cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Search results for , issue "2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 85 Documents clear
INTEGRATED DEWATERING SYSTEM (IDS) A, Lesti Herawati; A, Rolando
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.112

Abstract

ABSTRAK Dalam bisnis proses penambangan batubara dengan metode penambangan Open Pit Mining, dewatering menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan operasional penambangan. Oleh karena itu proses perencanaan, eksekusi, monitoring dan evaluasi dewatering wajib dilaksanakan dengan baik. Sebagai salah satu aktivitas kritikal, dewatering memerlukan proses monitoring yang baik untuk mencapai Excellence Dewatering dan cost dewatering yang efisien. Terlebih di era digital seperti saat ini, proses monitoring dewatering yang real time, cepat, akurat, komprehensif dan terintegrasi mutlak diperlukan. Digitalisasi monitoring dewatering dengan “Integrated Dewatering System” (IDS) menjadi solusi atas challenge untuk monitoring dewatering yang excellence.  Integrated Dewatering System (IDS) : Suatu sistem Dewatering yang terintegrasi dalam pengumpulan, pengolahan penyajian data secara real time sehingga dapat digunakan sebagai dasar analisa pengambilan keputusan yang cepat tepat guna  mewujudkan tambang No Flood  dengan Cost Dewatering yang efisien. Cakupan area monitoring IDS meliputi : curah hujan, sump, pompa. Hardware IDS yaitu  : Weather Station alat untuk mengukur curah hujan, durasi hujan, frekuensi hujan secara real time; 2)  Automatic Flowmeter alat untuk mengukur debit pompa secara otomatis dan real time; 3)  Automatic Water Level alat untuk mengukur elevasi sump (area tampungan air di pit), sehingga elevasi sump dapat dimonitor secara real time. Secara umum proses monitoring Dewatering dengan IDS adalah sebagai berikut : weather station mengukur curah hujan (mm), durasi hujan (menit), frekuensi hujan, data curah hujan kemudian dilakukan proses perhitungan untuk menghitung volume run off yang masuk ke tambang, air yang masuk ke dalam sump secara berkesinambungan dipompa, debit pemompaan diukur dengan menggunakan automatic flowmeter, selanjutnya automatic water level mengukur elevasi sump, kemudian  sistem akan mengolah data-data output dalam software IDS yang kemudian menyampaikan Alert melalui media mobile phone informasi status sump sebagai Early Warning untuk memberikan “guidance corrective action” terhadap kondisi dewatering yang terjadi. Manfaat dari IDS yaitu : 1) Proses monitoring curah hujan, debit pompa dan elevasi air lebih cepat, mudah; 2) Data monitoring Dewatering akurat dan terintegrasi; 3) Memberikan Early Warning terhadap status sump sehingga corrective action yang tepat dan cepat dapat segera dilaksanakan; 4) Mencegah tambang Flood dengan corrective action yang cepat, 5) Meningkatkan aspek Safety karena high risk activity berkurang; 6) Cost dewatering efisien dengan operasional pompa (debit, Rotary Per Minutes, Utilization  Availability)  yang optimum. Kata kunci : IDS, weather station, automatic flowmeter, automatic water level  ABSTRACT In the business of coal mining using the Open Pit Mining method, dewatering is one of the keys to the success of mining operations. Therefore the process of planning, execution, monitoring and evaluation of dewatering must be carried out properly. As one of the critical activities, dewatering requires a good monitoring process to achieve Excellence Dewatering and cost-efficient dewatering. Especially in the digital era as it is today, real-time, fast, accurate, comprehensive and integrated dewatering monitoring process is absolutely necessary. The digitization of dewatering monitoring with the "Integrated Dewatering System" (IDS) is the solution to the challenge for excellence dewatering monitoring. Integrated Dewatering System (IDS): A Dewatering system that is integrated in the collection, processing presentation of data in real time so that it can be used as a basis for analysis decision making that is fast precise in order to realize the No Flood mine with an efficient Cost Dewatering. The scope of the IDS monitoring area includes: rainfall, sumps, pumps. IDS hardware namely: 1) Weather Station tool to measure rainfall, duration of rain, frequency of rain in a Manner real time; 2) Automatic Flowmeter tool to measure pump flow automatically and in real time; 3) Automatic Water Level tool to measure the elevation of the sump (water catchment area  in the pit), so that the sump elevation can be monitored in real time. In general the Dewatering monitoring process with IDS is as follows: weather station measures rainfall (mm), duration of rain (minutes), frequency of rainfall, rainfall data then the calculation process is carried out to calculate the volume of run-off entering the mine, water entering in a sump continuously pumped, pumping discharge is measured using automatic flowmeter, then automatic water level measures the elevation of the sump, then the system will process the output data in the IDS software which then conveys the "Alert" through the mobile phone media sump status information as an Early Warning for provide "guidance corrective action" for conditions of dewatering that occur. Benefits of IDS are: 1) The process of monitoring rainfall, pump discharge and water elevation is faster, easier; 2) Dewatering monitoring data is accurate and integrated; 3) Give an Early Warning on the status of the sump so that corrective action is appropriate and quickly can be implemented immediately; 4) Prevent Flood mining with fast corrective action; 5) Improve the Safety aspect because of the reduced high risk activity; 6) Cost-efficient dewatering with pump operations (discharge, Rotary Per Minutes,Utilization Availability) is optimum.  Keywords: IDS, weather station, automatic flow meter, automatic water level  
IMPLEMENTASI UNDANG – UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 PADA PENGAWASAN PENAATAN PERIZINAN LINGKUNGAN HIDUP DI SALAH SATU PERUSAHAAN TAMBANG BIJIH NIKEL DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Trihatmanto, Hasbi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.128

