cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2021): September 2021" : 40 Documents clear
Pembelajaran Daring: Harmonisasi Teknologi Dan Pendidikan Karakter Kristen Anak Jean Evelyn Ilela
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.189

Abstract

The Covid-19 pandemic has created a new habitus for all aspects of life, including education. In accordance with the circular given from the Minister for the entire learning process to be carried out online. This is because the impact of this pandemic is not only experienced by one or two countries but the whole world, including Indonesia. Online learning is not a new method applied in the world of education. Online learning is one way of distance learning that aims to transfer knowledge by utilizing electronic communication networks. Distance learning constraints need a breakthrough because many regions experience technological limitations, weak networks, and limited internet quotas. Proficiency in using technology must also be done intelligently. Good character must also run in harmony with technological developments so that children are able to become good people in character and smart in technology. Technology will continue to develop and Christian character education will continue to be built. Teachers, parents, and children must synergize well so that the implementation of online learning can run well. Not only knowledge is transferred, but spiritual strengthening must be done so that the formation of Christian character can have an impact on children as students. Rapid technological developments also require these three components to be able to adapt and utilize them intelligently.                                                            Abstrak Kondisi pandemi Covid-19 membuat suatu habitus baru ke semua aspek kehidupan tak terkecuali dunia pendidikan. Sesuai surat edaran yang diberikan dari Menteri untuk seluruh proses pembelajaran dilakukan secara daring. Hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan dari pandemi ini bukan hanya dialami oleh satu atau dua negara namun seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Pembelajaran daring bukanlah suatu metode baru yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Pembelajaran daring yang dilakukan merupakan salah satu cara pembelajaran jarak jauh yang bertujuan mentransfer ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan jaringan komunikasi elektronik. Kendala pembelajaran jarak jauh perlu terobosan karena banyak daerah mengalami keterbatasan teknologi, lemahnya jaringan, dan kuota internet yang terbatas. Kecakapan menggunakan teknologi juga harus dilakukan secara cerdas. Karakter yang baik juga harus berjalan secara harmonis dengan perkembangan teknologi agar anak mampu menjadi pribadi yang baik secara karakter dan cerdas dalam berteknologi. Teknologi akan terus berkembang dan pendidikan karakter Kristen tetap terbangun. Guru, Orangtua, dan anak harus bersinergi dengan baik agar pelaksanaan pembelajaran daring dapat berjalan dengan baik. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang ditransfer namun penguatan secara spiritual harus dilakukan sehingga pembentukan karakter kristen dapat berdampak bagi anak sebagai peserta didik. Perkembangan teknologi yang secara cepat juga mengharuskan ketiga komponen ini mampu beradaptasi dan memanfaatkan secara cerdas. 
Sistem Ladang Gilir Balik Sebagai Ekoteologi Masyarakat Dayak Sterra Helena Mathilda; Binsar Jonathan Pakpahan; Sandro Hasoloan Tobing
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.150

Abstract

Makalah ini bermaksud untuk membangun sebuah ekoteologi dari sistem ladang gilir balik (ladang berpindah) masyarakat Dayak. Sistem ladang gilir balik adalah teknik menanam padi yang memerhatikan faktor berikut: memilih lahan, menebas, menebang, membakar, menugal, hingga menuai. Sebagai aktivitas pertanian, sistem ladang gilir balik sering disalahpahami oleh pemerintah dan masyarakat modern sebagai sebuah aktivitas yang merusak lingkungan. Tetapi, melalui metode kualitatif deskriptif, dibantu dengan analisis Robert P. Borrong dan Daniel P. Scheid, penelitian ini menemukan bahwa sistem ladang gilir balik adalah sebuah kearifan lokal yang bisa digunakan untuk membangun sebuah teologi yang berdasar kepada kepedulian ekologi. Borrong memberikan fokus penting pada isu ekoteologi kontekstual, dan Scheid menggunakan dialog kosmologis sebagai sebuah pola pikir hidup bersama antarciptaan, baik antara manusia dan nonmanusia. Ladang gilir balik adalah narasi kehidupan masyarakat Dayak peladang di Kalimantan untuk memaknai relasi antarciptaan. Sebuah ekoteologi kontekstual yang menghargai alam sangat diperlukan tengah krisis ekologi. Pendekatan ekoteologi kristiani akan memperlihatkan bahwa narasi masyarakat lokal di Indonesia memiliki nilai penghargaan akan alam.
Redefinisi Ibadah pada Masa Pandemi Covid-19 Eduward Purba; Dessy Handayani; Maria Magdalena; Nurnilam Sarumaha; Halim Wiryadinata
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.108

Abstract

AbstractThe reality of the emergence of the Covid-19 pandemic has changed the order of worship from on site to online, which has received many rejections. Pre-pandemic, worship was emphasized based on the dimensions of location (place). Therefore, this study aims to retrieve the true definition of worship. Through the library research, it gives the whole picture on the stage of evaluation of the worship itself. The results shows that worship actually transcends the dimensions of the location, devices, and tools used without hindering God's power for humans. Therefore, we bring back the definition of worship, both during and after COVID-19, to the real position that worship is the fellowship both during and after COVID-19 and to the real position that worship is the fellowship (body of Christ) of the relationship between God and humans regardless of the existing boundaries 
Makna Dilahirkan Kembali Bagi Orang Percaya Masa Kini Suhadi Suhadi; Andreas Sese Sunarko
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.98

Abstract

Being born again or being born again is one of the important teachings (doctrines) of Christianity. Being born again or being born again is the most radical effect of God's work on the sinner's response to accepting God's redemptive work through Jesus Christ. The new birth is something that must be experienced by every person because it has a tremendous impact on his life, namely someone who is born again or is born again has the potential to see and enter the kingdom of God, become a new creation and gain the status of a child of God. But there are people who don't understand this. Through this paper the writer wants to describe using qualitative methods with a literature study approach. So it can be concluded that the contribution of being born again or the experience of being born again or being born again is important and must be experienced by believers because it has an impact on the eternal value of seeing and entering the kingdom of God. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan salah satu pengajaran (doktrin) yang penting dalam kekristenan. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan dampak pekerjaan Allah yang paling radikal atas respons orang berdosa dalam menerima karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus. Kelahiran baru merupakan hal yang harus dialami oleh setiap orang karena membawa dampak yang luar biasa dalam hidupnya yaitu seseorang yang dilahirkan baru atau dilahirkan kembali mendapatkan potensi untuk melihat dan masuk dalam kerajaan Allah, menjadi ciptaan baru dan mendapatkan status sebagai anak Allah. Namun ada orang-orang yang belum memahami hal ini. Melalui tulisan ini penulis ingin mendeskripsikan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kontribusi kelahiran baru atau pengalaman dilahirkan kembali merupakan hal penting dan harus dialami oleh orang percaya karena berdampak pada nilai kekekalan yaitu melihat dan masuk dalam kerajaan Allah.
Purpur Sage sebagai Pendampingan dan Konseling Rekonsiliasi Kultural Masyarakat Seberaya Ria Ebregina br Ginting
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.113

Abstract

 At this era the term of reconciliation is widely used in society. along with the occurrence of various conflicts in society, the term of reconciliation has become a term that has never been ignored and  always warm to discuss. reconciliation relates to various processes carried out to rectify the chaotic situation caused by the conflict that occurred. various conflicts that occur become a reality that often occurs. There is no society has never faced conflict. conflicts that occur because of a mismatch between one person and another, both cultural background, values and community interests. conflict is part of the journey of human life and as a natural consequence of a diverse existence, especially as a cultured being. the conflicts that occur often have a negative impact that lead to divisions and acts of violence. thus cultural reconciliation becomes an important thing in a mentoring and counseling approach to be carried out in restoring damaged relationships between humans and one another as cultured creatures.Pada masa sekarang, istilah “rekonsiliasi” banyak dipergunakan dalam masyarakat. Seiring dengan terjadinya berbagai konflik dalam masyarakat, maka istilah rekonsiliasi menjadi suatu istilah yang tidak pernah terabaikan dan selalu hangat untuk diperbincangkan. Rekonsiliasi berhubungan dengan berbagai proses yang dilakukan untuk meluruskan situasi yang kacau akibat konflik yang terjadi. Berbagai konflik yang terjadi menjadi suatu realitas yang kerap terjadi. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik. Konflik yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara seseorang dengan yang lainnya, baik latar belakang budaya, nilai-nilai dan kepentingan masyarakat. Konflik merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia dan sebagai konsekuensi alami dari keberadaan yang beragam, khususnya sebagai mahkluk yang berbudaya. Konflik yang terjadi kerap kali berdampak negatif yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan tindak kekerasan. Dengan demikian rekonsiliasi kultural menjadi suatu hal yang penting dalam sebuah pendekatan pendampingan dan konseling untuk dilakukan dalam pengembalian hubungan yang telah rusak antara manusia satu dengan yang lainnya sebagai mahkluk yang berbudaya. 
Relasi Guru-Siswa: Pendekatan Christ Centered sebagai Solusi dalam Perubahan Perilaku Belajar di Masa Pandemi Covid-19 Johanes Waldes Hasugian
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.172

Abstract

This study aims to describe the relationship built by teachers with students who are centered on Christ so that it can be a solution in changing student learning behavior. By using a descriptive method and a qualitative approach, it was found that the solution for PAK learning during a pandemic is to build a harmonious and good relationship between teachers and students, in which there is openness and a restoration of teacher-student relationships, and in the end there is a change in behavior in learning. student. In the conditions of the covid-19 pandemic, the example in building true relationships is to see the relationship between Christ and his church, in this case the PAK teacher. So that PAK teachers can view students as God views and treat PAK teachers in faithful love.Keywords: Christ centered; teacher-student; learning behaviour; covid-19 pandemicAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi yang dibangun oleh guru dengan siswa yang berpusat pada Kristus sehingga dapat sebagai  solusi dalam perubahan perilaku belajar siswa. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa solusi pembelajaran PAK di masa pandemi adalah dengan membangun relasi yang harmonis dan baik antara guru dan siswa, yang di dalamnya ada keterbukaan dan terjadi pemulihan hubungan guru-siswa, dan pada akhirnya ada perubahan perilaku dalam belajar siswa. Dalam kondisi pandemi covid-19, teladan dalam membangun relasi yang sejati adalah melihat hubungan antara Kristus dan gerejanya, dalam hal ini guru PAK. Sehingga guru PAK dapat memandang siswa sebagaimana Allah memandang dan memperlakukan guru PAK dalam kasih setia.
Kontroversi Bohong dalam Keluaran 1:8-22 Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi; Matius I Totok Dwikoryanto; Fatiaro Zega
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.146

Abstract

AbstractMany people today tolerate the truth of the word by considering that lying for the sake of goodness becomes a natural thing. Through the history of Sifra and Pua, the writer wants to describe the purpose of writing this article to provide an understanding in a biblical context using descriptive qualitative methods and literature study approaches, it can be concluded in the study of the light of the Bible, that lying white or lying for good fulfills all the criteria for action which is included in lying or witness to lies. Because white lies are part of lies or witnesses to lies that God consistently forbids in the Bible, white lies should not be done by believers. It cannot be denied that the practice of white lying has become a habit and is considered normal and commonplace in today's society. But this does not mean that believers can simply join society at large to approve and practice white lies. Furthermore, the Church must act proactively in providing Christian ethics education, especially in relation to the topic of white lies or lying for good so that members of the congregation have a clear and stable understanding of this issue AbstrakMasayarakat saat ini banyak yang toleransi terhadap kebenaran firman dengan mengangap bahwa kebohongan demi kebaikan menjadi hal yang wajar. Melalui sejarah Sifra dan Pua penulis ingin menjabarkan tujuan penulisan artikel ini memberikan pemahaman dalam kontek Alkitabiah menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi Pustaka, dapat disimpulkan dalam kajian dari terang Alkitab, bahwa bohong putih atau bohong untuk kebaikan memenuhi semua kriteria tindakan yang termasuk dalam kebohongan atau saksi dusta. Karena bohong putih termasuk bagian dari kebohongan atau saksi dusta yang dilarang Allah secara konsisten di dalam Alkitab, maka bohong putih tidak boleh dilakukan oleh orang percaya. Memang tidak dapat disangkal bahwa praktek bohong putih sudah menjadi kebiasaan dan dianggap wajar dan lumrah dalam masyarakat hari ini. Namun ini tidak berarti orang percaya boleh begitu saja menggabungkan diri dengan masyarakat pada umumnya untuk menyetujui dan mempraktekkan bohong putih. Selanjutnya Gereja harus bertindak proaktif menyelenggarakan pendidikan etika Kristen, khususnya yang berhubungan dengan topik bohong putih atau bohong untuk kebaikan sehingga anggota jemaat memiliki pengertian yang jelas dan mantap tentang persoalan ini
Miyea Hemboni: Pendekatan, Pendampingan, dan Konseling Budaya Masyarakat Adat Suku Sentani Elise Litaay
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.136

Abstract

The value of solidarity is an approach, mentoring and counseling that can be found in the payment of Miyea Hemboni in the indigenous peoples of the Sentani tribe. The purpose of this research is to find out why, Miyea Hemboni is carried out in the marriage of the indigenous people of the Sentani tribe, and an understanding of Miyea Hemboni provides a model of approach, mentoring and counseling. The research method used is qualitative research methods and data obtained through interviews and literature study. Which is oriented towards the Sentani customary area. Interviews with several informants as historical actors. The results obtained from this research are that Miyea Hemboni can be used as an approach, mentoring, and counseling for the indigenous peoples of the Sentani tribe as a foundation of philosophy and cultural values of solidarity because it contains socio-cultural values of the community which are described as follows: Gotong Royong (Pulhauw) , Togetherness (Aka mbai, Peaka mbai), Brotherhood (Ria mbai), Baku help (Rekey Hakoy), One heart (Kenambai umbai).Nilai solidaritas adalah sebuah pendekatan, pendampingan dan konseling yang dapat ditemukan dalam pembayaran Miyea Hemboni dalam masyarakat adat suku Sentani. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mengapa Miyea Hemboni dilaksanakan dalam perkawinan masyarakat adat suku Sentani, serta pemahaman terhadap Miyea Hemboni memberikan model pendekatan, pendampingan dan konseling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan data yang diperoleh melalui wawancara dan studi pustaka. Yang berorientasi pada wilayah adat Sentani. Wawancara terhadap beberapa informan sebagai pelaku sejarah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Miyea Hemboni dapat dijadikan sebagai pendekatan, pendampingan, dan konseling masyarakat adat suku Sentani sebagai landasan filosofi dan nilai-nilai budaya solidaritas karena, mengandung nilai-nilai sosial budaya masyarakat yang dideskripsikan sebagai berikut : Gotong Royong  (Pulhauw),  Kebersamaan (Aka mbai, Peaka mbai), Persaudaraan (Ria mbai), Baku bantu (Rekey Hakoy), Satu hati  (Kenambai umbai).
Evaluasi Pembelajaran Daring Pendidikan Agama Kristen di Masa Pandemi Priskila Issak Benyamin; Ibnu Salman; Frans Pantan; Wiryohadi Wiryohadi; Yogi Mahendra
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.174

Abstract

Penelitian ini berangkat dari adanya kesejangan dalam program pembelajaran daring selama pandemi di Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana keberhasilan program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen dan dampaknya baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Metode penelitian yang digunakan yakni model penelitian evaluasi discrepancy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek desain, instalasi, proses dan produk berada pada kategori rendah. Hal ini terlihat juga dalam cost-benefit analysis program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen yang masih lemah.
Antara Abimelekh dan Yotam: Studi Eksegesis Hakim-Hakim 9:7-21 Yudi Jatmiko
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.94

Abstract

AbstractIn the passage of Judges 9:7-21, Jotham was described as an inferior figure compared to Abimelech who was a ruler. But, here exactly lies the beauty of the narrative writing. The narrator wished to topple down and uphold the thesis that criticize Abimelech leadership, as well as approved Jotham’s quality, i.e., a crowned leader of Israel must be a righteous leader in the eyes of God and men, not an ambitious leader. The problem statement of the research is how does the narrator interweave and prove this thesis in the passage? The research purpose is to showcase the supporting literary elements in the narration as well as to prove the narrator’s thesis statement. The method that the writer uses in this writing is literary research. The writer analyzes primary resources that discuss the text of Judges 9:7-21. Besides that, the writer exegetes the text deeply while paying close attention to text analysis, historical and cultural background, and literary analysis. The research results in the fact that the narrator has succeeded to prove his thesis through the above discussed literary elements.Keywords: Judges 9:7-21, Abimelech, Jotham, word study, historical analysis, literary analysis. AbstrakDalam narasi Hakim-hakim 9:7-21, Yotam adalah figur yang inferior dibandingkan dengan Abimelekh yang pada waktu itu tengah menjadi penguasa. Tetapi justru di sinilah letak keindahan penulisan narasi tersebut. Narator ingin membalik dan mengusung tesis yang mengkritisi kepemimpinan Abimelekh, sekaligus memuji kualitas Yotam, yaitu bahwa pemimpin yang dinobatkan menjadi raja atas Israel harus merupakan pemimpin yang benar di mata Allah dan manusia, bukan pemimpin yang ambisius. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana narator mengemas dan membuktikan tesis ini dalam penulisan perikop tersebut? Tujuan penelitian ialah untuk menunjukkan elemen-elemen sastra yang mendukung dalam narasi ini sekaligus membuktikan tesis narator. Metode yang penulis tempuh dalam penelitian ini ialah penelitian pustaka. Penulis mengkaji sumber-sumber pertama yang mengulas teks Hakim-hakim 9:7-21. Selain itu, penulis juga melakukan eksegesis mendalam terhadap teks dengan memperhatikan analisis teks, latar belakang sejarah dan budaya, serta analisis sastra. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa narator berhasil membuktikan tesisnya melalui elemen-elemen sastra yang dikaji di atas.Kata-kata Kunci: Hakim-hakim 9:7-21, Abimelekh, Yotam, analisis kata, analisis sejarah, analisis sastra

Page 1 of 4 | Total Record : 40