cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ijocs@unissula.ac.id
Editorial Address
Gang Mlati 8 Ds. Mlaten Mijen Demak 59583
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Community Services
ISSN : -     EISSN : 26848619     DOI : 10.30659/ijocs
Core Subject : Humanities, Social,
Indonesian Journal of Community Services (e-ISSN: 2684-8619) is a biannual scientific multidisciplinary journal published by UNISSULA Press, Department of Research and Community Services Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Indonesia. It is in the national level that covers a lot of common problems or issues related to community services. The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2019): November 2019" : 9 Documents clear
Pembuatan Stik Pelangi untuk pembelajaran bangun datar dan warna pada TK Pertiwi Bungu Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara Eka Setya Budi; Alex Yusron Al Mufti; Haryanto Haryanto
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.194-201

Abstract

AbstrakMedia pembelajaran yang tepat, sangat mendukung keberhasilan pembelajaran baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Oleh karenanya, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kesesuaian materi.  Mengenalkan pesrta didik  bentuk bangun datar dan warna kebanyakan menggunakan gambar atau alat peraga  dalam jumlah banyak. Hal ini menjadikan pengajaran di sekolah terkesan ribet, guru terkesan kurang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran di TK Pertiwi desa Bungu. Solusi yang ditawarkan pada program pengabdian kepada masyarakat ini adalah pembuatan “stik pelangi“ bagi guru TK Pertiwi Desa Bungu sebagai media pembelajaran bangun datar dan warna. ini diharapkan akan membentuk komunikasi pembelajaran yang efektif di antara guru dan peserta didik, karena proses pembelajaran akan lebih menarik dan mengesankan. Permasalahan yang dihadapi mitra TK Pertiwi Desa Bungu yaitu (1) hasil pembelajaran materi bangun datar dan warna belum optimal. (2) guru TK Pertiwi Desa Bungu belum profesional dalam membuat media pembelajaran.  Stik Pelangia dalah program membuat media pembelajaran yang simple kreatif dan inovatif serta tidak membutukan biaya yang signifikan. Media ini dirancang dengan sedemikian rupa agar tujuan pembelajara dapat tercapai. Dengan adanya pembuatan “Stik pelangi” bagi guru TK Pertiwi Desa Bungu hasil pembelajaran materi bangun datar dan warna peserta didik dapat tercapai secara maksimal. Keywords: Stik pelangi; bangun datar; TK Pertiwi Bungu  AbstractAppropriate learning media greatly support the success of learning both in terms of quality and quantity. Therefore, the selection and use of learning media must be adjusted to the needs and suitability of the material. Introducing students form flat shapes and colors mostly using pictures or props in large quantities. This makes teaching in schools seem complicated, teachers seem less creative and innovative in the learning process in Pertiwi Kindergarten in the village of Bungu. The solution offered in this community service program is the creation of a "rainbow stick" for the Pertiwi TK Kindergarten teacher as a medium of learning to build flat and color. This is expected to form effective learning communication between teachers and students, because the learning process will be more interesting and impressive. The problems faced by TK Pertiwi Kindergarten partner are (1) the learning outcomes of flat and color material are not optimal. (2) TK Pertiwi kindergarten teacher is not yet professional in making learning media. Rainbow-Stick is a program that makes learning media that is simple, creative and innovative and does not require significant costs. This media is designed so that learning objectives can be achieved. With the creation of "Rainbow Sticks" for kindergarten teachers in Pertiwi Bungu Village, the learning outcomes of the material in the shape of the flat and the colors of students can be achieved optimally.Keywords: Rainbow Stick, two-dimentional figure, TK Pertiwi Bungu
Upaya menanggulangi hoax melalui literasi media pada anggota Karang Taruna Desa Tandem Hilir I Kecamatan Hamparan Perak Humaizi Humaizi; Siti Hazzah Nur Ritonga
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.144-151

