cover
Contact Name
Ahmad Taufiq
Contact Email
jurnalpusair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpusair@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL SUMBER DAYA AIR
ISSN : 19070276     EISSN : 2548494X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Sumber Daya Air (JSDA) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Water, and Water resources as well as related topics. All papers are peer-reviewed by at least two referees. JSDA is managed to be issued twice in every volume. The Scope of JSDA is: the fields of irrigation, environmental quality and water, swamp, beach, water building, water supply, hydrology and geotechnical fields, hydrology and water management, water environment, coastal fields, fields of cultivation and sabo fields.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
ANALISIS RENCANA TINGGI TANGGUL BANJIR DAS BANGKATAN SEBAGAI ALTERNATIF PENGENDALIAN BANJIR KOTA BINJAI Asril Zevri
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v16i2.613

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis tinggi tanggul banjir Daerah Aliran Sungai Bangkatan sebagai salah satu alternatif solusi dalam pengendalian banjir Kota Binjai. Kajian dilakukan di Daerah Aliran Sungai Bangkatan yang luasannya hampir mencakup wilayah Kota Binjai kemudian melakukan perhitungan tinggi muka air banjir dengan pendekatan secara kualitatif berdasarkan simulasi HECRAS antara debit banjir kala ulang dengan penampang memanjang dan melintang sungai. Metodologi kegiatan dalam penelitian ini yaitu menganalisis curah hujan harian maksimum rata-rata kawasan Derah Aliran Sungai Bangkatan, curah hujan periode ulang 2 hingga 100 tahun, debit banjir periode ulang 2 hingga 100 tahun, tinggi muka air banjir dengan software HECRAS, dan rencana tinggi tanggul banjir. Hasil penelitian menunjukkan tinggi muka air banjir di bagian penampang hulu sungai sebesar 2,26 m, penampang tengah sebesar 2,43 m, dan penampang hilir sebesar 1,40 m dengan rencana tinggi tanggul banjir di bagian hulu, tengah, dan hilir masing-masing sebesar 2,56 m, 2,73 m, dan 1,70 m.
POTENSI PENAMPUNGAN AIR HUJAN DI DKI JAKARTA Elly Kusumawati Budirahardjo
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v16i2.625

Abstract

Penampungan air hujan (PAH) merupakan salah satu solusi yang dapat diimplementasikan di perkotaan untuk menambah ketersediaan air baku dan mengurangi genangan banjir. Di Indonesia kajian potensi PAH pada wilayah berskala regional masih terbatas sehingga belum memberikan informasi yang cukup bagi penerapan praktis. Penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan kurva tampungan PAH sehingga dapat menjadi acuan praktis bagi pengguna dalam memilih volume tampungan sesuai dengan luas bidang tangkap, besarnya kebutuhan air dan reliabilitas yang dikehendaki. Lokasi kajian berada di Provinsi DKI Jakarta dengan 4 wilayah administrasi yaitu Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kajian ini menggunakan metoda Analisis Simulasi untuk menghitung volume tampungan dengan 4 variasi luasan atap, kebutuhan air dan tingkat reliabilitas. Hasil analisis kurva tampungan menunjukkan semakin besar kebutuhan air dan tingkat reliabilitas yang dikehendaki, semakin besar pula volume tampungan yang dibutuhkan. Di wilayah Jakarta dimana PAH dimanfaatkan sebagai sumber air baku alternatif, dapat dipilih tampungan dengan tingkat reliabilitas 70%. Rumah dengan luas bidang tangkap lebih dari 140 m2 disarankan menggunakan tampungan 2 m3 sedangkan rumah yang lebih kecil dapat menggunakan tampungan 1 m3. Tampungan 2 m3 dapat melayani kebutuhan air maksimal 240 L/rumah/hari sedangkan tampungan 1 m3 dapat melayani maksimal 120 L/rumah/hari. Kata kunci: Tampungan, air hujan, pemanenan, reliabilitas, Jakarta
Analysis of Mukakuning and Duriangkang Reservoir’s Capacity to Fulfill The Raw Water Demand of Batam City Willy Aulia; Robertus Wahyudi Triweko; Bambang Adi Riyanto; Wanny K Adidarma; Doddi Yudianto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v16i2.690

Abstract

Batam City is the economic center of Riau Province with a predicted population of 1.8 million people in 2025. To support economic development, Batam City needs a reliable supply of raw water. Mukakuning and Duriangkang reservoirs, which are cascade reservoirs, are the largest contributors to raw water supply in Batam City. This study aims to determine the maximum capacity of the two reservoirs to meet current and future raw water demand. Discharge in the watershed is calculated using daily HEC-HMS model calibrated using Duriangkang Reservoir water level data. The storage of Mukakuning and Duriangkang Reservoir are 6.3 and 106.1 million m3 respectively, equivalent to 39% and 77% of the runoff volume of each watershed, classifying the two reservoirs in the multi-year category. Using current operation, the two reservoirs can supply up to 3.24 m3/s at 100% reliability, compared to existing capacity of 3.1 m3/s. The water loss is dominated by evaporation which reaches 32.6 million m3/year while spilled water is only 8.3 million m3/year. At 95% reliability, the reservoirs are almost at maximum capacity and able to supply 4.03 m3/s of raw water with the spilled water is only 0.4 million m3/year. Efforts to increase capacity by increasing normal water levels are not effective and lead to dam overtopping in PMF condition. More effective way to increase water supply can be obtained by changing operating patterns. If the reservoir is in dry condition, determined by predicted SPI, the water supply is limited so that the discharge can be utilized for a longer period.
EVALUASI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK (STUDI KASUS: IPAL DOMESTIK WADUK “X”, JAKARTA) Devita Satya Lestari
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v16i2.653

