Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam"
:
15 Documents
clear
Trombosis pada Pasien COVID-19
Christine Tan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.156
Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) memiliki spektrum klinis yang luas. Salah satu gejala berat penyakit ini dan menunjukkan prognosis buruk adalah trombosis. Risiko tinggi trombosis pada COVID-19 ditunjukkan dari peningkatan D-dimer yang merupakan perubahan paling signifikan parameter koagulasi, yang menandakan produksi trombin dan aktivasi fibrinolisis. Namun, D-dimer adalah reaktan fase akut nonspesifik dan dapat meningkat karena penyebab dan inflamasi lain. Identifikasi risiko dini dan tanda trombosis pada pasien COVID-19 dapat mencegah kejadian trombotik dan gagal organ lainnya, memandu tenaga kesehatan pada strategi intervensi awal, dan fokus pada kelompok pasien yang berisiko prognosis buruk. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) has a broad clinical spectrum. Thrombosis may herald severe symptom and indicates a poor prognosis. Risk of thrombosis in COVID-19 is indicated by increased D-dimer, which is the most significant change in coagulation parameters, indicating thrombin production and fibrinolysis activation. However, D-dimers are nonspecific acute-phase reactants and may increase due to other causes and inflammation. Identifying early risks and signs of thrombosis in COVID-19 patients to prevent thrombotic events and other organ failure, may guide health professionals on early intervention strategies, and to focus on groups of patients at risk of poor prognosis.
Antidiabetik Oral Kombinasi Penghambat DPP-4 dan Penghambat SGLT-2
Johan Indra Lukito
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.157
Dalam tatalaksana diabetes melitus tipe 2, terapi kombinasi dua obat antidiabetik disarankan jika dengan monoterapi gagal mencapai target kontrol glikemik. Pemilihan jenis obat antidiabetik tergantung kondisi pasien dan profil obat. Kombinasi obat antidiabetik oral golongan penghambat DPP-4 (dipeptidyl peptidase-4) dan penghambat SGLT-2 (sodium-glucose cotransporter type 2) dapat menjadi salah satu pilihan. Combination of two antidiabetic drugs is recommended in the management of type 2 diabetes mellitus if monotherapy fails to achieve glycemic control targets. Choice of antidiabetic drugs depends on the patient's condition and drugs’ profile. Combination of oral antidiabetic drugs DPP-4 (dipeptidyl peptidase-4) class and SGLT-2 (sodium-glucose cotransporter type 2) inhibitors can be an option.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Usia Menarche dengan Pola Siklus Menstruasi Siswi SMA di Pontianak
Monica Meilany Gultom;
Agus Fitriangga;
Muhammad In’am Ilmiawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.159
Latar Belakang: Pola siklus menstruasi disebut normal apabila tidak kurang dari 21 hari serta tidak melebihi 35 hari. Tujuan: Diketahuinya hubungan antara indeks massa tubuh dan usia menarche terhadap panjangnya siklus menstruasi pada siswi SMA di Pontianak. Metode: Penelitian analitik observasional cross-sectional. Variabel bebas penelitian adalah indeks massa tubuh dan usia menarche, variabel terikat adalah panjangnya siklus menstruasi. Total sampel penelitian 40 orang. Hasil: Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan panjangnya siklus menstruasi (uji Fisher’s Exactp = 0,02). Tidak terdapat hubungan antara usia menarche dan panjangnya siklus menstruasi (uji Chi-Square p = 0,305). Simpulan: Indeks massa tubuh berhubungan dengan panjangnya siklus menstruasi siswi. Background: Menstrual cycle pattern is normal if not less than 21 days and not exceed 35 days. Objective: To evaluate the relationship between bodies mass index and age of menarche on the menstrual cycle among female senior high school students in Pontianak. Method: Observational analytic study with cross-sectional design. The independent variables were body mass index and age of menarche, the dependent variable was menstrual cycle. Total sample were 40 students. Results: There is a relation between body mass index and the menstrual cycle (Fisher’s Exact test p = 0,02). No relation between age of menarche and the menstrual cycle (Chi-Square test p = 0,305). Conclusion: Body mass index has a relation toward the menstrual cycle among female senior high school students in Pontianak.
Peutz-Jeghers Syndrome
Cipta Mahendra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.166
Sindrom Peutz-Jeghers (Peutz-Jeghers Syndrome/PJS) merupakan penyakit herediter langka dengan ciri klinis pigmentasi mukokutaneus dan polip gastrointestinal. Hingga kini, satu-satunya upaya terapi adalah eliminasi polip melalui metode endoskopi dan/atau operasi laparatomi abdomen invasif. Penderita PJS memiliki risiko tinggi mendapat berbagai jenis kanker, sehingga diperlukan skrining rutin. Para penderita PJS perlu mendapat edukasi dan dukungan mental. Diperlukan riset lebih mendalam untuk tatalaksana terbaik sindrom PJS. Peutz-Jeghers Syndrome (PJS) is rare hereditary disease with mucocutaneous pigmentations and gastrointestinal polyps as the most prominent clinical features. The only approved treatment is to eliminate the polyps by endoscopy and/or invasive abdominal laparotomy surgery. Patients with PJS have a high lifetime risk of various cancers and warrants regular surveillance for early signs of malignancies. PJS patients need to be well-informed and supported by the treating physicians to cope with their PJS status. More research in the management of PJS is needed
Scabies: Treatment, Complication, and Prognosis
Reqgi First Trasia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.167
Scabies is a skin infestation caused by Sarcoptes scabiei mite. In 2017, WHO included scabies in the list of neglected tropical diseases.Treatment of scabies is currently still problematic due to late diagnosis and not adequately managed complications. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada tahun 2017, WHO menggolongkan skabies dalam daftar penyakit tropis yang terabaikan. Pengobatan skabies saat ini masih bermasalah karena keterlambatan diagnosis. Komplikasinya pun tidak ditangani dengan baik.
Diagnosis dan Tata Laksana Uterus Bikornu
Stefanus Imanuel Setiawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.168
Malformasi uterus atau yang dikenal sebagai kelainan Mullerian, merupakan kelainan anatomis uterus, serviks, atau vagina. Salah satu jenis malformasi uterus adalah uterus bikornu. Selain temuan klinis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologis seperti ultrasonografi (USG), histerosalpingografi (HSG), dan magnetic resonance imaging (MRI) memiliki peranan dalam diagnosis uterus bikornu. Rekonstruksi bedah direkomendasikan untuk pasien uterus bikornu dengan riwayat abortus spontan multipel tanpa faktor penyebab lain. Uterus malformations, also known as Mullerian anomalies, are structural anomalies of the uterus, cervix, or vagina. Bicornuate uterus is one among several types of uterus malformations. Besides clinical findings from anamnesis and physical examination, ultrasonography (USG), hysterosalpingography (HSG), and magnetic resonance imaging (MRI) have roles in diagnostic assessment. Reconstructive surgery procedure is recommended for bicornuate uterus patients with a history of multiple spontaneous abortions without other causing factors.
Thromboangitis Obliterans (TAO): Diagnosis dan Tatalaksana
Silvia Apriliana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.169
Thromboangitis obliterans (TAO) atau Buerger’s disease merupakan penyakit inflamasi non-aterosklerotik yang ditandai dengan oklusi segmental pada pembuluh darah arteri kecil dan sedang serta pembuluh darah vena baik ekstremitas atas maupun bawah. Etiologi TAO masih belum diketahui, tetapi berkaitan erat dengan kebiasaan merokok. Diagnosis berdasarkan riwayat dan gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Penghentian penggunaan tembakau menjadi terapi definitif dan efektif. Terapi lain di antaranya dengan obat-obatan, bedah revaskularisasi, terapi endovaskular, penggunaan sel induk/stem cell, simpatektomi, dan stimulasi saraf tulang belakang. Thromboangitis obliterans (TAO) or Buerger’s disease is a non-atherosclerotic inflammatory disease characterized by segmental occlusion; commonly affects small and medium-sized arteries and veins in upper and lower extremities. The etiology of TAO is still unknown, but closely related to smoking. Diagnosis is based on clinical features with a compatible history, physical examination, laboratory test, and and imaging. There is no standard therapy for this disease. Tobacco use cessation is the definitive and effective therapy. Other therapies include drugs, revascularization surgery, endovascular therapy, use of stem cells, sympathectomy, and spinal cord stimulation.
Diagnosis dan Penanganan Kraniosinostosis
Anak Agung Ngurah Bagus Satya Sueningrat
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.170
Kraniosinostosis mengacu pada penutupan prematur satu atau lebih sutura tulang tengkorak. Akibatnya terjadi deformitas bentuk kepala karena kompensasi pertumbuhan sejajar dengan sutura yang menyatu. Insiden kraniosinostosis primer sekitar 1 per 2.000 kelahiran; penyebabnya sebagian besar belum diketahui. Diagnosis berdasarkan gambaran klinis yaitu mengecilnya ukuran tengkorak dan adanya perubahan bentuk tengkorak seiring dengan fusi sutura. Craniosynostosis refers to the premature closure of one or more sutures that normally divide the skull bones. The result is a deformity of the head shape due to compensated growth parallel to the fused sutures. The incidence of primary craniosynostosis is approximately 1 per 2,000 births and the cause is mostly still unknown. Diagnosis is based on clinical features of skull size decrease and changes in skull shape with suture fusion.
Treatment Outcome of Posteromedial Procedure for Neglected Clubfoot in Children Older than 2 Years of Age - Report of 3 Cases
Iman Dwi Winanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.171
Background: A neglected clubfoot is a clubfoot that didn’t get early or adequate treatment; it is a significant problem in developing countries. The posteromedial soft tissue release procedure is one of the surgical techniques in clubfoot treatment. Case: Three patients with neglected clubfoot were assessed before and after treatment. All patients were treated with posteromedial soft tissue release method followed by serial application of above-knee plaster of parts for three months. Result: Two cases had a good correction, one case had a fair correction. Conclusion: The posteromedial soft tissue release with proper follow up and splinting results in a cosmetically normal appearance and functionally acceptable pain-free foot in neglected clubfoot in children older than two years of age. Latar Belakang: Neglected clubfoot merupakan clubfoot yang tidak ditatalaksana atau mendapat tata laksana awal tidak adekuat; kondisi ini sering ditemui di negara berkembang. Prosedur posteromedial soft tissue release merupakan salah satu teknik operasi dalam tatala ksana clubfoot. Kasus: Tiga pasien neglected clubfoot ditatalaksana dengan prosedur posteromedial soft tissue release diikuti aplikasi serial plaster of paris di atas lutut selama tiga bulan. Hasil: Dua kasus menunjukkan hasil koreksi baik dan 1 kasus hasil koreksi sedang. Simpulan: Prosedur posteromedial soft tissue release dikombinasi dengan ¬follow up serta teknik splinting yang adekuat memberikan hasil kosmetik yang baik serta kaki bebas nyeri pada kasus neglected clubfoot anak berusia di atas dua tahun
Management of Forearm Fracture in Adolescence
Tania F;
Siswanto BA;
Rusdianto IA;
Pramantha B
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.172
Forearm shaft fracture usually occurs because of indirect trauma, mainly when a child protects themself by an outstretched upper extremity during a fall. CRIF with TENS can be the treatment of choice in adolescents with simple forearm fractures, especially returning to pre-injury function and physical appearance. The patient had a history of fractures of both bones of the right forearm three months before, and the fractures were fixated using TENS. The satisfying outcomes (faster return to his initial ability to play sport, without any dysfunction, visible no big scar) were why we recommended using TENS to fixate the current fractures. Fraktur tulang lengan bawah biasanya terjadi akibat trauma tak langsung, umumnya jika seseorang berusaha menahan tubuhnya saat terjatuh. Teknik CRIF dengan TENS merupakan salah satu yang terpilih untuk tata laksana fraktur lengan bawah sederhana. Pasien memiliki riwayat fraktur kedua tulang lengan kanan 3 bulan sebelumnya dan fraktur difiksasi menggunakan TENS, hasilnya memuaskan (lebih cepat kembali ke kemampuan awal untuk berolahraga, tanpa disfungsi, tidak terlihat bekas luka besar) merupakan alasan kami merekomendasikan penggunaan TENS untuk memfiksasi fraktur saat ini.