Abstract

AbstrakHoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Dengan kata lain hoax juga bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.Salah satu cara menganngulangi hoax adalah dengan literasi media. Berdasarkan info yang diperoleh, remaja anggota karang taruna desa Tandem Hilir I kecamatan Hamparan Perak belum pernah mendapatkan informasi tentang literasi media sehingga kegiatan ini perlu dilakukan. Kegiatan ini berkokasi di desa Tandem Hilir I kecamatan Hamparan Perak kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Kegiatan inimenggunakan metode ceramah, dan diskusi. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dengan peserta berjumlah 50 orang. Secara umum, kegiatan ini membangkitkan kesadaran para peserta bahwa berita hoax dapat membuat kegaduhan, keributan, dan pertikaian. Para peserta juga menyadari bahwa media sosial dapat digunakan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat seperti silaturrahmi dan berbagi informasi yang bermanfaat seperti lowongan pekerjaan, dan membuka kesempatan mendapatkan tambahan pendapatan dengan membuka online shop. Peserta kegiatan juga telah memahami bahwa dampak menyebarkan hoax dapat menyeret ke penjara karena adanya UU ITE. Oleh karena itu, para peserta juga sependapat untuk berhati-hati dalam menyebarkan berita, melakukan fact-checking, membaca berita secara utuh, dan memperkuat akidah untuk mampu mengontrol diri. Diharapkan setelah kegiatan ini peserta dapat mengaplikasikan dan menyebarluaskan pengetahuan yang mereka peroleh di lingkungan keluarga dan masyarakat. Kata Kunci: literasi; media; berita; hoax AbstractHoax is defined as information that is engineered to cover up the real information. In other words, it can also be interpreted as an effort to distort the facts using information that seems convincing but cannot be verified. One of the ways to overcome this is through media literacy. Based on the information obtained, youth members of the Karang Taruna Tandem Hilir I village of Hamparan Perak sub-district have never received any information about media literacy, so this activity is urgent to be conducted. This activity is located in the village of Tandem Hilir I, Hamparan Perak sub-district, Deli Serdang Regency, North Sumatra. This activity utilizes lecture, and discussion in its application. This activity ran smoothly with 50 participants. In general, this activity aroused the awareness of the participants that hoax news could trigger commotion, and dispute. They also realized that social media could be used for more useful purposes such as friendship and sharing useful information such as job vacancies, and opening up opportunities for additional income by opening an online shop. They also understood that the impact of spreading hoaxes could lead them to prison because of the ITE law. Therefore, they also agreed to be careful in spreading the news, doing fact-checking, reading the whole news, and strengthening the faith to be able to control themselves. It is expected that after this activity, the participants will be able to apply and disseminate the knowledge they have gained in the family and community. Keywords: literacy; media; news; hoax
Revitalisasi Posyandu sebagai upaya peningkatan kesehatan anak dan balita di Posyandu Manggis Kelurahan Karang Roto Semarang Iskim Luthfa
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.202-209

Abstract

AbstrakSustainable Development Goals (SDGs) tahun 2016 menempatkan kesehatan ibu dan anak sebagai indikator keberhasilan dalam pembangunan kesehatan. Posyandu merupakan Pelayanan kesehatan yang memungkinkan untuk memantau kesehatan ibu dan anak, karena mampu menjangkau seluruh masyarakat sampai ke pelosok wilayah. Data dan Informasi Kesehatan Indonesia 2018, di Jawa Tengah terdapat sebanyak 46.701 Posyandu, namun yang aktif melaksanakan kegiatan hanya 33.609 Posyandu (71,97%). Sehingga diperlukan revitalisasi posyandu yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan kinerja Posyandu agar dapat memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat terutama anak dan balita. Program revitalisasi ini berbasis pemberdayaan, dan kader Posyandu sebagai mitranya. Kegiatan utama program revitalisasi posyandu meliputi, 1) Program pelatihan kompetensi kader, 2) Program pelayanan pokok Posyandu, dan 3) Program dukungan masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan kompetensi kader mengalami peningkatan meliputi pengetahuan tentang 5 program pokok posyandu, keterampilan melakukan pemeriksaan kesehatan balita, keterampilan membuat media penyuluhan kesehatan, keterampilan memberikan penyuluhan kesehatan, keterampilan melakukan kunjungan rumah, dan keterampilan melakukan pembukuan sistem informasi posyandu. Kata kunci: kader; kesehatan anak dan balita; revitalisasi posyandu.  AbstractOne of the 2016 Sustainable Development Goals (SDGs) targets is maternal and child health as an indicator of success in health development. Posyandu is a health service that allows to monitor the health of mothers and children, being able to reach the whole community to remote areas. Indonesian Ministry of Health data for 2018, in Central Java there were 46,701 Posyandu, but only 33,609 Posyandu were active in carrying out activities (71.97%). So that the Posyandu Revitalization is needed which aims to improve the function and performance of Posyandu so that it can meet the health needs of the community, especially children and toddlers. This revitalization program is based on empowerment, and Posyandu cadres as partners. The main activities of the Posyandu revitalization program include, 1) Cadre competency training program, 2) Posyandu main service program, and 3) Community support program. The results of the activity showed that cadres' competencies had increased including knowledge of the five main posyandu programs, skills in conducting under-five health checks, skills in making health education media, skills in providing health education, skills in home visits, and skills in recording posyandu information systems.Keywords: cadres; child and toddler health; posyandu revitalization
Program SGK sebagai upaya pembentukan karakter yang kreatif dan berbudaya berbudi luhur di Kadipiro Surakarta Krisdayanti Krisdayanti; Anita Trisiana
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.152-164

