cover
Contact Name
Fritz Humphrey Silalahi
Contact Email
fritz.humphrey11@gmail.com
Phone
+628111897169
Journal Mail Official
ksmpmisentris@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sentris
Core Subject : Economy, Education,
International Politics and Security International Politics and Economy International Organizations and Regime Politics, Media, and Transnational Society
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris" : 6 Documents clear
Nasionalisme Inggris dan Kekerasan Berbasis Kebencian terhadap Muslim Studi Kasus English Defence League Muhammad Naufal Hanif; Ignatius Satria Wibisono; Dedi Yusuf; Muhammad Valdy Akbar Zam; Nigel Januar Hartono
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4641.177-191

Abstract

Bangkitnya nasionalisme Inggris telah dicatat dan diteliti secara baik sejak dekade 1990-an, terlebih pasca-hasil Brexit, dengan catatan mengenai identitas Inggris yang mengambil bentuk ketidakamanan finansial, nostalgia atas masa lalu imperial, xenofobia, dan anti-elitisme. Pada waktu yang sama, kekerasan berbasis kebencianterhadap komunitas Muslim di berbagai kawasan Inggris juga telah diarsipkan dan dikaji dengan baik, dengan penjelasan mengenai motif pelaku mengarah pada penemuan individu-individu yang terperangkap dalam ketidakpercayaan mendalam terhadap non-Inggris dan ketakutan akan kehilangan identitasnya sebagai orang Inggris. Meskipun kedua fenomena ini memiliki fitur-fitur yang sangat mirip, jarang ditemukan penjelasan yang mengarah pada usaha untuk menghubungkan kedua fenomena kontemporer di lanskap identitas politik Inggris ini. Menggunakan contoh English Defence League yang sangat kontroversial serta pemimpinnya Tommy Robinson pada puncak aktivitas mereka di akhir dekade pertama abad ke-21, kami menemukan bahwa terdapat setidaknya korelasi kuat antara kedua fenomena dan kemungkinan nasionalisme Inggris sebagai salah satu penyebab penting yang secara langsung mengarah kepada kejadian-kejadian kejahatan berbasis kebencian untuk kaum minoritas di Inggris. Kata Kunci: nasionalisme Inggris, English Defence League, kekerasan kebencian, Islamofobia
Limbah Medis pada COVID – 19 di Indonesia: Faktor Kompleksitas dan Upaya Reformasi Dovana Hasiana; Triani Safira; Laode Muhamad Fathun
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4999.152-165

Abstract

Pandemi telah mengubah tatanan hubungan internasional. Di antara semua perubahan yang terjadi pada pandemi, perubahan lingkungan merupakan salah satu perubahan yang disoroti oleh para aktor hubungan internasional. Perubahan lingkungan di masa pandemi menjadi semakin kompleks seiring dengan bertambahnya jumlah limbah medis yang tidak diikuti dengan fasilitas yang memadai untuk mengelolanya. Tulisan ini berupaya untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kompleksnya pengelolaan limbah medis dan upaya reformasi pengelolaan limbah medis di Indonesia pada masa pandemi COVID-19. Apabila dianalisis dengan kerangka teori, penulis menemukan bahwa akar permasalahan dari pengelolaan limbah medis adalah pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan Ancillary dan Top-Down, yang terlihat dengan adanya standarisasi pengelolaan limbah medis, yang pada akhirnya membuat kebijakan lingkungan hidup menjadi lebih sulit untuk diimplementasikan. Oleh karena itu, pembenahan pengelolaan limbah medis harus dilakukan dengan pendekatan holistik, dimana isu lingkungan dipandang sebagai komponen strategis dan diperlukannya kolaborasi oleh lima pemangku kepentingan yaitu pemerintah, lembaga, akademisi, industri dan masyarakat berdasarkan kerangka Penta-Helix. Kata kunci: COVID – 19, Indonesia, Keamanan Lingkungan, Pengelolaan Limbah Medis
Klaster Industri Budaya sebagai Dasar Manuver Politik Korea Selatan Asinauli Tamba
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5003.192-213

Abstract

Pada Juli tahun 2016, Korea Selatan bersepakat dengan aliansi militernya, Amerika Serikat untuk memasang Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di wilayahnya. Adapun kepentingan Amerika Serikat adalah untuk menyebarkan pengaruh dan menjaga stabilitas kawasan Asia Timur. Sementara, kepentingan Korea Selatan adalah untuk melindungi negaranya dari praktik uji coba nuklir Korea Utara di Semenanjung Korea. Namun pemasangan THAAD ditolak oleh Tiongkok yang menganggap instrumen itu memicu ketegangan di kawasan dan menghambat dominasinya. Dalam menunjukkan ketidaksetujuannya pada kerjasama pertahanan anti-misil THAAD antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, Tiongkok memberikan sanksi ekonomi berupa boikot khususnya pada produk-produk industri kebudayaan milik Korea Selatan. Pada Oktober 2017, Korea Selatan menyetujui permintaan Tiongkok untuk mengubah kebijakan THAAD melalui poin-poin yang tercantum dalam Three NOs. Perubahan yang drastis dan signifikan pada politik luar negeri Korea Selatan menjadi hal yang dipertanyakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan teori neorealisme sebagai logika berpikir dan mengemukakan bahwa hallyu atau industri kebudayaan sebagai alasan utama manuver politik yang dipilih Korea Selatan sebagimana boikot Tiongkok sebagai pangsa pasar utama hallyu telah melumpuhkan perekonomian Korea Selatan. Korea Selatan memilih strategi bandwagoning ditengah ancaman demi dapat mempertahankan produksi dan persebaran produk-produk kebudayaan yang tengah menjadi sumber devisa utama nagi negara. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang berupa studi kepustakaan. Kata Kunci: Korea Selatan, Tiongkok, Amerika Serikat, THAAD, Boikot, Industri Budaya, Hallyu.
Dua Jalur Penanganan Pengungsi: Analisis Diplomasi Migrasi di Asia Tenggara Arrizal Anugerah Jaknanihan; Muhammad Anugrah Utama; Felice Valeria Thessalonica
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5013.132-151

Abstract

Diskursus dalam isu migrasi di Asia Tenggara umumnya didominasi oleh perspektif keamanan. Involuntary migration, baik pengungsi maupun pencari suaka, kerap dipandang sebagai ancaman keamanan dan ekonomi negara penerima, terutama sejak Krisis Pengungsi Asia Tenggara pada 2015. Meskipun demikian, beberapa negara seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia cenderung bersikap akomodatif terhadap pengungsi. Kondisi tersebut kontras mengingat di Asia Tenggara, hanya Kamboja, Timor Leste, dan Filipina yang meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951. Tulisan ini berupaya untuk menganalisis upaya penanganan pengungsi tersebut sebagai fenomena ‘diplomasi migrasi,’ yaitu utilisasi kebijakan migrasi negara untuk memenuhi tujuan diplomasi serta diplomasi masyarakat sipil untuk memengaruhi kebijakan negara. Cakupan riset ini ialah analisis di tingkat kawasan (Asia Tenggara) yang berfokus pada dua aktor yaitu negara-negara anggota ASEAN dengan aktor-aktor non-negara, khususnya masyarakat sipil. Melalui kerangka teori Diplomasi Migrasi dan Multi-Track Diplomacy, tulisan ini berargumen bahwa terdapat upaya diplomasi migrasi di Asia Tenggara yang dilangsungkan melalui dua jalur utama, yaitu secara formal melalui negara dan informal melalui masyarakat sipil yang memengaruhi negara. Diplomasi migrasi dilakukan secara berkesinambungan melalui interaksi antara dua aktor tersebut. Selain untuk membentuk citra baik, kebijakan pengungsi juga turut meningkatkan posisi tawar negara untuk mencapai kepentingan ekonomi dan politik lainnya. Pada bagian akhir, tulisan ini merekomendasikan kebijakan yang lebih akomodatif dengan memberi sokongan kepada organisasi internasional dan kelompok masyarakat sipil yang melakukan penanganan terhadap pengungsi secara lebih otonom. Kata kunci: Pengungsi, Rohingya, Diplomasi Migrasi, Asia Tenggara, Masyarakat Sipil
Dampak Covid-19 : Membayangkan Kembali Wajah Pendidikan di Indonesia Rifqi Ananta Haidar; Fenti Agustina
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5081.121-131

Abstract

Pandemi covid-19 telah mengagetkan seluruh dunia dan berdampak pada banyak sektor di negara-negara salah satunya sektor pendidikan. Proses belajar siswa telah berubah dari pembelajaran tradisional menjadi proses pembelajaran berbasis online. Di Indonesia telah dilaksanakan sejak 16 Maret 2020. Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat untuk memastikan proses pembelajaran siswa tetap berjalan, terutama dalam hal kesiapan sistem pendidikan dalam mengadaptasi budaya online. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan mendalami implementasi sistem pendidikan di Indonesia pada masa pandemi covid-19 serta memahami peran media digital dalam sistem pendidikan di era pandemi. Tulisan ini menggunakan pendekatan yang mengumpulkan data berbasis dokumen dan berbasis internet dan dianalisis menggunakan perspektif dan teori Hubungan Internasional. Ditemukan bahwa, Indonesia memiliki banyak tantangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran online. Namun demikian, negara ini terus meningkatkan kualitas sistem pendidikannya. Kata Kunci: Indonesia; Pendidikan; Covid-19; Pembelajaran daring.
Sectarianization, Identity, and How Terrorism Prevails: The Case of Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) in the Sahel Region of Africa Adzraa Andira
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5257.166-176

Abstract

Various patterns have emerged as a result of globalization when it comes to controlling the kind of threats that a country may face, particularly non-traditional ones. One of them is terrorism, which occurences concentrated in specific places of the world, with North and Sub-Saharan Africa dominating for a variety of reasons. While there are other operational areas contested by various terrorist groups, the Sahel is one of the most well-known, with Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) being one of the most infamous terrorist groups. Legacies of weak and corrupt governments and institutions, unenforced border security, historical disadvantages, and crippled economies may serve as catalysts for such groups' growing influence, but this paper would argue that the use of sectarianism as a tool of identity mobilization is one of the reasons for AQIM's prevalence as a terrorist group.

Page 1 of 1 | Total Record : 6