Abstract

ABSTRAKRuang lingkup pengawasan perizinan lingkungan hidup dilakukan dengan kegiatan 1) Pemeriksaan terhadap dokumen lingkungan hidup dan perizinan yang terkait, 2) Pemeriksaan terhadap fasilitas pengendalian pencemaran air, 3) Pemeriksaan terhadap fasilitas pengendalian pencemaran udara emisi dan ambien, 4) Pemeriksaan terhadap pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,  5) Pemeriksaan terhadap pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, 6) Pemeriksaan pengelolaan limbah padat Non B3 dan/atau sampah domestik. Tahapan kegiatan penambangan bijih nikel laterit yang dilakukan di salah satu perusahaan di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara antara lain 1) Tahap perencanaan, 2) Land clearing, 3) Pengupasan over burden, 4) Ore getting, 5) Pembuatan cone produksi. Proses penambangan akan menghasilkan produksi bijih nikel. Bijih nikel dari tambang berupa raw nikel diangkut dengan menggunakan Dump Truck dengan kapasitas 20 mt. Pengangkutan bahan galian menggunakan Dump Truck menempuh jarak hauling 17 km dari tambang sampai ke EFO (Exportable Final Ore), penumpukan di EFO dengan system dome yang dikelompokkan sesuai kadar atau level kualitas bahan galian. Material raw nikel yang terkumpulkan di EFO kemudian dimuat ke tongkang yang disesuaikan dengan market permintaan domestik kasaran Ni 1,80 – 1,95% dengan rata – rata tonase pengapalan lokal 6.000 – 7.500 mt. Sedangkan untuk pasar ekspor kisaran Ni 1,7% dengan rata – rata tonase pengapalan ekspor 50.000 mt. Pada pengawasan yang dilakukan perbandingan antara dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dengan hasil pelaporan RPL dan hasil temuan lapangan perusahaan telah melanggar Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pasal 20 ayat (3) huruf b, Pasal 67, Pasal 68 huruf c, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air pada Pasal 34 ayat (2) dan (3), Pasal 37, Pasal 40 ayat (2), Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara pada Pasal 21 huruf a dan b, Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada Pasal 12 ayat (1), Pasal 25 ayat (1) huruf b, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2013 tentang Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada Pasal 2 ayat (5) dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Nomor 06 tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan bijih Nikel Pasal 8, ayat (1) dan ayat (2). Berdasarkan analisis yuridis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan tambang bijih nikel tersebut Tidak Taat.Kata Kunci :  Bijih Nikel, Lingkungan Hidup, Pengawasan, Peraturan, Perizinan. ABSTRACTThe scope of environmental licensing supervision is carried out with activities 1) Inspection of environmental documents and related permits, 2) Reports of water pollution control facilities, 3) Reports of emission and ambient air pollution control facilities, 4) Reports of the management of Hazardous Substances and Toxic, 5) Inspection of the management of Hazardous and Toxic Waste, 6) Inspection of management of Non toxic and dangerous material solid waste and/or domestic waste. Stages of laterite nickel ore mining activities carried out in one company in Konawe Selatan Regency, Southeast Sulawesi Province include 1) Planning phase, 2) Land clearing, 3) Over-load stripping,  4) Ore getting, 5) Production of cone production. The mining process will produce nickel ore production. Nickel ore from mines in the form of nickel raw is transported using a Dump Truck with a capacity of 20 mt. Transportation of mining materials using a Dump Truck takes a hauling distance of 17 km from the mine to the EFO (Exportable Final Ore), stacking on EFO with a dome system that is grouped according to the level or quality level of minerals. The nickel raw material collected at EFO is then loaded onto a barge which is adjusted to the domestic market demand of Ni 1.80 - 1.95% with an average local shipping tonnage of 6,000 - 7,500 mt. As for the export market, the range of Ni 1.7% with an average shipping tonnage of 50,000 mt. In monitoring conducted a comparison between Environmental Monitoring Plan (EMP) documents with EMP reporting results and company field findings has violated Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management in Article 20 paragraph (3) letter b, Article 67, Article 68 letter c, Government Regulation Number 82 of 2001 concerning Management of Water Quality and Water Pollution Control in Article 34 paragraphs (2) and (3), Article 37, Article 40 paragraph (2), Government Regulation Number 41 of 1999 concerning Pollution Control Air in Article 21 letters a and b, Government Regulation Number 101 of 2014 concerning Management of Hazardous and Toxic Waste in Article 12 paragraph (1), Article 25 paragraph (1) letter b, Minister of the Environment Regulation Number 14 of 2013 concerning Symbols and Label of Hazardous and Toxic Waste in Article 2 paragraph (5) and Minister of the Environment Regulation Number 06 of 2006 concerning Wastewater Quality Standards for Businesses and/or Mining Activities for Nickel Ore Article 8 paragraph (1) and paragraph (2).. Based on the juridical analysis that has been done, it can be concluded that the nickel ore mining company is Not Obedient.Keywords: Nickel Ore, Environment, Supervision, Regulation, Licensing.
K2 SHAFT WATER RING INSTALLATION AT KENCANA UNDERGROUND PT NUSA HALMAHERA MINERAL Samad, Abdi Wahyudi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.46

