cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (1995)" : 6 Documents clear
PENGEMBANGAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN DI SULAWESI SELATAN (KASUS FATHUL MUIN KOTAMADYA UJUNGPANDANG) Abd. Azis Alboneh
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.294 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.617

Abstract

Salah satu gejala sosial yangmenonjol dewasa ini adalah munculnyapluralisme agama. Pluralisme agamadibarengi dengan timbulnya pluralismeteologi, filsafat , sistem nilai idiologi danpandangan hidup. Peter Berger melukiskanpluralisme sebagai situasi yang didalamnya tersedia lebih dari satu pandanganhidup bagi warga masyarakat,yaitu situasi persaingan diantara pandanganhidup (Berger, dalam Sastraprateja,1986:33). Kompetisi berbagai pandanganhidup yang tumbuh dalam masyarakat,dapat terjadi diantara kelompokkelompokyang mengikuti suatu fahamkeagamaan tertentu. Terlepas dari apakahfaham keagamaan itu merupakan produkdari pemikiran dan pemahaman yangsumbernya diambil dari teks-teks kitabsuci ; atau paham keagamaan yang sudahbercampur baur dengan tradisi lokal.Di Sulawesi Selatan, dewasa inisedang berkembang salah satu kelompokkeagamaan, yang dalam aktivitas sehariharinyakelihatan berbeda dengan polasikap masyarakat muslim lainnya. Perbedaanitu, antara lain, menyangkut sikapekslusivisme, memisahkan diri darijamaah atau peribadatan umat Islamlainnya, dan mempunyai pandangan daninterpretasi berbeda terhadap teks-tekskitab suci. Kelompok ini bergabungdalam Yayasan Fathul Muin yang berbasisdi Masjid Widhatul Ummah, JalanAbdullah Daeng Sirua Nomor 57 KelurahanPersiapan Tamamaung KecamatanPanakkukang Ujungpandang.
ORIENTASI KEAGAMAAN MASYARAKAT SEI PINANG LUAR, KECAMATAN SAMARINDA ILIR, KOTAMADYA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR Abd. Shadiq Kawu
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.199 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.613

Abstract

Pembangunan selalu dikaitkandengan modernisasi. Dalam prosesini, terjadi perubahan pada hampirsemua aspek kehidupan masyarakat.Perobahan watak dan tingkah lakumasyarakat, serta orientasi sosial jugasecara langsung akan bergeser, begituprogram-program pembangunan berlangsungsecara intensif.Pembangunan bidang agama, sebagaimanadirumuskan dalam GBHNdiarahkan kepada penataan kehidupanberagama dan kepercayaan terhadapTuhan Yang Maha Esa yang tercermindalam kehidupan sehari-haridengan semakin meningkatnya kerukunankehidupan umat beragama,baik antar umat beragama maupunintern umat beragama. Hal ini dapatdiartikan bahwa pembangunan bidangagama masihbertumpu pada upayapenciptaan tiga kondisi ideal, yaitu :kadar keimanan dan ketakwaan yangtinggi; wawasan keberagamaan yangluas, matang, dan berkembang; dankerukunan keberagamaan yangmantap dan dinamis untuk menyukseskanpembangunan nasional.Dari serangkaian penelitian yangdilaksanakan Badan Litbang Agamadapat dirumuskan bahwa pelaksanaanpembangunan di tanah air selama 25tahun terakhir ini telah melahirkanberbagai perubahan dalam masyarakatyang disebabkan oleh adanya prosesakulturasi antara budaya setempatdengan budaya asing yang akandatang kemudian lewat jalur komunikasidan transfortasi disampingdisebabkan adanya perobahan-perobahanmendasar yang berasal daridalam masyarakat sendiri. Dengankondisi semacam itu, diasumsikantelah terjadi perubahan orientasikeagamaan pada masyarakat dibandingkandengan sepuluh tahunterakhir.Dari pemikiran tersebut masalahpenelitian ini dapat dirumuskan sebagaiberikut :Bagaimana corak orientasi keagamaanpada berbagai komunitas di Indonesia.Permasa.lahan tersebut secaraspesifik dapat dirumuskan beberapapertanyaan penelitian, yaitu :1. Apakah terdapat perbedaan orientasikeagamaan masyarakat,terutama pada suatu etnis tertentu(khususnya etnik Kutai di SamarindaPropinsi Kalimantan Timur),setelah mengalami terpaan modernisasipembangunan selama sepuluhtahun terakhir.2. Bagaimana corak orentasi keagamaanyang terdapat pada komunitasetnik Kutai, terutama yangberada di Samarinda PropinsiKalimantan Timur,
LEKTUR AGAMA DALAM AKSARA LONTARA BERBAHASA BUGIS Abubakar Surur
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.363 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.609

Abstract

Propinsi Sulawesi Selatan didiamiempat suku yang merupakan pendudukasli, masing-masing memiliki bahasatersendiri sebagai bahasa induk, yaitusuku Bugis, Makassar, Mandar dan SukuToraja.Bahasa Bugis tersebar luas, bukanhanya di Sulawesi Selatan, tetapi menyebatsampai ke seluruh pelosok tanah air.Suku Bugis yang suka merantau sampaikeluar negeri dengan menggunakanperahu khas yang disebut "pinisi",banyak yang mendiami negara-negaratetangga, seperti Malaysia, Singapura,Brunei, Saudi Arabia dan negara lainnya.Walaupun mereka telah menjadi warganegarapada negara atau propinsi lainyang didiaminya, mereka masih ketatmenggunakan bahasa Bugis sebagaibahasa komunikasi antarmereka seharihari.Disamping bahasa, orang Bugismemiliki juga tulisan khusus yang dikenaldengan tulisan lontara, masih tetapdigunakan, baik dalam surat-menyurat,maupun dalam menyusun buku-bukutermasuk lektur agama (Islam).Penyebaran dan perkembanganAgama Islam di Sulawesi Selatan, sejakawal menggunakan bahasa Bugis danaksara Lontara, didukung dengan kenyataanbahwa orang-orang Bugis, yangumumnya beragama Islam, lebih sukamenggunakan dan mempertahankanpemakaian Bahasa Bugis sebagai saranakomunikasi intern, disamping masihbanyak orang Bugis yang masih sulitberkomunikasi dengan memakai bahasanasional, terutama mereka yang berdomisilidi pedesaan.Penjelasan Undang-Undang Dasar1945, pasal 36 menyebutkan :"Di daerah-daerah yang mempunyaibahasa sendiri, yang diperliharaoleh rakyatnya dengan baik danbahasa-bahasa itu akan dihormatidan dipelihara oleh nagara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebahagiankebudayaan Indonesia yanghidup".Dengan demikian, Bahasa daerahBugis dengan aksara Lontarak yang dimilikinyasampai sekarang masih banyakberedar dan dimiliki masyarakat sertadibaca oleh penduduk yang menggunakanbahasa Bugis, bahkan masih ada yangadigunakan sebagai buku-buku rujukan diPesantren, Madrasah Diniyah dan MajelisTaklim.Untuk mengetahui lebih dalam,perkembangan Lektur Agama tersebut,penelitian dilakukan di Kotamadya Parepare,Kota Sengkang, Watansoppengdan Kota Watampone, sebagai sampelyang dianggap tersedia sumber data dantempat tinggal Ulama, pengarang LekturAgama berbahasa Bugis dapat ditemukan.No. 12 Th. VII Juli/Desember 1995LEKTUR AGAMA DALAM AKSARA LONTARABERBAHASA BUGIS 25Pengumpulan data dilakukan melaluiwawan-cara dengan Ulama pengarang,tokoh masyarakat, guru-gufu Madrasahdan penerbit. Disamping itu, penelitimelakukan juga pengamatan langsung kePesantren dan Madrasah Diniyah.Pengolahan dan analisis data dilakukandengan analisis kuantitatif dan analisiskualitatif.
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PADA MADRASAH ALIYAH NEGERI II DAN PERSEPSI MASYARAKAT DI PALU SULAWESI TENGAH M.Arsyad Parany
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.301 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.615

Abstract

Penguasaan Ilmu Pengetahuan danTeknologi akan mempengaruhi keberhasilanmembangun masyarakat majudan mandiri. Pembangunan Ilmu Pengetahuandan Teknologi diarahkan agarpemanfaatan, pengembangan, dan penguasaannyadapat mempercepat prosespembaharuan, meningkatkan produktivitasdan efesiensi, memperluas lapangankerja meningkatkan kesejahteraan rakyat(GBHN : 19.93).Untuk menggapai semua itu, ditempuhjalan yang paling bijak adalahlewat pendidikan. Pendidikan merupakantanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah, termasukjuga dalam hal biaya penyelenggaraanpendidikan. Jenjang pendidikanyang termasuk jalur pendidikan sekolahterdiri atas pendidikan dasar, pendidikanmenengah, dan pendidikan tinggi.Pendidikan menengah terdiri ataspendidikan menengah umum, pendidikanmenengah kejuruan, pendidikan menengahluar biasa, pendidikan menengahkedinasan," dan pendidikan menengahkeagamaan. Pendidikan menengahumum adalah pendidikan pada jenjang* Resume hasil penelitian ini diseminarkanpada Seminar Agama dan Kemasyarakatanpada tanggal 30 Nopember 1995 di Ujungpandang.** Staf P e n e l i t i Balai P e n e l i t i a n LekturKeagamaan.pendidikan menengah yang mengutamakanperluasan pengetahuan dan peningkatanketerampilan siswa. SekolahMenengah Umum (SMU) dan SMUberciri khas agama Islam atau MadrasahAliyah (MA), yang mengutamakanpenyiapan siswa untuk melanjutkanpendidikan pada jenjang pendidikantinggi dengan pengkhususan yang diwujudkanpada tingkat-tingkat akhir masapendidikan (UU No. 2 : 1989 dan PPNo. 29 : 1990).Madrasah Aliyah (MA) adalahSMU yang berciri khas agama Islamyang diselenggarakan oleh DepartemenAgama (SK Mendikbud Nomor0489/U/1993 Pasal 1 butir 6).Persepsi pada hakekatnya adalahproses kognitif oleh setiap orang didalam menekuni informasi tentang lingkungannya.baik lewat penglihatan, pendengaran,penghayatan, perasaan danpenciuman (Thoha, 1983 : 138).Kunci untuk memahami persepsimenurut Thoha, adalah terletak padapengenalan, bahwa persepsi itu merupakansuatu penafsiran yang unik terhadapsituasi (stimulasi), bukannya suatu pencatatanyang benar terhadap situasi tersebut
KEHIDUPAN BERAGAMA MASYARAKAT TATOR (Studi Kasus di Kelurahan Tikala Kec. Rantepao Kab. Tana Toraja) Ahmad Rahman
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.667 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.611

