dengan analisis wacana terhadap literatur sejarah, arsip, dan teks lokal untuk menelaah interaksi simbolik, narasi politik, dan praktik budaya yang memperkuat legitimasi kekuasaan. Temuan menunjukkan bahwa, secara kontemporer, falsafah ini diterapkan dalam pidato pejabat lokal, kurikulum pendidikan, dan ritual komunitas, meskipun maknanya telah mengalami adaptasi terhadap dinamika globalisasi dan otonomi khusus. Simbiosis antara adat dan syariat muncul sebagai bentuk Hybrid Governance, yang berfungsi sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi politik berbasis budaya dan agama. Penelitian ini menegaskan relevansi falsafah sebagai instrumen komunikasi simbolik dalam menjaga nilai-nilai lokal sekaligus menghadapi tantangan modernitas, serta memberikan kontribusi pada studi global tentang kekuasaan simbolik, legitimasi budaya, dan politik Islam di kawasan postkolonial.
Impact of cashless payments on the welfare of informal workers in Indonesia: A qualitative study from Yogyakarta Rahma Yesi; Nia Sunatun Saniyah; Irham Dani; Muhammad Ikhsan; Silverius Djuni Prihatin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41109

Abstract

Digital transformation in the financial sector has accelerated the adoption of cashless payments, including among informal workers. However, this group is often marginalized due to limited access to technology and low digital literacy. This study aims to analyze the impact of cashless payments on the welfare of informal workers, particularly in economic, psychological, and behavioral aspects. Using a qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews and non-participant observations with 15 informal workers in Srowolan Village, Pakem District, Yogyakarta. Content analysis was used to identify key themes. The findings show improvements in transaction efficiency, a heightened sense of security, and better financial management. Some respondents also reported increased income and greater confidence in managing finances. Nonetheless, challenges persist, including limited access to digital devices, low digital literacy, and the dominance of cash-based habits. This study contributes to the discourse on digital inclusion and highlights the importance of understanding marginalized groups' experiences in adopting technology. The findings are relevant for developing inclusive digital economy policies.   Transformasi digital pada sektor keuangan telah mendorong penggunaan sistem pembayaran non-tunai (cashless), termasuk di kalangan pekerja informal. Namun, kelompok ini sering terpinggirkan karena keterbatasan akses teknologi dan rendahnya literasi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan sistem pembayaran non-tunai terhadap kesejahteraan pekerja informal, khususnya dari aspek ekonomi, psikologis, dan perubahan perilaku transaksi. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipatif terhadap 15 pekerja informal di Desa Srowolan, Kecamatan Pakem, Yogyakarta. Analisis konten digunakan untuk menemukan tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan efisiensi transaksi, rasa aman, serta kemampuan pengelolaan keuangan. Beberapa responden juga mengalami peningkatan pendapatan dan kepercayaan diri dalam mengatur keuangan. Namun, hambatan seperti keterbatasan perangkat digital, rendahnya literasi, dan kuatnya budaya transaksi tunai masih menjadi tantangan. Penelitian ini memperkaya kajian tentang inklusi digital dan menegaskan pentingnya memahami pengalaman kelompok marginal dalam proses adopsi teknologi. Temuan ini relevan sebagai dasar penyusunan kebijakan ekonomi digital yang inklusif.
Negotiation of East–West identities in the German children’s literature Gertrude Grenzenlos Naflah Fakhira Maulida; Lina Meilinawati Rahayu; Ida Farida Sachmadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41183

