cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "No 31 (2006): Desember, 2006" : 11 Documents clear
Minyak Kelapa sebagai Bahan Bakar Nabati untuk Kawasan Pesisir / Coconut Oil as Biofuel for Coastal Areas Hengky Novarianto
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.163 KB) | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.91-101

Abstract

The solution to going out from nature fuel crisis, Indonesian government has decided policy of development and utilization of biofuel. There are four patterns of biofuel development, that are: Activity of Village People Pattern, Micro and Middle Labours Pattern, Development by Industry, and Commercial Development by Large Estate Crops. Resources of energy alternative development of biofuel in national mainly from: palm oil, Jastropha curcas, Cassava and Sugar cane. Biofuel from coconut oil has a good potential and prospect in coastal areas, because the coconut palms are be there, where are copra price is low in that place, contrary the price of nature fuel is usually very expensive, and sometime not available. And the, most of coconut farmers has duplicated job as fisherman, and they need fuel for their motorboat for fishing or local transportation. Then usually, the electric is not available or limited in that areas, therefore biofuel could be used for genset, processing engine, or household industries. Thus, all of these activities which are relating to each other will be open the new labour in the villages level or isolated islands. The ICOPRI and Bandung Technology Institute have succed to produce the Coco-Biodiesel Processing Unit, which has a 100 liters capacity.   RINGKASAN Untuk mengatasi masalah krisis bahan bakar minyak (BBM), maka pemerintah telah menetapkan kebijakan pengembangan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Pola pengembangan BBN dikemukakan ada empat, yaitu: Pola Kegiatan Rakyat Desa, Pola Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Pengembangan oleh Perusahaan-Perusahaan Besar, dan Pengembangan Komersial oleh Perkebunan Besar. Sumber pengembangan energi alternatif dari BBN secara nasional adalah kelapa sawit, jarak pagar, singkong dan tetes tebu. BBN dari minyak kelapa memiliki potensi dan prospek yang baik bagi daerah-daerah yang sudah ada tanaman kelapa, yang letaknya terpencil, harga kopra sangat murah, sebaliknya harga BBM sangat mahal, dan sering tidak tersedia. Disamping itu sebagian besar petani kelapa, merangkap pekerjaan sebagai nelayan yang sangat membutuhkan bahan bakar untuk mesin perahunya ke laut, ataupun transportasi lokal. Listrik juga sering belum tersedia atau terbatas, sehingga BBN ini dapat dimanfaatkan untuk mesin genset, menggerakan alat-alat pengolahan tingkat desa, maupun industri rumah tangga. Dengan demikian, semua kegiatan yang saling terkait ini akan membuka lapangan kerja baru di pedesaan/pulau-pulau terpencil. Balitka yang bekerjasama dengan ITB telah berhasil merakit alat pengolahan Coco-Biodiesel dengan kapasitas olah sekitar 100 liter per hari.
Kelapa Dalam Sikka untuk Materi Pengembangan di Lahan Kering Iklim Kering / Sikka Tall Coconut for Development Material in Dry Land and Dry Climate Elsje T Tenda; Jantje Mawikere; Hengky Novarianto
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.463 KB) | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.1-9

Abstract

Coconut germplasm has been collected in Indonesia just around 20% and almost of them come from dry land and wet climate. Collection of coconut accession from dry land and dry climate are very limited. Identification and collection of coconut germplasm from dry land and wet climate must be done now, if not it will causes genetic erosion of potential coconut germplasm. The purpose of this activity was to find out potential coconut accession which is suitable for dry land and wet climate. The activity was conducted in Bloro Village Nita district of Sikka region by using survey method. Observation of vegetative and generative characters to be done based on Standardized Research Techniques in Coconut Breeding. The result showed that Sikka Tall growing well in area which have drought climate up to six month with rain fall 1000 – 1900 mm/year. Sikka Tall production is about 2.5 ton copra/ha/year with minimum maintenance. Sikka Tall has been planted in several area in Flores Island with copra production around 2 tons/ha/year. Therefore, Sikka tall can be used as coconut material for developing coconut in dry land and dry climate.  RINGKASAN Plasma nutfah kelapa Indonesia yang sudah dikoleksi baru sekitar 20% dan umumnya berasal dari lahan kering iklim basah. Aksesi kelapa yang berasal dari lahan kering iklim kering masih sangat sedikit yang sudah dikoleksi. Identifikasi dan koleksi plasma nutfah kelapa lahan kering iklim kering harus segera dilakukan kalau tidak akan terjadi erosi genetis kelapa – kelapa yang mempunyai potensi hasil tinggi spesifik lahan kering iklim kering. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aksesi kelapa Dalam potensial yang sesuai untuk dikembangkan di lahan kering iklim kering. Kegiatan dilaksanakan di Desa Bloro Kecamatan Nita Kabupaten Sikka dengan menggunakan metode survei. Pengamatan karakter vegetatif dan generatif dilakukan berdasarkan STANDARDIZED RESEARCH TECHNIQUES IN COCONUT BREEDING dari COGENT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelapa Dalam Sikka (DSK) tumbuh baik pada daerah yang memiliki bulan kering sampai 6 bulan dengan curah hujan 1000 – 1900 mm/tahun. Produksi kelapa DSK 2.5 ton kopra/ha/tahun dengan pemeliharaan sederhana. Kelapa DSK telah ditanam dibeberapa lokasi di Pulau Flores dengan produksi sekitar 2 ton kopra/ha/tahun. Dengan demikian kelapa DSK dapat dijadikan materi untuk pengembangan kelapa di lahan kering iklim kering.
Pemanfaatan Arang Tempurung dan Debu Sabut Kelapa Sebagai Pupuk Organik / The Utilization of Charcoal and Coconut Dust as Organic Fertilizer Yulianus Rompah Matana; Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.46-53

Abstract

The increasing of an organic fertilizer price causing utilization of alternative fertilizer, namely organic fertilizer. Charcoal and coconut dust  have potency as an organic fertilizer because it contents some nutrients. The utilization of charcoal and coconut dust as organic fertilizer more economic than anorganic fertilizer. The utilization of charcoal and coconut dust promote the government program regarding organic farming in 2010. The impact of utilization of organic fertilizer are increasing the farmers income and environmental health and safety   RINGKASAN Pencabutan subsidi pupuk oleh pemerintah menyebabkan nilai jual pupuk anorganik meningkat. Keadaan ini menyebabkan penggunaan pupuk-pupuk alternatif yaitu pupuk organik sebagai pengganti pupuk anorganik. Arang tempurung dan debu sabut berpotensi sebagai pupuk organik karena kandungan unsur hara yang terdapat dalam kedua bahan tersebut. Penggunaan arang tempurung dan debu sabut kelapa sebagai pupuk organik lebih ekonomis dari pada pupuk anorganik. Pemanfaatan arang tempurung dan debu sabut menunjang program pemerintah tentang menuju pertanian organik pada tahun 2010. Dampak yang akan dirasakan adalah peningkatan pendapatan petani dan mutu lingkungan tetap terjaga.
Uji Teknis Alat Pengolahan Minyak Kelapa Skala Kelompok Tani / Technical Test of Coconut Oil Machinary on Farmer Group Scale Abner Lay; Steivie Karouw
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.102-110

Abstract

Coconut processing machine for farmer level, was tested in Engineering processing workshop of ICOPRI  Manado, on January 2006. The coconut processing machines were two operation units, namely fresh coconut grinder and coconut milk presser. Tested matterial was Coconut Mapanget Tall.  The observation was done on constraction, operation system, and machine performances.  The results showed that coconut grinder and coconut presser were compactly designed, with partial operation system.  Machine was operated by single rotary  motor  of 7 Hp, 2600 rpm as diesel engine.  Processing system rolling among unit operations,  done by two operators.  Capacity of the coconut fresh grinder is 360 coconut nut/hour and coconut milk presser  is 375 coconut nut/hour. Oil recovery is 15% and oil efficiency extraction about 44.3 %. Use of the  coconut processing machine for farmer level would support  the development of coconut diversification products and provide labour in the villages.  RINGKASANPengujian alat pengolahan minyak kelapa skala kelompok tani dilakukan di Bengkel Rekayasa Alat Pengolahan Balitka, bulan Januari 2006. Alat yang diuji terdiri dari unit pemarut kelapa dan unit pengepres santan. Bahan uji yang digunakan adalah kelapa dalam Mapanget. Pengamatan yang dilakukan, meliputi: konstruksi alat, sistem operasi dan kinerja alat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa unit pemarut dan unit pengepres konstruksinya sederhana dan dirancang secara gabungan dengan sistem proses parsial. Menggunakan motor penggerak tunggal yakni motor diesel dengan daya 7 Hp; 2600 rpm. Sistem operasi alat secara bergantian antar unit operasi, penanganannya oleh dua operator. Kapasitas olah unit pemarut dan unit pengepres masing-masing 360 dan 375 butir kelapa/jam. Rendemen hasil minyak 15% dan efisiensi ekstraksi minyak sebesar 44.3%. Penggunaan alat pengolahan kelapa ini, akan menunjang pengembangan diversifikasi produk kelapa dan perluasan lapangan kerja dipedesaan.
Transplantasi Embrio Kelapa / Coconut Embryo Transplantation Nurhaini Mashud; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.19-27

Abstract

Coconut embryo transplantation is a new technique which is done for producing new coconut plant from zygotic embryo. In this technique, the isolated embryo from donor nuts insert to surrogate nuts after removal of its embryos. The coconut embryo transplantation  has been done in the University of Queensland, Australia. The result of this research indicated that whether embryo or endosperm cylinder can be transplanted to the surrogate nut. Nevertheless, it is difficult to transplant the endosperm cylinder because cork borer with endosperm inside can go into surrogate nut. It caused contamination and there is not good contact between endosperm cylinder from donor nut and endosperm of surrogate nut. This technique could be an alternative  to be used in the national and international collection and exchange of coconut germplasms which is using embryo culture protocol with some problems, especially in ex vitro condition and the high cost of in vitro technique, so far. This technique can be also utilized to multiply mutant coconut type , such as kopyor (Indonesia), Makapuno (Philippine) and Dikiri  (Sri Lanka). The coconut germplasm will be sent in form of embryos or endosperm plugs which are preparing aseptically using embryo culture protocol. At the destination base, the surrogate nuts are prepared aseptically to receive the isolated embryo or endosperm cylinder. The transplanted nut is then let to germinate naturally under  room temperature in protected environmental condition. RINGKASAN Transplantasi embrio kelapa adalah suatu teknik baru yang dilakukan untuk menghasilkan tanaman baru dari embrio zigotik. Teknik ini menggunakan embrio yang diisolasi secara aseptik dari donor nut dan ditransplantasikan pada surrogate nut. Transplantasi embrio kelapa telah dilakukan di School of Land and Food Science, University of Queensland. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik embrio maupun siinder endosperm yang berisi embrio dapat ditransplantasikan ke surrogate nut. Namun transplantasi dalam bentuk silinder endosperm sulit dilakukan, karena cork borer (alat pengambil silinder endosperm) yang berisi endosperm akan masuk ke dalam surrogate nut. Keadaan ini menyebabkan mudah terjadinya kontaminasi dan tidak terjadi kontak yang baik antara silinder endosperm dari donor nut dengan endosperm dari surrogate nut. Teknik ini dapat menjadi alternatif dan mempunyai peluang dimanfaatkan dalam kegiatan koleksi dan pertukaran plasma nutfah kelapa nasional dan internasional yang selama ini menggunakan teknik kultur embro yang masih menghadapi beberapa masalah, terutama pada kondisi ex vitro dan tingginya biaya teknik in vitro. Transplantasi embrio dapat diaplikasikan untuk perbanyakan kelapa mutan, seperti kopyor di Indonesia, Makapuno di Filipina dan Dikiri di Sri Lanka. Dalam kegiatan ini, plasma nutfah dikirim dalam bentuk embrio atau embrio yang terbungkus dengan endosperm (silinder endosperm) yang dipersiapkan secara aseptik menggunakan protokol kultur embrio. Di laboratorium tujuan, surrogate nut dipersiapkan untuk menjadi media tumbuh plasma nutfah tersebut baik dalam bentuk embrio maupun plug endosperm. Embrio yang ditransplantasi ini akan berkecambah secara alami pada kondisi yang relatif terkontrol.
Kemampuan Makan Sexava nubila Stal (Orthoptera: Tettigoniidae) pada Daun Kelapa / Feeding Consumption of Sexava nubila Stal (Orthoptera: Tettigoniidae) on Coconut Leaf Slamet Sabbatoellah; Meldy L.A Hosang
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.79-90

