cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012" : 13 Documents clear
KEMATIAN TAHANAN DI RUANG SEL POLISI KONTROVERSI PEMBUNUHAN ATAU BUNUH DIRI DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ILMU KEDOKTERAN FORENSIK Rika Susanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.289 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p113-120.2012

Abstract

AbstrakKematian tahanan cukup sering ditemukan, beberapa cara mati dapat terjadi. Kasus yang banyak adalah cara mati dengan bunuh diri. Tugas dokter dalam menangani kasus kematian yang diotopsi adalah untuk menentukan sebab mati dan mekanisme mati, sedangkan cara mati adalah kewenangan penyidik. Pada kematian akibat asfiksia mekanik, akan ditemukan ciri umum yang sama, tetapi dokter dapat memperkirakan jenis asfiksia dari gambaran luka yang ditemukan tubuh korban.Dua kakak beradik, laki-laki, umur masing-masing 18 tahun dan 15 tahun ditemukan dalam keadaan tergantung di runag tahanan polisi. Otopsi dilakukan antara 24-48 jam post mortem. Pada pemeriksaan ditemukan luka lecet tekan dengan pola sesuai kasus gantung dileher dan beberapa luka lecet dan memar dianggota gerak terutama anggota gerak bawah. Kuku berwarna keunguan, daerah leher dan wajah berwarna lebih gelap. Tubuh kedua korban sudah mulai membusuk. Pada pemeriksaan dalam ditemukan memar pada otot leher, tanda-tanda mati lemas pada beberapa organ, sedangkan pada bagian tubuh lain tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.Sebab kematian kekerasan tumpul dileher karena ditemukan tanda-tanda intravitalitas luka, dan tanda- tanda asfiksia pada tubuh korban, pola luka dileher sesuai pola gantung. Tidak ditemukan tanda kekerasan lain yang bisa menyebabkan kematian. Beberapa luka lecet dengan umur yang berbeda-beda ditemukan di ekstremitas hal ini bisa disebabkan oleh berbagai kekerasan tumpul. Kasus ini menjadi kontroversi karena kematian di tahanan dianggap ada kelalain petugas, dan korban adalah usia anak dan kakak beradik.Kata kunci : kematian di tahanan-asfiksis mekanik-cara matiAbstractDeath of prisoner quite often find in several methods. The most case of death are by suicide method. Physician role in autopsy is to found cause of death and death mechanism, whereas death method is authority of investigating officer. Death caused by mechanical asphyxia will find the same general characteristic, but physician can estimated kind of asphyxia from wound appearance in victim body.LAPORAN KASUS113Two siblings, boys, 18 years old and 15 years old, have found in hanging position in prison. Autopsy has done between 24-48 hours postmortem. In examination, we find pressure abrasion wound in pattern appropriate with hanging case in neck and some of abrasion and bruise wound in extremity, especially inferior extremity. Nails color are purplish, color of neck and face are darker. Victim body has started to decay. In inside examination, we find bruise in neck muscle, shown evidence of dead cause asphyxia in some organs, whereas in other part of body did not find sign of force.Cause of death is blunt wound in neck because we find a sign of intra-vitality injury and asphyxia sign in victim body, pattern of wound in neck are appropriate hanging pattern. We did not find other force sign which cause a death. Some of abrasion wound with different age find in extremity, and this case can caused by many blunt wound.This case be a controversial because death in prison considered by dereliction of officer, and as we know, victim are children and sibling.Key word: Death in prisoner-asphyxia-dead method
OPINI MASYARAKAT TENTANG MALPRAKTEK KEDOKTERAN Hardisman Hardisman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.553 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p73-86.2012

