cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015" : 5 Documents clear
YESUS MEMBASUH KAKI MURID-MURID-NYA KORNELIUS ARDIANTO SETIAWAN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.34

Abstract

Yesus adalah Guru Agung kita. Dia bukan hanya mengajar kita untuk melayani, tetapi Dia memberi teladan bagi kita untuk memahami bagaimana sesungguhnya kita harus melayani. Salah satu teladan yang Dia berikan adalah saat Dia membasuh kaki murid-murid-Nya.   Pembasuhan adalah hal yang umum dilakukan pada masa itu, khususnya dalam perjamuan atau pesta, di mana tuan rumah umumnya menyediakan budak untuk membasuh kaki para tamu. Yesus saat itu mengundang murid-murid-Nya untuk mengadakan perjamuan akhir, tetapi Dia tidak menyiapkan budak untuk membasuh kaki murid-murid yang saat itu sebagai tamu. Di tengah-tengah perjamuan, Yesus disebutkan bangun dan kemudian membasuh kaki murid-murid-Nya.  Yesus melakukan pembasuhan kaki murid-murid-Nya bukan karena Dia hendak menggantikan tugas budak yang seharusnya melakukan pembasuhan tersebut. Tetapi Yesus hendak memakai pembasuhan tersebut sebagai media pengajaran bagi muridmurid-Nya. Ada dua pengajaran penting yang Yesus hendak sampaikan: pertama, melalui karya Kristus di atas salib, Allah telah membasuh atau menyucikan orang-orang yang datang kepada-Nya. Sekalipun demikian ada juga murid Yesus, yaitu Yudas yang tidak kudus dan akhirnya mengkhianati Dia. Kedua, murid-murid adalah pelayan Kristus, yang menyebut Yesus “ Guru dan Tuhan” (Yohanes 13:13). Karena itu haruslah mereka mengikuti teladan-Nya dan rela merendahkan diri serta saling melayani. Murid-murid bahkan harus rela menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus (Matius 16:24; Markus 8:34, Luk 9:23).  Kalau Yesus yang adalah Tuhan dan Guru rela merendahkan diri dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan seorang budak, maka kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan wajib meneladani Dia dan rela untuk saling melayani.   Kata Kunci: Teladan, Hamba, Melayani.
LAJANG DALAM GEREJA DAN PELAYANAN MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.35

Abstract

Berbagai macam stereotip dan stigma yang diberikan kepada para lajang dalam kehidupan sehari-sehari. Tidak tertutup kemungkinan penilaian itu juga terjadi di dalam gereja Tuhan. Beranjak dari pemikiran Yesus dan Paulus, maka melajang atau menikah bukanlah suatu persoalan utamanya. Melainkan persoalan penting hari ini adalah apakah  dalam budaya yang berorientasi kepada keluarga hari ini, para lajang mendapatkan penghargaan dan penerimaan yang berimbang dari gereja terhadap diri mereka. Penerimaan berimbang di sini diperhadapkan dengan komparasi cara gereja bersikap terhadap mereka yang sudah menikah dan kepada para lajang di dalam pelayanan dalam suatu kategori tertentu yang menampakkan suatu pembedaan yang signifikan.    Sikap pembedaan ini tidak boleh tumbuh subur dalam gereja, karena Kitab Suci membuka kesempatan bagi kedua itu ada dalam gereja, khususnya dalam melayani Allah. Karena itu, harus ada suatu perubahan paradigma cara berpikir gereja terhadap para lajang untuk menuju kepada suatu komunitas gereja yang transformatif. Perayaan gereja dalam pelayanannya diletakkan kepada identitas mereka dalam Kristus dan bukan karena status melajang atau menikah atau apapun yang gereja hendak  kenakan pada dirinya.   Lajang dalam pelayanan gereja adalah suatu karunia dalam hidup gereja dan karena itu gereja harus mendukung dan mendorong mereka untuk melakukan suatu karya pelayanan yang lebih besar, agar pertumbuhan dari tubuh Kristus mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Allah.   Kata kunci:  Lajang, Menikah, Pelayanan, Kultur Masyarakat, Sikap Gereja.
HAMBA TUHAN DAN KELUARGA AGUNG GUNAWAN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.31

Abstract

Kehidupan keluarga Hamba Tuhan tidak akan pernah lepas dari sorotan orang-orang Kristen maupun orang non Kristen. Keluarga Hamba Tuhan dituntut untuk dapat menjadi teladan dan berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Namun fakta menunjukkan bahwa banyak keluarga hamba-hamba Tuhan yang gagal menjadi panutan bagi banyak orang. Mulai dari ketidakharmonisan dalam keluarga hingga perceraian banyak dialami oleh keluarga-keluarga hamba Tuhan.  Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah hamba Tuhan sangat mengerti tentang Firman Tuhan, khususnya dalam hal kehidupan berkeluarga? Masalahnya adalah tidak semua hamba Tuhan mengerti tentang hakekat dari sebuah pernikahan. Hakekat pernikahan Kristen adalah prakarsa Allah, proses pemulihan, pendewasaan, pemulihan dan penerimaan bagi pasangan suami istri. Hakekat pernikahan ini sering dilupakan dan diabaikan oleh pasangan hamba Tuhan. Selain daripada itu, hamba Tuhan juga tidak tahu bagaimana mengaplikasikan kasih, yang adalah dasar dari sebuah pernikahan Kristen, dalam praktik hidup sehari-hari. Akibat dari ketidakmengertian dan ketidaktahuan ini, banyak hamba Tuhan gagal mempertahankan pernikahannya, sehingga keluarganya menjadi batu sandungan bagi orang lain. Oleh sebab itu, hamba Tuhan harus belajar mengerti tentang hakekat pernikahan serta mau mengaplikasikan kasih dalam kehidupan keluarganya. Pemahaman tentang hakekat pernikahan Kristen serta kemauan untuk mengaplikasikan kasih di dalam keluarga hamba Tuhan, maka dengan demikian keluarganya akan mampu menjadi saksi, terang dan berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.  Kata Kunci: Hamba Tuhan, Keluarga, Hakekat Pernikahan, Kasih.
ANALISA NARASI TENTANG RELASI DAUD DENGAN ABSALOM DALAM 2 SAMUEL 13-19 GUMULYA DJUHARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.32

Abstract

Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud seharusnya dapat diselesaikan dan tidak makin melebar apabila Daud meneladani mentalitas Ahimaas yang bertindak bukan untuk memuaskan pribadi tertentu, atau bukan untuk mendapatkan keuntungan, atau bahkan bukan untuk mendapatkan posisi penting atau penghargaan orang lain melainkan kerinduan yang besar untuk menyatakan kebenaran yang bila semuanya ini dilakukan dengan bijaksana, dia akan menjadi pemimpin yang tidak pernah menggadaikan kebenaran yang diyakininya. Bahkan, dia berpotensi menjadi pemimpin yang menjadi agen perubahan bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya.  Kata kunci :  Relasi orang tua dengan anak, Sisi melankolis dan   kolerik Daud, Kepemimpinan Daud, Kebijaksanaan
RESENSI BUKU : CENTER CHURCH. DOING BALANCED, GOSPEL-CENTERED MINISTRY IN YOUR CITY SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.36

Abstract

Buku ini merupakan buku penting bagi para pelayan Tuhan yang berupaya menata dan mengembangkan pelayanan gerejawi, karena buku ini bukan sekedar merupakan buku yang hanya memberikan kiat-kiat penataan dan pengembangan pelayanan gerejawi, tetapi memberikan uraian teologis yang mendalam, namun mudah dipahami tentang pelayanan  gerejawi di perkotaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5