cover
Contact Name
Ahmad Abas Musofa
Contact Email
abas@iainbengkulu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
tsaqofah@iainbengkulu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam
ISSN : 2528732X     EISSN : 26846926     DOI : -
Jurnal kajian kebudayaan Islam yang mencakup tiga wujud yaitu ide, sistem sosial & benda. Sedangkan model kajian sejarah Islam Indonesia dan dunia ialah original history dan reflective history.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2023): JUNI" : 10 Documents clear
JIDOR SENTULAN: SEJARAH, MEDIA DAKWAH, DAN IDENTITAS LOKAL JOMBANG Li'ila Nur Ainiyah; Hendra Afiyanto
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.9622

Abstract

This study seeks to analyze the origins of Jidor Sentulan which was used as a da'wah media and as the identity of the Jombang district. By analyzing Jidor Sentulan in Jombang, can answer the first formulation, what is the history of Jidor Sentulan art in Jombang? Second, how is Jidor Sentulan used as a media of da'wah and how is the procession performed in Jombang? Third, how can the process of Jidor Sentulan become a local identity and what are the analogical characteristics of Jidor Sentulan's art? The historical method is used as an analytical tool which consists of four stages including heuristics, verification, interpretation, and historiography. In the process of collecting data, this study used library research and interview techniques. The findings in this study are, first, the beginning of the existence of Jidor Sentulan in Jombang was brought by one of the followers of the Diponegoro Army, namely mbah Suhadak. Second, Jidor Sentulan is used as a symbol of Islam in marriage and has eight stages of events. Third, Jidor Sentulan is a local identity from Jombang Regency which has an analogical character in its performance. Kajian ini berupaya menganalisis awal mula adanya Jidor Sentulan yang digunakan sebagai media dakwah dan sebagai identitas kabupaten Jombang. Dengan menganalisis Jidor Sentulan di Jombang, maka dapat menjawab rumusan pertama, bagaimana sejarah kesenian Jidor Sentulan di Jombang? Kedua, bagaimana Jidor Sentulan digunakan sebagai media dakwah dan bagaimana prosesi pementasannya di Jombang? Ketiga, bagaimana proses Jidor Sentulan bisa menjadi identitas lokal dan bagaimana karakteristik analogis pada kaesenian Jidor Sentulan? Metode sejarah digunakan sebagai alat analisisnya yang terdiri dari empat fase termasuk heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Teknik pencarian literatur dan wawancara digunakan dalam proses pengumpulan data penelitian ini. Hasil temuan dalam penelitian ini, pertama, awal mula adanya Jidor Sentulan di Jombang dibawa oleh salah satu pengikut dari Laskar Diponegoro yaitu Mbah Suhadak. Kedua, Jidor Sentulan dijadikan sebagai syiar Islam dalam pernikahan dan memiliki delapan tahapan peristiwa. Ketiga, Jidor Sentulan merupakan identitas lokal dari Kabupaten Jombang yang memiliki karakter analogi dalam pementasannya.
Panas Dingin Kehidupan Keberagaman Kawasan Asia Selatan (Dari Masa Dinasti Mughal Hingga Kontemporer) Fikri Surya Pratama; Jupri Jupri
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.6500

Abstract

The South Asian region itself is an area that has a history of people who aren’t free from conflict. This happens because disorganized of the diversity of society consisting of various races and religions. Islam which had triumphed in this region from the 8th century to the 18th century AD was enough to color the cultural life of the people of South Asia. This article aims to explain how the history and development of Muslim societies in South Asian countries from the Mughal Dynasty to the contemporary. The method used in this research is the historical research method, with the steps: 1) Heuristics or collection of sources collected through library research by searching for books, previous research journals and popular news sites that update on the situation of Muslims in the South Asian region; 2) Source Criticism, namely the activity of selecting sources based on their strengths; 3) Interpretation or research analysis stage; 4) historiography or the last stage of this research in the form of historical scientific writings. The results of the study show that countries such as India and Sri Lanka have quite complicated racial issues in their religious communities. Bangladesh, Afghanistan and Pakistan, which are Muslim-majority countries, are confused with their internal and political problems with India. The Maldives is able to become a good Muslim model country in the South Asian region, as well as good tolerance for Bhutan and Nepal which have Muslim minorities.Kawasan Asia Selatan sendiri merupakan wilayah yang memiliki sejarah masyarakat yang tak lepas dari konflik. Hal ini terjadi dikarenakan tidak terorganisir keberagaman masyarakat yang terdiri dari berbagai macam ras dan agama. Islam yang sempat berjaya di kawasan ini sejak abad ke-8  hingga abad ke-18 M cukup mewarnai corak kebudayaan kehidupan masyarakat Asia Selatan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sejarah dan perkembangan masyarakat muslim di negara-negara Asia Selatan dari masa Dinasti Mughal hingga kontemporer. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, dengan langkahnya: 1) Heuristik atau pengumpulan sumber yang dikumpulkan lewat studi pustaka dengan mencari buku-buku, jurnal penelitian terdahulu dan situs berita populer yang update mengenai situasi ummat Muslim di kawasan Asia Selatan; 2) Kritik Sumber yakni kegiatan menyeleksi sumber-sumber berdasarkan kekuatannya; 3) Interpretasi atau tahap analisis penelitian; 4) historiografi atau tahap terakhir penelitian ini berupa karya tulis ilmiah sejarah. Hasil penelitian menujukkan bahwasannya negara-negara seperti India dan Sri Lanka memiliki persoalan rasial yang cukup rumit dalam ummat beragamanya. Bangladesh, Afganistan dan Pakistan tang menjadi negara mayoritas muslim dipusingkan dengan persoalan internal negara dan politik mereka dengan India. Maladewa mampu menjadi negara percontohan muslim yang baik di kawasan Asia Selatan, serta toleransi yang bagus juga pada Bhutan dan Nepal yang memiliki kelompok minoritas muslim.
DINASTI ABBASIYAH: KEMAJUAN PENDIDIKAN ISLAM DAN KONTEKSTUALISASINYA PADA MASA KINI Yazida ichsan
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.4528

Abstract

Berkembangnya zaman maka berkembang pula potensi pada tiap-tiap manusia dalam menjalani kehidpan. Potensi yang dimiliki manusia dapat dimanfaatkan untuk memajukan suatu lembaga pendidikan khususnya pendidikan islam berdasarkan tujuannya. Untuk mencapai tujuan dalam pendidikan Islam harus di dukung oleh faktor-faktor pendukung seperti komponen-komponen pendidikan Islam. Pada saat lahirnya agama Islam, Pendidikan dan pembelajaran Islam itu semakin meluas yang diawali masa Rasulullah, Khulafa’u Ar-Rasyidin hingga meningkat pada masa Daulah Abbasiyah. Dapat kita ketahui bahwa penyebab kemajuan dan keemasan dalam aspek ilmu pengetahuan Daulah Abbasiyah itu karena dilakukannya implementasi kepada Masa Abbasiyah di bidang Pendidikan Islam. Sejarah Islam di era klasik begitu hebatnya menerapkan sistem pendidikannya, sehingga dapat melahirkan para tokoh-tokoh besar yang terkenal akan kepintarannya. Dibutuhkan sebuah perpaduan rancangan pendidikan yang tersedia dengan membuka ulang pikiran kita pada kegiatan pendidikan di masa lampau, dan bagaimana langkah untuk menciptakan pendidikan islam saat ini ke arah pendidikan Islam yang lebih baik. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan secara rinci mengenai implementasi pendidikan Islam masa daulah Abbasiyah sehingga menjadi suatu peradaban kejayaan Islam pada masa kini.
Studi Peradaban Islam Pada Masa Daulah Fathimiyah Indah Syafiqah Lubis
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.9623

