MABASAN
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan"
:
11 Documents
clear
MULTIMODALITAS TINDAK TUTUR DIREKTIF PENJUAL OBAT DI PASAR JUMAT PAOKMOTONG, KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Siti Rahajeng NH
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.661
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tuturan ilokusi direktif beserta mode nonverbal atau gestur yang menyertainya yang dilakukan oleh penjual obat di Pasar Jumat Paokmotong. Pendekatan multimodalitas digunakan untuk menganalisis kajian tindak tutur dalam penelitian ini berdasar realitas. Ketika manusia bertutur, manusia sering kali menggunakan gestur-gestur tertentu yang mendukung ujarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Data yang digunakan dibatasi pada tuturan direktif saja karena jenis tuturan ini yang dominan ditemukan. Data merupakan ujaran yang dituturkan oleh penjual obat di Pasar Jumat Paokmotong, Kabupaten Lombok Timur yang diperoleh dari rekaman aktivitas jual obat yang dalam video Youtube “Bukan Sulap Bukan Dukun!! Beginilah Aksi Penjual Obat di Pasar Paokmotong, Lombok Timur.” Tuturan yang telah ditranskripsi dianalisis menggunakan teori tindak tutur Searle (1969) dan teori fungsi gestur dari Mandal (2014). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan sepuluh tuturan yang mengandung tindakan tutur direktif yang terbagi menjadi tindakan memerintah, meminta tolong, dan menganjurkan. Tindak tutur direktif ini didukung oleh gestur yang memiliki fungsi-fungsi tertentu. Tuturan memerintah yang dilakukan penjual obat didukung oleh gestur kontradiksi, komplimen, aksentuasi, dan repetisi. Tuturan meminta tolong diikuti oleh subtsitusi dan komplimen, sementara tuturan anjuran didukung oleh gestur aksentuasi dan repetisi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan kajian pragmatik dan multimodal dalam bahasa Sasak.
DIGLOSIA DALAM TUTURAN BAHASA KESEHARIAN MASYARAKAT LARANGAN LUAR, MADURA
Ubaidillah, A. Shafir;
Prasetyoningsih, Luluk Sri Agus
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.675
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui ragam bahasa dalam bentuk diglosia yang terdapat pada tuturan percakapan sehari-hari masyarakat Madura di Desa Larangan Luar, Kabupaten Pamekasan, Madura. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan percakapan berupa ragam variasi bahasa berbentuk diglosia pada masyarakat Desa Larangan Luar. Teknik pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan menerapkan empat langkah, yaitu 1) identifikasi, 2) klasifikasi, 3) interpretasi atau pemberian makna, dan 4) deskripsi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapatnya fenomena diglosia yang terjadi pada percakapan keseharian masyarakat Maduran di Desa Larangan Luar dalam wujud tiga ragam bahasa, yakni enje’ iye (L), enggi enten (H), dan enggi bunten (H). Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah faktor keluarga, faktor sosial, faktor pemerintahan, dan faktor lingkungan pendidikan.
BENTUK DAN FUNGSI PRONOMINA PERSONA BAHASA BIMA DALAM FILM LA HILA KARYA ARY IPAN
M. Busairi
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.723
Bahasa Bima merupakan bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakat ujung timur Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini membahas pronomina persona bahasa Bima dalam film La Hila. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi pronomina persona bahasa Bima dalam film La Hila. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini, yaitu dialog para tokoh yang mengandung pronomina persona yang ada dalam film La Hila. Sumber data penelitian diperoleh dari film La Hila karya Ary Ipan dari situs Youtube. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan teknik catat. Teknik analisis data melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini ditemukan bentuk pronomina persona bahasa Bima dalam film La Hila, yaitu pronomina persona pertama dan pronomina persona kedua yang terbagi atas bentuk tunggal dan bentuk jamak. Pronomina persona pertama bentuk tunggal terdiri atas kata nahu, mada, dan la mada. Pronomina persona pertama bentuk jamak terdiri atas kata ndai, nami, dan nami doho. Sementara itu, pronomina persona kedua bentuk tunggal terdiri atas kata nggomi dan ita dan pronomina persona kedua bentuk jamak terdiri atas kata ita doho dan nggomi doho. Selanjutnya, fungsi pronomina persona bahasa Bima dalam film La Hila adalah sebagai budaya menghormati dan status sosial. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi peneliti lain dengan fokus penelitian pronomina persona. Bagi siswa dan guru, penelitian ini dapat menjadi bahan acuan dalam mempelajari materi muatan lokal bahasa daerah.
