cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
SALINGKA
ISSN : 02161389     EISSN : 26153963     DOI : -
Core Subject :
SALINGKA: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015" : 12 Documents clear
SASTRA LISAN SUNDA SEBAGAI MEDIA JEJARING MOTIF UNTUK PENGUATAN NKRI (Sundanese Oral Literature as Media of Motifs Network for Strengthening the Unitty of the Republic of Indonesia) Yeni Mulyani Supriatin
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.475 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.200

Abstract

AbstractDiversity and similarity of the motif found in oral literature in the archipelago can actually be adhesive for disintergration in the nation and it can strengthen the Homeland. The issues of regional programs, such as Malay and regional autonomy is one of the “threat” of the split nation. This study aimed to describe Sundanese oral literary motifs (as a baseline for comparison with other areas of oral literary motifs) that can be used as the media of motifs network for strengthening the nation. Analyzing data motif index approach. Source of data used are oral literature from Sunda belonging to the kind of prose randomly selected with consideration of the stories are chosen that contain motifs that are universal or motives that at least has been recorded in a motif index version of Thomson and the estimated contained in oral literature outside Sunda so the motifs found can be used as a comparison of motifs to seek their kinship. The results showed that in the oral literature of Sunda found several motifs such as the origin of the first humans on earth, the origin of the rice, the origin place, the angel who married to a man, man to stone, and the human half of which are universal motifs.Keywords: oral literature Sunda, motifs, and motif-indexAbstrakKeragaman dan kesamaan motif sastra lisan Nusantara sesungguhnya dapat menjadi perekat disintergrasi bangsa serta memperkuat NKRI. Isu-isu tentang kewilayahan, seperti kemelayuan dan otonomi daerah merupakan salah satu “ancaman” perpecahan bangsa ini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan motif sastra lisan Sunda (sebagai data awal untuk dibandingkan dengan motif sastra lisan daerah lain) yang dapat dimanfaatkan sebagai media jejaring motif untuk penguatan NKRI. Penganalisisan data dilakukan dengan pendekatan motif indeks. Sumber data yang digunakan adalah sastra lisan Sunda jenis prosa yang dipilih secara acak dengan pertimbangan cerita-cerita yang dipilih yang mengandung motif yang bersifat universal atau motif-motif yang minimal sudah tercatat dalam motif indeks versi Thomson serta yang diperkirakan terdapat dalam sastra lisan di luar Sunda sehingga motif yang ditemukan dapat dijadikan bahan perbandingan motif untuk mencari kekerabatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam sastra lisan Sunda ditemukan beberapa motif seperti asal-usul manusia pertama di bumi, asal-usul padi, asal-usul tempat, bidadari yang menikah dengan manusia, manusia menjadi batu, dan manusia separuh yang merupakan motif-motif universal.Kata kunci: sastra lisan Sunda, motif, dan motif-indeks
REFLEKSI NILAI BUDAYA DALAM KIEH PASAMBAHAN (Cultural Values as Reflected in Allusive Speech of Kieh Pasambahan) Herlinda Herlinda
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.454 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.202

Abstract

AbstractThis study discusses the cultural values contained in kieh pasambahan manjapuik marapulai (allusive custom speech to call for bridegroom in a wedding procession) in Induriang Kapau. The selection of kieh pasambahan manjapuik marapulai to be analyzed due to an important stage of the whole series of events in the marriage ceremony is manjapuik marapulai (to pick the groom) because at that stage giving a traditional title to the groom (marapulai) as a marker of his maturity is performed. This research was qualitative descriptive. Study used a qualitative approach through methods refer, involved, competent. The results showed that the cultural values contained in kieh pasambahan manjapuik marapulai in Induriang Kapau are (1) deliberation, (2) knowledge, (3) culture diligent, (4) the regularity, (5) loyality, and (6) justice .Keywords; cultural values, kieh, pasambahanAbstrakPenelitian ini membahas nilai budaya yang terkandung dalam kieh pasambahan manjapuik marapulai di Induriang Kapau. Pemilihan kieh pasambahan manjapuik marapulai untuk dianalisis dikarenakan tahapan yang penting dari seluruh rangkaian kegiatan dalam upacara perkawinan adalah manjapuik marapulai (menjemput pengantin laki-laki) karena pada tahapan itulah pemberian gelar dilaksanakan. Pemberian gelar kepada pengantin laki-laki (marapulai) dilakukan sebagai penanda kedewasaannya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelaahan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode simak, libat, cakap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya yang terkandung di dalam kieh pasambahan manjapuik marapulai di Induriang Kapau adalah (1) musyawarah, (2) kearifan, (3) budaya rajin, (4) keteraturan, (5) loyaliatas, dan (6) keadilan.Kata kunci: nilai budaya, kieh, pasambahan
KRITIK SOSIAL DALAM LIRIK LAGU (Social Critics in Songs Lyrics) Ermitati Ermitati
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.554 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.196

Abstract

AbstractThe Article aims to describe that social criticism not only can be yelled through protest, but also through the lyrics of the song. Social criticism lyrics of the song, in general, addressed to the government, state officials, and Indonesia politicians. The issues discussed in this paper is the social behavior of state officials and politicians in the Orde Baru and Era Reformasi, as well as the vocabulary used by the composer to encode the events that occurred at that time. The data of this paper were collected through listening methods using downloading technique and recording. The data were analyzed with the theory of dynamic model of meaning (Kecskes, 2007), which states that a person’s knowledge of the world may be encoded in the lexical item as a mixture of general knowledge associated with the provision concept, the wordspecific semantic properties (lexicalization knowledge of the world) , and culture-specific conceptual properties. It is something new because during the analysis of social criticism lyrics of the song are dominated by semiotic theory and discourse theory. This paper found four types of behavior of state officials encoded in the lyrics of social criticism, namely (a) the behavior of enriching themselves by corruption the country money, (b) behavior of justifying a variety of ways to get the desired positions, (c) the behavior of being dared to violate religious norms to get the treasure, and (d) the behavior of being happy to commit fornication.Keywords: social critics, behavior, encode, song lyrics, state officialsAbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahwa kritik sosial tidak hanya dapat dilakukan melalui demonstrasi, tetapi dapat juga dilakukan melalui lirik lagu. Lirik lagu kritik sosial, pada umumnya, ditujukan kepada pemerintah, pejabat negara, dan para politisi Indonesia. Masalah yang dibahas dalam tulisan ini adalah perilaku sosial para pejabat negara dan para politisi pada masa Orde Baru dan Era Reformasi, serta kosakata yang digunakan oleh pencipta lagu untuk menyandikan berbagai peristiwa yang terjadi pada masa itu. Data tulisan ini dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik pengunduhan dan teknik pencatatan. Data dianalisis dengan Teori Model Makna Dinamis. Hal itu merupakan sesuatu yang baru karena selama ini analisis lirik lagu kritik sosial didominasi oleh teori semiotik dan teori wacana. Temuan tulisan yaitu empat jenis perilaku pejabat negara yangtersandi dalam lirik lagu kritik sosial, yakni (a) perilaku memperkaya diri dengan cara mengorupsi uang negara, (b) perilaku menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan jabatan yang dinginkan,(c) perilaku berani melanggar norma agama demi mendapatkan harta, dan (d) senang melakukan perbuatan zina.Kata kunci: kritik sosial, perilaku, tersandi, lirik lagu, pejabat negara
MAKNA IMPLIKATUR IKLAN PADA IKLAN NIAGA.COM (The Implicture on the Iklan Niaga.Com Advertisement) Vita Nirmala
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.293 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.193

Abstract

AbstractThis study discusses the implicature on Iklan Niaga.com. This study aims to describe the implicature of the utterance or text of the advertisements in Iklan Niaga.com.This study used the descriptive-analitic method. The data were collected from five advertisements advertised in Iklan Niaga.com. The type of the implicature is commonly used in commercial advertisements on Iklan Niaga.com, they are some offerings such as offerings of discount, offering of advantage, offering of strategic location, offering of bonus, offering product excellence, offering of easiness, offering of cheap price, offering of product type, and offering of the newest product.Kata kunci: pragmatic, implicature, advertisementsAbstrakPenelitian ini membahas tentang makna implikatur pada Iklan Niaga. Com. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna implikatur pada ujaran atau teks iklan pada Iklan Niaga.com. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Data diperoleh dari 5 iklan yang dimuat padaIklan Niaga.com. Pada umumnya, jenis implikatur yang digunakan iklan komersial pada Iklan Niaga.com berupa beberapa penawaran seperti penawaran potongan harga, penawaran keuntungan, penawaran lokasi strategis, penawaran bonus, penawaran keunggulan produk, penawarankemudahan, penawaran harga murah, penawaran tipe produk, dan penawaran produk terbaru.Kata kunci:pragmatik, implikatur, iklan
RELEVANSI CERITA RAKYAT MIMIKA BIWAR SANG PENAKLUK NAGA SEBAGAI BAHAN BACAAN ANAK SEKOLAH DASAR (Relevance of the Folklore of Mimika Biwar Sang Penakluk Naga as Reading Material of Primary School Students) Normawati Normawati
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.65 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.199

Abstract

AbstractMimika regency, Papua has a lot of interesting folkores as well as other regions in Indonesia. The folkore, however, is not used for children’s literature as learning in the school yet. Therefore, the research describes the appropriateness presentation of the structure of Mimika folklore, that is, Biwar Sang Penakluk Naga, with the development of children intelectual. The source of data is written text that contains of folkore. Analysis is conducted by using descriptive qualitative method. The result shows that this folkore appropriates with criteria for assessment of children’s literature, so, it’s worth as a reading source for 7—11 years old of Primary School students. The appropriateness can be seen in a simple story by using linear groove, flat characters which are shown in black and white, and the using of simple vocabularies and sentences. Accordingly, the folkore Biwar Sang Penakluk Naga has moral value, namely patience and braveness that can build children’s character.Keywords: Mimika folkore, intelectual, children literature, character valueAbstrakKabupaten Mimika, Papua memiliki banyak cerita rakyat yang tidak kalah menariknya dengan cerita rakyat lain di Nusantara. Akan tetapi, cerita rakyat tersebut belum banyak dimanfaatkan untuk bahan bacaan anak terlebih sebagai bahan pembelajaran sastra di sekolah. Oleh sebab itu, penelitian ini mengulas kesesuaian penyajian cerita rakyat Biwar Sang Penakluk Naga dengan tahap perkembangan intelektual anak. Sumber data berupa teks tertulis yang berisi cerita rakyat. Analisis dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini sesuai dengan kriteria penilaian sastra anak sehingga layak dijadikan sebagai bahan bacaan anak sekolah dasar dengan rentang usia 7—11 tahun. Kesesuaian itu dapat dilihat pada penyajian cerita yang sederhana yang ditunjukkan dengan penggunaan alur linear, tokoh cerita berwatak datar (flat character)yang ditampilkan secara hitam putih, dan pemakaian kosakata dan kalimat yang sederhana. Selain itu, cerita ini mengandung nilai pendidikan karakter, yakni nilai kesabaran dan keberanian yang dapat membentuk karakter anak bangsa.Kata kunci: cerita rakyat Mimika, intelektual, sastra anak, nilai karakter
TEKS HIKAYAT CERITA NABI MUHAMMAD SALLALLAHU ‘ALAIH WA SALLAM BERNIAGA KE NEGERI SYAM DAN PERKAWINANNYA DENGAN SITI KHADIJAH: KAJIAN STRUKTUR DAN FUNGSI (The Story of the Prophet Muhammad Sallallâhu ’alaihi Wa Sallam Trading to Syam State and His Marriage with Siti Khadijah: Study of Structure and Function) Emil Septia
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.6 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.194

Abstract

Abstract“The story of the Prophet Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam traded to Sham state and his marriage with Siti Khadijah” was written in Arabic-Malay script with writing pattern that is not considered to be prevalent in the present. This story tells about the juorney of the prophet Muhammad Sallallâhu ’Alayhi Wa Sallam traded to the land of Sham. In each trip run trading business Prophet Muhammad procure attack, but the accident can be resolved by variety of miracles on permission and the power of Allah through the intermediary of the angels, so the Prophet Muhammad always survived with a large fortune on its trading business. Hearing the news, Khadijah was very pleased and proud of him so that she asked Prophet Muhammad to be her husband and her priest. This research is Philology, which based its work on the written materials or ancient text. The method used in this research was the transliteration and conten anlysis. Based on the data analysis it can be concluded as follows. First, results of transliteration method found the writing word from Arabic. The language used in this text is Malay, Minangkabau, and Arabic as well as some archaic words. Second, the structure of the text is rhythmic prose structure, each one stanza of poem consists of four lines and patterned rhyme /aaaa/. Character names, places, and the events are not much different from the stories of the life history of Prophet Muhammad that contained in Alquran. Third, the text of this story is a literary work of Islamic influence has several functions, they are the function of religion/propaganda, didactic/educational media, and solace.Keywords: text, tale, story, structure, functionAbstrakCerita Nabi Muhammad Sallallâhu ’Alaihi Wa Sallam Berniaga ke Negeri Syam dan Perkawinannya dengan Siti Khadijah masih ditulis dalam aksara Arab-Melayu dengan pola penulisan yang tidak dianggap lazim pada saat sekarang. Cerita ini berisikan tentang perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. berniaga ke negeri Syam. Dalam setiap perjalanan menjalankan usahaperdagangan Nabi Muhammad s.a.w. mendapat serangan, namun musibah itu dapat diatasi dengan berbagai mu’jizat Beliau atas izin dan kuasa Allah Swt. melalui perantara para malaikat, sehingga Nabi Muhammad s.a.w. selalu selamat dengan membawa keberuntungan yang besar atas usahaperdagangannya. Mendengar kabar itu, Khadijah sangat senang dan bangga hingga ia meminta Nabi Muhammad menjadi suami dan imam baginya. Penelitian ini merupakan penelitian filologi, yang mendasarkan kerjanya pada bahan tertulis atau naskah kuno. Metode yang digunakan adalahmetode transliterasi dan analisis isi (yang ditekankan pada struktur dan fungsi). Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan hal-hal berikut. Pertama, dari hasil transliterasi terdapat penulisan kata dari bahasa Arab. Adapun bahasa yang digunakan dalam teks ini adalah bahasa Melayu, Minangkabau, dan Arab serta terdapat beberapa kata yang arkais. Kedua, struktur yang terdapat dalam teks merupakan struktur prosa berirama, setiap satu bait syair terdiri dari 4 baris dan berpola rima /aaaa/ Nama tokoh, tempat, serta peristiwa tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita sejarah hidup Nabi Muhammad s.a.w. yang terdapat dalam Alquran. Ketiga, teks cerita ini adalah sebagai karya sastra pengaruh Islam mengemban beberapa fungsi, yaitu fungsi religi/dakwah, didaktis/media pendidikan,dan pelipur lara.Kata Kunci: teks, hikayat, cerita, struktur, fungsi
MENGURAI DILEMA MODALITAS DALAM BAHASA KAILI (Parse Dilemma Modality in Kaili Language) Deni Karsana
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.155 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.197

Abstract

AbstractModality is a tool to state an attitude from a speaker while she/he makes a sentence. By knowing the modality that is used, it will make the speaker easy to comprehend meaning or aim in speaking. The method used in this research is descriptive qualitative one. This research found the some kinds of modality in Kaili Language. Modality in Kaili Language is divided into five: intentional, epistemic, deontic, dynamic, and aletic.Keywords: modality, intensional, epistemic, deontic, dynamic, aletic and KailiAbstrakModalitas menjadi alat yang menyatakan sikap pembicara ketika menyatakan sebuah kalimat. Dengan mengetahui modalitas yang digunakan, hal itu akan memudahkan kita memahami isi atau maksudpembicaraan. Metode yang digunakan adalah metode deksriptif kualitatif. Hasil penelitian adalah ditemukan beberapa jenis modalitas dalam bahasa Kaili (BK). Modalitas dalam BK dibagi menjadi lima, yaitu modalitas intensional, epistemik, deontik, dinamik, dan aletik.Kata kunci: modalitas, intensional, epistemik, deontik, dinamik, aletik, dan Kaili
HASRAT WISRAN HADI DALAM PERSIDEN: KAJIAN PSIKOANALISIS LACANIAN (The Desire of Wisran Hadi in Persiden, a Lanian Psychoanalysis Study) Ricky Aptifive Manik
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.894 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.192

