cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025" : 10 Documents clear
The Philosophy of Divine Love (ʿIshq) in Sufism and Its Application in Psychospiritual Therapy: A Critical Analysis of al-Niffārī’s Kitāb al-Mawāqif Achmad, Adang Darmawan; Subhan, Subhan; Qotadah, Hudzaifah Achmad; Al Faruq, Abdillah Achmad
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.47659

Abstract

This article explores the philosophical and practical dimensions of Ishq Ilāhī (Divine Love) within the classical Sufi tradition, focusing on the seminal work al-Mawāqif by al-Niffārī, a 10th-century CE (4th-century AH) mystic renowned for his profound existential and spiritual expressions. In Sufism, Ishq represents the pinnacle of the spiritual relationship between the servant and the Divine, transcending ordinary love (maḥabbah) and serving as a transformative force that purifies the soul and dissolves the ego in the Divine Presence. This study employs a qualitative approach through document analysis and hermeneutic interpretation of the al-Mawāqif manuscript. The findings indicate that Ishq in this text is not merely a theoretical concept but a practical path of spiritual healing, characterized by ecstatic experiences (wajd), ego annihilation (fanāʾ), and spiritual subsistence (baqāʾ). Furthermore, the article argues that the values and experiential insights of Divine Love can be contextually adapted for contemporary psychospiritual therapy, particularly in addressing issues of existential void, spiritual crisis, and inner psychological distress. This study thus opens an interdisciplinary dialogue between classical Sufism and modern spiritual psychology, positioning Islamic mystical heritage as a potential source of holistic healing and inner transformation. Abstrak Artikel ini mengkaji secara filosofis dan aplikatif konsep Ishq Ilāhī (cinta Ilahi) dalam khazanah tasawuf klasik dengan fokus pada kitab al-Mawāqif karya al-Niffārī, seorang sufi mistikus abad ke-4 H/10 M yang dikenal dengan ungkapan-ungkapan eksistensial dan spiritual yang mendalam. Dalam tradisi tasawuf, ishq merupakan puncak dari hubungan spiritual antara hamba dan Tuhan yang melampaui cinta biasa (maḥabbah), menjadi kekuatan transformatif yang memurnikan jiwa dan meleburkan ego dalam kehadiran Ilahi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi dokumen dan analisis hermeneutik terhadap naskah al-Mawāqif. Temuan menunjukkan bahwa ishq dalam kitab ini bukan hanya bersifat teoretis, tetapi menjadi jalan praksis penyembuhan spiritual melalui pengalaman ekstasis, kehancuran ego (fanā’), dan pencerahan spiritual (baqā’). Lebih lanjut, artikel ini mengusulkan bahwa nilai-nilai dan pengalaman cinta Ilahi dapat diadaptasi secara kontekstual dalam terapi psikospiritual modern, khususnya untuk membantu individu yang mengalami kekosongan makna hidup, krisis eksistensial, dan tekanan psikis yang bersifat spiritual. Studi ini membuka ruang interdisipliner antara tasawuf dan psikologi spiritual kontemporer dengan menjadikan warisan mistik Islam sebagai sumber terapi dan penyembuhan holistik.
Navigating The Global And Local: The Intersection Of Religious Symbolism In Indonesian Literature And Islamic Modernization Mahbubi, M; Ahmad, Amala Bilqis
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.47804

Abstract

This study examines the influence of globalization on religious symbolism in Indonesian literature, focusing on the role of religious symbols in literature that reflects local religious identity and responses to Islamic modernization. The research aims to understand how Indonesian writers interpret Islamic symbolism in the face of global influences and how these symbols remain relevant in shaping religious identity in Indonesia. A qualitative approach with content analysis was used on literary works depicting religious symbols. The results show that despite the strong global influence, local religious symbolism still plays a central role in defining Indonesian religious identity, with writers adapting these symbols to reflect broader social dynamics. This study contributes to the understanding of how Indonesian literature responds to globalization and introduces relevant religious values in a contemporary context. Abstrak Penelitian ini mengkaji pengaruh globalisasi terhadap simbolisme agama dalam sastra Indonesia, dengan fokus pada peran simbol agama dalam literatur yang mencerminkan identitas agama lokal dan respon terhadap pengaruh modernisasi Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penulis Indonesia menginterpretasikan simbolisme Islam di tengah pengaruh global, serta bagaimana simbol tersebut tetap relevan dalam membentuk identitas agama di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis konten pada karya sastra yang menggambarkan simbol-simbol agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat pengaruh global yang kuat, simbolisme agama lokal tetap memainkan peran sentral dalam mendefinisikan identitas agama Indonesia, dengan penulis yang menyesuaikan simbol tersebut untuk mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana sastra Indonesia menanggapi globalisasi dan memperkenalkan nilai-nilai agama yang relevan dalam konteks kontemporer.
Meme Indo di Instagram: Artikulasi Identitas Kolektif pada Ruang Digital Indirawati, Salwa; Tambunan, Shuri Mariasih Gietty
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48377

Abstract

Humor adalah cara efektif untuk mengekspresikan identitas dan membangun keterhubungan dalam komunitas daring. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana akun Instagram @indosbelike memanfaatkan humor berbasis meme untuk menegosiasikan identitas Indo. Dengan metode analisis konten terhadap 80 unggahan meme berupa foto dan video selama periode Januari 2021–Desember 2024, penelitian ini menelaah simbol budaya yang muncul dalam visual, caption, serta respons audiens. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka artikulasi identitas Stuart Hall (1990) serta diperkaya dengan kajian Nissenbaum & Shifman (2017) tentang meme sebagai medium identitas kolektif. Temuan memperlihatkan tema-tema yang muncul dalam meme mencerminkan perpaduan antara budaya Indo dan pengalaman hidup di Belanda. Tema kuliner dan pengalaman keluarga muncul dominan dalam unggahan meme, memperlihatkan cara identitas Indo dipertahankan, dinegosiasikan, dan diturunkan antar generasi. Meme berfungsi tidak hanya sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai medium artikulasi identitas yang memungkinkan komunitas Indo membangun ruang kolektif dan menandai diferensiasi dari budaya dominan Belanda. Abstract Humor is an effective way to express identity and build connection within online communities. This study aims to examine how the Instagram account @indosbelike utilizes meme-based humor to negotiate Indo identity. Using content analysis of 80 meme posts in the form of photos and videos published between January 2021 and December 2024, the research explores cultural symbols embedded in visuals, captions, and audience responses. The analysis applies Stuart Hall’s (1990) articulation theory alongside Nissenbaum and Shifman’s (2017) framework on memes as a medium of collective identity. The findings demonstrate that the themes emerging in the memes reflect a fusion between Indo culture and lived experiences in the Netherlands. Themes of culinary and family practices dominate, illustrating how Indo identity is preserved, negotiated, and transmitted across generations. Memes function not merely as entertainment, but as a medium of identity articulation that enables the Indo community to create collective space and mark differentiation from dominant Dutch culture.
Dramaturgi Pada Praktik Sharenting: Peran Orang Tua dalam Membangun Identitas Keluarga Ideal di Sosial Media Hapsari, Yuanita Dwi; Reftantia, Ghina; Rahmawati, Triana; Gunawan, Gunawan; Hendris, Hendris
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48438

Abstract

The development of digital media has given rise to the phenomenon of sharenting, namely the practice of parents sharing their children’s lives on social media. This activity is not merely an expression of affection but also a social practice that involves identity construction, privacy negotiation, and the potential commodification of children. This study analyzes sharenting through Erving Goffman’s dramaturgical perspective, viewing parents as actors who present an ideal family image on the frontstage while concealing realities in the backstage. The research employs a qualitative approach with a library research strategy, utilizing scholarly articles, academic books, and policy reports. The findings reveal that sharenting serves as a tool of impression management but also generates serious risks such as blurred private–public boundaries, the permanence of digital footprints, the potential for cyberbullying, and commercial exploitation of children. Therefore, sharenting must be understood as a complex phenomenon that demands ethical awareness, clear regulations, and critical reflection from both parents and policymakers. Abstrak Perkembangan media digital memunculkan fenomena sharenting, yakni praktik orang tua membagikan kehidupan anak di media sosial. Aktivitas ini bukan sekadar ekspresi kasih sayang, tetapi juga praktik sosial yang melibatkan konstruksi identitas, negosiasi privasi, dan potensi komodifikasi anak. Penelitian ini menganalisis sharenting melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman, dengan melihat orang tua sebagai aktor yang menampilkan citra keluarga ideal di panggung depan sekaligus menyembunyikan realitas di panggung belakang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, memanfaatkan artikel ilmiah, buku akademik, dan laporan kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sharenting berfungsi sebagai sarana manajemen kesan, tetapi juga menimbulkan risiko serius seperti kaburnya batas privat–publik, permanensi jejak digital, potensi cyberbullying, serta eksploitasi komersial anak. Karena itu, sharenting perlu dipahami sebagai fenomena kompleks yang menuntut kesadaran etis, regulasi yang jelas, dan refleksi kritis dari orang tua maupun pemangku kebijakan.
Disinformasi dan Krisis Kepercayaan: Turbulensi Budaya Hukum di Era Post-Truth & Artificial Intelligence Prianto, Yuwono; Santoso, Albert Wibowo; Limputri, Euginia Maxine; Kristinawati, Kristinawati; Siantar, Paula Roxyana Lumban
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48743

Abstract

The development of digital technology has accelerated the integration of artificial intelligence into media ecosystems, reshaping how information is produced and disseminated. The growing use of artificial intelligence-generated content has expanded the circulation of inaccurate or misleading information, weakening public trust and triggering turbulence within legal culture. This trend aligns with the post-truth era, where emotional persuasion outweighs factual accuracy. Using a descriptive qualitative approach combining survey data and literature analysis, this study examines how artificial intelligence influences disinformation dynamics and the stability of legal culture. The findings underscore the need for adaptive state regulation, accountable technological development, and strengthened digital literacy supported by empathetic approaches to address disinformation and restore public trust. Abstrak Perkembangan teknologi digital telah mempercepat integrasi kecerdasan buatan ke dalam ekosistem media, sehingga membentuk ulang cara informasi diproduksi dan disebarluaskan. Meningkatnya penggunaan konten berbasis artificial intelligence turut memperluas peredaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan, yang pada akhirnya dapat melemahkan kepercayaan publik dan memicu turbulensi dalam budaya hukum. Perkembangan ini sejalan dengan kondisi era post-truth yang lebih menonjolkan persuasi emosional dibandingkan akurasi faktual. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif yang memadukan data survei dan analisis literatur, penelitian ini mengkaji bagaimana kecerdasan buatan memengaruhi dinamika disinformasi dan stabilitas budaya hukum. Hasil penelitian menegaskan pentingnya regulasi negara yang adaptif, pengembangan teknologi yang akuntabel, serta penguatan literasi digital dengan dukungan pendekatan yang empatik untuk menghadapi disinformasi dan memulihkan kepercayaan publik.
The Language of Shame in Cyber Discourse: A Critical Discourse Analysis of Gendered Moral Policing on X Media Istiqomah, Istiqomah; Sastia, May; Salsabila, Elfa; Rangkuti, Rahmadsyah
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48850

Abstract

Cyber Discourse Analysis (CDA), which analyzes how language constructs and maintains power relations in online communication, enables us to study gendered moral policing on the internet. This research aims to provide linguistic evidence of how moral judgment and gender discrimination are realized in public reaction to Erika Carlina's pregnancy scandal on the social media site X. A qualitative descriptive approach, theorized by Fairclough's (1995) three-dimensional CDA model and supported by Van Dijk's (2015) discourse theory and Cameron's (2012) verbal hygiene theory, is employed. The research demonstrates that male respondents employ rational and evaluative language with a consideration of responsibility and social norms, while female respondents use emotional and corrective language that demonstrates internalized patriarchal ideology. The findings show that online discussion is an electronic extension of classical moral control, whereby the discourse of shame is employed as a communal tool of gendered judgment and social control in Indonesian society. Abstrak Analisis Wacana Siber (Cyber Discourse Analysis/CDA), yang menelaah bagaimana bahasa membangun dan mempertahankan relasi kuasa dalam komunikasi daring, memungkinkan penelitian terhadap praktik gendered moral policing atau pengawasan moral berbasis gender di internet. Penelitian ini bertujuan memberikan bukti linguistik mengenai bagaimana penilaian moral dan diskriminasi gender direalisasikan dalam reaksi publik terhadap skandal kehamilan Erika Carlina di media sosial X. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan kerangka teori Analisis Wacana Kritis tiga dimensi dari Fairclough (1995), serta didukung oleh teori wacana Van Dijk (2015) dan teori verbal hygiene dari Cameron (2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden laki-laki cenderung menggunakan bahasa yang rasional dan evaluatif dengan mempertimbangkan tanggung jawab serta norma sosial, sedangkan responden perempuan menampilkan bahasa yang emosional dan korektif yang merepresentasikan internalisasi ideologi patriarki. Temuan ini mengungkap bahwa diskusi daring merupakan perpanjangan elektronik dari praktik kontrol moral klasik, di mana wacana malu digunakan sebagai alat komunal untuk menghakimi dan mengontrol perilaku berbasis gender dalam masyarakat Indonesia
The Existence of Blind Radio Drama Represents the Real World Adnan, Muhammad; Tantri, Niki Raga; Pribadi, Fantri; Astari, Andi Tenri Juli; Utama, Galuh Tulus
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.49489

Abstract

Radio drama, as an auditory medium, is often perceived as "blind" due to its lack of visual modality, making its representation of reality a unique challenge. This qualitative research, employing a semiotic analysis approach, aims to analyze the forms of denotative and connotative messages in radio drama and examine its strategies for conveying a story that listeners can understand. Data were collected through literature study and in-depth interviews with listeners, then analyzed interactively. The results indicate that radio drama constructs understanding through audio symbols, such as dialogue, sound effects, and music, which listeners recognize based on prior sensory experiences. These symbols convey not only literal meaning (denotative) but also evoke emotional and cultural values (connotative). Therefore, although "blind," radio drama richly represents the real world through the power of sound and the listener's active imagination, proving that the absence of visuals is not a limitation but a unique characteristic that enables the creation of its own reality. Abstract Drama radio, sebagai medium auditif, sering dianggap “buta” karena tidak menyertakan modalitas visual, sehingga representasi realitasnya menjadi tantangan tersendiri. Penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pesan denotatif dan konotatif dalam drama radio serta mengkaji strateginya dalam menyampaikan cerita yang dapat dipahami pendengar. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan wawancara mendalam dengan pendengar, kemudian dianalisis secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa drama radio membangun pemahaman melalui simbol-simbol audio, seperti dialog, efek suara, dan musik, yang dikenali pendengar berdasarkan pengalaman inderawi sebelumnya. Simbol-simbol ini tidak hanya menyampaikan makna harfiah (denotatif) tetapi juga membangkitkan nilai emosional dan kultural (konotatif). Dengan demikian, meskipun “buta,” drama radio justru merepresentasikan dunia nyata secara kaya melalui kekuatan suara dan imajinasi aktif pendengar, membuktikan bahwa ketiadaan visual bukanlah bentuk keterbatasan, melainkan keunikan yang memungkinkan terciptanya realitas tersendiri.
Analisis Bentuk Linguistik pada Penerjemahan Judul Buku Berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia Suandari, Fitri; Zulprianto, Zulprianto; Lindawati, Lindawati
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.49580

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah penerjemahan judul buku berbahasa Inggris (BSu) dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia (BSa). Tujuannya adalah menganalisis bentuk linguistik yang ditemukan pada judul BSu dan BSa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang pembelajaran bahasa Inggris serta bidang penerjemahan, khususnya dalam konteks penerjemahan judul buku berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi, baik daring maupun luring. Data diperoleh secara acak sehingga terkumpul 212 judul buku (122 novel dan 90 buku motivasi). Analisis dilakukan berdasarkan satuan bahasa berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk frasa paling dominan (159 data), diikuti kalimat (34), klausa (11), dan kata (8). Bentuk frasa dinilai efektif karena bersifat deskriptif dan minim ambiguitas, sedangkan klausa dan kalimat cenderung sulit diterjemahkan tanpa mengubah gaya atau nuansa teks asli. Abstract This study uses a descriptive qualitative approach. The object of this study is the translation of English book titles (SL) and their translations into Indonesian (TL). The aim is to analyze the linguistic forms found in the SL and TL titles. This study is expected to make a significant contribution to English language learning and translation field, especially in the context of translating English book titles into Indonesian. Data collection was carried out through observation and documentation, both online and offline. Data were obtained randomly, resulting in 212 book titles (122 novels and 90 motivational books). Analysis was carried out based on linguistic units in the form of words, phrases, clauses, and sentences. The results show that the phrase form was the most dominant (159 data), followed by sentences (34), clauses (11), and words (8). The phrase form is considered effective because it is descriptive and has minimal ambiguity, while clauses and sentences tend to be difficult to translate without changing the style or nuance of the original text.
The Inheritance System and Functional Changes of Niti Naik Mahligai Dance in Siulak Mukai Tengah, Kerinci Community Jambi Regency Utari, I Dewa Ayu Sri; Abbas, Zaini Bin; Supenida, I Dewa Nyoman
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.49663

Abstract

This study aims to explain the inheritance system and changes the function of dance Niti naik Mahligai community Siulak Middle Mukai Kerinci in Jambi. By using qualitative data, descriptive analytical method used is done with data collection techniques in which there are literature study, observation, interviews, and the data were analyzed. As to analyze the approach of science and art, as well as using multiple inheritance dance theory, change theory, and the theory of functions. The results of the study dance inheritance system Niti naik Mahligai a kinship system vertically as seen from the genetic mechanisms that they have a blood relationship. Besides, the system is legally customary inheritance is matrilineal system according to (maternal lineage). On the other hand changes the function of climbing Niti naik Mahligai dance influenced by modernization, technology, and is also influenced by internal and external factors. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sistem pewarisan dan perubahan fungsi tari Niti Naik Mahligai pada Masyarakat Siulak Mukai Tengah Kabupaten Kerinci Jambi. Dengan menggunakan data kualitatif, Metode yang digunakan deskriptif analitis yang dilakukan dengan teknik pengumpulan data yang didalamnya terdapat studi pustaka, observasi, wawancara, kemudian data yang diperoleh dianalisis. Adapun untuk menganalisis menggunakan pendekatan ilmu budaya, serta menggunakan beberapa teori pewarisan tari, teori perubahan, dan teori fungsi. Hasil penelitian sistem pewarisan tari Niti Naik Mahligai merupakan sistem kekeluargaan secara vertikal yang dilihat dari mekanisme genetik yang masih mempunyai hubungan darah. Selain itu sistem pewarisan secara hukum adat adalah menurut sistem matrilineal (garis keturunan pihak ibu). Disisi lain Perubahan fungsi tari Niti Naik Mahligai dipengaruhi oleh modernisasi, teknologi, dan juga dipengaruhi faktor internal serta eksternal.
Representasi Perempuan dalam Seni Lukis Kontemporer Berbasis Media Cat Air: Kajian Narasi Visual dan Identitas Sanjaya, Jesslyn; Djenmakani, Laurens Enrico; Baene, Basituasi; Ernawan, Erika; Suryana, Wawan
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.50151

Abstract

The power of female figures is often invisible and implied, but in many works of art, women often become symbols of beauty and hidden strength. Identity, existence, and social reflection are often represented in female figures behind the visible visual side. The issue raised is how female figures depicted in visual form can still have a strong visual narrative and identity that supports the visual work. The aim of this research is to reveal the visual form of female figures represented in contemporary art based on watercolor media so that they have a strong visual narrative and identity. The method used is qualitative descriptive with literature studies and analysis of the works of artists who raise the theme of women.  The results show that with personal experience as a woman and comparing with other artists, the representation of female figures can also reveal emotional narratives and complex social identities behind their beautiful and aesthetic visual forms. This paper is expected to provide new insights into the representation of female figures in contemporary art, especially from the perspective of visual narrative and identity. Abstract Kekuatan dari sosok perempuan sering kali tidak terlihat dan tersirat langsung, namun dalam banyak karya seni rupa, perempuan sering menjadi simbol kecantikan sekaligus kekuatan yang terselubung. Identitas, eksistensi, dan refleksi sosial sering direpresentasikan ke dalam sosok perempuan dibalik sisi visual yang terlihat. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana sosok perempuan yang digambarkan ke dalam bentuk visual tetapi memiliki narasi visual dan identitas yang kuat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkapkan wujud visual figur perempuan yang direpresentasikan ke dalam seni kontemporer berbasis media cat air sehingga memiliki narasi visual dan identitas yang kuat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan estetis.  Hasilnya menunjukkan bahwa dengan pengalaman pribadi yang direpresentasikan sebagai wujud visual perempuan dapat memperlihatkan narasi emosional dan juga identitas sosial yang kompleks dibalik bentuk visualnya yang terlihat cantik dan estetis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru tentang representasi figur perempuan dalam seni rupa kontemporer khususnya dari sisi narasi visual dan identitasnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10