cover
Contact Name
Moh Cholisatur Rizaq
Contact Email
deskovi@umaha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
deskovi@umaha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
DESKOVI : Art and Design Journal
ISSN : 26545381     EISSN : 2655464X     DOI : -
Core Subject : Art,
DESKOVI : Art and Design Journal is a journal published officially by Universitas Maarif Hasyim Latif. The topics in DESKOVI cover the results of study and creation that can broaden knowledge in the field of art and design in general with a focus on the topic of design processes, design methodology, design development, design history, design discourse, art criticism, art anthropology, art sociology, creative industry and conceptual culture, education and research in the fields of art, performance, product design, interior design and visual communication design.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020" : 12 Documents clear
KAJIAN IKONOGRAFI MOTIF MEGA MENDUNG CIREBON Irwan Maolana Yusup
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.803

Abstract

Hasil penelitian ini berisi deskripsi pra ikonografi yang menerangkan pada tahap awal aspek ide tekstual, yaitu berdasarkan analisis unsur-unsur visual pada motif mega mendung ini termasuk dengan gaya ketepatan objektif, selain itu juga ditinjau dari motifnya mega mendung menggunakan gaya stilisasi yaitu dengan merubah bentuk asli dari suatu sumber menjadi bentuk yang baru yang bersifat dekoratif tetapi dari ciri khusus dari sumber tersebut tidak hilang sepenuhnya. Tema dan konsep yang terungkap dalam motif mega mendung ini mendapat ide yang diadopsi dari keramik-keramik Cina atau pernak pernik yang dibawa oleh putri Ong Tien, pernak pernik yang dibawa dari cina kemudian dikombinasikan dengan kebudayaan khas Cirebon, sehingga menghasilkan perpaduan kebudayaan Cirebon-Cina. Dari pengaruh budaya tersebut motif mega mendung memiliki ciri khas dan makna yang sangat mendalam sebagai hasil dari interaksi sosial dan masyarakat.The Results from this study contains a description of the pre iconography which explaining at an early stage aspects of textual ideas, elements in this mega mendung's motif, including the style of objective accuracy, besides that, also viewed from mega’s motive using stylization style that is by changing the original form of a source into a new form which is then added to the special characteristics of the source did not disappear completely. The theme and concept revealed in this mega mendung's motive got an idea adopted from Chinese ceramics or knick knacks which brought by Ong Tien's Princess. Knick knacks which brought from China were then combined with Cirebon culture, resulting in a fusion of Cirebon-Chinese culture. From these cultural influences, mega mendung's motive have very deep characteristics and meanings as a result of social and community interaction.
STRATEGI PEMASARAN UPT MUSEUM BALANGA SEBAGAI WISATA EDUKASI DI KOTA PALANGKARAYA Inten Larasaty
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.808

Abstract

Keberadaan museum selama ini sering dianggap hanya sebagai tempat memamerkan koleksi budaya maupun sejarah saja, padahal sebenarnya dapat menjadi alternatif yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Kesan membosankan yang menjadi polemik di berbagai museum di Indonesia harus ditepis dengan melakukan strategi pemasaran yang tepat. Salah satunya yaitu UPT Museum Balanga yang merupakan museum budaya di Kota Palangkaraya. Museum Balanga selain memiliki tempat yang strategis juga memiliki keunikan dari berbagai koleksi yang menunjukkan siklus hidup suku Dayak. Kenyataannya dari data pengunjung yang dihasilkan pada setiap tahun ternyata masih belum mencapai peningkatan yang maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif dengan menggunakan analisis SWOT. Tahap penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data, kemudian tahap analisis dengan membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan, dan yang terakhir yaitu tahap penetapan strategi berdasarkan marketing mix 7p yaitu product, price, place, promotion, process, people, dan physical evidence. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kelebihan dan kekurangan pada UPT Museum Balanga serta memformulasikan strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan daya tarik dan jumlah pengunjung lokal maupun mancanegara. Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa UPT museum balanga perlu meningkatkan servis excellence dengan melakukan training dan menetapkan standar operasional pegawai, pembenahan terhadap interior dan eksterior desaign, melengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti ruang multimedia, cafe dan lainnya, serta meningkatkan promosi dengan memanfaatkan berbagai media sosial dan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait.The existence of museums has often been considered only as a place to display cultural and historical collections, when in fact it can be an interesting alternative place for tourists to visit. The boring impression that became polemic in various museums in Indonesia must be erased by carrying out the right marketing strategy. One of them is UPT Museum Balanga which is a cultural museum in Palangkaraya City. Besides having a strategic place, Balanga Museum also has uniqueness on various collections that shows the life cycle of Dayak tribe. But the fact is that the visitor data generated each year has not yet reached the maximum increase. This research was conducted with a descriptive qualitative approach using SWOT analysis. The research stage is carried out by collecting data, then the analysis phase by comparing the external factors of opportunity and threat with the internal factors of strengths and weaknesses. In the last step to support the SWOT analysis, the writer uses marketing mix 7p, which are product, price, place, promotion, process, people, and physical evidence. The purpose of this study is to analyze the strengths and weaknesses of the UPT Museum Balanga and formulate an appropriate marketing strategy to increase the attractiveness and the amount of local and foreign visitors. The results of this study indicate that the UPT Museum Balanga needs to improve service excellence by conducting training and establishing operational standards for employees, improving the interior and eksterior design, equipping various supporting facilities such as multimedia rooms, cafes and others, and increasing promotion by utilizing various social media and collaborating with related parties.
GERAK DAN RASA DALAM TARI MERAK JAWA BARAT Venny Agustin Hidayat
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.804

Abstract

Gerak merupakan unsur utama dari tari. Gerak di dalam tari bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dan estetis. Gerak tari selalu melibatkan unsur anggota badan manusia dan berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan maksud dari pembentukan gerak. Jenis gerak tari yang digunakan, yaitu gerak maknawi, gerak murni, dan gesture. Selain gerak tari, terdapat elemen-elemen ruang, waktu, dan tenaga dalam menari.Metode penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kualitatif. Tujuannya agar penelitian dapat ditemukan, dikembangkan, dibuktikan, dan dapat digambarkan secara sistematis tentang gerak pada tari Merak, sehingga menimbulkan rasa untuk melakukannya. Subjek penelitiannya adalah para anggota yang berada di sanggar tari, terdiri dari para penari merak, pelopor, dan pengola sanggar Pusbitari Bandung. Suatu tarian apabila disajikan sebagai objek seni menjadi sebuah pengalaman bagi para pengamat untuk di hayati dan dimengerti, melalui struktur sensasi, persepsi, dan perasaan dalam menggerakkannya. Sering kali dikatakan bahwa murid-murid pemula tidak siap untuk mencipta dan mendapatkan ketubuhan baru. Melalui kesempatan yang diulang-ulang bagi aktivitas kreatif yang diarahkan sendiri, seorang penari dapat mengembangkan potensi kreatifnya. Pengalaman kreatif yang pertama dalam tari, dialami dengan beberapa tingkat kecemasan. Tingkat kecemasan ini dapat kita pahami dan pengalaman seperti itu sebaiknya diarahkan agar para murid-murid dapat mengatasi rasa takutnya.Motion is the main element of dance. Motion in dance is not a realistic movement, but a movement that has been given an expressive and aesthetic form. Dance moves always involve elements of the human body and function as a medium to communicate the purpose of motion formation. Types of dance movements used, namely meaningful motion, pure motion, and gesture. In addition to dance moves, there are elements of space, time, and energy in dancing. The research method used is a qualitative approach. The goal is that research can be found, developed, proven, and can be described systematically about the movements of the Peacock dance, giving rise to a sense of doing so. The subjects of the research were the members who were in the dance studio, consisting of peacock dancers, pioneers, and processors at the Bandung Pusbitari Studio. A dance when presented as an object of art becomes an experience for observers to be lived and understood, through the structure of sensation, perception, and feeling in moving it. It is often said that novice students are not ready to create and obtain new bodies. Through repeated opportunities for self-directed creative activities, a dancer can develop their creative potential. The first creative experience in dance, experienced with some level of anxiety. This level of anxiety can be understood by us and such experiences should be directed so that students can overcome their fears.
QILIN: TOLERANSI KEBERAGAMAN SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA KERAMIK SENI Abibawa Wicaksana
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.809

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk yang memiliki berbagai ras, agama, suku, kebudayaan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, hingga hari ini kabar mengenai perilaku intoleran masih sering ditemui. Kejadian-kejadian intoleran tersebut pada umumnya dialami oleh mereka yang memiliki ras, suku, keyakinan, kebudayaan, pola berpikir, pilihan politik, ataupun kondisi fisik yang berbeda. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, muncul keinginan untuk menciptakan karya yang berkaitan dengan Bapak Pluralisme Indonesia atau Gus Dur. Dikarenakan salah satu hasil perjuangannya melawan intoleransi adalah pengembalian hak etnis Tionghoa, maka karya yang kemudian tercipta adalah karya-karya dengan objek yang berasal dari kebudayaan Tionghoa. Sebagai hasil, tercipta dua karya keramik terakota dengan qilin sebagai objeknya. Pemilihan qilin tersebut tidak hanya dikarenakan ia merupakan makhluk mitologi dari kebudayaan Tionghoa, tetapi juga dikarenakan kaitannya dengan kisah kelahiran Konfusius, nabi agama Konghucu. Supaya konsep toleransi dengan mengangkat penghapusan intoleransi yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia tidak hilang, qilin pada karya ini juga dibuat dalam kondisi tidur. Kondisi tersebut dibuat sebagai tanda bahwa si hewan mitologi ini sedang tenang, terbebas dari ancaman larangan yang pernah dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia dari tahun 1967 hingga tahun 2000.Indonesia is a country that has a large variety of races, religions, ethnicities, cultures, etc., within its people. Even though it is a pluralistic country, having something like a different race, ethnicity, belief, culture, mindset, political choice, or even physical conditions can still be an issue. As a response to this problem, I then created two artworks as a reminder about the legacy of Indonesia’s third president who is known for his fight against discrimination, Abdurrahman Wahid. Since one of his most known legacies is the removal of the Chinese ban in Indonesia at year 2000, the model used in the creation of the artworks is from a myth in Chinese traditions. As a result, two qilin terracotta ceramic artworks were created. The qilin was used not only because it’s a Chinese mythological creature, but also because of its relation to the legend of the birth of the Chinese philosopher who’s also known as the prophet of the Confucianism, Confucius. To express the freedom due to the ban removal, the qilins in these artworks were then made sleeping. This position was used to make these mythological creatures look relaxed, or in other words, look like it’s free from the predator that preys on it from year 1967 to year 2000.
ANALISIS DESAIN ILUSTRASI KEMASAN BERAS ECOKO GREEN PROJECT MELALUI KAJIAN SEMIOTIKA I Putu Adi Natha
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.720

Abstract

Tulisan ini dibuat guna memahami tanda makna komunikasi visual yang terdapat pada ilustrasi kemasanberas dari Ecoko Green Project,serta pesan komunikasi visual yang terkandung pada ilustrasi pada kemasan beras tersebut.Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi dengan datang ke studio Oka Astawa dan mendapatkan foto-foto mengenai kemasan beras yang berisi karya dari Oka Astawa. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dari teori semiotika Charles Sanders Pierce ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 1.) Ikon pada ilustrasi kemasan beras Ecoko Green Projectadalah penggambaran petani itu sendiri karena memiliki kemiripan dengan bentuk aslinya yaitu penggambaran seorang petani. 2.) Indeks pada ilustrasi kemasan beras tersebut adalah penggambaran gedung dan jalan pada tubuh petani pertama, serta dolar dan padi yang tidak seimbang pada ilustrasi kedua merupakan penggambaran sebab akibat. 3.) Simbol pada ilustrasi kemasan beras tersebut adalah caping(topi petani) serta padi pada ilustrasi kemasan beras yang pertama dan kedua merupakan simbol dari pertanian itu sendiri, dan pada ilustrasi kemasan kedua ada dua simbol tambahan yaitu dolar dan dasi berbentuk ular, dimana kedua simbol tersebut menggabarkan petani ditindas oleh uang dan penguasa.This paper is made to learn the meaning sign of the visual communication that contained in the illustration of rice packaging from the Ecoko Green Project, as well as the visual communication message in that illustration on the rice packaging. The collected data in this study was carried out with observation by coming to the Oka Astawa studio and getting photos of rice packaging containing the works of Oka Astawa. The collected data is then analyzed using qualitative analysis and Charles Sanders Pierce's semiotic theory of icons, indexes, and symbols. The results of these studies indicate that 1.) The icon in the Ecoko Green Project rice packaging illustration is a description of the farmer itself because it has a similarity to the original form, which is the description of a farmer. 2.) The index in the illustration of rice packaging is the depiction of buildings and roads in the body of the first farmer, then the dollar and rice that is not balanced in the second illustration are depictions of cause and effect. 3.) The symbol in the illustration of the rice packaging is the caping (farmers' hat) and the rice in the first and second illustration of the rice packaging is a symbol of the agriculture itself, and in the second packaging illustration there are two additional symbols, the dollar and a snake-shaped tie, where both of the symbols described that the farmers being oppressed by money and the authority.
DAKWAH MELALUI FILM ANALISIS SEMIOTIKA PESAN DAKWAH DALAM FILM "SANG KIAI" KARYA RAKO PRIJANTO Haris Supiandi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.805

Abstract

Tujuan dari penelitian ini secara umum untuk mengetahui bagaimana dakwah melalui film di dalam film “Sang Kiai” karya Rako Prijanto melalui semiotika Roland Barthes. Berdasarkan pada analisis yang dilakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa film ini syarat dengan pesan dakwahnya, di mana proses dakwah yang terjadi di dalam film ini ialah tentang suri teladan seorang kiai Hasyim Asyari yang begitu dikagumi oleh para santri pondok pesantren Tebu Ireng, sahabat dan keluarganya.; (1) terdapat tiga pesan dakwah dalam film “Sang Kiai” karya Rako Prijanto yakni; pesan akidah, pesan akhlak dan pesan syariat. (2) dakwah dalam film “Sang Kiai” dikemas dengan menampilkan karakter-karakter dialog yang sangat menggugah dan penuh pesan bermakna hubungan antar sesama manusia  dan hubungan kepada Allah SWT, dan tidak terlepas dari nilai-nilai nasionalisme. (3) simbol-simbol yang mengandung kaidah-kaidah yang Islami baik itu dari cara berpakaian, tutur kata, sikap yang sopan santun, hormat kepada orang tua dan guru, menjaga ibadah serta berjihad di jalan Allah SWT.The purpose of this research in general is to study how da'wah through the film in the film "The Kiai" by Rako Prijanto through the semiotics of Roland Barthes. Based on the analysis conducted, the researcher concludes that this film has the message of da'wah, where the da'wah process that occurs in this film is about the example of a Kiai Hasyim Asyari who is highly admired by Tebu Ireng boarding school students, friends, and his family. ; (1) There are three da'wah messages in the film "Sang Kiai" by Rako Prijanto, namely : a) aqeedah message, the moral messages, & sharia messages. (2) Da'wah in the film "The Kiai" is packaged by displaying characters of dialogue that are very evocative and full of meaningful messages of relationships between human beings and relationships to Allah SWT, and are inseparable from the values of nationalism. (3) Symbols that display Islamic rules both from the way of dress, speech, polite attitude, respect to parents and teachers, maintain worship, and strive in the way of Allah SWT.
Front Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3 No 2 Desember 2020) Editor Deskovi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI WANITA SEBELUM DAN SESUDAH GERAKAN FEMVERTISING DALAM IKLAN PERAWATAN TUBUH Lisa Odillia
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.801

Abstract

Representasi gender dalam iklan adalah bentuk manifestasi budaya dari siklus ideologi dalam masyarakat. Sejauh ini, keberadaan iklan telah terbukti menjadi media yang berpengaruh terhadap penggunaan bahasa, gambar dan kontruksi representasi untuk meyakinkan audiens dengan membentuk realitas dalam mempengaruhi keputusan pembelian. Beberapa tahun terakhir, istilah femvertising muncul sebagai upaya periklanan untuk menarik konsumen wanita. Secara visual maupun retoris, pesan-pesan iklan yang dibingkai dalam femvertising mempromosikan kesetaraan gender dan hak-hak wanita. Gerakan Feminisme gelombang ketiga yang berkembang saat ini, menciptakan perspektif baru milenial feminis dengan menganggap bahwa feminisme adalah bentuk kebebasan memilih dalam semua aspek kehidupan, baik kesehatan, karier, pernikahan hingga selera pribadi dalam penampilan. Membandingkan iklan dari tahun 1980-an dan 1990-an dengan iklan yang diterbitkan 5 tahun terakhir ini, akan menyajikan konteks tentang bagaimana pergeseran sosial mempengaruhi kontruksi iklan dan persepsi konsumen terhadap merek. Melalui analisis visual kualitatif, studi ini akan mengindentifikasi bagaimana kampanye iklan dikontruksi sebelum dan sesudah gerakan femvertising melalui pesan feminisme demi membangun ketertartarikan audiens perempuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklan-iklan perawatan tubuh sering menampilkan isu yang serupa, yaitu tentang nilai-nilai kepribadian dan kecantikan. Pergeseran nilai kecantikan dan kepribadian dalam domain yang lebih luas telah menyokong perubahan perspektif sosial terhadap perempuan menuju kesadaran feminisme.Gender representation in advertising is a form of cultural manifestation of an ideological cycle in society. So far, the existence of advertisements has proved to be a media that affects the use of language, images and representation in order to convince the audience by shaping reality in influencing purchasing decisions. In recent years, the term femvertising emerged as an advertising effort to attract female consumers. Visually or rhetorically, the ad messages framed in a femvertising promote gender equality and women's rights. The third Wave feminism movement that develops today, creates a new perspective of feminist millennials by assuming that feminism is a form of freedom of choosing in all aspects of life, whether health, career, marriage to personal tastes in appearance. Comparing ads from the 1980's and 1990's with ads published in the last 5 years, will present a context on how social shifts affect ad construction and consumer perception of the brand. Through qualitative visual analysis, this study will identify how the advertising campaign was constructed before and after the femvertising movement through feminism messages in order to build a female audience's alignment. The results of this study show that the advertising of body care often displays similar issues, namely about the values of personality and beauty. The shifting value of beauty and personality in the wider domain has supported the change of social perspective on women toward the consciousness of feminism.
SAPUH LEGER SIFAT KELAHITAN PADA WUKU WAYANG Ketut Sri Gangga Dewi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.806

Abstract

Penciptaan karya tari Sapuh Leger merupakan pencapaian ide serta kreativitas yang di latar belakangi oleh kelahiran seseorang. Menurut masyarakat Hindu sifat baik buruknya seseorang sangat dipengaruhi oleh hari kelahiran. Kelahiran seseorang pada Wuku Wayang merupakan kelahiran yang dianggap tidak tepat, karena dapat mempengaruhi sifat dan tingkah lakunya sehingga terlihat berbeda ketika seseroang yang lahir dihari biasa. Masyarakat Hindu Bali sangat meyakini adanya mitologi kelahiran Wuku Wayang yang berhubungan dengan kelahiran Bhatara Kala. Konon katanya Bhatara Kala memiliki sifat dan watak yang tidak baik, untuk itu setiap kelahiran pada Wuku Wayang wajib diupacarai yang disebut dengan upacara Bayuh Oton Sapuh Leger.Karya ini mengungkapkan beberapa sifat anak yang dilahirkan pada Wuku Wayang menurut umat Hindu Bali. Sifat-sifat tersebut diantaranya pemarah, egois, dan selalu menolak nasetan orang tua. Selain sifar-safatnya karya sapuh Leger juga menampilkan elemen-elemen yang digunakan dalam upacara Bayuh Oton Sapuh Leger seperti membuat Banten, meminta air suci, memercikkan air suci, dan sembayang (berdoa). Penciptaan karya tari Sapuh Leger adalah sebagai cerminan diri pada anak dan orang dewasa yang beberapa tidak dapat mengendalikan amarah dan emosionalnya terhadap orang tua. Karya ini diharapkan dapat menjadi intropeksi dan menjadi kesadaran agar menjahui sifat yang kurang baik.Penari dalam karya ini berjumlah sembilan orang penari putri dengan menampilkan lima adegan yang menegaskan pada sifat anak yang lahir pada Wuku Wayang dan proses upacara pembersihan diri.The creation of Sapuh Leger dance works is the achievement of ideas and creativity that is based on one's birth. According to Hindu society, the merits of a person are greatly influenced by the day of birth. Someone's birth in Wuku Wayang is a birth that is considered inappropriate, because it can affect the nature and behavior of that person so that it looks different when someone is born on an ordinary day. The Balinese Hindu community strongly believes in the mythology of the birth of Wuku Wayang which is related to the birth of Bhatara Kala. It is said that Bhatara Kala has bad character, for that every birth in Wuku Wayang must be celebrated which is called the Bayuh Oton Sapuh Leger ceremony.This work reveals some of the characteristics of children born in Wuku Wayang according to Balinese Hindus. These traits include being angry, selfish, and always rejecting parents' advice. Besides that, the work of Sapuh Leger also displays elements used in the Bayuh Oton Sapuh Leger ceremony such as making Banten, asking for Tirta or holy water, sprinkling holy water, and Sembahyang (praying). The creation of Sapuh Leger dance works is a reflection of children and adults who some cannot control their anger and emotional toward their parents. This work is expected to be introspective and become awareness in order to find out the nature that is not good.The dancers in this work number nine female dancers by presenting five scenes that emphasize the nature of the child born in Wuku Wayang and the process of self-cleansing ceremony. 
Back Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3 No 2 Desember 2020) Editor Deskovi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 12