cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2021)" : 6 Documents clear
I’jaz Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Ilmu Bahasa Sulaiman, Sulaiman
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.10696

Abstract

Scholars have used various approaches to understand the Qur'an because of its two main dimensions: the linguistic dimension and its content. Those are a great combination that cannot be matched by anyone, even though all have gathered to match it. One such approach is the stylistic approach. Al-Qur'an has a high uslub/style of language so that it becomes one of its miraculous elements. This study aim to reviewing Surah al-'Ādiyāt using a stylistic approach with library research methods. Surah al-'Ādiyāt, from the point of view of the balaghah holds a myriad of secrets, which can be classified into beautiful uslub. Likewise, from a stylistic point of view, although only in a few lines, the stylistic elements can be obtained beautifully. People who oppose the Qur'an from the polytheists or the People of the Book can slowly be conquered by the beauty of the language of the Qur'an. This is one of the methods of preaching the Prophet Muhammad SAW by prioritizing the elements of beauty.ABSTRAKBerbagai pendekatan telah digunakan oleh para ilmuan untuk memahami al-Qur’an, karena dua dimensi utamanya yaitu dimensi kebahasaan dan kandungannya adalah sebuah perpaduan yang sangat agung yang tak dapat ditandingi oleh siapapun, walaupun semuanya berkumpul untuk menandinginya. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan stilistika. al-Qur’an memilki uslub/gaya bahasa yang tinggi sehingga menjadi salah satu unsur kemu’jizatannya. Dalam mengkaji Surah al-‘Ādiyāt dengan menggunakan pendekatan Stilistika, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Surah al-‘Ādiyāt, dari sudut pandang balaghah menyimpan segudang rahasia, yang dapat digolongkan ke dalam uslub yang indah. Demikian juga dari sudut pandang stilistika, walaupun hanya dalam beberapa baris saja, namun elemen-elemen stilistika telah dapat didapatkan dengan indahnya. Orang-orang yang menentang al-Qur’an dari golongan musyrikin atau Ahlil Kitab, secara pelan-pelan dapat ditaklukkan oleh keindahan bahasa al-Qur’an. Inilah salah satu metode dakwah Rasulullah Saw. dengan mengedepankan unsur-unsur keindahan
Kehidupan Harun a.s. dan Dakwahnya Muhammad, Muhammad Thaib
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.10607

Abstract

Allah SWT has informed through the Qur'an many stories of the previous people, whether it is the story of the people who are obedient to Allah SWT or the story of the people who do not obey. For every Ummah, Allah SWT has sent prophets and apostles to preach so that they always obey Allah SWT. Likewise, Allah SWT has sent Musa a.s and Harun a.s to the Israel generation and the Qibthi who inhabited Egypt. In carrying out his da'wah, Moses or Musa a.s had prayed for Allah SWT to make Harun a.s. be appointed as a prophet and then Allah SWT granted. So Allah SWT gave him the advantage of eloquence in speech and brilliance in thinking so that he could help Musa a.s. in his da'wah. This short article will specifically discuss the story of the Prophet Harun a.s as narrated in the Qur'an. ABSTRAKAllah SWT telah menginformasikan melalui Al-Qur'an banyak kisah orang-orang terdahulu, baik itu kisah orang-orang yang taat kepada Allah SWT maupun kisah orang-orang yang tidak taat. Bagi setiap umat, Allah SWT telah mengutus para nabi dan rasul untuk berdakwah agar selalu taat kepada Allah SWT. Demikian juga Allah SWT telah mengutus Musa a.s dan Harun a.s kepada generasi Israel dan Qibthi yang mendiami Mesir. Dalam menjalankan dakwahnya, Musa atau Musa a.s telah berdoa kepada Allah SWT agar Harun a.s. diangkat menjadi nabi dan kemudian dikabulkan Allah SWT. Maka Allah SWT memberinya kelebihan kefasihan dalam berbicara dan kecemerlangan dalam berpikir sehingga ia dapat membantu Musa a.s. dalam dakwahnya. Artikel singkat ini secara khusus akan membahas kisah Nabi Harun a.s sebagaimana diriwayatkan dalam Al-Qur'an.
Ri’ayah dalam Pandangan Islam Zainuddin, Zainuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.10568

Abstract

Islam consists of three main components: aqidah, worship and morals. These three components need to be harmonized in order to create harmony in religion. One of the things that need to be done in carrying out the religious component is to maintain it as well as possible. The nature of guarding and nurturing is called ri'ayah. The degrees of ri'ayah consist of ri'ayah al-a'mal (maintaining deeds), ri'ayah al-ahwal (maintaining circumstances) and ri'ayah al-awqat (maintaining time). Ri'ayah is done as proof of the sincerity of human self-servitude to Allah SWT and as a realization of the wisdom of its creation. The ultimate goal and the benefits derived from the maintenance is to get the pleasure of Allah SWT and His mercy in this world and the hereafter. Hadith of the Prophet Muhammad SAW also discusses this ri'ayah which is the reference for the people.ABSTRAKIslam terdiri dari tiga komponen utama, yakni akidah, ibadah dan akhlak. Ketiga komponen tersebut perlu diserasikan agar tercipta keharmonisan dalam beragama. Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam  melaksanakan komponen agama tersebut adalah memeliharanya dengan sebaik baiknya. Sifat menjaga dan memelihara tersebut dinamakan ri’ayah. Derajat  ri’ayah terdiri dari ri’ayah al-a’mal (memelihara perbuatan), ri’ayah al-ahwal  (memelihara keadaan) dan ri’ayah al-awqat (memelihara waktu). Ri’ayah dilakukan sebagai bukti kesungguhan penghambaan diri manusia kepada Allah  swt. dan sebagai realisasi dari hikmah penciptaannya. Tujuan akhir dan manfaat  yang didapatkan dari pemeliharaan tersebut adalah mendapat rida Allah swt. dan  rahmat-Nya di dunia dan akhirat. Hadis Rasulullah saw. juga membahas tentang  ri’ayah ini yang menjadi referensi umat dalam melaksanakannya. 
Character Building Kepemimpinan Lembaga Pendidikan Islam: Analisis Penafsiran Surat Abasa 1-10 Wahyuni, Sri
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.10931

Abstract

Surah 'Abasa Verses 1-10 are the verses that contains the formation of the leadership character of the Prophet through the warning ('itab) of Allah to His Prophet. So the research aims to find the character building of the leadership of Islamic educational institutions through the Surah 'Abasa verses 1-10. Using the Tahlili Tafsir Method with the tafsir bir-ra’yi (diroyah), this research results in the concept of character building leadership of Islamic educational institutions through the Surah 'Abasa verses 1-10, among others, the first verse shows the importance of the dimensions of performance and appearance of a leader, the second verse shows the dimensions of social status. The third verse contains an element of the self-esteem dimension, and the fourth verse includes an aspect of the educational dimension, the fifth and sixth verses are aware of their duty to serve the people or their subordinates, the seventh and eighth contain elements of a priority scale dimension, and the two last verses (nine and ten) contain elements of the khauf and raja dimensions, put God first in all activities.ABSTRAKSurat ‘Abasa Ayat 1-10 merupakan ayat-ayat yang berisikan pembentukan karakter kepemimpinan Nabi melalui teguran (‘itab) Allah kepada NabiNya. Maka penelitian bertujuan untuk menemukan character building kepemimpinan lembaga pendidikan Islam melalui Surat ‘Abasa ayat 1-10. Penggunaan Metode Tafsir Tahlili dengan pendekatan tafsir bir-ra’yi (dirayah), maka penelitian ini menghasilkan bahwa konsep character building kepemimpinan lembaga pendidikan Islam melalui Surat ‘Abasa ayat 1-10 antara lain, ayat pertama menunjukkan pentingnya dimensi performa dan penampilan seorang pemimpin, ayat kedua menunjukkan kepada dimensi status sosial, ayat ketiga mengandung unsur dimensi self esteem, ayat keempat mengandung unsur dimensi edukasi, ayat kelima dan keenam menyadari akan tugasnya melayani rakyat atau bawahannya, ayat ketujuh dan kedelapan mengandung unsur dimensi skala prioritas, ayat sembilan  dan sepuluh mengandung unsur dimensi khauf dan raja’ atau mengutamakan Allah dalam segala aktivitas 
Kajian Hadis tentang Hukum Membaca Surat Fatihah bagi Makmum dalam Shalat Jahar Zulfikar, Zulfikar
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.11254

Abstract

Al-Fatihah is one of the Quranic verses that have a special position. Consequently, it is obligatory to recite it every time they pray. Meanwhile practically, in the jahar prayer, some of the congregations recite the al-Fatihah, but some however rejected. There is an obligation to listen to the imam reciting. This article examines some hadiths of reciting al-Fatihah for the congregation in the jahar prayer and its wisdom. This research uses the approach of hadith studies and Islamic jurisprudence. In collecting data, the takhrij hadith method was used with hadith tracing techniques through the al-Fatihah theme. There are two stages in analyzing the data. First, by using textual and contextual understanding methods in analyzing the dilalah hadith partially. Second, using the method of al-jam’u wa al-taufiq, takhshis, tarjih, maqasid al-shari’ah, and hikmat al-tashri’ in analyzing the hadiths collectively. This study shows that reading the al-Fatihah is obligatory for every congregation except in the jahar prayer for two main reasons. First, imams represent their congregations. Second, the congregations listen to their imams carefully for orderly prayer and appreciate the meaning of the al-Fatihah which implies for the congregation character building. The congregations can remind the imams if they recite incorrecly and so that the entire congregation can recite amen at the right time together.ABSTRAKSurat Al-Fatihah merupakan surat yang memiliki kedudukan istimewa dalam Al-Qur’an, sehingga umat Islam diperintahkan oleh Allah SWT untuk membacanya setiap kali melaksanakan salat. Namun dalam keseharian umat Islam berbeda praktik dalam membaca surat Al-Fatihah ketika menjadi makmum dalam salat jahar. Sebagian mereka ada yang tetap membaca surat Al-Fatihah, sementara sebagian lagi tidak membacanya karena harus menyimak bacaan imam. Permasalahan ini telah melatarbelakangi penulis untuk meneliti hadis-hadis ahkam dengan tujuan untuk mengetahui hukum membaca surat Fatihah bagi makmum dalam salat jahar menurut hadis-hadis ahkam maqbul yang relevan dengan tujuan dan hikmah persyaratan salat itu sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu hadis dan usul fikih. Dalam pengumpulan data digunakan metode takhrij hadis dengan teknik penelusuran hadis melalui tema Al-Fatihah. Untuk menganalisis data ditempuh melalui dua tahapan, tahap pertama analisa terhadap dilalah hadis secara parsial dengan menggunakan metode pemahaman tekstual dan konstektual, tahap kedua analisa terhadap hadis secara kolektif dengan menggunakan metode, al-Jam’u Wa al-Taufiq, Takhshis, Tarjih, Maqashid al-Syari’ah dan Hikmah al-Tasyri’. Hasil analisis menyimpulkan bahwa menurut hadis-hadis ahkam bahwa membaca surat Al-Fatihah hukumnya wajib bagi setiap musalli, kecuali bagi makmum dalam salat jahar, karena ada dua alasan pokok yaitu, pertama karena bacaan imam sudah mewakili bacaan makmum, kedua, Karena makmum diwajibkan diam dan mendengar bacaan imam untuk ketertiban salat, untuk menghayati makna agung yang terkandung dalam surat Fatihah yang berimplikasi terhadap pembentukan karakter, untuk dapat menegur imam apabila salah bacaannya dan untuk dapat mengucapkan amin tepat pada waktunya.
Qawaid Tafsir dan Ushul Tafsir Siti Aisyah dalam Kitab Sahih Muslim Nirwana AN, Andri
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.11281

Abstract

Qawaid Tafsir has a purpose, namely the rules needed by commentators in understanding the verses of the Qur'an. The rules needed by the exegetes in understanding the Qur'an include appreciation of its uslubs, understanding of its origins, mastery of its secrets and linguistic rules. Siti Aisyah's contribution in the Interpretation of the Qur'an has become a reference for many mufassirins, whose interpretation results are written in the books of Hadith, there is even a special section of the Muslim hadith books, namely the chapter on the hadith books of interpretation. How qawaid and ushul interpretation siti aisyah in the book of hadith Sahih Muslim is the goal of solving the problem of this article. The method used in this research is Systematic Literature Review (SLR) which is a systematic way to collect, critically evaluate, integrate and present findings from various research studies on research questions or topics of interest. The SLR provides a way to assess the level of quality of existing evidence on a question or topic of interest. The SLR provides a broader and more accurate level of understanding than traditional literature reviews. The results of this study were found five verses interpreted by Siti Aisyah in the book of Hadith Sahih Muslim. The details of the explanation can be seen in the discussion chapter. This research is useful for developing the results of the interpretation of the Companions in mapping the methodology of interpretation, qawaid Tafsir and Usul Tafsir.ABSTRAKQawaid Tafsir mempunyai maksud ialah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh para mufasir dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Kaidah-kaidah yang diperlukan para mufasir dalam memahami Al-Qur’an meliputi penghayatan uslub-uslub nya, pemahaman asal-asal nya, penguasaan rahasia-rahasia nya dan qaidah-qaidah kebahasaan. Kontribusi Siti Aisyah dalam Penafsiran Al Qur’an banyak menjadi referensi bagi para mufassirin, yang hasil dari penafsiran nya tersebut tertulis dalam kitab kitab Hadis, bahkan ada bagian khusus dari kitab hadis Muslim yatu bab kitab hadis tafsir. Bagaimana qawaid dan ushul tafsir siti aisyah dalam kitab hadis sahih Muslim menjadi tujuan dari penyelesaian masalah artikel ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review (SLR) adalah cara sistematis untuk mengumpulkan, mengevaluasi secara kritis, mengintegrasikan dan menyajikan temuan dari berbagai studi penelitian pada pertanyaan penelitian atau topik yang menarik. SLR menyediakan cara untuk menilai tingkat kualitas bukti yang ada pada pertanyaan atau topik yang menarik. SLR memberikan tingkat pemahaman yang lebih luas dan lebih akurat daripada tinjauan literatur secara tradisional. Adapun hasil dari penelitian ini adalah ditemukan lima ayat yang ditafsirkan oleh siti aisyah dalam kitab hadis Sahih Muslim. Adapun rincian penjelasan nya bisa melihat pada bab pembahasan. Penelitian ini berguna untuk mengambangkan hasil penafsiran para sahabat dalam pemeteaan metodologi tafsir, qawaid Tafsir dan Ushul tafsir..

Page 1 of 1 | Total Record : 6