Abstract

AbstrakTujuan kegiatan yang dilakukan ini adalah untuk menumbuhkan karakter anak yang kreatif dan berbudi luhur melalui kegiatan “SGK (Sekolah Gencar Karakter)” serta memberikan wadah kepada anak-anak Kelurahan Kadipiro untuk bermain, berkarya dan belajar bersama para pendidik dan Karang Taruna setempat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari di Desa Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Surakarta Solo, Provinsi Jawa Tengah. Metode yang sudah dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah melalui beberapa tahap, yaitu: 1) Persiapan dan sosialisasi, 2) Realisasi program, dan 3) Evaluasi dan tindak lanjut. Hasil dari penelitian ini ialah terbentuknya anak-anak yang memiliki kreativitas, berbudi luhur serta karakter yang baik. Dengan terbentuknya anak-anak yang berkualitas di Kelurahan Kadipiro akan dapat memberikan pengaruh positif serta perubahan stigma negatif dalam pendidikan anak bagi kaum marginal di seluruh Indonesia, dan di Surakarta pada khususnya. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa SGK (Sekolah Gencar Karakter) Upaya Pembentukan Karakter yang Kreatif dan Berbudaya Berbudi Luhur di Kadipiro dapat terwujud nyata di lingkup masyarakat. Kata Kunci: karakter; kreatif; budaya; Sekolah Gencar Karakter AbstractThe purpose of this activity is to grow the character of children who are creative and virtuous through the activities of "SGK (character Gencar school)" and give the children a container Kadipiro village to play, work and learn together Teachers and the local coral Taruna in the life of daily society in Kadipiro Village, Banjarsari District, Surakarta Solo Regency, Central Java province. The method that will be done in this activity is through several stages, namely: 1) Preparation and socialization, 2) Program realization, and 3) evaluation and follow-up. The result of this study was the formation of children with creativity, nobility and good character. With the formation of quality children in Kelurahan Kadipiro will be able to give positive influence as well as changes in the negative stigma in children's education for the marginal people throughout Indonesia, and in Surakarta in particular. Therefore, it can be concluded that SGK (the school of character Gencar) efforts to build to build creative and culturally-virtuous character in Kadipiro can be realized in real society. Keywords: Character; Creative; Culture; Sekolah Gencar Karakter
Meningkatkan kompetensi kepala sekolah swasta di Kota Semarang berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 Nuridin Nuridin; Ira Alia Maerani; Muhammad Muchtar Arifin Soleh; Khairul Anwar
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.165-174