Abstract

The objective of the research was to study the feeding consumption of nymph and adult of Sexava under laboratory condition.  The research was done using randomized complete design with 6 treatments and 4 replications.  The treatment consist of developmental stages of the pest namely 1st instar nymph, 2nd instar nymph, 3rd instar nymph, 4th instar nymph, male and female adults.  The results showed that the leaf area consumed by 1st instar nymph same as by 2nd instar larvae but lessthan consumed by older nymph and adults. Leaf area consumed by 3rd instar nymph and female adult was not significantly different as shown by  4th instar nymph and male adult.   RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan makan nimfa dan imago Sexava nubila di laboratorium. Penelitian dirancang dalam rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari tahap perkembangan hama S. nubila yaitu nimfa instar 1 (N1), nimfa instar 2 (N2), nimfa instar 3 (N3) , nimfa instar 4 (N4) , imago jantan dan imago betina . Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas daun yang dikonsumsi nimfa instar 1 sama dengan nimfa instar 2 tetapi lebih sedikit dari nimfa lebih tua dan imago. Luas daun yang dikonsumsi nimfa instar 3 sama banyaknya dengan yang dikonsumsi imago betina, demikian halnya dengan jumlah daun yang dikonsumsi nimfa instar 4 sama banyaknya dengan imago jantan.
Agroindustri Gula Semut Aren dengan Model Hariang di Propinsi Banten / Agroindustry of Granular Brown Sugar by Hariang Model in Banten Province Abner Lay; Steivie Karouw
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.126-136

Abstract

The problems in development of granular brown sugar agrorindustry depend on scale of bussines, tipe of processing and management, so a development model that can give some benefits to farmer grup and the other institution is needed.  The research was carried out in Banten Province on July 2005.  The research was conducted as survey method and data were collected by Purposive Random Sampling. The data consist of primer and secundair data obtained from farmers/ farmer groups, village cooperative and government institutions, characteristics of neera, crude granular brown sugar and pure granular brown sugar.  The data were analyzed by descriptive method. The results showed that agroindustry of granular brown sugar on Hariang Model in Banten Province was managed by village cooperative namely KUB Mandala. Processing of garnular brown sugar was done in farmers groups using traditionally method, the cooperative collected and converted it to pure granular brown sugar.  The final product is meet with quality standard and has traded for regional and export market. Agroindustry of  granular brown sugar by Hariang Model is classified as innovation technology which suitable to be implemented and has given some positive effect to farmers/farmer groups, diversification of product and extensification  of palm sugar (Arenga pinnata) areas.  This model can be used for developing of granular brown sugar agroindustry in some places as central production of palm sugar and possible for other commodities adopting in farmer institutional, processing system, management bussines and farmer-investor partnership.  RINGKASANPermasalahan pengembangan agroindusri gula semut tergantung pada skala usaha, pola pengolahan dan pengusahaannya, sehingga diperlukan model pengembangan yang menguntungkan kelompok tani. Penelitian di laksanakan pada bulan Juli 2005 di Propinsi Banten. Penelitian menggunakan metode survei dan pengumpulan data secara Purposive Random Sampling. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer berasal dari petani, koperasi unit desa, karakteristik nira segar, gula semut kasar dan gula semut, sedangkan data sekunder berasal dari instansi pemerintah. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Agroindustri gula semut Model Hariang di Propinsi Banten, yang dikelola koperasi unit desa dengan nama KUB Mandala. Pengolahan gula semut dilakukan oleh kelompok tani dengan cara tradisional, produk yang dihasilkan petani dalam bentuk gula semut kasar, diolah lebih lanjut oleh unit pengolahan pada koperasi. Produk akhir adalah gula semut yang memenuhi standar mutu dan dipasarkan pada pasar regional dan ekspor. Agroindustri gula semut model hariang dikalsifikasi sebagai teknologi inovasi yang siap diimplementasikan, dan model ini telah memberi pengaruh positif bagi kelompok tani pada pengembangan diversifikasi produk dan intensifikasi tanaman aren. Model ini dapat dikembangkan pada daerah sentra produksi aren dan memungkinkan diadopsi untuk pengembangan komoditas lain dengan penyesuaian terhadap kelembagaan petani, sistem pengolahan, pengelolaan usaha dan kerjasama dengan mitra usaha.
Teknik Budidaya Kelapa Organik / The Organic Coconut Cultivation Technique R B Maliangkay; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.37-45

Abstract

The awareness of the impact of agricultural development to the quality of environment has leaded the coconut cultivation technique to produce organic coconut products. There is no use of anorganic fertilizer and chemical pesticide in organic farming system. As a result, the uses of coconut product that free from any chemical substance, such as botanical pesticide, and wasted coconut parts have been intensified. Agricultural products using organic label have certain markets and consumers and high price as well. Some countries such as Pantai Gading Sri Lanka have intensively used wasted coconut parts as organic fertilizer. Organic coconut products can be obtained by applying organic coconut cultivation technique.   RINGKASAN Menyadari dampak pembangunan pertanian terhadap mutu lingkungan maka pengusahaan kelapa harus berorientasi terhadap mutu lingkungan dengan mendorong terciptannya produkproduk kelapa organik melalui teknik budidaya kelapa organik. Pertanian organik tidak menggunakan input luar berupa pupuk buatan (anorganik) dan pestisida kimia. Teknologi tersebut meliputi penggunaan produk kelapa yang berasal dari tanaman yang bebas pengaruh bahan kimia, seperti penggunaan pupuk organik, penggunanan pestisida nabati dan pengolahan limbah dari tanaman kelapa sebagai bahan organik yang nantinya akan digunakan sebagai pupuk pada tanaman kelapa. Produk pertanian yang memiliki label organik memiliki nilai jual yang tinggi serta mempunyai pasar dan konsumen tersendiri. Di beberapa negara seperti Pantai Gading dan Sri Langka pemanfaatan bagian dari limbah tanaman kelapa sudah dilaksanakan sebagai pupuk organik. Dengan menerapkan teknik budidaya kelapa organik dapat menghasilkan produk kelapa organik.
Survei Hama dan Penyakit Kelapa di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur / Survey of Pests and Diseases on Coconut in Berau District, East Kalimantan Meldy L.A Hosang; J S Warokka
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.54-70

Abstract

Coconut is an important crop to support the tourism potency based on agrotourism in Derawan Island, Berau District, East Kalimantan province. Coconut productivity in the area is very low due to pest and disease. In order to investigate the main pest and disease causing problems on coconut, a survey was conducted on February 2006. Survey was done in some locations such as in nursery, young palm and old palm plantations to describe the symptoms, damages, losses, and the history of affection. Results of survey and identification showed that there were three main pests such as Artona catoxantha, Oryctes rhinoceros and Brontispa longissima, and wilt disease associated with low productivity of coconut in the area.  RINGKASAN Kelapa merupakan tanaman penting yang menunjang potensi pariwisata di Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang berbasis agrotourism. Produktifitas kelapa sangat rendah disebabkan karena serangan hama dan penyakit kelapa. Untuk mengetahui masalah hama dan penyakit utama yang menyerang kelapa, pada bulan Februari 2006 telah dilakukan survei secara umum di beberapa lokasi pertanaman kelapa baik di pembibitan, tanaman muda maupun tanaman dewasa untuk mendeskripsi gejala yang ada, kerusakan yang ditimbulkan, proses kematian tanaman, sejarah penyakit, dan dilakukan pengambilan sampel tanaman terserang untuk dianalisis lanjut di laboratorium.Hasil identifikasi di lapangan maupun di laboratorium ternyata terdapat tiga jenis hama yaitu Artona catoxantha, Oryctes rhinoceros dan Brontispa longissima serta satu penyakit yaitu penyakit layu/daun menguning.
Observasi Produksi Nira Aren (Arenga pinnata) di Kecamatan Langowan, Kabupaten Minahasa Induk, Provinsi Sulawesi Utara / Palm Neera Production of Sugar Palm (Arenga pinnata) at Langowan Sub District, Minahasa Induk District, North Sulawesi Province Engelbert Manaroinsong; R B Maliangkay; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.111-115

Abstract

Sugar palm (Arenga pinnata) is a potential plant which can be developed because of the high economic value. The research was the conducted on July until November 2005 with survey method. The parameter observed were production of toddy per palm per month and rainfall data in three different locations i.e. Manembo village, Atep village and Palamba village, sub district of Langowan. Result of research shown that the high production of toddy was found in Atep village, whereas the lower production of toddy in Manembo village i.e. 18 liter/day and 13.6 liter/day, respectively. The maximum rain fall was and 393 mm at that time.  RINGKASANAren (Arenga pinnata) merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Nopember tahun 2005. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei. Peubah yang diamati adalah produksi nira pada tandan pertama dan data curah hujan dari statison klimatologi Kecamatan Langowan pada 3 lokasi, yaitu Desa Manembo, Desa Atep dan Desa Palamba, Kecamatan Langowan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didesa Atep didapatkan produksi nira tertinggi sedangkan produksi nira terendah terdapat didesa Manembo, berturut turut jumlah produksi nira adalah 18 l/hari, 13.6 l/hari. Pada saat pengamatan curah hujan pada bulan sebesar 393 mm.

Page 1 of 2 | Total Record : 11