cover
Contact Name
Elvi Rusmiyanto PW
Contact Email
elvi.rusmiyanto@fmipa.untan.ac.id
Phone
+6281522519199
Journal Mail Official
protobiont@untan.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Jalan Prof. Hadari Nawawi Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Protobiont: Jurnal Elektronik Biologi
ISSN : -     EISSN : 23387874     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/protobiont.
Jurnal Protobiont merupakan jurnal peer-reviewed dan open access journal yang mempublikasikan hasil-hasil penelitian biologi tropis yang berkaitan dengan bidang: 1. botani, 2. zoologi, 3. ekologi, 4. mikrobiologi, 5. genetika, 6. ilmu lingkungan, dan 7. biologi konservasi. Jurnal Protobiont terbit setahun 3 kali, yaotu bulan Maret, Juli, dan November. Jurnal Protobiont diterbitkan dan dikelola oleh Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2013)" : 15 Documents clear
Keanekaragaman Rheofitoplankton Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau Mukarlina, Sinobius Semiden, Tri Rima Setyawati,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2742

Abstract

Sungai Kapuas merupakan salah satu sungai yang melintasi dan menghubungkan beberapa kabupaten yang terdapat di Kalimantan Barat, salah satunya adalah Kabupaten Sanggau. Pemantauan kualitas air dapat dilakukan menggunakan bioindikator, salah satu bioindikator yang bisa digunakan adalah rheofitoplankton. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman rheofitoplankton dan kualitas air di Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 stasiun dengan 3 kali ulangan pada masing-masing titik pengambilan. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Nopember dan Desember 2011. Rheofitoplankton yang diperoleh sebanyak 37 genera yang terdiri dari divisi Chrysophyta sebanyak 14 genera, Chlorophyta 15 genera dan Cyanophyta 8 genera. Kelimpahan tertinggi terdapat pada lokasi satu (1092,61 Ind/l) dengan kelimpahan genera tertinggi yaitu Desmidium dan Spirogyra. Kelimpahan terendah terjadi pada lokasi dua (801,7 Ind/l) dengan kelimpahan genera tertinggi yaitu Spirogyra dan Rhizosolenia. Indeks keanekaragaman rheofitoplankton (H) berkisar antara 2,2920-2,8470, indeks dominansi Simpson (D) berkisar antara 0,0710-0,1670, indeks kemerataan Sorensen (E) berkisar antara 0,753-0,916. Berdasarkan analisis keanekaragaman rheofitoplankton, Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau sudah tercemar ringan, namun kondisi fisika-kimia air masih mampu mendukung kehidupan rheofitoplankton.
Potensi Ekstrak Daun Sembung Rambat (Mikania Micrantha H.B.K) sebagai Bioherbisida terhadap Gulma Maman Ungu (Cleome rutidosperma D.C) dan Rumput Bahia (Paspalum notatum Flugge) Mukarlina, Pebriani, Riza Linda,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2735

Abstract

Gulma sembung rambat (Mikania micrantha H.B.K) memiliki senyawa alelokimia berupa fenol, terpenoid dan flavonoid yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan lain, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi ekstrak daun M. micrantha yang mampu menghambat perkecambahan serta pertumbuhan gulma maman ungu (Cleome rutidosperma D.C) dan rumput bahia (Paspalum notatum Flugge). Penelitian dilakukan di rumah kasa Jurusan Biologi dan Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak mulai Januari sampai Mei 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima ulangan untuk masing-masing gulma yaitu C. rutidosperma (G1) dan P. notatum (G2). Perlakuan terdiri dari kontrol, konsentrasi ekstrak 7,5%, ekstrak 15%, ekstrak 22,5% , ekstrak 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak konsentrasi 15% mampu menghambat persentase perkecambahan, panjang kecambah dan tinggi tanaman C. rutidosperma dan konsentrasi 7,5% mampu menghambat berat basah dan berat kering C. rutidosperma. Ekstrak daun sembung rambat konsentrasi 15% mampu menghambat panjang kecambah dan tinggi tanaman P. notatum, konsentrasi 22,5% mampu menghambat persentase perkecambahan P. notatum dan ekstrak konsentrasi 30% mampu menghambat berat basah dan berat kering P. notatum. Ekstrak daun M. micrantha tidak memberikan pengaruh menghambat terhadap panjang akar gulma C. rutidosperma dan P. notatum.
Prevalensi dan Intensitas Telur Cacing Parasit pada Feses Sapi (Bos Sp.) Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Pontianak Kalimantan Barat Siti Khotimah, Novese Tantri, Tri Rima Setyawati,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2753

Abstract

Penyakit pada ternak akibat cacing parasit dapat merugikan secara ekonomis, karena dapat menurunkan produktifitas dari ternak tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi telur cacing parasit pada sapi potong di RPH Kota Pontianak. Metode yang digunakan adalah metode flotasi dan sedimentasi pada 80 sampel feses sapi potong. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Pebruari dan Juli 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel feses sapi yang diambil di RPH Kota Pontianak mengandung parasit Nematoda, Trematoda dan Cestoda. Telur cacing parasit yang ditemukan sebanyak 7 jenis, yaitu: Ascaris sp. (infertil, fertil dan berembrio), Taenia saginata, Trichiuris trichiura, Strongyloid sp., Moniezia sp., Fasciola sp. dan Paramphistomum sp. Prevalensi infeksi tertinggi disebabkan oleh Ascaris sp. (100%) dan terendah Taenia saginata (3,75%). Intensitas infeksi tertinggi berasal dari jenis Taenia saginata (111 butir/ind) dan intensitas terendah adalah Fasciola hepatica (1,31 butir/ind). Infeksi pada sapi juga dapat terjadi secara tunggal atau campuran (terdiri atas dua maupun lebih cacing parasit). Prevalensi infeksi tertinggi adalah infeksi tunggal oleh Nematoda sebesar 56,25% dan prevalensi infeksi terendah bersifat campuran Nematoda dan Cestoda sebesar 7,5%. Tingkat prevalensi dan intensitas telur cacing parasit di RPH Kota Pontianak masih tergolong rendah
Kualitas Perairan Sungai Kapuas Kota Sintang Ditinjau Dari Keanekaragaman Makrozoobentos Ari Hepi Yanti, Ervin Septiani, Tri Rima Setyawati,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2743

Abstract

Sungai Kapuas memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Kota Sintang. Kepadatan penduduk dan intensitas penggunaan sungai yang semakin meningkat menyebabkan penurunan kualitas air Sungai Kapuas akibat pencemaran limbah yang masuk ke dalamnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman makrozoobentos dan kualitas perairan di Sungai Kapuas Kota Sintang. Pengambilan sampel dilakukan pada 5 stasiun, setiap stasiun diambil 4 titik yang mewakili tepi kanan dan kiri sungai. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada bulan Maret dan bulan April 2011. Hasil penelitian didapatkan tiga filum makrozoobentos yaitu Annelida, Arthropoda dan Molusca. Filum Annelida diwakili kelas Oligochaeta dari genus Limnodrilus dan Lumbricullus. Filum Arthropoda diwakili kelas Insecta dari genus Chironomus dan Probezzia. Filum Molusca diwakili kelas Gastropoda dari genus Sphaerium. Kepadatan total genus makrozoobentos tertinggi pada bulan Maret (1244,44 ind./m2) dan April 2011 (1911,11 ind./m2) didominasi oleh Limnodrilus. Indeks keanekaragaman Shannon-Winner makrozoobentos pada bulan Maret dan April 2011 tergolong rendah (0,4196-1,1644). Kualitas perairan Sungai Kapuas Kota Sintang ditinjau dari keanekaragaman makrozoobentos tergolong sebagai perairan tercemar berat oleh bahan organik.
Pertumbuhan Stek Melati Putih (Jasminum sambac (L) W. Ait.) dengan Pemberian Air Kelapa dan IBA (Indole Butyric Acid ) Mukarlina, Retno Catur Wulandari, Riza Linda
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2737

Abstract

Melati Putih (Jasminum sambac (L) W. Ait.) merupakan salah satu jenis tanaman yang dikembangkan sebagai bahan baku industri minyak wangi, penyedap teh, dan obat-obatan. Tanaman melati dapat diperbanyak melalui stek tetapi kemampuan stek melati untuk berakar masih sangat rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa dan IBA (Indole Butyric Acid ) terhadap pertumbuhan stek melati putih. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi dan Rumah Kaca Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak selama 3 bulan (Maret 2012 hingga Juni 2012). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola Faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor A (konsentrasi air kelapa) yang terdiri dari 4 taraf konsentrasi yaitu 0% (kontrol), 20%, 40%, dan 60% dan faktor B (konsentrasi IBA) yang terdiri dari 4 taraf konsentrasi yaitu 0 ppm (kontrol), 25 ppm, 50 ppm, dan 75 ppm dan diperoleh 16 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air kelapa 60 % dapat meningkatkan jumlah daun 4,50 helai, berat basah tajuk 2,37 gr, berat kering tajuk 0,90 gr. Sedangkan pemberian IBA 75 ppm dapat meningkatkan jumlah akar 24,25 helai akar, berat basah akar 0,81 gr, dan berat kering akar 0,45 gr. Konsentrasi air kelapa 60% dan IBA 75 ppm adalah konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan stek melati putih.
Karakterisasi dan Kepadatan Bakteri Pendegradasi Selulosa pada Tanah Gambut di Desa Parit Banjar Kabupaten Pontianak Ahmad Mulyadi, Emma Khairiah, Siti Khotimah,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2748

Abstract

Selulosa merupakan salah satu bahan organik yang sukar untuk dirombak pada tanah gambut.Bakteri pendegradasi selulosa memiliki peranan dalam proses dekomposisi selulosa secara enzimatik dengan memutuskan ikatan rantai 1,4-?-glukosida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri yang dapat mendegradasi selulosa dan mengetahui kepadatan bakteri pendegradasi selulosa pada tanah gambut. Sampel diambil di Desa Parit Banjar Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak. Isolasi dilakukan dengan metode pengenceran cawan tuang dan cawan gores menggunakan media Carboxymethylcellulose (CMC) dan kepadatan bakteri dihitung dengan metode Total Plate Count. Pengamatan dan identifikasi dilakukan secara makroskopis, mikroskopis dan melalui rangkaian uji biokimia. Hasil isolasi diperoleh enam genera bakteri yaitu Acetobacter, Acinetobacter, Azotobacter, Acidomonas, Pseudomonas dan Cellvibrio. Kepadatan bakteri pendegradasi selulosa yang ada di lokasi penelitian berkisar antara 23,126x107 sampai 24,942x107 CFU/gr.
Keanekaragaman Cacing Tanah (Oligochaeta) pada Tiga Tipe Habitat di Kecamatan Pontianak Kota Ari Hepi Yanti, Harry Qudratullah, Tri Rima Setyawati,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2741

Abstract

Keanekaragaman cacing tanah pada suatu habitat dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik kimia dan habitat tersebut. Penelitian mengenai keanekaragaman cacing tanah pada tiga tipe habitat di Kecamatan Pontianak Kota telah dilakukan pada bulan Desember 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman cacing tanah di Kecamatan Pontianak Kota dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Plot sampling ditentukan secara acak sebanyak 5 plot berukuran 5x5 m2 pada setiap lokasi. Sampling menggunakan metode kuadrat berukuran 30x30 cm2 dan hand-sorting. Komposisi cacing tanah tertinggi terdapat di kebun langsat dan lahan terlantar sedangkan yang terendah di persawahan. Genus Pontoscolex memiliki kepadatan tertinggi sedangkan yang terendah dari genus Pheretima. Keragaman jenis tertinggi terdapat di lahan terlantar (H=1,2438) karena memiliki vegetasi yang beragam dan rapat. Keragaman terendah ditemukan pada lahan persawahan (H=0,6931), hal itu terjadi salah satunya akibat pemakaian pupuk dan bahan kimia pertanian secara intensif.
Respon Pertumbuhan Stek Pucuk Keji Beling (Strobilanthes crispus Bl) dengan Pemberian IBA (Indole Butyric Acid) Riza Linda, Suyanti, Mukarlina,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2733

Abstract

Keji beling (Strobilanthes crispus Bl) merupakan salah satu jenis tanaman yang digunakan sebagai tanaman hias dan juga obat-obatan. Perbanyakan tanaman Keji beling (S.crispus Bl) lebih sering mengunakan stek pucuk, karena tanaman ini jarang berbunga. Indole Butyric Acid (IBA) merupakan salah satu zat pengatur tumbuh (zpt) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan stek pucuk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian IBA terhadap pertumbuhan stek pucuk keji beling (S.crispus Bl) dan mengetahui konsentrasi IBA yang dapat meningkatkan pertumbuhan stek pucuk keji beling (S.crispus Bl). Penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai Januari sampai dengan Maret 2012. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca dan di Laboratorium Prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 9 taraf konsentrasi IBA yaitu 0 ppm (kontrol), 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm, 125 ppm, 150 ppm, 175 ppm dan 200 ppm dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian IBA tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada pertumbuhan tinggi tanaman. Pemberian IBA 75 ppm dapat meningkatkan berat basah tanaman yaitu 8.84 gr dan panjang akar tanaman yaitu 21.70 cm. Pemberian IBA 100 ppm dapat menghasilkan jumlah daun terbanyak yaitu 32.33 helai dan jumlah akar terbanyak yaitu 53.67 helai. Pemberian IBA 175 ppm dapat meningkatkan berat kering tanaman yaitu 1.93gr.
Bakteri Pelarut Fosfat Hasil Isolasi dari Tiga Jenis Tanah Rizosfer Tanaman Pisang Nipah (Musa paradisiaca var. nipah) di Kota Singkawang Riza Linda, Etha Marista, Siti Khotimah,
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2749

Abstract

Fosfat di dalam tanah merupakan unsur hara yang berperan penting bagi proses pertumbuhan tanaman. Ketersediaan unsur fosfat dibantu oleh bakteri pelarut fosfat yang banyak dijumpai di daerah rizosfer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepadatan total dan karakteristik bakteri pelarut fosfat yang di isolasi dari rizosfer tanaman pisang nipah (Musa paradisiaca var. nipah) pada jenis tanah aluvial, gambut dan podsolik merah kuning (PMK) di Kecamatan Singkawang Tengah. Isolasi bakteri dilakukan dengan menggunakan media Pikovskaya dan metode agar tuang (pour plate method), sedangkan penghitungan kepadatan bakteri dengan metode cawan hitung (total plate count). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh 4 genus bakteri pelarut fosfat pada tanah aluvial yaitu Acetobacter, Bacillus, Flavobacterium dan Micrococcus. Tanah gambut ditemukan 5 genus yaitu Azotobacter, Bacillus, Micrococcus, Pseudomonas, Staphylococcus. Tanah PMK ditemukan 6 genus yaitu Acetobacter, Azotobacter, Bacillus, Escherichia, Flavobacterium, Paracoccus. Kepadatan total koloni bakteri pelarut fosfat pada tanah aluvial, gambut dan PMK berturut-turut adalah 7,9x108 CFU/gr, 7,3x108, 7,1 x108 CFU/gr.
Pertumbuhan Tanaman Pakchoy (Brassica chinensis L.) dengan Pemberian Kompos Alang-Alang (Imperata cylindrica (L.) Beauv) Pada Tanah Gambut Mukarlina, Ponti Puspitasari, Riza Linda
Jurnal Protobiont Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/protobiont.v2i2.2739

Abstract

Budidaya pakchoy (Brassica chinensis L.) pada tanah gambut terkendala oleh kesuburan tanah yang rendah. Pemberian kompos alang-alang (Imperata cylindrica (L.) Beauv) diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tanah gambut, sehingga akan meningkatkan pertumbuhan tanaman pakchoy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos alang-alang terhadap pertumbuhan tanaman pakchoy pada tanah gambut. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2012 sampai dengan Agustus 2012 di rumah kaca dan Laboratorium Biologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari tujuh taraf perlakuan konsentrasi kompos alang-alang, yaitu 0% (kontrol), 30%, 32%, 34%, 36%, 38%, 40% masing-masing dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos alang-alang berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan yaitu jumlah daun, luas daun, berat basah dan berat kering tanaman. Pemberian kompos alang-alang 32% memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan tanaman pakchoy dengan jumlah daun 22,50 helai, luas daun 116,54 cm2, berat basah 190 g dan berat kering 10,75 g.

Page 1 of 2 | Total Record : 15