Abstract

The controversy raised by the Fathimiyah Daula in the history of Islamic civilization is really interesting to discuss and review. The greatest contribution to Islamic civilization was given by the Fathimiyah dynasty because of Al-Azhar University in Cairo, which is still used and utilized today. Talking about the ideology and understanding held by Daulah is a Shia understanding. Loyalty to Ali bin Abi Talib is the most important topic for the Shiites. This dynasty is known as an extreme dynasty because it contains a lot of blasphemy, fraud and murder. The Fatimid Daulah has three capital cities including Raqadah, al-Mahdiyah and Cairo along with the leadership of 14 caliphs for 262 years maximum in 909 to 1171. So this research is written to discuss the development until the decline of the Fatimid Daulah. How is the history of the Fathimiyah Daula, the development of the Fathimiyah in the political, social, religious, educational, economic fields. The researcher will also review the journey of Daulah Fathimiyah from its heyday to the downfall of Daulah Fathimiyah. Kontroversi yang ditimbulkan oleh Daulah Fathimiyah pada sejarah peradaban Islam sunggu menarik untuk dibahas dan diulas. Sumbangsih teresar dalam peradaban Islam diberikan oleh Dinasti Fathimiyah karena Universitas Al- Azhar Kairo yang sampai saat ini masih digunakan dan dimanfaatkan. Berbicara mengenai ideologi dan pemahaman yang dianut oleh Daulah ini adalah pemahaman syi’ah. Kesetiaan akan Ali bin Abi Thalib adalah topik yang paling penting pada kaum syi’ah. Dinasti ini dikenal dengan dinasti yang ekstrim karena didalamnya banyak penistaan, penipuan juga pembunuhan. Daulah Fatimiyah memiliki tiga ibu kota diantaranya adalah Raqadah, al-Mahdiyah dan Kairo sepanjang pimpinan 14 khalifah selama 262 tahun lamanya tepatnya pada tahun 909 sampai 1171. Maka dari penelitian ini ditulis untuk membahas mengenai kejayaan sampai kemunduran Daulah Fathimiyah. Bagaimana perjalanan sejarah Daulah Fathimiyah, perkembangan bani Fathimiyah dalam bidang politik, social, agama, Pendidikan, ekonomi. Peneliti juga akan mengulas perjalanan Daulah Fathimiyah dari masa kejayaan sampai masa keruntuhan Daulah Fathimiyah.
Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah (Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya) Dewita Sekar Wangi
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.6751

Abstract

The development of the times then develops the potential in each human being in undergoing life. Human potential can be used to advance an educational institution, especially Islamic education based on its purpose. To achieve the objectives in Islamic education must be supported by supporting factors such as components of Islamic education or islamic education system. Since the birth of Islam, Islamic education and teachings were also born. The education and teaching of Islam continued to grow and develop starting from the khulafaur-rasyidin period until the peak of the Abbasid Daulah period. We can know that the cause of progress and success in the field of science daulah abbasiyah was due to the implementation of the Islamic education system at the time of daulah abbasiyah. The history of Islam in classical times so greatly implemented the education system, so that it can give birth to great figures who are famous for their intelligence. It requires a comparison of existing educational concepts by re-enlightening our memories of educational practices that have occurred in the past, as well as efforts to create islamic education today towards a better Islamic education. So the purpose of this writing is to describe in detail about the application of Islamic education daulah abbasid period so that it becomes a civilization of islamic glory in the present. Berkembangnya zaman maka berkembang pula potensi pada tiap-tiap manusia dalam menjalani kehidpan. Potensi yang dimiliki manusia dapat dimanfaatkan untuk memajukan suatu lembaga pendidikan khususnya pendidikan islam berdasarkan tujuannya. Untuk mencapai tujuan dalam pendidikan Islam harus di dukung oleh faktor-faktor pendukung seperti komponen-komponen pendidikan Islam. Pada saat lahirnya agama Islam, Pendidikan dan pembelajaran Islam itu semakin meluas yang diawali masa Rasulullah, Khulafa’u Ar-Rasyidin hingga meningkat pada masa Daulah Abbasiyah. Dapat kita ketahui bahwa penyebab kemajuan dan keemasan dalam aspek ilmu pengetahuan Daulah Abbasiyah itu karena dilakukannya implementasi kepada Masa Abbasiyah di bidang Pendidikan Islam. Sejarah Islam di era klasik begitu hebatnya menerapkan sistem pendidikannya, sehingga dapat melahirkan para tokoh-tokoh besar yang terkenal akan kepintarannya. Dibutuhkan sebuah perpaduan rancangan pendidikan yang tersedia dengan membuka ulang pikiran kita pada kegiatan pendidikan di masa lampau, dan bagaimana langkah untuk menciptakan pendidikan islam saat ini ke arah pendidikan Islam yang lebih baik. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan secara rinci mengenai implementasi pendidikan Islam masa daulah Abbasiyah sehingga menjadi suatu peradaban kejayaan Islam pada masa kini.
Pendidikan Islam Pada Masa Dinasti Saljuk: Madrasah Nizamiyah Azan Rizkian Jaya; M. Nurul Humaidi
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.6348

Abstract

The birth of madrasah as an educational institution in this era can not be separated from the history of the development of madrasah in the past. Before Muslims knew madrasah educational institutions, Muslim educational institutions were still known by the terms suffah, kuttab or maktab and mosque. So that from these educational institutions were born various expert scholars from various fields both in the field of religion and other fields of science. Around the end of the 4th century AH the Saljuk Dynasty was led by Sultan Alp and Malik Syah who had a very famous vizier named Nizam al-Mulk succeeded in establishing the first madrasah educational institution called Madrasah Nizamiyah. Madrasah Nizamiyah is the first Islamic educational institution in the form of a school under the auspices of the government, so that the government has a major stake in its development process. In this discussion, the author focuses on deepening the concept of Madrasah Nizamiyah education under the auspices of the Saljuk Dynasty, as well as the concept of education which is widely referred to in the development of Islamic education in the future.  Lahirnya madrasah sebagai lembaga pendidikan pada era ini tidak bisa lepas dari sejarah berkembangnya madrasah pada masa lampau. Sebelum umat Islam mengenal lembaga pendidikan madrasah, lembaga pendidikan umat Islam masih dikenal dengan istilah suffah, kuttab atau maktab serta masjid. Sehingga dari lembaga pendidikan tersebut lahirlah berbagai ulama-ulama ahli dari berbagai macam bidang baik dalam bidang keagamaan maupun bidang ilmu lainnya. Pada sekitar akhir abad ke-4  hijriah Dinasti Saljuk dipimpin oleh Sultan Alp dan Malik Syah yang memiliki wazir yang sangat masyhur yang bernama Nizam al-Mulk berhasil mendirikan institusi pendidikan madrasah pertama yang bernama Madrasah Nizamiyah. Madrasah Nizamiyah meruakan institusi pendidikan Islam pertama yang berbentuk sekolah dibawah naungan pemerintahan, sehingga pemerintah memiliki andil besar dalam proses perkembangannya. Dalam pembahasan ini penulis fokus mendalami konsep pendidikan Madrasah Nizamiyah dibawah naungan pemerintahan Dinasti Saljuk, serta konsep pendidikannya yang banyak dirujuk dalam perkembangan pendidikan Islam pada masa berikutnya.  
KYAI MUSTAQIM DAN EKSISTENSI TAREKAT SYADZILIYAH SEBAGAI MEDIA DAKWAH TAHUN 1936 FAIQOTUR ROHMAH; Hendra Afiyanto
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.6950

