cover
Contact Name
Mieke
Contact Email
mieke@esaunggul.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
inohim.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM)
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 23548932     EISSN : 26559129     DOI : -
Core Subject : Health,
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) is a scientific publication devoted to disseminate all information contributing to the understanding and development of Health Information management, Health Informatics and Health Information Management System.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2017): INOHIM" : 7 Documents clear
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Rekam Medis Rawat Inap Dengan Menggunakan Diagram Fishbone di Rumah Sakit Pertamina Jaya Tahun 2017 Siti Nadya Ulfa; Lily Widjaya
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.335 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.141

Abstract

AbstractAccording to the regulation minister of health No.269, 2008,medical record is a document containing records of patient identity, examination, and treatment. Medical records should be made and completed immediately after the patient receives health care. In Pertamina Jaya Hospital, in filing a medical record still can be found incompleteness. The purpose of this research are toconduct quantitative analysis of inpatient medical record and identify factors that influence the completeness of hospitalized medical record by using fishbone method.This research is using descriptive method and technique of collecting data by observation, interview, and literature study. Based on the result of research with observation on 56 inpatient medical records in May 2017, there were 74% medical records completeness. The factors influencing the completeness of medical record can be found by conducting observation and interview. There were some factors that affect the completeness of the medical record such as the insufficient time/busyto complete the medical record, unapplied sanction, lack of the socialization, the implementation of the medical record is not based on Standar Operasional Procedure, the form of quantitative analysis not covering all basic component, and limited funding for evaluation. As a solution to improve the completeness of the medical records, doing intensive socialization and creating reward &punishment system.Keywords: factors, completeness of inpatient medical record, fishboneAbstrakMenurut Permenkes Nomor 269 Tahun 2008, Rekam medis adalah dokumen yang berisikan catatan tentang identitas pasien, pemeriksaan, dan pengobatan pasien,rekam medisharus segera dibuat dan dilengkapi setelah pasien menerima pelayanan kesehatan. Di Rumah Sakit Pertamina Jaya dalam pengisian rekam medis masih ditemukan ketidaklengkapan. Tujuan dari penelitian ini adalahmelakukan analisis kuantitatif rekam medis rawat inapdan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan rekam medis rawat inap dengan menggunakan metode fishbone. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode deskriptif dan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan observasi terhadap 56 rekam medis rawat inap pada bulan Mei 2017, ditemukan kelengkapan sebesar 74%. Dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan rekam medis dapat ditemukan dengan melakukan observasi dan wawancara yaitu, waktu untuk melengkapi rekam medis tidak cukup/sibuk, tidak ada sanksi yang diterapkan, kurangnya sosialisasi, pelaksanaan pengisian rekam medis belum sesuai standar proseduroperasional, formulir analisis kuantitatif belum mencakup semua komponen dan pendanaan kelengkapan rekam medis terbatas. Maka disarankan untuk melakukan sosialisasi standar operasional prosedur secara intensif, dan pengadaan sistem reward dan punishment. Kata Kunci : faktor-faktor,  kelengkapan rekam medis rawat inap, fishboneone
Tinjauan Ketepatan Kode Diagnosis Kasus NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Pertamina Jaya Tahun 2016 Ernawati Ernawati; Yati Maryati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.657 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.120

