cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 22 No. 2 (2020)" : 4 Documents clear
HARTE DAN TUNGGUAN : REDEFINISI ADAT TUNGGU TUBANG PADA KOMUNITAS SEMENDE MIGRAN Zainal Arifin
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 2 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i2.887

Abstract

Semende community at Muara Sahung, Bengkulu is ethnic group who migrated from Semende origin (Muara Enim) in South Sumatra Province. Semende community in this Muara Sahung coexist with various communities with a strong patrilineal culture value, where inheritance of property prefer men. In contrast to Semende cultural, with tunggu tubang customary, women (especially the eldest daughter) are important public and preferably as a ruler, and guards who utilize the inheritance his parents. As a cultural identity, tunggu tubang in Muara Sahung community still sustained. But the strong cultural intervention from the communities around it, then going on redefinition of tunggu tubang custom. The process of redefinition is done by the conceptualization of inheritance against itself, so that gave rise to the concept of tungguan (usually in the form of a house), and harte (usually in the form of land). The conceptualization of this custom was eventually also carry consequences where mastery against the tungguan more left to the woman (tunggu tubang), while mastery against harte were handed to men (jenang).
Dange:: Sinkronisasi Gereja Katolik terhadap Budaya Dayak Kayan Mendalam Efriani Efriani; Donatianus BSE. Praptantya; Jagad Aditya Dewantara
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 2 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i2.1076

Abstract

This research is motivated by the phenomenon of a blend of Dayak Kayan Mendalam customs and the rites of the Catholic Church in the dange tradition. Dange is a form of fusion of the Catholic Church's sacraments with local culture on the island of Borneo. Dange experienced development together with the Catholic Dayak Kayan Mendalam people. This research was conducted with interviews and field observations about the Dange tradition in the Catholic Church in the Mendalam parish in the middle of Dayak Kayan Mendalam, West Kalimantan. The synchronization between Dayak Kayan Madalam culture and the Rite of the Catholic Church was encouraged by Father Aloysius Ding, SMM as a native of Dayak Kayan Mendalam. Synchronization is done through the translation of the rites of the Catholic Church into the Dayak Kayan Mendalam.
FLEXIBILITY OF PRANG SABI VERSES: EVER-CHANGING ACEHNESE PERCEPTIONS OF HOLY WAR Syukri Rizki Rizki
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 2 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i2.1097

Abstract

Verses of prang sabi (holy war) have been receiving various actualization throughout Aceh’s history. This paper investigates the flexible features of the authorship of prang sabi texts and their relation with the conceptualization of the idea of holy war in the Aceh society. The “flexible concept” proposed by Muhammad Haji Salleh (2018) serves as the framework on which the structure of the hikayat is unraveled. Library sources, both online and offline, provide the data for the analysis of how the idea of holy war varies in the Aceh society. Being designed with mixed­method, the selected time frames of Aceh’s history are the times of the Dutch colonization, DI (Darul Islam) revolt, and GAM (Free Aceh Movement) insurgency. The findings reveal that the flexible concept in prang sabi texts rests on the sanjak system employed in the composition of Acehnese hikayats. This system allows improvisation for the texts to suit the contexts in which they are written. The idea of holy war to stand in the name of Islamic faith predominated during the Acehnese defense against the Dutch and of the DI’s and GAM’s revolts against the Indonesian statehood. All these movements claimed justification because the targets of the holy war were regarded as dangerous infidels (kaphé). Certain events served as the starting points of the three struggles. The Dutch annexation in 1873 marked the beginning of prang sabi against the Dutch, the abolishment of Aceh province followed by its incorporation into North Sumatera in 1951 triggered the prang sabi of DI against Indonesia, and the aspiration to separate Aceh as an independent Islamic state declared in 1976 marked the prang sabi of GAM against Indonesia. This study confirms that the flexible properties of prang sabi texts are responsible for the conceptualization of the idea of holy war in Aceh society.
PREFACE JMB VOL. 22 NO. 2 2020 Redaksi JMB
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 2 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i2.1116

Abstract

Saya sedang membaca kembali buku karya John Urry “Sociology Beyond Societies”(1), mencari rele­ vansi bagi perubahan yang sekarang ini terjadi. Buku tersebut mengkritik pendekatan sosiologi dengan memasukkan elemen penting yang mengubah masyarakat. Mengkritik dan mempertanyakan seperti yang dilakukan oleh Urry adalah hal yang biasa dilakukan para sosiolog. Dia secara khusus mempertnyakan apa yang disebut sebagai masyarakat. Mayoritas orang akan menggunakan kata masyarakat tanpa perlu mendefinisikannya sehingga penggunaannya bisa beragam dan juga sembarangan, misalnya masyarakat perkotaan, bedakah dengan komunitas di perkotaan, atau masyarakat Indonesia, samakah maknanya dengan penggunaan seperti orang Indonesia. Menurut Urry, yang membedakannya adalah mobilitas yang mengubah banyak hal, travelling, alat transportasi, dan lainnya membuat “masyarakat” menjadi entitas yang umum. Salah satu yang dibahas cukup mendalam di dalam buku tersebut adalah konsep “borders”. Mobilitas membuat batas­batas menjadi tidak jelas dan mengacu pada bangsa atau Negara. Lalu apa hubungannya dengan isi dari jurnal ini? Tentu ada, ketika terjadi mobilitas, apakah individu, komunitas, entitas harus ‘keukeuh’ pada pemahaman mereka sendiri, ataukah menerima kebiasaan yang sama sekali baru?Perspektif Urry memberi konteks pada “borders”, sebagai makna yang berubah, di mana terdapat perubahan yang diperlihatkan di dalam beberapa artikel. Secara umum, tulisan jurnal pada edisi ini dapat dibagi atas pembagian tentang sosial dan budaya, walaupun perbedaannya bukan menjadi masalah, melainkan menunjukkan variasi yang diinginkan oleh jurnal. Masalah sosial berkaitan dengan mobilitas manusia dan kemudian tempatan yang berkaitan dengan kebiasaan, adat dan agama, teknologi, selain juga tentang gender. Perubahan yang terjadi memiliki lintasan yang berbeda, dalam urutan yang acak namun memiliki kesamaan. Perubahan kontemporer ditunjukkan dengan teknologi dan munculnya pariwisata sebagai faktor perkembangan masyarakat. Perubahan lain adalah mencari kesamaan dan kepentingan bersama menjadi dasar, akan tetapi di dalam kaitannya dengan gender, perubahan yang terjadi mengarah pada norma patriarki. Dalam kaitannya dengan bagian budaya, berkaitan dengan bahasa dan sastra. Kaitan erat dengan mobilitas manusia dan keberadaan teknologi juga mengubah hubungan sosial yang ada. Media sosial bukan lagi sekadar tempat mengalihkan ekspresi pribadi, melainkan juga ber­ makna jaring an. Kajian yang melihat media sosial menunjukkan bahwa medium ini berperan di dalam memunculkan karisma tokoh politik. Selama ini, karisma, yang dipahami dimiliki secara alamiah dan sebagai keahlian individual, dapat dibentuk dengan membuat tayangan yang menarik dan memperhatikan kelompok sasaran. Dalam hal yang berbeda, mobilitas telah membuat pariwisata sebagai sumber perkem­ bangan dan keuangan, di mana partisipasi masyarakat penting sebagai elemen kelompok. Pariwisata tidak melihat kemajuan individual, tetapi melihat banyak elemen, seperti potensi alam, serangkaian infrastruktur yang mendukung mobilitas, atraksi, site yang instragramable, penginapan yang khas, dan lainnya. Hal ini membutuhkan partisipasi masyarakat sehingga site yang dimaksud dapat dikembangkan secara maksimal.

Page 1 of 1 | Total Record : 4


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 2 (2003) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue