cover
Contact Name
Junaidi, S.Pd., M.Pd.
Contact Email
junaidi88@unram.ac.id
Phone
+6281917785594
Journal Mail Official
mandalika.jurnal.fkip@gmail.com
Editorial Address
l. Majapahit No. 62 Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia Lantai 2 gedung E, Program Studi S1 Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mandalika Mathematics and Educations Journal
Published by Universitas Mataram
ISSN : 27158292     EISSN : 27151190     DOI : 10.29303/jm
Core Subject : Education,
Mandalika Mathematics and Education Journal adalah Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika yang dikelola oleh Program Studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mataram. Fokus dan ruang lingkup dari jurnal ini adalah artikel ilmiah baik berupa hasil penelitian, review artikel maupun kajian pustaka khusus bidang Matematika dan Pendidikan Matematika.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember" : 7 Documents clear
Identifikasi Tipe Berpikir Peserta Didik dalam Memecahkan Masalah Matematika Kusumo, Muji Haryo; Suliani, Mega
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1752

Abstract

This study aims to identify the types of students’ thinking in solving mathematical problems in terms of mathematical abilities between high, medium, and low. The method that used in this research is a descriptive qualitative approach. Data is obtained from the results of written tests and interviews. The subjects of the study six students consisting of two high-capacity students, two medium-capacity students and two low-ability students in grades VIII-5 at SMPN 5 Tarakan, North Kalimantan. The data analysis was done of triangulation data using document analysis results and analysis of interview transcripts. The results of the study indicate that there are differences in the types of thinking of high, medium and low ability students. In this type of high-ability learners thinking in problem solving using a type of conceptual thinking that is the type of thinking that the way to solve the problem using a concept that has been owned of learning outcomes. While the type of thinking learners medium and low ability to solve problems that no decision could be made, because the indicator filled not located on the same kind of thought process.Abstrak   Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe berpikir peserta didik dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari kemampuan matematika diantara tinggi, sedang, dan rendah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang berjenis deskriptif. Data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan wawancara. Subjek penelitian adalah enam orang peserta didik terdiri dari dua peserta didik berkemampuan tinggi, dua peserta didik berkemampuan sedang dan dua peserta didik berkemampuan rendah pada kelas VIII-5 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Tarakan, Kalimantan Utara. Analisis data yang dilakukan yaitu triangulasi data dengan menggunakan hasil analisis dokumen dan analisis transkrip wawancara. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada tipe berpikir peserta didik berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Pada tipe berpikir peserta didik berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan masalah menggunakan tipe berpikir konseptual yaitu tipe berpikir yang cara menyelesaikan masalah menggunakan konsep yang telah dimiliki dari hasil belajar. Sedangkan pada tipe berpikir peserta didik berkemampuan sedang dan rendah dalam menyelesaikan masalah yaitu tidak dapat diambil keputusan, karena indikator yang dipenuhi tidak terletak pada satu jenis proses berpikir yang sama.
Optimizing Jigsaw Type of Cooperative Learning Model to Improve Students' Mathematical Self-Confidence Guntur, Muhamad Ikhsan Sahal; Anggraini, Seftika; Rosnawati, Raden
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1773

Abstract

This research is motivated by the low self-confidence of students in the learning process at SMAN 1 Ngemplak where the students who were respondents were 35 students consisting of 22 female students and 13 male. The solution given is using a cooperative learning model with jigsaw type. Based on the evaluation of cycle I obtained an average value of 61.71 with a percentage of mastery learning 57%. The highest score obtained by students is 80 and the lowest score is 40. Whereas for giving a confidence questionnaire in pre-cycle is 66.63  in the medium category and after cycle I it increases to 80.17 but still in the medium category. The results obtained in the first cycle are still quite good or have not been fulfilled. Based on the results of the second cycle evaluation, the average is obtained 75.57 and 89% completeness learning increased from 57% previously. In addition, an increase in student confidence was also seen from the comparison of the results of the assessment questionnaire in pre-cycle, cycle I and cycle II, which initially 66.63 became 80.17 and ended 86.80. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kepercayaan diri siswa dalam proses pembelajaran di SMAN 1 Ngemplak dimana siswa yang menjadi responden adalah 35 siswa yang terdiri dari 22 siswa perempuan dan 13 laki-laki. Solusi yang diberikan adalah menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw. Berdasarkan evaluasi siklus I diperoleh nilai rata-rata 61,71 dengan persentase ketuntasan belajar 57%. Skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 80 dan skor terendah adalah 40. Sedangkan skor kepercayaan diri pada pra siklus adalah 66,63 yang berada pada kategori sedang. Setelah dilakukan siklus I, skor kepercayaan diri meningkat menjadi 80,17 tetapi masih dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil evaluasi siklus II, diperoleh nilai rata-rata 75,57 yang sebelumnya adalah 61,71. Ketuntasan belajar pada akhir siklus II adalah 89% yang meningkat dari 57% pada akhir siklus I. Selain itu, peningkatan kepercayaan diri siswa juga terlihat dari perbandingan hasil angket penilaian pada pra siklus, siklus I dan siklus II, yang awalnya 66,63 menjadi 80,17 dan berakhir 86,80.  
Penerapan Jigsaw untuk Prestasi Belajar SMA Kelas XI pada Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers Hasanah, Nurul
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1779

Abstract

This study aims to improve mathematics learning achievement in the material composition function and inverse function through the application of the jigsaw method to students of class XI IPA SMAN 1 Batulayar. This type of research is a classroom action research model cycle. The focus of research is the application of jigsaw method and learning achievement. The research subjects were 12th grade students of Natural Sciences. Data collection using observations and tests and research data analyzed descriptively. The results of the study are mathematics achievement in the material composition function and inverse function increased through the application of jigsaw method in class XI IPA SMAN 1 Batulayar. The first cycle of the average observation of students activity in the moderately active category (17.67) and observation of the teacher's activity in the active category (18.33) while the mathematics learning achievement in the sufficient category (74.01) but had not yet reached the specified learning completeness category. The second cycle of observation of students activities increased to active categories (22.50) and observations of teacher activities were very active (24.00) while mathematics learning achievements became good categories (81.70). Improving student achievement through the application of jigsaw method is supported by an increase in student learning activities, in form of: active listening to teacher explanations in series, working together in the original group and expert groups, presenting the results of group work, and concluding material about the composition and inverse functions.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers melalui penerapan metode jigsaw pada siswa kelas XI IPA SMAN 1 Batulayar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas model siklus. Fokus penelitian adalah penerapan metode jigsaw dan prestasi belajar. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA sebanyak 12 orang. Pengumpulan data menggunakan observasi dan tes dan data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian adalah prestasi belajar matematika pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers meningkat melalui penerapan metode jigsaw di kelas XI IPA SMAN 1 Batulayar. Siklus pertama rata-rata observasi aktifitas siswa pada kategori cukup aktif (17,67) dan observasi aktifitas guru pada kategori aktif (18,33) sedangkan prestasi belajar matematika pada kategori cukup (74,01) tetapi belum mencapai kategori ketuntasan belajar yang ditetapkan.Siklus kedua observasi aktifitas siswa meningkat menjadi kategori aktif (22,50) dan observasi aktifitas guru sangat aktif (24,00) sedangkan prestasi belajar matematika menjadi kategori baik (81,70). Peningkatan prestasi belajar siswa melalui penerapan metode jigsaw di dukung oleh peningkatan aktifitas belajar siswa, berupa : keaktifan menyimak penjelasan guru secara runtun, bekerja sama dalam kelompok asal dan kelompok ahli, mempresentasikan hasil kerja kelompok, dan menyimpulkan materi tentang fungsi komposisi dan fungsi invers.
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMP Setiawati, Putri; Prayitno, Sudi; Subarinah, Sri
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1671

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together terhadap kemampuan komunikasi matematika siswa SMP. Jenis Penelitian ini adalah true eksperimental  dengan desain post test only control design. Populasi dalam penelitan ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang terdiri dari lima kelas. Sampelnya adalah siswa kelas VIII A dan VIII B yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar observasi untuk melihat keterlaksanaan model pembelajaran yang digunakan dan soal tes yang terdiri dari 3 soal untuk melihat kemampuan komunikasi matematika siswa. Hasil dari lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran adalah pada pertemuan pertama untuk keterlaksanaan langkah-langkah pembelajarannya mencapai  83% dan pada  pertemuan kedua mencapai 100 %.  Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji t, hasilnya thitung> ttabel, sehingga dapat dikatakan siswa yang menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together memiliki kemampuan komunikasi matematika berbeda dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran langsung. Rata-rata hasil post test kemampuan komunikasi matematika siswa kelas eksperimen sebesar 70,03 lebih baik dari rata-rata hasil post test kemampuan komunikasi matematika siswa kelas kontrol yaitu 64,55. Hal ini menunjukkan ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together terhadap kemampuan komunikasi matematika siswa SMP.
Hyphotetical Learning Trajectory: Pemecahan Masalah Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Rezky, Raizal; Jais, Ernawati
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1780

Abstract

One of the goals of mathematics learning mentioned by NCTM is to become a mathematical problem solver. This indicates that students who study mathematics will have problem-solving abilities. In solving problems the things that need to be considered in learning are more about the process than the final result. If the final answer is emphasized, students can only learn one particular problem Furthermore, the important mathematical material is a two-variable linear equation system because the learning process in SPLDV requires good mastery of the material in problem solving, so from here it is necessary to design learning in order to formulate precisely the learning patterns that will be carried out by the teacher to students. This research uses design research method at the preliminary design stage which is arranged by considering students' ability to solve a mathematical problem at SMPN 1 Sampolawa, because each student has a different way of thinking between one student and another student. The flow of students' thinking that might appear in learning is called the hypothetical learning trajectory. In this article will explain the Hypothetical Learning Trajectory (HLT) in students' problem solving activities material systems of linear equations of two variables.AbstrakSalah satu tujuan pembelajaran matematika yang disebutkan oleh NCTM yakni menjadi problem solver matematika. Hal ini mengindikasikan siswa yang mempelajari matematika akan memiliki kemampuan pemecahan masalah. Dalam memecahkan masalah hal yang perlu diperhatikan dalam belajar adalah lebih mengutamakan proses dari pada hasil akhir. Jika jawaban akhir yang ditekankan maka siswa hanya dapat belajar satu masalah tertentu Selanjutnya materi matematika yang penting adalah sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) ini dikarenakan proses pembelajaran pada SPLDV memerlukan penguasaan materi yang baik dalam pemecahan masalah, sehingga dari sini diperlukan desain pembelajaran agar dapat merumuskan secara tepat pola pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru kepada siswa. Penelitian ini menggunakan metode design research pada tahap preliminary design yang disusun dengan mempertimbangkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah matematika di SMPN 1 Sampolawa, karena tiap siswa memiliki cara berpikir yang berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lain. Alur berpikir siswa yang mungkin muncul dalam pembelajaran dinamakan dengan hipotesis lintasan belajar atau hypothetical learning trajectory. Dalam artikel ini akan memaparkan Hypothetical Learning Trajectory (HLT) dalam kegiatan pemecahan masalah siswa materi sistem persamaan linear dua variabel.
Pengaruh Lingkungan Belajar, Motivasi Belajar dan Kemandirian Belajar terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPA SMAN 9 Pangkep Halim, Siti Nur Humairah; Rahma, Rahma
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1777

Abstract

This study aims to study the influence of learning environment, learning motivation and learning independence of the learning outcomes of students of class XI IPA SMAN 9 Pangkep. This type of research is ex-post facto research. The sample in this study was class XI IPA 1 and XI IPA 2 with a total of 69 students. The results showed that the partial way is positive and significant influence of learning environment on the learning outcomes about 14%, positive and significant influence learning motivation towards the mathematics learning outcomes about 34% and learning independence had a positive effect and significant to the learning outcomes about 32%. Meanwhile, learning environment, learning motivation and learning independence had positive and significant impacts together on the mathematics learning outcomes of students of class XI IPA of SMAN 9 Pangkep with a coefficient of determination R2 = 0.50 that supports environmental learning, motivation learning and independent learning supports 50% of the learning outcomes of students of class XI IPA at SMAN 9 Pangkep.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar, motivasi belajar dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 9 Pangkep. Jenis penelitian ini adalah penelitian ex-post facto. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 dengan jumlah total 69 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial lingkungan belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar matematika sebesar 14%, motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar matematika sebesar 34% dan kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar sebesar 32%. Sedangkan secara simultan lingkungan belajar, motivasi belajar dan kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 9 Pangkep dengan koefisien determinasi R2 = 0,50 yang berarti lingkungan belajar, motivasi belajar dan kemandirian belajar memberi pengaruh sebesar 50% terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 9 Pangkep. 
Meningkatkan Self Efficacy Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Misnasanti, Misnasanti; Jailani, Jailani
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 2 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v2i2.1781

Abstract

AbstractThe low mathematics self efficacy of junior high school students and the infrequency of teachers using learning models that can enhance students 'self efficacy in learning mathematics encourage researcher to conduct classroom action research aimed to increase students' mathematics self efficacy and to improve the quality of mathematics learning through NHT type of cooperative learning model. The population was all students of grade VII SMP 12 Yogyakarta and sample was students of class VII-D. Data collected by questionnaire, observation, field notes and tests. This research was said to be successful if the students' self-efficacy increase with moderate criteria reached 33.33% and the high criteria reached 53%. Learning was said to be successful if there were at least 75% of students who complete with a passing grade minimal 75. Learning worked well when the learning process reached 90%. The results showed that learning using the NHT learning model can improve students' mathematics self efficacy. The average score of students' mathematics self efficacy questionnaire obtained from student questionnaire data has increased in each cycle. The implementation of learning has increased from cycle I which showed an average of 74% to cycle II with an average of 93%. Cognitive test results obtained indicate an increase in cognitive test results from cycle I to cycle II. AbstrakMasih rendahnya self efficacy  matematika siswa SMP dan masih jarangnya guru menggunakan model pembelajaran yang dapat menumbuhkan dan meningkatkan self efficacy siswa dalam belajar matematika mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan self efficacy matematika siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui  model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 12 Yogyakarta dengan sampel penelitian adalah siswa kelas VII-D. Data dikumpulkan dengan angket, observasi, catatan lapangan dan tes. Penelitian ini dikatakan berhasil jika self efficacy siswa meningkat dengan kriteria sedang mencapai 33,33% dan kriteria tiggi mencapai 53%. Pembelajaran dikatakan berhasil jika minimal terdapat 75% siswa yang tuntas dengan nilai ketuntasan ≥75. Pembelajaran berhasil terlaksana dengan baik apabila proses pembelajaran mencapai 90%. Hasil penelitian menunukkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT dapat meningkatkan self efficacy matematika siswa. Rata-rata skor angket self efficacy matematika siswa yang diperoleh dari data angket siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus. Keterlaksanaan pembelajaran  mengalami peningkatan dari siklus I yang menunjukkan rata-rata 74% ke siklus II dengan rata-rata 93%. Hasil tes kognitif yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil tes kognitif dari siklus I ke siklus II.

Page 1 of 1 | Total Record : 7