Abstract

Since the 1960s, German children’s and young adult literature has placed strong emphasis on political aspects, presenting both historical and contemporary social depictions. A subgenre of problem-oriented children’s literature has even emerged, specifically focusing on more particular political issues such as social identity, ideology, and fascism. Regarding social identity, German children’s literature tends to highlight the history of the Holocaust and post-war trauma. However, there are still few works that address ideology-based social identity issues with a focus on social discrimination. Gertrude grenzenlos (2018) by Judith Burger presents a story of social discrimination experienced by a child protagonist in the East German community due to ideological differences. This study aims to show how this children’s novel portrays social discrimination channelled by the government as institutional discrimination both directly and indirectly, against families inclined toward Western ideology. The study employs identity theory by Tajfel and Turner along with Foucault's theory of power. Using a narratological approach, the narrative reveals the dynamics of power between communities of differing ideologies, which then form new identities and blur social boundaries because power is not absolute, thus creating ideological gaps that allow for the negotiation of power. Consequently, the novel illustrates the negotiation of Western and Eastern ideologies within the authoritarian and exclusive socio-political structure of East German society.   Sejak 1960-an, sastra anak dan remaja Jerman menekankan aspek politik, menyajikan gambaran sosial historis dan kontemporer di dalamnya. Sebuah subgenre sastra anak berorientasi masalah muncul menyoroti isu-isu seperti identitas sosial, konflik ideologi, dan fasisme. Dalam konteks identitas sosial, sastra anak Jerman kerap menyoroti sejarah Holocaust dan trauma pascaperang, namun karya yang membahas identitas berbasis ideologi dengan fokus pada diskriminasi sosial masih relatif sedikit. Kemudian, Gertrude grenzenlos (2018) karya Judith Burger terbit yang menceritakan diskriminasi sosial yang dialami seorang tokoh anak di komunitas Jerman Timur akibat perbedaan ideologis. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana novel itu menggambarkan diskriminasi sosial yang disalurkan pemerintah sebagai bentuk diskriminasi institusional, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap keluarga yang condong ke ideologi Barat. Kajian memakai teori identitas Tajfel dan Turner serta teori kekuasaan Foucault. Dengan pendekatan naratologis, narasi mengungkap dinamika kekuasaan antara komunitas berideologi berbeda yang membentuk identitas baru dan mengaburkan batas sosial karena kekuasaan tidak mutlak, sehingga tercipta celah ideologis yang memungkinkan negosiasi kekuasaan. Akibatnya, novel ini menggambarkan negosiasi antara ideologi Barat dan Timur dalam struktur sosial-politik Jerman Timur yang otoriter dan eksklusif. Kajian ini juga menyoroti dampak pengalaman individual terhadap solidaritas komunitas serta bagaimana praktik sehari-hari, kebijakan, dan wacana resmi saling berinteraksi sehingga memperkuat atau melemahkan posisi sosial kelompok yang menjadi korban diskriminasi. dalam konteks perubahan sejarah dan politik.
Innovation in cultural heritage management as a sustainable tourism attraction: A qualitative study of Kota Tua Padang tourism village Callista Teja; Feronika Berutu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41193

Abstract

This study is titled "Innovation in Cultural Heritage Management as a Sustainable Tourism Attraction in the Kota Tua Padang Heritage Village." The study aims to analyze the innovations applied in the management of cultural heritage in Kota Tua Padang Heritage Village, as well as the challenges and obstacles faced in creating sustainable tourism. This research uses a qualitative descriptive approach with data collection methods including interviews, observations, and documentation. Data were obtained from various sources, including tourism offices, heritage village managers, business owners, and tourists visiting the heritage village. The findings show that the innovations applied in the cultural heritage management in the heritage village include the revitalization of historical buildings, the development of culture-based tourism facilities, and the use of digital technology for promotion and information. However, the study also identifies several management challenges, including limited infrastructure, a lack of a structured management system, and low awareness among visitors of the preservation of culture and the environment. The application of sustainable tourism principles has been carried out by considering economic, social, and environmental aspects, but there is still room for improvement in management and increasing local community involvement. The study's results affirm that innovations in physical revitalization and digitalization can strengthen sustainable cultural tourism management and cultural heritage preservation. This study is expected to contribute to the development of sustainable tourism based on cultural heritage preservation in the area.   Penelitian ini berjudul "Inovasi Pengelolaan Cagar Budaya sebagai Daya Tarik Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Kota Tua Padang." Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi dalam pengelolaan cagar budaya yang diterapkan di Desa Wisata Kota Tua Padang, serta tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam menciptakan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data diperoleh dari berbagai sumber, termasuk dinas pariwisata, pengelola desa wisata, pelaku usaha, dan wisatawan yang mengunjungi desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi yang diterapkan dalam pengelolaan cagar budaya di Desa Wisata mencakup revitalisasi bangunan bersejarah, pengembangan fasilitas wisata berbasis budaya, serta pemanfaatan teknologi digital untuk promosi dan informasi. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan dalam pengelolaan, seperti keterbatasan infrastruktur, kurangnya sistem pengelolaan yang terstruktur, serta kesadaran pengunjung yang masih rendah terhadap pelestarian budaya dan lingkungan. Penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan telah dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, namun masih terdapat ruang untuk perbaikan dalam pengelolaan dan peningkatan keterlibatan masyarakat lokal. Hasil penelitian menegaskan bahwa inovasi dalam revitalisasi fisik dan digitalisasi mampu memperkuat pengelolaan pariwisata budaya yang berkelanjutan dan pelestarian cagar budaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berbasis pelestarian cagar budaya di kawasan ini.
Preserving the Karia tradition: Symbolic meaning and social role in contemporary Muna community Nur Amelia Devi; Rhoma Dwi Aria Yuliantri; Mhd Asrian Syah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41203

