cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Sistem Peringatan Dini Menghadapi Iklim Ekstrem Edvin Aldrian
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.734 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Dengan letaknya diantara dua benua dan dua samudera serta berada di garis khatulistiwa, maka benua maritim Indonesia merupakan salah satu pusat konveksi utama dunia. Dengan kenyataan demikian maka Indonesia menghadapi risiko yang besar dari tingginya variabilitas iklim dan ekstremitas iklim. Guna menghadapi dampak dari iklim ekstrem maka diperlukan strategi yang mumpuni untuk membuat suatu peringatan dini secara nasional. Dengan desakan jumlah populasi dan kecanggihan teknologi informasi maka kedepan diperlukan sistem peringatan dini yang dapat menjangkau secara luas dan cepat menghadapi perubahan yang terjadi. Sebuah sistem peringatan dini yang juga harus dapat mengantisipasi dampak dan risiko. Sistem peringatan dini yang dibangun merupakan mata rantai dari pengamatan di lapangan, pengolahan data dan analisa serta sistem diseminasi yang memadai. Tulisan ini mengulas sistem peringatan dini iklim untuk sektor pertanian dengan evolusi sistem berbagi data, informasi, sistem informasi dan sistem informasi terkostumisasi. Tujuan akhir yang diupayakan adalah sebuah sistem online yang tanggap terhadap perubahan yang terjadi guna pemanfaatan yang maksimal di sektor pertanian.Abstract. Located between two continents, two oceans, and on the equator, the Indonesian maritime continent is one of the world's major deep convection. With such a reality, Indonesia experiences a substantial risk of high climate variability and climate extremes. In order to deal with the impact of extreme climate, there is a need for a strategy to establish a nationwide early warning. With stressors of demographic tension and technology sophistication, the future early warning system should be broad reaching as well as quickly responsive to face dynamical changes. That early warning system should also be able to anticipate probable impacts and risks. The established system is a chain of observations in the field, data processing and analysis as well as adequate dissemination system. This paper reviews the early warning system that can be done by observation agencies with the user agencies in the agricultural sector through sharing of data, information, information system and customized information system. The ultimate goal being pursued is an online system that is responsive to changes that occur to maximum utilization in the agricultural sector.
TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN PANGAN DALAM BERADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM PADA LAHAN SAWAH Widiarta, I Nyoman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.981 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Produksi tanaman pangan khususnya padi, jagung dan kedelai di Indonesia dituntut terus untuk ditingkatkan dalam kondisi pengaruh negatif perubahan iklim. Perubahan iklim mempengaruhi produktvitas, luas areal tanam dan panen tanaman pangan. Kenaikan suhu udara, perubahan pola dan jumlah curah hujan, kenaikan salinitas air tanah, menurunkan produktivitas tanaman. Meningkatnya frekuensi dan intensitas iklim ekstrem (banjir, kekeringan dan angin kencang), ledakan hama/penyakit dan meningkatnya muka air laut mempengaruhi pola tanam, indeks panen, mengurangi luas areal panen dan luas kawasan pertanian. Sejalan dengan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) Indonesia telah mengembangkan teknologi: (1) Varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman abiotik, (2) Teknologi budidaya tanaman, (3) Teknologi irigasi berselang, dan (4) Teknologi untuk menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman. Varietas adaptif perubahan iklim dikemas dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dalam suatu paket Pengelolaan Tanaman Terpadu dan teknologi ?Jajar legowo super?. Untuk padi telah dikembangkan Kalender Tanam Terpadu yang dapat diakses melalui laman (web), short message service (SMS), dan aplikasi Android, sebagai salah satu alat untuk merakit komponen teknologi spesifik lokasi. Selain itu tersedia dikembangkan Layanan Konsultasi Padi yang dapat diakses melalui internet.Abstract. Crop production, especially of rice, corn and soybeans in Indonesia must be continually increased to cope with the negative effects of climate change. Climate change affects crop productivity, planting and harvested areas. The increase in air temperature, changes in rainfall patterns and amount, increase in groundwater salinity, lead to the decrease of crop productivity. The increased frequency and intensity of extreme climate (floods, drought and strong winds), pest and diseases infestation and rising sea levels affect the cropping pattern and harvest index, and reduce harvested area. In line with the National Action Plan for Adaptation to Climate Change (RAN-API), Indonesia has developed adaptive technologies of (1) Improved plant varieties tolerant to abiotic stresses, (2) Crop cultivation, (3) Intermittent irrigation technology, and (4) Technology to create a conducive environment for plant growth. Climate change adaptive varieties paired with site-specific farming technologies has been developed into packages of Integrated Crop Management and "jajar legowo super" system. For rice, Integrated Cropping Calendar which can be accessed via the home page (web), short message service (SMS), and Android applications has been developed, as one of the tools to assemble components technologies. Rice Consulting Services has also been available and can be accessed via the internet. 
TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN RAWA UNTUK TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DALAM KONTEKS ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM Maftu?ah, Eni; Annisa, Wahida; Noor, Muhammad
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.49 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim di lahan rawa memberikan dampak berbeda tergantung tipologi lahan. Dampak perubahan iklim di lahan rawa mempengaruhi luas areal tanam, proses biofisik pada tanah dan tanaman, dan meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pada lahan rawa lebak tengahan dan lahan rawa lebak dalam, El Niño menyebabkan permukaan air menurun sehingga mengurangi areal yang terendam dan meningkatkan luas areal tanam. Pengaruh El-Niño di lahan gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan selain meningkatkan emisi karbon dari dekomposisi gambut, sedangkan di lahan sulfat masam dapat meningkatkan oksidasi pirit dan salinitas. Pada tahun La Niña, terjadi penurunan luas areal tanam pada lahan rawa lebak, sedangkan pada lahan pasang surut terjadi perubahan pola tanam. Kekhasan ekosistem rawa memerlukan penanganan khusus agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal. Pengelolaan lahan rawa harus memperhatikan aspek adaptasi agar terwujud pertanian berkelanjutan. Jangka menengah arah pengembangan teknologi pertanian di lahan rawa untuk meningkatkan kemampuan sektor pertanian dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim antara lain merakit, mendiseminasi dan menerapkan teknologi adaptasi tepat guna; meningkatkan kinerja penelitian dan pengembangan di bidang adaptasi perubahan iklim. Teknologi inovatif untuk optimalisasi lahan rawa dalam adaptasi terhadap perubahan iklim antara lain; pemanfaatan kalender tanam, optimalisasi pemanfaatan lahan melalui sistem surjan, pengaturan tata air, penggunaan varietas unggul spesifik lahan rawa, ameliorasi dan pemupukan.Abstract. The impacts of climate change on wetlands are different depending on the land typology. Climate change in wetlands affect the planting area, biophysical processes, soil properties, plant pests and diseases and greenhouse gases (GHG) emissions. In the swampy wetlands, El-Niño decreases inundation, thereby increases the areas that can be cultivated, especially for lowland rice. El Niño in peatland could increase carbon emissions both due to peat decomposition and to fires, whereas in acid sulfate soil it can increase oxidation of pyrite. During La Niña a decline in area planted occurs in swampy wetlands, whereas in tidal land it causes a change cropping patterns. The specificity of swampland requires special handling technique so that existing potentials can be optimally utilized. Management of wetlands should take into account the adaptation aspects for the realization of sustainable agriculture in wetlands. The medium term strategies of adaptive agricultural technology on wetlands to climate change include: development, dissemination and implementation of appropriate adaptive technologies; and enhancing research and development of adaptive technologies. Innovative technologies for the optimization of wetlands to adapt to climate change, among others; utilization of cropping calendar, optimization of land use through surjan system, water management, the use of swampland-specific improved varieties, soil amelioration and fertilization.
Cover JSL Vol.10(2) 2016 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.72 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Cover JSL Vol.10(2)2016
Kejadian Iklim Ekstrem dan Dampaknya Terhadap Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia Elza Surmaini; Akhmad Faqih
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim telah menganggu sistem iklim global dan menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem. Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai proyeksi skenario iklim, faktor pengendali kejadian iklim ekstrem, serta dampaknya terhadap sektor pertanian di Indonesia. Dampak kejadian iklim ekstrim yang dominan pada sektor pertanian adalah kerusakan tanaman akibat kekeringan dan banjir. Akibat perubahan iklim, kekeringan dan banjir diproyeksikan akan meningkat frekuensi dan intensitasnya di masa akan datang. Informasi prediksi musim dapat digunakan untuk mengetahui intensitas dan wilayah yang terdampak dalam 1-2 musim ke depan. Sedangkan dampak jangka panjang 2-3 dekade ke depan dapat diketahui berdasarkan skenario proyeksi iklim. Prediksi musim telah banyak di manfaatkan untuk menyusun strategi dan kebijakan operasional seperti menyesuaikan waktu tanam, pemilihan komoditas, dan distribusi peralatan pertanian. Namun, kajian proyeksi iklim dan dampaknya terhadap produksi pangan masih sangat terbatas. Informasi tersebut diperlukan dalam perencanaan arah dan pembangunan pertanian ke depan. Oleh karena itu, kajian proyeksi iklim dan dampaknya terhadap produksi pangan perlu menjadi prioritas penelitian pertanian di Indonesia.Abstract. Climate change has disrupted the global climate system and lead to increase frequency and intensity of extreme climate events. This paper is an overview of future climate scenarios, driving force of extreme climate events, and its impacts on the agricultural sector in Indonesia. The common impacts of extreme climate events in Indonesia’s agriculture are crop damaged due to drought and flood. Due to climate change, drought and flood events is projected to intensify in the future. Seasonal prediction have been widely used to formulate operational strategies and policies such as planting time, commodity choice, and distribution of agricultural equipment. While, the climate projections are required for the forthcoming decades. However, the study of climate projections and their impact on food production for the next decades is still very limited. The information are required for planning and direction of future agricultural development. Therefore, the study of climate projections and their impact on food crop should be a priority of agricultural research in Indonesia.
Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh untuk Monitoring Kejadian Iklim Ekstrem di Indonesia Erna Sri Adiningsih; Parwati Sofan; Indah Prasasti
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Monitoring iklim ekstrim dan dampaknya terhadap pertanian di Indonesia memerlukan data dan sarana pengamatan yang luas dan intensif. Teknologi penginderaan jauh dapat memberikan solusi dalam monitoring iklim ekstrim dan dampaknya secara luas dan cepat. Tulisan ini mengulas tentang pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring cuaca dan iklim ekstrim serta dampaknya terhadap kekeringan dan banjir khususnya bagi sektor pertanian, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di Indonesia dan beberapa negara lain. Beberapa modelyang telah dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia menggunakan data penginderaan jauh resolusi rendah dan menengah secara tunggal maupun gabungan. Beberapa variabel yang dikaji dan diulas antara lain suhu awan, laju curah hujan, suhu permukaan tanah, indeks vegetasi dan turunannya, indeks lengas tanah dan turunannya dapat merepresentasikan kondisi cuaca dan iklim ekstrim, serta kondisi lahan yang rawan kekeringan atau banjir khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Ketelitian model yang telah dikembangkan hingga saat ini dengan data GMS, MTSAT, TRMM, QMorph, MODIS, AVHRR, Landsat-7, SPOT-4, dan ALOS umumnya memadai untuk level nasional hingga level kabupaten dengan koefisien keragaman rata-rata berkisar antara 60% hingga 80%. Meskipun demikian, ketelitian model yang telah dihasilkan dan diaplikasikan masih perlu ditingkatkan. Sistem monitoring berbasis penginderaan jauh memiliki prospek yang sangat baik untuk terus digunakan di masa depan dengan memanfaatkan data yang lebih baru seperti Himawari-8, NPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-6, dan SPOT-7.Abstract. Monitoring of extreme climate and its impacts on agriculture in Indonesia need a lot of data as well as wide and intensive observation network. Remote sensing technology could provide better solution for a broader and rapid monitoring system of extreme climate and its impacts. This paper describes the applications of remote sensing technology on monitoring extreme weather and climate and their impacts on droughts and floods especially in agricultural sector, based on previous research results conducted in Indonesia and several other countries. Some models which have been developed and applied in Indonesia used low and medium resolution data single and combined techniques. Some derived variables were reviewed such as cloud temperature, rainfall rate, land surface temperature, vegetation index and its derivatives, soil moisture index and its derivatives could represent extreme weather and climate condition, as well as land susceptibility to droughts and floods in Java and Bali islands. The accuracy of models using GMS, MTSAT, TRMM, QMorph, MODIS, AVHRR, Landsat-7, SPOT-4, and ALOS to date is generally sufficient at national to district levels with averaged determinant coefficients range between 60% and 80%. However, the accuracy of resulted and applied models still need to be enhanced. Remote sensing-based monitoring system has a good prospect to be continuously implemented in the future using newer data such as Himawari-8, NPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-6, and SPOT-7.

Page 1 of 1 | Total Record : 6