ALIH WAHANA LEGENDA “GUNUNG WONGGE, MEJA, DAN IYA”: FUNGSINYA BAGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI ENDE, FLORES
Banda, Maria Matildis;
Pidada, I.B. Jelantik Sutanegara
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.724
Artikel ini tentang alih wahana legenda ke dalam karya seni sastra lainnya. Data primer berupa cerita “Gunung Wongge, Meja, dan Iya (WMdI)”. Masalah yang dibahas adalah bagaimana perubahan yang terjadi dalam alih wahana dari cerita rakyat (teks 1) ke drama modern (teks 2) menimbulkan penambahan dan pengurangan yang diperlukan dalam teks 2. Kajian menggunakan metode kualitatif deskriptif, teori struktur sastra, dan teori alih wahana. Hasilnya menjelaskan variasi teks WMdI tetap mempertahankan struktur alur pada puncak cerita, yaitu tokoh-tokoh menjadi gunung setelah terjadi tragedi yang meregang nyawa. Akhir kisah menggarisbawahi mimesis dan kreasi dari wahana yang satu ke wahana yang lain. Perubahan dari teks 1 ke dalam teks 2 menghasilkan teks baru berupa naskah drama yang siap dipentaskan. WMdI dapat dialihwahanakan ke dalam berbagai bentuk karya sastra lain, seperti drama, syair, dan lagu yang memiliki fungsi ekonnomi kreatif yang berguna bagi pengembangan daerah tujuan wisata (DTW) di Ende, Flores.
MENGUAK NILAI-NILAI BUDAYA DALAM MITOS ETNIS BALI
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.773
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud, bentuk, dan nilai budaya yang terkandung di dalam mitos Bali karena hampir semua etnis Bali mengenal adanya mitos. Mitos merupakan salah satu unsur bahasa yang dapat menggambarkan budaya suatu masyarakat bahasa pada zamannya atau unsur-unsur budaya yang memiliki nilai yang sebagian besar menjadi pedoman atau larangan dalam aktivitas manusia berbudaya (Syarifuddin, Kasman, Aditya Wardhani, Hartini, Ni Made Yudiastini, I Nyoman Cahyasabudhi S., 2009). Mitos hadir melalui proses pewarisan secara turun-temurun yang hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya oleh etnis Bali di Pulau Lombok karena memiliki keunikan sebagai sebuah tradisi. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, partisipasi, dan wawancara. Sementara itu, analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif yang merujuk pada metode padan intralingual dan ekstralingual. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya mitos yang berhubungan dengan nilai budaya hidup, nilai budaya karya, nilai budaya waktu, nilai budaya alam, dan nilai budaya manusia dengan manusia.
PEMAKNAAN LEKSIKON KEKERABATAN PADA BAHASA JAWA YANG TELAH TERINTEGRASI KE DALAM BAHASA INDONESIA: KAJIAN NATURAL SEMANTIC METALANGUAGE
Ariefian, Maftukhin;
Syahirah, Salsabilla Syifa;
Herpindo, Herpindo
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.788
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perbedaan pemaknaan pada leksikon kekerabatan bahasa Jawa yang telah terintegrasi ke dalam bahasa Indonesia serta mengungkap perbedaan tersebut melalui eksplikasi teori natural semantic metalanguage (NSM). Data pada penelitian ini bersumber dari penggunaan leksikon kekerabatan tersebut pada bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, yaitu (KBBI) Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keenam/versi web Sipebi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode penyediaan data berupa metode simak.Terdapat lima tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini, yakni (1) menggunakan teknik sadap, (2) dilanjutkan dengan teknik simak libat cakap (SLC), teknik sadap dan teknik libat cakap digunakan guna mencari data lisan, (3) kemudian menggunakan teknik catat guna mencatat sumber data tertulis, (4) langkah analisis data berdasarkan teori NSM, (5) dan mengklasifikasikan, membandingkan, serta menjabarkan data secara desksriptif. Hasil temuan berupa adanya perbedaan pemaknaan dalam penggunaannya pada bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Perbedaan tersebut ditemukan pada kata pakdhe, budhe, mas, mbak, dan adhik atau adik. Pola-pola yang ditemukan dalam perbedaan tersebut berupa penyempitan konteks pemaknaan dari B1 ke B2. Pola penyempitan konteks pemaknaan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya bias budaya pada B1 yang tidak diketahui atau jarang diketahui oleh penutur B2. Penjabaran pemaknaan leksikon dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dapat membantu mengurangi kesalahpahaman.
SUBJEK YANG DIEKSPRESIKAN DALAM ANTÊPING TEKAD KARYA AG. SUHARTI
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.790
Melalui Antêping Tekad (AT), pengarang berusaha mengekspresikan perlawanannya atas dominasi perempuan yang dilakukan para pihak melalui para tokoh ciptaannya. Subjektivasi tokoh perempuan ditempuh dengan cara menjadikannya subjek politik yang eksis, berfungsi menarasikan rasionalitas atas stigma seputar perkawinan yang lahir, tumbuh, berkembang, dan melekat di masyarakat saat karya dihasilkan. Disensus dipilih dengan menerapkan kesetaraan radikal, baik aktif maupun pasif dalam bingkai teori Rancierian. Data kualitatif didapat dari objek material novel AT melalui pembacaan yang berulang kali dan mendalam sampai menemukan aspek-aspek yang sesuai dengan kebutuhan teori. Kategorisasi dibutuhkan untuk memudahkan analisis sesuai problematika yang akan dipecahkan. Dengan cara tersebut dapat dibuktikan bahwa belenggu dalam bingkai budaya yang sering diperdebatkan merupakan upaya membatasi perempuan Jawa dengan tindakan pelemahan eksistensi diri.
