Al-Afaq: Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi
Jurnal Al-Afaq merupakan jurnal yang dibentuk oleh Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Jurnal ini membahas keilmuan Ilmu Falak terkait kajian arah kiblat, Hisab dan Rukyah awal Bulan Hijriah, Kalender Dunia dan Fenomena Gerhana. Selain itu, jurnal Al-Afaq juga membahas kaitan antara fenomena astronomi umum dengan kajian ilmu falak.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019"
:
10 Documents
clear
ISTIWAAINI “SLAMET HAMBALI”: (SOLUSI ALTERNATIF MENENTUKAN ARAH QIBLAT MUDAH DAN AKURAT)
Fadholi, Ahmad
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (304.788 KB)
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1946
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memunculkan berbagai alat untuk mempermudah manusia. Tidak ketinggalan pula dalam pengukuran arah qiblat, ada beberapa alat bantu untuk memudahkan pengukurannya. Salah satunya alat yang bernama “Istiwaani Slamet Hambali”, munculnya alat ini sebagai jawaban atas anggapan bahwa menetukan arah qiblat itu susah “njelimet” dalam pandangan masyarakat. Alat ini didesain agar dapat digunakan dengan sangat mudah, cepat dan akurat sehingga memungkinkan untuk digunakan kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun, selama ada sinar Matahari.
Implementasi Parameter Kelayakan Tempat Rukyat Al Hilal Di Pantai Alam Indah Tegal
Awaludin, Muhammad;
Nurkhanif, Muhammad;
., Alamsyah
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (325.806 KB)
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1947
Artikel penelitian ini fokus pada tempat rukyat di Pantai Alam Indah Tegal. Pantai Alam Indah Tegal secara resmi digunakan sebagai tempat rukyat sejak 2006 hingga sekarang. Karena aspek tempat merupakan faktor penting dalam keberhasilan rukyat al-hilal, maka perlu dilakukan uji kelayakan baik dari aspek parameter primer dan / atau parameter sekunder sebagai tempat rukyat yang telah digunakan seperti pada Pantai Alam Indah Tegal. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi lapangan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian adalah pertama; Pantai Alam Indah Tegal digunakan sebagai salah satu tempat rukyat al-hilal karena berdasarkan pertimbangan lokasi geografisnya sesuai dengan hasil wawancara dan dicocokkan dengan hasil pengamatan di lapangan. Kedua; menunjukkan bahwa Pantai Alam Indah Tegal cukup layak untuk digunakan sebagai salah satu tempat rukyat al-hilal setelah uji kelayakan dilakukan dengan teori kelayakan parameter lokasi rukyat baik dari parameter primer dan / atau sekunder .
Awal Pasah dan Tellasan Pondok Pesantren Al-Karawi Kabupaten Sumenep dalam Pusaran Hukum Islam
Awaludin, Muhammad;
Rausi, Fathor
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (326.34 KB)
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1948
Awal pasah dan tellasan Pondok Pesantren Al-Karawi seringkali berbeda dengan keputusan Pemerintah (Kementerian Agama RI) atau ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. Pondok Pesantren Al-Karawi menggunakan metode hisab yang disusun oleh salah satu pengasuh pondok pesantren tersebut dalam menentukan masuknya awal pasah dan tellasan. Praktik demikian berlangsung sangat lama dan banyak diikuti karena kepatuhan masyarakat di desa pesantren tersebut berdiri, yaitu Desa Karay Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep sangat tinggi. Pembahasan makalah ini dimaksudkan untuk menganalisis fenomena awal pasah dan tellasan Pondok Pesantren Al-Karawi Kabupaten Sumenep dalam perspektif hukum Islam (Fikih). Hasil dari analisis tersebut adalah ibadah pasah dan tellasan yang dipraktikkan oleh Pondok Pesantren Al-Karawi berikut orang yang mengikutinya berstatus sah dengan bersandarkan kepada pendapat Muhammad Nawawi al-Bantani bahwa ahli hisab wajib mengamalkan hasil perhitungannya, demikian juga dengan orang yang mempercayainya.
Telaah Kritis Gerhana Flat Earth Dalam Perspektif Teori Kebenaran Pragmatis
Fikri, Mursyid
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (297.03 KB)
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1949
: Di tengah berkembang teori sains modern terkait gerhana, teori ini dihadapkan sebuah tantangan baru dengan kemunculan gerakan konspirasi penganut konsep bumi datar (Flat Earth) yang mengkritik berbagai konsep bumi, bulan, matahari dan gerhana sains modern. Mereka beranggapan bahwa Jarak dan ukuran bumi, bulan dan matahari versi sains modern yang telah di ajarkan disekolah-sekolah 500 tahun yang lalu sampai sekarang hanyalah sebuah “asumsi diatas asumsi tanpa bisa di buktikan secara ilmiah”. ketika jarak matahari dan bulan terhadap bumi berbeda dengan sains modern akan berdampak terhadap teori gerhana yang dibangunnya, flat earth mengungkap teori bahwa gerhana bukan terjadi karena masuknya bayang-bayang bulan melainkan ada benda langit selestial yang lain yang menutupi matahari. Jenis penelitian ini yaitu penelitian library research dengan dua pendekatan yakni pendekatan metode kualitatif dan pendekatan sudut pandang filsafat ilmu teori kebenaran. Oleh sebab itu penulis bertujuan untuk menelaah secara kritis pengembangan teori gerhana penganut flat earth. Dalam hal ini sejauh mana Penganut flat earth mendeskripsikan keselarasan matahari, bulan, bumi pada kejadian gerhana. dan menelaah teori gerhana tersebut menurut teori kebenaran pragmatis.
Hadis Im?mah Jibr?l Perspektif Astronomis
Awaludin, Muhammad;
Sofyan, Muhammad Saleh;
., Sazali
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (320.277 KB)
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1950
Hadis Im?mah Jibr?l merupakan hadis yang paling lengkap dan banyak dipakai sebagai dasar penentuan waktu salat oleh ulama fikih. Di dalamnya, Jibr?l datang kepada Rasul dan menunjukkan waktu salat dalam dua hari yang berbeda. Jika tidak dilihat dari perspektif astronomis, secara redaksional, hadis ini mengandung ambiguitas. Di hari pertama Jibr?l menunjuk untuk mengerjakan waktu salat Zuhur ketika panjang bayangan telah sama dengan bendanya, sementara di hari yang kedua, justeru salat Asar yang dikerjakan di waktu itu. Makalah ini menganalisis hadis Im?mah Jibr?l itu dari perspektif Astronomi agar tidak menimbulkan kesan ambigu. Pembacaan astronomis terhadap Im?mah Jibr?l dalam makalah ini menunjukkan bahwa hadis ini telah terkonfirmasi oleh teori-teori astronomis. Artinya, hadis ini telah mempertimbangkan pergerakan kemiringan semu matahari (dalam ilmu falak disebut sebagai deklinasi) yang memberi pengaruh kepada perbedaan panjang bayangan ketika Zuhur dan Asar dalam satu tahun. Pembacaan ini membuktikan Jibr?l sebagai pembawa wahyu Tuhan, sejak lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu, telah menerapkan teori yang kemudian dirumuskan dan dikembangkan di abad modern ini. Dengan kata lain, makalah ini juga membuktikan bahwa hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam, akan senantiasa relevan di tempat manapun dan kapanpun juga
ISTIWAAINI “SLAMET HAMBALI”: (SOLUSI ALTERNATIF MENENTUKAN ARAH QIBLAT MUDAH DAN AKURAT)
Fadholi, Ahmad
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1946
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memunculkan berbagai alat untuk mempermudah manusia. Tidak ketinggalan pula dalam pengukuran arah qiblat, ada beberapa alat bantu untuk memudahkan pengukurannya. Salah satunya alat yang bernama “Istiwaani Slamet Hambali”, munculnya alat ini sebagai jawaban atas anggapan bahwa menetukan arah qiblat itu susah “njelimet” dalam pandangan masyarakat. Alat ini didesain agar dapat digunakan dengan sangat mudah, cepat dan akurat sehingga memungkinkan untuk digunakan kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun, selama ada sinar Matahari.
Implementasi Parameter Kelayakan Tempat Rukyat Al Hilal Di Pantai Alam Indah Tegal
Awaludin, Muhammad;
Nurkhanif, Muhammad;
., Alamsyah
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1947
Artikel penelitian ini fokus pada tempat rukyat di Pantai Alam Indah Tegal. Pantai Alam Indah Tegal secara resmi digunakan sebagai tempat rukyat sejak 2006 hingga sekarang. Karena aspek tempat merupakan faktor penting dalam keberhasilan rukyat al-hilal, maka perlu dilakukan uji kelayakan baik dari aspek parameter primer dan / atau parameter sekunder sebagai tempat rukyat yang telah digunakan seperti pada Pantai Alam Indah Tegal. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi lapangan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian adalah pertama; Pantai Alam Indah Tegal digunakan sebagai salah satu tempat rukyat al-hilal karena berdasarkan pertimbangan lokasi geografisnya sesuai dengan hasil wawancara dan dicocokkan dengan hasil pengamatan di lapangan. Kedua; menunjukkan bahwa Pantai Alam Indah Tegal cukup layak untuk digunakan sebagai salah satu tempat rukyat al-hilal setelah uji kelayakan dilakukan dengan teori kelayakan parameter lokasi rukyat baik dari parameter primer dan / atau sekunder .