Abstract

AbstractIn its history, desire is created from the lack of subjects. Writing a literary work is an effort of an author to cover their lack of subjects. The novel entitled Persiden is an effort of Wisran Hadi (WH) to cover his lack in Minangkabau social and cultural life. Various roles of social status of Minangkabau people which emerged in Persiden show a sort of anxiety which then becomes the manifestation of WH’s desire. This research aims to identify WH’s desire and how the desire formed in Persiden. The research of this WH’s desire will use Lacanian Psychoanalysis (PL). Through this PL, the method of metaphor and metonymy will be used to find the markers of WH’s desire. This study finds that Minangkabau people in their social and cultural life are constantly faced into paradoxical condition while they position themselves as an uncle, a son-in-law, a mother, a nephew/niece, and a son/daughter. It causes WH ends his identity as paradoxical Minangkabau person who has strong desire to the markers: ‘responsible’, ‘rich’, hard-working’, ‘leader’, ‘talented’, ‘obey’, ‘dicipline’, etc.Keywords: desire, metaphor, Minangkabau, paradox, Wisran HadiAbstrakDalam sejarahnya, hasrat terbentuk dari rasa kekurangan subjek. Menulis karya sastra merupakan upaya pengarang untuk menutupi kekurangan tersebut. Novel Persiden merupakan upaya Wisran Hadi (WH) dalam menutupi kekurangan dirinya di dalam kehidupan sosialkultural Minangkabau. Berbagai peran status sosial orang Minang yang dihadirkan dalam Persiden menunjukan adanya kegelisahan yang kemudian menjadi manifestasi hasrat WH. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hasrat WH dan bagaimana hasrat itu terbentuk dalam Persiden. Telisik hasrat iniakan menggunakan kajian Psikoanalisis Lacanian (PL). Melalui PL ini akan digunakan metode metafora dan metonimia dalam mengidentifikasi dan terbentuknya hasrat WH. Kajian ini menemukan bahwa orang Minang dalam sosialulturalnya selalu pada kondisi yang paradoks, baik sebagai mamak,semenda, ibu, kemenakan dan anak. Inilah yang membuat WH menyudahi identitasnya selaku orang Minang yang paradoks dengan berhasrat pada penanda-penanda: ‘bertanggung jawab’, ‘kaya’, ‘pekerja keras’, ‘pemimpin’, ‘berkemampuan’, ‘taat’, ‘disiplin’ dst.Kata kunci: hasrat, metafora, Minangkabau, paradoks, Wisran Hadi
PROBLEMATIKA KAUM MUDA DALAM DUA NASKAH DRAMA INDONESIA SEBELUM KEMERDEKAAN: PEMBALASANNYA DAN LUKISAN MASA (The Youth’s Problems in Two Indonesian Dramas before Indonesian Independence Period: Pembalasannya and Lukisan Masa) Jonner Sianipar
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.662 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.195

Abstract

AbstractTwo Indonesian modern dramas, Pembalasannya by Saadah Alim and Lukisan Masa by Armijn Pane, highlight the problems faced by young people in Indonesia during 1900s i.e. matchmaking, marriage, education, and work. Those problems appear in line with colonization and economic crisis which cause social changes, particularly in young people life. The social changes are indicated by changes of characters, behaviours, and social structures, even the emergence of new pattern of lifestyle. In that time, the social changes appear when young people regard education as an important thing in life, but they hardly find job after studying, causing most of them jobless. The two scripts, which are written during two great periodes in Indonesian literary history, Balai Pustaka (Pembalasannya, Saadah Alim, 1920) and Pujangga Baru (Lukisan Masa, Armjin Pane, 1937), are analyzed through literature review involving the descriptive analysis method and reception theory of literature by Hans Robert Jausz.Keywords: young people, pre-independence, problems, education, jobless, social changes and economyAbstrakDua naskah drama modern Indonesia, yaitu Pembalasannya karya Saadah Alim dan Lukisan Masa karya Armijn Pane, mengangkat problematika kaum muda Indonesia pada dekade 1900-an, yaitu perjodohan, perkawinan, pendidikan, dan pekerjaan. Problematika tersebut dikondisikan oleh situasi terjajah dan krisis ekonomi yang mengakibatkan perubahan sosial, khususnya di kalangan kaum muda. Perubahan sosial ditandai dengan terjadinya perubahan karakter, perilaku, struktur sosial suatu kelompok masyarakat, bahkan terbentuknya pola baru kebiasaan hidup yang sedangdijalani oleh suatu kelompok masyarakat. Perubahan sosial di kalangan kaum muda pada saat itu terlihat ketika kaum muda mulai mementingkan pendidikan, tetapi sulit mendapatkan pekerjaan dan akhirnya menjadi pengangguran. Dua naskah drama yang ditulis pada dua era kesastraan Indonesia itu, yakni era Balai Pustaka (Pembalasannya, Saadah Alim, 1920) dan era Pujangga Baru (Lukisan Masa, Armjin Pane, 1937), dikaji berdasarkan studi kepustakaan dengan metode deskriptif analisis dan menggunakan teori resepsi sastra dari Hans Robert Jausz.Kata kunci: problematika kaum muda, sebelum kemerdekaan, pengangguran, perubahan sosial, deskriptif analisis, dan teori resepsi.
TRADISI BERCERITA MASYARAKAT KECAMATAN MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA PROVINSI SUMATERA BARAT1) (Story-Telling Tradition in the Community of Mungka in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra) Hasnul Fikri
Salingka Vol 12, No 02 (2015): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.17 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i02.203

Abstract

AbstractOral literature had been a vital part of the lives of its successors in expressing their thoughts and feelings. The importance of oral literature also existed in the community of Kecamatan (district) Mungka, Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra. In the past, in Kecamatan Mungka story telling was a kind of entertainment for the community because much folklore wasdelivered orally to be enjoyed by a group of audience. This article aimed at explaining the tradition of storytelling in the Kecamatan Mungka society. This study used qualitative and quantitative approaches with descriptive analytic method. The object of this study was the habit of telling people the Kecamatan Mungka. The research data came from (a) storyteller chosen by purposive technique and (b) the public audience and (c) the usual narrator chosen by random cluster sampling technique. Along with the changes in various aspects of life, such as economic, social, educational, and cultural, including information technology and mass communication, it is believed that there is also a change in the tradition of storytelling. Such changes can also be caused by a younger generation assumption that regional culture is nolonger relevant to modern society. Although its existence is quite alarming, the cultural wealth of this nation has not been considered and dealt with properly.Keywords: tradition of storytelling, storyteller, usual narrator, connoisseurs of the story, Kecamatan MungkaAbstrakSastra lisan pernah menjadi bagian penting kehidupan para pewarisnya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan. Pentingnya sastra lisan juga terlihat pada masyarakat Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Dahulu, di daerah ini bercerita adalah semacam hiburan bagi masyarakat karena banyak cerita rakyat yang disampaikan secara lisan untuk dinikmati oleh sekelompok penikmat. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tradisi bercerita dalam masyarakat Kecamatan Mungka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan metode deskriptif analitik. Objek penelitian ini adalah kebiasaan bercerita masyarakat Kecamatan Mungka. Data penelitian bersumber dari (a) tukang cerita yang dipilih dengan teknik purposif serta (b) masyarakat penikmat dan (c) pencerita biasa yang dipilih dengan teknik cluster random sampling.Seiring dengan perubahan pada berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, termasuk bidang teknologi informasi dan komunikasi massa, diyakini terjadi pula perubahan pada tradisi bercerita. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh anggapan generasi muda bahwa kebudayaan daerah sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan masyarakat modern. Walaupun keberadaannya cukup memprihatinkan, kekayaan budaya bangsa ini belum diperhatikan dan digarap dengan baik. Selama ini kajian terhadap sastra lisan lebih diarahkan pada inventarisasi, dokumentasi, dan analisis struktural cerita rakyat sehingga aspek tradisi bercerita belum tergarap.Kata Kunci: tradisi bercerita, tukang cerita, pencerita biasa, penikmat cerita, Kecamatan Mungka

Page 1 of 2 | Total Record : 12