cover
Contact Name
Rahmah Murtadha
Contact Email
rahmah.murtadha@student.upi.edu
Phone
+6285337011739
Journal Mail Official
nasrullahstis@gmail.com
Editorial Address
Jl. Gajah Mada, Ling. Nusantara Gang Al-Amin 1 Monggonao Mpunda Kota Bima NTB
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam
ISSN : 24426938     EISSN : 27216829     DOI : 10.61817
Al-Ittihad (p-ISSN 2442-6938) adalah Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam, terbit 2 kali setahun oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Al-Ittihad Bima sejak Tahun 2015. Redaksi menerima tulisan yang berkenaan dengan Pemikiran dan Hukum Islam serta redaksi berhak mengedit tulisan sepanjang tidak mereduksi substansi.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2 (2023): Desember" : 5 Documents clear
KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK DI TINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM SYARIAH ISLAM Baharuddin Baharuddin
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.75

Abstract

Kekerasan sesksual pada anak dewasa ini sangat rentan ditengah kehidupan kita, kekerasan seksual pada anak banyak terjadi dewasa ini, dikarenakan banyaknya factor yang memperngaruhi kekerasan seksual pada anak, banyaknya iming-iming yang diberikan oleh si pelaku untuk memberikan rangsangan atau motivasi pada anak agar si anak mengikuti ajakan si pelaku. Kekerasan sesksual pada anak banyak terjadi dilakukan oleh pelaku yakni orang-orang terdekat kita sendiri, banyak nya factor media pendukung membuat para pelaku mengalihkan hasrat seks nya pada anak-anak yang tak berdosa. Permasalahan dari penelitian ini adalah, sejaumana efektifitas hukuman baik hukuman positif maupun hukuman syariat islam dalam memberikan hukuman kepada pelaku yang melakukan tindakan pelecehan seksual pada anak. Adapun metode penelitian yakni penulis menggunakakn penelitian yang bersifat persuasive approach dalam dalam melakukan pendekatan terhadap baik pelaku maupun si korban terhadap tindak pelecehan sesksual pada anak. Kedsimpulan dalam penelitian ini adalah baik secara hukum positive maupun hokum syariat islam, sangat tidak memberikan toleransi sedikitpun kepada para pelaku tindakan pelecehan seksual pada anak. Kekerasan sesksual pada anak dewasa ini sangat rentan ditengah kehidupan kita, kekerasan seksual pada anak banyak terjadi dewasa ini, dikarenakan banyaknya factor yang memperngaruhi kekerasan seksual pada anak, banyaknya iming-iming yang diberikan oleh si pelaku untuk memberikan rangsangan atau motivasi pada anak agar si anak mengikuti ajakan si pelaku. Kekerasan sesksual pada anak banyak terjadi dilakukan oleh pelaku yakni orang-orang terdekat kita sendiri, banyak nya factor media pendukung membuat para pelaku mengalihkan hasrat seks nya pada anak-anak yang tak berdosa. Permasalahan dari penelitian ini adalah, sejaumana efektifitas hukuman baik hukuman positif maupun hukuman syariat islam dalam memberikan hukuman kepada pelaku yang melakukan tindakan pelecehan seksual pada anak. Adapun metode penelitian yakni penulis menggunakakn penelitian yang bersifat persuasive approach dalam dalam melakukan pendekatan terhadap baik pelaku maupun si korban terhadap tindak pelecehan sesksual pada anak. Kedsimpulan dalam penelitian ini adalah baik secara hukum positive maupun hokum syariat islam, sangat tidak memberikan toleransi sedikitpun kepada para pelaku tindakan pelecehan seksual pada anak.
PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP ADAT MANDI KEMANTIN (PENGANTIN) (Study Kasus Didusun Pringga Sela) Muh. Zaki Hasani
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.104

Abstract

Artikel ini bertujuan bagaimana menjelaskan adat mandi pengantin, yang mana adat ini sudah jarang sekali diungkit, sehingga menyebabkan generasi ayang akan datang akan kehilangan pengetahuan adat yang sudah menhadi taradisi leluhurrnya. Dalam penelitian ini bahwa mandi pengantin dalah alah satu adat masyarak Lombok khususnya suku sasak yang pelaksaannya sangat sacral, yang mana pelaksaan mandi pengantin ini tidak sembarang tempat dilakukan dan tidak sembarang orang yang mendampinginya serta alat alat yang digunakanpun sudah disiapakan oleh para pemangku adat atapun pemangku agama, diaantara alat alat yang digunakan dalam mandi pengantin adalah (reragian, kelapa, kunyit, alas sesekan, poposan dan bokor). Adapun perosesnya tidak seperti mandi biasa harus melalui peroses yang sudah ditentukan, yang pandu oleh pemangku agama atau pemangku adat. Sedangkan relasi antara hukum islam dengan adat, sekalipun adat tidak termasuk dalam sumber pengambian hukum islam, namun banyak para pakar(tokoh) hukum islam mengmabilnya sebagai salah satu yang menjadi pembangun dari hukum islam itu sendiri, karena manusia tidak akan bisa hidup tanpa ada budaya yang melekat pada masing masing masyarakat tersebut. Metode yang digunakan dakam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Dipergunakannya metode ini adalah bertujuan untuk dapatkan pemahaman fenomena secara langsung tentang keberadaan adat Mandi Pengantin, dengan tahapan tahapan daiantaranya: penentuan lokasi, observasi, pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data.
EKSTENSI EKONOMI ISLAM DALAM PERSPEKTIF EKONOMI MILLENIAL SEBAGAI JALAN TENGAH Nasrullah; Abu Bakar
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.112

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi dalam bonus demografi. “Dari 270 juta jiwa penduduk Indonesia, generasi Z mencapai 27,9% dan milennial 25,87%, artinya lebih dari 50% penduduk Indonesia berada di usia yang sangat produktif,” ujar Ventje Rahardjo, Direktur Eksekutif KNEKS, dalam sambutan kunci yang disampaikan di awal acara. Namun, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak terhadap bonus demografi tersebut. Ekstensi ekonomi syariah sedang diuji dalam konteks ekonmi Milennial Muslim sedang mengalami perubahan yang besar dalam perilaku terutama akibat terjadinya pandemi Covid-19,” jelas Yuswohady, Managing Partner Inventure. Yuswohady lanjut menjelaskan bahwa aspek perubahan perilaku muslim terangkum dalam lima aspek, diantaranya aspek Spiritual, Safety Security, Screen, Self Expression, dan Social. Asuransi syariah juga melakukan kampanye dalam peningkatan lima aspek perubahan muslim milennial. “Dengan meningkatkanya keinginan sosial pada muslim milenial, maka asuransi syariah suatu given, karena asuransi syariah sudah halal dengan nilai yang tolong menolong,” ucap Tatang Nurhidayat, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). Nilai given yang dimiliki asuransi syariah perlu dikampanyekan dengan lebih aktif agar dapat mengoptimalkan muslim milennial megashift. Diperlukan kolaborasi dan sinergi bersama untuk mendorong milenial muslim berperan lebih aktif dalam mempercepat terbentuknya ekosistem ekonomi syariah di Indonesia. KNEKS memfasilitasi melalui pengembangan ekosistem yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan ekonomi dan keuangan syariah.
FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN HAK EKONOMI PEREMPUAN PASCA PERCERAIAN DI PERUMAHAN GRIYASEHATI TERONGT RAWAH Sumiati Sumiati
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.113

Abstract

Post-divorce women's economic rights are a significant issue in today's modern society. Divorce is an event that significantly changes the dynamics of women's lives, especially in terms of economic independence. However, there are still inhibiting factors that affect the implementation of women's economic rights after divorce. This study aims to analyze the inhibiting factors that influence the implementation of women's economic rights after divorce. This study uses a qualitative approach by conducting in-depth interviews with divorced women and collecting data from various related sources. The results of the study show that there are several inhibiting factors that affect the implementation of women's economic rights after divorce. First, changes in women's social and economic status after divorce often lead to financial instability. Many women experience decreased income and have difficulty meeting their basic needs. Another factor is gender discrimination in the workplace. Many women face difficulties in finding a decent job after a divorce. They may experience discrimination in terms of salary and promotion, or have difficulty accessing equal career opportunities with men. There is family conflict which is one of the inhibiting factors for the implementation of women's economic rights after divorce. This research provides a deeper understanding of the inhibiting factors that affect the implementation of women's economic rights after divorce. These findings can become a basis for the government and related institutions in designing policies and programs that support women in building economic independence after divorce.
RELEVANSI AJARAN FANA’ DALAM TASAWUF ISLAM DAN NIBBANA DALAM AJARAN BUDDHISME Bimba Valid Fathony; Nurhanipah Harahap
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.122

Abstract

In pursuing spiritual practice each person has a goal that must be achieved. In Islamic Sufism there is the term mortal 'which is the elimination of all forms of lust and despicable traits in humans. This is the same as the concept of Nibbana contained in the teachings of Buddhism, Nibbana is pursued by the practice of curbing greed (lobha), hatred (dosa) and delusion (moha). Nibbana is basically a state of self-freedom from spiritual defilements that cause suffering and misery. The purpose of this study is to find out how the Relevance of the Teachings of Fana' in Islamic Taswuf and Nibbana in the Teachings of Buddhism. The method in this research is qualitative, library research. This discussion includes the notion of mortal teachings, the meaning of Nibbana/Nirvana and finally, the Relevance of Mortal Teachings in Islamic Sufism and Nibbana in Buddhism. The results of this study explain that the two teachings both emphasize the aspect of purifying the human soul from all despicable traits. The conclusion of this study, each of the teaching concepts brought either mortal or Nibbana in Islamic Sufism and the teachings of Buddhism are both teachings that lead to the highest peak of morality of the human soul.

Page 1 of 1 | Total Record : 5