IMAGERY AND FIGURATIVE LANGUAGE IN WILLIAM WORDSWORTH POEM ENTITLED “RESOLUTION AND INDEPENDENCE”
Tahani
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.801
Poems are carefully crafted things in words, unlike everyday speech or writing. A poem's special component, imagery and figurative language are both present. The aim of this study is to reveal the imagery and the figurative language in the poem resolution and independence by William Wordsworth. The researcher uses qualitative method with content analysis technique because the data collected are in the form of words. After analysing the data, it is found that there are two common types of imagery which are visual and auditory imagery. The researcher also finds personification, simile, and symbolism, the common type of figurative languages, in the lyric of the poem. The unique natural items like sky, mist, clouds, stone, and rock; animals like hares and sea-beast; and natural events have evolved into the main subjects of these figurative languages. Wordsworth is imposing his own emotions and sentiments onto the object and the natural events in this poem.
DEIKSIS PERSONA DAN KONSTRUKSI SUBJEK PENGUJAR DALAM TEKS ĀDIPARWA
Fitriana, Atin
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.803
Penelitian ini membahas penggunaan deiksis persona pada sebuah tuturan dalam teks Ādiparwa. Teks Ādiparwa merupakan teks berbahasa Jawa Kuno yang terdiri atas banyak cerita dan banyak tokoh di dalamnya. Pada sebuah tuturan di dalam teks Ādiparwa, seorang tokoh dapat menggunakan beberapa bentuk pronomina persona bahasa Jawa yang berbeda untuk mengacu kepada dirinya atau kepada mitra tuturnya. Penggunaan beberapa pronomina persona yang berbeda dalam satu tuturan tidak lazim dalam beberapa bahasa, seperti bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Akan tetapi, ketidaklaziman tersebut banyak ditemukan di dalam teks Ādiparwa yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengonstruksian pronomina persona oleh penutur di dalam teks Ādiparwa. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks Ādiparwa. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori deiksis persona (Fillmore, 1975) dan implikatur (Horn, 2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penggunaan pronomina persona bergantung pada motivasi penutur dan konteks tuturan, seperti motivasi untuk menunjukkan kedudukan penutur terhadap mitra tuturnya dan dalam konteks untuk mengungkapkan rasa terima kasih, memohon, meminta pertolongan, dan menyindir. Selain itu, penggunaan pronomina persona dalam sebuah tuturan juga diperlukan bagi penutur dalam mengonstruksikan dirinya di hadapan mitra tuturnya. Seorang penutur dapat secara berbeda-beda mengonstruksikan dirinya di hadapan mitra tuturnya dalam satu tuturan yang sama.
DISTRIBUSI PEMAKAIAN KATA MAMIQ DALAM KORPUS BAHASA SASAK NASKAH CILINAYA DAN MAJALAH TAMBORI
Setra, Lentera Nurani;
Rondiyah, Rondiyah;
Kurniawaty, Asry;
Gayatri, Rizki
MABASAN Vol. 17 No. 2 (2023): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62107/mab.v17i2.814
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi pemakaian kata mamiq yang digunakan masyarakat Sasak sebagai salah satu sapaan kekerabatan yang paling populer. Melalui analisis data dalam penelitian ini, penjabaran mengenai distribusi pemakaian kata mamiq diharapkan dapat mempermudah masyarakat, khususnya pemelajar bahasa Sasak, dalam menggunakan kata ini secara tepat. Penelitian ini menampilkan pemakaian kata mamiq di dalam korpus berbahasa Sasak. Korpus berbahasa Sasak bersumber dari naskah Cilinaya dan majalah Tambori. Selanjutnya, kedua data itu dianalisis secara diakronis menggunakan Sketch Engine. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode gabungan, yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis konkordansi dan kolokasi di Sketch Engine. Sementara itu, analisis kualitatif dilakukan dengan mendeskripsikan temuan dari data korpus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam naskah Cilinaya, kata mamiq berkolokasi dengan kata dekaji dan kaji. Ini menandakan bahwa status sosial seseorang menentukan kapan ia disapa dengan kata mamiq. Begitu pula majalah Tambori menunjukkan kata mamiq yang diikuti dengan nama orang dan data memperlihatkan kata ini berkolokasi dengan kata inaq dan muncul diikuti nama diri lalu. Hasil analisis data yang dilakukan menandakan bahwa kata mamiq digunakan sebagai kata sapaan kekerabatan untuk bangsawan laki-laki yang telah menikah di Lombok.