cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JFIOnline
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia. Isi website memuat seluruh jurnal yang telah diterbitkan mencakup semua aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian antara lain farmakologi, farmakognosi, fitokimia,farmasetika, kimia farmasi, biologi molekuler, bioteknologi, farmasi klinik,farmasi komunitas, farmasi pendidikan, dan lain-lain.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2016)" : 24 Documents clear
Efek Perbandingan Surfaktan dan Kosurfaktan Terhadap Karakteristik dan Efisiensi Penjebakan Ovalbumin Dalam Mikroemulsi Hendradi, Esti; Yuwono, Mochammad
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.779 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v8i1.203

Abstract

ABSTRACT: The study was conducted to investigate the effect of composition of surfactant (Span 80 and Tween 80) and cosurfactant (butanol) on characteristics and ovalbumin entrapment in the microemulsion water in oil (w/o).The composition of surfactant (Span 80 and Tween 80) and cosurfactant (butanol) used were 6:3, 7:3 and 8:3. Evaluation was conducted on the surface tension, viscosity, droplet size, pH and the efficiency of ovalbumin trapping in microemulsion system. Results were analyzed by statistic using one way analysis of variance (ANOVA) with 95% confidence level (α = 0,05). From the results it was concluded that the composition of surfactant and cosurfactant 7:3 resulted in the best microemulsion. Keywords: microemulsion, surfactant, cosurfactant, butanol, ovalbumin ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komposisi surfaktan (Span 80 dan Tween 80) dan kosurfaktan (butanol) terhadap karakteristik dan penjebakan ovalbumin dalam mikroemulsi minyak dalamm air (w/o). Perbandingan surfaktan (Span 80 dan Tween 80) dan kosurfaktan (butanol) adalah 6:3, 7:3 dan 8:3. Evaluasi yang dilakukan meliputi tegangan permukaan, viskositas, ukuran droplet, pH dan efisiensi penjebakan ovalbumin dalam sistem mikroemulsi. Hasil dianalisis dengan statistik menggunakan ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa bahwa perbandingan surfaktan dan kosurfaktan sebesar 7:3 menghasilkan mikroemulsi yang terbaik. Kata Kunci: mikroemulsi, surfaktan, kosurfaktan, butanol, ovalbumin    
Efek penambahan parasetamol pada terapi ketorolak terhadap nyeri akut pascaoperasi orthopedi Santoso, Agustinus; Huwae, Thomas Erwin CJ; Idha, Arofa; Suprapti, Budi
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.224 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v8i1.224

Abstract

ABSTRACT : The aim of this research is to analyze pain control of paracetamol addition to ketorolac compared with ketorolac alone on patientâ??s pain response. Ketorolac group (K group) recieved ketorolac 10 mg i.v every 8 hours and Ketorolac and Paracetamol group (KP group) recieved ketorolac 10 mg i.v and paracetamol 1,000 mg orally every 8 hours. Observation of pain intensity with Face Scale at ½ hours before and after administration at the first, the fourth and the seventh analgesics. Observation quality of pain management with QUIPS at ½ hours after administration the seventh analgesics. As the results, paracetamol addition to ketorolac provide better pain control, shown at the mean pain intensity KP group was lower at post to 4, pre to 7 and post to 7 than K group, and the QUIPS results were side effects of paracetamol additional well tolerated, reduce needs for additional analgesics, but no difference at patient satisfactions. These results suggest that paracetamol addition to ketorolac had better pain control than ketorolac alone in patients with orthopedic postoperative acute pain.Keywords : ketorolac, paracetamol, postoperative, face scale, QUIPS ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian nyeri oleh penambahan parasetamol pada ketorolak dibandingkan dengan ketorolak tunggal berdasarkan respon nyeri pasien. Kelompok Ketorolak (Kelompok K) mendapatkan ketorolak 10 mg i.v setiap 8 jam dan kelompok Ketorolak dan Parasetamol (kelompok KP) mendapatkan ketorolak 10 mg i.v dan parasetamol 1000 mg per oral setiap 8 jam. Penilaian intensitas nyeri dengan Face Scale pada 30 menit sebelum (pre) dan sesudah (pasca) pemberian dosis analgesik pertama, ke empat dan ke tujuh. Pengamatan kualitas manajemen nyeri dengan QUIPS pada 30 menit setelah pemberian analgesik dosis ke tujuh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penambahan parasetamol pada ketorolak memberikan kendali nyeri yang lebih baik, ditunjukkan oleh rerata intensitas nyeri kelompok KP pada pasca dosis ke 4, pre dosis ke 7 dan pasca dosis ke 7 lebih rendah dari kelompok K, serta hasil QUIPS bahwa efek samping penambahan parasetamol dapat ditoleransi, menurunkan kebutuhan analgesik tambahan, namun tidak berbeda pada kepuasan pasien. Hasil diatas menyatakan bahwa penambahan parasetamol pada ketorolak memberikan kendali nyeri lebih baik dari ketorolak tunggal pada pasien nyeri akut pascaoperasi orthopedi. Kata kunci: ketorolak, parasetamol, pascaoperasi, QUIPS  
Evaluasi Kuantitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Caesarean Section di RSUD se-Kabupaten Banyumas Kusuma, Anjar Mahardian; Galistiani, Githa Fungie; Wijayanti, Dwi Nur; Umami, Muzayanatul; Nurdiyanti, .; Utaminingrum, Wahyu; Sudarso, .
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.912 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v8i1.245

