cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi" : 13 Documents clear
Karakteristik Pasien Stroke Usia Muda di RSUD Kota Surakarta Daniel Mahendrakrisna; Drestha Pratita Windriya; Aria Chandra GTS
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.490

Abstract

Latar belakang. Kejadian stroke pada usia muda kurang dari 5% dari seluruh kejadian stroke. Beberapa penelitian melaporkan peningkatan angka kejadian stroke pada usia kurang dari 45 tahun. Penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian dan karakteristik pasien stroke usia muda di RSUD Kota Surakarta. Metode. Penelitian deskriptif observatif pada populasi semua penderita stroke usia muda (18-45 tahun) di RSUD Kota Surakarta dari bulan Januari 2017 hingga Juni 2018. Data diambil dari rekam medis berupa usia, jenis kelamin, jenis stroke, hasil CT scan, serta faktor risiko. Hasil. Dari 420 pasien stroke pada rentang waktu Januari 2017-Juni 2018, didapatkan 28 penderita stroke usia muda, rerata usia 39,6 tahun dengan rentang usia 29 sampai 45 tahun, dengan 53,6% laki-laki, 78,6% menderita stroke non-hemoragik, dan 39,3% menderita kelemahan sisi kanan. Didapatkan riwayat hipertensi sebanyak 85,7%, diabetes melitus 14,3%, hiperkolesterolemia 17,9%, hiperurisemia 21,4%, gagal jantung 7,1%, epilepsi 7,1%, dan riwayat stroke 3,6%. Tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit jantung koroner dan aritmia jantung. simpulan. Stroke usia muda jarang terjadi, dan sebagian besar merupakan stroke non-hemoragik. Hipertensi dan dislipidemia merupakan faktor risiko utama stroke di usia muda. Introduction. Stroke in young adults is less than 5% of all incidence of stroke; but it is increasing among less than 45 years old. The purpose of this study was to determine the incidence and characteristics of young stroke patients in RSUD Kota Surakarta. Method. A descriptive analytic study on all stroke patients aged between 18-45 years in RSUD Kota Surakarta during January 2017 to June 2018. Data was collected from medical record consist of age, gender, type of stroke, CT scan data, and risk factors. result. From 420 stroke patients in the period of January 2017-June 2018, there were 28 young stroke patients in the range of 29 to 45 years old, the average was 39.6 years old; 53.6% were male and 78.6% suffered a non-hemorrhagic stroke, 39.3% had right hemiparesis. Hypertension was found in 85.7%, diabetes mellitus in 14.3%, dyslipidemia in 17.9%, high uric acid in 21.4%, heart failure in 7.1%, epilepsy in 7.1%, and previous stroke history in 3.6% patients. No patients has a history of coronary heart disease and cardiac arrhythmias. conclusion.The young adults stroke incidence is low. Ischemic stroke is the most common type. Hypertension and dyslipidemia are the most common found stroke risk factors
Hipertensi Esensial: Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru pada Dewasa Steven Johanes Adrian; Tommy
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.491

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas penyakit di dunia; penderita hipertensi diperkirakan akan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2025 dan kematian dapat mencapai 9,4 juta individu. Hipertensi didefinisikan sebagai kondisi tekanan darah sistolik ≥ 130 mmHg atau diastolik ≥ 80 mmHg; 80 – 95% kasus hipertensi esensial. Dua faktor utama berkaitan dengan kasus hipertensi esensial adalah faktor genetik dan lingkungan. Tatalaksana kombinasi nonfarmakologis dan farmakologis dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti stadium hipertensi, saat mulai pengobatan, jenis obat, target tekanan darah, komorbiditas, kontrol berkala, dan kriteria rujukan. Hypertension causes a considerable morbidity in the world. There will be 1.5 billion hypertensive patients with mortality up to 9.4 million in 2025. Hypertension is defined as systolic blood pressure ≥130 mmHg or diastolic blood pressure ≥ 80 mmHg. Approximately 80-95% cases are essential hypertension. The most important factors associated with essential hypertension are genetic and environmental factors. The recommended treatment consists of pharmacological and non-pharmacological methods, considering the stage of hypertension, initiation, class of drugs, blood pressure target, comorbidities, follow-up, and referral criteria.
Peranan Mikronutrien terhadap Perkembangan Otak Gursal Rai Gandra Siregar; Johannes Harlan Saing; Yazid Dimyati; Cynthea Prima Destariani
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.492

Abstract

Perkembangan otak dimulai saat konsepsi sampai masa dewasa muda. Nutrisi berperan penting dalam perkembangan saraf, mulai dari neurulasi sampai mielinasi. Penelitian telah menunjukkan hubungan antara kadar mikronutrien dan perkembangan otak, baik bersifat sementara maupun permanen dan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Brain development begins from the conception through young adult period. Nutrition played a main role in the brain development from neurulation until myelination process. Studies showed the relationship between micronutrient status and the brain development both temporary and permanent and both short and long term.
Profile of Pediatric Nephrotic Syndrome in Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar, Indonesia Husein Albar; Fadel Bilondatu
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.494

Abstract

Introduction: Nephrotic syndrome is a common and important pediatric chronic renal disease, characterized by massive proteinuria, hypoalbuminemia, edema, and hypercholesterolemia. This study was to assess the profile of pediatric nephrotic syndrome at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar over a 7-year period. Methods: A retrospective study on hospitalized nephrotic syndrome patients at pediatric nephrology ward in Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from January 2011 to December 2017. Demographic, clinical, and laboratory data were extract from medical records. results: Total 142 children with nephrotic syndrome who fulfilled the inclusion criteria were analyze. Age at onset ranged from 1.4 to 17.5 years (mean 8.5 years), the majority (66.2%) was 5 year-old and above, predominantly boy (66.2%) with a boy to girl ratio of 1,95:1 and well-nourished (56.3%). Upper respiratory infections were observed in 36.6% cases. The predominant clinical signs and symptoms were edema (100%), hypertension (26.8%). Patients with relapse were 56.3%, and the mortality was 2.12%. The prevalent laboratory findings were microscopic hematuria (50.7%), massive proteinuria (100%), hypoalbuminemia (100%), hypercholesterolemia (100%), and elevated serum creatinine (9.9%). conclusion: The profile of pediatric nephrotic syndrome at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar was similar to typical children nephrotic syndrome and did not significantly differ from other studies. Introduksi: Sindrom nefrotik adalah penyakit kronis anak yang sering dan penting di seluruh dunia, ditandai oleh proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolemia. Studi ini untuk menentukan profil sindrom nefrotik anak di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar selama 7 tahun. Metode: Penelitian retrospektif pada pasien sindrom nefrotik di bangsal nefrologi anak rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar dari bulan Januari 2011 sampai dengan Desember 2017. Data diambil dari rekam medik terdiri dari data demografi dan temuan klinis dan laboratorium. Hasil: Total 142 pasien sindrom nefrotik anak yang memenuhi kriteira inklusi dianalisis. Umur pasien saat onset mulai dari 1,4 sampai dengan 17,5 tahun dengan rerata umur 8,5 tahun. Kebanyakan berumur 5 tahun atau lebih (66.2%) didominasi pasien laki-laki (66,2%) dengan rasio jenis kelamin 1,95:1. Status gizi baik (56,3%). Infeksi saluran napas atas ditemukan pada 36,6% kasus. Gejala dan tanda klinis utama adalah edema (100%), hipertensi (26,8%), relaps pada 56,3% kasus, dan 2,12% pasien meninggal. Temuan laboratorium utama adalah hematuria mikroskopik (50,7%), proteinuria masif (100%), hipoalbuminemia (100%), hiperkolesterolemia (100%), dan peningkatan kreatinin serum (9,9%). simpulan: Profil sindrom nefrotik anak di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar pada umumnya serupa dan tidak berbeda bermakna dari penelitian lain
Diagnosis dan Tatalaksana Intususepsi Alfonsus Mario Eri Surya Djaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.495

Abstract

Intususepsi adalah keadaan inversi segmen usus ke segmen usus lainnya. Intususepsi dapat terjadi pada segala usia, terutama pada anakanak. Penyebab intususepsi pada anak mayoritas idiopatik. Sedangkan intususepsi pada orang dewasa mayoritas bersifat sekunder, disebabkan penyakit lain seperti polip, neoplasma, striktur, atau divertikulum. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang radiologis. Terapi selain operasi, bisa menggunakan enema. Intussusception is characterized by the inversion of an intestinal segment into another segment. Intussusception is found mostly in children. The etiology in children is mostly idiopathic. In adult, intussusception is usually secondary to other disease like polyp, neoplasm, stricture, or diverticulum. Diagnosis is clinical and radiological. Treatment is with enema, or surgical.
Sindrom Rubela Kongenital Ruby Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.496

Abstract

Sindrom rubela kongenital (SRK) adalah kondisi bayi baru lahir dengan berbagai defek akibat infeksi virus rubela selama awal kehamilan. Gejala klasik SRK antara lain tuli, katarak, dan penyakit jantung bawaan. Diagnosis ditegakkan saat baru lahir, melalui anamnesis, pemeriksaan fisik awal mata dan pendengaran, serta pemeriksaan antibodi terhadap rubela pada bayi asimptomatik. Tatalaksana bersifat suportif dan perawatan multidispilin jangka panjang. Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi ibu sebelum kehamilan. Congenital rubella syndrome (CRS) is the condition of a newborn with various defects caused by rubella virus during early pregnancy. The classic symptoms of CRS are deafness, cataracts, and congenital heart disease. Diagnosis is made at birth through history, physical examination of the eyes and hearing, and examination of rubella antibodies in asymptomatic infants. Treatment is supportive and long-term multidiscipline management. Prevention can be done by vaccination to mothers before pregnancy
Non-reperfused Inferior Wall Myocardial Infarction with Total Atrioventricular Block Patricia Feliani Sitohang
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.497

Abstract

Inferior wall myocadial infarction (IWMI) with total atrioventricular block (TAVB) is associated with poor clinical status, such as right ventricular infarction (RVI). In IWMI patients with RVI and TAVB, coronary reperfusion using primary percutaneous coronary intervention (PCI) or fibrinolysis can preserve ventricular function and reduce mortality and morbidity. Bradyarrhythmia with hypotension and TAVB is one of the main indications to temporary pacing. This is a case of infero-posterior wall myocardial infarction, RVI, with TAVB. Primary PCI or fibrinolysis and temporary pacing was suggested, but the patient refused. Treatments were atropine sulfate and dopamine for bradycardia and hypotension. Dual-antiplatelet with aspirin and clopidogrel along with fondaparinux was given for antithrombotic therapy. The ECG showed resolution of STEMI and improvement in heart rhythm after 48h. Infark miokardial dinding inferior dengan blok atrioventrikular total dikaitkan dengan status klinis buruk, seperti infark ventrikel kanan. Pada pasien infark miokardial dinding inferior dengan infark ventrikel kanan dan blok atrioventrikular total, reperfusi koroner dengan intervensi koroner perkutan primer atau fibrinolisis dapat melindungi fungsi ventrikel dan mengurangi mortalitas serta morbiditas. Bradiaritmia dengan hipotensi dan blok atrioventrikular total adalah salah satu prioritas utama pemasangan pacu jantung sementara. Kasus ini membahas pasien pria dengan infark miokard infero-posterior, infark ventrikel kanan, dengan blok atrioventrikular total. Pasien menolak intervensi koroner perkutan primer atau fibrinolisis serta pacu jantung sementara. Terapi atropin sulfat dan dopamin untuk bradikardia dan hipotensi; terapi antitrombotik berupa dual-antiplatelet dengan aspirin dan clopidogrel bersama fondaparinux. EKG menunjukkan resolusi STEMI dan perbaikan irama jantung setelah 48 jam. Pada pasien non-reperfusi, diperlukan antitrombotik yang tepat.
Conservative Management for Anterior STEMI Complicated by Ventricular Septal Rupture Nanda Eka Sri Sejati; Habibie Arianto; Irnizarifka
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.498

Abstract

Ventricular septal rupture is a rare complication of acute myocardial infarction but with a very high mortality, most often caused by severe hemodynamic failure. Conservative treatment is very inefficient with over 90% mortality rate; surgery is recommended as definitive treatment. A case of 67-year-old woman with chest pain since 1 day accompanied by shortness of breath and diaphoresis. Cardiac auscultation showed a 3/6 systolic murmur without thrill. ST elevation at the anterior lead was found in ECG. Echocardiography detected a rupture in interventricular septal with left-to-right shunt. The patient was diagnosed with anterior ST elevation myocardial infarction (STEMI) complicated by ventricular septal rupture. A conservative management was given without intra-aortic balloon pump placement and surgical operation due to patient’s rejection. One month post treatment, the patient exhibited a relatively stable hemodynamic with moderate to severe activity limitation. Ruptur septum ventrikel merupakan komplikasi infark miokard akut yang jarang, namun mortalitasnya sangat tinggi, paling sering karena kegagalan hemodinamik berat. Penanganan konservatif sangat tidak efisien dengan tingkat kematian lebih dari 90 %; intervensi bedah direkomendasikan menjadi tatalaksana definitif. Seorang wanita 67 tahun mengeluh nyeri dada sejak 1 hari disertai sesak nafas dan diaforesis. Auskultasi jantung menunjukkan bising sistolik 3/6 tanpa thrill. EKG mendapatkan elevasi segmen ST di sadapan anterior. Pada ekokardiografi ditemukan ruptur septum ventrikel dengan left-to-right shunt. Pasien didiagnosis infark miokard akut elevasi ST anterior dengan ruptur septum ventrikel. Manajemen konservatif tanpa pemasangan intra-aortic balloon pump ataupun tindakan operatif karena pasien menolak. Satu bulan pasca-perawatan, hemodinamik relatif stabil dengan keterbatasan aktivitas sedang-berat.
Penyakit Autoimun dan Terapi Herbal: Peran Nanoteknologi terhadap Efektivitas Obat Herbal Jan Sudir Purba
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.499

Abstract

Penyakit autoimun adalah penyakit akibat kesalahan pengenalan sistem imun dalam tubuh, sehingga sel yang sewajarnya dilindungi malah dianggap musuh. Miastenia gravis (MG) merupakan salah satu penyakit autoimun yang mengenai neuromuscular junction (NMJ). Obat kortikosteroid seperti prednisolon, obat imunosupresan seperti azathioprine, bisa digunakan untuk membantu menekan respons imun tubuh yang berlebihan. Cholinesterase inhibitor, seperti pyridostigmine, dapat memperbaiki komunikasi antara sel saraf dan otot. Penggunaan jangka panjang obat-obat di atas dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan efikasi, dosis serta efek samping, dan biaya pengobatan. Pada beberapa penelitian hewan coba, ekstrak herbal Acalypha indica Linn (AI) memperlihatkan efek hampir sama dengan pyridostigmine pada MG. Untuk meningkatkan efikasinya, ekstrak AI ini perlu diproses melalui pengembangan nanoteknologi. Penggunaan sediaan dalam bentuk nano diharapkan dapat meningkatkan efek terapeutik dan meminimalkan dampak negatif serta pembiayaan. Autoimmune disease is an illness in which the immune system produces antibodies that attack normal body tissues. Myasthenia gravis (MG) is an autoimmune disease of the neuromuscular junction (NMJ). Corticosteroid drugs such as prednisolone, and immunosuppressant drugs such as azathioprine, can be used to help suppress the body’s excessive immune response. Cholinesterase inhibitors, such as pyridostigmine, can improve communication between nerve cells and muscles, but long-term use can cause problems related to efficacy, doses, side effects, and medical costs. Studies in experimental animals show the effect of Acalypha indica Linn (AI) extract is almost the same as pyridostigmine. In the future, research needs to be done to improve the efficacy of this drug through the development of nanotechnology.
Potensi Zink untuk Terapi Osteoporosis Adam Fajar; Yoyos Dias Ismiarto
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.500

Abstract

Osteoporosis ditandai dengan pengurangan massa tulang dan gangguan mikro-arsitektur jaringan tulang, mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan risiko fraktur. Terapi osteoporosis meliputi perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang dapat meningkatkan kekuatan tulang. Zink berpotensi mengurangi proses penyerapan tulang dan merangsang pembentukan tulang. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas zink dalam tatalaksana osteoporosis. Osteoporosis is characterized by bone mass reduction and bone tissue micro-architectural disorders that result in brittle bone and increased risk of fracture. Osteoporosis therapy includes lifestyle changes and drugs to increase bone strength. Zinc has the potential to decrease bone resorption and stimulate bone formation. Further study are needed to determine the efectivity of zinc is osteoporosis therapy.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue