cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
LPPM Universitas Perjuangan Tasikmalaya Jalan Peta No. 177 Kota Tasikmalaya
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hexagro
ISSN : 25492691     EISSN : 26863316     DOI : -
HEXAGRO is scientific periodical publication on agribusiness and rural development issue as a media for information dissemination of research result for lecturer, researcher, and practitioner. The journal publishes several topics, such as Agricultural Marketing and Trade, Agricultural Policy and Development, Agricultural Financing, and Agricultural Business and Entrepreneurship. HEXAGRO is published by LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya associated with department agribusiness of Perjuangan University of Tasikmalaya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2018)" : 6 Documents clear
INGKAT KENYAMANAN TAMAN HUTAN KOTA BABAKAN SILIWANGI KOTA BANDUNG Ika Nofi Hastuti
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.126

Abstract

Pembangunan fisik di Kota Bandung yang semakin meningkat menyebabkanmenurunnya ruang terbuka hijau. Berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 TentangPenataan Ruang, proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 % dariluas wilayah kota. Pembangunan fisik seperti permukiman penduduk, perkantoran, pusatperbelanjaan di perkotaan sejatinya ditujukan untuk memberikan kemudahan bagimanusia dalam menjalani hidup. Namun dengan semakin meningkatnya pembangunantersebut, keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) atau ruang-ruang kosong yang ditumbuhipepohonan menjadi berkurang dan berpengaruh pada ketidak seimbangan ekosistem,seperti berkurangnya tempat peresapan air, meningkatnya suhu udara, pemanasan global,kekeringan dan polusi yang berakibat menurunnya kualitas lingkungan. Selain masalahketidakseimbangan lingkungan, kebutuhan masyarakat akan tempat rekreasi alam jugamenjadi masalah yang diakibatkan oleh kurangnya RTH di perkotaan. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan Taman Hutan Kota Babakan SiliwangiBandung berdasarkan Temperature Humidity Index (THI) dan mengetahui tingkatkenyamanan Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung berdasarkan persepsipengunjung. Penelitian ini dilakukan di Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi KotaBandung, selama satu bulan yaitu pada bulan Agustus 2017. Dengan metode surveykemudian data diolah dan dianalisa secara deskriptif, dan hasil di tabulasi dalam bentuktabel frekuensi.Hasil penelitian menunjukkan Indeks kenyamanan (THI) yang ada diTaman Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung pada bulan Agustus 2017 tergolongnyaman <24 THI. Berdasarkan hasil kuesioner, persepsi responden pengunjung tentangTingkat Kenyamanan di Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung adalah nyamandengan perolehan nilai pada kriteria Nyaman yaitu sebesar 53,84%.Kata Kunci: Taman Hutan Kota, Temperature Humidity Index, Persepsi Pengunjung
PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI HORMON GA3 TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH JATI DI PERSEMAIAN Andri Kurniawan
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.128

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi antara lama perendamandan konsentrasi hormon GA3 yang berpengaruh terhadap pertumbuhan benih Jati(Tectona grandis L.f.) di persemaian, serta mencari lamanya waktu perendaman dankonsentrasi hormon GA3 yang terbaik terhadap pertumbuhan benih jati di persemaian.Eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial, yang terdiriatas dua faktor yaitu lamanya perendaman dan konsentrasi hormon GA3. Faktor pertamaadalah lamanya perendaman (W), terdiri atas empat taraf: w1 = Perendaman 6 jam dalamGA3 , w2 = Perendaman 12 jam dalam GA3, w3 = Perendaman 18 jam dalam GA3 dan w4 =Perendaman 24 jam dalam GA3. Faktor kedua adalah Konsentrasi hormon GA3 (A), terdiridari empat taraf: a1 = konsentrasi hormon GA3 250 ppm, a2 = konsentrasi hormon GA3 500ppm, a3 = konsentrasi hormon GA3 750 ppm, a4= konsentrasi hormon GA3 1000 ppm.Hasil percobaan menunjukkan terjadi interaksi antara lamanya perendaman dankonsentrasi hormon GA3 terhadap tinggi tanaman umur 30, 45, 75 dan 90 HST. Interaksiperlakuan konsentrasi cairan hormon GA3 dan waktu perendaman yang terbaik daripengamatan pengamatan tinggi tanaman yang terbaik yaitu kombinasi konsentrasi 750ppm dengan waktu perendaman 24 jam.Kata Kunci : Benih, kualitas, hormon Giberelin (GA3), pertumbuhan
PENGARUH APLIKASI KOMPOS CAMPURAN SAMPAH ORGANIK DENGAN BERBAGAI KOTORAN TERNAK TERHADAP KUALITAS WORTEL (Daucus carrota L.) KULTIVAR LOKAL CIPANAS Arrin Rosmala; Tino Mutiarawati; Anne Nuraini
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.127

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kualitas wortel kultivar lokalCipanas yang diberi perlakuan kompos campuran sampah organik dengan berbagaikotoran ternak. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri 8kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Kedelapan kombinasi perlakuan tersebut adalahtanpa kompos; kompos sampah organik; kompos kotoran sapi; kompos kotoran kuda;kompos kotoran ayam; kompos campuran sampah organik : kotoran sapi (1:1); komposcampuran sampah organik : kotoran kuda (1:1); kompos campuran sampah organik :kotoran ayam (1:1). Hasil penelitian menunjukkan semua kombinasi perlakuan tidakmemberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap persentase jumlah dan bobot umbikualitas A, persentase jumlah dan bobot umbi kualitas B, persentase jumlah umbi yangterkena hama, panjang dan diameter umbi rata-rata kualitas A, dan persentase susutbobot setelah 22 hari penyimpanan. Perlakuan tanpa pemberian kompos, kompos sampahorganik, dan kompos yang mengandung kotoran sapi menghasilkan persentase jumlahumbi bercabang lebih sedikit. Kompos kotoran ayam dan kompos campuran sampahorganik dengan semua kotoran ternak menghasilkan persentase jumlah umbi kecil lebihsedikit, sedang kompos campuran sampah organik dengan kotoran sapi dan dengankotoran kuda menghasilkan umbi dengan ketahanan simpan umbi yang lebih lamadibandingkan perlakuan lainnya.Kata kunci: kompos kotoran ternak, kompos sampah organik, kualitas, wortel
MODIFIKASI MEDIA DAN PERIODE SUBKULTUR PADA KULTUR JARINGAN PISANG TALAS (Musa paradisiaca VAR. SAPIENTUM L.) Rodinah Rodinah; Nofia Hardarani; Hanisa Desy Ariani
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.129

Abstract

Pisang talas (Musa paradisiaca var. sapientum L.) mempunyai nilai jual yang tinggi. Perbanyakanbibit pisang talas dilakukan menggunakan anakan hanya berjumlah 5-7 anakan per tanaman. Olehsebab itu, perbanyakan bibit dilakukan dengan kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh modifikasi media dengan periode subkultur terhadap pertumbuhan pisangtalas melalui kultur jaringan. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah modifikasi media yaitu: media Murashige Skoog (MS)(m1), MS + BAP 0,5 mg l-1 (m2), MS + TDZ 0,04 mg l-1 (m3), MS + TDZ 1,5 mg l-1 + BAP 1,0 mg l-1 (m4),½ MS + TDZ 1,5 mg l-1 + BAP 1,0 mg l-1 (m5), dan ½ MS + vitamin modifikasi (m6). Faktor keduaberupa periode subkultur, yaitu 6 minggu setelah tanam (mst) (s1) dan 10 mst (s2). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa media MS dengan periode subkultur 10 mst dapat memberikan saat muncultunas tercepat yaitu 4,67 hari setelah subkultur (hss), media MS + BAP 0,5 mg l-1 dengan periodesubkultur 10 mst memberikan saat muncul akar tercepat yaitu 8,17 hss. Media MS + BAP 0,5 mgl-1 menghasilkan jumlah tunas sebanyak 2,75 buah dan media MS menghasilkan jumlah akarsebanyak 3,25 buah.Kata kunci: pisang talas, media, subkultur
PRODUKSI MOL (MIKROORGANISME LOKAL) DENGAN PEMANFAATAN BAHAN-BAHAN ORGANIK YANG ADA DI SEKITAR Andri Kurniawan
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.130

Abstract

MOL (Mikroorganisme Lokal) merupakan sekumpulan mikroorganisme yang umum dibutidayakan,kegunaan dalam konsep "zero waste" adalah untuk "starter" pengomposan organik. MOLmengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri photosynthetic dan mendekomposisisisellulosa jamur/fungi yang berfungsi dalam mendokomposisi senyawa-senyaw organic. Dengan MOLyang merupakan komsep pengimposan dapat selesai dalam 3 mimnggu. Bahan baku utma dalammembuat MOL terdiri dari 3 jenis komponen yaitu: Carbohydrates (dapat berasal dari air cucianberas (Tajin), nasi bekas (casserole), ampas singkong, kentang, gandum. Seringkali ada cairan pati,Glukosa (dapat dengan gula merah yang dilarutkan dalam air, dapat dari gula cair, gula leleh, dapatdari air gula dan air kelapa, sumber bakteri (dapat terbuat dari sampah dapur yang mudah hancuratau sayuran yang telah layu. Dapat juga dari bahan lain, misalnya snails pounded rice, rotten fruit,banana weevil, and water hyacinth etc., then it could be from urine, or any source containing thebacteria. Pilih saja bahan-bahan yang mudah tersedia di sekitar kita. Sekali bahan dikumpulkandari yang disebutkan di atasmasukkan dalam drum plastic berisi air dan benamkan. Setelah 4 atau5 hari MOL siap digunakan. Selain itu terhadap kompos "starter" compost, MOL jga dapat digunakanpada pupukcair "liquid fertilizer" dar larutan pertama, 1 bagian dicampur dengan 15 parts cairanMOL. Taburkan pada tanah sekitar tanaman dan jangan jauhkan batang tanaman. Disimpulkanbahwa sejumlah bakteri MOL buatan rumah (Lokal) dapat emperkaya tanah atah mengomposkancompos limbah organic yang mengandung unsur hara (vitamin) pada tanah agar tetap subur.Kata Kunci: Mikroorganisme Lokal, Starter, Pupuk Cair Organik
STUDI RESPON TANAMAN MANGGIS TERHADAP PEMUPUKAN KALIUM (K) PADA HASIL RELATIF BUAH MANGGIS BERDASARKAN STATUS KALIUM DALAM JARINGAN DAUN TERMINAL Odit Ferry Kurniadinata; Roedhy Poerwanto; Anas D Susila
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.131

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana L.) dikenal sebagai ratu buah (Queen of fruits) karena kelezatanya.Namun terdapat masalah dalam budidaya tanaman manggis yaitu rendahnya produktivitas dankualitas buah. Hal ini karena teknologi budaya yang kurang berkembang, khususnya mengenaipupuk. Sedikit informasi yang tersedia tentang standar rekomendasi pupuk manggis berdasarkanpercobaan ilmiah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pupuk kalium dapat meningkatkanpertumbuhan manggis, baik pada tahap vegetatif maupun generatif. Kalium meningkatkanpersentase jumlah bunga dan fruit-set, namun juga meningkatkan jumlah persentase bunga danbuah rontok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kalium mampumeningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan hasil dan meningkatkan kualitas buah. Inimenunjukkan tanaman manggis akan terus menyerap kalium untuk meningkatkan pertumbuhanvegetatif dan mendukung produksi. Aplikasi pupuk kalium akan meningkatkan konsentrasi kaliumdalam jaringan daun. Analisis jaringan daun menunjukkan status kalium pada status rendah dansedang. Status ini memiliki korelasi dengan hasil. Semakin tinggi konsentrasi nutrisi dalam jaringandaun, semakin tinggi hasil manggis pada panen berikutnya.Keywords: Pupuk, Bunga, Buah, Daun, Analisis Jaringan

Page 1 of 1 | Total Record : 6