cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp" : 14 Documents clear
Perbedaan Fungsi Agregasi Trombosit, MPV, Dan Rasio MPV/PC Pada Pasien Stroke Iskemik dan Stroke Hemoragik Melia Setiawati; Purwanto Adhipireno
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.596 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.341

Abstract

Latar BelakangStroke adalah hilangnya fungsi neurologis akut yang disebabkan gangguan aliran darah ke otak karena iskemik atau hemoragik. Trombosit berperan penting dalam pembentukan trombus intravaskular. Pemeriksaan fungsi trombosit meliputi fungsi agregasi trombosit, MPV, dan rasio MPV/PC(Mean Platelet Volume/Platelet Count). Peningkatan MPV dan rasio MPV/PC didapatkan pada pasien infark serebri dan infark miokard. TujuanMenganalisis perbedaan fungsi agregasi trombosit, MPV, dan rasio MPV/PC pada pasien stroke iskemik dan stroke hemoragik. MetodePenelitian belah lintang pada penderita stroke yang dirawatdi RSUPDr. Kariadi Semarang periode Juni – Agustus 2016.Diagnosis stroke berdasarkan hasil pemeriksaan MSCT Scan Kepala. Dilakukan pemeriksaan fungsi agregasi trombosit, MPV dan rasio MPV/PC.Data fungsi agregasi trombosit dan MPV dianalisis dengan uji beda t-test sedangkan data rasio MPV/PC dianalisis dengan Mann Whitney U Test. HasilMean persentase fungsi agregasi trombositpada kelompok stroke iskemik adalah 76.83 ± 10.262 %, dan 68.69 ± 10.791 % pada stroke hemoragik. Terdapat perbedaan persentase agregasi trombosit antara kedua kelompok (p = 0,004). Mean MPV pada kelompok stroke iskemik adalah 8.66 ± 1.41 fl dan 7.51 ± 1.52 fl pada kelompok stroke hemoragik dan menunjukkan perbedaan (p = 0.004). Median Rasio MPV/PC pada kelompok stroke iskemik adalah 0.034 (0.009-0.142) dan 0.027 (0.008-0.046) pada kelompok stroke hemoragik dan tidak menunjukkan perbedaan (p = 0.054). SimpulanTerdapat perbedaan persentase fungsi agregasi trombosit dan MPV pada stroke iskemik dan stroke hemoragik (p<0.005). Tidak terdapat perbedaan rasio MPV/PC pada kedua kelompok (p>0.005).  Kata kuncistroke, fungsi agregasi trombosit, MPV, rasio MPV/PC(Mean Platelet Volume/Platelet Count)
Hubungan Gambaran Hitung Jenis Leukosit Maternal dengan Korioamnionitis pada Ketuban Pecah Dini (Studi pada usia kehamilan 28-42 minggu) Hefie Rahmaniar; Mochammad Besari Adi Pramono; Julian Dewantiningrum; Herman Kristanto; Nahwa Arkhaesi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.412 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.342

Abstract

Latar Belakang Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah obstetri yang dikaitkan dengan korioamnionitis. Diagnosis korioamnionitis ditegakkan secara histopatologis setelah kelahiran, sehingga perlu upaya deteksi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, misalnya dengan hitung jenis leukosit maternal. Tujuan Menganalisis hubungan gambaran hitung jenis leukosit maternal dengan korioamnionitis pada KPD. Metode Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang ini menggunakan 54 sampel KPD yang terbagi dalam korioamnionitis dan bukan korioamnionitis yang diambil dari data sekunder di beberapa rumah sakit di Jawa Tengah. Data meliputi karakteristik pasien dan hitung jenis leukosit. Analisis data ditampilkan dalam bentuk frekuensi dan persentase, serta rerata dan simpang baku atau median dan nilai maksimum dan minimum. Uji hipotesis dianalisis dengan uji T-tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney. Hasil Pasien korioamnionitis memiliki hasil perhitungan lebih tinggi pada hitung leukosit total (sel/µl: 13243.7 vs 9790; p=0.032), basofil (24.5 vs 18.13; p=0.020), neutrofil (9495.33 vs 7907; p=0.020), dan monosit (735.59 vs 529.54; p=0.008). Hasil lain adalah eosinofil (53.6 vs 73.04; p=0.849) dan limfosit (1880.56 vs 1525.65; p=0.684). Simpulan Terdapat hubungan antara hitung leukosit total, neutrofil, basofil, dan monosit dengan korioamnionitis pada KPD.  Kata kunci: KPD, korioamnionitis, hitung jenis leukosit Â
Korelasi Kadar Bilirubin Total Dengan Estimasi Laju Filtrasi Glomerolus Pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik Nuraddiyani Hidayah; Ria Triwardhani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.124 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.343

Abstract

Latar belakang: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel. Estimasi laju filtrasi glomerolus (eLFG) merupakan indeks untuk menilai fungsi ginjal. Stress oksidatif sebagai salah satu penyebab terjadinya disfungsi renal pada PGK. Bilirubin merupakan antioksidan dan mempunyai kemampuan renoprotektif. Tujuan penelitian untuk menganalisis korelasi kadar bilirubin total serum dengan eLFG pada penderita PGK.  Metode: Penelitian belah lintang berdasarkan rekam medik penderita PGK di RSUP Dr. Kariadi pada Agustus 2015 – Juli 2016. Analisis statistik untuk korelasi kadar bilirubin total serum dengan eLFG menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Lima puluh dua penderita PGK dengan median (min-maks) kadar bilirubin total serum 0,55(0,22-2,10) mg/dl dan eLFG 11,75(3,4-112,60) ml/menit/1,73m2. Uji korelasi Spearman kadar bilirubin total serum dengan eLFG didapatkan r = 0,419; p = 0,002.  Simpulan: Terdapat korelasi positif sedang yang bermakna antara kadar bilirubin total serum dengan eLFG. Bilirubin mempunyai kemampuan renoprotektif sehingga dengan mengetahui kadar bilirubin total serum dapat membantu mengetahui derajat progresifitas PGK. Kata kunci : penyakit ginjal kronik, bilirubin total serum, eLFG 
Hubungan Kadar Tsh Dan Ft4 Terhadap Koagulasi Darah Yang Dinilai Dengan Ppt Dan Pttk Pada Pasien Hipertiroid Irenne .; Lisyani Budipradigdo Suromo
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.153 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.344

Abstract

Pendahuluan: Gangguan pada fungsi tiroid diketahui mempunyai pengaruh terhadap sistem koagulasi.Kondisi hipertiroid diamati mengalami peningkatan kadar von Willrbrand (vWF) dan fibrinogen. Penelitian mengenai hubungan thyroid stimulating hormone (TSH) dan free tetraiodothyronine (FT4) terhadap faktor koagulasi pada kondisi hipertiroid pernah diteliti tetapi terdapat perbedaan hasil dan terdapat kesenjangan antara teori dan praktik. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan TSH dan FT4 terhadap nilai plasma prothrombin time (PPT) dan partial thromboplastin time with kaolin (PTTK) pada pasien hipertiroid.Metode : Empat puluh dua pasien hipertiroid yang memenuhi kriteria inklusi pada bulan Juni-Agustus 2016di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan belah lintang. TSH dan FT4diukur menggunakan metode ELFA, PPT dan PTTK diukur menggunakan alat hematologi analyzer. Uji normalitas Saphiro-Wilk test dan uji korelasi TSH, FT4, PPT, dan PTTK menggunakan Spearman test.Hasil: Analisis korelasi terdapat hubungan bermakna antara kadar TSH dan PPT (p = 0.023; r = 0.35). Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar TSH dan FT4 (p = 0.908; r = -0.018), TSH dan PTTK (p = 0.165; r = 0.218), FT4 dan PPT (p = 0.164; r = 0.219), FT4 dan PTTK (p = 0.485; r = -0.111) pada pasien hipertiroid.Simpulan: Terdapat hubungan positif lemah antara TSH dan PPT. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara TSH dan FT4, TSH dan PTTK, dan FT4 terhadap PPT dan PTTK. Dibutuhkan penelitian kohort pada pasien hipertiroid dengan terapi untuk membuktikan apakah hormon tiroid mempunyai hubungan dengan perubahan koagulasi. Kata kunciHipertiroid, TSH, FT4, PPT, PTTK
Sistem Pendukung Konsep Diri Dan Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara Di RSUP Dr Kariadi Semarang Nurul Azizatunnisa; Ari Susilowati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.798 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.345

Abstract

Latarbelakang :Kanker payudara dapat mempengaruhi konsep diri dan kualitas hidup pasien. Diperlukan sistem pendukung yang berasal dari sumber eksternal (dukungan keluarga) dan internal pasien. Dukungan keluarga akan membantu meningkatkan konsep diri pasien kanker payudara.Sumber internal pasien dapat berasal dari kelompok swabantu atau SelfHelp Group(SHG) yang beranggotakan pasien dengan jenis penyakit sama sehingga dapatsaling memotivasi untuk meningkatkan kualitas hidup.Tujuan :Artikel penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pendukung konsep diri dan kualitas hidup pasien kanker payudara di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode :Terdapat dua jenis penelitian kuantitatif dalam artikel ini,yaitu  desain penelitian kuantitatif non eksperimental metode crosssectional daneksperimental one group pre-test post-test design. Populasi dan sampel penelitian adalah pasien kanker payudara yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi pada bulan Oktober - Desember 2014. Metode samplingyang digunakan adalah total sampling dan purpossivesampling. Instrumen ini terdiri dari empat kuesioner yang berisi data demografi, kuesioner konsep diri, kuesioner dukungan keluarga dan WHO-QoL BREFuntuk mengukurkualitas hidup pasien. Analisa data meliputi analisa univariat yang menggambarkan karakteristik responden dengan distribusi frekuensi serta analisa bivariat menggunakan uji RankSpearmandan Mann Whitney U.Hasil :Hasil analisa data menggunakan RankSpearmen diperoleh nilai p = 0,000, p value< 0,05, maka ada hubungan antara dukungan keluarga dengan konsep diri pasien kanker payudara di RSUP dr Kariadi Semarang. Hasil penelitiandalam artikel ini juga menunjukkan bahwa 93,3% responden mengalami peningkatan pada domain fisik dan 100% mengalami peningkatan pada domain psikologis, hubungan sosial dan lingkungan.Kesimpulan :Dengan demikian SHGberpengaruh terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kata Kunci : kanker payudara, sistem pendukung,konsep diri, kualitas hidup
Karakteristik OMSK Dengan Komplikasi Intrakranial Di RSUP Dr.Kariadi Semarang Tahun 2012 - 2017 Rosa Putrie Anindya; Dian Ayu Ruspita
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.75 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.346

Abstract

Latar Belakang: Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga lebih dari 2 bulan. OMSK dapat menyebabkan komplikasi ke intratemporal dan intrakranial.Prevalensi OMSK di Asia Tenggara sebesar 15-20% dengan komplikasi intrakranial sebesar 5-10%.4 OMSK dengan komplikasi intrakranial merupakan kasus yang mengancam jiwa sehingga perlu diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat. Tujuan: Mengetahui karakteristik kasus OMSK dengan komplikasi intrakranial di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Bahan dan cara kerja: Penelitian diskriptif retrospektif yang diambil dari rekam medik pasien rawat inap selama 5 tahun antaraJanuari 2012- Mei 2017. Hasil: Didapatkan 18 kasus OMSK dengan komplikasi intrakranial dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 15:3. Kelompok usia terbanyak 11-20 tahun (33,3%). Keluhan utama terbanyak adalah nyeri kepala dan otore (100%), riwayat otore lebih dari 10 tahun (72,2%). Komplikasi intrakranial terbanyak abses serebri (55,5%) dimana lokasi abses terbanyak di regio temporoparietal (55.5%). Jaringan patologis daerah mastoid terbanyak adalah kolesteatoma (72,2%). Hasil kultur dengan jenis kuman terbanyak Pseudomonas aeroginosa (22.2%). Kraniotomi dan mastoidektomi memberikan penyembuhan yang baik (83,3%). Simpulan: Komplikasi intrakranial lebih sering berupa abses serebri. Tindakan kraniotomi dan mastoidektomi memberikan respon penyembuhan yang baik. Kata kunci: Komplikasi intrakranial, OMSK, kraniotomi dan mastoidektomi.
Perbedaan Neutrophyl Lymphocyte Ratio, Platelet Lymphocyte Ratio Dan Monocyte Lymphocyte Ratio Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Dan Tanpa Komplikasi Kardiovaskular Prihartiwi Purnamasari; Banundari Rachmawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.417 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.347