Abstract

This study explores the symbolic meanings and social roles of the Karia tradition in Muna society, highlighting its contribution to preserving cultural identity in the face of modernisation. Employing a descriptive qualitative approach, data were gathered through participant observation, in-depth interviews, and documentation involving eight informants from diverse social backgrounds. Through this approach, the research seeks to understand how the Karia tradition continues to serve as a bridge between ancestral heritage and contemporary life, ensuring that cultural values remain alive and relevant across generations. The analysis was carried out using thematic analysis and Victor Turner's theory of ritual passage. The research results show that the Karia tradition symbolises female maturity and a means of character education and self-purification. This ritual also strengthens social cohesion and teaches important values such as chastity and social responsibility. However, the forces of modernisation and digitalisation pose challenges to the continuity of this tradition, particularly among younger generations who are becoming increasingly detached from traditional practices. This study contributes to the field of cultural anthropology by deepening the understanding of rites of passage and their evolving relevance in modern society. It also offers insights and recommendations on how digitalisation can be used not as a threat, but as a tool to revitalise and preserve local cultural heritage ensuring that traditions like Karia continue to thrive in contemporary contexts.   Penelitian ini mengeksplorasi makna simbolik dan peran sosial tradisi Karia dalam masyarakat Muna, dengan menyoroti kontribusinya dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan delapan informan dari berbagai latar sosial. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya memahami bagaimana tradisi Karia tetap berfungsi sebagai jembatan antara warisan leluhur dan kehidupan modern, memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan lintas generasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dengan landasan teori Victor Turner tentang ritus peralihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Karia melambangkan kedewasaan perempuan serta menjadi sarana pendidikan karakter dan penyucian diri. Ritual ini juga memperkuat kohesi sosial dan mengajarkan nilai-nilai penting seperti kesucian serta tanggung jawab sosial. Namun, arus modernisasi dan digitalisasi menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan tradisi ini, terutama di kalangan generasi muda yang semakin terlepas dari praktik tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap bidang antropologi budaya dengan memperdalam pemahaman tentang ritus peralihan dan relevansinya yang terus berkembang dalam masyarakat modern. Selain itu, penelitian ini menawarkan wawasan dan rekomendasi tentang bagaimana digitalisasi dapat dimanfaatkan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai alat untuk menghidupkan kembali dan melestarikan warisan budaya lokal, sehingga tradisi seperti Karia dapat terus bertahan dan berkembang dalam konteks kontemporer.
Conceptual metaphor: Forms of Arab Leaders' support for Palestine Ummu Hanifah Syamsuhri Batulaya; Ni Gusti Ayu Roselani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41386

