cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp" : 13 Documents clear
Pemberian Antibiotika Rasional pada Infeksi Mata Winarto Winarto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.955 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.200

Abstract

Eye and adnexal infection has clinical range from mild infection without visual acuity disturbances up to severe infection in which an emergency cases could end with blindness. Antibiotics has a central role in treatment of eye infections, therefore should be given rationally. Rational of basic principles of infection management consist of identification of causing microbes, sensitivity test to antibiotics and choosing a prompt antibiotics based on pharmacokinetics and pharmacodynamics given to the patient at the right dose, right route, appropiate time and affordable by the patients. Previous data concerning etiologic agent and pattern of sensitivity to antibiotics were considered when give an empiric treatment, therefore theese data should be published to clinicians regularly. The part of the eye which diffcult to be reached by immune system, it is advisable to choose a bactericidal antibiotics rather than bacteriostatic, e.g. keratitis, corneal ulcer and endophthalmitis. Toxic effects to the corneal epithelium and retinal cell should be bear in mind in order to treat eye infections to obtain best results.
Korelasi Antara Derajat Keparahan Psoriasis Vulgaris dengan Kadar Homosistein Serum Rasmilia Endrati; Soejoto Soejoto; Diah Malik
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.093 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.201

Abstract

Latar belakang : Psoriasis adalah penyakit inflamasi kronik multisistem, ditandai dengan hiperproliferasi keratinosit. Pada psoriasis, terdapat prevalensi faktor risiko kardiovaskuler yang lebih tinggi, yang diduga salah satu penyebabnya adalah hiperhomosisteinemia karena rendahnya kadar asam folat akibat penggunaan yang berlebihan untuk proliferasi sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi skor PASI dengan kadar homosistein serum Metode : Penelitian analitik observasional dengan rancangan belah-lintang pada 30 subyek penelitian penderita psoriasis vulgaris. Kadar homosistein serum diukur dengan menggunakan metode ELISA. Hasil : Terdapat korelasi ringan antara skor PASI dengan kadar homosistein serum ( r=0,388; p=0,034) Simpulan : Semakin tinggi derajat keparahan psoriasis, kadar homosistein semakin meningkat.
Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pelajar Pengguna Personal Listening Devices (PLDs) Muyassaroh Muyassaroh; Dimas Dimas; Citra Citra
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.936 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.202

Abstract

Latar belakang : Pelajar SMA/sederajat sebagian besar memiliki hobi mendengarkan musik menggunakan personal listening devices (PLDs). Penggunaan PLDs meningkatkan risiko kurang pendengaran sensorineural (KPSN) akibat bising. Pengetahuan yang baik tentang PLDs akan menurunkan risiko KPSN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan perilaku pelajar pengguna PLDs. Metode : Survey pengguna PLDs pada pelajar SMA/sederajat di kota Semarang bulan Mei 2014. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesener terpimpin yang telah diujicobakan. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil : Subyek penelitian sebanyak 308 sampel, laki-laki 191 (62,0%) dan perempuan 117 (38,0%). Rerata skor pengetahuan 8,17±1,96 sedangkan rerata skor perilaku 5,35±2,29. Skor pengetahuan berhubungan dengan skor perilaku (p=0,000) dengan tingkat korelasi lemah (r=0,295). Simpulan : Terdapat hubungan pengetahuan dengan perilaku pelajar pengguna PLDs.
Hubungan Antara Kadar Homosistein Serum Fase Akut dengan Kemandirian Fungsional Jangka Pendek Pasien Stroke Iskemik Isnawan Widyayanto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.158 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.203