Abstract

ABSTRAK Kencana 2 (K2) Shaft sebagai salah satu jalur lubang terbuka vertikal pada fasilitas Kencana UG PTNHM terdapat rembesan air 8 l/s melalui kontak sambungan (cold joint) antara dinding concrete shaft pada beberapa level. Air tersebut membasahi jalur winder cage dan tali pengaman dari winder shaft dan berakibat masalah korosif menyebabkan terganggu jalur evakuasi yang berpotensi terjadi gangguan produksi jika tidak di atasi. Pengusulan pemasangan talang air khusus pada dinding shaft terhubung langsung pada pipa services DN150 yang terpasang sepanjang 284m menuruni dinding shaft. Talang air khusus ini terbuat dari material galvanis yang kuat dan tahan lama. Pipa services DN150 terhubung langsung menuju stasiun #3 pompa KL. Dari hasil pengamatan setelah terpasang talang air khusus ini, tidak terjadi lagi rembesan air yang masuk kedalam ruangan winder cage dan tali winder, serta kondisi rembesan air pada dinding shaft telah dialirkan menuju stasiun pompa KL sehingga area K2 shaft menjadi kering Kata Kunci: Modifikasi Shaft Winder Platform, Pemasangan Talang Air Khusus.  ABSTRACT The Kencana 2 (K2) Shaft as a vertical open hole UG facility at Kencana UG PTNHM has approximately 8 l/s inflow of water leaking through the cold joints in the concrete liner at various locations. This water saturates the winder cage room and the guide ropes in the winder of shaft and has caused corrosion issues causing the escape route to be compromised leading to a production loss if not take prevention action. It was proposed to install a prefabricated moulded water ring on the wall of the shaft to direct water to a DN150 services steel pipe line that runs down to a 284m depth down of the shaft wall. This water ring using galvanised material and it is tough and durable. The services pipe DN150 would then be piped away from bottom of the K2 shaft to a nearby KL pump station #3. From observation result after water ring installed that there was no water rain into winder cage and rope, and it also the dripping down of the water along the shaft concrete wall was divert throught to the KL pump station so that the K2 shaft area was getting dry.  Key Word: Modification Shaft Winder Platform, Water Ring Installation.
OPTIMALISASI MANAGEMENT BATTERY DRONE UNTUK MENINGKATKAN EFFISIENSI WAKTU TERBANG DAN PRODUKTIFITAS LUASAN IN-PIT MAPPING MENGGUNAKAN PENDEKATAN GEOMATIKA DRONE DJI PHANTOM 4 RTK DALAM KONSESI PT ARUTMIN INDONESIA Putrasakti, Sigit
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.63

Abstract

ABSTRAK Era industri 4.0 saat ini sedang berkembang dengan pesat, hampir semua bidang industri memerlukan dan tersentuh oleh DNA utama dari era industri 4.0, yaitu automasi proses yang lebih cepat. Demikian juga dengan industri pertambangan. Pengelolaan industri pertambangan khususnya tambang batubara juga tidak luput dari praktek-praktek automasi cerdas khas industry 4.0. Salah satu terapan yang dilakukan PT Arutmin Indonesia adalah penggunaan Drone RTK (DJI Phantom 4 RTK) dalam proses in-pit mapping. Output yang akan diharapkan dari in-pit mapping menggunkan drone ini antara lain orthophoto dan kontur topografi yang bisa dimanfaatkan untuk analisis atau pekerjaan selanjutnya. Akan tetapi kendala yang dihadapi pada saat melakukan in-pit mapping menggunakan drone ini adalah keterbatasan kemampuan battery sehingga waktu terbang dan luasan yang dihasilkan dalam pemanfaatan kapasitas battery drone perlu direncanakan dengan baik. Maka diperlukan beberapa usaha yang mampu mengoptimalkan penggunaan drone dalam in-pit mapping. Beberapa titik kritis yang dapat dioptimalkan kaitannya dengan management battery drone, antaranya:Set ketinggian terbangKecepatan terbangOverlaping fotoKetiga praktek optimalisasi penggunaan drone tersebut mampu memaksimalkan penggunaan drone agar lebih efisiensi yaitu lama waktu terbang dan produktifitas luasan area tercapture yang meningkat, maupun memberikan rasa nyaman pilot drone dari kekhawatiran drone terjatuh. Optimalisasi ini dilakukan tentu dengan tidak meninggalkan kualitas hasil pekerjaan in-pit mapping menggunakan pendekatan geomatika drone DJI Phantom 4 RTK. Optimalisasi hal-hal tersebut di atas juga dapat dilakukan secara cepat dan praktis di lapangan, sehingga pilot drone yang sudah mengetahui typical area terbang tentu diharapkan bisa lebih baik dalam melakukan persiapan rencana terbang hingga memberikan hasil yang benar-benar maksimal. Kata kunci: in-pit mapping, geomatika, optimalisasi drone   ABSTRACT The 4.0 industrial era is currently developing rapidly, almost all fields of industry require and are touched by the main DNA of the 4.0 industrial era, which is faster automation process. Likewise with the mining industry. The management of the mining industry, especially coal mines, is also not immune from 4.0 industry-specific intelligent automation practices. One of the applications made by PT Arutmin Indonesia is the use of RTK Drones (DJI Phantom 4 RTK) in the in-pit mapping process. The output expected from in-pit mapping using this drone includes orthophoto and topographic contours which can be used for further analysis or work. However, the obstacle faced when conducting in-pit mapping using this drone is the limited ability of the battery so that the flying time and the area generated in the utilization of the battery drone capacity need to be planned properly. Then some efforts are needed to optimize the use of drones in in-pit mapping. Some critical points that can be optimized in relation to battery drone management including: 1.      Fly altitude set 2.      Flying speed 3.      Foto overlapping The three practice points of optimizing the use of drones are able to maximize the use of drones to be more efficient, namely the length of time to fly and the increased productivity of the captured area, as well as providing a sense of comfort for drone pilots from fears of falling drones. This optimization is done by certainly not leaving the quality of the results of the in-pit mapping work using the DJI Phantom 4 RTK drone geomatics approach. Optimization of the things mentioned above can also be done quickly and practically in the field, so that drone pilots who already knew the typical flying area are certainly expected to be better in making flight plan preparations to provide truly maximum results. Keywords: in-pit mapping, geomatics, drone optimization
PENGGUNAAN EXPLOSIVE LOW DENSITY PADA PELEDAKAN AREA DI BAWAH RADIUS AMAN MANUSIA DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITY ALAT GALI DI AREA TERSEBUT PADA PENAMBANGAN BLOK B1 PIT C2 SAMBARATA MINE OPERATION PT BERAU COAL Sutami Sitorus; Elfizar Diando
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.75

Abstract

ABSTRAK Pit C2, merupakan salah satu blok penambangan Site Sambarata Mine Operation yaitu masuk ke dalam blok B1. Merupakan pit aktif hingga sekarang dimana penambangan dari 2018 hingga akhir 2019 telah mengarah ke pemukiman hingga boundary pit (2019) berjarak 200 m ke pemukiman terdekat dan area tersebut penambangan menggunakan peledakan.Volume overburden pada area tersebut yang termasuk zona dibawah 500 m jarak aman peledakan adalah 1.340.281 bcm dan coal sebesar 175.237 ton dengan SR 7,65. Telah diterapkan beberapa taknik peledakan pada area tersebut ,yaitu salah satunya dengan sistem peledakan elektronik detonator dengan berbagai improvmentnya diantaranya : pola segementasi, segmentasi bufferzone, electronic detonator with air decking dan penggunaan matrial stemming full gravel. Kendala yang timbul adalah masalah efek peledakan yaitu vibrasi dan fly rock dengan jarak tersebut serta pembentukan bench height yang tidak maksimal karena adanya limit kedalaman lubang maksimal 5 m di area 500-300 m dari pemukiman, sehingga produktivity unit (PC 2000) tidak maksimal dan menimbulkan blasting cost yang tinggi. Penggunaan Explosives Low Density (0,7-0,8 gr/cc), di area 500 m dari pemukiman bisa menambah kedalaman lubang bor hingga kedalaman 7 m, sehingga menambah volume peledakan tanpa mengubah parameter peledakan sebelumnya yaitu : pattern peledakan, charging weight dan penggunaan sistem elektronik detonator dan juga bisa menggunakan sistem peledakan nonel. Dengan explosive low density pengingkatan column raise lubang ledak menjadi 1,3 m. Dari data digging time unit loader (PC 2000), mampu mencapai 9,9 detik dari target maksimal 11 detik, produktivity di atas 700 bcm/jam dan vibration effect yang dihasilkan masih di bawah 2,2 mm/sec (PVS) yang menjadi patokan site. Sehingga penggunaan explosive low explosive ini bisa mempercepat sekuen penambangan di pit C2 sesuai dengan boundary disain 2019 Kata kunci : Low density,Ground vibration, fly rock , productivity  ABSTRACT Pit C2, is one of the Mining Samntbarata Mine Operation mining blocks, which is included in Block B1. It is an active pit up to now where mining from 2018 to the end of 2019 has led to settlements to the boundary pit (2019) within 200 m to the nearest settlement and the area is mining using blasting. Overburden volume in the area which includes zones below 500 m safe blasting distance is 1,340,281 bcm and coal of 175,237 tons with SR of 7.65. Several blasting techniques have been applied in this area, one of which is an electronic detonator blasting system with various improvements including: Segmentation pattern, buffer zone segmentation, electronic detonator with air decking and the use of full gravel matrial stemming. The obstacle that arises is the problem of blasting effects namely vibration and fly rock with that distance and the formation of bench height that is not optimal because of the maximum hole depth of 5 m in the area of 500-300 m from the settlement, so the productivity unit (PC 2000) is not optimal and causes high blasting cost. The use of Explosives Low Density (0.7-0.8 gr / cc), in the 500 m area of the settlement can increase the depth of the drill hole to a depth of 7 m, thus increasing the volume of blasting without changing the previous blasting parameters namely: blasting pattern, charging weight and the use of an electronic detonator system and can also use a nonel blasting system. With explosive low density the column raising the explosive hole to 1.3 m. From the digging time unit loader data (PC 2000), it can reach 9.9 seconds from the maximum target of 11 seconds, productivity above 700 bcm / hour and the resulting vibration effect is still below 2.2 mm / sec (PVS) which is the benchmark site . So that the use of low explosive explosives can accelerate the mining sequence in pit C2 in accordance with the 2019 design boundary. Kata kunci : Low density,Ground vibration, fly rock , productivity
PENGGUNAN REGRESI LINEAR UNTUK MENGETAHUI VARIABEL PENGARUH PADA KEKUATAN LERENG HIGHWALL PIT ALFA – PT ARUTMIN INDONESIA TAMBANG KINTAP Aryoseno Aryoseno; Prima Laksana; Steffani Kurnia Viona
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.91

Abstract

ABSTRAKPenambangan di area blok 73-76 Pit Alfa, PT Arutmin Indonesia - Tambang Kintap belum memasuki fase final (mined out). Area ini saat ini terendam oleh air sehingga belum bisa dilakukan operasi lanjutan di area tersebut. Untuk melanjutkan penambangan di area tersebut, dibutuhkan suatu penilaian Faktor Keamanan (FK) dari lereng tambang. Metode statistika berupa regresi linier sederhana digunakan untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap kekuatan lereng. Regresi linier sederhana adalah Metode Statistik yang berfungsi untuk menguji sejauh mana hubungan sebab akibat antara Variabel Faktor Penyebab terhadap Variabel Akibatnya,. Terdapat tiga variabel yang terlibat dalam penilaian FK ini yaitu elevasi muka air tanah (MAT) yang didapat dari pengamatan berkala dari lubang piezometer yang ada, variabel kedua adalah elevasi air yang menutupi sump / daerah yang akan di-progress serta variabel selanjutnya adalah ketinggian lereng (highwall) tambang. Selanjutnya ketiga variabel tersebut digambarkan dalam persamaan FK= Ax (elevasi MAT) + By (elevasi sump) + Cz (ketinggian lereng) + K dengan hipotesa awal (Ho) variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat dan hipotesa akhir (H1) berupa variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikat. Dari hasil analisis didapatkan persamaan regresi FK = -0.0089x + 0.0059y + (-) 0.026z + 2.2314 dimana didapatkan variabel utama yang paling berpengaruh terhadap perubahan FK adalah ketinggian lereng. Untuk hasil permodelan lereng dari awal periode penelitian (minggu pertama April 2019) hingga akhir penelitian (minggu ke empat belas atau meinggu kedua Juli 2019), didapatkan trend nilai FK yang cenderung menurun (FK 1.51 – FK 1.22) dimana hal ini disebabkan karena bekerjanya variabel beda tinggi lereng (nilai beda ketinggian semakin besar seiring dengan penurunan level tambang). Kata Kunci : Variabel Pengaruh, Regresi Linier, Faktor Keamanan
PERANAN BAHAN/SISA ORGANIK LAIN SEBAGAI PENGGANTI TOP SOIL TEHADAP KEBERHASILAN REKLAMASI/REVEGETASI DI WILAYAH BEKAS TAMBANG BAUKSIT PT ANTAM Tbk UBP BAUKSIT KALIMANTAN BARAT1 Umar Bahidin
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.107

Abstract

ABSTRAK Top Soil masih memegang peranan penting untuk menunjang keberhasilan kegiatan reklamasi/revegetasi pada areal bekas tambang, khususnya pertambangan terbuka (open pit/cast). Lapisan/layer top soil yang relatif tipis/sedikit membuat kegiatan reklamasi/revegetasi menjadi tidak maksimal. Diperlukan bahan/sisa organik lain sebagai alternatif untuk menggantikan fungsi/peran top soil untuk memperbesar persentasi keberhasilan kegiatan reklamasi/revegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran dari bahan/sisa organik lain untuk membantu memperbaiki kualitas lahan di areal bekas tambang bauksit. Penelitian dilakukan dari mulai dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019, di areal reklamasi PT ANTAM Tbk UBP Bauksit, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah pembuatan dem plot ukuran 20m x 6m dengan  kolom 1 (satu) sebagai kontrol (areal tanah asli/bekas tambang),  kolom 2 (dua) untuk TKKS, Kolom 3(tiga) dengan Serasah, serta Kolom 4 (empat) dengan top soil. Keempat kolom tersebut untuk melihat sejauhmana tingkat pertumbuhan tanaman pokok (jambu hutan dan Jambu mete) dan Legume Cover Crop (LCC) dengan menggunakan perlakuan tersebut. Analisa sifat fisik kimia tanah juga dilakukan untuk mengetahui kandungan dari tiap-tiap bahan/sisa organik lain yang kemudian dibandingkan dengan top soil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan/sisa organik lain dapat memberikan konstribusi positif pada areal reklamasi/revegetasi, dengan meningkatkan percepatan pertumbuhan cover crop dan tanaman pokok. Hasil penelitian juga saat ini sudah diaplikasikan untuk kegiatan reklamasi/revegetasi PT ANTAM Tbk UBP Bauksit mulai dari tahun 2018 sampai dengan saat ini. Kata kunci : Top Soil, bahan/sisa organik lain, bekas tambang bauksit, open pit/cast, reklamasi, revegetasi, Jambu Hutan, Jambu Mete, LCC.   ABSTRACT Top Soil still plays an important role to support the success of reclamation/revegetation activities in mine out areas, especially open pitcast mining. Top soil layers that are relatively thins/lightly make reclamation/revegetation activities not optimal. Other organic materials/waste is needed as an alternative to replace the function/role of top soil to increase the percentage of successful reclamation/revegetation activities. This study aims to determine the extent of the role of other organic materialswaste to help improve the quality of land mine out areas. The study was conducted from 2017 to 2019, in the reclamation area of PT ANTAM Tbk UBP Bauksit, Tayan Hilir District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. The method used is making a demonstration plot of 20m x 6m size with column 1 (one) as a control (original / mine out area), column 2 (two) for TKKS Treatment, Column 3 (three) for Serasah Treatment, and Column 4 (four) with top soil. The four columns are to see the extent of growth of staple plants (local guava and Cashew) and Legume Cover Crop (LCC) using these treatments. Analysis of soil chemical physical properties was also carried out to determine the content of each other organic material /waste which was then compared with top soil. The results showed that other organic materials/waste can make a positive contribution to the reclamation / revegetation area, by increasing the acceleration of cover crop growth and staple crops. The results of the study have also been applied for the reclamation/revegetation activities of PT ANTAM Tbk UBP Bauxite starting from 2018 until now. Keywords: Top Soil, other organic materials /waste, bauxite mining, mine out,  open pit/cast, reclamation, revegetation, Local Guava, Guava, LCC, Cashew
GEOLOGICAL MAPPING AND PROVENANCE ANALYSIS: AS THE KEY TO IDENTIFY DISTRIBUTION OF MUD DIAPIR AND ITS IMPLICATION ON COAL RESERVES IN PT. ARUTMIN INDONESIA SITE SENAKIN Hamzah Zamzami Mahmud; Satrio E. Hapsoro; Guntur Ghiffari
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.123

Abstract

ABSTRAK Identifikasi keberadaan diapir merupakan hal esensial dalam pertambangan batubara mengingat sifatnya yang seperti intrusi dapat mengurangi cadangan batubara. Seperti yang teramati pada area pertambangan PT Arutmin Indonesia. Kehadiran mud diapir pada PIT HG telah terbukti mengurangi cadangan batubara, dengan luas area terdampak 0,7 Ha. Selain itu, beberapa diapir diperkirakan belum terpetakan karena terletak di bawah permukaan dan belum tersentuh oleh pengeboran eksplorasi PT Arutmin Indonesia, sehingga tanda-tanda permukaan seperti singkapan batuan dan struktur geologi maupun provenance diapir dapat menjadi petunjuk yang penting. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola distribusi dan korelasi antara keberadaan diapir dengan struktur geologi, stratigrafi, dan provenance teridentifikasi yang kemudian dapat digunakan untuk memperkirakan persebaran diapir lainnya. Analisis dilakukan pada data primer hasil pemetaan geologi lapangan sebagai representasi struktur geologi maupun stratigrafi makro sebagai identifikator provenance. Hasil pemetaan lapangan seluas 60 km2 menunjukkan daerah penelitian terdiri dari tiga satuan batuan, yaitu satuan batupasir-batulempung termasuk lima singkapan diapir di dalamnya, satuan batulempung, dan satuan intrusi andesit. Satuan batupasir-batulempung memiliki kesetaraan dengan Formasi Tanjung yang merupakan formasi batuan sedimen tertua di daerah penelitian. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah sesar geser menganan serta sesar geser mengiri yang berperan besar sebagai pengontrol keterdapatan diapir. Analisis stratigrafi menunjukkan provenance mud diapir berasal dari satuan batupasir-batulempung, Formasi Tanjung. Berdasarkan hasil analisis di atas, persebaran mud diapir berkorelasi dengan persebaran struktur geologi terutama sesar geser dan persebaran satuan batupasir-batulempung. Karena hal tersebut, maka pada area Tambang Senakin terdapat potensi keberadaan mud diapir yang tidak tersingkap di permukaan dan dapat menyebabkan hilangnya cadangan batubara termodelkan yang jauh lebih besar dari yang telah terbukti saat ini. Sebagai langkah preventif untuk mengetahui keberadaan diapir yang belum teridentifikasi, maka penulis membuat peta potensi keterdapatan diapir pada area penelitian di PT. Arutmin Indonesia Tambang Senakin. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, penulis menyarankan pihak pelaksana tambang untuk melakukan analisis geolistrik pada titik yang telah direkomendasikan penulis. Kata kunci: mud diapir, Formasi Tanjung, analisis stratigrafi, pemetaan geologi lapangan, cadangan batubara  ABSTRACT Identifying diapir occurrence is essential in coal mining activities knowing it behaves like an intrusion that can lead to a reduction in coal reserve. As we can observe in PT Arutmin Indonesia mining field. The presence of mud diapir on PIT HG has been proved to cut down its coal reserve, with the total area affected is 0,7 Ha. Since not all of the mud diapirs are exposed to the surface, we suspected that some of them are still yet to be found by PT Arutmin Indonesia’s exploration. Hence, diapir provenance and surface hints such as outcrop and geological structure can be a crucial indication. Therefore, this study objectives are to identify distribution and correlation between diapir occurrence and geological structures, stratigraphy, and its identified provenance that can be used to estimate other diapirs. This study began with geological mapping to identify the geological structure and its stratigraphy. Stratigraphic analysis is carried out as provenance identifier.  Geological mapping in 60 km2 area concluded that the area have three lithological units, sandstone-claystone unit including five diapir outcrops, claystone unit, and andesite intrusion unit. Sandstone-claystone unit is equivalent to Tanjung Formation which is the oldest sedimentary rocks formation in the area. Dextral strike slip and sinistral strike slip faults which are found in the area considered to have a significant effect on diapirs occurrence. Further stratigraphic analysis shows that the the mud diapir’s provenance is from Tanjung Formation. Based on these analyses, we conclude that mud diapir occurrence has a good correlation to geological structures especially the strike slip faults and sandstone-claystone unit distribution. Consequently, Senakin Mine Field has a chance of losing its potential coal reserve much bigger than previously estimated due to unidentified mud diapirs occurrence below the surface. We will provide a mud diapir occurence potential map as a preventive measure in identifying unknown diapirs. We also suggest doing subsurface resistivity analysis for further detailed and better results. Keywords: mud diapir, Tanjung formation, stratigraphic analysis, geological mapping, coal reserve
STRATEGI TRANSPORTASI BATUBARA – MEMBANDINGKAN OVERLAND CONVEYING DENGAN TRUK PENGANGKUT BATUBARA Supris Rudianto; Tikto Hartanto
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.58

Abstract

ABSTRAK Pada tahun 2005 PT Kaltim Prima Coal (KPC) melakukan kajian proyek peningkatan bisnis untuk mengembangkan operasi tambang Sangatta. Kajian difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi 34-35 Metrik Ton per Tahun (JTPT) saat itu, menjadi 44 JTPT dan sampai dengan 70 JTPT. Inisiatif pengurangan biaya produksi karena meningkatnya jarak tempuh , kenaikan harga bahan bakar dan kelangkaan ban pada tahun 2005 dimasukan sebagai fariabel eksogen penting dalam kajian ini. Kajian yang dilakukan meliputi strategi pemilihan transportasi batubara dengan cara membandingkan moda transportasi batubara mengunakan conveyor system terhadap mode  pengangkutan menggunakan  truk. Hasilnya mode transportasi conveyor system lebih unggul dari sisi produktifitas, kontinuitas produksi, umur layanan operasi yang lebih lama, biaya operasi maintenance yang lebih rendah dan lebih handal untuk lokasi tambang yang terbatas dengan kecuraman medan sampai pada tingkat 300-350. Dengan dasar pertimbangan teknis dan ekonomis, proyek peningkatan bisnis ini ditindak lanjuti dengan melakukan tujuh proses kajian secara internal. Tahapan berikutnya adalah  analisa keekonomian dengan memasukan lima belas variabel untuk menentukan satu dari  3 alternatif pembiayaan yang tersedia. Hasil analisa dari 3 alternatif tersebut akan diambil keputusan dengan membandingkan dua parameter utama yakni Net Present Value dan Internal Rate Return. Analisa ekonomi dipertajam dengan uji sensitifitas untuk melihat respond NPV terhadap pengaruh  variabel produksi, pasokan pembangkit listrik, biaya modal, dan biaya truk pengangkut. Rangkaian kajian dan evaluasi tersebut menghasilkan keputusan pembangunan Melawan Crushing Station Western Overland (OLC) yang berlokasi ditengah lokasi tambang Melawan area dengan   disain dasar berkapasitas rata-rata 4.000 ton per jam. Kata Kunci: Strategi transportasi batubara, Melawan Crushing Station Western OLC, pertimbangan aspek teknis dan analisis ekonomis   ABSTRACT KPC conducted a business improvement project study to develop Sangatta mining operations in 2005. The study focused on increasing production capacity from 34 to 35 Metric Tons per Year (MTPY) to 44 MTPY and up to 70 MTPY. Initiatives to reduce production costs due to increased mileage, rising fuel prices and tire scarcity in 2005 were included as exogenous variables in this study.The study focused on strategy for selecting coal transportation modes by comparing conveyor transporting system to trucking mode. The study resulted that  the conveyor system transportation mode was superior in terms of productivity, production continuity, longer service life cycle, lower operating maintenance costs and more reliable for finite  mine sites with steepness of terrain up to the level of 300-350.Based on technical and economic considerations, this business improvement project was followed up by conducting seven steps internal process study. The following stage was an economic analysis by entering fifteen variables to determine the best one from the 3 available financing alternatives.The results of the analysis of the 3 alternatives will be decided by comparing the two main parameters namely Net Present Value and Internal Rate Return. Economic analysis is sharpened with sensitivity testing to see NPV respond against the influence of production variables, power generation supplies, capital costs, and cost of transporter trucks. The course of studies and evaluations concluded to construct of Melawan Crushing Station Western Overland. It would be placed at center of the Melawan mine site, with a basic design average capacity was 4,000 tons per hour.   Keyword:  coal transportation strategy, Melawan Crushing Station Western Overland Conveyor, technical aspect consideration and economical analysis
KALA PENGEMBANGAN MASYARAKAT MENJADI PENGEMBANGAN BISNIS : CREATING SHARED VALUE ANTARA ANTAM DENGAN PERAJIN DAN PEDAGANG PERHIASAN EMAS DAN PERAK DI BALI Agustinus Toko Susetio; Jalal Jalal
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.86

Abstract

ABSTRAK ANTAM adalah perusahaan pertambangan yang memiliki praktik pengelolaan sosial dan lingkungan yang telah sesuai bahkan melampaui ketentuan hukum di Indonesia dan standar internasional.  Oleh karena itu, ketika terdapat kebutuhan dari para perajin dan pedagang perhiasan di Indonesia untuk bisa menembus pasar internasional yang semakin memerhatikan keberlanjutan, ANTAM ada dalam posisi sebagai mitra pemasok bahan baku yang dipersyaratkan.  ANTAM bukan semata-mata melakukan penjualan kepada mereka, melainkan juga berkontribusi dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, dan akses yang dibutuhkan para perajin dan pedagang itu.    Dalam bisnis perhiasan, konsep green business dapat dilihat dengan adanya Responsible Jewelry Council (RJC) dan Fairtrade International yang merupakan organisasi international yang memiliki kepedulian dalam mempromosikan praktik industri perhiasan yang sesuai dengan seluruh aspek tanggung jawab sosial untuk mencapai keberlanjutan. Kedua organisasi tersebut adalah anggota dari ISEAL (International Social and Environmental Accreditation and Labelling).  RJC memiliki 500+ anggota yang melakukan kegiatan penambangan, pengolahan dan pemurnian, pembuatan perhiasan, sampai dengan pelaku usaha penjualan perhiasan. RJC Code of Practice mencakup di antaranya standar hak asasi manusia, hak pekerja, dampak lingkungan, publikasi atau penjelasan tentang produk dan beberapa topik lainnya yang dimutakhirkan terakhir pada tahun 2013 yang di antaranya mengacu pada UN Guiding Principles on Businesses and Human Rights yang dikeluarkan oleh PBB dan memasukkan ketentuan mengenai sumber bahan baku yang bebas konflik. Sertifikasi RJC juga membantu perusahaan dalam kemamputelusuran suatu produk, uji kelayakan rantai pasokan, dan penggunaan standar tersebut terus meningkat.  Fairtrade International juga bergerak dalam bidang yang sama, namun lebih fokus pada tambang rakyat dan komunitasnya.  ISEAL  mendukung para penambang untuk meningkatkan hubungan jangka panjang dan adil untuk memastikan bahwa pertambangan dapat menekan angka kemiskinan dan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan.  ANTAM membantu para perajin dan pedagang perhiasan untuk dapat memenuhi standar internasional itu, selain menjadi pemasok bahan bakunya.  Penjualan ANTAM meningkat seiring dengan semakin banyaknya perajin dan pedagang yang bisa memenuhi standar internasional. Kasus kolaborasi antara ANTAM dengan para perajin dan pedagang perhiasan di Bali yang dipaparkan menunjukkan bahwa gagasan Porter dan Cramer (2011) tentang creating shared value (CSV) bisa dilaksanakan oleh industri pertambangan, dengan menggabungkan pengembangan masyarakat (community development) dan pengembangan bisnis (business development).     ABSTRACT ANTAM is a mining company that has social and environmental management practices that comply with and even exceed Indonesian legal requirements as well as meet international standards. Therefore, when there is a need from crafters and jewelry traders in Indonesia to be able to penetrate the international market which is increasingly concerned about sustainability, ANTAM is in a position as a supplier of required raw materials. In the jewelry business, the concept of green business can be seen with the Responsible Jewelry Council (RJC) and Fairtrade International, which is an international organization that has a concern in promoting the practice of the jewelry industry in accordance with all aspects of social responsibility to achieve sustainability. Both organizations are members of ISEAL (International Social and Environmental Accreditation and Labeling). RJC has 500+ members who carry out mining, processing and refining activities, jewelry making, to business people selling jewelry. The RJC Code of Practice includes human rights standards, workers' rights, environmental impacts, publications or explanations about products and several other topics, most recently updated in 2013, among which refer to the UN Guiding Principles on Businesses and Human Rights issued by the United Nations and include provisions regarding conflict-free sources of raw materials. RJC certification also helps companies in product traceability, supply chain feasibility testing, and the use of these standards continues to increase. Fairtrade International is also engaged in the same field, but is more focused on the mining of the people and their communities. ISEAL supports miners to improve long-term and equitable relations to ensure that mining can reduce poverty and support sustainable development. ANTAM is helping crafters and jewelry traders to be able to meet these international standards, in addition to being a supplier of raw materials. ANTAM's sales have increased along with the increasing number of craftsmen and traders who can meet international standards. The case of collaboration between ANTAM and crafters and jewelers in Bali presented shows that the idea of Porter and Cramer (2011) about creating shared value (CSV) could be implemented by the mining industry, by way of combining community development and business development.