Abstract

In general, political speeches aim to inform, persuade, and offer a vision regarding issues currently unfolding in society, so it is not uncommon to find various uses of metaphors in such speeches. This research analyzes the use of linguistic metaphors, conceptual metaphors, their functions, and cultural reflections as expressed in political speeches delivered by presidents of Arab countries concerning the Israeli-Palestinian conflict. The method used in this research is a mixed-method approach. Data were collected through observation using the Metaphor Identification Procedure (MIP), and analyzed using the distribution method. The study identified 28 conceptual metaphors. The analysis indicates that these metaphors are employed by Arab state leaders for persuasive purposes, specifically to express support for Palestine. This rhetorical strategy illustrates the firmness of the Arab political position, which also represents Islamic countries worldwide in relation to the Israeli-Palestinian conflict. Arab and other Islamic countries consistently express full support for peace between the two nations, the liberation of Palestine, and the fulfillment of the rights to life for its people.   Secara umum, pidato politik bertujuan untuk menginformasikan, meyakinkan, dan menawarkan visi mengenai isu yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sehingga tak jarang ditemukan berbagai macam penggunaan metafora dalam pidato politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengenai penggunaan metafora linguistik, metafora konseptual, fungsi, dan refleksi budaya yang tercermin dalam pidato politik yang disampaikan oleh presiden negara-negara Arab mengenai konflik Israel-Palestina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode campuran, metode pengumpulan data yaitu observasi dengan menggunakan MIP, dan metode analisis data yang digunakan adalah metode agih. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu metafora konseptual sebanyak 28. Hasil dari analisis dalam peneltian ini menunjukkan bahwa metafora konseptual digunakan oleh pemimpin-pemimpin negara Arab untuk tujuan persuasi dalam bentuk dukungan terhadap Palestina, yang menggambarkan ketegasan posisi politik Arab yang juga merepresentasikan negara-negara Islam di seluruh dunia mengenai konflik Israel-Palestina bahwa negara Arab dan negara Islam lainnya memberikan dukungan penuh atas perdamaian kedua negara, pembebesan Palestina, beserta pemenuhan hak-hak berkehidupan bagi masyarakatnya.
An ethnographic study of cultural values in the wedding rituals of the Samin Community, Blora Ferra Nzulaika; Maria Krisnawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41393

Abstract

The Samin Tribe's traditional wedding customs are cultural practices passed down through generation, carried out with simplicity and a strong emphasis on philosophical values. This procession is far from the luxury of modern weddings, reflects philosophical values of loyalty, honesty, and social harmony. This study comprehensively describes the values embodied in the traditional wedding customs of the Samin people in Sambongrejo Village, Blora Regency. A qualitative descriptive approach was applied in this study. The collection data techniques used including direct observation of the wedding procession, interviews with customary leaders, and documentation of the related cultural activities. The research gap lies in the limited number of studies examining the Samin people's wedding procession both structurally and symbolically, especially in the context of the ethical values embodied in it and how these values are realised in the community's social actions. Most previous major studies have only highlighted the socio-political aspects or the history of Saminism resistance, while the cultural aspects of marriage remain limited. Most previous studies only highlight the socio-political aspects or the history of the Samin resistance movement, while the cultural aspects of marriage have received limited attention. The results of the study indicate that this customs consists of several main stages, namely: Nembung, Mbalesi Gunem, Ngendek, Ngawulo or Nyuwito, and Paseksen. Each stage has a symbolic function, such as Nembung, which reflects initial politeness and openness, and Paseksen, which is a manifestation of social legitimacy of the marriage bond. In addition, the Samin people adhere to their cultural values. One of their most important beliefs is that marriage can take place only once in a lifetime. The Samin people do not practice polygamy or polyandry because they follow the principle of Siji Kanggo Selawase (one for eternity). They believe that loyalty, simplicity, and honesty are the most important factors for harmony.   Tradisi pernikahan tradisional Suku Samin merupakan praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, dilaksanakan dengan kesederhanaan dan penekanan yang kuat pada nilai-nilai filosofis. Prosesi ini jauh dari kemewahan pernikahan modern, mencerminkan nilai-nilai filosofis kesetiaan, kejujuran, dan harmoni sosial. Studi ini secara komprehensif menggambarkan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pernikahan tradisional Suku Samin di Desa Sambongrejo, Kabupaten Blora. Pendekatan deskriptif kualitatif diterapkan dalam studi ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi pengamatan langsung terhadap prosesi pernikahan, wawancara dengan pemimpin adat, dan pendokumentasian aktivitas budaya terkait. Kesenjangan penelitian terletak pada minimnya kajian yang meneliti prosesi pernikahan masyarakat Samin secara struktural dan simbolik, khususnya dalam konteks nilai-nilai etis yang melekat di dalamnya serta bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam tindakan sosial masyarakat. Sebagian besar penelitian terdahulu hanya menyoroti aspek sosial-politik atau sejarah perlawanan Saminisme, sementara aspek budaya dalam konteks pernikahan masih sangat terbatas mendapat perhatian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini terdiri atas beberapa tahapan utama, yaitu: Nembung, Mbalesi Gunem, Ngendek, Ngawulo atau Nyuwito, dan Paseksen. Setiap tahap memiliki fungsi simbolik tersendiri, seperti Nembung yang mencerminkan kesopanan dan keterbukaan awal, serta Paseksen yang merupakan perwujudan legitimasi sosial atas ikatan pernikahan. Selain itu, masyarakat Samin berpegang teguh pada nilai-nilai budayanya. Salah satu keyakinan terpenting mereka adalah bahwa pernikahan hanya dapat terjadi sekali seumur hidup. Masyarakat Samin tidak mempraktikkan poligami maupun poliandri karena mereka memegang teguh prinsip "Siji Kanggo Selawase" (satu untuk selamanya). Mereka meyakini bahwa kesetiaan, kesederhanaan, dan kejujuran merupakan faktor paling penting untuk menciptakan keharmonisan hidup.
Analysis of good tourism governance dynamics in Kampung Lali Gadget tourism village Aliefa Rizkya Ananda; Rosyidatuzzahro Anisykurlillah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41423