Abstract

Latar belakang : Hiperhomosisteinemia merupakan faktor resiko stroke yang dapat dimodifikasi, namun apakah homosistein (Hcy) fase akut salah satu faktor yang mempengaruhi keparahan dan prognosis stroke iskemik masih kontroversi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kadar homosistein serum fase akut dengan kemandirian fungsional stroke iskemik jangka pendek. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan belah lintang, melibatkan 30 pasien stroke iskemik yang dirawat inap di RS. Dr. Kariadi dalam 48 jam sejak onset. Homosistein serum diperiksa dalam kurun 72 jam setelah onset gejala. Kadar homosistein dikategorikan menjadi dua, homosistein tinggi (Hcy>15 ¼mol/l) dan homosistein normal (Hcy<15 ¼mol/l). Keluaran 4 minggu setelah onset dinilai menggunakan Barthel Index (BI). Skor BI ditetapkan mandiri bila skor >95 dan tidak mandiri bila skor <95. Hasil : Sebanyak 30 pasien, 18 (60,0%) laki-laki dan 12 (40,0%) perempuan dengan rerata usia 60,40 ± 7,71 tahun dievalusi. Rerata Hcy puasa semua pasien adalah 14,74 ± 5,47 μmol/L. Empat belas pasien (46,7%) memiliki Hcy tinggi (Hcy >15 ¼mol/L). Rerata Hcy pada subjek yang masuk kategori Hcy tinggi adalah 19,46 ± 3,71 ¼mol/L dan rerata pada subjek dengan Hcy normal adalah 10,61 ± 7,10 ¼mol/L. Rerata BI pada subjek dengan hiperhomosisteinemia adalah 86,79 ± 12,03 dan rerata BI pada subjek dengan kadar homosistein normal adalah 86,88 ± 14,36. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kadar Hcy dengan nilai Barthel Index (BI) (p=0,464). Simpulan : Kadar homosistein fase akut stroke iskemik tidak berhubungan dengan kemandirian fungsional stroke iskemik jangka pendek (4 minggu).
Cost Effectiveness Kemoterapi Kombinasi Neoadjuvant Cisplatin - Paclitaxel Dibanding Cisplatin 5 Flourourasil Terhadap Respon Klinis pada Karsinoma Nasofaring Dwi Antono; Muyassaroh Muyassaroh; Alfian Sulaksana
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.576 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.204

Abstract

Latar belakang : Cisplatin merupakan regimen obat sitostatika pilihan pada karsinoma nasofaring. Kemoterapi kombinasi neoadjuvant menghasilkan angka respon lebih tinggi pada KNF stadium lanjut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui cost effectiveness kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis-pac dibanding cis-5FU terhadap respon klinis pada KNF. Metode : Penelitian deskriptif analitik rekam medik penderita KNF yang mendapatkan 3 siklus kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis pac atau cis - 5 FU di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Juni 2010 - Juli 2013. Analisis dengan uji Chi Square dan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER). Hasil : Didapatkan 45 sampel, 25 mendapat kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis-pac dan 20 mendapatkan kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis-5FU. Respon klinis kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis-pac respon positif (65,7%) dan respon negatif (20%) lebih baik dibanding kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis5FU respon positif (34,3%) dan respon negatif (80%) (RP 1,533 dan 95% CI 1,05-2,233). Biaya kemoterapi kombinasi cis-pac lebih murah (86,7%) dibanding kemoterapi kombinasi cis-5FU (13,3%) (RP 5,200 dan 95% CI 1,324-20,416). ACER total biaya kemoterapi kombinasi cis-pac lebih cost effective (190.325,6) dibanding kemoterapi kombinasi cis-5FU (290.604,7). Simpulan : Respon klinis kemoterapi kombinasi neoadjuvant cispac lebih baik dibanding kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis5FU. Pemberian kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis-pac lebih cost effective dibanding kemoterapi kombinasi neoadjuvant cis5FU.
Pengaruh Pemberian Deksametason Terhadap Kadar D Dimer Plasma pada Pasien Tumor Otak Agus Setiawan; Dwi Pudjonarko; Dodik Tugasworo
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.963 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.205

Abstract

Latar belakang : Kanker meningkatkan risiko trombosis dan meningkatkan kadar D dimer melalui disfungsi endotelial akibat VEGF yang diproduksi sel kanker. Terapi deksametason memperbaiki sawar darah otak dengan menurunkan VEGF, sehingga mengurangi edema vasogenik. Deksametason diperkirakan dapat menurunkan kadar D dimer plasma pada pasien tumor otak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian deksametason dengan kadar Ddimer plasma pasien tumor otak. Metode : Penelitian ini menggunakan model eksperimental kuasi terhadap 17 pasien tumor otak, yang direkrut secara konsekutif, dan tidak dalam kemoterapi atau radioterapi. Diagnosis tumor otak didasarkan pada CT sken kepala dan D dimer plasma diukur dengan ELISA (Sysmex). Seluruh pasien diberikan terapi deksametason, dan kadar D dimer diukur sebelum dan 4 hari setelah pengobatan deksametason. Uji t berpasangan digunakan untuk menguji perubahan kadar D dimer. Hasil : Responden penelitian ini adalah perempuan sebanyak 11 (64,7%) pasien, sedangkan laki-laki sebanyak 6 (35,3%) pasien, dan terbanyak berada kelompok usia 41-50 tahun sebanyak 9 (52,9%) orang. Keadaan hiperkoagulasi (peningkatan kadar D dimer >500 ng/ml) pada sebanyak 6 (35,3%) pasien. Kanker yang paling sering adalah meningioma sebanyak 10 (58,8%) pasien, diikuti oleh glioma sebanyak 4 (23,5%) pasien dan metastase otak pada 3 (17,6%) pasien. Tidak terdapat perbedaan pada kadar D Dimer plasma antara pra dan pasca terapi deksametason (p=0,658). Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis tumor otak (intra dan extra-axial) terhadap perubahan kadar D dimer plasma (p=0,029). Simpulan : Pemberian deksametason pada pasien dengan tumor otak tidak mempengaruhi kadar D dimer plasma
Pengaruh Pemberian Ekstrak Ikan Gabus terhadap Status Antioksidan Total pada Pasien Stroke Iskemik Akut dengan Riwayat Hipertensi Aditya Kurnianto; Retnaningsih Retnaningsih
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.651 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.206

Abstract

Latar belakang : Stroke adalah penyebab utama kematian dan kecacatan yang berdampak pada ketergantungan sosial maupun ekonomi. Insidensi tersering kasus stroke adalah stroke iskemik yang meliputi 70-80% semua kasus. Hipertensi dapat membuat kerusakan pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan seseorang memiliki resiko tinggi terkena stroke iskemik. Ekstrak ikan gabus mempunyai kandungan protein dan anti oksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak ikan gabus terhadap status antioksidan total (SAT) pada pasien stroke iskemik akut dengan riwayat hipertensi. Metode : Penelitian ini adalah dengan Randomized Pretest-Posttest Control Group Design dan telah dilakukan di Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang dan rumah sakit jejaring dalam rentang waktu empat bulan, yaitu mulai Mei sampai dengan Oktober 2013. Perlakuan dilaksanakan pada 29 subjek stroke iskemik akut dengan riwayat hipertensi selama 7 hari (1 minggu) dengan pemberian ekstrak ikan gabus dengan dosis 15 gram sehari dalam dosis bagi 5 gram per delapan jam. Pemeriksaan laboratorium berupa sampel darah vena untuk pemeriksaan SAT. Data kemudian di uji normalitasnya menggunakan Saphiro Wilk, lalu di analisis menggunakan uji beda Mann-Whitney. Hasil : Terdapat perbedaan bermakna SAT pada suplementasi ekstrak ikan gabus terhadap pasien stroke iskemik akut dengan riwayat hipertensi (p=0,032). Simpulan : Suplementasi ekstrak ikan gabus meningkatkan SAT secara bermakna pada pasien stroke iskemik akut dengan riwayat hipertensi
Pengaruh Pemberian Asi Eksklusif dan Non Eksklusif terhadap Mental Emosional Anak Usia 3-4 Tahun Any Setyarini; Maria Mexitalia; Ani Margawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.483 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.207

Abstract

Latar belakang : Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik yang mengandung semua unsur zat gizi yang dibutuhkan bayi usia 0-6 bulan. ASI dapat mempengaruhi tumbuh kembang bayi, termasuk perkembangan mental emosional melalui kelekatan yang terbentuk lewat menyusui. Kelekatan yang kurang antara ibu dan bayi dapat menyebabkan timbulnya gangguan mental emosional yang berpengaruh terhadap perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian ASI eksklusif dan non eksklusif terhadap mental emosional anak usia 3-4 tahun serta menganalisis variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap mental emosional anak usia 3–4 tahun. Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional. Subjek sebanyak 84 anak usia 3-4 tahun yang berada di wilayah kerja puskesmas Kecamatan Banyumanik Semarang, diambil dengan metode purposive sampling dan dikelompokkan berdasarkan konsumsi ASI anak, ASI eksklusif dan ASI non eksklusif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan ibu responden menggunakan kuesioner pemberian ASI dan kuesioner skrining masalah mental mental emosional anak menggunakan SDQ (Strenght and difficulties quotionnare). Analisis data menggunakan uji Chi–Square dan regresi logistik. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif sebagian besar (76,2%) tidak memiliki masalah mental emosional, sedangkan anak yang tidak mengkonsumsi ASI eksklusif cenderung memiliki masalah mental emosional (64,3%). Ada hubungan riwayat pemberian ASI (p=0,001), pengetahuan ibu (p=0,001), sikap ibu (p=0,001) dan tingkat pendidikan ibu (p=0,029) terhadap mental emosional anak. Riwayat pemberian ASI merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap mental emosional anak setelah dikontrol oleh pengetahuan ibu, sikap ibu, tingkat pendidikan ibu, dan berat badan lahir anak. Simpulan : Riwayat pemberian ASI, pengetahuan ibu, sikap ibu, dan tingkat pendidikan ibu merupakan faktor yang berpengaruh terhadap mental emosional anak
Korelasi Antara Kadar Serum Leptin, Zinc, dan IgE pada Obesitas Mulyono Mulyono; Wistiani Wistiani; Dewi Ratih; Saekhol Bakri
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.279 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.208