Abstract

AbstrakDalam menjalankan profesinya, dokter harus taat pada norma-norma sosial, etika profesi dan hukum. Pelanggaran akan nilai-nilai tersebut dapat menjadi sorotan masyarakat, dan bisa berlanjut kepada tuduhan malpraktek kedokteran. Penelitian ini dilakukan untuk menilai bagaimana opini masyarakat tentang malpraktek kedokteran yang dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip etika kedokteran. Untuk menjawab tujuan penelitian ini telah dilakukan online survei deskriptif dan kualitatif  pada Bulan November 2009-Oktober 2010, dengan menggunakan kuisioner terstruktur dan pertanyaan terbuka. Respoonden  didapatkan dengan teknik sampling non-probabilitas convenience sampling.  Data dianalisa menggunakan prinsip-prinsip etika kedokteran secara deskriptif. Data kualitatif juga dilakukan analisa tematik serta ditampilkan dalam bentuk narasi. Secara umum opini masyarakat tentang malpraktek kedokteran sesuai dengan pandangan prinsip-prinsip etika kedokteran. Masyarakat berpendapat bahwa terjadinya malpraktek ada unsur kesalahan prosedur atau diagnosis dan penatalaksanaan.  Namun, mereka cendrung pada filosofis konsekuentialis yang lebih menitik beratkan kepada akibat yang dialami oleh pasien yang kurang mempertimbangkan apa yang telah dilakukan dokter berdasarkan standar medis.  Bahkan, ungkapan responden yang dianggapnya sebagai malpraktek lebih disebabkan karena ketidakpuasannya terhadap pelayanan yang diberikan. Ketidakpuasan tersebut timbul akibat rendahnya kualitas informasi dan sikap komunikasi dokter dan petugas dalam melakukan pelayanan. Oleh karena itu, untuk memperbaiki opini masyarakat dan mencegah berbagai tuduhan malpraktek, dokter dan petugas kesehatan harus mentaati etika dan standar profesi dalam melakukan pelayanan, serta memberikan informasi yang cukup dan komunikasi yang baik dengan pasien.Kata Kunci: Malpraktek kedokteran, etika, dan opini masyarakat.  AbstractIn providing services, medical professionals have to aware on social norms, ethics and laws. The behaviours which against those regulations attract public attention and can lead to medical malpractice allegations. This research was conducted to explore public opinion on medical malpractice, which was analyzed base on medical ethic principles. To answer the research question, descriptive and qualitative online survey has been conducted from November 2009 to October 2010, which used structured and open ended questionnaire. The participants were selected by employing non-probability convenience sampling. Later, the quantitative data was analyzed descriptively, and the qualitative data was also analyzed thematically and presented narratively. In general, public opinion on malpractice is similar to the principles of medical ethics. They believe that wrong procedures, diagnosis and treatments are factors of the malpractice. However, the participants adopt more consequentialism philosophy, which emphasize on effect on patients and lack of consideration what the doctors has done base on medical standards. More over, participants' explanations on medical malpractice are expression of dissatisfaction of medical services. The dissatisfaction is as a result of low of quality of information and attitude of doctors and other staffs in providing the services. Threfore, to improve public opinion on medical service and prevent medical malpractice allegation, doctors and other staffs have to obey professional standards and ethics, providing adequate information and good communication.Key word : Medical malpractice, ethics, and public opinion.
MINI CEX : METODE PENILAIAN PERFORMA PADA PENDIDIKAN TAHAP KLINIK Detty Iryani
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.964 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p23-28.2012

Abstract

AbstrakMini Cex adalah salah satu metode penilaian yang dirancang untuk mengukur performa peserta didik dalam pendidikan tahap klinik. Penilaian Mini Cex dilakukan oleh seorang penilai yang sudah dilatih terhadap peserta didik yang berinteraksi langsung dengan pasien, yang terdiri dari tujuh komponen yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, profesionalisme, clinical judgment, keterampilan konseling, organisasi atau efisiensi dan penilaian secara keseluruhan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa metode penilaian ini memiliki validitas dan reabilitas yang baik, selain itu metode ini juga mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.Kata Kunci : Mini Cex, metode penilaian, pendidikan tahap klinikAbstractMini Cex is one of assessment method designed to measure the performance of students in the clinical stage education. Mini Cex assessment conducted by an assessor who is trained to student who interact directly with patients, There are seven components which will be evaluated : medical interviewing skills, physical examination skills, professionalism, clinical judgment, counseling skills, organization or efficiency and overall clinical competence. Various studies have shown that mini cex has good validity and reliability, besides this method also has some advantages and disadvantages.Key word : mini cex, assessment method, clinical stage education

Page 2 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue