cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Living Hadis
ISSN : 25287567     EISSN : 25484761     DOI : -
Jurnal Living Hadis (ISSN: 2528-7567) (e_ISSN: 2548-4761) is a yearly dual published journal issued by Department of Hadith Studies, Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in cooperation with ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia, Association of Hadith Studies in Indonesia). Jurnal Living Hadis circulates research from lecturers, researchers, as well as intellectual who focus on the study on hadith; including takhrij al hadith, ma’anil hadith, mukhtalif-musykil hadith, contemporary hadith studies, hermeneutics, methodology and syarah hadith (interpretation of hadith) up to social phenomenon of hadith, worldly known as living hadith.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2017)" : 7 Documents clear
Tabayyun di Era Generasi Millenial Iffah Al Walidah
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.765 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1359

Abstract

Pada zaman modern ini, teknologi semakin berkembang pesat. Gadget dan internet pun seakan sudah menjadi kekasih bagi generasi millennial. Generasi millennial  saat ini (pada tahun 2017) adalah mereka yang berusia 17-36 tahun; mereka yang kini berperan sebagai mahasiswa, early jobber, dan orangtua muda. Akses media sosial yang mudah menyebabkan mudahnya pula peredaran berita bohong (hoax) di masyarakat. Hoax beragam bentuknya; mulai dari hoax dalam aspek pendidikan, kesehatan hingga politik. Ujaran kebencian yang tersebar di dunia nyata maupun dunia maya mengiringi perkembangan hoax yang berakibat pada pecahnya persatuan masyarakat yang telah dibangun dengan asas gotongroyong. Untuk itu, pengkajian ulang serta penerapan berpikir kritis ala filsafat yang didasarkan pada hadis menjadi salah satu tawaran yang solutif bagi generasi millennial sebagai benteng pertahanan dari godaan-godaan efek dari globalisasi, khususnya dalam mengatasi virus hoax yang telah merajalela. Dengan pengkajian itu, diharapkan generasi millennial dapat mewujudkan perdamaian di dunia ini; khususnya di Indonesia.AbstractIn this modern age, technology is growing rapidly. Gadgets and the internet seemed to have become lovers for the millennial generation. The current millennial generation (in 2017) are those aged 17-36; those who now act as students, early jobber, and young parents. The easy access of social media causes the easy circulation of false news (hoaxes) in the community. Hoax varies in shape; ranging from hoaxes in aspects of education, health to politics. Hate speech that spread in the real world and cyberspace accompanied the development of hoax which resulted in the outbreak of community unity that has been built with the principle of gotongroyong. For that reason, the review and application of philosophical-based philosophical critical thinking is one of the most solemn proposals for the millennial generation as a bastion of the temptations of the effects of globalization, particularly in the prevention of rampant hoaxes. With that assessment, millennials are expected to bring about peace in this world; especially in Indonesia.
Mengurai Hadis Tahnik dan Gerakan Anti Vaksin Anif Yuni Muallifah
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.91 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1334

Abstract

Yogyakarta pada bulan Juli 2017 gempar dengan berita adanya beberapa sekolah berbasis agama yang menolak vaksinasi pada program imunisasi MR (Measles Rubbela) yang menjadi program pemerintah. Gerakan anti vaksin memang telah lama ada baik di Indonesia maupun di luar negeri. Beberapa dari mereka menggunakan argumen teologis unntuk menolak vaksinasi. Hadits tahnik di gunakan sebagai salah satu alasan utama bahwa Islam sudah mengajarkan metode imunisasi paling unggul karena berdasarkan petunjuk nabi yang berasal dari wahyu Tuhan, sehingga program imunisasi yang dilakukan pemerintah di anggap sudah tidak diperlukan lagi. Paper ini meguraikan bagaimana sebenarnya pemahaman hadits tahnik ini dari sisi ilmu hadits, ilmu biologi, otentisitasnya, dan relevansinya dalam polemik anti vaksin di Indonesia.
Perilaku Keagamaan Komunitas Muslim (Pemahaman Hadis dalam NU dan Salafi Wahabi di Indonesia) Zunly Nadia Nadia
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.855 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1327

Abstract

Perbedaan dalam memahami hadis sudah terjadi sejak masa Nabi. Namun demikian perbedaan pemahaman ini tidak sampai memunculkan perpecahan. Seiring dengan berjalannya waktu dan jarak yang semakin jauh dengan Rasulullah. Perbedaan-perbedaan dalam pemahaman hadis dirasakan semakin tajam, hingga pada masa selanjutnya perbedaan pemahaman tersebut membentuk dua aliran yang secara radikal membentuk kelompok yang berseberangan dan tidak jarang bahkan berujung pada konflik dan kekerasan. Secara garis besar, ada dua tipologi kelompok dalam memahami hadis. Tipologi ini didasarkan pada pendekatan yang digunakan. Pertama, kelompok tekstualis, kelompok ini lebih menekankan pemahaman terhadap hadis Nabi tanpa memperdulikan proses sejarah yang melahirkannya. Kelompok ini lebih mementingkan makna lahiriyah teks, dalam hal ini penekanan teks hadis terfokus hanya pada aspek bahasa. Sedangkan kedua adalah kelompok kontekstualis. Kelompok ini melakukan pemahaman hadis dengan mempertimbangkan asal-usul (asbab al-wurud) hadis, atau konteks yang berada dibalik teks.  Kelompok pertama selanjutnya disebut dengan ahl al-ra’yi, sedangkan kelompok kedua disebut dengan ahl al-hadis. Penyebutan kedua istilah tersebut mulai terlihat pada masa sahabat, dan semakin menguat khususnya pada masa perkembangan mu’tazilah sebagai reaksi atas spekulasi teologis kelompok mu’tazilah dan pada masa timbulnya reaksi Asy’ariyah.Dalam konteks Indonesia, perbedaan pemahaman terhadap hadis tentu saja terjadi pada berbagai komunitas muslim di Indonesia. Komunitas yang berbeda-beda ini secara tidak langsung memperlihatkan perbedaan pandangan dan penafsiran terhadap ajaran agama dan hal ini terutama cukup jelas terlihat dalam praktik keagamaan sehari-hari. Salah satu penyebab dari perbedaan dalam praktik keagamaan ini adalah pemahaman mereka yang berbeda terhadap hadis Nabi. Meski mayoritas umat muslim sepakat bahwa hadis merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, namun demikian tidak ada pemahaman yang sama terhadap sumber ajaran tersebut. Dari sini kemudian, penulis berusaha mengungkap bagaimana pemahaman hadis di NU dan komunitas Salafi Wahabi, sejauh mana perbedaan pemahaman terhadap hadis diantara keduanya dan apa yang melatarbelakangi perbedaan pemahaman terhadap hadis, kitab-kitab apa saya yang dipelajari sebagai pemandu dalam memamahi hadis serta bagaimana implikasi dari pemahaman hadis tersebut terhadap praktek keagamaan mereka. Lebih jauh, penulis ingin memperlihatkan bagaimana keragaman Islam Indonesia serta bagaimana perbedaan ini agar bisa dikelalola secara baik sehingga meminimalisir konflik yang terjadi akibat perbedaan penafsiran terhadap ajaran agama. 
Sunnah Nabi dalam Babad Jaka Tingkir Ali Imron
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.905 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1335

Abstract

Paper ini berasal dari penelitian yang berusaha menyingkap tentang nilai-nilai Sunnah Nabi yang hidup dalam budaya masyarakat Jawa abad ke-16 M sebagaimana tersirat dalam naskah Babad Jaka Tingkir. Metode yang dipakai adalah penelitian kepustakaan (library research), sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Dengan menggunakan teori Koentjaraningrat yang menempatkan nilai sebagai pusat atau fondasi paling mendasar dalam sebuah kebudayaan. Penelitian ini mengungkap bahwa nilai-nilai sunnah Nabi sudah terinternalisasi dalam budaya masyarakat Islam Jawa abad ke-16 M.
Sufi Profetik: Studi Living Hadis Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Kabupaten Trenggalek Rizqa Ahmadi
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.801 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1331

Abstract

Pandangan miring terhadap kelompok tarekat oleh sebagian golongan yang mengklaim dirinya lebih nyunnah menjadi pemicu perdebatan akademik yang panjang. Seolah-olah ajaran para sufi bertentangan dengan sunnah padahal dengan membaca sirāh, Beliau adalah zāhid, ābid, nāsik sekaligus sufi sejati yang patut diteladani. Pada kasus muslim Indonesia, fenomena ini lebih menarik lagi dengan adanya fakta bahwa corak Islam awal yang muncul di Indonesia menurut para sejarawan, lebih bercorak sufisme. Selain fakta tersebut, cara beragama muslim Indonesia yang terbentuk perpaduan antara tradisi yang telah mengakar dan keyakinan agama yang dianut meneguhkan bahwa hubungan ajaran tasawuf baik dalam wujud tarekat maupun bukan, berbanding lurus dengan misi luhur kenabian. Berkenaan dengan hal tersebut, tulisan ini secara fenomenologis menarasikan berbagai ritual dan kegiatan yang diyakini oleh jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Kabupaten Trenggalek, terinspirasi dari sunnah Nabi. Aktifitas tersebut terdiri dari dua kategori. Kategori pertama spiritualitas yang meliputi amalan-amalan sunnah dalam bentuk mujāhadah, riyādhah, dan berbagai zikir dan wirid yang diwajibkan. Dan kategori kedua berupa aktifitas sosial bermasyarakat, terwujud dalam internalisasi nilai-nilai luhur dalam membangun masyrakat yang makmur, rukun dan damai.
Fungsi Performatif dan Informatif Living Hadis dalam Perspektif Sosiologi Reflektif Subkhani Kusuma Dewi
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1328

Abstract

Studi sosial atas praktik beragama yang berazaskan al Quran dan Hadis memanfaatkan teori resepsi sosial, yaitu hasil pembacaan terhadap teks yang terjelma dalam bentuk penafsiran tertentu dan dilembagakan ke dalam praktik beragama. Teori resepsi membedakan antara tiga bentuk, resepsi eksegesis, resepsi aestetik dan resepsi fungsional. (Iser dalam Rafiq, 2014) Tulisan ini memfokuskan pada dua bentuk fungsi resepsi fungsional, yakni fungsi informative dan performatif. Keduanya akan dianalisa menggunakan gagasan refleksifitas yang menguji keterlibatan antara subyek penelitian dengan peneliti berdasarkan pada cara pandang sosiologi (Bourdieu, 2007). Sebagai bagian dari upaya pengembangan teori sosial untuk kajian studi living hadis, maka tulisan ini akan memanfaatkan berbagai penelitian living hadis di Indonesia terkini. Sebagai kesimpulan, tulisan ini menunjukkan dua bukti penting dalam berbagai penelitian living hadis, pertama, bahwa kedua fungsi, yakni informative dan performative termasuk ke dalam keilmuan sosial-kritis menurut Habermas, dimana dalam penelitian baik peneliti maupun subyek penelitian melakukan refleksi terhadap praktik yang ada. Refleksifitas merupakan fungsi antara penelitian yang bersifat obyektif (studi sosial kuantitatif) dengan kajian subyektif (kajian tekstual/tafsir). Kedua, berdasarkan obyek penelitian yang bersifat lokal kebudayaan/kelompok masyarakat tertentu, maka penelitian ini merupakan bagian dari representasi atas identitas kelompok atau praktik budaya tertentu.
Komik Hadis Nasihat Perempuan : Pemahaman Informatif dan Performatif Muhammad Alfatih Suryadilaga
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.013 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1333

Abstract

Komik hadis semakin berkembang pesat di Indonesia. Setidaknya komik hadis ini adalah bahan bacaan bagi masyarakat awam baik anak-anak maupun remaja dalam memahami ajaran Islam, khususnya dalam hadis. Seperti ajaran Islam yang damai dengan digambarkan dengan baik melalui komik kapasitas perempuan yang dijelaskan masuk surga. Kemunculan komik hadis tersebut merupakan suatu yang baru karena pemahaman selama ini atas hadis-hadis dapat ditemukan hanya melalui ahli hadis terutama dalam syarah kitab-kitab hadis. Apalagi dalam beberapa kajian yang ada syarah hadis yang berkembang dalam sejarah hadis lebih banyak tidak berkembang pola pemahamannya antara masa Nabi Muhammad saw. sampai abad ke-8 H. Artinya, kontruk budaya masyarakat pemahaman hadis tidak mewarnai dalam kitab syarah hadis. Hal ini berbeda dengan komik hadis yang berkembang di Indonesia. Ciri khas ke-Indonesiaan dalam komik hadis tersebut sangat terasa. Dengan menggunakan teori performatif, maka kajian ini akan melihat tentang otoritas keilmuan syarah hadis dan hasil kajiannya sebagimana yang berkembang dalam  informasi awalnya di masa Nabi saw.

Page 1 of 1 | Total Record : 7