cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Manajemen Teknologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Manajemen Teknologi merupakan salah satu publikasi ilmiah yg diterbitkan oleh SBM ITB, dalam kerangka untuk mendorong pengembangan praktik dan teori manajemen di Indonesia melalui penyebarluasan temuan-temuan hasil riset di bidang sains dan kasus manajemen. Jurnal ini dikenal secara luas dikalangan praktisi dan akademisi di Indonesia sebagai 'The Indonesian Journal for the Science of Management' yang mencakup bidang-bidang antara lain: Knowledge and People Management, Operations and Performance Management, Business Risk, Finance and Accounting, Entrepreneurship, Strategic Business and Marketing and Decision Making and Strategic Negotiation. Jurnal Manajemen Teknologi ( ManTek ) sudah terakreditasi "B" berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Nomor: 81/DIKTI/Kep/2011. Masa Berlaku 5 (lima) tahun sejak tanggal ditetapkan. Dan terindeks oleh Indonesian Publication Index (IPI), Google Schoolar. Print ISSN: 1412-1700; Online ISSN: 2089-7928
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
FRONT-MATTER JMT VOL 17 NO 2 2018 Haryanto, Supri
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8588.826 KB)

Abstract

Front-Matter JMT Vol 17 No 2 2018
Analisis Transformasi Kapabilitas Penyedia Layanan Broadband Perusahaan Telekomunikasi Indonesia Setiawan, Sri Damar
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22077.713 KB) | DOI: 10.12695/jmt.2018.17.2.1

Abstract

Abstrak. Lingkungan bisnis layanan broadband di era bisnis digital sedang mengalami situasi turbulensi, ditandai dengan meningkatnya persaingan bisnis. Persaingan bisnis tidak hanya berasal dari sesama penyedia layanan broadband namun juga dengan Over The Top (OTT). Respon yang dapat dilakukan oleh penyedia layanan broadband adalah mengubah kemampuan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dan membangun model transformasi kapabilitas penyedia layanan broadband perusahaan telekomunikasi Indonesia. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa turbulensi lingkungan mempengaruhi profil kapabilitas manajemen dan sensing data analytics. Profil kapabilitas manajemen mempengaruhi sensing data analytics, seizing, transforming, dan kinerja perusahaan. Selanjutnya, sensing data analytics mempengaruhi seizing dan seizing mempengaruhi transforming. Kemudian, transforming mempengaruhi kinerja perusahaan. Untuk implikasi manajerial, penelitian ini menyarankan bahwa pada turbulensi lingkungan yang tinggi, perusahaan perlu melakukan matching kapabilitas terhadap turbulensi lingkungan dan perlu meningkatkan profil kapabilitas manajemen yang mempunyai keunikan. Kinerja perusahaan akan optimal apabila peningkatan profil kapabilitas manajemen melalui 3 aktifitas kapabilitas dinamik yaitu sensing data analytics, seizing, dan transforming.Kata kunci: Kapabilitas dinamik, SEM, sensing data analytics, seizing, transformingAbstract. The business environment of broadband services in the era of digital business is experiencing turbulence situation, marked by increasing business competition. Business competition comes not only from fellow but also Over The Top (OTT) service providers. The response that a broadband service provider can make is transforming capabilities. The objective of this study is to analyze the influential factors and to build the capability transformation model of broadband service providers of the Indonesian telecommunication companies. The analytical technique used in this study was Structural Equation Modeling (SEM). The results showed that environmental turbulence affects the profile of management capability and sensing data analytics. The profile of management capability influences sensing data analytics, seizing, transforming and company performance. Further, the sensing data analytics affects the seizing and then seizing affects the transforming. Later, the transforming affects the company performance. For managerial implications, this study suggests that on high environmental turbulence, firms need to match the capabilities of environmental turbulence and need to enhance the profile of management capabilities that are unique. Company performance will be optimal if the improvement of management capability profile through 3 dynamic capability activities that are sensing data analytics, seizing, and transforming.Keywords: Dynamic capability, SEM, sensing data analytics, seizing, transforming
Back-Matter JMT Vol 17 No 2 2018 Haryanto, Supri
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.101 KB)

Abstract

Back-Matter JMT Vol 17 No 2 2018
Model Bisnis Inklusif Rantai Nilai Kopi Arabika di Bondowoso Jawa Timur Permatasari, Prisca Christian; Basith, Abdul; Mulyati, Heti
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12730.385 KB) | DOI: 10.12695/jmt.2018.17.2.3

Abstract

Abstract. Kurangnya keterlibatan petani dalam rantai nilai membuat petani merasa disisihkan dan tidak diikutsertakan dalam rantai pasok. Kondisi tersebut menyebabkan ketidakpuasan petani rakyat terhadap kondisi pasar khususnya pasar kopi. Penelitian bertujuan untuk melihat keinklusifan petani rakyat kopi dalam rantai nilai Java Arabica Coffee. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bondowoso, dengan responden sebanyak 72 orang petani koperasi dan 72 orang petani non-koperasi. Pengumpulan data diperoleh dengan menyebarkan kuisioner dan wawancara. Data diolah dengan menggunakan link metodologi dengan empat alat analisis yaitu peta rantai nilai, model bisnis kanvas, prinsip model bisnis baru, dan siklus prototipe. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa model bisnis inklusif dapat dilihat dengan kemitraan yang terbentuk. Kemitraan yang terbentuk pada petani koperasi sangat menguntungkan dan dapat mendukung keberlanjutan usaha kopi sedangkan model bisnis inklusif pada petani non-koperasi, menyatakan bahwa petani non-koperasi kurang memiliki kemitraan yang kuat, sehingga petani tidak memiliki hubungan pelanggan yang baik. Pada peta rantai nilai diketahui kemitraan yang paling berpengaruh bagi petani koperasi dan non-koperasi adalah Pemda Kabupaten Bondowoso. Hal tersebut didukung dengan model bisnis kanvas, diketahui bahwa petani koperasi memiliki mitra dukung yang kuat, sedangkan petani non-koperasi kurang memiliki mitra dukung yang kuat. Pada model bisnis baru petani koperasi dan non-koperasi diketahui telah dilbatkan dalam proses penentuan harga baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada siklus prototipe disarankan petani koperasi memiliki inovasi seperti dapat menyediakan bibit unggul secara mandiri dengan alat dan teknologi yang tersedia. Sedangkan pada petani non-koperasi dapat menggunakan dan meningkatkan akses melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).Kata kunci: Java arabica coffee, bisnis inklusif, link metodologi, petani koperasi, petani non-koperasiAbstract. Farmer's lack of involvements in the supply chain has distanced them and not being involved in the supply chain process. This situation provoked dissatisfaction in shareholders towards the market situation, more specifically, in the coffee market. This study aimed to see the inclusiveness of coffee shareholders in Java Arabica Coffee supply chain. This research was carried out at Bondowoso district, with 72 cooperatives farmers and 72 non-cooperative farmers as the respondents. Data collection was gathered using questionnaire and interviews and the results were processed using Link Methodology with its four analytical instruments: The Value Chain Map, The Business Model Canvas, The New Business Model, and The Prototype Cycle. This research revealed that inclusive business models could be observed from the partnership formed. The partnerships at cooperation farmers were very profitable and supportive towards sustainable coffee business, meanwhile, for inclusive business model business to non-cooperative farmers shows they lack a strong partnership because farmers do not have good customer relations. From the Value Chain Map, it is revealed that the most influential partnership for both cooperation farmers and non-cooperative farmers is with Bondowoso Regency Administrators. This is also supported by business model canvas, indicating that cooperation farmers have strong supporting partners, meanwhile non-cooperative farmers have less supporting partners. Through new business model, it is revealed that cooperation and non-cooperative partners are involved in the price-making process, either directly or indirectly. Prototyping cycle suggests cooperative farmers own innovations such as providing high-quality seeds independently using available equipment and technology. While for non-cooperative farmers, they can utilize and increase the access to Information & Communication Technology (ICT).Keywords: Java arabica coffee, inclusive business, link methodology, cooperation farmers, non-cooperation farmers.
Peran Ekspatriat dalam Penguatan Kompetensi Inti Perusahaan Prihadyanti, Dian; Sari, Karlina; Hidayat, Dudi
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21418.365 KB) | DOI: 10.12695/jmt.2018.17.2.4

Abstract

Abstrak. Kompetensi inti (KI) menjadi hal penting bagi perusahaan dikarenakan perannya dalam menentukan keunggulan bersaingnya. KI dihasilkan melalui pembelajaran oleh SDM perusahaan melalui sumber pengetahuan internal dan eksternal. Salah satu sumber pengetahuan eksternal yang penting bagi perusahaan adalah ekspatriat. Namun demikian, disamping pemanfaatan ekspatriat yang belum optimal di Indonesia terutama dalam hal knowledge transfer (KT), belum banyak pula literatur yang mengeksplorasi hal ini. Tulisan ini membahas peran ekspatriat dalam penguatan KI dari perusahaan lokal di Indonesia. Penelitian kualitatif dengan multiple case studies melalui wawancara dan observasi di perusahaan ini menemukan bahwa ekspatriat cenderung berperan memperkuat KI yang telah ada di perusahaan. Pengetahuan dari ekspatriat berperan mengisi gap of knowledge dari individu/tim sebagai pendamping dari ekspatriat. Dengan didukung oleh keahlian dan pengetahuan yang telah dimiliki, tenaga lokal dapat meningkatkan kapabilitas serta kapasitasnya, sehingga akumulasinya dapat membentuk kompetensi individu/tim. Dengan didukung oleh KI yang ada, tercipta KI yang lebih kuat. KT dari ekspatriat juga berperan membentuk budaya baru di perusahaan. Production capability (PC) yang terbentuk lebih banyak didukung oleh explicit knowledge dari ekspatriat, sedangkan innovation capability (IC) lebih banyak terbentuk melalui akuisisi tacit knowledge dari ekspatriat. PC dan IC tersebut membentuk kompetensi individu dan tim yang memperkuat KI perusahaan.Kata kunci: Ekspatriat, core competence, pembelajaran, kapabilitas teknologi, manajemen SDM, budaya perusahaanAbstract. Core competence (CC) is important for firm in determining its competitive advantage. CC is generated through learning by utilizing internal and external knowledge sources. One of the important sources of external knowledge for companies is expatriates. However, in Indonesia expatriates have not been optimally utilized, especially in terms of knowledge transfer (KT) purpose and only few literatures that explores this. This paper discusses the role of expatriates in strengthening CC in Indonesian local companies. This qualitative research with multiple case studies through interviews and observations in Indonesian local company found that expatriates tend to play a role in strengthening existing CC. Knowledge from expatriates filled the gap of knowledge of the individual / team as a co-worker of the expatriate through knowledge acquisition. Supported by existing expertise and knowledge, local employee could improve their capabilities and capacities, and the accumulation could shape individual / team competencies. Supported by existing CC, a stronger one could be created. KT from expatriates also plays a role in shaping the new corporate culture. Production capability (PC) was more supported by explicit knowledge from expatriates, while innovation capability (IC) was formed through tacit knowledge acquisition from expatriates. These capabilities formed individual and team competencies that strengthen the existing CC.Keywords: Expatriate, core competence, learning, technological capability, human resource management, company’s culture
Investigating Aggressive Driving Behavior in Reducing Traffic Congestion on Bandung City Mutia, Ulfi; Siallagan, Manahan; Putro, Utomo Sarjono; Marsetyawan, Marsetyawan; Alamanda, Dini
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12695/jmt.2018.17.2.5

Abstract

Abstract. Traffic congestion reflects waste of time and energy that must be eliminated. Many methods have been employed by past studies to solve this problem. The approach utilized by those studies is mostly macroscopic that consider vehicles and drivers in aggregate. This study argues that a more microscopic approach is also required to depict and solve the congestion problem. Hence, agent-based simulation is brought forward to help identify the cause of congestion problem. In this study, drivers are assumed to have their own motives that might drive them to resort to aggressive behaviors that ultimately lead to traffic congestion. As a preliminary investigation, this study aims to discover type of aggressive driving behavior on Bandung City. The results demonstrate that aggressive dirivng behaviors on Bandung City can be categorized into five factors namely improper speed, inattentiveness, display of hostility, impatience, and disobedience of traffic sign/signals. This study also found that different composition of driving behaviors leads to different degree of congestion. Impatience behavior is found to be the factor that must be eliminate to remedy congestion on Bandung City.Kata kunci: Driving behavior, traffic congestion, factor analysis, agent-based simulation, smart cityAbstrak. Kemacetan lalu lintas mencerminkan pemborosan energi dan waktu yang harus ditiadakan. Banyak metode telah digunakan dalam penelitian-penelitian masa lalu yang ditujukan untuk memecahkan permasalahan ini. Pendekatan yang digunakan oleh penelitian-penelitian tersebut untuk menggambarkan dan memecahkan masalah kemacetan pada umumnya bersifat makroskopik yang memandang kendaraan dan pengendara secara agregat. Studi ini berpendapat bahwa pendekatan yang lebih mikroskopis diperlukan dalam menggambarkan dan memecahkan permasalahan kemacetan. Dalam studi ini, pengemudi diasumsikan memiliki motif tersendiri saat berkendara yang dapat mendorong mereka untuk berperilaku agresif dan berujung pada kemacetan. Sebagai penyelidikan awal, studi ini bertujuan untuk mengetahui jenis perilaku mengemudi agresif di Kota Bandung. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa perilaku mengemudi agresif dapat dikategorikan menjadi lima faktor yaitu penggunaan kecepatan yang tidak sepantasnya, kurangnya perhatian saat berkendara, perilaku kekerasan dalam berkendara, ketidaksabaran dalam berkendara, dan ketidaktaatan pada tanda lalu lintas. Studi ini juga menemukan bahwa komposisi perilaku mengemudi agresif yang berbeda dapat menghasilkan perbedaan tingkat kemacetan lalu lintas. Ketidaksabaran dalam berkendara ditemukan sebagai factor yang paling harus dieliminasi untuk mengurangi kemacetan di Kota Bandung.Keywords: Perilaku mengemudi, kemacetan lalu lintas, analisis factor, simulasi berbasis agen, smart city
Tingkat Keaktifan Komite Audit dan Manajemen Laba di Indonesia Prabowo, Muhammad Agung
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12695/jmt.2018.17.2.2

Abstract

Abstrak. Penelitian ini menguji pengaruh tingkat keaktifan komite audit terhadap manajemen laba di Indonesia. Rerangka konseptual merujuk pada teori keagenan yang menyatakan bahwa tingkat keaktifan merupakan fondasi utama bagi komite audit untuk meningkatkan efektivitas monitoring. Teori ini memprediksi hubungan negatif antara tingkat keaktifan audit komite dengan manajemen laba. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2009 sampai 2014. Tingkat keaktifan mengacu pada jumlah rapat dan partisipasi anggota menghadiri rapat sedangkan manajemen laba diukur dengan rujukan pendekatan akrual. Analisa dilakukan dengan menggunakan regresi ordinary least square data panel. Hasil analisa menunjukkan bahwa frekuensi rapat berpengaruh secara insignifikan terhadap tingkat akrual, di lain pihak, tingkat partisipasi rapat berhubungan secara terbalik dengan akrual negatif. Hasil tersebut terbebas dari masalah sensitivitas interdependensi antar mekanisme governance internal. Namun demikian, temuan tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya masalah kontijensi terhadap pengukuran dan sifat sampel yang digunakan sebagai basis pengujian.Kata kunci: Komite audit, frekuensi rapat, teori agensi, monitoring, manajemen laba perusahaan.Abstract. This study tests the effect of audit committee activeness on earning management in Indonesia. The conceptual framework refers to agency theory which states that the level of activeness is the main foundation for audit committee to improve the effectiveness of monitoring. This theory predicts the negative relationship between audit committee activeness and earning management. The hypotheses are tested on the data collected from sampled manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange in the 2009-2014 periods. The level of audit committee activeness refers to the numbers of meetings and participation from audit committee members while earning management is measured by referring to accrual approach. The analysis is performed using ordinary least square regression on panel data. The analysis results show that the frequency of meeting has insignificant effect on accrual level, on the other side, the level of participation in the meeting has reverse relationship with negative accrual. The result is free from interdependence among internal governance mechanisms. However, the finding indicates the probability of contingency problem on the measurement and sample characteristic used as the basis in the analysis.Keywords: Audit committee, meeting frequency, agency theory, monitoring, company earning management.

Page 1 of 1 | Total Record : 7