Abstract

AbstrakKepala sekolah memiliki peran sentral dalam pengelolaan sekolah agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Mengingat peran sentral tersebut, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah yang mengatur tentang persyaratan, penyiapan, proses pengangkatan, penugasan, pengembangan keprofesian berkelanjutan, pembinaan, dan penilaian prestasi kerja kepala sekolah serta pemberhentian tugas kepala sekolah. Meskipun demikian, peran sentral dan peraturan ini belum sepenuhnya diketahui dan dipahami oleh para guru dan kepala sekolah. Berdasarkan pengamatan penulis, lembaga pendidikan swasta belum dikelola secara optimal. Indikasinya adalah mayoritas mutu sekolah swasta masih sangat perlu ditingkatkan, minimnya pelatihan kepala sekolah dan masih rendahnya kompetensi kepala sekolah. Pengabdian Masyarakat ini diselenggaraan dengan tujuan untuk memotivasi para kepala sekolah swasta untuk berikhtiar secara terus menerus meningkatkan kompetensinya. Metode peningkatan kompetensi kepala sekolah dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan yang berfokus pada manajemen dan kepemimpinan sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 6 tahun 2018. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa ada peningkatan pemahaman kepala sekolah tentang kompetensi, tugas pokok dan fungsi kepala sekolah, kemampuan manajerial dan efektifitas kepemimpinan. Kata Kunci: kompetensi guru; kepala sekolah; Permendikbud No.6 Tahun 2018 AbstractThe principal has a central role in managing the school in order to achieve educational goals. The  central role are the government has issued Minister of Education and Culture Regulation (Permendikbud) No. 6 of 2018 concerning the Assignment of Teachers as Principals governing the requirements, preparation, appointment process, assignments, continuing professional development, coaching, and evaluating the work performance of principals as well as dismissal of principals' duties. However, this central roles and regulations are not yet fully understood by teachers and principals. .Based on the writer's observation, private education institutions have not been managed optimally. The indications are that the majority of the quality of private schools still needs to be greatly improved, the lack of training of school principals and the still low competency of principals. This Community Service is held with the aim to motivate private school principals to endeavor to continuously improve their competence. The principal competency improvement method is carried out through education and training that focuses on school management and leadership based on Permendikbud number 6 of 2018. The training results indicate that there is an increase in principals 'understanding of the principals' competencies, principal tasks and functions, managerial abilities and leadership effectiveness. Keywords: teachers’ competence; principals; Permendikbud No.6 Tahun 2018
Meningkatkan kemampuan menyusun soal IPA berorientasi HOTS bagi guru Sekolah Dasar Gugus Pandanaran Dabin IV UPTD Semarang Tengah Yunita Sari; Andarini Permata Cahyaningtyas; Mega Mulianing Maharani; Sari Yustiana; Rida Fironika Kusumadewi
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.175-183

Abstract

AbstrakKemampuan berpikir tingkat tinggi mengajarkan siswa untuk mampu mengaplikasikan kemampuan yang mereka miliki dalam menghadapi permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan suatu kemampuan yang erat kaitannya dengan penalaran yang bukan hanya sekedar mengingat kembali, ataupun menyatakan kembali, kemampuan ini menitik beratkan pada kemampuan untuk menganalisis, membuat keputusan yang tepat dan memecahkan suatu masalah. Berdasarkan observasi yang dilakukan ditemukan permasalahan guru belum terlatih mengembangkan soal-soal yang berorientasi HOTS pada muatan IPA, guru masih kesulitan memahai soal soal berdasarkan kategori tingkatan kognitif siswa sesuai dengan taksonomi bloom terbaru. Untuk mengembangkan kemampuan guru dalam menyususn soal-soal berbasis HOTS maka diperlukan pelatihan yang dapat mengaktifkan guru dalam membuat soal-soal yang berorientasi HOTS. Pelaksanaan pengabdian masyarakat, dalam bentuk kegiatan pelatihan, diskusi,praktik dan monitoring serta evalusi. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dengan mitra kelompok guru gugus Pandanaran Dabin IV UPTD Semarang Tengah yang bertempat di SDN Pekunden jalan Pandanaran 1 No.28 Pekunden Peserta terdiri dari guru-guru se-gugus Pandanaran sejumlah 50 peserta. Tingkat antusiasme dalam mengikuti kegiatan pengabdian sangatlah tinggi. Adapun materi yang diberikan saat pelatihan meliputi Pengertian HOTS, Karakteristik HOTS, Penyusunan soal-soal muatan IPA berbasis HOTS dan praktik membuat soal-soal berbasis HOTS. Kegiatan pengabdian berlangsung selama 2 bulan pada bulan Juli sampai Agustus 2019 dimulai dari observasi ke lokasi pengabdian, identifikasi masalah sampai dengan pelatihan. Dari kegiatan pengabdian yang sudah dilaksanakan ada harapan dari pihak mitra untuk menindaklanjuti kegiatan ini dengan kegiatan pelatihan penyusunan soal yang tidak hanya terfokus pada muatan IPA saja tetapi pada  muatan pelajaran yang lain.Kata kunci: Higher Order Thinking Skills; IPA; kelompok kerja guru AbstractHigher-order thinking skills teach students to be able to apply the abilities they have in dealing with problems that exist in everyday life. Higher Order Thinking Skills (HOTS) is an ability that is closely related to reasoning that is not merely recalling, or restating, this ability focuses on the ability to analyze, make the right decision and solve a problem. Based on observations made, it is found that teachers have not been trained in developing HOTS-oriented questions on science content, teachers are still having trouble understanding questions based on students' cognitive level according to the latest bloom taxonomy. To develop the teacher's ability to prepare HOTS-based questions, training is needed to enable the teacher to create HOTS-oriented questions. Implementation of community service, in the form of training, discussion, practice and monitoring and evaluation activities. Community service is carried out with teacher groups of Pandanaran Dabin IV UPTD Semarang Tengan group located at SDN Pekunden, Pandanaran 1 street No.28 Pekunden -Pandanaran group of 50 participants. The level of enthusiasm in participating in community service activities is very high. The material provided during the training included Understanding HOTS, HOTS Characteristics, Compilation of HOTS-based science content questions and the practice of making HOTS-based questions. Community service activities last for 2 months in July to August 2019 starting from observation to the location of service, problem identification to training. From the service activities that have been carried out there is an expectation from the partners to follow up on this activity with the training activities of the preparation of questions not only focused on the content of science but in the grasp of other lessons.Keywords: Higher Order Thinking Skills; natural sciences; teacher working groups
Penerapan PHBS dengan peningkatan pengetahuan dan sikap melalui pendekatan keluarga di Desa Gaji Kabupaten Demak Siti Thomas Zulaikhah; Ratnawati Ratnawati; Joko Wahyu Wibowo; Muhammad Ulil Fuad; Elly Noerhidayati; Erwin Budi Cahyono; Muhammad Saugi Abduh; Lusito Lusito
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.126-133