Abstract

Aktivitas penduduk di Jakarta sangat berpengaruh terhadap jenis limbah yang dihasilkan, salah satunya berupa air limbah domestik yang berasal dari aktivitas rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas efluen IPAL dan efisiensi IPAL domestik di Waduk “X”, Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan analisis sampel air pengolahan limbah domestik dengan parameter TSS, BOD, COD, minyak lemak, pH, amonia total dan total koli. Adapun pengambilan sampel, dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Kemudian hasil analisis dibandingkan dengan baku mutu air limbah domestik berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016 dan dilakukan perhitungan persen efisiensi pengolahan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa IPAL domestik di Waduk “X”, Jakarta, dapat menurunkan kandungan TSS, BOD, COD, amonia total, minyak dan lemak serta pH sehingga memenuhi baku mutu, kecuali parameter total koli. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan persen efisiensi pengolahan disimpulkan bahwa IPAL domestik di Waduk “X”, Jakarta, telah cukup efisien hingga sangat efisien dalam mengolah limbah TSS, BOD, COD, amonia total, minyak dan lemak.Kata kunci: Air limbah domestik, instalasi pengolahan air limbah, metode MBBR, baku mutu, efisiensi pengolahan
RESTORASI LAHAN RAWA GAMBUT MELALUI METODE REWETTING DAN PALUDIKULTUR L. Budi Budi Triadi
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v16i2.677

Abstract

Degradasi di lahan rawa gambut umumnya diakibatkan oleh alih fungsi lahan dan pemilihan komoditas yang tidak tepat. Alih fungsi lahan yang disertai dengan pembuatan drainase tanpa perencanaan yang matang menyebabkan lahan menjadi kering, mudah terbakar, subsiden, banjir, emisi CO2 dan permasalahan sosial-ekonomi.Penelitian ini dilakukan melalui studi literatur terkait persoalan dan solusi pemulihan lahan gambut terdegradasi melalui restorasi hidrologi dengan metode rewetting (sekat/canal blocking) dan penanaman jenis tanaman yang tidak membutuhkan drainase (paludikultur).Terdapat empat tipe sekat yang biasa digunakan,  yaitu sekat papan, sekat isi, sekat plastik, dan sekat geser. Pemilihan tipe sekat sangat tergantung kepada kondisi bio-fisik, dimensi kanal, topografi gambut, ketersediaan material dan aksesibilitas ke lokasi penabatan. Dari penelitian ini diketahui adanya korelasi yang kuat antara keberadaan sekat terhadap penambahan ketinggian muka air tanah, dimana sekat bermanfaat untuk menaikkan muka air tanah dan melembabkan tanah.Selanjutnya, dalam penerapan paludikultur, diketahui bahwa komoditas tertentu lebih tahan terhadap genangan namun tetap memiliki nilai ekonomi seperti: Metroxylon spp, Nypa fruticans Wurmb, Alseodaphne spp. dan Nothaphoebe spp., dan Shorea spp. Agar dapat bertahan hidup jenis-jenis tanaman tersebut harus dipilih dan disesuaikan dengan ketinggian air yang terdapat di lahan gambut. Kata kunci: Gambut, paludikultur, sekat kanal, restorasi, muka air tanahIn general, degradation on peatlands is mainly caused by excessive conversion and selection of commodities that cannot grow in wet condition. Conversion of peatlands and extreme canalization have become major threats to peatlands which leads to peat fire, subsidence, flooding, green house emission, as well as economic and social problems.This study was obtained from literature study on current problems and solutions of degraded peatlands through peatland hydrology restoration by rewetting method (canal blocking) and cultivation of species that do not require drainage. There are four types of dams that are often used to control water flows, plank dam, composite dam, plastic dam, and sluice. The selection of dam is highly dependent on bio-physical condition, dimensions of canals, peat-topography, availability and accessibility of transportation to the dam site. This research shows that there is strong correlation between canal blocking and the increasing of ground water level, where canal blocking is useful for raising the water table and moisturizing the soil.In the implementation of paludiculture, the certain species / commodities can survive  to wet condition, and also have economic value such as: Metroxylon spp, Nypa fruticans Wurmb, Alseodaphne spp. dan Nothaphoebe spp), dan Shorea spp. In order to survive the type of plants has to be selected and adjusted to the condition of peatlands water level. Keywords : Peatlands, paludikultur, canal blocking, restoration, ground water level

Page 1 of 1 | Total Record : 5