cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2016)" : 6 Documents clear
COVER JSL VOL.10(1) 2016 Lahan, Jurnal Sumberdaya
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.993 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol.10 No. 1, Juli 2016
PENGELOLAAN HARA DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN MENDUKUNG SWASEMBADA PANGAN DI INDONESIA Husnain, Husnain; Kasno, Antonius; Rochayati, Sri
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.752 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Peranan pupuk menjadi vital bagi perkembangan pertanian menuju swasembada pangan. Namun demikian aplikasi pupuk belum dilakukan secara efektif dan efisien dimana jenis pupuk, dosis yang diberikan, cara aplikasi dan timing saat pemupukan belum banyak diperhatikan. Rekomendasi pupuk juga seringkali berlaku secara umum tanpa mengindahkan status hara dalam tanah. Permasalahan di atas terlihat dari trend produktivitas tanaman pangan dibandingkan dengan trend konsumsi pupuk, dimana peningkatan konsumsi pupuk belum diikuti oleh peningkatan produktivitas tanaman pangan terutama padi dan kedelai. Pengelolaan hara makro N, P, dan K saja tanpa dibarengi dengan pengelolaan hara mikro dan benefisial seperti Silika menyebabkan stagnansi produktivitas tanaman pangan. Dalam artikel ini dibahas secara komprehensif informasi terkait unsur hara, klasifikasi pupuk, perkembangan produktivitas pangan dan konsumsi pupuk, penetapan kebutuhan pupuk hingga rekomendasi teknik aplikasi pupuk agar pemberian pupuk lebih efektif dan efisien.Abstract. Fertilizer is a major important factor for agricultural development towards food self-sufficiency. However, application of fertilizer has not been carried out effectively and efficiently. Factors affected efficiency use of fertilizer such as type of fertilizer, rate of fertilizer, application method and the timing has not received much attention. Fertilizer recommendations are also often applies in general regardless of the status of nutrients in the soil. Trend of food productivity and fertilizer consumption might explain the problem related to the fertilizer effectivity. An increase in fertilizer consumption has not been followed by an increase in productivity of food crops, especially for rice and soybeans. Application of N, P and K without consider micro nutrients and beneficial elements such as Silica cause stagnation of crop productivity at certain level and period. In this article, the information related to nutrients, classification of fertilizer, general condition of food productivity and fertilizer consumption, fertilizer recommendation and application technique are discussed.
Optimalisasi Penggunaan Lahan Rawa Pasang Surut Mendukung Swasembada Pangan Nasional Ani Susilawati; Dedi Nursyamsi; Muhammad Syakir
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.832 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Lahan rawa pasang surut merupakan sumberdaya lahan yang dapat menjadi sumber pertumbuhan produksi baru produksi pertanian. Namun perlu didukung oleh teknologi budidaya yang handal karena umumnya lahan rawa pasang surut memiliki beberapa kendala meliputi aspek teknis, infrastruktur, dan aspek sosial ekonomi serta kelembagaan. Optimalisasi penggunaan lahan rawa pasang surut sangat strategis dan berpeluang besar untuk meningkatkan produksi padi di lahan rawa pasang surut sehingga berkontribusi signifikan terhadap produksi padi nasional. Optimalisasi tersebut dapat melalui (1) perluasan areal, (2) peningkatan Indeks Pertanaman (IP) (pengelolaan air dan penggunaan varietas unggul), dan (3) peningkatan produktivitas (penataan lahan, pengolahan tanah, ameliorasi dan pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit serta penguatan kelembagaan). Apabila dilakukan optimalisasi lahan rawa pasang surut dengan dukungan inovasi teknologi pengelolaan dan budidaya yang baik dan peningkatan indeks pertanaman (IP 200), maka dapat diperoleh tambahan produksi sebesar 2,44 juta ton gabah per tahun. Pencapaian optimalisasi di atas dapat dilakukan secara bertahap dengan penerapan asas prioritas, berkesinambungan, sistematis, dan fokus. Sehubungan dengan keterkaitan yang kuat baik antar sektor maupun antara subsektor pada bidang pertanian sendiri, maka koordinasi, integrasi, sinkronisasi menjadi kunci keberhasilan.Abstract. Tidal swamp land resources can be a source of new production growth of agricultural production. However, it should be supported by reliable cultivation technology due to tidal swamp land generally have some constraints including technical aspects, infrastructure,socio-economics and institution.. Optimization usage of a tidal swamp land is very strategic and has a great opportunity to increase rice production in the tidal wetlands that may contribute significantly to the national rice production. The optimization can be via (1) area expansion, (2) increase the cropping index (IP) (water management and the use of high yielding varieties), and (3) increased productivity (land arrangement, soil tillage, amelioration and fertilization, weed control, pest and disease as well as institutional strengthening). If optimization usage of tidal swamp land is carried out and supported by technological innovation, good cultivation management, and improved cropping indices (IP 200), it is expected to obtain additional production of 3.5 million tons of rice grain per year. This achievement target can be done gradually by implementiing the priority principle, continuity, systematics, and focusing. In the connection of strong linkages among development sectors and sub-sectors in agriculture itself, the koordination, integration, and synchronization are the key of success.
Pemantauan dan Peringatan Dini Kekeringan Pertanian di Indonesia Elza Surmaini
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Kekeringan pertanian merupakan bencana alam yang sangat kompleks dan mempengaruhi daerah yang luas. Di Indonesia kejadian kekeringan terjadi hampir setiap tahun dan meningkat tajam pada kondisi El Niño yang menyebabkan penuruan produksi pertanian yang signifikan. Namun, sampai saat ini sistim pemantauan, peringatan dini dan diseminasi kekeringan yang komprehensif dan terintegrasi belum tersedia. Pemantauan kekeringan telah dilakukan dan dilaporkan oleh lembaga terkait seperti LAPAN dan BMKG, sedangkan pemantauan kekeringan pertanian dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Dalam membangun sistim peringatan dini kekeringan pertanian, pemantauan saja belum memadai karena diperlukan komponen prediksi dan antisipasi dampaknya. Sampai saat ini prediksi kekeringan pertanian yang operasional untuk wilayah Indonesia belum tersedia. Balitbangtan sedang mengembangkan sistim prediksi bencana kekeringan dan banjir pada tanaman padi, namun belum operasional. Sistim peringatan dini kekeringan pertanian sangat diperlukan untuk menurunkan kehilangan produksi pangan. Tulisan ini memaparkan tentang berbagai definisi, indeks dan karakteristik kekeringan, pemantauan kekeringan, perkembangan terbaru mengenai deteksi dini kekeringan pertanian, dan pendekatan yang diperlukan dalam membangun sistim peringatan dini kekeringan pertanian di Indonesia. Informasi dan isu yang disampaikan pada tulisan ini dapat mendorong pengambil kebijakan untuk mengembangkan dan sistim pemantauan dan peringatan dini untuk mengatasi dampak kekeringan lebih efektif.Abstract. Agricultural drought is the most complex natural hazard and affects large areas then causes significant drops in food production. In Indonesia, paddy field drought occurs almost every year and extends during El Niño phenomena with severe consequences for agricultural production in Indonesia. However, up to now, a comprehensive, integrated drought monitoring, early warning and delivery system did not exist. Drought monitoring has already conducted dan reported by the relevant agencies namely BMKG and LAPAN, while agricultural drought monitoring is conducted by Ministry of Agriculture . For developing agricultural drought early warning systems, beside of monitoring components of prediction impact model on agriculture are also impartant. Currently, operational prediction of agricultural drought in Indonesia is not yet available. Balitbangtan is developing agricultural drought prediction for rice, but is not yet operational. If an effective early warning system for monitoring and predicting agricultural drought can be conducted and developed, decline in food crop production can be minimized. Information from issue presented in this article will help policy maker and planner to develop or improve drought monitoring and early warning system to tackle drought impact more effectively.
Sistem Usahatani Berkelanjutan Berbasis Dinamika Unsur Hara pada Lahan Kering Masam I Gusti Putu Wigena; Andriati Andriati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Dari aspek sebaran dan luasan, lahan kering masam memiliki potensi sebagai sumber pangan, tetapi ketidak sesuaian sifat fisika dan kimia tanah dengan kebutuhan tanaman memerlukan teknologi pengelolaan yang spesifik. Sifat fisika tanah kering masam: kepadatan tanah tinggi, daya pegang air rendah, permeabilitas lambat, erosi dan aliran permukaan tinggi. Sifat kimia: kadar bahan organik, unsur hara, KTK dan KB rendah, kadar oxida besi dan aluminium tinggi. Pada kondisi yang demikian, tumpangsari merupakan sistem usahatani berkelanjutan alternatif melalui perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Perbaikan sifat fisika tanah antara lain penurunan BD, porositas, dan kapasitas lapang tanah pada tumpangsari ubikayu + jagung + kacang tanah masing-masing berkisar 2,18 g cm-3; 49,12%; dan 37,99%; pada monokultur berkisar 2,59 g cm-3; 42,35%; dan 28,24. Neraca karbon dan nitrogen pada tumpangsari masing-masing +1,5 t ha-1 dan + 10 kg ha-1 tahun-1; pada monokultur -7,0 t ha-1 tahun-1 dan -60 kg ha-1 tahun-1. Tanaman lorong (alley cropping) merupakan usahatani berkelanjutan alternatif lainnya melalui perbaikan sifat fisika dan kimia tanah seperti meningkatkan kemampuan dalam mengikat/menyediakan air/lengas untuk memperlancar dinamika unsur hara ke permukaan akar melalui proses aliran masa dan difusi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, dan sebagai sumber unsur hara. Perbaikan sifat fisika tanah antara lain B.D, ruang pori total (RPT), pori drainase cepat (PDC), air-tersedia pada tanaman lorong berkisar 1,08 g cm-3; 59,2%; 25,6%; dan 14,6%; tanpa tanaman lorong masing-masing berkisar 1,28 g cm-3; 51,7%; 13,7%; dan 11,3%. Neraca karbon dan nitrogen pada tanaman lorong berkisar 2,73 dan 0,20%; tanpa tanaman lorong berkisar 1,31 dan 0,07%. Hasil padi gogo, kacang tanah, dan kacang hijau pada tanaman lorong berkisar 12,8; 11,3 dan 5,3 ku ha-1 dan tanpa tanaman lorong masing-masing berkisar 7,7; 7,8; dan 2,9 ku ha-1.Abstract. Based on its wide and spread, acid dry land has a higher potential as food crops resources, but unsuitability condition of soil physical and chemical properties with crops requirement need the specific technology to provide the optimum crop yields. The soil physical properties are high compactness (BD >1.2 gr cm-3), low of water holding capacity, bed permeabilitiy, and rate of soil eorison and ruhoff is high. The soil chemical properties are low of organic matter content, nutrients content, cation exchange capacity, and base saturation, while concentration of iron and aluminum oxides are higher concentration. On this condition, mix cropping can be an alternative sustainable farming system through improvement of physical and chemical properties. Improvement of physical properties including BD, porosity, and field capacity on mix cropping of cassava + maize + peanut were around 2.18 g cm-3; 49.12%; dan 37.99%; while on monoculture around 2.59 g cm-3; 42.35%; and 28.24%. Carbon and nitrogen balance on the mix cropping farming system were around +1.5 t ha-1 year-1 and + 10 kg ha-1 year-1, while on monoculture around -7.0 t ha-1 year-1 and -60 kg ha-1 year-1. Alley cropping is another one of sustainable alternative farming system through improvement of physical and chemical properties such as increasing of water holding capacity to accelerate nutrients dynamic into root surface areas by mass flow and diffusion processes, soil organic matter, and as sources of plat nutrients. Improvement of soil physical including BD, total porous, drainage porous, and available wateron alley cropping were around 1.08 g cm-3;, 59.2%; 25.6%; dan 14.6%; while on non alley cropping system around 1.28 g cm-3; 51.7%; 13.7%; dan 11.3%. Carbon and nitrogen content on alley cropping were around 2.73 and 0.20%, while on non alley cropping system around 1.31 dan 0.07%. The upland rice, peanut, and mung bean yields on alley cropping system were around 12.8, 11.3, and 5.3 ku ha-1; while on non alley cropping system around 7.7, 7.8, and 2.9 ku ha-1.
Teknologi Pemupukan Mendukung Jarwo Super Husnain Husnain; Dedi Nursyamsi; Muhammad Syakir
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Terobosan program Jarwo Super yang merupakan integrasi berbagai Teknologi Badan Litbang Pertanian diharapkan dapat meningkatkan produktivitas komoditas padi. Adapun komponen teknologi Jarwo Super terdiri dari budidaya jajar legowo, pemanfaatan alat mesin pertanian, benih unggul, pemupukan dengan dosis optimal menggunakan PUTS, pemanfaatan dekomposer M-Dec dalam pengelolaan limbah jerami, pemanfaatan pupuk hayati dalam seed treatment (Agrimeth) dan biopestisida untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman. Teknologi pemupukan baik anorganik, organik serta hayati memberikan kontribusi signifikan dalam paket teknologi Jarwo Super. Pemupukan secara umum memberikan kontribusi minimal 20% dalam sistem produksi pertanian. Dengan demikian, rekomendasi pemupukan yang sesuai dengan status hara tanah, optimal untuk varietas hasil tinggi dengan target hasil optimal sangat dibutuhkan. Penggunaan bahan organik seperti jerami padi yang berlimpah di lahan sawah perlu digalakkan kembali mengingat kompos jerami mengandung berbagai unsur hara terutama K dan Si serta memiliki fungsi meningkatkan kondisi fisik dan biologi tanah. Untuk mempercepat proses pembusukan jerami maka diperlukan dekomposer yang dapat memperpendek proses dekomposisi. Berbagai mikroba unggul dalam tanah dapat berfungsi dalam proses dekomposisi bahan organik, menghancurkan komponen toksik, transformasi inorganik, fiksasi N, Rhizobacteria, dan proteksi tanaman. Isolasi mikroba unggul dengan fungsi diatas menjadi cikal bakal formulasi pupuk hayati. Pupuk hayati dapat digunakan sebagai seed treatment, diberikan ke tanah dan tanaman sesuai dengan fungsinya. Berbagai jenis pupuk (anorganik, organik, hayati) yang diproduksi perlu diatur agar tidak merugikan konsumen yang sebagian besar adalah petani.Abstract. Breakthrough program called Jarwo Super is an integration of various technologies of IAARD is expected to increase rice productivity. The program includes in Jarwo Super are Jajar Legowo (skip row), mechanization, high yield variety, balance fertilization with optimal dose (using paddy soil test kits PUTS), rice straw management (using decomposer M-Dec), the use of biofertilizers (Agrimeth) and biopesticides. Proper fertilizer management of inorganic, organic and biofertilizer will contributed significantly in the Jarwo Super Technology. In general, fertilizer contribute at least 20% in agricultural production systems. Thus, the fertilizer recommendation must consider soil nutrient status and high nutrient uptake by new variety. The use of organic materials such as rice straw which is abundant in rice fields should be encouraged recall straw compost contains variety of nutrients, especially K and Si as well as having the function of improving the physical and biological soil. Decomposer is required to speed up the decomposition process. Various microbes in the soil play important function in the soil such as decomposition of organic matter, destroying the toxic components, inorganic transformation, N fixation, Rhizobacteria, and plant protection. Isolation of microbes which having improtant function as mention above became the key in formulation of biofertilizer. Biofertilizer can be used as a seed treatment, soil and plants according to their function. Various types of fertilizers (inorganic, organic, biofertilizer) that is produced and commercially used should be regulated to protect farmer as the most user.

Page 1 of 1 | Total Record : 6