Abstract

AbstractDiagnostic coding should be appropriate, because if it is improper will affect to the clinical data management, cost recovery, as well as the matters relating to health care. Based on this case, the researcher conducted research on the accuracy of diagnosis code at Pertamina Jaya Hospital by taking NIDDM case of inpatient in 2016. The purpose of this study is to get an idea of the accuracy of coding diagnosis case of NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) in 2016. The research started from June to August 2017. The research method used is descriptive. Researcher took 59 samples obtained from the formula of proportion estimation. Based on the total of 59 samples studied, there were 58 less precise NIDDM codes (98.31%) and 1 exact NIDDM code (1.69%). For the smallest digit accuracy is on the 4th digit (complication) with the exact number of 4 codes (6.78%) and the largest digit accuracy is on the dagger and asterisk (etiology and manifestation) with the exact number of 49 codes (83,06%). It can be concluded that the coding of NIDDM case diagnosis in Pertamina Jaya Hospital is still relatively low. The main factor that becomes obstacle in coding of diagnosis is knowledge factor of coder with nursing background. The coder should be a graduation of Diploma degree of Medical Record that has the competence of coding diagnosis.Keywords : medical record, diagnostic code, NIDDMAbstrakPengkodean diagnosis harus tepat, karena jika tidak tepat akan mempengaruhi manajemen data klinis, penagihan kembali biaya, beserta hal-hal yang berkaitan dengan asuhan pelayanan kesehatan. Berdasar hal tersebut, peneliti melakukan penelitian mengenai ketepatan kode diagnosis di RS Pertamina Jaya dengan mengambil kasus NIDDM pasien rawat inap tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai ketepatan pengkodean diagnosis kasus NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) tahun 2016. Penelitian dimulai dari bulan Juni - Agustus 2017. Metode penelitian adalah metode deskriptif. Peneliti mengambil 59 sampel yang didapatkan menggunakan rumus estimasi proporsi. Dari total 59 sampel yang diteliti, terdapat 58 kode NIDDM kurang tepat (98,31%) dan 1 kode NIDDM tepat (1,69%).  Untuk jumlah ketepatan digit terkecil yaitu ketepatan pada digit ke-4 (komplikasi) sebanyak 4 kode tepat (6,78%), dan jumlah ketepatan  terbesar yaitu pada dagger dan asterisk (etiologi dan manifestasi) sebanyak 49 kode tepat (83,06%). Dapat disimpulkan bahwa pengkodean diagnosis kasus NIDDM di RS Pertamina Jaya masih masih tergolong rendah. Faktor  utama yang menjadi kendala ketepatan kode adalah faktor pengetahuan petugas rekam medis bagian koding dengan latar belakang perawat. Sebaiknya petugas koding lulusan D-III Rekam Medis yang memiliki kompetensi pengkodean diagnosis.Kata kunci: rekam medis, kode diagnosis, NIDDM
Tinjauan Kompetensi Koder Dalam Penentuan Kode Penyakit dan Tindakan Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Luviany Gouw; Laela Indawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.21 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.122

Abstract

Abstract To determine code of Illnes and Procedures, it’s often found inaccuracies codes provided by the coder. Based on Kepmenkes 377 on 2007 explained about the competence that must be owned by Medical Recorders and Health Information. In practice the provision of code can’t be separated from the competence that must be owned by the coder so that the resulting code is more accurate. The research is descriptive qualitative research to know the coder competency’s needed to support the accuracy of generated code. Informant in this research is inpatient coder at RSUP Fatmawati. Data collected by interview method, after data collected then data processed, analyzed and presented in the form of qualitative analysis. The results of this research showed that the SPO of Code of Illness and Procedures on Fatmawati Hospital has been running well. Educational background and work experience play a role in improving the quality of the code accurately and completely. Competencies already owned by coders are about how to coding using ICD-10 and procedures codes using ICD-9-CM, anatomy, medical terminology, pharmacology, communication and english. Competencies that have not been possessed are competence about another examination to support a diagnose, result of laboratory examination, and drug therapy. The average code accuracy produced by 5 inpatient coder personnel is 71.98% accurate and 28.02% is not accurate. Thus, for the coder to owned the competencies that have not been owned to attend training, seminars, and more attention to explanation in the ICD.Keywords: competency, coder, inpatient AbstrakDalam penentuan kode penyakit dan tindakan, seringkali ditemukan ketidakakuratan kode yang diberikan oleh petugas koder. Berdasarkan Kepmenkes 377 tahun 2007 dijelaskan mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. Dalam praktek pemberian kode tidak terlepas dari kompetensi yang harus dimiliki oleh koder supaya kode yang dihasilkan menjadi akurat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif untuk mengetahui kompetensi apa yang dibutuhkan koder untuk menunjang keakuratan kode yang dihasilkan. Informan dalam penelitian ini adalah koder rawat inap di RSUP Fatmawati. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, setelah data terkumpul maka data diolah, dianalisis dan disajikan dalam bentuk analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPO Pemberian Kode Penyakit dan Tindakan di RSUP Fatmawati sudah berjalan dengan baik. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja berperan dalam meningkatkan kualitas kode yang akurat dan lengkap. Kompetensi yang sudah dimiliki koder yaitu mengenai cara mengkode dengan ICD-10 dan kode tindakan menggunakan ICD-9-CM, anatomi, terminologi medis, farmakologi, komunikasi dan bahasa inggris. Kompetensi yang belum dimiliki adalah kompetensi mengenai pemeriksaan penunjang, hasil pemeriksaan laboratorium, dan terapi obat. Rata-rata ketepatan kode yang dihasilkan oleh 5 tenaga koder rawat inap adalah 71,98% akurat dan 28,02% tidak akurat. Dengan demikian, agar koder lebih menguasai kompetensi yang belum dimiliki dapat mengikuti pelatihan, seminar, dan lebih memperhatikan keterangan dalam ICD.Kata kunci : kompetensi, koder, rawat inap
Faktor Determinan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Pada Remaja di Asia Selatan dan Asia Tenggara Tahun 2005 – 2014 (Analisis Dengan Metode Structural Equation Model) Laras Sitoayu; Nanda Aula Rumana
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.477 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.125

Abstract

Abstract Introduction: Low Birth Weight (LBW) is the biggest cause of neonatal death. This study aims to analyze the determinant factor of LBW in adolescents in South Asia and Southeast Asia with Structural Equation Model (SEM) method. The data used are secondary data published by Measure DHS (Demographic Health Survey) in 2005-2014. Interventions: Determinant factors of LBW occurrence include maternal factors (place to live, education, age, economic status, marital status, parity, location of delivery), neonatal factors (sex, birth weight), health care factors (iron consumption, Antenatal Care / ANC). Results: The result shows the causal relationship between maternal factor to neonatal factor is significant and have coefficient value with positive path which means lower maternal factor, neonatal factor will decrease. In causal relationship between health service factor to neonatal factor is also significant but it has coefficient value with negative path which means higher health service factor, neonatal factor will decrease. The structural model of determinant factor on low birth weight (LBW) occurrence in adolescents in South Asia and Southeast Asia between 2005 and 2014 was Neonatal = 0.36Maternal-0.25Yankes. . Discussion and Conclusions: Researchers suggest to improve health care factors in pregnant women such as iron consumption and delivery in health care.Keyword: Low Birth Weight, Adult, Structural Equation ModelAbstrakLatar Belakang : Berat badan lahir rendah (BBLR)  menyumbang persentase tertinggi sebagai penyebab kematian neonatal.  Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan kejadian BBLR pada remaja se-Asia Selatan dan Tenggara dengan metode Structural Equation Model (SEM). Data yang digunakan adalah data sekunder yang dipublikasikan oleh Measure DHS (Demografic Health Survey) tahun 2005-2014. Metode Peneltian: Faktor determinan kejadian BBLR meliputi faktor maternal (wilayah tempat tinggal, pendidikan, umur, status ekonomi, status perkawinan, paritas, lokasi persalinan), faktor neonatal (jenis kelamin bayi, berat lahir), faktor pelayanan kesehatan (konsumsi zat besi, kunjungan kehamilan/ANC).  Hasil : Hasil penelitian menunjukkan hubungan kausal antara maternal terhadap neonatal bernilai signifikan dan mempunyai nilai koefisien jalur positif artinya semakin rendah faktor maternal maka faktor neonatal akan turun. Pada hubungan kausal antara faktor pelayanan kesehatan terhadap faktor neonatal bernilai signifikan dan mempunyai nilai koefisien jalur negatif artinya semakin tinggi faktor pelayanan kesehatan maka faktor neonatal akan turun. Model struktural faktor determinan kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR) pada remaja  di Asia Selatan dan Asia Tenggara tahun  2005 – 2014  adalah Neonatal = 0,36 Maternal - 0,25 Yankes. Saran: Peneliti menyarankan agar meningkatkan faktor pelayanan kesehatan pada ibu hamil diantaranya konsumsi zat besi dan melakukan persalinan di pelayanan kesehatan.Kata Kunci : BBLR, remaja, SEM
Tinjauan Efektivitas Alur Kerja (Workflow) Sistem Pendaftaran Rawat Jalan Pada Implementasi Pasien BPJS di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura Nisa Rafilda Khafidah; Hosizah Hosizah
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.774 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.140

Abstract

AbstractThe effectiveness of outpatient registration system workflow in the implementation of BPJS patients is an overview of the steps for patients taking outpatient using BPJS and as reference of registration officer in registering outpatient BPJS. To know the level of effectiveness of workflow of outpatient registration system on BPJS implementation is seen from four aspects, namely task or function aspect, plan or program aspect, regulation and regulation aspect, and aspect of objective or ideal condition assessed by using Deming Cycle (Plan, Do, Check, Act). Based on preliminary observations found by researchers at Sukapura Islamic Hospital Jakarta, the effectiveness of outpatient workflow on the implementation of BPJS patients is still less effective in its implementation so that frequent miscommunication between units, nurses working in polyclinics, outpatient BPJS or even patients. It is necessary to create a special workflow that regulates BPJS outpatient registration system. The purpose of this study to determine the effectiveness of workflow outpatient registration system on the implementation of BPJS patients in Sukapura Islamic Hospital Jakarta in 2017. This study uses descriptive method in which researchers can describe the effectiveness of outpatient registration system workflow on the implementation of BPJS. patient supported by research result and interview with staff of Medical Record Unit at Sukapura Islamic Hospital Jakarta. Based on the results of the study the use of outpatient registration system workflow applied to patients BPJS still less effective so often miscommunication between units or officers who interfere with the registration process. It is recommended to Jakarta Sukapura Medical Unit General Hospital to make BPJS outpatient registration system workflow so that patient registration will be effective.Keywords: effectiveness, workflow, outpatient BPJSAbstrakEfektivitas alur kerja (workflow) sistem pendaftaran rawat jalan pada implementasi pasien BPJS merupakan gambaran langkah-langkah untuk pasien yang berobat jalan menggunakan BPJS dan sebagai acuan petugas pendaftaran dalam mendaftarkan rawat jalan pasien BPJS. Untuk mengetahui tingkat efektivitas alur kerja sistem pendaftaran rawat jalan pada implementasi pasien BPJS dilihat dari empat aspek yaitu aspek tugas atau fungsi, aspek rencana atau program, aspek ketentuan dan peraturan, serta aspek tujuan atau kondisi ideal dinilai dengan menggunakan Siklus Deming (Plan, Do, Check, Act). Berdasarkan observasi awal yang ditemukan peneliti di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura efektivitas alur kerja rawat jalan pada implementasi pasien BPJS masih kurang efektif dalam pelaksanaanya sehingga sering terjadi miskomunikasi antar unit, perawat yang bekerja dipoliklinik, petugas pendaftaran rawat jalan BPJS atau pun pasien. Maka perlu dibuat alur kerja khusus mengatur sistem pendaftaran rawat jalan pasien BPJS. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui efektivitas alur kerja sistem pendaftaran rawat jalan pada implementasi pasien BPJS di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu peneliti dapat menggambarkan efektivitas alur kerja sistem pendaftaran rawat jalan pada implementasi pasien BPJS yang didukung dengan hasil penelitian dan wawancara dengan petugas Unit Rekam Medis di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura. Berdasarkan hasil penelitian pemakaian alur kerja sistem pendaftaran rawat jalan yang diimplementasikan pada pasien BPJS masih kurang efektif sehingga sering terjadi miskomunikasi antar unit atau pun petugas yang mengganggu proses pendaftaran. Di sarankan kepada Unit Rekam Medis Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura untuk membuat alur kerja sistem pendaftaran rawat jalan pasien BPJS agar pelaksanaan pendaftaran pasien menjadi efektif.Kata kunci : efektifivitas, alur kerja (workflow), rawat jalan BPJS
Peran Manajer Dalam Evaluasi POAC Unit Rekam Medis dan Informasi Kesehatan di RSUD Tarakan Jakarta Alfian Aroododo; Nauri Anggita Temesvari
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.396 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.119