Abstract

This Research aims to study about the existence of Tarekat Syadziliyah in Tulungagung at the beganing and its development. From the main Problem its can be able to answer how about are the doctrine and practice of Tarekat Syadziliyah that taugh by Kyai Mustaqim? How was the role of Tarekat Syadziliyah in Islamic education Tulungagung? So, how does Kyai Mustaqim’s da’wah influence his studens? The metodologhy used is a historical research method consisting of four stages that is Heuristic (Source collection), verification (Source Critique), Interpretation and historiography. There are 3 findings from this study, first that Tarekat Syadziliyah taugh by Kyai Mustaqim has a rituals and own way in guiding studens for following tarekat. Second, the easily  and relevant doctrine with everyday life attracting the people of Tulungagung for learning Tarekat Syadziliyah to Kyai Mustaqim. Third, faith education, spiritual, morals and Social behavior is somethings priority in his doctrine. The influence that felt by Kyai Mustaqim’s students like more spirit, felt calmly, patient, tawakal, Istiqomah in worship and really respect to the teacher.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi Tarekat Syadziliyah di Tulungagung di awal masuk dan perkembangannya. Dari permasalahan utama tersebut nantinya dapat menjawab terkait bagaiamana ajaran dan amalan Tarekat Syadziliyah yang diajarkan Kyai Mustaqim? Bagaimana peran Tarekat Syadziliyah dalam pendidikan Islam di Tuluanggagung? Hingga bagaimana pengaruh dakwah Kyai Mustaqim kepada para muridnya? Metode sejarah digunakan sebagai alat analisisnya, terdiri dari empat tahapan yakni heuristic (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan historiografi. Ada 3 temuan dari penelitian ini, pertama bahwa Tarekat Syadziliyah yang diajarkan Kyai Mustaqim memiliki ritual dan cara tersendiri dalam menuntun muridnya untuk mengikuti tarekat. Kedua, ajaran yang tidak terlalu rumit dan relevan dengan kehidupan sehari-hari memikat masyarakat Tulungagung untuk mempelajari Tarekat Syadziliyah kepada Kyai Mustaqim. Ketiga, pendidikan keimanan, spiritual, akhlaq dan perilaku social adalah hal yang diutamakan dalam ajarannya. Pengaruh yang dirasakan oleh murid-murid Kyai Mustaqim seperti lebih bersemangat, merasa tenang, sabar, tawakal, istiqomah dalam beribadah dan tentunya sangat menghormati guru.
Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad dalam Pandangan Orientalis dan Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.5623

Abstract

This article was directed to compare the results of the study on the Isra Miraj event of Prophet Muhammad. This was based on the orientalist view from Germany, Annemarie Schimmels book entitled Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety, and Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam book by Muhammad Abdul Malik bin Hisham. By using the descriptive-narrative method and comparative study, this article proved that the two books shad many similarities in explaining the series of Prophet Muhammad’s journey to the sky from beginning to end. However, it had differences in the source of writing, the material presented, and the focus of the discussion. In general, the first book excelled in terms of material and discussion, which was more varied because the sources used were very diverse. This was in contrast to the second book, which lacked sources, but the explanation was more systematic and directed. On the other hand, the orientalist’s book was able to provide a broad assessment and description of the Isra Miraj with critical reasoning as an academic. Meanwhile, the book written by Ibnu Hisham only focused on explanations about the science of monotheism that Muslims must believe, without inviting readers to think further in relation to contemporary phenomena. Artikel ini diarahkan untuk membandingkan hasil penelitian mengenai peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad, menurut pandangan dari seorang orientalis asal Jerman, Annemarie Schimmel, dalam bukunya berjudul And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety, dengan buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, karya dari Muhammad Abdul Malik bin Hisyam. Dengan metode deskriptif-naratif dan jenis penelitian studi komparatif, artikel ini membuktikan bahwa kedua buku tersebut memiliki banyak persamaan dalam menjelaskan rangkaian perjalanan Nabi Muhammad ke langit dari awal sampai akhir, hanya saja memiliki perbedaan pada sumber penulisan, materi yang disampaikan, dan fokus pembahasannya. Secara umum, buku pertama unggul dari segi materi dan pembahasannya yang lebih bervariasi, karena sumber yang digunakan sangat beragam, bertolak belakang dengan buku kedua yang minim sumber, namun penjelasannya lebih sistematis dan terarah. Di sisi lain, buku karya Orientalis tersebut, mampu memberi penilaian dan gambaran yang luas tentang peristiwa Isra Mikraj dengan nalar kritis sebagai seorang akademisi, sedangkan buku yang ditulis Ibnu Hisyam hanya berkutat pada penjelasan seputar ilmu tauhid yang wajib diyakini oleh umat Islam, tanpa mengajak pembaca untuk berpikir lebih jauh kaitannya dengan fenomena masa kini.
Urgensi Pelestarian Aksara Pegon sebagai Bentuk Peninggalan Budaya Sunan Ampel Munawir Munawir; Muqouwi Matul Adilah; Refi Mariska Anggraini
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.8009

Abstract

Walisongo is known for the figures who spread Islam in Indonesia, especially on the island of Java, with a variety of unique ways of conveying their da'wah. One of them is Sunan Ampel whose real name is Sayid Ali Rahmatullah, he has a unique way of spreading Islam through writing the Pegon script. The writing does have a connection with the history of the development of Islam in Indonesia, especially the Pegon script under Sunan Ampel in Java. Where the pegon script was widely used by scholars in the past in making a work. Pegon script is able to protect these works from change. This Pegon script does have its own uniqueness because the form of writing is like Arabic writing, but actually the rules deviate from Arabic and Javanese. Through the spread of Islam by Sunan Ampel on the island of Java, finally the Pegon script was very popular in various circles, even as a form of acculturation of Islamic culture with Java. At present, the preservation of the Pegon script is mostly taught by pesantren through the yellow book. Whereas the preservation of pegon as an Islamic culture should not only be the task of the Islamic boarding school. Therefore, this study relates to the importance of preserving the Pegon script, as a form of preserving Islamic culture in Indonesia which has become a historical symbol of the entry of Islam on the island of Java. Walisongo dikenal dengan para tokoh yang menyebarkan agama islam di Indonesia terutama di pulau jawa dengan beragam cara yang unik dalam menyampaikan dakwahnya. Salah satunya yakni Sunan Ampel yang memiliki nama asli Sayid Ali Rahmatullah, beliau memiliki cara yang unik dalam menyebarkan islam melalui tulisan aksara pegon. Tulisan memang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Indonesia, khususnya aksara pegon yang dibawah oleh Sunan Ampel di tanah Jawa. Dimana aksara pegon banyak digunakan oleh ulama pada masa dahulu dalam membuat sebuah karya. Aksara pegon mampu membuat karya-karya tersebut terjaga dari perubahan. Aksara pegon ini memang memiliki keunikan tersendiri sebab bentuk tulisannya seperti tulisan Arab namun sebenarnya kaidahnya menyimpang dari bahasa Arab dan juga bahasa jawa. Melalui penyebaran agama islam oleh Sunan Ampel di pulau Jawa akhirnya aksara pegon sangat populer di berbagai kalangan bahkan sebagai wujud dari akulturasi budaya islam dengan Jawa. Pada masa sekarang, pelestarian aksara pegon kebanyakan diajarkan oleh pesantren melalui kitab kuning. Padahal seharusnya pelestarian pegon sebagai budaya islam bukan hanya tugas dari pondok pesantren saja. Oleh karena itu, penelitian ini berkaitan dengan pentingnya melestarikan aksara pegon, sebagai wujud pelestarian budaya islam di Indonesia yang menjadi simbol sejarah masuknya islam di pulau Jawa.
Kyai Modjo dan Pengaruhnya Terhadap Asimilasi Budaya Religius Jawa dan Minahasa pada Masyarakat Kampung Jawa Tondano Dahlia Haliah Ma'u; Rosdalina Bukido
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.10511

Abstract

This article describes the role of Kyai Modjo (1792-1849), a prominent figure and scholar from Surakarta who was exiled by the Dutch, colonizer in Javanese area in Tondano Minahasa (North Sulawesi). As the first islamic preacher in Minahasa, he became a role model and thus he and his followers gained Minahasa public sympathy that led the people to take shahadah. Further, intermarriage between indigenous people of Minahasa and Kyai Modjo’s followers caused assimilation of Javanese-Minahasa culture which was reflected in tradition of wedding ceremony, funeral procession, birth ritual, and lebaran ketupat ceremony.    Artikel ini mendeskripsikan tentang peran Kyai Modjo (1792-1849), seorang tokoh sekaligus ulama yang diasingkan oleh penjajah Belanda dari Surakarta ke daerah Jawa Tondano Minahasa (Sulawesi Utara). Sebagai penyiar Islam pertama di Minahasa serta keteladanan yang dimilikinya, ia dan pengikutnya mampu menarik simpatik masyarakat Minahasa untuk mengakui keesaan Allah Swt. Disamping itu, karena terjadinya kawin-mawin antara pengikut Kyai Modjo dan masyarakat setempat, berimplikasi pada budaya religius Jawa ke dalam budaya Minahasa. Asimilasi budaya Jawa dan Minahasa dapat terlihat pada tradisi perkawinan, kelahiran, kematian, ziarah, dan lebaran ketupat.

Page 1 of 1 | Total Record : 10