Abstract

AbstrakDerajat kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bangsa Indonesia. Sementara itu, derajat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, tetapi yang lebih dominan justru adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Upaya untuk meningkatkan perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajat kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya untuk memberdayakan anggota keluarga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan PHBS serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Kesadaran masyarakat akan kesehatan dan pola hidup bersih sehat, khususnya masyarakat desa masih sangat rendah.  Peningkatan pengetahuan dan sikap terkait Perilaku Hidup bersih sehat  diharapkan dapat menjadi upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya melakukan upaya perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memberikan gambaran bagaimana cara merealisasikannya sehingga bisa terwujud masyarakat yang peduli terhadap kesehatan.Target yang ingin dicapai adalah terwujudnya peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap PHBS sehingga masyarakat  mempunyai kemampuan  mempraktekkan pola hidup bersih dan sehat secara mandiri. Metode yang digunakan adalah dengan memberikan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, praktek cuci tangan yang benar dan talkshow. Peserta adalah  masyarakat di desa Gaji yang diwakili oleh ibu/istri dari setiap KK yang merupakan Pasangan Usia Subur (PUS),  berjumlah 60 orang yang diambil secara cluster random sampling. Peserta diberikan pretes pada awal kegiatan dan postes pada akhir kegiatan sebagai evaluasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Hasil kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap  tentang PHBS, terlihat skor sesudah kegiatan lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya (perbedaan rerata skor pengetahun sebelum dan sesudah kegiatan 24,16; sedang perbedaan rerata skor sikap sebelum dan sesudah kegiatan 23, 9. Peserta juga mampu mempraktekkan cuci tangan  dengan 6 langkah secara benar. Kata kunci: PHBS; pengetahuan; sikap; keluargaAbstractHealth degree is one of the important elements in efforts to increase the Indonesian Human Development Index (HDI). Meanwhile, the degree of health is not only determined by health services, but what is more dominant is the environmental conditions and people's behavior. Efforts to improve community behavior to support the improvement of health status are carried out through the Clean and Healthy Behavior (PHBS) development program. Clean and Healthy Behavior (PHBS) is an effort to empower family members to know, be willing and able to carry out PHBS and play an active role in the health movement in the community. Public awareness of health and a healthy clean lifestyle, especially rural communities, is still very low. Increased knowledge and attitudes related to healthy hygiene behavior is expected to be an effort to make the public aware of the importance of making clean and healthy life behavior efforts in daily life while providing an overview of how to realize it so that people who care about health can be realized. The target to be achieved is the realization increasing knowledge and attitudes towards PHBS so that the community has the ability to practice clean and healthy lifestyles independently. The method used is to provide counseling, health checks, proper hand washing practices and talk shows. Participants are people in the village of Salary, represented by mothers / wives of each KK who are Fertile Age Couples (PUS), totaling 60 people taken by cluster random sampling. Participants are given a pretest at the beginning of the activity and posttest at the end of the activity as an evaluation of the activities carried out. The results of the activity increased knowledge and attitudes about PHBS, seen after the activity score was higher compared to before (the difference in the average score of knowledge before and after the activity 24,16; while the difference in the average attitude score before and after the activity 23, 9. Participants were also able to practice washing hands with 6 steps correctly. Keywords: PHBS; knowledge; attitude; family
Intervensi psikososial bagi mahasiswa terminasi PPSK Fakultas Kedokteran UNISSULA Semarang Ahmadi Nur Huda; Ika Buana Januarti; Siti Maesaroh
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.184-193