Abstract

Sasaran pembangunan jangkapanjang yang hendak dicapai olehbangsa Indonesia sebagaimana yangdiamanatkan oleh Pembukaan UUD1945 adalah tercapainya masyarakatadil dan makmur, sejahtera lahir danbatin. Usaha tersebut telah dilaksanakansecara bertahap melalui PembangunanJangka Panjang I (PJP I ) , kemudiandilanjutkan pada tahap PJP I I.Tahap itu merupakan batu pijakan yangsangat penting untuk tahap tinggallandas pada pelita V I , yang digambarkansebagai proses pencapaian kehidupanbangsa yang lebih baik,namun penuh gejolak perubahankarena desakan pertumbuhan ekonomi,perkembangan teknologi, persainganinteranisional dan perubahan lingkunganhidup.Untuk mencapai tujuan pembangunannasional, pada dasarnyapembangunan sektor agama selaluditetapkna untuk menumbuhkan regiositasmasyarakat yang sekaligus jugaberfungsi sebagai penangkal dampaknegatif pembangunan. Oleh karenaitu, pembangunan sektor agama lebihdiarahkan untuk mencapai tiga kondisiideal, yaitu : kader iman dan ketakwaanyang tinggi; wawasan keberagamaanyang luas dan matang; dankerukunan kehidupan keberagamaanyang mantap dan dinamis untuk menyukseskanpembangunan.Dalam rangka mencapai pemahamantentang bagaimana corakkehidupan keberagamaan masyarakat,Badan Litbang Agama telah melakukanserangkaian penelitian tentang ketakwaanterhadap Tuhan Yang Maha Esadalam berbagai sisteim sosial budayamasyarakat Indonesia. Dari hasilpenelitian tersebut, diperoleh temuanyang memperkuat kenyataan selama inibanhwa masyarakat Indonesia memandangTuhan Yang Maha Kuasa adalahbagian yang tidak terpisahkan darikebudayaannya. tuhan adalah sumberacuan dan orientasi tertinggi danutama dalam kehidupan manusia. Atausecara sederhana dapat dikatakanbahwa agama merupakan submer ethosdan pandangan hidup bangsa Indonesia.Departemen Agama sesuai dengantugas pokok dan fungsinya, yaitumemberikan pelayanan dan bimbingankehidupan agama kepada masyarakat,dan ditutut memperhatikan perubahanyang ada. Apakah pelayanan danbimbingan itu sudah berjalan denganbaik, dan apakah kebijaksanaan yangdiambil sejalan dengan aspirasi masyarakat.Untuk menjawab pertanyaanitu, diperlukan penelitian.
PROFIL LEMBAGA PEMASYARAKATAN MAROS (SEBUAH KASUS EVALUATIF TERHADAP PELAKSANAAN PEMBINAAN NARAPIDANA) Abd. Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.029 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.607

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan adalahinstitusi sosial yang sudah berusia tua.Keberadaannya seiring dengan terbentuknyadan berkembangnya masyarakat.Oleh karena itu, eksistensilembaga ini sangat tergantung kepadaperkembangan masyarakat. Semakinberkembang suatu masyarakat, akansemakin rumit pula bentuk lembagapemasyarakatan.Pada suatu mas a tertentu, pengertianLembaga Pemasyarakatan lebihdikenal sebagai tempat menjalanihukuman bagi orang-orang yang telahmelanggar peraturan negara. Pengertianini pada gilirannya telah melahirkanpemahaman bahwa fungsi tunggallembagan pemasyarakatan adalahsebagai tempat hukuman bagi orangorangyang melanggar hukum. Akibatnyanarapidana selalu dipandangsebagai orang bersalah dan jahat.Pemerintah Indonesia sejak dekadeakhir ini melalui Departemen Kehakimancq Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,LP tidak lagi dikesankansebagai tempat yang angker danmenakutkan, yang akan membuat jeradan takut, tetapi mulai diorientasikanmenjadi satu tempat khusus mempersiapkanNapi kembali dan diterimaoleh masyarakat. Untuk itu, disampingpemberian pengetahuan danketerampilan praktis, mulai ditingkatkanpula kegiatan pembinaan mentaldan spiritual, pembinaan wawasankebangsaan, kemasya.rakatan, danbimbingan keagamaan.Meski demikian, sementara inimasyarakat luas belum mengetahuisecarajelas bagaimana pola pembinaantersebut dan apakah pembinaandalam Lapas sungguh-sungguh telahmencerminkan citra baru dariLembaga Pemasyarakatan ? Jikabelum, faktor-faktor apakah yangmerupakan kendala terlaksananya polapembinaan tersebut ? Masalah itulahyang menjadi fokus perhatian penulislewat penelitian ini dengan mengambilsampel di Lembaga PemasyarakatanKelas II Maros Sulawesi Selatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6