Abstract

Kampung Lali Gadget (KLG), an educational tourism village in Pagerngumbuk Village, Sidoarjo Regency, promotes traditional cultural values to reduce reliance on gadgets. Despite its unique conceptual positioning, the management of this tourism destination continues to face challenges, including uneven community participation, limited multi-stakeholder partnerships, and an evaluation system that is not yet fully measurable. Previous studies have rarely examined the application of Good Tourism Governance in educational tourism villages; therefore, this study aims to analyze disparities in implementing the ten Good Tourism Governance principles outlined by Sunaryo (2013) in KLG. This research employs a descriptive qualitative approach through in-depth interviews, observations, and document reviews with informants from the management team, local community, village government, private sector, and visitors. The findings reveal that governance implementation includes participation in a single hamlet, asset-based local economic partnerships, environmental conservation integrated into educational programs, digital promotion dominated by tourism managers, and internal–external evaluations lacking inclusivity. The complexity of local socio-cultural dynamics influences patterns of collaboration and benefit distribution. Theoretically, this study expands the understanding of adapting community-based tourism governance to local characteristics while providing guidance on measurable tourism governance for similar destinations.   Kampung Lali Gadget (KLG) sebagai desa wisata edukasi di Desa Pagerngumbuk Kabupaten Sidoarjo yang mempromosikan konsep budaya tradisional untuk mengurangi ketergantungan pada gadget. Meskipun menjadi destinasi yang berkonsep unik, pengelolaan wisata ini masih menghadapi tantangan seperti partisipasi masyarakat yang tidak merata, kemitraan multi-pihak yang terbatas, dan sistem evaluasi yang belum sepenuhnya terukur. Studi sebelumnya jarang mengkaji penerapan Good Tourism Governance di desa wisata edukasi, sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis ketiimpangan dalam penerapan sepuluh prinsip Good Tourism Governance menurut Sunaryo (2013) di Kampung Lali Gadget. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan tinjauan dokumentasi dengan informan dari pihak pengelola, masyarakat, pemerintah desa, sektor swasta, dan pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip-prinsip tata kelola meliputi partisipasi terpusat di satu dusun, kemitraan ekonomi berdasarkan aset lokal, konservasi lingkungan yang terintegrasi ke dalam program pendidikan, promosi digital yang berpusat pada pengelola wisata, dan evaluasi internal dan eksternal yang belum inklusif. Kompleksitas dinamika sosial-budaya lokal mempengaruhi pola kolaborasi dan distribusi manfaat. Secara teoritis, penelitian ini memperluas pemahaman tentang adaptasi tata kelola pariwisata berbasis komunitas terhadap karakteristik lokal, sementara secara praktis memberikan panduan tentang tata kelola wisata yang dapat diukur untuk destinasi serupa.
A qualitative study on adolescents’ perceptions of the Bepupur Ritual among the Tidung Tribe in Malinau Village Supardiansyah Supardiansyah; Moh Bahzar; Alim Salamah; Endang Herliah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41553