Abstract

AbstrakMahasiswa program terminasi Fakultas Kedokteran UNISSULA adalah mahasiswa yang masa studinya tinggal satu semester, untuk membantu mahasiswa agar dapat menyelesaikan studinya dengan baik, maka penting dilakukan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) intervensi psikososial sehingga mahasiswa yang terkena ketentuan terminasi dapat meneriman kenyataan yang ada dan merasa optimis. Artikel dibuat untuk mengetahui data demografi mahasiswa dan kondisi psikososial mahasiswa dalam menerima ketentuan terminasi. Metode yang digunakan adalah dengan mengumpulkan mahasiswa terminasi hasil yudisium periode genap tahun akademik 2017 selanjutnya diberikan PKM intervensipsikosial, ceramah motivasi belajar, tujuan hidup manusia, role model oleh mahasiswa lain yang telah berhasil studinya, rencana kedepan dan komitmen bersama, selanjutnya diberikan post tes untuk mgetahui hasil intervensi psikososial yang telah diberikan. Hasil dari studi ini adalah bahwa terdapat lima belas (15) mahasiswa terminasi yang mengikuti PKM  intervensi psikososial, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki ada 9 mahasiswa (60 %), alamat terbanyak di Jawa Tengah ada 10 mahasiswa (66,7 %), tempat tinggal terbanyak rumah sendiri ada 8 mahasiswa (53,3 %), keinginan masuk Fakultas Kedokteran terbanyak adalah keinginan sendiri ada 7 mahasiswa (46,7 %), menyukai Fakultas Kedokteran ada 14 mahasiswa (93,3 %), tahun masuk ke Fakultas Kedokteran terbanyak tahun 2009 ada 11 mahasiswa (73,3 %). Setelah dilakukan PKM  intervensi psikososial didapatkan mahasiswa sangat membutuhkan akan adanya intervensi, intervensi psikososial sangat membantu memahami permasalahan mahasiswa, intervensi psikososial sangat membantu membawa perubahan pikiran dan perasan lebih baik, intervensi psikososial sangat bermanfaat dan sangat membantu menyelesaikan permasalahan mahasiswa. Mengetahui kondisi mahasiswa dalam menerima ketentuan terminasi, memberikan solusi, dukungan emosional dan pemahaman bahwa di balik permasalahan pasti ada hikmahnya. Kata kunci: intervensi psikososial; mahasiswa terminasi; FK UNISSULA.  AbstractUNISSULA Faculty of Medicine termination program students are students who have only one semester of study period, to help students to be able to complete their studies well, it is important to do a Community Service Program (PKM) for psychosocial interventions so that students affected by termination provisions can accept the existing reality and feel optimistic . The article was made to find out student demographic data and student psychosocial conditions in accepting termination provisions. The method used is to collect students termination results of the 2017 academic year even period later given PKM social psychological intervention, learning motivation lectures, human life goals, role models by other students who have successfully studied, future plans and joint commitment, then given a post-test to find out the results of psychosocial interventions that have been given. The results of this study are that there were fifteen (15) termination students who took the PKM psychosocial intervention, the most gender was 9 male students (60%), the highest address in Central Java there were 10 students (66.7%), most of their own homes have 8 students (53.3%), the most desires to enter the Faculty of Medicine are 7 students (46.7%) of their own desires, like the Faculty of Medicine there are 14 students (93.3%), the year of entering the Faculty In 2009 there were 11 students (73.3%). After PKM psychosocial intervention was found, students really needed an intervention, psychosocial intervention really helped to understand students' problems, psychosocial intervention really helped bring a change of mind and feel better, psychosocial intervention was very useful and really helped solve student problems. Knowing the condition of students in accepting termination provisions, providing solutions, emotional support and understanding that behind the problem there must be a silver lining. Keywords: psycho-social intervention; termination program; FK UNISSULA.
Pelatihan TOEIC untuk siswi-siswi Tata Busana SMK Muhammadiyah Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta Luluk Iswati
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.134-143

