cover
Contact Name
Cucuk Evi Lusiani
Contact Email
lusiani1891@polinema.ac.id
Phone
+6282140565353
Journal Mail Official
lusiani1891@polinema.ac.id
Editorial Address
Jl. Soekarno Hatta No. 9, Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang 65141
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi
ISSN : 19788789     EISSN : 27147649     DOI : http://dx.doi.org/10.33795/distilat
Core Subject : Engineering,
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi is an Open Access Journal with manuscripts in the form of research articles, literature review, or case reports that have not been accepted for publication or even published in other scientific journals.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2022): June 2022" : 17 Documents clear
EFEK PEMANASAN MENGGUNAKAN API DAN SINAR MATAHARI TERHADAP KETAHANAN GRANUL MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Kukuh Whisnu Prianggoro; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.374

Abstract

Substrate atau media tanam aquascape adalah lapisan paling atas yang bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Substrate Soil telah dilengkapi dengan nutrisi dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara optimum terutama untuk tanaman karpet dan stem plant yang membutuhkan pH rendah. Penelitian ini bertujuan untuk perbandingan metode pemanasan menggunakan api dan sinar matahari. Dalam penelitian ini menggunakan metode basah dan metode kering dengan bahan pembantu yaitu arang. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemanasan metode api lebih baik dibandingkan dengan metode sinar matahari. Hal ini dibuktikan dengan hasil perendaman substrate soil di dalam air menunjukkan bahwa soil dengan pemanasan api lebih tahan dari pemanasan sinar matahari. Sedangkan untuk Analisa pH penggunaan pemanasan metode api memiliki pH sesuai yaitu 6,3 saat perendaman hari pertama dan pada hari ke tujuh pH air rendaman soil sebesar 6,9. Sedangkan pada pemanasan metode matahari pH yang dihasilkan lebih tinggi dari pemanasan metode api. Hasil Analisa TDS pemanasan metode api memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan pemanasan metode sinar matahari yaitu sebesar 210 – 340 mg/l untuk pemanasan metode api dan 300 – 410 mg/l untuk pemanasan metode sinar matahari. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa pemanasan metode api memiliki hasil analisa yang sesuai untuk keberlangsungan ekosistem aquascape.
PHOSPHONIC ACID MODIFICATION TO MOLYBDENUM ATOM CATALYST FOR CO2 HYDROGENATION ON MAGNESIUM HYDRIDE SURFACE Gumawa Windu Manggada; Shixue Zhou
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.383

Abstract

Catalytic hydrogenation is one of the most effective ways to convert CO2 to high value-added chemicals, and it is challenging to improve the catalytic activity and product selectivity based on the understanding of catalysis mechanism of the process. In this work, organic phosphonic acid was innovatively employed to tune single atom catalyst for CO2 hydrogenation to methanol, and the effect of fluoromethylphosphonic acid (FMPA) on the electronic structure of molybdenum and the reaction energy barriers of CO2 hydrogenation on MgH2 surface were investigated by density functional theory (DFT) calculations. The results showed that the reaction energy barriers at the key steps were significantly decreased by the introduction of FMPA, which stabilized the reaction intermediates from CO2 hydrogenation by reducing the electron density of molybdenum adsorption site with its oxygen atoms. The reverse water gas shift (RWGS) pathway was superior to formate pathway for CO2 hydrogenation on FMPA/Mo-MgH2(001) surface with energy barrier only 1.22 eV at the rate-determining step, and CH3OH was the overwhelming product rather than HCOOH, H2CO, CO or CH4 considering the reaction barriers and adsorption energies. The combination of organic phosphonic acid with single atom catalyst can generate the rational design of new catalytic system, which is helpful to control the reaction pathway and product selectivity.
KARAKTERISTIK FISIK VIRGIN COCONUT OIL (VCO) HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI ROTI SELAMA < 24 JAM DENGAN KONSENTRASI NUTRISI YEAST 4% B/V Dynda Farisa Cahya Negari; Cucuk Evi Lusiani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.382

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis yang menjadi salah satu eksportir buah kelapa terbesar di dunia setelah Filipina. Luas perkebunan kelapa Indonesia mencapai 3,86 juta hektar atau setara dengan 31,2% total dari perkebunan kelapa di dunia. Pohon kelapa banyak tumbuh di daerah pantai dengan ketinggian pohon mencapai hingga 30 meter. Pohon kelapa dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga daun. Salah satu bagian yang memiliki banyak manfaat yaitu buah kelapa yang dapat diolah menjadi minyak kelapa murni atau biasa disebut Virgin Coconut Oil (VCO) melalui proses fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi terhadap karakteristik fisik virgin coconut oil (VCO) hasil fermentasi menggunakan ragi roti selama < 24 jam dengan konsentrasi starter 4% (b/v). Penelitian ini dilakukan dengan variabel waktu fermentasi selama 6, 12, dan 18 jam menggunakan starter dari ragi roti dengan komposisi 1 g ragi roti, 2 g gula, dan 50 mL air kelapa. Secara fisik, produk VCO waktu fermentasi selama 18 jam yang dihasilkan dalam penelitian ini sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7381:2008 yaitu tidak berwarna dan jernih, beraroma khas kelapa segar, dan terasa khas minyak kelapa. Nilai pH pada produk VCO hasil fermentasi selama 6, 12, dan 18 jam yaitu 4,3; 4,5; dan 4,8. Nilai %yield tertinggi pada produk VCO yang dihasilkan yaitu sebesar 13,09% (v/v) selama waktu fermentasi 18 jam. Produk VCO yang dihasilkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai %yield semakin tinggi seiring bertambahnya waktu fermentasi.  
PENGARUH PENAMBAHAN SUSU KAPUR TERHADAP NILAI TURBIDITY NIRA TEBU DALAM PEMBUATAN GULA PASIR Inun Milaniyah; Rosita Dwi Chrisnandari; Kristian Dony Setyawan
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.376

Abstract

Kebutuhan gula pasir semakin tinggi seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia. Oleh karena itu industri gula berusaha untuk meningkatkan produksi dan kualitas yang baik. Gula pasir dapat dikatakan baik apabila selama proses pembuatan tidak terjadi browning sehingga produk gula pasir berwarna putih. Browning terjadi jika selama proses pembuatan gula pasir, nira tebu memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi. Untuk menghindari proses browning maka industri gula melakukan perlakuan terhadap nira tebu dengan proses defekasi atau penambahan susu kapur ke dalam nira tebu hingga pH tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan susu kapur terhadap nilai turbidity nira tebu. Penelitian dilakukan dengan memasak nira mentah tebu dari stasiun gilingan Pabrik Gula Wonolangan sebanyak 500 mL hingga suhu 75oC, kemudian ditambah dengan susu kapur hingga variasi pH campuran nira dan susu kapur mencapai 8,5 ; 8,6 ; 8,8 dan 9,0 lalu dipanaskan kembali hingga suhu ±105oC. Hasil penelitian menunjukkan campuran nira tebu dan susu kapur dengan pH 8,9 memiliki nilai turbidity terendah yaitu sebesar 599,37 NTU. Pada pH 8,9 susu kapur yang ditambahkan sebanyak ±4,2 mL. Selain itu, dapat diketahui nilai turbidity tertinggi adalah di pH 8,8 dan 9 yaitu masing-masing 1526,34 dan 1485,33 NTU.
PENGARUH PENGGUNAAN KAPUR DAN LAMA WAKTU PENGERINGAN TERHADAP KETAHANAN GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Aldila Maysela Sukmawati; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.371

Abstract

Aquascape saat ini mempunyai ketertarikan besar terhadap tanaman air. Tujuan utama untuk menciptakan visibilitas bawah air yang bagus di akuarium dan membuatnya terlihat lebih menarik secara visual, dengan mempertimbangkan aspek perawatan tanaman air. Untuk membuat aquascape salah satu hal penting yaitu substrate soil. Dalam pembuatan substrate soil menggunakan bahan baku berupa tanah humus dan tanah taman. Karena substrate soil ini mudah hancur pada saat didasar air maka diperlukan bahan tambahan berupa perekat yaitu kapur organik. Kapur organik ini berfungsi sebagai perekat karena kapur organik mempunyai sifat plastis yaitu bisa mengeras dengan cepat sehingga memberi kekuatan pengikat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa lama ketahanan granula dalam dasar air dan mengetahui pH air yang diperoleh. Proses pembuatan substrate soil diawali dengan pencampuran bahan baku tanah humus dan tanah taman kemudian dicampur dengan bahan tambahan perekat berupa kapur dan di seprai dengan air lalu proses granulasi dalam bak. Variabel untuk jumlah perekat kapur organik menggunakan perbandingan 10%, 15%, dan 20% dari total berat bahan baku. Kemudian granula yang sudah terbentuk akan disangrai menggunakan api kompor hingga kandungan airnya berkurang. Variabel pengeringan terdiri dari 30 detik, 60 detik, dan 90 detik. Dari data hasil analisis yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kandungan kapur maka semakin kuat ketahanan bentuk granula, selain itu juga semakin stabil pH yang diperoleh.
PENGARUH RASIO MOLASES DAN BAHAN BAKU PADA KETAHANAN BENTUK GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Putri Dyah Damayanti; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.369

Abstract

Soil substrate merupakan media tanam sebagai media tanam dan bersentuhan langsung dengan akar tanaman air. Bentuk yang umum adalah granula, karena lebih mudah ditaburkan dan meresap ke tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil optimal rasio perekat molases dan bahan baku yang tepat untuk mendapatkan granula media tanam yang tidak mudah hancur saat pengaplikasian di air dan perubahan nilai pH air. Proses yang digunakan yaitu granulasi basah, dilakukan dengan mencampurkan bahan baku serbuk dengan perekat kemudian dilakukan pengeringan dan pengayakan. Variasi rasio tanah humus dan tanah tanam yaitu 1:3, 2:3 dan 3:4. Variasi rasio molases dan air yaitu 20 mL:400 mL, 30 mL:400 mL dan 40 mL:400 mL. Hasil optimal menggunakan perekat molases 20 mL pada rasio bahan 1:3 dan 2:3 mampu mempertahankan bentuk 7 hari. Pada molases 30 mL dan rasio bahan 1:3 mampu bertahan 2 hari. Dan pada molases 40 mL dengan rasio bahan 1:3 mampu bertahan 2 hari, namun rasio bahan 2:3 mampu bertahan 7 hari. Kualitas fisik optimal yang dihasilkan yaitu dengan perekat molases 20 mL pada rasio bahan 1:3 dan 2:3, dan perekat molases 40 mL dengan rasio bahan 2:3. Nilai pH mengalami penurunan dalam 5 hari pertama, namun meningkat pada hari ke 6 dan 7 dikarenakan konsentrasi CO2 dan suhu air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio air dan perekat yang digunakan, rasio bahan baku yang digunakan sangat mempengaruhi ketahanan soil substrate dan pH air yang dihasilkan saat diaplikasikan di dalam air.
STUDI PERHITUNGAN HEAT EXCHANGER TIPE DOUBLE PIPE PADA PROSES PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT DENGAN TAMBAHAN SARI CUCUMBER DAN KAPASITAS 6300 TON/ TAHUN Novia Damayanti; Nanik Hendrawati
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.379

Abstract

Kebutuhan sabun mandi di era pandemi mengalami kenaikan yang signifikan. Peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan pabrik baru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam perancangan pabrik sabun adalah perhitungan Heat Exchanger. Dalam pembuatan sabun menggunakan proses trigliserida dibutuhkan pemanasan awal bahan. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban reaktor dan memudahkan proses saponifikasi terjadi didalam reaktor saat proses reaksi berlangsung. Selain itu, pemanas yang digunakan harus di desain terlebih dahulu agar layak digunakan dan dapat mengurangi biaya pemeliharaan di masa depan. Desain alat ini akan didasarkan pada studi literatur dan perhitungan manual menggunakan Ms. Excel . Proses pemanasan dilakukan dengan suhu bahan masuk Heat Exchanger sebesar 30◦C hingga suhu keluar dari Heat Exchanger yang akan masuk ke dalam Continuous stirred-tank reactors (CSTR) menjadi 70◦C. Dari perhitungan menggunakan Ms. Excel  didapatkan dimensi pipa dengan panjang hairpin 12 ft, nilai luas perpindahan panas sebesar 20,880 ft2, serta nilai Foulling Factor (Rd) hitung sebesar 0,002 dan nilai Foulling Factor (Rd) pembanding sebesar 0,002, sehingga dari hasil perhitungan tersebut spesifikasi Heat Exchanger sudah memenuhi syarat dilihat dari nilai Foulling Factor (Rd) hitung sama dengan Foulling Factor (Rd) ketentuan atau pembanding, yang mana Heat Exchanger  dalam keadaan baik dan layak operasi. 
STUDI PERHITUNGAN HEAT EXCHANGER TIPE DOUBLE PIPE SEBELUM REAKTOR PADA PRA-RANCANGAN PABRIK KIMIA CUCUMBER SOAP KAPASITAS PRODUKSI 6.300 TON/TAHUN Intan Mahrissa Ainursyiam; Nanik Hendrawati
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.378

Abstract

Pada situasi dan kondisi pandemi seperti ini, memicu orang-orang untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan dengan melakukan cuci tangan menggunakan sabun. Sabun merupakan sufraktan yang berguna sebagai zat pembersih dan berasal dari reaksi saponifikasi trigliserida. Keberhasilan produk sabun, didapatkan dari reaksi antara trigliserida (minyak) dan larutan alkali secara sempurna. Proses saponifikasi terjadi didalam reaktor dengan kondisi operasi 90°C. Untuk mengurangi penggunaan steam dan beban dari reaktor maka, diperlukan pemanasan awal sebelum memasuki reaktor terhadap larutan minyak dari suhu 30°C mencapai 70°C dengan menggunakan alat penukar panas yaitu heat exchanger. Agar tercapai efisiensi yang lebih baik, makadiperlukan perancangan sesuai dengan kebutuhan pemanasan. Upaya terhadap perancangan ini, dilakukan dengan cara memilih jenis heat exchanger, dan melakukan perhitungan terhadap dimensi dari heat exchanger. Dari perhitungan menggunakan aplikasi microsoft exceel, didapatkan data berupa panjang pipa 12 ft, luas perpindahan panas 50,754 ft2, dan juga menghasilkan fouling factor sebesar 0,003 Btu/jam.ft2.F yang mana hasil tersebut sudah sama dengan nilai fouling factor ketentuan. Hal ini menunjukkan bahwa heat exchanger dalam keadaan aman dan layak beroperasi tanpa adanya hambatan.
ANALISA PENGGUNAAN TANAH LIAT DAN TANAH LEMPUNG DALAM PEMBUATAN SUBSTRAT SOIL UNTUK AQUATIC PLANT Anggi Wahyu Kusuma; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.360

Abstract

Substrate soil merupakan media tanam yang ada didalam aquascape yang mengandung unsur organik serta mineral yang penting bagi tumbuhan air. Bahan baku utama dari substrate soil bermacam-macam bisa dari pasir maupun tanah, tetapi penggunaan tanah dalam pembuatan substrate soil dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pasir dikarenakan tanah memiliki sifat yang berat serta melekat dan mampu mengikat akar tanaman dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan bahan baku tanah liat dan tanah lempung pada pembuatan substrate soil terhadap ketahanan soil yang dihasilkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kering dengan bahan utama yaitu tanah liat dan tanah lempung sebanyak 500 gram, kotoran kambing dan arang sebanyak 50 gram. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa bahan baku tanah liat memiliki tingkat ketahanan bahan baku tanah liat lebih  baik dibandingkan dengan bahan baku tanah lempung yang dibuktikan dengan hasil perendaman substrate soil di dalam air menunjukkan bahwa selama 7 hari substrate soil masih tahan terhadap air. Sedangkan untuk analisa pH penggunaan bahan baku tanah liat memiliki memiliki nilai pH yang sesuai yaitu sebesar 6,2 dihari pertama dan dihari ke tujuh pH air sebesar 7. Hasil dari analisa TDS bahan baku tanah liat memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan bahan baku tanah lempung yaitu dengan rentang 200-320 mg/l untuk tanah liat dan 298-400 mg/l untuk tanah lempung. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku tanah liat memiliki hasil analisa  yang sesuai standar untuk kehidupan organisme akuatik.
STUDY ON DOUBLE-EFFECT DISTILLATION PROCESS FOR SEPARATING METHANOL-WATER USING ASPEN PLUS V10 Zauziah Pramiswari Putri; Cucuk Evi Lusiani; Zhang Zhishan
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.384

Abstract

Methanol (also known as CH3OH, methyl alcohol, hydroxymethane, wood alcohol, or carbinol) is a widely used primary raw material. It is one of the first organic chemicals to find extensive laboratory and industrial use. Methanol and water are ideal binary systems that can be separated by conventional distillation. This study aims to separate methanol-water using a simulated double-effect distillation process in Aspen Plus. To obtain a higher purity of methanol and consider the high energy consumption of the distillation process, double-effect distillation with a double column was used. Furthermore, the single-column and double-effect distillation processes can be simulated by Aspen Plus software. The software version used in this simulation is Aspen Plus V.10 with NRTL thermodynamics methods as binary interaction parameters. The double effect distillation column was equipped with a heat exchanger, splitter, and pump. Moreover, a design specification is needed to get the purity of methanol as wanted. Compared to each column process, the temperature profile of each column process is directly proportional to the number of stages. By simulation process that has been carried out, the purity of methanol in the single-column process and double-effect distillation process is slightly different with 97.1% and 97.2%, respectively. In the double-effect distillation process, columns C1 and C2 save 0.6% and 0.37% of energy in the single-column process, respectively. It indicates that the double-effect distillation has obvious advantages over single-column distillation in terms of purity of methanol and energy saving.

Page 1 of 2 | Total Record : 17