Abstract

This study explores adolescents’ perceptions of the bepupur ritual, a pre-marital purification ceremony practiced by the Tidung people in Malinau Kota Village. Amid the forces of modernization, preserving local culture poses a considerable challenge, particularly in engaging the younger generation. The research employs a qualitative approach, with data collected through direct observation and in-depth interviews involving eight informants—six adolescents and two traditional leaders. Data validity was ensured through source and technique triangulation, and analysis was conducted using the Miles and Huberman model. The findings indicate that most adolescents hold positive perceptions of the ritual, viewing it as a sacred symbol of cultural identity. These results highlight the vital role of the younger generation in sustaining this tradition. The novelty of this research lies in its focus on adolescents as active agents in cultural preservation, contributing to the broader discourse on local identity within the context of social transformation.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi remaja terhadap ritual bepupur, yaitu prosesi penyucian diri menjelang pernikahan dalam tradisi adat Suku Tidung di Desa Malinau Kota. Di tengah arus modernisasi, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan yang signifikan, terutama dalam melibatkan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri atas enam remaja dan dua tokoh adat. Validitas data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sementara analisis dilakukan dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki persepsi positif terhadap ritual tersebut dan memandangnya sebagai simbol kesakralan serta identitas budaya. Temuan ini menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya terhadap generasi muda sebagai agen aktif pelestarian budaya, serta kontribusinya terhadap kajian identitas lokal dalam konteks perubahan sosial.
A formative evaluation of the Ballada Cinta innovation in birth registration: An administrative culture transformation Alief Rizkia Ananda; Binti Azizatun Nafi’ah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41634

Abstract

This study aims to evaluate the implementation of the Ballada Cinta Program (Newborns Immediately Receive Printed KIA and Birth Certificates) within the Department of Population and Civil Registration of Sampang Regency (Dispendukcapil), emphasizing the transformation of administrative culture and social participation among the Madurese community. The initiative was designed to simplify the issuance of birth certificates and Child Identity Cards through integrated services connecting village administrations and healthcare facilities. A qualitative descriptive approach was employed using Michael Scriven’s formative evaluation model, encompassing an analysis of program outcomes, goal attainment, and the adequacy of resource utilization. The units of analysis included villages, community health centers, and local community leaders. Findings indicate that, although there has been a significant increase in the ownership of birth certificates (95.66%) and the issuance of Child Identity Cards (39.54%), the program’s impact remains uneven. Several challenges persist, including limited digital infrastructure, disparities in administrative capacity across regions, staff turnover, and resistance toward modern bureaucratic systems. Culturally, collective birth reporting traditions and the dominance of family-based document processing have created resistance to digitalization and formal administrative procedures. Moreover, the existing digital divide between rural and urban areas affects service effectiveness, data accuracy, and user satisfaction.   Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Ballada Cinta (Bayi Lahir Langsung Cetak KIA dan Akta) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sampang, dengan menyoroti transformasi budaya administrasi dan partisipasi sosial masyarakat Madura. Program ini dirancang untuk mempermudah pengurusan akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA) melalui integrasi layanan antara desa/kelurahan dan fasilitas kesehatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model evaluasi formatif Michael Scriven, mencakup analisis hasil pelaksanaan program, ketercapaian tujuan, dan kesesuaian penggunaan sumber daya. Unit analisis mencakup desa, puskesmas, serta tokoh masyarakat lokal. Hasil menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan signifikan dalam kepemilikan akta kelahiran (95,66%) dan pencetakan KIA (39,54%), program ini belum sepenuhnya merata. Hambatan seperti keterbatasan infrastruktur digital, kesenjangan kapasitas antarwilayah, regenerasi petugas, dan resistensi terhadap sistem administrasi modern masih ditemukan. Secara budaya, tradisi pelaporan kelahiran secara kolektif dan dominasi peran keluarga dalam pengurusan dokumen menimbulkan resistensi terhadap proses digital dan birokrasi formal. Selain itu, Implikasi digital divide antara desa dan kota berdampak pada efektivitas layanan, akurasi data, serta kepuasan pengguna.

Page 2 of 4 | Total Record : 31