Abstract

Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Bahasa Inggris siswi-siswi Tata Busana SMK Muhammadiyah Bangunjiwo dengan memberikan pelatihan TOEIC (Test of English as an International Communication). TOEIC merupakan standar alat ukur kemampuan Bahasa Inggris siswa-siswi lulusan SMK yang telah diterapkan oleh pemerintah melalui Kemendikbud. Sebagai jurusan yang baru dibuka di tahun ajaran 2017/2018, Jurusan Tata Busana SMK Muhammadiyah Bangunjiwo belum pernah mengadakan pelatihan maupun tes TOEIC untuk meningkatkan serta mengukur kemampuan Bahasa Inggris para siswanya. Pelatihan ini dilaksanakan selama 17 pertemuan, dimana 2 pertemuan diantaranya digunakan untuk pre-dan post-test TOEIC bagi para peserta. Sebanyak 13 peserta tercatat sebagai peserta pelatihan ini. Pre-test dan post-test dilaksanakan untuk mengukur capaian skor peserta sebelum dan setelah pelatihan. Hasil menunjukkan bahwa dari 13 peserta pelatihan, 3 peserta tidak masuk selama pelatihan dan tidak mengikuti pre dan post-test (tidak aktif), 4 peserta hanya mengikuti post-test, 3 peserta mengalami kenaikan skor, 2 peserta mengalami penurunan skor, dan 1 peserta skornya tetap. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa meskipun hasilnya tidak signifikan, ada sikap dan hal positif yang ditunjukkan para peserta. Indikatornya adalah jumlah peserta post-test yang meningkat (10 orang) dibandingkan pada saat pre-test (6 orang) sehingga dapat dikatakan bahwa motivasi peserta naik, dan jumlah peserta yang mengalami kenaikan skor (3 orang) lebih banyak daripada peserta yang mengalami penurunan skor (2 orang), sehingga bisa dikatakan bahwa pelatihan ini cukup efektif untuk menaikkan kompetensi Bahasa Inggris para peserta.  Kata kunci: TOEIC; kompetensi Bahasa Inggris; SMK Abstract This Community Partnership Service activity aimed to improve the competence of English students at SMK (Vocational High School) Muhammadiyah Bangunjiwo by conducting TOEIC (Test of English and International Communication) training. TOEIC is a standard of English language proficiency measurement for SMK graduates who have been set by the government through the Ministry of Education and Culture. As a new department opened in the 2017/2018 school year, the Department of Clothing of SMK Muhammadiyah Bangunjiwo has never held a TOEIC training nor TOEIC test to improve and measure the English language skills of its students. In this program, the training was held for 17 meetings, of which 2 meetings were used for the TOEIC pre-and post-test for the participants. A total of 13 participants were listed as participants in this training. Pre-test and post-test were carried out to measure participants' scores before and after training. The results showed that out of 13 training participants, 3 participants did not participate in the training nor did they  participate in the pre and post-test (inactive), 4 participants only followed the post-test, 3 participants got an increased score, 2 participants got a decreased score, and 1 participant got a constant score. Overall, it can be concluded that even though the results are not significant, there are positive attitudes and things shown by the participants. The indicator is the increasing number of post-test participants (10 people) compared to the pre-test (6 people) so that it can be said that the participants' motivation rises, and the number of participants who got an increased score (3 people) is more than the participants who got a decreased score (2 people,) so that it can be said that this training is quite effective in increasing the English competence of the participants. Keywords: TOEIC; English competence; vocational school

Page 1 of 1 | Total Record : 9