cover
Contact Name
Rido Latuheru
Contact Email
latuheru.rido@gmail.com
Phone
+6285243060741
Journal Mail Official
latuheru.rido@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ot Pattimaipauw, Kampus UKIM, Kota Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Badati
ISSN : 19075340     EISSN : 27223248     DOI : https://doi.org/10.38012/jb.v2i1
Core Subject : Education, Social,
JURNAL BADATI diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Kristen Indonesia Maluku. KATA BADATI adalah sebuah nama yang berasal dari kosa-kata bahasa daerah Maluku Tengah, tepatnya masyarakat Ambon dan Lease. Badati, secara singkat, adalah suatu suasana yang tumbuh dan terpelihara bergenerasi dalam keseharian aktivitas bersama secara kekeluargaan di mana setiap orang atau keluarga, baik dalam pendekatan orang per orang, keluarga (baik dalam garis lurus atau menyimpang), atau anak negeri/masyarakat dalam satu negeri/desa, menunjukkan kepeduliannya untuk turut menanggung suatu beban (biasanya secara material) bersama yang sebelumnya tidak bisa ditanggung oleh seseorang atau suatu keluarga. Pilihan nama BADATI mengandung makna filosofi, yakni menunjuk pada upaya untuk mencerdaskan dan memberdayakan orang demi kesejahteraannya (individu, kelompok dan masyarakat) melalui pikiran-pikiran dari hasil penelitian kajian teoritik tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa bekerja bersama dengan melibatkan pihak lain sebagai sistem sumber (Jejaring). Di dalam prinsip bekerja bersama itu, secara esensial, bertujuan untuk memandirikan orang (individu, kelompok dan masyarakat) sebagai subyek dengan menggali dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya secara bermartabat. BADATI memiliki nomor ISSN 1907-5340 (cetak) diterbitkan secara cetak sejak tahun 2007 dan pada tahun 2019 Jurnal Badati diterbitkan secara online sejak Volume 1 no 1 tahun 2019 dengan no ISSN 2722-3248 (online) oleh Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik sampai sekarang. Dengan tujuan untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Sosial dan Humaniora. BADATI menerima tulisan berbentuk riset kuantitatif maupun kualitatif dari akademisi, praktisi, peneliti yang relevan dengan topik ilmu sosial dan humaniora. Artikel yang dikirimkan haruslah belum pernah atau tidak sedang dalam proses dimuat pada jurnal lainnya. Artikel yang masuk harus sesuai dengan petunjuk penulisan atau format yang telah ditetapkan. Editor akan menolak artikel yang tidak memenuhi persyaratan tanpa proses lebih lanjut. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer melalui proses blind-review. BADATI terbit dua kali dalam satu tahun, April dan November.
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2024)" : 19 Documents clear
ANALYSIS OF CITIZEN ACCEPTANCE IN POLICE SERVICES: A PERSPECTIVE FROM THE ACCEPTANCE THEORY Mamat Rahmat; Hafied Cangara
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1211

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tentang penerimaan warga dalm pelayanan kepolisian. Metode penelitianadalah kualitatif dengan menggunakan data sekunder berupa dokumentasi sebagai data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan warga terhadap pelayanan polisi memiliki dampak signifikan pada keberhasilanpenegakan hukum dan keamanan masyarakat. Dengan menerapkan teori penerimaan, institusi polisi dapat lebih memahami faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan warga dan mengambil langkah-langkah untukmeningkatkannya. Transparansi, partisipasi warga, dan responsivitas polisi menjadi kunci dalam membangunhubungan yang positif antara polisi dan masyarakat. Transparansi institusi polisi sangat penting untuk membangunkepercayaan warga terhadap pelayanan polisi. Institusi polisi yang transparan dapat memberikan informasi yangjelas dan akurat kepada masyarakat, sehingga meningkatkan penerimaan warga terhadap kebijakan dan tindakan polisi. Mengikutsertakan warga dalam proses pengambilan keputusan dan pemberian masukan dapat meningkatkanpenerimaan terhadap pelayanan polisi. Partisipasi warga menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap keamanan dan penegakan hukum. Responsivitas polisi terhadap kebutuhan dan kekhawatiran wargamerupakan faktor penting dalam penerimaan masyarakat. Polisi yang responsif terhadap laporan kejahatan, memberikan informasi yang tepat waktu, dan merespons kebutuhan warga dengan cepat dapat meningkatkankepercayaan dan penerimaan.
POLA PENANGANAN LANJUT USIA (STUDI DI PANTI SOSIAL THERESNA WERDHA PSTW) INAKAKA KECAMATAN TELUK AMBON) Hobarth Williams Soselisa
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1202

Abstract

The pattern of handling the elderly at the Tresna Werdha Ina-kaka Ambon Social Home is carried out in accordance with handling procedures, handling costs, treatment programs and other indicators which are supporting and inhibiting factors in handling the elderly at the Tresna Werdha Ina-kaka Ambon.The aim of this research is to describe and analyze the treatment patterns for the elderly studied at the Theresna Werdha Inakaka Passo Ambon.This type of research is descriptive qualitative. Data collection methods are observation, in-depth interviews, FGD and documentation studies. Data was collected from informants who came from the Head of the Regional Integrated Implementation Unit (UPTD) of the Theresna Werdha Social (PSTW) Inakaka. Social Workers, Officers, Staff and Employees of the Theresna Werdha Social (PSTW) Inakaka. elderly (elderly) who are in the Regional Integrated Implementation Unit (UPTD) of the Theresna Werdha Social (PSTW) Inakaka.The service procedures that have been established by the UPTD Tresna Werdha Inakaka Passo Ambon have been running well in accordance with standard operational procedures, made as simple as possible so that they can be easily understood by the elderly and elderly families on the one hand and on the other hand there are There are four stages used to recruit elderly people, namely the initial approach stage, acceptance stage, guidance stage and termination stage.The service costs that have been budgeted by the government through the UPTD of the Tresna Werdha Inakaka Passo Ambon can be managed well and provide services to the elderly and there are no fees charged to the elderly through registration, getting various services until the elderly are terminated.A supporting factor in providing services to the elderly is the cooperation carried out by the Tresna Werdha Inakaka Passo Ambon Institution UPTD with various regional agencies/social organizations, making it easier for the institution to provide effective and efficient services to the elderly.The obstacles faced by the Tresna Werdha Inakaka Passo Ambon UPTD in providing services to the elderly are the limited quality and quantity of human resources (HR) and social workers who are professionals in their field, as well as only one person cooking and limited facilities and infrastructure available.
BUDAYA PELA GANDONG SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI KRISIS PENYELESAIAN KONFLIK AMBON Rido Latuheru; Hafied Cangara
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1207

Abstract

The Ambon conflict is one of the most terrible social conflicts that has ever occurred in Indonesia. Conflict in 1999, and left more than 5,000 people dead and tens of thousands displaced. Resolving the Ambon conflict is a very difficult task. Resolving this conflict not only requires efforts from the government, but also from the Maluku people themselves. One effort that can be made to resolve the Ambon conflict is through a crisis communication strategy. Crisis communication strategies are efforts to manage communication in crisis situations. Crisis communication is important in conflict resolution. Crisis communications can be used to build trust, reduce tensions, and encourage dialogue. Pela Gandong culture is a culture that can be used as a crisis communication strategy in resolving the Ambon conflict. Pela Culture This research uses qualitative methods with a case study approach. Research data was collected through in-depth interviews, observation and documentation. The research results show that Pela Gandong culture can be used as a crisis communication strategy in resolving the Ambon conflict. Pela Gandong culture can be used to build trust, reduce tension, and encourage dialogue. This research provides input for the government and people of Maluku in efforts to resolve the Ambon conflict. The government and people of Maluku can use Pela Gandong culture as a crisis communication strategy in resolving the Ambon conflict.
ANALISIS PENGARUH KOMUNIKASI KRISIS TERHADAP PERUBAHAN PRILAKU DI ERA DIGITAL 4.0 Hafied, Hasdiyanto; Cangara, Hafied
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1198

Abstract

The aim of this research is to determine the influence of the communication crisis on millennial life and to determine the influence of the communication crisis on human behavior in the Digital Era. A descriptive scientific approach was taken in conducting this research. The goal of a qualitative approach is to investigate, characterize, and understand a phenomenon from a central perspective. In-depth interviews with two key individuals in each business tasked with managing the crisis were used to collect primary data. key informant interviews, observation and documentation. . This analysis technique basically consists of three components, namely: data reduction, data presentation and drawing and testing conclusions. Research results Crisis communication is very important for efficient crisis management because it not only reduces or ends the crisis but also, in many cases, restores the reputation of the organization to the same level. Stephane Koch explains that social media can become an emotional network in times of crisis where facts are conveyed through emoticons, special signals for emotions. Communicating the facts is a priority for some experts, while others who rely on behavioral research note that values and emotions can be key drivers for increasing risk awareness in society and for strengthening preparedness.
PENGEMBANGAN MODEL PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN DI KEBUPATEN MALUKU TENGAH Samson Laurens; Amelia Tahitu; Cost Sahanaya
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1214

Abstract

Perempuan  miskin  merupakan bagian dari komunitas miskin  di pedesaan,  yang  aktivitas  kesehariannya  pada sektor  informal dengan  melakukan  pekerjaan ganda sebagai ibu rumah tangga dan bekerja sebagai buruh tani, swasta  untuk  memperoleh pendapatan bagi pemenuhan kebutuhan rumah tangga.  Perempuan  miskin  memiliki akses pendidikan rendah,   dan  pekerjaannya  mudah untuk dilakukan,  namun  penuh  tantangan.  Pekerjaan perempuan miskin  merupakan  tantangan  hidup  yang    dilakukan  karena  kondisi bertahan hidup demi memperoleh pendapatan  bagi rumahtangga. Secara administrasi  Kabupaten Maluku Tengah  memiliki  18 Kecamatan, dengan jumlah  65,73 ribu penduduk, dan penduduk  miskin sebesar 9,12 ribu orang, atau 17,46 persen, dari jumalah penduduk miskin sebesar 9,12 ribu orang atau 17,46 persen,  maka perempuan miskin  ada di sana, ( BPS Provinsi Maluku, 2022). Penelitian  ini  dilakukan di Kecamatan Salahutu, Leihitu,  dan Leihitu,  dengan lokasi penelitian, desa Tulehu, Waai, Asilulu, Liliboy, Negeri Lima dan  Zeith. Penentuan responden berdasarkan kondisi dan fakta yang menyertai kriteria komunitas perempuan miskin di lokasi penelitian, yakni  60 responden yang mewakili desa ditiga  kecamatan.  Tujuan   penelitian ini adalah untuk  mendeskripsikan   faktor-faktor penyebab  kemiskinan   menurut  komunitas  perempuan miskin itu sendiri, dan  pengembangan model pemberdayaan.  Metode  yang digunakan adalah  deskriptif  kuantitatif,  dengan teknik pengumpulan  data; observasi, wawancara, dan angket.  Data dianalisis dengan  menggunakan  metode  deskriptif.  Hasil yang dicapai berdasarkan  karakteristik responden sampel (perempuan miskin), dengan tingkat pendapatan yang rendah, standart rumah tidak layak huni, derajat  kesehatan rendah, pendidikan dan pengetahuan yang  minim  sehingga mengakibatkan mereka (perempuan) perlu diberdayakan.  
PROSES RITUAL KOLOLI KIE ADAT KESULTANAN TERNATE DILIHAT DARI PERSPEKTIF TEORI INTERAKSI SIMBOLIK Lisda Ariani Simabur; Hafied Cangara
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1208

Abstract

This research discusses the Kololi Kie ritual process, a traditional ceremony of the Sultanate of Ternate, in terms of symbolic interaction theory. The Sultanate of Ternate, as an integral part of Indonesia's cultural heritage, carries outthis ritual as a form of symbolic interaction with the people of Ternate. Symbols such as boats, traditional clothing,traditional music, and historical places are used in rituals to communicate with the community and convey certain meanings and messages. This research uses a qualitative approach with literature studies, exploring supporting sourcesregarding the Kololi Kie ritual process and symbolic interaction theory. The research results show that symbols such as boats, traditional music and historical places play an important role in creating meaning and building relationships between the Sultanate of Ternate and its people. These symbols are also a means of conveying messages aboutprotection, safety and gratitude. In the context of symbolic interaction theory, symbolic communication in the Kololi Kie ritual reflects the community's collective meaning of the greatness of the sultanate and the importance of maintaining ancestral traditions. It is hoped that the results of this research can contribute to further understanding of the role of symbols in cultural rituals and how these symbols play a role in maintaining and passing on cultural valuesfrom one generation to the next. 
POTRET PEMBERDAYAAN PETANI PENGRAJIN SAGU di Negeri Rutong Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon Cornelly Marietje A Lawalata; Junus Kwelju; Dayan Orlando Farneyanan
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1443

Abstract

Para pengrajin sagu di negeri Rutong belum mengalami pengembangan dalam usaha agar bisa mencapai kesejahteraan. Produksi sagu, hanya masih dalam bentuk pati/tepung dan bentuk pengemasanya masih sederhana karenamemakai anyaman daun sagu( tumang). Sampai saat ini para pengrajin belum mampu memodifikasi pati sagu agar menjadiproduk-produk yang lain, sehingga pendapatan para pengrajin masih tergolong rendah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana potret pemberdayaan dan kesejahteraan para pengrajin sagu di Negeri Rutong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskripsi Kualitatif. Informan dari penelitian ini adalah petani pengrajin sagu, dan pemerintah negeri rutong.hasil penelitian mengungkap bahwa, Pemerintah Negeri Rutong memiliki peran yang signifikan. Dukungan dari pemerintah berupa bantuan keuangan,pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan fasilitasi pemasaran telah terbukti memberikan dampak positif bagipengrajin sagu. Pemerintah Negeri Rutong juga telah menunjukkan komitmen untuk memajukan industri sagu melalui berbagai langkah konkret. Pendirian pusat pelatihan khusus untuk pengrajin sagu, penyediaan bantuan permodalan, dan promosi produk sagu secara nasional adalah beberapa contoh inisiatif pemerintah yang mendukung pemberdayaan pengrajin sagu di negeri Rutong.
KOMUNIKASI SIMBOLIK : PADA ATRAKSI BAMBU GILA DI NEGERI MORELLA DAN NEGERI SULI (DALAM PERSPEKTIF ETNOGRAFI KOMUNIKASI) Demsy Wattimena; Anthonio J. Latuihamallo; Junus Kwelju; Maria Matatula
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1444

Abstract

Komunikasi Simbolik Atraksi Bambu Gila Dalam Perspektif Etnografi Komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Etnografi bertujuan untuk menemukan esensi dan kompleksitas budaya yang dapat menggambarkan sebuah komunitas.Hasil penelitian yang didapat Atraksi bambu gila merupakan budaya khas Masyarakat Di negeri Maluku yang penuh dengan nuansa mistis. Atraksi ini sudah diturunkan dari generasi ke generasi, dan hingga kini atraksi ini masih ada walaupun keberadaannya sudah mulai terkikis oleh jaman karena tidak semua negeri/desa di Maluku masih ditemui atraksi ini. Banyak simbol verbal dan non verbal yang dapat kita jumpaiketika melihat atraksi bambu gila. Adapun pesan dari atraksi bambu gila adalah Adapun isi pesan dari atraksi bambu gila adalah : Semangat gotong-royong dalam kehidupan masyarakat Maluku, Semangat kebersamaan yang sudah terpelihara dengan baik bagi masyarakat Maluku,Kedisplinan kepatuhan terhadap apa yang sudah ditetapkan bersama menjadi nilai luhur yang universal, Adanya nilai-nilai untuk saling menghormati diantara masyarakat Maluku, Menjaga kelesatarian warisan budaya dari generasi ke generasi.
PENGARUH KONTEN MEDIA SOSIAL TERHADAP POLA KONSUMSI BERITA Marleen Muskita; Bernadine Putri Andris
JURNAL BADATI Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38012/jb.v6i1.1442

Abstract

The development of communication and information technology which gave birth to the internet as an electroniccommunication network, digital technology developments and technology, mobile. In addition to democratic social order becoming a world ideology, it has encouraged various countries to eliminate barriers in the production anddistribution of information. Like media consumption, this news consumption pattern can be operationalized into the amount of time spent on various types of media, the media content consumed, and the various relationships betweenindividual consumers. media with the content of the media consumed or the media as a whole (Rosengren in Rakhmat, 2001, p. 66). Understanding an audience's media consumption patterns also indirectly provides input on the use of the types of mass media that are most trusted and considered credible by the audience. Results of hypothesis testing ofsocial media content on news consumption patterns. From the results of the t test, it can be seen that tcount is 3.441 with a significance level (?) = 0.05, namely 1.701 because tcount is 3.441 ttable 1.701, meaning that social media content has a positive influence on news consumption patterns. Based on the calculation results, it explains themagnitude of the coefficient of determination or R Square of 0.297 (0.297 × 100%), this shows that the percentage contribution of the influence of the independent variable social media content on the dependent variable news consumption patterns is 29.7% or the independent variable used in the model is able to explain the variance the newsconsumption pattern variable was 29.7%, while the remaining 70.3% (100%-29.7%) was influenced by other variables not included in the research model.

Page 2 of 2 | Total Record : 19