cover
Contact Name
Juliandi Harahap
Contact Email
juliandiharahap@yahoo.com
Phone
+6285358792636
Journal Mail Official
scripta@usu.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine Universitas Sumatera Utara, Jalan dr. T. Mansur No. 5, Kampus USU, Medan 20155, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
ISSN : 20888686     EISSN : 26860864     DOI : https://doi.org/10.32734/scripta.v1i2
Core Subject : Health,
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is a journal aimed to provide a forum for publishing scientific articles in the field of medical or health science. The main focus of SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is tropical medicine and oncology medicine also the rest of medical fields as the additional focus. To achieve its aim, SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal publishes research articles, review articles, and case reports especially manuscript with a regional or national data to raise the interest of the reader in tropical medicine or oncology medicine as the main focus and the rest of medical fields as the addition focus.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal" : 10 Documents clear
Cigarettes and Its Effects on Health Balatif, Ridwan
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.1246

Abstract

Background: One of the biggest challenges in the world of health is the problem of smoking. In 2018, there was an increase in smokers at the age of 10-18 years by 9.1% compared to 2013, which was 7.2%. It is feared that the increasing number of smokers at a young age will increase the number of non-communicable diseases (NCD) at a young age. Methods: Writing this article uses the method of literature searching from various sources of information including e-books, websites and search engines. The e-books used contain cigarette information and its effects on health, the websites used are the website of the government and WHO to search for prevalence data and other information, and the search engines used are Google Scholar and Pubmed to search information on cigarette content research and its effects on health. Discussion: The content of cigarettes can cause various side effects in almost all organs of the body. Various studies have found that smoking is a risk factor for NCD. Conclusion: Cessation of smoking can save sufferers and also save people around smokers. When a smoker starts quitting smoking, the body will undergo the process of cleaning up toxic substances of cigarettes that have entered the body. Keywords: cigarette, literature searching, NCD     Latar Belakang: Salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan ialah masalah rokok. Pada tahun 2018, terjadi peningkatan perokok pada usia 10-18 tahun sebesar 9,1% dibandingkan pada tahun 2013 sebesar 7,2%. Peningkatan jumlah perokok di usia muda ini dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah Penyakit Tidak Menular (PTM) di usia muda. Metode: Penulisan artikel ini menggunakan metode pencarian literatur dari berbagai sumber informasi berupa e-book, website dan search engine. E-book yang dipakai memuat informasi rokok dan pengaruhnya kekesehatan, website yang dipakai adalah website pemerintah dan WHO untuk pencarian data prevalensi dan informasi lainnya, dan search engine yang dipakai adalah Google Scholar dan Pubmed untuk pencarian informasi penelitian kandungan rokok dan pengaruhnya kepada kesehatan. Pembahasan: Dari hasil pencarian, kandungan pada rokok dapat menimbulkan berbagai efek samping hampir di seluruh organ tubuh. Berbagai penelitian mendapatkan bahwa kebiasaan merokok merupakan faktor risiko terjadinya PTM. Kesimpulan: Penghentian kebiasaan merokok ini dapat menyelamatkan penderitanya dan juga menyelamatkan orang di sekitar perokok. Ketika seorang perokok mulai berhenti untuk merokok, maka tubuh akan melakukan proses pembersihan dari zat racun pada rokok yang sudah masuk ke dalam tubuh. Kata kunci: rokok, PTM, pencarian literatur
Relationship of Histopathology Grading with Molecular Subtypes of Breast Cancer Patients in Haji Adam Malik General Hospital 2016-2018 Furqan, Muhammad; Pohan, Pimpin Utama
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3364

Abstract

Background: Breast cancer symptoms are often not felt clearly by patients, as a result many patients who come in an advanced stage. This will affect the prognosis and cure rate of the patient. There are several factors that influence the prognosis of breast cancer, including histopathological grade, and classic immunohistochemical markers such as estrogen receptors, progesterone receptors, and HER2. In addition, breast cancer can be 4 main molecular subtypes, namely Luminal A, Luminal B, HER2-Overexpression, and Triple Negative / Basal-Like. Objectives: This study aims to determine the relationship between histopathological grade with the molecular subtypes of breast cancer patients in Haji Adam Malik General Hospital in 2016-2018. Methods: This is analytical cross-sectional research using a consecutive-sampling technique. Data were obtained secondary from the medical records of breast cancer patients at Haji Adam Malik General Hospital in 2016-2018 and then analyzed with the chi-square test. From 1005 cases of breast cancer during the 2016-2018 period, 131 samples were taken in this study. Results: Of the 131 samples, the highest histopathological grade was grade 2 with 53 people  (40.5%), followed by 41 people (31.3%) with grade 3, and 37 people (28.2%) with grade 1. The most molecular subtypes were Luminal A with 38 people (29%), followed by 33 people (25.2%) with Luminal B, 31 people (23.7%) with HER-2 Overexpression, and 29 people (22.1%) with Triple Negative / Basal-like. From the analysis of the chi-square test obtained p value of 0.045. Conclusion: There is a relationship between histopathological grade with molecular subtypes of breast cancer patients. Keywords: breast cancer, histopathological grade, immunohistochemistry, molecular subtypes     Latar Belakang: Gejala-gejala kanker payudara sering tidak dirasakan dengan jelas oleh pasien, akibatnya banyak pasien yang datang dalam keadaan stadium lanjut. Hal ini akan mempengaruhi prognosis dan tingkat kesembuhan pasien. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis dari kanker payudara, antara lain grading histopatologi, dan marker imunohistokimia klasik seperti reseptor estrogen, reseptor progesteron, dan HER2. Selain itu, kanker payudara dapat diklasifikasikan menjadi 4 subtipe molekuler utama, yaitu Luminal A, Luminal B, HER2-Overexpression, dan Triple Negative/Basal-Like. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grading histopatologi dengan subtipe molekuler pasien kanker payudara di RSUP Haji Adam Malik Tahun 2016-2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik menggunakan desain cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel consecutive-sampling. Data diperoleh secara sekunder dari rekam medis pasien kanker payudara di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2016-2018 dan kemudian dianalisis dengan uji chi-square. Dari 1005 kasus kanker payudara selama periode 2016-2018, diambil sampel pada penelitian ini sebanyak 131 buah rekam medis. Hasil: Dari 131 sampel, grading histopatologi terbanyak terdapat pada grade 2 dengan 53 orang (40,5%) , diikuti 41 orang (31,3%) dengan grade 3, dan 37 orang (28,2%) dengan grade 1. Subtipe molekuler terbanyak yaitu Luminal A dengan 38 orang (29%), diikuti 33 orang (25,2%) dengan Luminal B, 31 orang (23,7%) dengan HER-2 Overexpression, dan 29 orang (22,1%) dengan Triple Negative/Basal-like. Dari hasil uji chi-square diperoleh nilai p sebesar 0,045. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara grading histopatologi dengan subtipe molekuler pasien kanker payudara. Kata kunci: grading histopatologi, imunohistokimia, kanker payudara, subtipe molekuler
Correlation of Body Mass Index and Kellgren-Lawrence Degrees in Genu Osteoarthritis Hardiyanti, Vien; Devi, Mariane; Setiawan, I Made Buddy; Wungou, Herman P. L.
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3369

Abstract

Background: Obesity is a major risk factor for osteoarthritis. Objectives: The aim of this study is to determine the correlation between body mass index with Kellgren-Lawrence degree in genu osteoarthritis patients. Methods: This study used cross-sectional design on 97 participants diagnosed with genu osteoarthritis in Siloam Hospital Kupang in the period January-December 2017. Measurement of height and weight was carried out for the calculation of Body Mass Index. Kellgren-Lawrence degrees were obtained with x-ray photos. Results: Most patients were women (69 patients, 71.7%), 50-59 years old (34 patients, 35.1%), with obesity (61 patients, 62.9%). Conclusion: There was a significant correlation between BMI and Kellgren-Lawrence degree in genu osteoarthritis (p = 0.000). Keywords: BMI, Kellgren-Lawrence, obesity, osteoarthritis genu     Latar Belakang: Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya osteoartritis pada lutut. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan korelasi indeks massa tubuh (IMT) dengan derajat Kellgren-Lawrence pada pasien penderita osteoartritis genu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional yang dilakukan pada 97 responden yang didiagnosis dengan osteoartritis lutut di Rumah Sakit Siloam Kupang pada periode Januari-Desember 2017. Derajat Kellgren-Lawrence ditentukan berdasarkan foto x-ray konvensional. Hasil: Penderita osteoartritis terbanyak adalah perempuan (69 pasien, 71,7%), berusia antara 50-59 tahun (34 pasien, 35,1%), dan dengan IMT kategori obesitas (61 pasien, 62,9%). Kesimpulan: Terdapat korelasi signifikan antara IMT dan derajat Kellgren-Lawrence pada penderita osteoartritis genu. (p = 0,000). Kata kunci: IMT, Kellgren-Lawrence, obesitas, osteoartritis genu
Hubungan Kesepian dengan Masalah Psikologis dan Gejala Gangguan Somatis pada Remaja Dafnaz, Hafizah Khairi; Effendy, Elmeida
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3372

Abstract

Background: Loneliness is a psychological problem that often arises in adolescents. One of the causes is unfulfilled emotional and social needs. The intensity of loneliness can vary, there can be immediately through a feeling of loneliness, but there are also those who constantly feel lonely. It can affect adolescents mentally, so it is often associated with psychological problems and somatic health. Objectives: This study aimed to know the relationship of loneliness with psychological problems and symptoms of somatic disorders in adolescents. Methods: This study is an analytical study with a cross-sectional design, data that used is primary data from questionnaires. The sample was selected by using the stratified random sampling method from all questionnaire data. Results: In the Spearman correlation analysis, the p-value was 0.001 (p<0,005) which showed that there was a relationship between loneliness and psychological problems and symptoms of somatic disorders in adolescents. Bivariate analysis between loneliness and depression obtained correlation coefficient r=0.548, loneliness and anxiety r=0.515, loneliness and stress r=0.472 and loneliness and symptoms of somatic disorders r=0.528. Conclusion: There was a significant relationship between loneliness and psychological problems and symptoms of somatic disorders in adolescents. Keywords: loneliness, psychological problems, symptoms of somatic disorders     Latar Belakang: Kesepian menjadi salah satu masalah psikologis yang sering muncul pada remaja. Salah satu  penyebab timbulnya kesepian pada remaja adalah tidak terpenuhinya kebutuhan emosi dan sosial. Intensitas kesepian bisa berbeda-beda, ada yang dapat segera melalui perasaan kesepian, namun ada juga yang terus-menerus merasakan kesepian. Hal ini dapat mempengaruhi remaja secara mental, sehingga sering dikaitkan dengan masalah psikologis dan kesehatan somatis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kesepian dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada remaja. Metode: Penelitian ini merupakan studi penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional menggunakan data primer yang berasal dari kuisioner. Sampel penelitian dipilih dengan metode stratified random sampling dari seluruh data kuisioner yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil: Pada analisis korelasi Spearman didapatkan nilai p sebesar 0,001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan antara kesepian dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada remaja. Analisis bivariat kesepian dengan depresi didapatkan nilai koefisien korelasi r=0,548, kesepian dengan kecemasan r=0,515, kesepian dengan stres r=0,472 dan kesepian dengan gejala gangguan somatis r=0,528. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara kesepian dengan masalah psikologis dan gejala gangguan somatis pada remaja. Kata kunci: gejala gangguan somatis, kesepian, masalah psikologis
Hubungan Stroke Iskemik dengan Gangguan Fungsi Kognitif di RS Universitas Sumatera Utara Ramadhani, Salsa Shafira; Hutagalung, Haflin Soraya
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3373

Abstract

Background: Stroke is a major health problem worldwide, especially in Asia, which has more than 60% of the world’s population. Besides causing a health problem, stroke is also an economic and social burden in low and middle-income countries. Stroke may cause cognitive impairment, thus cognitive assessment in stroke survivors is important in addition to determine the treatment aimed at improving cognitive function following a stroke. Objectives: This study aims to determine the association between gender, age, and duration of education and cognitive impairment of post-stroke patients at Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Methods: This study is an analytical research study using a cross-sectional design with a total of 24 respondents selected by consecutive sampling. Data collection was done by using medical records and interviewing the MoCA-Ina questionnaire to respondents. Results: On the analysis of chi-square obtained, gender value p = 0.673 indicating there is no association between gender and cognitive impairment, age (p = 0.035) and duration of education (p = 0.013) indicating there is an association between age as well as the duration of education and cognitive impairment of post-ischemic stroke patients. Conclusion: There is an association between age as well as the duration of education and cognitive impairment, whereas gender does not show association with cognitive impairment in post-ischemic stroke patients. Keywords: cognitive function, ischemic stroke, MoCA-Ina, post ischemic stroke     Latar Belakang: Stroke merupakan masalah kesehatan utama di dunia terutama di Benua Asia dengan penduduk lebih dari 60% populasi dunia. Selain menimbulkan masalah kesehatan stroke juga menjadi beban ekonomi dan sosial di negara yang berpendapatan rendah dan menengah. Stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif sehingga pemeriksaan fungsi kognitif pada pasien stroke merupakan hal yang penting untuk dapat menentukan penanganan selanjutnya yang bertujuan memperbaiki fungsi kognitif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jenis kelamin, usia dan lama pendidikan dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke iskemik di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik menggunakan desain penelitian potong lintang dengan sampel penelitian pasien pasca stroke iskemik di poliklinik saraf di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dipilih dengan metode consecutive sampling sebanyak 24 responden. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan rekam medik serta wawancara menggunakan kuisioner MoCA-Ina kepada responden. Hasil: Pada analisis uji chi square didapatkan jenis kelamin (p = 0,673) tidak berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke, sedangkan usia (p = 0,035) dan lama pendidikan (p = 0,013) menunjukkan hubungan dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke iskemik. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara usia dan lama pendidikan dengan gangguan fungsi kognitif, sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan adanya hubungan dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke iskemik. Kata kunci: fungsi kognitif, MoCA-Ina, pasca stroke iskemik, stroke iskemik
Hubungan Pengetahuan Anak tentang Cuci Tangan dengan Kejadian Diare di Desa Panobasan Harahap, Nurul Wahida; Arto, Karina Sugih; Supriatmo; Dalimunthe, Dina Arwina
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3392

Abstract

Background: Diarrhea is a condition in which feces are discharged from the bowel in loose consistency or even liquid form, and the frequency is usually more often ( usually three times or more) in one day. Non-hygienic lifestyles, such as not washing hands before consuming food and after doing activities can cause negative impact to health, particularly the occurrence of diseases that related to poor sanitation, such as diarrhea. The prevalence are more common by 10 % in rural areas compared to 7.4% in urban areas. Incidence rate in diarrhea tends to be higher in group with lower education whom work as farmer, fisherman, or labor. Objectives: This study aims to analyze the relationship of childrend`s knowledge about hand washing and diarrhea occurence. Methods: This study is an  analytic study with a cross sectional design. The data is primary data that were collected directly from respondents through questionnaire. The respondents were chosen by stratified random sampling method. Results: From data of 35 respondents, the p-value 0.005 ( p <0.05), PR value 0.364 ( 0.177 – 0.749). Conclusion: There is a significant relationship between childrend`s knowledge about hand washing with diarrhea in Panobasan village. Keywords: children's knowledge, diarrhea, hand washing     Latar Belakang: Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari. Kebiasaan kurang higienis berupa tidak mencuci tangan sebelum makan atau tidak mencuci tangan setelah melakukan aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat, terutama munculnya penyakit yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang rendah salah satunya yaitu diare. Prevalensi diare lebih banyak di pedesaan dibandingkan perkotaan, yaitu sebesar 10% di pedesaan dan 7,4 % di perkotaan. Diare cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan bekerja sebagai petani, nelayan dan buruh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan anak tentang cuci tangan dengan kejadian diare. Metode: Penelitian ini merupakan studi penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional, metode pengumpulan data penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sampel menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan cara stratified random sampling. Hasil: Dari 135 responden, hubungan pengetahuan anak tentang cuci tangan dengan kejadian diare didapatkan hasil  dengan nilai p = 0,005 (p < 0,05), dan nilai PR = 0,364 (0,177 – 0,749). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahauan anak tentang cuci tangan dengan kejadian diare di desa Panobasan. Kata kunci: cuci tangan, diare, pengetahuan anak
Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Remaja tentang Kesehatan Reproduksi di SMK Negeri 8 Medan Nasution, Iqbal Pahlevi Adeputra; Manik, Binsyah Sari Indah Gajah
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3424

Abstract

Background: Reproductive health is one of the most important things for human life, which includes a complete physical, mental, social welfare condition in all matters relating to the function and role of the reproductive system. Reproductive health education should be given since adolescence, because adolescence is a phase towards more mature reproduction. Adolescent problems related to reproductive health, often stem from a lack of information, understanding and awareness to achieve reproductive health. Objectives: This study aims to determine the level of knowledge, attitudes and behavior of adolescents about reproductive health at SMK Negeri 8 Medan. Methods: This study was a descriptive study with a cross sectional design. The research data is primary data, namely by filling out a questionnaire. The sample of this research is 96 people. The sample technique is stratified random sampling. Data were analyzed using the SPSS computer program using descriptive statistical tests and displaying the results in distribution and frequency tables. Results: Knowledge level of adolescents in SMK Negeri 8 Medan is good (59.4%), attitude level is good (80.2%) and behavior level is good (99%). Conclusion: The level of knowledge, attitudes and behavior of adolescents about health reproduction at SMK Negeri 8 is classified as good. Keywords: adolescent, attitude, behavior, knowledge, reproductive health     Latar Belakang: Kesehatan reproduksi merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia yaitu mencakup keadaan sejahtera baik fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dari sistem reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi sebaiknya diberikan sejak remaja, karena remaja merupakan fase menuju reproduksi yang lebih matang. Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, sering kali berakar dari kurangnya informasi, pemahaman dan kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi di SMK Negeri 8 Medan. Metode: Penelitian ini adalah studi deskriptif dengan desain cross sectional. Data penelitian adalah data primer yaitu dengan pengisian kuesioner. Sampel penelitian ini berjumlah 96 orang. Teknik sampel adalah stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan program komputer SPSS menggunakan uji statistik deskriptif dan menampilkan hasil dalam tabel distribusi dan frekuensi. Hasil: Tingkat pengetahuan remaja SMK Negeri 8 Medan tergolong baik (59,4%), tingkat sikap tergolong baik (80,2%), dan tingkat perilaku tergolong baik (99%). Kesimpulan: Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi di SMK Negeri 8 tergolong baik. Kata kunci: kesehatan reproduksi, pengetahuan, perilaku, remaja, sikap
Perawatan Diagnostik dan Konservatif Hidropneumotorax karena Tuberkulosis pada Anak Laki-Laki Berusia 17 Tahun: Laporan Kasus Sebayang, Abed Nego Okthara
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3527

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis is an infectious disease of the lungs caused by Mycobacterium Tuberculosis. The prevalence of pulmonary tuberculosis in Indonesia is estimated at 420,000 every year. Pulmonary tuberculosis is transmitted from person to person through droplet infection. Complications that can occur in pulmonary tuberculosis are empyema, pleural effusion, hydropneumothorax and even fibrothorax. Case Illustration: A 17 years old boy was entered the hospital with the complaint of dyspnea. The patient appeared such indications as: pulse is 104/minute, blood pressure 119/70 mmHg, temperature 37 0C, respiratory rate is 28/minute, SpO2 is 90%. Physical examination showed tachypnea, asymmetrical chest wall movement, weak vesicular sound in the right lung, radiography examination showed right hydropneumothorax. Discussion: Pulmonary tuberculosis is a chronic infectious granulomatous disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. This disease usually attacks the lungs. In this case pulmonary tuberculosis with hydropneumothorax was found. The given treatment was water seal drainage installation, oral 4-FDC, oral acetyl cysteine and during treatment the patient is given advice to blow balloons every day. Treatment is carried out for eight days and showed a good response. Conclusion: Pulmonary tuberculosis is an infectious disease of the lungs caused by Mycobacterium tuberculosis. In this case, pulmonary tuberculosis with hydropneumothorax was found. Appropriate management is needed to reduce the level of morbidity in these patients. Keywords: dyspnea, hydropneumothorax, tuberculosis     Latar Belakang: Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Prevalensi TB paru di Indonesia diperkirakan 420.000 setiap tahun. Tuberkulosis paru ditularkan dari orang ke orang melalui droplet. Komplikasi yang dapat terjadi pada tuberkulosis paru adalah empyema, efusi pleura, hidropneumotoraks, dan bahkan fibrotoraks. Ilustrasi Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan dyspnea. Pasien datang dengan indikasi seperti: denyut nadi 104 / menit, tekanan darah 119/70 mmHg, suhu 37 0C, laju pernapasan 28 / menit, SpO2 90%. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea, gerakan dinding dada asimetris, suara vesikular lemah di paru kanan, pemeriksaan radiografi menunjukkan hidropneumotoraks dextra. Pembahasan: Tuberkulosis paru adalah penyakit granulomatosa menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru. Dalam kasus ini ditemukan tuberkulosis paru dengan hidropneumotoraks. Penatalaksanaan yang diberikan adalah pemasangan drainase seal air, oral 4-FDC, asetil sistein, dan selama perawatan pasien diberikan saran untuk meniup balon setiap hari. Perawatan dilakukan selama delapan hari dan menunjukkan respons yang baik. Kesimpulan: Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Dalam kasus ini, ditemukan tuberkulosis paru dengan hidropneumotoraks. Manajemen yang tepat diperlukan untuk mengurangi tingkat morbiditas pada pasien ini. Kata kunci: dyspnea, hidropneumotoraks, tuberkulosis
Endovascular Aortic Repair (EVAR) Method in The Management of Abdominal Aortic Aneurysm Sebayang, Abed Nego Okthara; Hidayat, Niko Azhari
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3530

Abstract

Aortic disease is a collection of diseases of the aorta, which includes aortic aneurysms; acute aortic infections consisting of aortic dissection, intramular hematoma, penetration of atherosclerotic ulcers (PAU) and traumatic injury to the aorta; pseudoaneurysm; aortic rupture; Marfan syndrome; and congenital abnormalities such as coarctation of the aorta. One of the aortic diseases that cause the death rate to increase according to the 2010 Global Burden Disease is aortic aneurysm. Abdominal aortic aneurysm (AAA) is a focal dilatation of the aortic segment. The diagnosis of AAA is done by history taking, physical examination and supporting examination. Management at AAA aims to prevent aortic wall rupture. An alternative procedure without open surgery is endovascular aortic repair (EVAR) using prostheses. It is expected that through the EVAR method, mortality and morbidity due to AAA can be reduced. Keywords: abdominal aortic aneursym, EVAR, prostheses     Penyakit aorta merupakan kumpulan penyakit pada aorta yang meliputi aneurisma aorta; sindrom aorta akut berupa diseksi aorta, hematoma intramular, penetrating atherosclerosis ulcer (PAU) dan cedera akibat trauma pada aorta; pseudoaneurysm; ruptur aorta; sindrom Marfan; serta penyakit kongenital seperti koarktasio aorta. Salah satu penyakit aorta yang menyebabkan angka kematian meningkat menurut Global Burden Disease 2010 adalah aneurisma aorta. Aneurisma aorta abdominalis (AAA) merupakan dilatasi fokal pada segmen aorta. Penegakan diagnosis AAA dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan pada AAA bertujuan untuk mencegah pecahnya dinding aorta. Prosedur alternatif tanpa pembedahan terbuka yang dijadikan pilihan adalah endovascular aortic repair (EVAR) menggunakan protesa. Diharapkan melalui metode EVAR angka mortalitas dan morbiditas akibat AAA dapat diturunkan. Kata kunci: aneurisma aorta abdominalis, EVAR, protesa
Refluks Laringofaring Aulia, Wita
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v2i1.3956

Abstract

Laryngopharyngeal reflux (LPR) is a disease in which retrograde flow occurs from the contents of the stomach to the larynx and pharynx and then this material is in contact with the upper esophagus. This disease is different from gastroesophageal reflux disease (GERD). A man, 58 years old laborer, came with complaints of hoarseness since 3 months ago. Complaints are accompanied by swallowing pain and throat pain that has worsened since 1 month. The patient also complained that the sound had disappeared within 1 month. The patient has a history of smoking and claims that he has had a long-standing heartburn. Physical examination found blood pressure of 150/90 mmHg, pulse 102 x/minute, breathing 20 x/minute, temperature 37.9ºC. Investigations were done using the Fiber Optic Laryngoscope (LFO) and revealed a rigid epiglottis and bilateral hyperemic arytenoids and minimal edema. RSI score calculation results have been 18 and RFS score results have been 9. This pateint’s diagnosis is Laryngopharyngeal reflux (LPR). Pharmacological management for this patient is Omeprazole 40 mg 2x1 tablet, Sucralfate syrup 3x1 teaspoon, and N-acetylcysteine 3x1 tablet. Non-pharmacological management is by telling the patient to give 2 hours time between eating and lying down. The patient is also told to reduce the consumption of fatty foods, coffee, soda, alcohol, and low-acid diets, and position the head slightly higher when lying down. Keywords: Fiber Optic Laryngoscope, laryngopharyngeal reflux, Reflux Finding Score, Reflux Symptom Index     Refluks laringofaring adalah penyakit dimana terjadi aliran retrograde dari isi lambung ke laring dan faring kemudian cairan ini bersentuhan dengan saluran esofagus bagian atas. Penyakit ini berbeda dengan gastroesophageal reflux disease (GERD). Seorang laki-laki, usia 58 tahun seorang buruh datang dengan keluhan suara serak sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan nyeri menelan dan nyeri tenggorokan yang memberat sejak 1 bulan ini. Pasien juga mengeluhkan suara sempat hilang timbul dalam 1 bulan ini. Pasien memiliki riwayat merokok dan mengaku bahwa menderita sakit maag sejak lama. Pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 102 x/menit, pernapasan 20 x/menit, suhu 37,9ºC. Pada pemeriksaan penunjang Fiber Optic Laryngoscope (LFO), didapatkan epiglotis yang kaku serta aritenoid hiperemis bilateral dan edema minimal. Pada perhitungan skor RSI didapatkan hasil 18 dan skor RFS didapatkan hasil 9. Diagnosis pada pasien ini adalah refluks laringofaring. Penatalaksanaan pada pasien berupa medikamentosa yaitu Omeprazole tablet 40 mg 2x1 tablet, Sukralfat syrup 3x1 sendok teh, dan N-asetilsistein 3x1 tablet. Non-medikamentosa dengan memberitahukan kepada pasien untuk jarak makan dan berbaring kurang lebih 2 jam, mengurangi konsumsi makanan berlemak, kopi, soda, alkohol, dan diet rendah asam, serta memberitahukan kepada pasien untuk memposisikan kepala sedikit lebih tinggi saat berbaring Kata kunci: Fiber Optic Laryngoscope, refluks laringofaring, Reflux Finding Score, Reflux Symptom Index

Page 1 of 1 | Total Record : 10