Awal Pasah dan Tellasan Pondok Pesantren Al-Karawi Kabupaten Sumenep dalam Pusaran Hukum Islam
Awaludin, Muhammad;
Rausi, Fathor
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1948
Awal pasah dan tellasan Pondok Pesantren Al-Karawi seringkali berbeda dengan keputusan Pemerintah (Kementerian Agama RI) atau ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. Pondok Pesantren Al-Karawi menggunakan metode hisab yang disusun oleh salah satu pengasuh pondok pesantren tersebut dalam menentukan masuknya awal pasah dan tellasan. Praktik demikian berlangsung sangat lama dan banyak diikuti karena kepatuhan masyarakat di desa pesantren tersebut berdiri, yaitu Desa Karay Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep sangat tinggi. Pembahasan makalah ini dimaksudkan untuk menganalisis fenomena awal pasah dan tellasan Pondok Pesantren Al-Karawi Kabupaten Sumenep dalam perspektif hukum Islam (Fikih). Hasil dari analisis tersebut adalah ibadah pasah dan tellasan yang dipraktikkan oleh Pondok Pesantren Al-Karawi berikut orang yang mengikutinya berstatus sah dengan bersandarkan kepada pendapat Muhammad Nawawi al-Bantani bahwa ahli hisab wajib mengamalkan hasil perhitungannya, demikian juga dengan orang yang mempercayainya.
Telaah Kritis Gerhana Flat Earth Dalam Perspektif Teori Kebenaran Pragmatis
Fikri, Mursyid
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1949
: Di tengah berkembang teori sains modern terkait gerhana, teori ini dihadapkan sebuah tantangan baru dengan kemunculan gerakan konspirasi penganut konsep bumi datar (Flat Earth) yang mengkritik berbagai konsep bumi, bulan, matahari dan gerhana sains modern. Mereka beranggapan bahwa Jarak dan ukuran bumi, bulan dan matahari versi sains modern yang telah di ajarkan disekolah-sekolah 500 tahun yang lalu sampai sekarang hanyalah sebuah “asumsi diatas asumsi tanpa bisa di buktikan secara ilmiah”. ketika jarak matahari dan bulan terhadap bumi berbeda dengan sains modern akan berdampak terhadap teori gerhana yang dibangunnya, flat earth mengungkap teori bahwa gerhana bukan terjadi karena masuknya bayang-bayang bulan melainkan ada benda langit selestial yang lain yang menutupi matahari. Jenis penelitian ini yaitu penelitian library research dengan dua pendekatan yakni pendekatan metode kualitatif dan pendekatan sudut pandang filsafat ilmu teori kebenaran. Oleh sebab itu penulis bertujuan untuk menelaah secara kritis pengembangan teori gerhana penganut flat earth. Dalam hal ini sejauh mana Penganut flat earth mendeskripsikan keselarasan matahari, bulan, bumi pada kejadian gerhana. dan menelaah teori gerhana tersebut menurut teori kebenaran pragmatis.
Hadis Im?mah Jibr?l Perspektif Astronomis
Awaludin, Muhammad;
Sofyan, Muhammad Saleh;
., Sazali
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 1 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v1i2.1950
Hadis Im?mah Jibr?l merupakan hadis yang paling lengkap dan banyak dipakai sebagai dasar penentuan waktu salat oleh ulama fikih. Di dalamnya, Jibr?l datang kepada Rasul dan menunjukkan waktu salat dalam dua hari yang berbeda. Jika tidak dilihat dari perspektif astronomis, secara redaksional, hadis ini mengandung ambiguitas. Di hari pertama Jibr?l menunjuk untuk mengerjakan waktu salat Zuhur ketika panjang bayangan telah sama dengan bendanya, sementara di hari yang kedua, justeru salat Asar yang dikerjakan di waktu itu. Makalah ini menganalisis hadis Im?mah Jibr?l itu dari perspektif Astronomi agar tidak menimbulkan kesan ambigu. Pembacaan astronomis terhadap Im?mah Jibr?l dalam makalah ini menunjukkan bahwa hadis ini telah terkonfirmasi oleh teori-teori astronomis. Artinya, hadis ini telah mempertimbangkan pergerakan kemiringan semu matahari (dalam ilmu falak disebut sebagai deklinasi) yang memberi pengaruh kepada perbedaan panjang bayangan ketika Zuhur dan Asar dalam satu tahun. Pembacaan ini membuktikan Jibr?l sebagai pembawa wahyu Tuhan, sejak lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu, telah menerapkan teori yang kemudian dirumuskan dan dikembangkan di abad modern ini. Dengan kata lain, makalah ini juga membuktikan bahwa hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam, akan senantiasa relevan di tempat manapun dan kapanpun juga