Abstract

ABSTRACT : Antibiotics usage in woman having caesarean section is assumed 5-fold greater than woman having normal labor. The aim of the study is to count the antibiotics usage in patient having caesaren section in several hospitals in Banyumas, i.e. RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, RSUD Ajibarang, and RSUD Banyumas. This study use cross sectional study design, retrospective data collection of medical records and data were statistically analyzed with Mann- Whitney and Kruskal-Wallis. Results of the study showed that the greatest quantity of antibiotic use was in RSUD Ajibarang with 110.75 DDD/100 patient- days, followed by RSUD Prof. DR Margono Soekarjo and RSUD Banyumas respectively 76.20 DDD/100 patient-days and 46.07 DDD/100 patient-day. The comparison of DDD for each antibiotic in three hospitals showed a significant difference on antibiotic amoxicillin and cefotaxime usage. Keywords : antibiotics, DDD, caesarean section ABSTRAK : Penggunaan antibiotik pada pasien caesarean section diperkirakan 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan pada persalinan normal. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kuantitas penggunaan antibiotik terapi pada pasien caesarean section di beberapa rumah sakit di kabupaten Banyumas, yaitu RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, RSUD Ajibarang, dan RSUD Banyumas. Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional), pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medik dan data dianalisis dengan analisis statistik Man-Whitney and Kruskal-Wallis. Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa kuantitas penggunaan antibiotik terbesar terjadi di RSUD Ajibarang yakni 110,75 DDD/100 pasien-hari kemudian diikuti RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo dan RSUD Banyumas dengan masing-masing 76,20 DDD/100 pasien-hari dan 46,07 DDD/100 pasien-hari. Hasil perbandingan DDD tiap antibiotik di tiga rumah sakit menunjukkan adanya perbedaan bermakna nilai DDD antibiotik amoksisilin dan sefotaksim di tiga rumah sakit tersebut. Kata kunci: antibiotik, DDD, caesarean section
Penilaian Pelayanan Kefarmasian Program Rujuk Balik Jaminan Kesehatan Nasional di Kotamadya Denpasar Bersadarkan Sudut Pandang Pasien Wirasuta, I Made Agus Gelgel; Wistari, Ni Made Ayu; Kosasih, Diah Ayu Nirmala; Cahyadi, Maria Fiani; Sari, Ni Putu Latsartika; Sudarni, Ni Made Rai; Sarasmita, Made Ary; Larasanty, Luh Putu Febryana
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.043 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v8i1.290

Abstract

ABSTRACT: The aim of this study was to evaluate the implementation of pharmaceutical care in pharmacies from patientâ??s point of view. The questioner assessment based on expectations, perceptions and level of satisfaction of patients. The questions were grouped into universal pharmaceutical care aspect, infrastructure and medicine management, drug auditing practice and dispensary waiting time, dispensing practice, drug information and drug counseling, and drug monitoring. The patients have a very high expectation of the pharmaceutical care in aspects of universal pharmaceutical care, infrastructure and medicine management, drug auditing practice and dispensary waiting time, and dispensing practice. The patients expressed a high expectation of drug information and counseling care, and a medium expectation in the drug monitoring. The patients have very high perception only at universal pharmaceutical care along with the infrastructure and medicine management aspects, while the drug auditing practice and dispensary waiting time along with dispensing practice aspects have medium perception. The drug information and counseling care along with drug monitoring aspects have poor perception. The comprehensive assessment showed that patient satisfaction levels were low on pharmaceutical care on community practice. The high expectation of patients to pharmaceutical care was a challenge to pharmacist to improve their role in better patient care. Keywords: pharmaceutical care, pharmacy, patient expectation, perception, satisfaction ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menilai implementasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek dari sudut pandang pasien. Penilaian didasarkan pada aspek harapan, persepsi dan tingkat kepuasan pasien terhadap praktek kefarmasian menggunakan kuisioner tertutup dengan penilaian berdasarkan skala Likert. Kuisioner disusun berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di apotek tahun 2014. Pernyataan dalam kuisioner dikelompokkan ke dalam 6 aspek yaitu aspek layanan umum, sarana prasarana dan pengelolaan perbekalan Kefarmasian, pengkajian resep dan waktu tunggu, dispensing, layanan Pusat informasi obat (PIO) dan konseling, serta monitoring. Secara umum pasien memiliki harapan yang sangat tinggi pada aspek layanan umum, sarana prasarana dan perbekalan kefarmasian, pengkajian resep dan waktu tunggu, serta pada aspek dispensing, harapan pelayanan yang tinggi pada aspek layanan pusat informasi obat (PIO) dan konseling, serta harapan yang sedang pada aspek monitoring. Namun demikian, pasien memiliki persepsi yang tinggi hanya pada aspek layanan umum serta sarana prasarana dan perbekalan kefarmasian, sedangkan pada pelayanan pengkajian resep dan waktu tunggu serta dispensing memiliki tingkat persepsi sedang, serta persepsi yang sangat rendah pada pelayanan PIO dan konseling serta monitoring. Secara menyeluruh pasien memberikan tingkat kepuasan yang rendah pada pelayanan kefarmasian. Tingginya harapan pasien pada pelayanan kefarmasian yang sesuai dengan standar menunjukkan tuntutan dan peluang bagi apoteker khususnya dalam peningkatan praktek asuhan kefarmasian di apotek. Kata kunci: JKN, pasien rujuk balik, asuhan kefarmasian, apotek, persepsi, kepuasan .  

Page 3 of 3 | Total Record : 24