Abstract

Latar belakang : Telah diketahui bahwa kadar serum zinc berhubungan dengan kadar serum leptin pada obesitas. Di sisi lain, penelitian terdahulu menunjukkan hubungan antara obesitas dengan IgE, sebagai penanda atopi, masih inkonsisten. Belum terdapat penelitian yang menilai signifikansi korelasi obesitas dengan serum leptin, zinc, and IgE di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai korelasi antara kadar serum leptin, zinc, dan IgE pada anak obesitas. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang, dilakukan di Semarang, melibatkan 80 anak obesitas, laki-laki (n=40) dan perempuan (n=40), berusia 13–14 tahun, dari Januari hingga Desember 2013, dengan kriteria inklusi anak obesitas dan menyetujui informed consent. Riwayat atopi dinilai menggunakan kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC). Pemilihan subyek secara consecutive sampling. Sampel darah diambil untuk pemeriksaan kadar zinc serum menggunakan metode AAS, leptin dan IgE serum menggunakan ELISA. Analisis statistik menggunakan Pearson's correlation test. Hasil : Dari 80 subyek, rata-rata kadar serum leptin adalah 10443,15 (SD=4288,76) pg/ml, kadar serum zinc 83,29 (SD=15,56) ng/dl, kadar serum IgE 103,48 (SD=108,36) IU/ml, secara berturutan. Pengujian statistik dengan Pearson's correlation test, secara statistik tidak terdapat hubungan antara kadar serum leptin dan kadar serum zinc, tidak terdapat hubungan antara kadar serum leptin dan kadar serum IgE, dan tidak terdapat hubungan antara kadar serum zinc dan kadar serum IgE dengan nilai r= 0,137, (p=0,227); r= -0,380, (p=0,741); dan r= -0,146 (p=0,195), secara berurutan. Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara kadar serum leptin, zinc dan IgE pada anak obesitas.
Pengaruh Suplementasi Kapsul Ekstrak Ikan Gabus terhadap Kadar Albumin dan Berat Badan pada Anak dengan Sindrom Nefrotik Geniza Gilda; Heru Muryawan
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.116 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.209

Abstract

Latar belakang : Sindrom nefrotik (SN) merupakan penyakit ginjal terbanyak pada anak. Pengobatan sindrom nefrotik (SN) saat ini belum maksimal. Diet tambahan protein diharapkan meningkatkan kadar albumin serum dan menghilangkan edema sehingga menurunkan berat badan anak SN. Ikan gabus (Ophiocephalus striatus) merupakan sumber protein hewani yang memiliki kadar protein tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh suplementasi kapsul ekstrak ikan gabus terhadap peningkatan kadar albumin serum dan penurunan berat badan pada anak SN. Metode : Penelitian uji klinis dengan historical control dilakukan di poliklinik dan bangsal anak RSUP Dr. Kariadi Semarang, pada 28 anak dengan sindrom nefrotik, yang terbagi dalam 14 orang kelompok perlakuan dan 14 orang kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkan suplementasi kapsul ekstrak ikan gabus 150 mg sebanyak dua kali sehari. Suplementasi ikan gabus diberikan setiap hari selama 14 hari. Kadar albumin dan berat badan diukur sebelum dan setelah suplementasi. Analisis statistik menggunakan uji t independent dan uji Mann Whitney. Hasil : Rerata perubahan kadar albumin pada kelompok perlakuan yaitu 0,92 ± 1,105 g/dL dan kelompok kontrol yaitu 0,57 ± 0,422 g/dL. Rerata perubahan berat badan pada kelompok perlakuan yaitu -0,89 ± 1,576 kg dan kelompok kontrol 0,44 ± 1,823 kg. Terdapat peningkatan kadar albumin (p=0,015) dan penurunan berat badan (p=0,036) pada kelompok perlakuan dibanding kelompok kontrol. Simpulan : Suplementasi kapsul ekstrak ikan gabus dapat meningkatkan kadar albumin dan menurunkan berat badan anak SN

Page 1 of 2 | Total Record : 13