Abstract

Latar belakang Proses inflamasi memegang peranan penting dalam patogenesis diabetes mellitus (DM) tipe 2 dan mendahului timbulnya komplikasi kardiovaskular. Parameter neutrophyl lymphocyte ratio (NLR), platelet lymphocyte ratio (PLR) dan monocyte lymphocyte ratio (MLR) merupakan biomarker potensial, merefleksikan inflamasi namun belum digunakan secara rutin. Penelitian ini ingin mengetahui perbedaan NLR, PLR dan MLR pada pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi kardiovaskular. Metode Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan belah lintang (cross sectional) pada 30 pasien DM dan 30 pasien DM dengan komplikasi jantung pada bulan Juli - Oktobertahun 2016 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Subyek penelitian berusia 30-80 tahun dan sudah menderita penyakit lebih dari 5 tahun. Pasien dengan infeksi/inflamasi lain, kelainan sistem hematologi, riwayat kanker/sedang menjalani kemoterapi/radiasi dan penderita yang meminum selain obat diabetes dan obat jantung dikeluarkan dari penelitian. Analisis data dengan uji t tidak berpasangan. Signifikan jika p < 0,05. Hasil Nilai NLR dan MLR pada pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi jantung lebih rendah daripada pasien DM dengan komplikasi jantung (2,58 (0,98 – 14,72) VS 2,98 ( 1,42 – 7,17) p=1,000) dan (0,27 (0,12 – 0,87) VS 0,31 ( 0,14 – 1,60), p=0,183). Nilai PLR pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi jantung lebih tinggi daripada pasien DM dengan komplikasi jantung (125,35 (34,48 – 540,93) VS 121,40 (58,90 – 354,69), p=0,723). Simpulan Tidak terdapat perbedaan bermakna NLR, PLR dan MLR pada pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi kardiovaskular. Kata kunci Neutrophyl lymphocyte ratio, platelet lymphocyte ratio, monocyte lymphocyte ratio, diabetes mellitus tipe 2, komplikasi kardiovaskular.
Hubungan Ratio Trigliserida/HDL-C Dengan HbA1c Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Obed Huger Nainggolan; Herniah Asti Wulanjani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.955 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.348

Abstract

Latar belakang :Diabetes Melitus tipe 2 meliputi 90% dari semua populasi diabetes. Peningkatan prevalensi diabetes melitus dapatdisertaidengan peningkatan prevalensipenyakit kardiovaskuler. Salah satu faktor risiko terjadinya PJK pada DM tipe 2 adalah dyslipidemia. Dislipidemia adalah gangguan metabolisme lipid, dimana yang paling sering ditemukan adalah peningkatan kadar Trigliserida dan penurunan kadar HDL-C. Penelitianmenunjukan bahwa menurunkan HbA1c dapat menunda ataumencegahkomplikasi kronik. Tujuan : Mengetahui hubungan ratio Trigliserida/HDL-C dengan HbA1c pada penderita DM tipe 2 Metode : Penelitian potong lintang pada rekam medik 59 pasien Diabetes Melitus tipe 2 di RSUP Dr.Kariadi. Kadar Profil Lipid terdiri dari Kolesterol Total, Trigliserida, HDL-C, LDL-C diperiksa dengan metoda kolometrik enzimatik, kadar HbA1c dengan metoda turbidimetri. Hasil : Korelasi ratio Trigliserida /HDL-C dengan kadar HbA1c adalah 0,152 (p = 0,250 yang menandakan bahwa ada hubungan yang positif namun tidak signifikan antara ratio Trigliserida/HDL-C dengan kadar HbA1c. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara ratio Trigliserida /HDL-C dengan kadar HbA1c. Kata kunci : Trigliserida, HDL-C, HbA1c, DM tipe 2
Perbedaan Nilai Total Thrombocyt Count (TC), Platelet Distribution Width (PDW) Dan Mean Platelet Volume (MPV) Pada Penderita Chronic Renal Failure (CRF) Tanpa Hemodialisa Dan Dengan Hemodialisa Indrawan Guruh Adi; Purwanto Adhipireno
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.777 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.349

Abstract

LatarBelakang:Pasien dengan penyakit ginjal kronis memiliki resiko kehilangan darah yang disebabkan disfungsi platelet.Penyebab lain adalah proses terapi hemodialisis.Tujuan penelitian ini, membuktikan adanya perbedaan Total Thrombocyt Count (TC), Platelet Distribution Width (PDW) dan Mean Platelet Volume (MPV) antara penderita CRF tanpa dan dengan hemodialisa, sehingga dapat mengoptimalkan parameter pemeriksaan hematologi otomatis yang sering dilakukan dengan memanfaatkan indek trombosit sebagai parameter prognostik tingkat keparahan penyakit. Metode : Sampel darah EDTA 72 penderita CRF berusia 8-80 tahun, yang dirawat di RSUP Dr.Kariadi, bulan November 2015 - April 2016, diperiksacomplete blood count (CBC) menggunakan hematologi analyzer metode flowcitometri Cell-Dyn Sapphire. Hasil pemeriksaan masing-masing kelompok di analisis menggunakan Uji Statistik One Way Anova. Hasil :Hasil penelitian pada 2 kelompok diagnosis didapatkan rerata nilai TC kelompok HD 177,93 ± 79,52, kelompok Non HD 244,11 ± 111,98. Rerata PDW kelompok HD 14,78 ± 2,72 , kelompok Non HD 14,24 ± 2,48 dan rerata MPV kelompok HD 7,90 ±1,50 , kelompok Non HD 8,43 ± 2,05. Perbedaan nilai TC yang signifikan CRF non HD dengan HD (p<0,001) Nilai TC kelompok CRF Non HD lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kelompok CRF dengan HD. Nilai TC menurun sesuai tingkat keparahan CRF. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan nilai TC secara bermakna antara kelompok pasien CRF non HD da dengan HD (p<0,05). Simpulan :Nilai TC berbeda secara bermakna antara kelompok pasien CRF Non HD dengan pasien CRF dengan HD. TC menurun sesuai dengan tingkat keparahan CRF dan dapat digunakan sebagai petanda tingkat keparahan CRF. Kata kunci :Chronic Renal Failure, Hemodialisa, Total Count Thrombocyt, Mean Platelet Volume, Platelet Distribution Width.
Tatalaksana Non Intervensional Pasien Dengan Penyakit Meniere Lidya Sabig; Muyassaroh .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.787 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.350

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo, tinnitus, berkurangnya pendengaran yang bersifat fluktuatif dan perasaan penuh di telinga. Prevanlensi mencapai 0.5-7.5/1000 di Inggris dan Swedia. Tujuan: Untuk melaporkan tatalaksana non intervensional pasien dengan diagnosis penyakit meniere. Laporan kasus: laki-laki berusia 53 tahun dengan diagnosis penyakit meniere, tatalaksana yang dilakukan adalah perbaikan gaya hidup, diet rendah garam, pemberian diuretik  HCT 25 mg/sehari dan latihan gerakan kepala secara bertahap. Evaluasi setelah dua bulan menunjukkan vertigo dan telinga berdenging dirasakan berkurang tetapi keluhan kurang pendengaran menetap. Pembahasan: Penatalaksanaan non-intervensional penyakit Meniere meliputi perubahan gaya hidup, terapi medikamentosa dan rehabilitasi. Tatalaksana intervensional meliputi pembedahan dekompresi kantung endolimfatik, pemotongan saraf vestibular, labirinektomi, endolimfe shunt dan terapi tekanan denyut yang bila pengobatan medikamentosa tidak dapat menanggulangi vertigo. Pada pasien ini, tatalaksana meliputi perubahan gaya hidup meliputi pembatasan konsumsi kopi, diet rendah garam, pemberian diuretik HCT 25 mg/hari dan latihan gerakan kepala secara bertahap. Tindakan pembedahan belum perlu dilakukan karena tinitus dan vertigo berkurang dan terkompensasi dengan vestibular rehabilitation therapy.  Kesimpulan: Penyakit meniere yang dilakukan tatalaksana non intervensional menunjukkan pengurangan keluhan vertigo dan tinitus namun tidak dengan kurang pendengaran.Key word: Tatalaksana non intervensional, intervensional, penyakit meniere

Page 1 of 2 | Total Record : 14