cover
Contact Name
Moh. Zainol Kamal
Contact Email
tafhimilmi@gmail.com
Phone
+6281936427791
Journal Mail Official
tafhimilmi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
Tafhim Al-'Ilmi : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
ISSN : 22524924     EISSN : 25797182     DOI : 10.37459
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Tafhim Al-‘ilmi merupakan jurnal ilmiah dengan terbitan berkala setiap enam bulan yang diterbitkan dengan menggunakan peer review. Jurnal ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil telaah pustaka dan penelitian yang telah dilakukan para akademisi dengan bidang kajian pendidikan dan pemikiran keislaman dalam bentuk artikel ilmiah
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018" : 9 Documents clear
MENELUSURI KONSEP MODERNITAS DALAM DINAMIKA PEMIKIRAN Achmad effendi
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3240

Abstract

This paperentitled “Tracing the concept of modernity in the Dynamics of Thought”. Modernity is a historicalphenomenon and it is always interesting to be discussed, as it relates to the past, the present and the future.This paper traces characteristic of modernity in evolving of thought. The emergence of modernity since the16th century is characterized by the philosophical ideas that are different from the previous period that reasonhave a high position and avoid dependence on religion. The characteristics of modern humans from the timeis they who are able to think himself with scientific and rational. Something beyond reason and the physical isa myth and fantasy. While modernity in contemporary Islamic thought related with the intellectual awakening ofIslam, that is reformulating the perspective of Muslims to the principal teachings of Islam and eliminatingtaqleed and ta’sub.Key Word: Modernitas, Dinamika Pemikiran, Perspektif Muslim AbstrakTulisan ini berjudul “Menelusuri konsep modernitas dalam Dinamika Pemikiran”. Modernitas adalah fenomenahistoris dan selalu menarik untuk didiskusikan, karena berkaitan dengan masa lalu, masa kini dan masadepan. Makalah ini menelusuri karakteristik modernitas dalam evolusi pemikiran.Kemunculan modernitassejak abad ke-16 dicirikan oleh ide-ide filosofis yang berbeda dari periode sebelumnya yang alasannyamemiliki posisi tinggi dan menghindari ketergantungan terhadap agama.Ciri-ciri manusia modern sejak saatitu adalah mereka yang mampu berpikir tentang dirinya secara ilmiah dan rasional.Sesuatu di luar nalar danfisik adalah mitos dan fantasi.Sedangkan modernitas dalam pemikiran Islam kontemporer terkait dengankebangkitan intelektual Islam, yaitu merumuskan kembali perspektif umat Islam terhadap ajaran utama Islamdan menghilangkan taklid dan ekstrim.Kata Kunci: Modernitas, Dinamika Peikiran, Perspektif Muslim
RADIKALISME AGAMA DALAM PERMAINAN BAHASA: (Perspektif Language Games Ludwig Wittgenstein) Achmad Bahrur Rozi
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3242

Abstract

All religion have different expressions in articulating the truth of their teachings. The differences occur not onlyamongst different religions, but also in school of thoughts, sects, and ideologies in the same religion. Thismeans that the use of religious language amongst the groups is not necessarily lead to one goal and to thesame meaning. This paper aims to examine the use of religious language from the perspective of its usageusing ordinary language philosophy approach (language philosophy) or more specifically known as languagegames intiated by the Austrian-born philosopher Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889). Such study is veryimportant to compenstate for current analysis which tends to be empirical-positivistic. This trend emphasizesthe pragmatic aspects of the language than the grammatical aspect. Thus, in the context of religious language,one the same language of riligous language is used not for one purpose only. This means that there is no onlyone way for religious sentences to gain the meaning, but it can discribe some realities depending on the users.Key Word: Language, Bahasa Agama, Makna AbstrakSemua agama memiliki ekspresi berbeda dalam mengartikulasikan kebenaran ajarannya. Cara pengungkapanyang berbeda ini bahkan tidak hanya terjadi antar-agama yang berbeda, tetapi terjadi juga dalam aliran,mazhab, dan ideology dalam satu agama yang sama. Artinya bahwa penggunaan bahasa agama antarkelompokbelum tentu megarah pada satu sasaran makna yang sama. Tulisan ini bertujuan mengkaji bahasaagama dari perspektif penggunaannya melalui pendekatan filsafat bahasa biasa (language philosophy) ataulebih spesifik dikenal dengan language games yang digagas oleh filsuf kelahiran Austria, Ludwig Josef JohannWittgenstein (1889). Studi semacam ini dipandang sangat penting guna mengimbangi analisis yang selama inicenderung empiris-positivistik. Kecenderungan ini menekankan bahasa pada aspek pragmatic daripada aspekgramatikalnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan dalam konteks bahasa agama, bahwa satu bahasa yangsama dari bahasa agama dipakai tidak hanya untuk satu tujuan saja. Ini artinya bahwa pernyataan-pernyataanagama tidak mendapatkan maknanya dengan satu cara saja, tetapi bisa menggambarkan beberapa relaitasmenurut aturan main si pemakainya.Kata Kunci: Language, Bahasa Agama, Makna
PENDIDIKAN ISLAM ERA RASULULLAH SEBAGAI REFLEKSI PENDIDIKAN ISLAM KEKINIAN Muhammad Amin
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3243

Abstract

The Islamic education in the era of Rasulullah was known as an ideal Islamic education even though it wascarried out in circumstances and limitations. Islamic education in the era of Muhammad has proven successfulin giving birth to a golden generation in the Islamic world. This is inversely proportional to contemporary Islamiceducation which with various facilities and adequate learning media has given birth to some individuals whoembarrass the Islamic world itself. This paper aims to reflect on the era of the Prophet’s education to improvethe current state of Islamic education, ranging from educational institutions, educational goals, educationmethods to Islamic education material itself. With the hope of minimizing corruption and immoral acts committedby individuals who are alumni of Islamic education institutions and can revive the marwah of Islamic educationin the proper and proper position as aspired by the Prophet.Key Word: Pendidikan Islam, Era, Refleksi, Kekinian AbstrakPendidikan Islam di era Rasulullah dikenal sebagai pendidikan Islam yang ideal walaupun dilaksanakan dalamkeadaan serta keterbatasan. Pendidikan Islam era Rasulullah telah terbukti berhasil melahirkan generasi emasdalam dunia Islam. Hal itu berbanding terbalik dengan pendidikan Islam kekinian yang dengan berbagai fasilitasdan media pembelajaran yang memadai telah melahirkan beberapa oknum yang membuat malu dunia Islam itusendiri. Tulisan ini bertujuan untuk merefleksikan pendidikan era Rasulullah untuk memperbaiki keadaan duniapendidikan Islam kekinian, mulai dari lembaga pendidikan, tujuan pendidikan, metode pendidikan sampai padamateri pendidikan Islam itu sendiri. Dengan harapan dapat meminimalisir tindakan korupsi dan asusila yangdilakukan oleh oknum yang merupakan alumni lembaga pendidikan Islam dan dapat mengangkat kembalimarwah pendidikan Islam pada posisi yang seharusnya dan selayaknya sebagaimana yang dicita-citakanRasulullah.Kata Kunci: Pendidikan Islam, Era, Refleksi, Kekinian
INTERFERENSI GRAMATIKAL BAHASA MADURA TERHADAP PERCAKAPAN BAHASA ARAB SANTRI: Studi Kasus Anggota Syu’bah Al-Lughah Al-Arabiyah “SLA” Daerah Lubangsa Putri PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura Sri Wahyuni
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3244

Abstract

The present study deals with Madura interference in Arabic. It aims at giving a thick explanation aboutgrammatical interferencewhich especially exists in Arabic conversation member for Syu’bah al-Lughah al-‘Arabiyah. The data consist of word, phrase, clause, and sentencescontaining interference.There were 8example collected as data which were analyzed using error analysis framework and sociolinguistic perspective.The research findings show that there were four types of grammatical interference: the form of word, phrase,clause, and sentences.The study also shows that the interference was due to two factors: the bilinguality ofspeakerand the tendency of transferring old linguistic behavior in the new one (from Madura to Arabic).whichbasically due to the writers’ constrains in Arabic grammatical.Key Word: language interference, grammatical interference, causes of interference AbstrakPenelitian ini berkaitan dengan interferensi bahasa Madura dalam bahasa Arab. Tujuan penelitian ini adalahuntuk memberikan penjelasan tentang interferensi gramatikal yang ditemukan dalam percakapan bahasa Arabsantri anggota Syu’bah al-Lughah al-‘Arabiyah. Data terdiri dari kata, frasa, klausa dan kalimat yang mengandunginterferensi.Ada 8 contoh dikumpulkan sebagai data yang dianalisis menggunakan kerangka analisis kesalahanpespektif soiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan ada empat jenis interferensi gramatikal: yang berupa kata,frasa, klausa dan kalimat. Faktor yang berkontribusi pada interferensi gramatikal ini adalah bilingualitas seorangpenutur dan kecendrungan mentransfer perilaku linguistik yang lama pada perilaku baru (dari bahasa Madurake bahasa Arab).Pada dasarnya ini semua karena dikarenakan oleh penutur terhadap gramatikal bahasaArab.
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER Musleh Wahid
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3245

Abstract

Education is a systematic process in which each component has a very important meaning for the success ofeducation. This view of the educational process as a system then underlies the educational design (instructionaldesign) as a system. This paper seeks to find solutions to education levels. The gap in this paper must be basedon what must be formed in students, it is necessary to do a careful calculation by conducting mature experimentsto find new truth facts in order to review the level of education that has been guided. The principle and value ofIslamic education should return to the original source. Namely: Qur’an, Hadith, Ijtihad Ulama, Fuqaha andMujahidin. With this all, the world of education will not come out of the tracks and values that have been outlined.Key Word: Pendidikan, Sistem, Nilai AbstrakPendidikan merupakan suatu proses yang sistematis di mana setiap komponen memiliki arti yang sangat pentinguntuk keberhasilan pendidikan. Pandangan tentang proses pendidikan sebagai sistem inilah yang kemudianmendasari rancangan pendidikan (instructional design) sebagai sebuah sistem. Tulisan ini berusaha mencarisolusi terhadap penjenjangan pendidikan. Penjenjangan dalam tulisan ini haruslah didasarkan pada apa sajayang harus dibentukkan pada anak didik, perlu melakukan perhitungan secara seksana dengan melakukaneksperimen yang matang untuk menemukan fakta-fakta kebenaran baru dalam rangka meninjau kembalipenjenjangan tingkat pendidikan yang selama ini dipedomani. Seharusnya prinsip dan nilai pendidikan Islamkembali ke sumber aslinya. Yaitu: Qur’an, Hadis, Ijtihad Ulama, Fuqaha dan Mujahidin. Dengan hal ini semua,dunia pendidikan tidak akan keluar dari rel-rel dan nilai-nilai yang sudah digariskan.Kata Kunci: Pendidikan, Sistem, Nilai
ZAKAT KONSUMTIF DAN ZAKAT PRODUKTIF Safradji Safradji
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3246

Abstract

Zakat is an annual tithe on one’s weath on possessions and is one of Islamic’s obligations and one of its five mainpillars. The Prophet Muhammad PBUH said: “Islam was bult upon five pillars: to witness that there is not god butAllah and that Muhammad is His serveant and messenger, performing prayer, giving alms (Zakat), performingthe pilggrimge, and fasting the month of Ramadan.” (Sahih al-Bukhari). The benefits of zakat is 1. SatisfyingAllah SWT and gaining His pleasure and them gaing Paradise in the Hereafter, as the duty of paying zakat is akind of worship ordered by Allah SWT. 2. Purifying the heart from the love of material. 3. Protecting the societyfrom crime as the poor people would be satisfied by what the rich peole pay to them. 4. Uniting the society wherethe poor feel the brodherhood with the rich and vice versa.Key Word: Zakat of konsumtive, Zakat of productive AbstrakZakat adalah kewajiban tahunan terhadap seseorang yang memiliki harta dan merupakan salah satu kewajibanIslam dan salah satu dari lima pilar utamanya. Nabi Muhammad saw mengatakan: “Islam adalah salah satu pilardari lima pilar: yaitu, menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabi danutusan-Nya, melakukan sholat, memberikan sedekah (Zakat), menunaikan haji, dan berpuasa bulan Ramadan.“(Sahih al-Bukhari). Manfaat zakat adalah 1. Melaksanakan perintah Allah SWT dan mendapatkan rido-Nya danuntuk mendapatkan surga di akhirat kelak. Sebagai kewajiban, membayar zakat adalah jenis ibadah yangdiperintahkan oleh Allah SWT. 2. Memurnikan hati dari kecintaan terhadap materi. 3. Melindungi masyarakat darikejahatan karena orang miskin akan senang dengan apa yang orang kaya tunaikan kepada mereka. 4.Menyatukan masyarakat di mana orang miskin merasakan yang dirasakan orang kaya, begitu juga sebaliknya.Kata Kunci: Zakat Konsumtif, Zakat Produktif
PENDIDIKAN AKHLAK: DASAR PEMBINAAN MORAL GENERASI BANGSA Edyanto Edyanto
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3247

Abstract

Moral education is seen as part of national education goals. Moral education is considered as the first step indirecting students to a better path. This assessment is very realistic, considering the condition of students todayis increasingly alarming. Even though they are in an educational institution, students prefer to be uneducated.Some of them are trapped in various social crimes. Starting from criminal, criminal and other crimes. Thisappalling condition is a reflection for all parties, especially education practitioners. Education practitionersconsider it important to find alternative ways to improve this educational condition. There are educationaldirections and missions that are uprooted due to the temptations of the times. Thus, moral or moral educationwhen a situation like this is considered to be the answer to this problem.Key Word: Pendidikan, Akhlak, Moral Bangsa AbstrakPendidikan akhlak dipandang sebagai bagian tujuan pendidikan nasional. Pendidikan akhlak dinilai sebagailangkah awal dalam mengarahkan anak didik ke jalan yang lebih baik. Penilaian ini sangat realistis, mengingatkondisi pelajar dewasa ini semakin memprihatinkan. Meskipun berada di dalam lingkungan lembaga pendidikan,namun anak didik lebih suka menjadi oknum yang tidak terdidik. Sebagian dari mereka terjebak dalam berbagaikejahatan sosial. Mulai dari tindak pidana, kriminal dan kejahatan lainnya. Kondisi yang memprihatinkan inimenjadi bahan renungan bagi semua pihak lebih-lebih para praktisi pendidikan. Para pemerhati praktisi pendidikanmenganggap penting dalam mencari jalan alternatif untuk membenahi kondisi pendidikan ini. Ada arah dan misipendidikan yang tercerabut akibat godaan zaman. Maka, pendidikan moral atau akhlak di saat situasi seperti inidianggap akan menjadi jawan persoalan ini.Kata Kunci: Pendidikan, Akhlak, Moral Bangsa
Pemikiran dan Perjuangan Kiai Ahmad Ghazali Salim dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Madura Moh. Anwar
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3248

Abstract

The purposes of this study are, first describing and analyzing the thought and effort of KH. Ahmad Ghazali Salimin Arabic learning in Madura. Second, describing and analyzing the methods used by KH.Ahmad Ghazali Salimin that Arabic learning in Madura. This study uses qualitative analysis research with exponent study approach,and the collection of data is conducted by interview, observation and documentation, all of which are used toanswer the problems of thought and effort of KH. Ahmad Ghazali Salim in Arabic learning in Madura.in this study,researcher found several findings of KH. Ghazali Ahmad Salim’s thought, effort and methode in Arabic learning.(1) The effort that conducted by KH. Ahmad Ghazali Salim in Arabic learning are; establishing the developmentbases of Arabic language in some islamic boarding schools, establishing his own islamic boarding school whichis specialized in the development of Arabic and islamic studies in Madura namedMa’had Darul -lughah Wa Al -Dirasat Al - Islamiyah, teaching Arabic language in various cottages and Universities in Madura. (2) KH. AhmadGazali Salim’s thought in Arabic language learning is, that his thought is original and accordance with the views ofmodern learning theories, especially behaviorism theory that emphasizes the external aspects of learners bycreating an arabic environment, giving stimulus and response to them, also kognitifisme learning theories thatemphasizes the internal aspects of the students that realized by providing subject matter intensively through thelearning process that involves an element of sense (cognitive) to digest and understand the subject matter. (3) Themethod applied by KH. A. Gazali Salim in Arabic learning includes four skills, namely; listening, speaking, readingand writing skills, that accordance with the Arabic popular learning methods that can be found in the book oflearning methods explained by the Arabic learning method experts.Key Word: KH. A. Gazali Salim, Thought, Struggle and Arabic Language AbstrakAdapun tujuan dari penelitian ini, Pertama, mendeskripsikan dan menganalisis pemikiran dan usaha KH. AhmadGazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madura. Kedua,mendeskripsikan dan menganalisis metodeyang digunakan oleh KH. Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madura. Penelitian inimenggunakan penelitian analisis kualitatif dengan pendekatan studi tokoh, dan pengumpulan datanya dilakukandengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi, yang semuanya digunakan untuk menjawabpermasalahn tentang pemikiran dan usaha KH. Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab diMadura.Dalam penelitian ini peneliti menemukan beberapa temuan tentang pemikiran, usaha dan metode KH.Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab. (1) Adapun usaha yang dilakukan beliau lakukan ;mendirikan markas pengembangan bahasa arab di beberapa pondok pesantren di Madura, Mendirikan pondokpesantren sendiri yang khusus dalam pengembangan Bahasa Arab dan Kajian–Kajian Ke-Islaman,mengajarBahasa Arab diberbagai Pondok-Pesantren dan Perguruan Tinggi di Madura. (2) Adapun Pemikiran KH.Ahmad Gazali Salim dalam pembelajaran Bahasa Arab adalah, bahwa pemikiran beliau merupakan pemikiranyang orisinil dan sesuai dengan pandangan teori-teori pembelajaran modern terutama teori pembelajaranbehaviourisme yang menekankan pada aspek eksternal pembelajar dan teori pembelajaran kognitifisme yangmenekankan pada aspek internal siswa (3) Adapun metode yang diterapkan KH. A. Gazali Salim dalam pembelajaranBahasa Arab sangat sesuai dengan metode-metode pembelajaran Bahasa Arab yang populer dan terdapatdalam buku-buku metode pembelajaran yang ditulis oleh para pakar metode pembelajaran Bahasa Aarab.Kata Kunci: KH. A. Gazali Salim, Pemikiran, Perjuangan dan Bahasa Arab
NILAI-NILAI SUFISTIK DALAM QASIDAH “AGHIBU” KARYA SYAIKH ABDURRAHIM BIN MUHAMMAD WAQI'ULLAH Al-BAR'I AL-YAMANI Uswatul Jannah
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 10 No. 1 (2018): 30 September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB) | DOI: 10.37459/tafhim.v10i1.3249

Abstract

The research entitled Sufistic Values in the Qasidah "Aghibu" of Shaykh Abdurrahim bin MuhammadWaqi'ullah Al-Bar'i Al-Yamani departs from an academic anxiety and anomaly about a famousqasidah entitled Aghibu which is often screened in various mosques in Surabaya . But, the audiencedoes not know and understand its meaning, let alone the poet himself. The people in theneighborhood are more familiar with the famous singer of this qasidah, namely Misyari Rasyid Al-Afasy and the Naqshabandi Tariqa group. These various problems led the Researcher to study moreabout the Aghibu qasidah starting from any theme that was carried in it, as well as revealing thevarious messages and sufistic values contained in the qasidah. To achieve these objectives, theresearcher used a descriptive-qualitative method with an intrinsic approach, namely Sufistic literature.Sufistic literature is a part of pure art that deals with transcendental and divine problems, so that itoriginates in the reality of life which cannot be explained through rational logic understanding (‘amrulghaib). According to researchers, this is in line and in accordance with the Aghibu qasidah which isladen with divine meanings and is a representation of the reality of sufism life. The results showedthat the big theme raised by Aghibu was pure servitude to Allah SWT. and make Him the center of allaction. Therefore this qasidah contains sufistic values which must be passed by a salik in trainingspiritual sensitivity through the attitude of (a) khauf and roja '; (b) syukur; (c) taubat; (d) muraqabah,(e) dawamus shalah, (f) husnuddzan billah: (g) dzikrullah; and (h) mahabbah.Keyword: Sufistic Literature, Sufistic Values, Qasidah Aghibu AbstrakPenelitian berjudul Nilai-nilai Sufistik dalam Qasidah “Aghibu” Karya Syaikh Abdurrahim binMuhammad Waqi’ullah Al-Bar’i Al-Yamani ini berangkat dari sebuah kegelisahan akademis dankeganjilan tentang satu qasidah berjudul Aghibu yang terkenal dan sering diputar di berbagai masjiddi Surabaya, namun para penikmatnya justru tidak paham dan mengerti maknanya, apalagi untukmengenal penyairnya sendiri. Masyarakat di lingkungan tersebut lebih mengenal munsyidnya yaituMisyari Rasyid Al-Afasy dan kelompok thariqah Naqsyabandi. Berbagai persoalan tersebutmengantarkan Peneliti untuk mengkaji lebih lanjut tentang qasidah Aghibu dimulai dari tema apa sajayang diusung di dalamnya, serta menguak berbagai pesan dan nilai-nilai sufistik yang terkandungpada qasidah tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, Peneliti menggunakan metode deskriptifkualitatifdengan pendekatan intrinsik yaitu sastra sufi. Sastra sufi adalah bagian dari seni murni yangberkenaan dengan transedental dan masalah-masalah ketuhanan, sehingga ia bersumber padarealitas kehidupan yang tidak dapat dijelaskan melalui pemahaman logic rasional (‘amrul ghaib).Hemat peneliti, hal ini selaras dan sesuai dengan qasidah Aghibu yang sarat dengan maknaketuhanan dan merupakan representasi dari realitas kehidupan sufisme. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tema besar yang diangkat Aghibu adalah penghambaan murni pada Allah SWT.dan menjadikan Dia sebagai pusat segala tindakan. Maka dari itu qasidah ini mengandung nilai-nilaisufistik yang harus dilalui seorang salik dalam melatih sensitifitas ruhani melalui sikap (a) khauf danroja’; (b) syukur, (c) taubat; (d) muraqabah, (e) dawamus shalah, (f) husnuddzan billah: (g) dzikrullah;dan (h) mahabbah.Kata Kunci: Sastra Sufistik, Nilai Sufistik, Qasidah Aghibu

Page 1 of 1 | Total Record : 9