Abstract

AbstractThe medical record is a file that contains the identity and services that have been given to the patient. The RMIK Unit in a health care facility is responsible for creating and maintaining patient records. Therefore, good management is needed to manage medical record unit in health service facility. Management is defined as a series of activities that work systematically to achieve the desired goals, management activities include planning, organizing, actuating and controlling (POAC). The purpose of this research is to know the role of manager in POAC evaluation of medical record and health information unit at Tarakan General Hospital Jakarta. This research uses qualitative descriptive method with the aim of describing POAC function in RMIK unit. This study used interview with 1 manager and 8 RMIK officer. The results show that the manager role is not maximized in evaluating POAC due to the change of position of managers and new managers need time to adjust the work in the medical record unit. Managers have a very large role in carrying out the POAC function in medical record units and health information. There should be a delegation of authority to the senior medical record officer at the time of change of manager position so that planning activities continue to run and the manager should have a medical record education background.Keywords: manager's role in medical record unit, poac, managementAbstrakRekam medis adalah berkas yang berisikan tentang identitas dan pelayanan yang telah diberikan kepada pasien. Unit RMIK dalam fasilitas pelayanan kesehatan bertanggung jawab dalam membuat dan memelihara rekam medis pasien. Oleh karena itu diperlukan manajemen yang baik untuk mengelola unit rekam medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Manajemen didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematis untuk mencapai tujuan yang diinginkan, kegiatan manajemen meliputi planning, organizing, actuating dan controlling (POAC). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peran manajer dalam evaluasi POAC unit rekam medis dan informasi kesehatan di RSUD Tarakan Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tujuan menggambarkan fungsi POAC di unit RMIK. Penelitian ini menggunakan wawancara dengan 1 manajer dan 8 petugas RMIK. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran manajer masih belum maksimal dalam mengevaluasi POAC dikarenakan adanya pergantian jabatan manajer dan manajer baru butuh waktu untuk penyesuaian kerja di unit rekam medis. Manajer memiliki peranan yang sangat besar dalam melaksanakan fungsi POAC di unit rekam medis dan informasi kesehatan. Sebaiknya ada pendelegasian wewenang kepada petugas rekam medis senior pada saat pergantian jabatan manajer sehingga kegiatan perencanaan tetap terus berjalan dan sebaiknya manajer memiliki latar belakang pendidikan rekam medis.Kata kunci : peran manajer di unit rekam medis, poac, manajemen 
Efisiensi Pengelolaan di Bangsal Asoka Berdasarkan Grafik Barber Johnson di Rumah Sakit Sumber Waras Triwulan I-IV Tahun 2016 Intan Novarinda; Deasy Rosmala Dewi
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.137 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.139

Abstract

AbstractThe efficiency of hospital management in general can be seen from two aspects, namely the medical aspect that evaluates the efficiency from the point of quality of medical service and economically evaluate efficiency from the point of utilization of existing facilities. To know the efficiency of hospital service management, it is necessary to calculate four parameters of Barber Johnson Chart. Based on the results of initial observations on Asoka ward at Sumber Waras Hospital found a fairly low BOR of 52.26% indicating the occupancy rate in Asoka ward is low. The purpose of this research is to get an overview of management efficiency in Asoka ward based on Barber Johnson Chart in Sumber Waras Hospital of Quarter I-IV 2016. This research uses descriptive method to describe Barber Johnson Graphic analysis results in Asoka ward in Quarter I-IV 2016 supported by the results of observations and interviews to HR reporting and head of unit installation of Medical Record Unit. Based on Barber Johnson Graphic Analysis At Asoka Quarter I-IV meeting four parameters are outside the efficiency area set by Barber Johnson indicating that the system running in Sumber Waras hospital has not been efficient. Suggested to Sumber Waras Hospital should plan marketing strategy so that the utilization of bed at Sumber Waras Hospital can be further enhanced.Keywords: hospital management efficiency, barber johnson chart, health statisticsAbstrakEfisiensi pengelolaan rumah sakit secara garis besar dapat dilihat dari  dua  segi  yaitu segi medis  yang meninjau  efisiensi  dari  sudut  mutu pelayanan medis dan dari segi ekonomi yang meninjau efisiensi dari sudut pendayagunaan  sarana  yang  ada. Untuk mengetahui efisiensi pengelolaan pelayanan rumah sakit diperlukan adanya perhitungan empat parameter Grafik Barber Johnson. Berdasarkan hasil observasi awal pada bangsal Asoka di Rumah Sakit Sumber Waras ditemukan BOR yang cukup rendah yaitu 52,26% yang menandakan tingkat hunian di bangsal Asoka rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran efisiensi pengelolaan di bangsal Asoka berdasarkan Grafik Barber Johnson di rumah sakit Sumber Waras Triwulan I-IV tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode desktiptif menggambarkan hasil analisis Grafik Barber Johnson di bangsal Asoka pada Triwulan I-IV tahun 2016 yang didukung dengan hasil observasi dan wawancara kepada SDM bagian pelaporan dan kepala instalasi Unit Rekam Medis. Berdasarkan hasil analisa Grafik Barber Johnson Pada bangsal Asoka Triwulan I-IV pertemuan empat parameter berada di luar daerah efisiensi yang telah ditetapkan oleh Barber Johnson yang menandakan bahwa sistem yang berjalan di rumah sakit Sumber Waras belum efisien. Disarankan kepada Rumah Sakit Sumber Waras sebaiknya merencanakan strategi pemasaran agar pemanfaatan tempat tidur di Rumah Sakit Sumber Waras dapat lebih di tingkatkan.Kata Kunci: efisiensi pengelolaan rumah sakit, grafik barber johnson, statistik kesehatan

Page 1 of 1 | Total Record : 7